Keaktifan Belajar

Aktivitas Belajar

Aktivitas Belajar adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti mereka yang mendominasi aktivitas pembelajaran. Dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi kuliah, memecahkan persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam suatu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata. Dengan belajar aktif ini, peserta didik diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi juga melibatkan fisik. Dengan cara ini biasanya peserta didik akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan.

Belajar aktif itu sangat diperlukan oleh peserta didik untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum. Ketika peserta didik pasif, atau hanya menerima dari pengajar, ada kecenderungan untuk cepat melupakan apa yang telah diberikan. Oleh sebab itu diperlukan perangkat tertentu untuk dapat mengikat informasi yang baru saja diterima dari guru maupun dosen. Belajar aktif adalah salah satu cara untuk mengikat informasi yang baru kemudian menyimpannya dalam otak. Mengapa demikian? Karena salah satu faktor yang menyebabkan informasi cepat dilakukan adalah faktor kelemahan otak manusia itu sendiri. Belajar yang hanya mengandalkan indera pendengaran mempunyai beberapa kelemahan, padahal hasil belajar seharusnya disimpan sampai waktu yang lama.

Penggunaan strategi pembelajaran aktif adalah realita bahwa peserta didik mempunyai cara belajar yang berbeda-beda. Ada peserta didik yang lebih senang membaca, ada yang senang berdiskusi dan ada juga yang senang praktek langsung. Untuk dapat mengakomodir kebutuhan memaksimalkan dalam belajar yaitu dengan menggunakan variasi strategi pembelajaran yang beragam yang melibatkan indera yang banyak. Dari sisi pengajar, sebagai penyimpan materi strategi pembelajaran aktif akan sangat membantu dalam melaksanakan tugas-tugas keseharian.

Bagi pengajar yang sibuk mengajar, strategi ini dapat dipakai dengan variasi yang tidak membosankan. Filosofi mengajar yang baik adalah bukan sekedar menstrasfer pengetahuan kepada peserta didik, akan tetapi bagaimana membantu peserta didik supaya dapat belajar, maka pengajar tidak lagi menjadi pemeran central dalam proses pembelajaran (Zaini, 2008).

Menurut Silberman (2001), strategi pembelajaran aktif merupakan cara-cara yang digunakan dalam suatu proses pembelajaran atau pada saat kegiatan belajar aktif. Peserta didik akan melakukan sebagian besar kegiatan yang harus dilakukan, mereka akan mempelajari gagasan-gagasan, memecahkan berbagai masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Strategi pembelajaran aktif merupakan langkah yang cepat, menyenangkan, mendukung, dan secara pribadi menarik di hati karena peserta didik tidak hanya terpaku di tempat-tempat duduk mereka, tapi mereka berpindah-pindah dan berpikir keras. Stretegi pembelajaran aktif, perlu diadakan karena membantu peserta didik untuk mencoba berbagai keterampilan-keterampilan, tidak hanya terpaku mendengarkan informasi dari guru, dan dapat membantu memeriahkan kelas.

Strategi pembelajaran aktif dapat dikatakan sebagai suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar lebih aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok atau materi belajar, memecahkan persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari kedalam suatu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata.

Dengan belajar aktif, peserta didik diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi juga melibatkan fisik dengan cara ini biasanya peserta didik akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan, sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan. Strategi pembelajaran aktif sangat diperlukan untuk menumbuhkan jiwa kemandirian, daya kreatifitas sehingga mampu membuat inovasi-inovasi baru, dan juga untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum karena ketika pembelajaran yang pasif maka peserta didik hanya menerima informasi dari pengajar dan kecenderungan untuk cepat melupakan apa yang telah diberikan (Munthe, 2007).

Macam-macam Keaktifan Belajar

Dalam proses pembelajaran, siswa mengaktifkan berbagai macam inderanya untuk dapat menyerap dan mencapai hasil belajar yang maksimal. Keaktifan belajar siswa ini akan mempengaruhi hasil belajar yang ia peroleh. Semakin tinggi tingkat keaktifan diharapkan semakin besar hasil yang diperoleh. Sebenarnya terdapat berbagai macam aktivitas siswa yang dilakukan ketika kegiatan pembelajaran berlangsung, tetapi dapat dikelompokkan mengingat banyak aktivitas yang sejenis.

Menurut Diedrich dalam Rohani (2004: 9) ada bermacam-macam kegiatan siswa yang digolongkan menjadi 8 kelompok sebagai berikut:

  1. Kegiatan visual: membaca, memperhatikan penjelasan guru, memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, dan pekerjaan orang lain
  2. Kegiatan verbal: menyatakan pendapat, merumuskan, bertanya pada guru, memberi saran, mengeluarkan pendapat, diskusi, interaksi
  3. Kegiatan mendengarkan: mendengarkan penjelasan guru, percakapan, diskusi, musik, pidato
  4. Kegiatan menulis: mencatat penjelasan guru, kelengkapan catatan, dan kejelasan tulisan
  5. Kegiatan menggambar: menggambar, membuat grafik, cahrt, diagram peta dan pola
  6. Kegiatan motorik: melakukan percobaan, memilih alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari dan berkebun
  7. Kegiatan mental: merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis factor-faktor, melihat hubingan dan membuat keputusan
  8. Kegiatan emosional: minat membedakan, berani, tenang dan lain-lain

Hasil Belajar

Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan tingkat penguasaan yang dicapai oleh pelajar dalam mengikuti program belajar mengajar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Hasil belajar siswa merupakan perwujudan output suatu proses yang tidak bisa terlepas dari input proses tersebut (Santyasa, 1999: 48). Kualitas proses belajar merupakan salah satu unsur yang berpengaruh terhadap hasil belajar, baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Hasil belajar juga diartikan sebagai kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman dari proses belajar mengajar (Sudjana, 2006: 22).

Macam-macam Hasil Belajar

Terdapat berbagai macam atau tipe hasil belajar yang telah dikumukakan oleh para ahli. Menurut Horward Kingsley (dalam Sudjana, 2006), terdapat tiga macam hasil belajar, yaitu 1) keterampilan dan kebiasaan, 2) pengetahuan dan pengertian, dan 3) sikap dan cita-cita. Sedangkan menurut Gagne, terdapat lima katagori hasil belajar, yakni 1) informasi verbal, 2) keterampilan intelektual, 3) strategi kognitif, 4) sikap, dan 5) keterampilan motoris. Namun, klasifikasi hasil belajar yang digunakan jika mengacu kepada rumusan tujuan sistem pendidikan nasional adalah klasifikasi hasil belajar menurut Benyamin Bloom, yang membaginya menjadi tiga ranah, yaitu 1) ranah kognitif, 2) ranah afektif, dan 3) ranah psikomotoris.

Pembelajaran

Pembelajaran

Menurut Uno (2007), pembelajaran merupakan proses interaksi antara pengajar dan peserta didik. Dalam proses pembelajaran peserta didik akan memperoleh tentang sesuatu yang mereka belum ketahui, mereka akan mempelajari suatu pengetahuan dengan cara yang lebih efisien, dari proses tersebut akan adanya kaitan tentang pengetahuan baru pada struktur kognitif yang lebih mantap, yang dapat diperoleh pada hasil belajar.

Pembelajaran adalah bagian yang memiliki peran sangat dominan untuk mewujudkan kualitas, baik itu proses maupun lulusan. Pembelajaran memiliki pengaruh yang menyebabkan kualitas pendidikan rendah, artinya pembelajaran itu sangat tergantung dari kemampuan seorang guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Tujuan dari pembelajaran lebih ditekankan untuk memperluas atau menambahkan pengetahuan siswa, agar siswa itu memiliki kemampuan mengungkapkan kembali pengetahuan dan pemahaman yang sudah dipelajari, baik dalam tempo waktu yang singkat maupun waktu yang panjang, yang diperoleh melalui berbagai cara dalam proses pembelajaran (Muchitch, 2008).

Menurut Uno (2008), upaya untuk membelajarkan siswa dalam kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan untuk mencapai hasil belajar yang baik disebut dengan pembelajaran. Pembelajaran akan memusatkan perhatian pada “bagaimana membelajarkan siswa”, dan bukan pada “apa yang dipelajari siswa”. Tujuan pembelajaran itu sendiri yaitu adanya pencapaian perilaku oleh siswa pada suatu kompetensi, meningkatkan hasil belajar, dan harapan adanya keterampilan yang dimiliki oleh masing-masing siswa yang ingin dicapai.

Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran merupakan suatu proses yang sistematis yang mengisyaratkan adanya orang yang mengajar dan belajar dengan didukung oleh komponen lainnya, seperti kurikulum, dan fasilitas belajar mengajar. Dalam proses tersebut, terdapat kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode atau pendekatan untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan.Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok konvensional yang menerapkan system kompetisi, dimana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana kelompok belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah empat orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar (Slavin,1995).

Menurut Hamalik (2009) Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin, 2009). Manusia terlibat dalam sistem pembelajran terdiri dari siswa, guru, dan tenaga lainnya. Material meliputi: buku-buku, papan tulis, white board, audio. Fasilitas dan perlengkapan berupa: ruangan kelas, perlengkapan, dan prosedur meliputi: jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik, belajar, ujian, dan sebagainya.

Sedangkan Johnsosn, dalam Hasan (1994) mengemukakan, bahwa pembelajarn kooperatif mengandung arti bekerja bersama dalam mencapai tujuan bersama. Dalam kegiatan Kooperatif, siswa mencari hasil yang menguntungkan bagi seluruh anggota kelompok. Belajar kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok itu. Prosedur pembelajarn kooperatif dirancang untuk mengaktivitaskan siswa melalui inkuiri dan perbincangan mengaktivitaskan siswa melalui inkuiri dan perbincangan dalam kelompok kecil yang terdiri atas 4-5 orang.

Menurut Anita Lie (2000) pembelajaran kooperatif dengan istilah pembelajaran gotong royong, yaitu kelompok pembelajaran yang member kesempatan kepada didik untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam tugasan-tugasan yang terstruktur. Lebih lanjut dikatakan bahwa pembelajaran kooperatif hanya berjalan bahwa pembelajaran kooperatif hanya berjalan kalau sudah terbentuk suatu kelompok atau suatu kelompok yang di dalamnya siswa bekerja secara terarah untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan dengan jumlah anggota kelompok pada umumnya terdiri dari 4-5 orang saja. (Anita Lie, 2000).

Berdasarkan pendapat di atas, maka pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan guru di sekolah sesuai dengan tuntutan materi pelajaran yang mengandung unsur kerjasama antara siswa dalam kelas dalam melakukan kerja kelompok. Penekanan pendekatan ini adalah mengaktifkan siswa dalam pembelajaran melalui kerjasama antar siswa dalam suasana belajar berkelompok.

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim, et al. (2000), yaitu:

  • Hasil belajar akademik

Dalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar.

  • Penerimaan terhadap perbedaan individu

Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk berkerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.

  • Pengembangan keterampilan sosial

Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah, mengajarkan kepada siswa keterampilan berkerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan social, penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.

  1. Pembelajaran Kooperatif tipe-Jigsaw

Model Pembelajaran Kooperatif tipe-Jigsaw dideskripsikan sebagai strategi pembelajaran dimana siswa dikelompokkan dalam kelompok-kelompok yang disebut “kelompok asal”. Kemudian siswa juga menyusun “kelompok ahli” yang terdiri dari perwakilan “kelompok asal” untuk belajar dan/atau memecahkan masalah yang spesifik. Setelah “kelompok ahli” selesai melaksanakan tugas maka anggota “kelompok ahli” kembali ke kelompok asal untuk menerangkan hasil pekerjaan mereka di “kelompok ahli” tadi. Model Pembelajaran Kooperatif tipe-Jigsaw mengkondisikan siswa untuk beraktifitas secara kooperatif dalam dua kelompok, yaitu kelompok asal dan kelompok ahli. Aktifitas tersebut meliputi saling berbagi pengetahuan, ide, menyanggah, memberikan umpan balik dan mengajar rekan sebaya. Seluruh aktifitas tersebut dapat menciptakan lingkungan belajar dimana siswa secara aktif melaksanakan tugas sehingga pembelajaran lebih bermakna.

Dalam model pembelajaran Kooperatif tipe-Jigsaw, siswa bekerja dalam tim-tim heterogen. seperti pada STAD, skor-skor yang disumbangkan oleh siswa pada tim mereka didasarkan pada sistem skor perbaikan individu dan siswa pada tim dengan skor tinggi dapat diberi penghargaan/reward. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dengan cara ini diharapkan siswa termotivasi untuk belajar bahan ajar tersebut dengan baik. Kunci keberhasilan jigsaw adalah saling ketergantungan, yaitu setiap siswa bergantung kepada anggota timnya untuk mendapat informasi yang dibutuhkan agar dapat mengerjakan kuis dengan baik.

Menurut Slavin ( 1995: 122 ) Kegiatan instruksional yang secara reguler dilaksanakan dalam model pembelajaran Kooperatif tipe-Jigsaw terdiri atas membaca, diskusi kelompok ahli, laporan tim, tes, dan penghargaan tim.

1)  Membaca, Siswa menerima topik ahli dan membaca materi yang ditnjuk untuk menggali informasi (mendalaminya).

2)  Diskusi kelompok ahli, Siswa dengan topik ahli yang sama bertemu untuk mendiskusikannya dalam kelompok ahli.

3)  Laporan tim, Ahli-ahli kembali pada timnya dan mengajarkan topik mereka kepada anggota yang lain dalam satu timnya. Selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pelajaran yang telah didiskusikan.

4)  Tes/Kuis, Siswa mengerjakan kuis individual yang mencakup semua topik.

5)   Penghargaan tim, Bagi tim yang memperoleh skor tertinggi diberikan penghargaan/reward.

Model pemebelajaran Kooperatif tipe-Jigsaw  adalah sebuah model belajar kooperatif yang menitik beratkan kepada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil, seperti yang diungkapkan Lie ( 1993: 73), bahwa model pembelajaran Kooperatif tipe-Jigsaw ini merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat sampai dengan enam orang secara heterogen dan siswa bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri. Dalam model pembelajaran Kooperatif tipe- jigsaw ini siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukanakan pendapat, dan mengelola imformasi yang didapat dan dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi, anggota kelompok bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajari, dan dapat menyampaikan kepada kelompoknya ( Rusman, 2008.203).

Menurut Rusman (2008 : 205) model pembelajaran Kooperatif tipe-Jigsaw  ini dikenal juga dengan kooperatif para ahli. Karena anggota setiap kelompok dihadapkan pada permasalahan yang berbeda. Namun, permasalahan yang dihadapi setiap kelompok sama, kita sebut sebagai team ahli yang bertugas membahas permasalahan yang dihadapi. Selanjutnya, hasil pembahasan itu di bawa ke kelompok asal dan disampaikan pada anggota kelompoknya.

Kegiatan yang dilakukan pada model pembelajaran Kooperatif tipe-Jigsaw sebagai berikut:

1) Melakukan mambaca untuk menggali informasi. Siswa memeperoleh topik – topik permasalahan untuk di baca sehingga mendapatkan imformasi dari permasalahan tersebut.

2) Diskusi kelompok ahli. Siswa yang telah mendapatkan topik permasalahan yang sama bertemu dalam satu kelompok atau kita sebut dengan kelompok ahli untuk membicaran topik permasalahan tersebut.

3) Laporan kelompok, kelompok ahli kembali ke kelompok asal dan menjelaskan dari hasil yang didapat dari diskusi tim ahli.

4)  Kuis dilakukan mencakup semua topik permasalahan yang dibicarakan tadi.

5)  Perhitungan skor kelompok dan menetukan penghargaan kelompok.

Sedangkan menurut Stepen, Sikes and Snapp (1978 ) yang dikutip Rusman (2008), mengemukakan langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif tipe-Jigsaw  sebagai berikut: 1) Siswa dikelompokan sebanyak 1 sampai dengan 5 orang siswa; 2) Tiap orang dalam tim diberi bagian materi berbeda; 3) Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan; 4) Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian subbab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusiksn subbab mereka; 5) Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali kedalam kelompok asli dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang subbab yang mereka kusai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan seksama; 6) Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi; 7) Guru memberi evaluasi; 8)  Penutup

  1. Perundang-Undangan Nasional

Pasal 5 Undang-Undang No. 5 Tahun 1986, menyatakan bahwa “Peraturan Perundang-Undangan adalah semua peraturan bersifat mengikat secara umum, dikeluarkan oleh badan perwakilan rakyat bersama pemerintah, baik di tingkat pusat atau daerah, serta semua keputusan badan atau pejabat tata usaha negara, baik di tingkat pusat atau di tingkat daerah yang juga mengikat umum.

Pasal 1 ayat 3 UUD 1945 menegaskan bahwa bangsa Indonesia adalah negara yang berdasarkan hukum, artinya segala kehidupan berbangsa dan bernegara harus didasarkan pada hukum yang berlaku. Hukum yang baik adalah hukum yang menampung cita masyarakat serta mewujudkan keadilan dan ketertiban. Negara Indonesia sebagai negara hokum menerapkan hukum berdasarkan pada hierarki tertentu, yaitu tata urutan yang bertingkat dan berjenjang. Dalam hal ini, peraturan yang lebih rendah tidak boleh ber tentangan dengan peraturan hukum yang lebih tinggi. Pancasila memiliki kedudukan tertinggi dalam jenjang norma hukum di Indonesia. Oleh karena itu, Pancasila berkedudukan sebagai sumber hukum dasar nasional (ground norm). Sumber hukum adalah sumber yang dijadikan bahan untuk penyusunan perundang undangan. (Depdiknas:2009)

Menurut UU Nomor 12 Tahun 2011 (2011) Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan Nasional terdiri atas: (1)UUDN RI 1945; (2)Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat; (3)Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; (4)Peraturan Pemerintah; (5)Peraturan Presiden; (6)Peraturan Daerah Provinsi; dan (7)Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Jenis Peraturan Perundang-Undangan selain sebagaimana dimaksud mencakup peraturan yang ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Badan Pemeriksa Keuangan, Komisi Yudisial, Bank Indonesia, Menteri, badan, lembaga, atau komisi yang setingkat yang dibentuk dengan Undang-Undang atau Pemerintah atas perintah Undang-Undang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Gubernur, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota, Bupati/Walikota, Kepala Desa atau yang setingkat. Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan. Dalam hal suatu Undang-Undang diduga bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pengujiannya dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi. Dalam hal suatu Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang diduga bertentangan dengan Undang-Undang, pengujiannya dilakukan oleh Mahkamah Agung. (Depdiknas:2009)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *