Sindroma Raynaud merupakan suatu sindroma akibat insufisiensi arteri jari-jari tangan maupun kaki, tanpa melihat penyebabnya maupun muncul sebagai akibat iskemik episodik atau kontinyu, nekrosis jari atau gangren. Sindroma Raynaud dapat terjadi dengan sendirinya, atau dapat berupa gejala sekunder dari suatu penyakit lain, misalnya skleroderma atau lupus. Sedangkan fenomena Raynaud adalah suatu fenomena dari episode asfiksia digiti episodik yang disebabkan karena insufisiensi arteri akibat vasospasme atau obstruksi organik (Birnstingl, 1971).


Fenomena ini ditandai dengan serangan episodik, yang disebut serangan vasospastik, yang menyebabkan konstriksi pembuluh darah pada jari kaki dan tangan. Fenomena ini pertama kali dijelaskan oleh Maurice Raynaud pada tahun 1862. Secara sederhana, deskripsi umum fenomena Raynaud berupa perubahan warna trifase pada digiti, dengan warna putih (pucat) yang menjadi biru (sianosis) diikuti hiperemi reaktif (merah). Meskipun demikian, telah diketahui bahwa tidak setiap pasien mengalami perubahan warna dengan seluruh trifase dan sebagian besar pasien datang dengan keluhan perubahan warna unifase yang melibatkan perubahan warna terisolir digiti menjadi kebiruan, yang dikenal sebagai akrosianosis. Akrosianosis adalah fenomena umum pada bayi yang baru lahir dan anak berusia muda. Akrosianosis umumnya bilateral, simetris, dan melibatkan tangan serta kaki (Sharathkumar, 2011).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *