PERAN FITOPLANKTON DALAM MENGURANGI PEMANASAN GLOBAL

Meski laut menjadi korban dari pemanasan global, sebenarnya laut pula yang dapat menyelamatkan bumi karena dengan fitoplankton-nya mampu menyerap emisi karbon. Di perairan laut keberadaan fitoplankton sangat berpengaruh, fitoplankton akan mengekstrak gas karbon dioksida dari atmosfer untuk proses fotosintesa. Fitoplankton merupakan mikroalgae yang melayang di permukaan air dan pergerakannya lebih banyak dibantu oleh arus laut dan merupakan biota yang dapat dimanfaatkan sebagai penyerap gas CO2 secara maksimal. Proses sederhana ini dapat terjadi di permukaan laut dan membutuhkan beberapa syarat seperti cukupnya sinar matahari untuk proses fotosintesa dan nutrisi di permukaan laut untuk mendukung pertumbuhan plankton di permukaan laut.
Pergerakan atmosfer yang sangat dinamis mengakibatkan gas CO2 dapat tersebar secara merata di permukaan bumi. Dengan permukaan bumi yang sebagian besar merupakan lautan (sekitar 70%), terjadilah interaksi antara atmosfer dan permukaan laut sehingga melalui cara inilah emisi gas CO2 di atmosfer terdifusi ke dalam laut dan kemudian digunakan oleh fitoplankton untuk proses fotosintesis. Hasil sampingan dari reaksi biokimia ini berupa O2 akan digunakan oleh mahluk hidup di dalam air untuk proses respirasi.
Di lautan terdapat ratusan jenis fitoplankton. Akibatnya, potensi lautan mengisap CO2 sangat tinggi. Ketika gas karbon mengendap ke permukaan air, maka akan berubah menjadi dua, yaitu karbon organik partikulat dan karbon organik terurai. Karbon partikulat akan tenggelam ke dasar laut. Sebagian lainnya akan dimakan biota laut. Meskipun demikian, apabila komposisinya di lautan terlalu berlebihan juga akan mengakibatkan dampak negatif terhadap biota laut lainnya seperti Red tide.
Keberadaan laut sebagai penyerap emisi gas CO2 di atmosfer masih kurang mendapat perhatian di zaman ini. Padahal menurut peneliti NOAA-AS (National Oceanic and Atmospheric Administion) Christopher Sabine, dalam majalah science, mengatakan bahwa laut mampu menyerap emisi gas CO2 dari atmosfer sebesar 48% atau 39 miliar ton. Dengan daya serap yang sangat tinggi, peran laut untuk mengurangi laju pemanasan global yang terjadi saat ini tidak terelakkan.
Fitoplankton membuat laut bagaikan hutan tropis bawah air. Walaupun memiliki ukuran yang sangat kecil, mulai dari mikro meter (10-6) hingga pico meter (10-12), sehingga membuat tumbuhan air ini tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Dengan jumlah yang tidak terbatas, keberadaan tumbuhan bawah laut ini sangat penting dalam mengatasi pemanasan global. Namun, keberadaan fitoplankton sebagai hutan tropis bawah laut untuk penyerap global emisi gas CO2, sangat tergantung pada daya dukung lingkungan laut tersebut.
Fitoplankton dapat tumbuh dan berkembang dengan baik sangat tergantung dari kemampuan sinar matahari menembus lapisan permukaan air sehingga proses konversi CO2 dalam chloroplas dapat terjadi. Jika kandungan CO2 di dalam air laut telah mencapai titik jenuh atau supersaturasi, maka CO2 di atmosfer akan sulit diserap oleh permukaan laut dan bahkan air laut dapat melepaskan (source) CO2 ke atmosfer sebagaimana terjadi di perairan yang sering mengalami penggangakatan massa air laut (up-welling) atau tercemar. Sehingga dengan menjaga perairan laut kita dari polusi merupakan salah satu kontribusi terbesar dalam menjaga perairan laut kita tetap mampu menyerap emisi gas CO2 di atmosfer.
Dengan demikian makna laut dalam pembangunan baik dalam ekonomi maupun jasa lingkungan kini makin penting, sehingga perlu pengarus-utamaan kelautan dalam kebijakan nasional, khususnya dalam kebijakan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Sehingga, masa depan laut kita sangat tergantung dari kecerdasan kita mendesain kebijakan mengantisipasi perubahan iklim global ini.