New-Picture-25281-2529
Tidak semua air cocok untuk dipergunakan bagi irigasi. Air yang tidak memuaskan dapat mengandung :
1.  bahan-bahan kimia yang beracun bagi tumbuh-tumbuhan atau orang yang memakan tanaman itu.
2.  bahan-bahan kimia yang bereaksi dengan tanah untuk menimbulkan cirri-ciri lengas tanah yang tiodak memuaskan.
3.  bakteri yang membahayakan orang atau binatang yang memakan tanaman yang diairi dengan air itu.
Sebenarnya, konsentrasi suatu senyawa dalam larutan tanahlah yang menentukan besarnya bahaya, sedangkan larutan tanah 2 hingga 100 kali lebih terkonsentrasi daripada irigasi. Dengan demikian, criteria yang didasarkan pada kegaraman air irigasi hanyalah akan merupakan pendekatan. Pada permulaan irigasi dengan air yang buruk tidak ada bahaya yang terlihat, tetapi dengan berlalunya waktu, maka konsentrasi garam didalam tanah dapat meningkat, karena larutan tanah terkonsentrasi oleh penguapan. Drainase bebas dari tanah memungkinkan gerakan garam-garam kebawah dan membantu pencegahan terjadinya penumpukan yang berat. Drainase tanah buatan mungkin diperlukan, jika drainase alamiah tidak mencukupi.         

Konsentrasi garam yang tinggi kadang-kadang dapat dihindari dengan mencampuri air garam tersebut dengan air bermutu baik dari suatu sumber lain, sehingga konsentrasi akhirnya masih dalam batas-batas yang aman. Presipitasi diluar musim tanam akan membantu pembilasan garam dari air. Walaupun demikian, ada kemungkinan diperlukan pemakaian air irigasi tambahan agar perkolasi-dalam dapat mencegah tumpukan garam yang tak diinginkan didalam tanah. Bila kegaraman air irigasi adalah C dan kedalaman air yang dipakai qa, kegaraman Cs dari larutan tanah setelah penggunaan konsumtif sebesar Uc diambil dari dalam tanah adalah qaC/(qa + Peff – Uc). Dari sini, kedalaman teoritis qa dari air dengan kegaraman C yang diperlukan untuk menjaga konsentrasi larutan tanah sebesar Cs adalah: 



Karena adanya variasi sifat-sifat tanah dan konsentrasi garam, maka pemakaian air untuk pembilasan yang sebenarnya biasanya lebih banyak dibandingkan dengan yang dihitung.


Sejumlah besar unsur-unsur dapat merupakan racun bagi tanaman atau binatang. Kandungan boron penting untuk pertumbuhan tanaman, tetapi konsentrasi diatas 0,5 mg/liter dianggap mengganggu bagi sitrus, kacang-kacangan dan buah musiman.
Beberapa jenis sayuran, biji-bijian dan kapas agak toleran terhadap boron, sedangkan alfalfa, bit, asparagus, dan kurma sangat toleran. Bahkan untuk tanaman yang paling toleran, konsentrasi boron yang melebihi 4 mg/liter dianggap tidak aman. Boron terkandung dalam kebanyakan sabun, sehingga dapat merupakan faktor yang kritis dalam penggunaan air limbah bagi irigasi. Selenium, biarpun dalam konsentrasi rendah, beracun bagi ternak dan harus dihindari.

     Garam-garam yang berupa kalsium, magnesium dan potasium dapt juga berbahaya dalam air irigasi.  Dalam jumlah yang berlebihan garam-garam ini akan mengurangi kegiatan osmotic tanaman, mencegah penyerapan zat gizi dari tanah. Disamping itu, mereka dapat mempunyai pengaruh kimiawi tidak langsung terhadap metabolisme tanaman dan dapat mengurangi kelulusan air dari tanah yang bersangkutan dan mencegah drainase atau aerasi yang cukup. Pengaruh garam-garaman terhadap kegiatan osmotic tanaman terutama tergantung pada jumlah garam keseluruhan didalam larutan tanah. Konsentrasi kritis didalam air irigasi tergantung pada berbagai factor ; jumlah yang melebihi 700 mg/liter akan berbahaya bagi beberapa jenis tanaman, sedangkan garam terlarut yang lebih daripada 2000 mg/liter adalah berbahaya bagi hamper semua tanaman.

      Kebanyakan tanah yang normal didaerah kersang mempunyai kalsium dan magnesium sebagai kation-kation utamanya, dengan sodium biasanya mewakili kurang dari 5 persen jumlah kation yang dapat dipertukarkan. Jika persentase sodium didalam tanah dinaikkan hingga 10 persen atau lebih, maka penggumpalan butir-butir tanah akan pecah dan tanah itu menjadi lebih kedap air, mengerak bila kering dan pH-nya naik kearah pH tanah alkali. Karena kalsium dan magnesium akan menggantikan sodium lebih cepat daripada sebaliknya, maka air irigasi dengan rasio penyerapan sodium (SAR-sodium adsorption ratio) yang rendah lebih disenangi. SAR didefinisikan sebagai:


Dimana konsentrasi ion-ion dinyatakan dalam padanan per sejuta (epm-equivalents per million). SAR menunjukkan kegiatan relatif ion-ion sodium dalam reaksi-reaksi pertukaran dengan tanah. Air irigasi yang SAR nya tinggi akan menyebabkan pekatnya tanah.

        U.S Department of Agriculture telah mengklasifikasikan air-air irigasi menjadi empat kelompok berkenaan dengan bahaya sodium yang tergantung pada nilai SAR dan hantaran spesifiknya. Dengan menambahkan gipsum, CaSO4, ke air atau langsung ketanah, maka nilai SAR dapat diturunkan.
Pengamatan mutu air di sungai atau air tanah mungkin tidak cukup untuk menentukan kecocokannya untuk irigasi. Penguapan dari waduk meningkatkan konsentrasi garam di air permukaan, sehingga garam-garam yang dibilas dari irigasi dapat sangat meningkatkan konsentrasi garam di air tanah. Perubahan-perubahan ini harus dipertimbangkan pada tahap perancangan.

      Kontaminasi air yang bersifat bakterial dari segi pandangan irigasi tidaklah serius, kecuali jika air yang tercemar itu dipakai untuk tanaman yang dimakan mentah. Air limbah yang tidak diolah dipergunakan sebagai air irigasi di beberapa Negara, tetapi di Amerika Serikat penggunaannya tidak disetujui, kecuali pembibitan, kapas dan lain-lain tanaman yang diolah setelah panen. Kebanyakan Negara bagian memiliki peraturan-peraturan untuk mengurus pemakaian air limbah bagi irigasi.