Critical discourse Analysis, dengan demikian  bisa  dinilai sebagai  bagian dari  critical cultural studies, yang melihat produksi dan distribusi budaya-termasuk artefak budaya semacam teks isi  media –selalu  berlangsung  dalam  hubungan domonasi dan subordinasi. Oleh Karena itu pula Critical Discourse Analysis memiliki asumsi epistemology dan ontologi tersendiri ; sehingga juga membawa implikasi metodologis yang khas­_yang berbeda dengan asumsi-asumsi paradigmatik analisis wacana dalam perspektif positivis ataupun kontruktivis. Dengan demikian, tolok ukur penilaian kualitas (goodness atau quality criteria) suatu critical discourse Analysis juga berbeda dengan dengan yang berlaku bagi analisis wacana positive ataupun konstruktivis  dalam banyak kasus, hasil-hasil analisis wacana kritis, khususnya skirpsi  dan tesis,  masih dinilai berdasarkan tolok ukur analisis isi konventional,  yang mempergunakan perspektif  positivis.

Salah satu kriteria  yang berlaku bagi sebuah studi kritis adalah sifat holistik dan kontekstual. kualitas suatu analisis wacana kritis akan selalu dinilai  dari segi kemampuan untuk menempatkan teks dalam konteksnya yang utuh, holistik, melalui pertautan antara analisis pada jenjang teks dengan analisis terhadap konteks pada jenjang-jenjang yang lebih tinggi. Oleh karena itu pula Critical Discourse Analysis (CDA). Sebagaimana yang juga diketengahkan, berisi metode-metode yang menekankan multilevel analysis,  mempertautkan analysis pada jenjang mikro (teks) dengan analysis pada jenjang meso ataupun makro . CDA bukan pula sekedar sekumpulan metode formal atau kerangka analysis  (analytical framework)  yang lebih besar,  tentang ketimpangan dan ketidakadilan dalam masyarakat.  Tanpa adanya teori wacana serta kerangka teori besar tersebut, maka analisis wacana hanyalah sebuah pisau analisis di tangan  para tukang, yang tidak mampu memaknai temuan pada jenjang teks dalam konteks serta situasi pada tataran meso ataupun makro. oleh karena itu pula,  pelaku analisis wacana tidak bisa menempatkan diri hanya sebagai seorang teknisi, seperti halnya teknisi analisis statistik, melainkan juga seorang teoritis, khususnya yang mendalami teori-teori kritis.

Penting pula untuk di catat,  kerangka teori dalam sebuah studi kritis, termasuk dalam CDA –memiliki fungsi tersendiri kerangka teori dalam CDA –berbeda dengan kerangka teori dalam studi –studi  positivistic– tidak selalu berfungsi untuk  menurunkan hipotesis-hipotesis, sebagai jawaban sementara bagi masalah yang diteliti, dan selanjutnya akan diuji di hadapan  realitas empirik.  Sebab, kerangka teori itu sendiri sering kali ditempatkan sebagai the real reality, yang berfungsi untuk membongkar dan menjelaskan  virtual reality  yang ditampilkan data empirik semacam teks isi media .

Selain itu, Critical Discourse Analysis harus bersifat historis, atau mampu mendefinisikan secara spesifik historical situatedness dari analisis yang dilakukannya. Namun pengertian ‘historis’ ini bisa mempunyai arti yang lebih khusus. Bila teks ditempatkan sebagai produk industri pers, maka analisis yang dilakukan harus pula secara spesifik dikaitkan dengan tahap perkembangan historis kapitalisme  yang ada.  contohnya,  analisis pada jenjang teks isi media era Orde baru tidak bisa hanya sekedar dikaitkan dengan sistem produksi kapitalis dalam dalam konsepsinya yang umum dan klise; namun harus ditautkan dengan konteks perkembangan kapitalisme yang secara  nyata berlangsung di negeri kita pada era tersebut,  yakni yang telah menciptakan konsentrasi modal ke sejumlah faksi : modal Negara yang dikelola BUMN, modal institusi militer, modal swasta nasional, dan modal internasional. Lebih dari itu,  amat mungkin kesemuanya perlu pula dikaitkan dengan proses liberalisme ekonomi global – yang dalam banyak dimensinya justru berseberangan dengan ideology kapitalisme orde baru. Tanpa  memahami  specific historical situadness  semacam  itu para praktisi analisis wacana akan sulit, misalnya saja, memaknai teks  atau wacana dalam pers orde baru, sebagai institusi  kapitalis, yang tempo hari disatu sisi sering bersikap negatif terhadap liberalism ekonomi global, sementara disisi lain ada sejumlah lainnya yang justru membela.

Satu hal yang barangkali akan dipertanyakan adalah teori wacana Foucault sebab, dalam sejumlah literatur ,  teori-teori Foucoult –termasuk teori wacana yang ia lahirkan – ditempatkan dalam kelompok postcritical theories , bersama-sama dengan postmodernis lain seperti Baudrillard dan Deridda.  Namun   di lain pihak, kini orang pun juga tidak lagi bisa membatasi wilayah teori-teori kritis hanya pada pemikiran mazhab Frankfurt. Sebab, dalam perkembangannya, teori-teori kritis kini lebih merupakan hasil perkawinan silang antara sejumlah pemikiran yang bersikap kritis terhadap dominasi dan ketidakadilan dalam kehidupan sosial. Termasuk  di dalamnya persentuhan antara pemikiran yang berakar dari mazhab Frankfurt yang menonjolkan perspektif barat dengan pemikiran Filosofi pembebasan-nya.

Dussel dalam ( Mills 2007 : 78 ),  yang lebih menempatkan diri dalam sudut pandang Dunia ketiga kemudian juga dengan teori –teori femisime dan sebagainya. Oleh  karena itu, sejauh CDA kita defenisikan sebagai analisis yang bertujuan mempelajari bagaimana kekuasaan disalah gunakan, atau  bagaimana  dominasi serta ketidakadilan dijalankan dan direproduksi  melalui teks, maka pemikiran serta teori wacana yang diketengahkan Faucoult tetap relevan .

Analisis  kritis terhadap wacana (critical discourse  Analysis) –sebagai tipe analisis wacana yang terutama sekali mempelajari bagaimana kekuasaan disalahgunakan, atau bagaimana dominasi serta ketidakadilan dijalankan dan direproduksi melalui teks dalam sebuah konteks sosial politik-sebenarnya merupakan bagian dari upaya untuk mengembalikan studi-studi budaya (cultural studies, khususnya yang dikembangkan di inggris) ke dalam akar-akar tradisinya sebagai studi kritis (critical studies) dalam perkembangannya, khususnya awal dekade 1980-an, studi-studi budaya memang semakin berpaling dari tradisi teori-teori kritis. Konteks  idiologi serta dinamika ekonomi-politik sistem produksi semakin lenyap tertelan interogasi teks yang sedemikian intens dilakukan para praktisi analisis wacana. Lenyap  pula konteks politik makro dari analisis wacana yang mereka lakukan. Kalaupun  faktor kekuasan  politik dipersoalkan dalam analisis mereka, maka itu umumnya  hanya dalam konteks mikro dan lokal.

Selanjutnya, Penyadaran, pemberdayaan dan transformasi sosial yang menjadi moral concern teori-teori kritis juga semakin terpinggirkan oleh kesibukan untuk merpermasalahkan bagaimana teks seharusnya disajikan. Oleh karena itu, tampaknya tepat juga kritik Golding dan Ferguson dalam ( Hikam  1996 : 29 ), yang menuduh para analisis wacana pada waktu itu telah  ‘menurunkan’ misi  mereka dari ‘mengubah dunia’ (changing the world)  menjadi sekedar  ‘mengubah kata-kata (changing the word). sebab, masalah dominasi memang bukanlah sekedar masalah bagaimana suatu kelompok dominan menyajikan teks-teks tertentu di hadapan  kelompok subordinat. ”To be dominated ,it takes more than to be written abaut …conversely ,to stop writing abaut the other willnot bring liberation “Hikam 1996 : 29 ).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *