Pengaruh Spirulina sp terhadap kadar kolesterol dalam darah | Spirulina sp. termasuk dalam kelompok rumput laut biru-hijau yang mengandung Gamma Linolenic Acid (GLA), beta-karotin, dan serat. Kandungan asam lemak esensial yaitu Gamma Linolenic Acid (GLA) yang berfungsi untuk mengontrol sintesa kolesterol dalam liver dan kandungan beta-karotin yang berfungsi untuk mengurangi formasi dan oksidasi dari protein “Low Density Lipoprotein” (LDL kolesterol), (Kabinawa, 2006).

Serat yang terkandung dalam Spirulina sp. termasuk dalam serat makanan (dietary fiber). Serat merupakan nutrisi non-gizi yang tidak dapat dicerna oleh enzim-enzim pencernaan manusia sehingga serat tidak menghasilkan energi dan gizi. Meskipun tidak memiliki nilai gizi, kehadiran serat di dalam makanan sangat diperlukan. Dengan adanya serat di dalam makanan, pembuangan air besar menjadi teratur karena kotoran menjadi lebih lunak dan volumenya lebih besar sehingga dapat meninggalkan saluran pencernaan dengan lancar (Bangun, 2003). Efek fisiologis dan metabolik dari serat sangat bervariasi tergantung dari jenis serat yang dikonsumsi. Efek fisiologis dan metabolik yang timbul sangat dipengaruhi oleh sifat fisik serat tersebut, seperti kelarutan dalam air, hidrasi, dan kemampuan menahan air, kemampuan mengikat bahan organik dan anorganik dan daya fermantabilitas bakteri (Tala, 2009).

Berdasarkan kelarutannya dalam air, serat dapat dibedakan menjadi serat larut dan serat tak larut :

  1. Serat larut dalam air

Jenis serat makanan larut di dalam air antara lain pektin, gum, musilago, dan betaglukans. Umumnya serat ini terdapat pada tepung beras, tepung gandum, kubis buncis, kacang polong, umbi umbian wortel, bit, jeruk, apel, dan stroberi. Pektin, gum, betaglukans, dan beberapa jenis hemiselulosa mempunyai manfaat serat makanan kemampuan tinggi menahan air dan membentuk cairan kental di dalam saluran pencernaaan. Hal ini dapat menunda pengosongan lambung oleh makanan dan menghambat makanan bercampur dengan enzim pencernaan sehingga mengurangi penyerapan zat makanan di dalam usus. Proses tersebut menunjukkan bahwa manfaat serat makanan mampu menurunkan penyerapan asam amino dan asam lemak. Kedua zat tersebut diduga buruk bagi sistem pencernaan dan metabolisme tubuh. Di dalam pencernaan, manfaat serat makanan larut menggandeng asam empedu (produk akhir dari kolesterol) dan membawa keluar bersama tinja. Dengan demikian, semakin tinggi konsumsi serat makanan larut, semakin banyak asam empedu dan lemak yang dikeluarkan tubuh (Bangun, 2003).

  1. Serat tidak larut dalam air

Berbeda khasiat dengan serat makanan larut, manfaat serat makanan tidak larut air berfungsi melancarkan pencernaan sehingga buang air besar menjadi teratur. Serat makanan yang tidak larut dalam air antara lain selulosa, hemiselulosa, dan liginin. Umumnya manfaat serat makanan ini terdapat pada gandum, biji bijian  (serealia), buah, sayuran, dan kacang kacangan. Semua buah dan sayur mengandung manfaat serat makanan. Kadar serat makanan terutama terdapat pada apel, anggur, pir, jambu biji, wortel, kapri, dan kacang kacangan. Manfaat serat makanan banyak terdapat pada bagian kulit. Jadi sebaiknya beberapa buah di konsumsi bersama kulitnya, seperti apel, anggur, jambu biji, dan pir. Serat tersebut sebagian besar berfungsi di bagian hilir usus. Fungsinya antara lain mempercepat gerak peristaltik usus (gerak lapisan otot usus), memperbesar masa kotoran, dan memperlunak kotoran sehingga mudah dikeluarkan. Karena itu, serat makanan sering dikatakan dapat memperlancar buang air besar. Kekurangan serat makanan tidak larut menyebabkan konstipasi atau sembelit, di karenakan kotoran dalam tubuh mengeras (Bangun, 2003).

Sifat fisik serat yang sangat berperan dalam hubungannya dengan kadar kolesterol darah adalah kemampuannya yang dapat berikatan dengan enzim atau nutrien dalam saluran cerna (Tala, 2009). Efek fisiologisnya adalah :

  1. Berkurangnya absorpsi lemak

Baik serat larut maupun serat tak larut dapat mempengaruhi absorpsi lemak dengan mengikat asam lemak, kolesterol dan garam empedu di saluran cerna. Asam lemak dan kolesterol yang terikat dengan serat tidak dapat membentuk micelle yang sangat dibutuhkan untuk penyerapan lemak agar dapat melewati unstirred water layer masuk ke eritrosit. Akibatnya lemak yang berikatan dengan serat tidak bisa diserap dan akan terus ke usus besar untuk dieksresi melalui feses atau didegradasi oleh bakteri usus (Tala, 2009).

  1. Meningkatkan eksresi garam empedu

Serat akan mengikat garam empedu sehingga micelle tidak dapat terbentuk. Di samping itu garam empedu yang telah terikat serat ini tidak dapat direabsorpsi dan di-resirkulasi melalui siklus enterohepatik. Akibatnya garam empedu ini akan terus ke usus besar untuk dibuang melalui feses atau didegradasi oleh flora usus (Tala, 2009).

  1. Mengurangi kadar kolesterol serum

Konsumsi serat dapat menurunkan kadar kolesterol serum melalui beberapa cara, antara lain :

  1. Dengan meningkatnya eksresi garam empedu dan kolesterol melalui feses maka garam empedu yang mengalami siklus enterohepatik juga berkurang. Berkurangnya garam empedu yang masuk ke hati dan berkurangnya absorpsi kolesterol akan menurunkan kadar kolesterol sel hati. Ini akan meningkatkan pengambilan kolesterol dari darah yang akan dipakai untuk sintesis garam empedu yang baru yang akibatnya akan menurunkan kadar kolesterol total (Tala, 2009).
  2. Terjadi perubahan pool garam empedu dari cholic acid menjadi chenodeoxycholic acid yang menghambat 3-hydroxy 3-methylglutaryl (HMG) CoA reductase yang dibutuhkan untuk sintesis kolesterol (Tala, 2009).
  3. Penelitian pada hewan menunjukkan propionat atau asam lemak rantai pendek lain yang terbentuk sebagai hasil degradasi serat di kolon akan menghambat sintesis asam lemak (Tala, 2009).

Pentingnya asupan serat (dalam jumlah yang cukup) bagi kesehatan telah ditunjukkan melalui efek fisiologis dari masing-masing jenis serat tersebut. Dengan memperlambat absorpsi karbohidrat dapat membantu penderita diabetes mellitus dalam mengatur kadar gula darahnya. Kadar kolesterol yang tinggi merupakan faktor resiko untuk penyakit jantung, karena itu konsumsi serat larut yang dapat menurunkan kadar kolesterol sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya penyakit jantung. Hasil penelitian membuktikan bahwa pada kelompok populasi dengan konsumsi serat yang tinggi dijumpai insiden yang lebih rendah untuk gangguan saluran cerna, penyakit jantung, kanker kolon dan mammae. Efek kenyang yang timbul setelah konsumsi serat juga membantu untuk mengontrol berat badan (Tala, 2009).

Daftaar Pustaka

  1. Bangun A.P., 2003. Pola hidup sehat berpantang daging. Edisi pertama, Jakarta : Agromediapustaka, h : 27-30.
  2. Tala Zaimah Z, 2009. Manfaat serat bagi kesehatan. Skripsi, Universitas Sumatera Utara, Sumatera Utara.
  3. Kabinawa I Nyoman, 2006. Spirulina ganggang penggempur aneka penyakit. Edisi pertama, Tangerang : PT agromediapustaka, h : 1-20.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *