Hal yang utama dalam menekan populasi larva adalah menggunakan berbagai larvasida, baik secara biologis maupun kimiawi. Larvasida yang biasa digunakan biasanya terbatas pada wadah yang dipertahankan atau digunakan di rumah tangga dan tidak  dapat dibuang, seperti wadah penyimpanan air, kolam, vas bunga, dan sebagainya (Ginanjar, 2007). Larvasida kimiawi yang telah digunakan dimasyarakat indonesia ialah abate (Gambar 2.5) yang masuk dalam program kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Abate merupakan nama dagang dari temephosdengan formulasi granules, yaitu insektisida golongan organofosfat, terutama digunakan untuk pengendalian larva A. aegypti ditempat penampungan air , dengan konsentrasi 1 ppm atau 10 g untuk tiap 100 liter air dan mempunyai efek residu selama 3 bulan(Sutanto et al,  2008). Penggunaannya pada tempat penampungan air minum telah dinyatakan aman oleh World Health Organization (WHO) dan Departemen Kesehatan RI. Walaupun demikian, abate adalah larvasida yang mengandung zat aktif suatu organofosfat (temephos), umumnya unsur fosfat sangat berbahaya bagi manusia (Achmad, ). Struktur senyawa dan butiran golongan  organofosfat dan serbuk abate bisa dilihat pada gambar 2.5.

Temephosmengandung senyawa beracun, hal ini disebabkan oleh toksisitas tinggi dari xylene, yaitu salah satu komponen yang ditemukan dalam produk abate. Ciri khas insektisida orpganofosfat yang lain adalah temephos menghambat aksi dari kelompok enzim yang disebut cholinesterase. Jenis spesifik enzim ini ditemukan di seluruh tubuh termasuk sistem saraf, otak, dan aliran darah. Gejala pemaparan akut juga mencakup mual, sakit kepala, kehilangan koordinasi otot, dan kesulitan bernapas (Reigrat dan Roberts, 1999).Senyawa organofosfat mempunyai masa kerja yang sangat lama dan membentuk kompleks yang sangat stabil dengan enzim serta dihidrolisis dalam waktu berhari-hari atau berminggu-mingu, sehingga termasuk golongan ireversibel (Munaf, 2009).