Berkenalan dengan Mobil Terbang, Salah satu solusi Penanggulangan Kemacetan Jalan

Saat ini kita menemukan berbagai macam jenis alat transportasi. Diantaranya adalah Sepeda kayuh, sepeda motor, kereta listrik, mobil, pesawat terbang, dan masih banyak lagi alat transportasi lainnya. Tapi tahukah kalian bahwa beberapa orang berusaha mengkombinasikan beberapa alat transportasi (dengan fungsi yang berbeda tentunya) tersebut menjadi hanya satu alat transportasi saja dengan beberapa fungsi ?
Beberapa pakar dibidang transportasi, permesinan, dan otomotif berusaha untuk menggabungkan fungsi dari Pesawat dan mobil menjadi sebuah alat transportasi baru yang dinamakan sebagai Mobil Terbang. Nah sebelum kita berlanjut ke pembahasan mengenai Mobil terbang, lebih baik kita berkenalan secara singkat dahulu dengan mobil dan pesawat terbang.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mobil merupakan kendaraan darat yg digerakkan oleh tenaga mesin, beroda tiga, empat atau lebih (selalu genap), biasanya menggunakan bahan bakar minyak untuk menghidupkan mesinnya. Dapat dikatakan pula mobil merupakan singkatan dari otomobil (berasal dari bahasa Yunani ‘autos’ (sendiri) dan Latin ‘movére’ (bergerak)) merupakan kendaraan empat atau lebih yang memiliki mesin sendiri yang memiliki area tempuh berupa daratan. Bus, van, dan truk merupakan beberapa jenis mobil. Pada mulanya Mobil menggunakan mesin tenaga uap. Kendaraan tenaga uap pertama dibuat pada akhir abad 18. Nicolas-Joseph Cugnot dengan sukses mendemonstrasikan kendaraan roda tiga miliknya pada tahun 1769. Kemudian mobil tenaga bensin (etanol) untuk pertama kalinya dibuat di Britania, tepatnya dikota Birmingham pada tahun 1896 oleh Frederick William Lanchester yang juga mematenkan rem cakram. Pada tahun 1890-an, etanol digunakan sebagai sumber tenaga di Amerika Serikat.
Kemudian Bagaimana dengan pesawat ? Pesawat terbang atau pesawat udara atau dikenal juga dengan sebutan kapal terbang merupakan sebuah alat transportasi yang memiliki area tempuh di atmosfer atau udara. Pesawat terbang pertama diciptakan oleh Sir George Meyel. Pesawat ciptaan Meyel tidak memiliki mesin dan sulit dikontrol. Kemudian setelah itu terciptalah pesawat terbang bermesin yang pertama diciptakan oleh Wright Bersaudara (Orville Wright dan Wilbur Wright) dengan menggunakan pesawat rancangan sendiri yang dinamakan Flyer yang dibuat pada tahun 1903 di Amerika Serikat.
Berdasarkan fungsi mobil yang memiliki area tempuh didaratan dan pesawat yang memiliki area tempuh di udara itulah, para perancang kendaraan atau alat transportasi mulai berimajinasi untuk menggabungkan fungsi mobil dan pesawat sehingga dihasilkan sebuah alat transportasi yang memiliki area tempuh di daratan maupun di udara yang disebut sebagai Transition Roadable Aircraft (TRA, Kendaraan yang mampu berjalan di dua alam yaitu darat dan udara). Para perancang tersebut berpikir agar terciptanya TRA tersebut nantinya dapat mengurangi kemacetan dijalan raya.
Kemacetan bukanlah permasalahan baru dalam dunia transportasi. Tingginya penggunaan kendaraan bermotor (mobil dan motor) menjadi pemicu utama problem kemacetan saat ini. Sebagai contoh di DKI Jakarta, berdasarkan data yang dihimpun dari Ditlantas Polda Metro Jaya per 24 November 2010, tercatat jumlah kendaraan bermotor di daerah DKI Jakarta sudah mencapai 6,5 juta unit, di mana 6,4 juta unit atau 98,6 persen merupakan kendaraan pribadi dan 88.477 unit atau sekitar 1,4 persen adalah angkutan umum, dengan pertumbuhan kendaraan mencapai 11 persen setiap tahunnya. Sedangkan panjang jalan yang ada hanya 7.650 km dengan luas 40,1 km2 atau 6,2% dari luas wilayah DKI Jakarta, dengan pertambuhan jalan hanya sekitar 0.01 % per tahun. Jika kita membandingkan dengan pertumbuhan kendaraan jalan, sangat jelas pertumbuhan jalan tidak mampu mengejar pertumbuhan kendaraan, sehingga wajar saja terjadi kemacetan hampir di setiap ruas jalan. Dan tentunya kemacetan itu semakin lama akan semakin parah.
Berdasarkan beberapa alasan diatas itulah Sebuah perusahaan yang bernama Terrafugia membuat mobil terbang yang pertama di dunia.Terrafugia merupakan sebuah perusahaan di negara bagian Massachusetts, Amerika Serikat, yang memproduksi TRA (Mobil terbang). Carl Dietrich, pimpinan perusahaan Terrafugia, mengatakan bahwa Terrafugia mengembangkan kendaraan Transition, yang digambarkan banyak orang sebagai mobil terbang pertama. Terrafugia Transition dirancang layaknya pesawat biasa, seperti Cessna atau Piper, yang digerakkan baling-baling dan sayapnya bisa dilipat, dikendarai di jalan dan diparkir dalam garasi mobil.”. Pengembangan Terrafugia Transition dimulai pada tahun 2006. Sedangkan uji coba di jalan dan udara berlangsung tahun 2009. Dietrich menambahkan bahwa transisi perubahan bentuk dari mobil menjadi pesawat dan sebaliknya (dengan cara membuka dan melipat sayapnya) hanya membutuhkan waktu 20 detik saja. Sungguh mobil terbang yang sangat portable karena mampu berubah bentuk dengan sangat cepat.
Terrafugia Transition ini digadang-gadang sebagai pelopor mobil terbang pertama didunia. Lanjut Dietrich, Mobil ini mampu mengangkut 2 orang penumpang dan dapat terbang di atas ketinggian lebih dari 3000 meter lebih dari 160 kilometer per jam di udara. Sedangkan di darat, bisa dikendarai dengan kecepatan 113 km per jam. Untuk Saat ini Terrafugia Transition baru mendapatkan izin terbang di Amerika Serikat.
TRA mendapat lampu hijau (izin) berkendara di jalanan (on the road) baru dikantongi pada tahun 2011 yang dikeluarkan oleh Lembaga Keselamatan Jalan Raya dan Lalu Lintas Nasional AS (National Highway Traffic Safety Administration / NHTSA). Dalam izin itu disebutkan bahwa Terrafugia Transition mendapat beberapa keringanan khusus dengan berbagai pertimbangan. Misalnya, TRA boleh menggunakan jenis ban yang lebih berat dari bobot normal. Lalu, khusus kaca harus dilapisi untuk keselamatan kala terjadi tabrakan atau ditabrak burung. Namun, pada TRA menggunakan bahan polikarbonat (plastik). Adanya pengecualian, menurut NHTSA kepada insidelane, karena mobil terbang itu masih dalam lingkup kepentingan umum dan konsistensi menjaga keselamatan lalu lintas. Sekalipun bisa terbang, TRA harus mengikuti prosedur layaknya pesawat terbang, yakni jika ingin tinggal landas harus dari bandara.
Mobil ini juga telah mengantungi izin terbang dari Badan Aviasi Federal Amerika (FAA) sekitar bulan Mei 2011. Walau demikian Terrafugia Transition sebenarnya telah mendapatkan izin uji coba terbang pada tahun 2009. FAA telah mengizinkan bobot kendaraan itu lebih berat dari pesawat ringan. Walau ditambah peralatan lengkap, kata Dietrich, beratnya masih separuh dari berat mobil pada umumnya. Misalnya, kaca lebih ringan dari kaca mobil tradisional. Terrafugia mendapat izin untuk hal itu bulan lalu dari Badan Keamanan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional. Terrafugia Transition membutuhkan lapangan terbang untuk lepas landas dan mendarat, dan menggunakan bensin mobil biasa sebagai bahan bakarnya. Menurut rencana Terrafugia Transition akan dijual pada akhir tahun 2012 dengan kisaran harga 250 ribu dolar Amerika. Berdasarkan kurs nilai tukar rupiah terhadap US Dolar tertanggal 19 Agustus 2011 yaitu sebesar Rp. 8.570,00, maka jika dirupiahkan harga Terrafugia Transition sekitar Rp. 2.142.500.000,00.
Bersiap-siaplah kita menyambut kedatangan mobil terbang ini ke Indonesia. Dimungkinkan saja nantinya akan sangat marak dibuka kursus pengemudi + penerbang. Bukan tidak mungkin pula suatu saat nanti SIM A difungsikan ganda, yaitu sebagai Surat Izin mengemudi di darat dan di udara. Kita nantikan saja aksi dari Terrafugia Transition di jalanan-jalanan daerah DKI Jakarta dan sekitarnya 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *