Karakteristik Pembelajaran Kontekstual

Menurut Johnson (2002:24) dalam Nur Hadi menyebutkan ada delapan komponen utama dalam sistem pembelajaran kontekstual, yaitu:

  • Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connection)

Dalam pembelajaran ini seharusnya siswa dapat mengatur dirinya sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan minatnya secara individual, orang yang dapat bekerja sendiri atau bekerja dalam kelompok, dan orang yang dapat belajar sambil berbuat (learning by doing).

  • Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan (doing significan work)

Dalam pembelajaran ini siswa membuat hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis dan sebagai anggota masyarakat.

  • Belajar dengan berdasarkan pada peraturan yang dibuat sendiri (self regulated learning)

Dalam pembelajaran ini siswa melakukan pekerjaan yang signifikan: ada tujuannya, ada urusannya dengan orang lain, ada hubungannya dengan penentuan pilihan, dan ada produknya/ hasilnya yang bersifat nyata.

  • Bekerja sama (collaborating)

Dalam pembelajaran ini siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara aktif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi.

  • Berfikir aktif dan kreatif (critical and creative thinking)

Dalam pembelajaran ini siswa dapat menggunakan tingkat berfikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif dapat menganalisa, membuat sintesis, memecahkan masalah, membuat keputusan dan menggunakan logika dan bukti-bukti.

  • Mengasuh dan memelihara pribadi siswa (nurturing the individual)

Siswa memelihara kepribadiannya yaitu mengetahui, memberi perhatian, memiliki harapan-harapan yang tinggi, memotivasi dan memperkuat diri sendiri, siswa tidak dapat berhasil tanpa dukungan orang dewasa, siswa menghormati temannya dan juga orang dewasa.

  • Mencapai standar yang tinggi (reahing high standards)

Dalam pembelajaran ini siswa mengenal dan mencapai standar yang tinggi, mengidentifikasi tujuan dan memotivasi siswa untuk mencapainya. Guru memperlihatkan kepada siswa cara mencapai apa yang disebut “exellence”.

  • Menggunakan penilaian autentik (using authentic assesment)

Dalam pembelajaran ini siswa menggunakan pengetahuan akademis dalam konteks dunia nyata dalam rangka untuk suatu tujuan yang bermakna. Misalnya siswa boleh menyampaikan informasi akademis yang telah mereka pelajari dalam pelajaran sains, kesehatan, pendidikan, matematika, dan pelajaran bahasa inggris dengan mendesain sebuah mobil. Merencanakan menu sekolah atau membuat penyajian perihal emosi manusia.[1]

Selain itu dapat diidentifikasi ada enam kunci dasar dalam pembelajaran kontekstual, yaitu:

  1. Pembelajaran bermakna, pemahaman, relevansi dan penilaian pribadi sangat terkait dengan kepentingan siswa di dalam mempelajari isi materi pelajaran. Pembelajaran dirasakan terkait dengan kehidupan nyata atau siswa mengerti manfaat isi pembelajaran, jika mereka merasakan berkepentingan untuk belajar demi kehidupannya di masa yang akan datang. Prinsip pembelajaran ini sejalan dengan pembelajaran bermakna (meaningful learning).
  2. Penerapan pengetahuan, adalah kemampuan siswa untuk memahami apa yang dipelajari dan diterapkan dalam tatanan kehidupan dan fungsi di masa datang atau masa yang akan datang.
  3. Berfikir tingkat tinggi, siswa diwajibkan untuk memanfaatkan berfikir kritis dan berfikir kreatifnya dalam pengumpulan data, memahami suatu isu dan pemecahan suatu masalah.
  4. Kurikulum yang dikembangkan berdasarkan standar, isi pembelajaran harus dikaitkan dengan standar lokal, provinsi, nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta dunia kerja.
  5. Respon terhadap budaya, guru harus memahami dan menghargai nilai kepercayaan dan kebiasaan siswa, teman, pendidik, dan masyarakat tempat ia dididik. Ragam individu dan budaya suatu kelompok serta hubungan antara budaya tersebut akan mempengaruhi pembelajaran dan sekaligus akan berpengaruh terhadap cara mengajar baru. Setidaknya ada empat hal yang perlu diperhatikan didalam pembelajaran kontekstual, yaitu individu siswa, kelompok siswa baik sebagai tim atau keseluruhan kelas, tatanan sekolah dan besarnya tatanan komunikasi kelas.
  6. Penilaian autentik, penggunaan berbagai strategi penilaian (misalnya penilaian proyek/tugas terstruktur, kegiatan siswa, penggunaan portofolio, rubrik, daftar cek, pedoman observasi dan sebagainya) akan merefleksikan hasil belajar sesungguhnya.[2]

Pembelajaran kontekstual/CTL menempatkan siswa dalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajari dan sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individual siswa dan peran guru. Sehubungan dengan hal tersebut maka pendekatan kontekstual/CTL harus menekankan pada hal-hal sebagai berikut:

  • Belajar berbasis masalah

Bahwasannya pendekatan pengajaran harus menggunakan masalah dunia nyata sebagai sutau konteks bagi siswa untuk belajar tentang berfikir kritis dan ketrampilan memecahkan masalah serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran. Dalam hal ini siswa terlibat dalam penyelidikan untuk pemecahan masalah yang mengintegrasikan ketrampilan dan konsep dari berbagai isi materi pelajaran. Pendekatan ini mencakup pengumpulan informasi yang berkaitan dengan pertanyaan, mensintesiskan, dan mempresentasikan penemuannya kepada orang lain.

  • Pengajaran autentik

Bahwa dalam pembelajaran kontekstual/CTL pendekatan pengajaran harus memperkenankan siswa untuk mepelajari konteks bermakna. Siswa harus mengembangkan ketrampilan berfikir dan pemecahan masalah yang penting dalam konteks kehidupan nyata.

  • Belajar berbasis inquiri

Bahwa pengajaran berbasis inquiri adalah suatu strategi yang berpusat pada siswa dimana kelompok siswa ke dalam suatu isu atau mencari jawaban-jawaban terhadap isi pertanyaan melalui suatu prosedur yang digariskan secara jelas. Pengajaran inquiri ini dibentuk atas dasar diskoveri, sebab seorang siswa harus menggunakan kemampuannya berdiskoveri dengan kemampuan lainnya. Dalam inquiri, seseorang bertindak sebagai seorang ilmuan, melakukan eksperimen, dan mampu melakukan proses mental berinquiri.[3]

  • Belajar berbasis proyek

Yaitu suatu pembelajaran yang membutuhkan suatu pendekatan komprehensip dimana lingkungan belajar siswa (kelas) didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah autentik termasuk pendalaman materi dari suatu topik mata pelajaran dan melakukan tugas bermakna lainnya. Pendekatan ini memperkenalkan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam membentuk pembelajarannya dalam bentuk nyata.

  • Belajar berbasis kerja

Yaitu suatu pembelajaran yang memerlukan suatu pendekatan pengajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali ditempat kerja. Jadi dalam hal ini, tempat kerja dan berbagai aktivitas dipadukan dengan materi pelajaran untuk kepentingan siswa.

  • Belajar berbasis jasa layanan

Pembelajaran ini memerlukan penggunaan metodologi pengajaran yang mengkombinasikan jasa layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah untuk merefleksikan antara pengalaman dan pembelajaran akademik. Dengan kata lain, pendekatan ini menyajikan suatu penerapan praktis dari pengetahuan baru yang diperlukan dan berbagai ketrampilan untuk memenuhi kebutuhan di dalam masyarakat melalui tugas terstruktur dan kegiatan lainnya.

  • Belajar kooperatif

Pembelajaran ini memerlukan suatu pendekatan pengajaran melalui suatu kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar.

Baca Juga  Artikel Terkait:

[1] Nur Hadi, Pembelajaran Konstektual (Malang: UM Press, 2004), hlm. 13-14

[2] Ibid., hal. 14-15

[3] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pengajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hlm. 219

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *