Kegiatan Belajar 1 
Fungsionalisme dan Struktural-Fungsionalisme

Dalam menganalisis masyarakat dan kebudayaan umat manusia, salah satu pendekatan yang digunakan adalah pendekatan fungsionalisme dan struktural fungsionalisme. Pendekatan ini muncul didasari oleh pemikiran bahwa manusia sepanjang hayatnya dipengaruhi oleh pemikiran dan tindakan orang lain di sekitarnya, sehingga manusia tidak pernah seratus persen menentukan pilihan tindakan, sikap, atau perilaku tanpa mempertimbangkan orang lain.
Teori fungsionalisme dikembangkan oleh Bronislaw Malinowski, yang banyak mendapat pengaruh dari ilmu psikologi. Dia mengembangkan teori fungsi kebudayaan, melalui kajiannnya yang sangat terkenal yaitu sistem kula pada masyarakat Trobiand. Berdasarkan kajiannya dia menyimpulkan bahwa setiap unsur kebudayaan mempunyai fungsi sosial terhadap unsur-unsur kebudayaan lainnya.
Di lain pihak, Radcliffe-Brown dalam mengkaji gejala sosial yang ada di masyarakat menawarkan konsep struktur sosial. Menurutnya masyarakat adalah sistem sosial yang mempunyai struktur seperti halnya molekul atau organisma. Kajian yang menggunakan konsep struktur sosial ini juga dilakukan oleh Raymond Firth, Evans-Pritchard, dan Fortes.

Kegiatan Belajar 2
Strukturalisme: Kritik dan Perkembangannya

Claude Levi Strauss adalah tokoh dari teori strukturalisme. Sumbangan yang paling dikenal dari Levi Staruss adalah pemikirannya dalam teori oposisi binar. Dalam rangka menjelaskan teori oposisi binar ini, dia mengupas masalah segi tiga kuliner yaitu kajian tentang makanan. Selain itu Levi Strauss juga tertarik dengan masalah kekerabatan dan mengkaji masalah sistem pertukaran dalam kekerabatan.
Dalam perkembangannya ternyata pendekatan struktural fungsional dianggap tidak cukup memadai digunakan untuk mengkaji masyarakat modern. Oleh karena itu muncul pendekatan jaringan sosial, yang dianggap lebih mampu menjelaskan gejala sosial yang ada di masyarakat. Analisis jaringan sosial ini menekankan pada analisis situasional, di mana tindakan sosial, perilaku, dan sikap seorang manusia dianggap tidak bisa lepas dari pengaruh lingkungannya.
Dalam rangka menjelaskan pentingnya konsep jaringan sosial, para ahli membedakan antara penggunaan ide jaringan sosial sebatas metaforikal dan sebagai konsep analitikal. Di dalam realita kehidupan, jaringan hubungan sosial ini sangat kompleks dan saling tumpang tindih atau saling memotong. Untuk itu maka dibedakan antara jaringan total dengan jaringan partial. Sementara itu bila ditinjau dari tujuan hubungan sosial yang membentuk jaringan sosial maka dibedakan atas jaringan interes, jaringan sentiment, dan jaringan power.