Proses El-Nino

Bertahun-tahun, nelayan Peru tahu bahwa masuknya air hangat tiap beberapa tahun akan mengakibatkan berkurangnya populasi ikan Anchovy, sumber perikanan utama mereka dan sumber makanan bari burung-burung laut. Fenomena masuknya air hangat tersebut biasanya terjadi di dekat waktu Natal dan diberikan nama El-Nino, “The Child.” (Harold, 1994).
Selama tahun 1920, G.T.Walker mengidentifikasi apa yang disebutnya “Southern Oscillation (SO)”, berhubungan dengan kondisi dimana system tekanan tinggi selama musim panas di Pasifik selatan terjadi bersamaan dengan terbentuknya system tekanan rendah di atas daerah Indo-Australia. Perbedaan tekanan tersebut berkurang ketika angin pasat melemah, temperatur air permukaan di bagian timur Pasifik bertambah, dan aliran Equatorial Counter Current bartambah. Periode rata-rata osilasi tersebut adalah 3 tahun, namun rangenya dari 2 hingga 10 tahun. Saat ditemukan bahwa El-Nino rupanya berhubungan dengan Southern Oscillation, maka kejadian yang ada mulai disebut sebagai peristiwa El-Nino Southern Oscillation (ENSO). Telah ada 9 peristiwa ENSO selama 1950-1993 (Harold, 1994).
El-Nino merupakan sirkulasi anomali udara dan samudera. Saat dorongan angin pasat terputus atau melemah, air equator yang hangat yang seharusnya secara normal mengalir ke arah barat di equator Pasifik, berbalik mengalir ke timur. Kebanyakan alirannya secara alami adalah equatorial counter current yang diperkuat, namun para oseanografer telah menemukan bahwa equatorial under current di Pasifik juga bertambah volumenya selama El-Nino (Tom Garrison, 1993).
Aliran normal ke arah utara dari arus Peru yang dingin terpecah atau tergantikan dengan air hangat. Arus yang kaya akan nutrien yang terbawa ke permukaan tersebut berperan dalam produktivitas biologis yang tinggi di lepas pantai Peru dan Chili. Saat arus Peru melemah, ikan dan burung laut yang tergantung pada kehidupan yang dikandungnya, mati atau berpindah ke tempat lain (Tom Garrison, 1993).
Normalnya, Southern Oscillation mempengaruhi angin pasat tenggara, yang berkumpul di sel tekanan rendah di Indo-Australia, dan menghasilkan laju presipitasi tinggi di daerah dengan tekanan rendah. Suatu massa air paling hangat di lautan dunai dengan skala besar yang berada di bawah sel tekanan rendah tersebut terdorong ke sana oleh angin pasat. Termoklin di daerah hangat tersebut tidak terbentuk hingga kedalaman lebih dari 100 meter. Sebaliknya, termoklin terbentuk pada kedalaman 30 m di sebelah timur equator Pasifik. Udara kering turun di sel dengan tekanan tinggi di Pasifik bagian selatan, di pantai barat Amerika Selatan, dan pantai tersebut ditandai dengan laju evaporasi tinggi. Namun bagaimanapun, kondisi-kondisi tersebut berubah saat terjadi ENSO (Harold, 1994).
Satu tanda awal terjadinya ENSO adalah pergerakan sel dengan tekanan rendah di Indo-Australia ke arah timur yang dimulai dari Oktober atau November. Pada kasus yang ekstrim, kekeringan yang hebat dapat terjadi di Australia karena sel dengan tekanan rendah bergerak terlalu jauh ke timur.
Bersamaan terjadinya dengan pergeseran sel dengan tekanan rendah Indo-Australia ke arah timur, equator meteoroligis, atau zona konvergensi intertropical (ITCZ), dimana angin pasat timur laut dan angin pasat tenggara bertemu dan naik, bergerak ke selatan. Perpindahan musiman tersebut normalnya terjadi dari 100 lintang utara pada bulan Agustus hingga 30 lintang utara pada bulan Februari, namun saat ENSO, perpindahan ke arah selatan akan terjadi hingga ke selatan ekuator di Pasifik bagian timur. Berkaitan dengan perpindahan tersebut, adalah melemahnya angin pasat, berkurangnya upwelling di Pasifik bagian equator, beberapa bulan setelah dimulai, dan disertai dengan kembalinya kondisi normal secara berangsur-angsur yang dimulai dari daerah tropis di Pasifik bagian tenggara dan menyebar ke arah barat (Harold, 1994).
Selama terjadi El-Nino, tinggi muka air laut dan temperaturnya naik pada bagian tengah batas timur Pasifik. Air hangat menyebabkan evaporasi meningkat dan tekanan udara rendah akan terbentuk di sekitar 2000 km sebelah barat Peru. Udara lembab yang naik pada daerah ini menyebabkan persipitasi tinggi pada daerah yang biasanya kering. Habitat darat dan laut dapat terpengaruh dengan perubahan ini (Tom Garrison, 1993).
Di akhir peristiwa El-Nino, temperatur rata-rata berada di bawah normal terjadi di Pasifik bagian timur. Pendinginan tersebut dinamakan La Nina dan dikaitkan sebagai fenomena cuaca kebalikan dari El-Nino. Contohnya, angin munson di samudera Hindia menjadi lebih kering daripada biasanya saat terjadi El-Nino, dan menjadi lebih basah daripada biasanya saat terjadi La Nina.
ENSO sangat parah terjadi pada 1982-1983 yang menyebabkan kekeringan yang parah di Australia dan Indonesia.
Pada November 1982, 17 juta burung dewasa yang biasanya mendiami Kiritimati telah meninggalkan tempatnya. Kejadian tersebut menunjukkan parahnya ENSO yang terjadi di Pasifik tengah (Harold, 1994).

Share this post