Menu Close

Penerapan Metode Team Quiz untuk Meningkatkan Motivasi Belajar

Penerapan Metode Team Quiz untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa kelas VIII.7 dalam Mata Pelajaran IPS di SMP PGRI CITEUREUP Tahun Pelajaran 2018-2019

Loader Loading...
EAD Logo Taking too long?

Reload Reload document
| Open Open in new tab

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Peningkatan hasil belajar khususnya di Sekolah Menengah tidak akan terjadi tanpa adanya kerjasama dari berbagai pihak. Pendidikan dan pengajaran dapat berhasil sesuai dengan harapan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang saling berkaitan dan saling menunjang. Faktor yang paling menentukan keberhasilan pendidikan / pengajaran adalah guru, sehingga guru sangat dituntut kemampuannya untuk menyampaikan bahan pengajaran kepada siswa dengan baik, untuk itu guru perlu mendapatkan pengetahuan tentang metode dan media pengajaran yang dapat di gunakan dalam proses belajar mengajar.
Kita ketahui bersama bahwa pembelajaran tidak terlepas dari proses penyajian materi. Tutor atau guru harus dapat menyajikan materi yang baik. Menarik, jelas dan melingkupi seluruh materi menjadikan suatu presentasi diterima dengan baik. Jika hal itu bertolak belakang, peserta didik akan cepat bosan dan menurunkan motivasinya untuk belajar. Contohnya, presentasi disajikan dengan huruf yang terlampau kecil sehingga sulit untuk dibaca, warna yang ditampilkan tidak menunjukan gradasi yang jelas, atau penyaji hanya menggunakan metode ceramah saja, dan lain-lain.
Masalah lain dalam penyampaian materi pelajaran adalah mencerna makna materi yang disampaikan. Pada materi pelajaran seperti IPA atau Matematika media pemebelajatan dapat dengan mudah ditemukan dan diterapkan di berbagai tempat. Sementara pada mata pelajaran pendidikan IPS, hal ini sedikit berbeda karena inti dari materi mata pelajaran yang sebagian besar berhubungan dengan hal-hal yang abstrak, sehingga pemilihan metode atau strategi pembelajaran yang tepat sangat penting. Untuk itulah kreatifitas guru mata pelajaran IPS dalam menerapkan metode pembelajaran dan menggunakan media pembelajaran yang tepat dan sesuai menjadi sangat penting untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, sehingga makna dari materi pelajaran ini dapat dengan mudah dicerna oleh siswa.
Dari hasil pengamatan proses pembelajaran di Sekolah SMP PGRI CITEUREUP ternyata belum sepenuhnya melibatkan fisik dan mental siswa. Sehingga dalam proses pembelajaran terkesan siswa kurang aktif dan guru-guru, dalam proses pembelajaran kurang memantapkan penggunaan metode yang telah dipelajari dan jarang sekali menggunakan media, sehingga siswa cenderung bosan terhadap pelajaran IPS yang selalu menggunakan metode ceramah dan diskusi.
Berdasarkan hasil observasi diperoleh informasi bahwa rendahnya minat siswa kelas VIII.7 tersebut dalam mata pelajaran IPS disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :
1. Kurangnya partisipasi siswa dalam pembelajaran di kelas. Kesempatan-kesempatan yang diberikan oleh guru kepada siswa untuk bertanya mengenai materi pelajaran yang belum dimengerti tidak dimanfaatkan dengan baik oleh siwa.
2. Guru mengajar dengan menggunakan metode yang monoton yaitu metode ceramah, sehingga siswa cenderung bosan dalam pembelajaran.
3. Aktifitas siswa dalam menjawab, menyelesaikan tugas-tugas masih sangat kurang.
Dengan kondisi seperti itu dipandang perlu diadakan perbaikan pelaksanaan proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa, salah satu cara untuk meningkatkan pelaksanaan proses pembelajaran, guru harus mampu memilih dan menggunakan metode yang tepat yaitu metode team quiz dan media pengajaran.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin melakukan penelitian yang berjudul “ Penerapan Metode Team Quiz untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa kelas VIII.7 dalam Mata Pelajaran IPS di SMP PGRI CITEUREUP Tahun Pelajaran 2018-2019 ”
B. Rumusan Masalah
Sebagaimana latar belakang, maka penulis mengambil rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah proses perencanaan pembelajaran metode Team Quiz untuk meningkatkan Motivasi belajar siswa kelas VIII C pada mata pelajaran IPS di SMP PGRI CITEUREUP?
2. Bagaimanakah proses pelaksanaan pembelajaran metode Team Quiz untuk meningkatkan Motivasi belajar siswa kelas VIII 7 pada mata pelajaran IPS di SMP PGRI CITEUREUP?
3. Bagaimanakah penilaian proses dan hasil belajar pembelajaran metode Team Quiz untuk meningkatkan Motivasi belajar siswa kelas VIII 7 pada mata pelajaran IPS di SMP PGRI CITEUREUP?

C. Tujuan Masalah
1. Mendeskripsikan proses perencanaan pembelajaran metode Team Quiz untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII 7 pada mata pelajaran IPS di SMP PGRI CITEUREUP
2. mendeskripsikan proses pelaksanaan pembelajaran metode Team Quiz untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII C pada mata pelajaran IPS di SMP PGRI CITEUREUP
3. mendeskripsikan penilaian proses dan hasil belajar pembelajaran metode Team Quiz untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII.7 pada mata pelajaran IPS di SMP PGRI CITEUREUP
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat membawa manfaat bagi:
1. Lembaga Pendidikan
Menambah wacana pendidikan tentang metode pengajaran dan sebagai sumbangan pemikiran dan bahan masukan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran IPS

2. Bagi Guru IPS
Sebagai masukan bagi guru-guru IPS dalam meningkatkan pemahaman siswa pada bidang studi IPS serta sebagai bahan rujukan dalam mengatasi problematika pengajaran IPS
3. Bagi siswa
Meningkatkan Pemahaman siswa terhadap bidang studi IPS
4. Bagi Penulis
Memberikan wawasan dan pengalaman praktis di bidang penelitian. Selain itu hasil penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai bekal untuk menjadi tenaga pendidik yang profesional

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Penelitian Tindakan Kelas
1. Pengertian Tindakan kelas
Penelitian tindakan adalah penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan baru, strategi baru atau pendekatan baru untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di dunia kerja atau dunia aktual yang lain (Suryabrata,1983). Di samping itu, penelitian tindakan atau Action Research juga merupakan langkah-langkah nyata dalam mencari cara yang paling cocok untuk memperbaiki keadaan, lingkungan, dan meningkatkan pemahaman terhadap keadaan dan atau lingkungan tersebut (McTaggart, dalam Hanurawan, 2001).
Penelitian tindakan merupakan penelitian yang diarahkan untuk memecahan masalah atau perbaikan. Guru-guru mengadakan pemecahan terhadap masalah-masalah yang dihadapi dalam kelas, kepala sekolah mengadakan perbaikan terhadap manajemen di sekolahnya. Penelitian ini difokuskan kepada perbaikan proses maupun peningkatan hasil kegiatan. Penelitian tindakan juga biasa dilakukan dengan meminta bantuan seorang konsultan atau pakar dari luar. Penelitian tindakan yang demikian diklasifikasikan sebagai penelitian tindakan kolaboratif atau collaborative action research. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis reflektif terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya suatu perencanaan sampai penilaian terhadap tindakan nyata di dalam kelas yang berupa kegiatan belajar-mengajar, untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan. Sementara itu, dilaksanakannya PTK di antaranya untuk meningkatkan kualitas pendidikan atau pangajaran yang diselenggarakan oleh guru/pengajar-peneliti itu sendiri, yang dampaknya diharapkan tidak ada lagi permasalahan yang mengganjal di kelas.

2. Langkah –langkah Penelitian Tindakan kelas
Sebelum peneliti melaksanakan tindakan, perlu disusun langkah-langkah yang akan diambil. Langkah-langkah yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut:
a. Melatih guru untuk melakukan atau memberikan informasi cara melakukan sesuai dengan rancangan. Hal ini sangat perlu, jika apa yang akan dilakukan merupakan hal baru bagi guru.
b. Mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas, seperti pada contoh di atas, yaitu di kelas perlu ada papan atau tempat menempel, perlu kertas stiker, atau kertas kecil-kecil dan lem.
c. Mempersiapkan contoh-contoh perintah suruhan melakukan secara jelas.
d. Mempersiapkan cara mengobservasi hasil beserta alatnya.
e. Membuat skenario apa yang akan dilakukan guru dan apa yang dilakukan siswa dalam melakukan tindakan yang telah direncanakan.
f. Jika semua hal di atas telah disiapkan, skenario tindakan tersebut dilaksanakan. Kegiatan ini merupakan tindakan awal atau initial act pada siklus pertama, dan akan diikuti dengan langkah observasi dan refleksi
B. Metode Team Quiz
1. Pengertian Team Quiz
Belajar merupakan suatu proses yang dapat ditandai dengan perubahan perilaku seseorang dan dapat dilihat dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Proses perubahan yang terjadi pada individu dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal merupakan semua hal yang berada di dalam diri individu, sedang faktor eksternal merupakan semua hal yang berasal dari luar individu.
Sedangkan menurut Nurhayati, “Team quiz merupakan metode pembelajaran aktif yang dikembangkan oleh Mel Silberman, yang mana dalam tipe team quiz ini siswa dibagi menjadi tiga tim. Setiap siswa dalam tim bertanggung jawab untuk menyiapkan kuis jawaban singkat, dan tim yang lain menggunakan waktunya untuk memeriksa catatan”
Dalvin menyatakan bahwa “ Metode team quiz dapat menghidupkan suasana dan mengaktifkan siswa untuk bertanya ataupun menjawab”. suatu metode yang bermaksud melempar jawaban dari kelompok satu ke kelompok lain.
Jadi dapat disimpulkan, Tipe Team Quiz adalah model pembelajaran aktif yang mana siswa dibagi kedalam tiga kelompok besar dan dan semua anggota bersama-sama mempelajari materi tersebut, mendiskusikan materi, saling memberi arahan,saling memberikan pertanyaan dan jawaban, setelah materi selesai diadakan suatu pertandingan akademis.
Dalam metode ini langkah-langkah pelaksanaan yang digunakan, adalah:
a. Pilihlah topik yang disampaikan dalam tiga segmen
b. Bagi siswa menjadi tiga kelompok, A, B, dan C
c. Sampaikan kepada siswa format pembelajaran yang anda sampaikan kemudian mulai presentasi. Batasi presentasi maksimal 10 menit,
d. Setelah presentasi, minta kelompok A untuk menyiapkan pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan dengan materi yang baru saja disampaikan. Kelompok B dan C menggunakan waktu ini untuk melihat lagi catatan mereka.
e. Minta kelompok A untuk memberi pertanyaan kepada kelompok B. Jika kelompok B tidak dapat menjawab pertannyaan, lempar pertanyaan tersebut kepada kelompok C,
f. Kelompok A memberi pertannyaan kepada kelompok C, jika kelompok C tidak bisa menjawab, lemparkan kepada kelompok B,
g. Jika tanya jawab ini selesai, lanjutkan pembelajaran ke dua, dan tunjuk kelompok B untuk menjadi kelompok penanya. Lakukan seperti proses untuk kelompok A,
h. Setelah kelompok B selesai dengan pertanyaannya, lanjutkan pembelajaran ketiga, dan kemudian tunjuk kelompok C sebagai penanya,
i. Akhiri pembelajaran dengan menyimpulkan tanya jawab dan jelaskan sekiranya ada pemahaman siswa yang keliru
Variasi
a. Berikan tim pertanyaan kuis yang telah dipersiapkan yang darinya mereka memilih kapan mereka mendapat giliran menjadi pemandu kuis
b. Berikan suatu penyajian materi secara kontinyu. Bagilah siswa menjadi dua tim. Pada akhir pelajaran, perintahkan dua tim untuk saling memberikan kuis.
2. Kelebihan dan Kelemahan Team Quiz
a. Kelebihan team Quiz
Adapun kelebihan dari metode team quiz ini adalah sebagai berikut:
1. meningkatkan keseriusan
2. Dapat menghilangkan kebosanan dalam lingkungan belajar
3. Mengajak siswa untuk terlibat penuh
4. Meningkatkan proses belajar
5. Membangun kreatifitas diri
6. Meraih makna belajar melalui pengalaman
7. Memfokuskan siswa sebagai subjek belajar
8. Menambah semangat dan minat belajar siswa
b. Kelemahan team Quiz
1. Memerlukan kendali yang ketat dalam mengkondisikan kelas saat keributan terjadi
2. Hanya siswa tertentu yang dianggap pintar dalam kelompok tersebut, yakni yang bisa menjawab soal Quiz. Karena permainan yang dituntut cepat dan memberikan kesempatan diskusi yang singkat.
3. Waktu yang diberikan sangat terbatas jika quiz dilaksanakan oleh seluruh tim dalam satu pertemuan.

C. Motivasi Belajar
1. Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi berasal dari kata “motif”, diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan . Maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan atau mendesak.
Dalam Bahasa Agama istilah motif, barangkali tidak jauh artinya dengan “niatan/niat”, (innama a’malu binniat= sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niat). Jadi, “niat” kira-kira searti dengan motif yaitu kecenderungan hati yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan sesuatu.
Menurut McDonald motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapi tujuan. Sebagai suatu masalah di dalam kelas, motivasi adalah proses membangkitkan, mempertahankan, dan mengontrol minat-minat. Dalam hubungannya ini tugas guru adalah membantu siswa untuk memilih topik, kegiatan, atau tujuan yang bermanfaat, baik untuk jangka panjang maupun pendek.
Belajar adalah suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan. Pendapat lain mengatakan belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Dibandingkan dengan pengertian yang pertama, maka jelas tujuan belajar itu prinsipnya sama, yakni perubahan tingkah laku, hanya berbeda cara atau usaha pencapaiannya.
2. Fungsi Motivasi Dalam Belajar
Ada tiga fungsi motivasi antara lain adalah sebagai berikut :
a. Mendorong manusia untuk berbuat, dalam hal ini motivasi merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan
b. Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya
c. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.
3. Teori Motivasi
Ada banyak teori motivasi dan hasil riset yang berusaha menjelaskan tentang hubungan antara perilaku dan hasilnya. Teori-teori yang menyangkut motivasi antara lain:
a. Teori Kebutuhan Maslow
Abraham Maslow adalah seorang psikologi klinik. Pada tahun 1954 Ia menyatakan bahwa manusia mempunyai pelbagai keperluan dan mencoba mendorong untuk bergerak memenuhi keperluan tersebut. Keperluan itu wujud dalam beberapa tahap kepentingan. Setiap manusia mempunyai keperluan untuk memenuhi kepuasan diri dan bergerak memenuhi keperluan tersebut. Lima hierarki keperluan/kebutuhan dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Kebutuhan fisiologi (fisiological needs). Kebutuhan dasar untuk menunjang kehidupan manusia, yaitu: pangan, sandang , papan, dan seks. Apabila kebutuhan fisiologi ini belum terpenuhi secukupnya, maka kebutuhan lain tidak akan memotivasi manusia.
2) Kebutuhan rasa aman (safety needs). Kebutuhan akan terbebaskannya dari bahaya fisik, rasa takut kehilangan pekerjaan dan materi.
3) Kebutuhan akan sosialisasi (social needs or affiliation). Sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan pergaulan dengan sesamanya dan sebagai bagian dari kelompok.
4) Kebutuhan penghargaan (esteem needs). Kebutuhan merasa dirinya berharga dan dihargai oleh orang lain
5) Kebutuhan aktualisasi diri (self actualization needs), Kebutuhan untuk mengembangkan diri dan menjadi orang sesuai dengan yang dicita-citakannya.
4. Macam-Macam Motivasi
a. Motivasi intrinsik
Yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu diransang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Bila seseorang telah memiliki motivasi intrinsik dalam dirinya, maka ia secara sadar akan melakukan suatu kegiatan yang tidak memerlukan motivasi dari luar dirinya. Dalam aktivitas belajar, motivasi intrinsik sangat diperlukan, terutama belajar sendiri.
Seseorang yang tidak memiliki motivasi intrinsik sulit sekali melakukan aktivitas belajar terus menerus. Seseorang yang memiliki yang memiliki motivasi intrinsik selalu ingin maju dalam belajar.
Keinginan itu dilatarbelakangi oleh pemikiran yang positif, bahwa semua mata pelajaran yang dipelajari sekarang akan dibutuhkan dan sangat berguna kini dan di masa mendatang. Dorongan untuk belajar bersumber pada kebutuhan, yang berisikan keharusan untuk menjadi orang yang terdidik dan berpengetahuan. Jadi, motivasi intrinsik muncul berdasarkan kesadaran dengan tujuan esensial, bukan sekedar atribut dan seremonial.

b. Motivasi ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar. Motivasi belajar dikatakan ekstrinsik bila anak didik menempatkan tujuan belajarnya di luar faktor-faktor situasi belajar (resides in some factors outside the learning situation). Anak didik belajar karena hendak mencapai tujuan yang terletak di luar hal yang dipelajarinya. Misalnya, untuk mencapai angka tinggi, diploma, gelar, kehormatan, dan sebagainya
Motivasi ekstrinsik bukan berarti motivasi yang tidak diperlukan dan tidak baik dalam pendidikan. Motivasi ekstrinsik diperlukan agar anak didik mau belajar. Berbagai macam cara bisa dilakukan agar anak didik termotivasi untuk belajar. Guru yang berhasil mengajar adalah guru yang pandai membangkitkan minat anak didik dalam belajar, dengan memanfaatkan motivasi ekstrinsik dalam berbagai bentuknya, yang akan diuraikan pada pembahasan mendatang. Kesalahan penggunaan bentuk-bentuk motivasi ekstrinsik akan merugikan anak didik.
Akibatnya, motivasi ekstrinsik bukan berfungsi sebagai pendorong, tetapi menjadikan anak didik malas belajar. Karena itu, guru harus bisa dan pandai mempergunakan motivasi ekstrinsik ini dengan akurat dan benar dalam rangka menunjang proses interaksi edukatif di kelas. Motivasi ekstrinsik tidak selalu buruk akibatnya. Motivasi ekstrinsik sering digunakan karena bahan pelajaran kurang menarik perhatian anak didik atau karena sikap tertentu pada guru atau orang tua.
Baik motivasi ekstrinsik yang positif maupun motivasi ekstrinsik yang negatif, sama-sama mempengaruhi sikap dan perilaku anak didik. Diangkui, angka, ijazah, pujian, hadiah, dan sebagainya berpengaruh positif dengan merangsang anak didik untuk giat belajar. Sedangkan ejekan, celaan, hukuman yang menghina, sindiran kasar, dan sebagainya berpengaruh negatif dengan renggangnya hubungan guru dengan anak didik. Jadilah guru sebagai orang yang dibenci oleh anak didik. Efek pengiringnya, mata pelajaran yang dipegang guru itu tak disukai oleh anak didik.
Untuk mendorong motivasi belajar terhadap siswa, maka diperlukan prinsip-prinsip motivasi belajar sebagai berikut: (1) pujian lebih efektif daripada hukuman, (2) semua siswa mempunyai kebutuhan-kebutuhan psikologis (yang bersifat dasar) tertentu yang harus mendapat kepuasan, (3) Motivasi instrintik lebih efektif daripada motivasi esktrintik, (4) jawaban yang serasi memerlukan usaha penguatan, (5) motivasi itu mudah menjalar terhadap orang lain, (6) pujian-pujian yang datangnya dari luar kadang-kadang diperlukan dan cukup efektif untuk merangsang minat yang sebenarnya, dan (7) teknik dan proses mengajar yang bervariasai adalah efektif untuk memelihara minat siswa.

5. Teknik Motivasi
Membangkitkan motivasi anak didik itu tentulah harus diusahakan dari pihak guru, dengan menggunakan berbagai teknik atau cara yang dapat memancing motivasi-motivasi itu, sehingga ia muncul atau tertanam di dalam diri anak. Antara lain teknik motivasi itu adalah sebagai berikut:
a. Pernyataan penghargaan secara verbal
b. Menggunakan nilai ulangan sebagai pemacu keberhasilan
c. Menimbulkan rasa ingin tahu
d. Memunculkan sesuatu yang tidak diduga oleh siswa
e. Menjadikan tahap dini dalam belajar mudah bagi siswa
f. Menggunakan materi yang kenal siswa sebagai contoh dalam belajar
g. Gunakan kaitan yang unik dan tak terduga untuk menerapkan suatu konsep dan prinsip yang telah dipahami
h. Menuntut siswa untuk menggunakan hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya
i. Menggunakan simulasi dan permainan
j. Memberi kesempatan kepada siswa untuk memperlihatkan kemahirannya di depan umum
k. Mengurangi akibat yang tidak menyenangkan dan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar
l. Memahami iklim sosial dalam sekolah
m. Memanfaatkan kewibawaan guru secara tepat
n. Memperpadukan motif-motif yang kuat
o. Memperjelas tujuan belajar yang hendak dicapai
p. Merumuskan tujuan-tujuan sementara
q. Memberitahukan hasil kerja yang telah dicapai
r. Membuat suasana persaingan yang sehat di antara para siswa
s. Mengembangkan persaingan dengan diri sendini
t. Memberikan contoh yang positif.
6. Bentuk-Bentuk Motivasi
Beberapa bentuk dan cara menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah, antara lain :
a. Memberi angka
Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Angka-angka yang baik itu bagi para siswa merupakan motivasi yang sangat kuat. Tatapi ada juga, bahkan banyak siswa bekerja atau belajar hanya ingin mengejar pokoknya naik kelas saja. Ini menunjukkan motivasi yang dimilikinya kurang berbobot bila dibandingkan dengan siswa-siswa yang menginginkan angka baik.
Pencapaian angka-angka seperti itu belum merupakan hasil belajar yang sejati, hasil belajar yang bermakna. Oleh karena itu bagaimana guru memberikan angka-angka yang dapat dikaitkan dengan values yang terkandung di dalam setiap pengetahuan yang diajarkan kepada para siswa sehingga tidak sekedar kognitif saja tetapi juga keterampilan dan afeksinya.
b. Hadiah
Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi, tetepi tidak selalu demikian. Karena hadiah untuk suatu pekerjaan.
c. Saingan atau kompetisi
Saingan atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Persaingan, baik persaingan individual maupun persaingan kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
d. Ego-involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras denegan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting.
e. Memberi ulangan
Para siswa akan menjadi giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Oleh karena itu, memberi ulangan ini juga merupakan sarana motivasi.
f. Mengetahui hasil
Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk lebih giat giat belajar. Semakin mengetahui grafik hasil belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus meningkat.
g. Pujian
Apabila ada siswa yang sukses yang berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, perlu diberikan pujian. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik.
h. Hukuman
Hukuman sebagai reinforcement yang negatif tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Oleh karena itu guru harus memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman.
i. Hasrat untuk belajar
Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memeng ada motivasi untu belajar, sehingga sudah barang tentunya hasilnya akan lebih baik.
j. Minat
Motivasi sangat erat hubungannya dengan unsur minat. Motivasi ini muncul karena ada kebutuhan, begitu juga minat sehingga tepat kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok. Proses belajar itu akan berjalan lancar kalau disertai dengan minat. Mengenai minat ini antara lain dapat dibangkitkan dengan cara-cara sebagai berikut:
1) Membangkitkan adanya suatu kebutuhan
2) Menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang lampau
3) Memberikan kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik
4) Menggunakan berbagai macam bentuk mengajar
k. Tujuan yang diakui
Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa, akan merupakan alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memehami tujuan yang harus dicapai, karena dirasa sangat berguna dan menguntungkan, maka akan timbul gairah untuk terus belajar.
7. Cara-Cara Menggerakkan Motivasi
Untuk membangkitkan motivasi belajar siswa, guru hendaknya berusaha dengan berbagai cara. Beberapa cara membangkitkan motivasi ekstrinsik dalam menumbuhkan motivasi instrinsik, yaitu:
a. Kompetensi (persaingan). Guru berusaha menciptakan persaingan diantara siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya dan mengatasi presatsi orang lain.
b. Pace Making (membuat tujuan sementara atau dekat). Pada awal kegiatan bealajar-mengajar guru hendaknya terlebih dahulu menyampaikan kepada siswa indikatir yang akan dicapainya, sehingga dengan demikian siswa berusaha untuk mencapai indikator tersebut.
c. Tujuan yang jelas. Motif mendorong individu untuk mencapai tujuan. Semakin jelas tujuan, semakin besar nilai tujuan bagi individu yang bersangkutan dan semakin besar pula motivasi dalam melakukan suatu perbuatan.
d. Kesempurnaan untuk sekses. Kesuksesan dapat menimbulkan rasa puas, kesenangan dan kepercayaan terhadap diri sendiri. Sedangkan kegagalan akan membawa efek yang sebaliknya. Dengan demikian, guru hendaknya banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk meraih sukses dengan sendiri dengan bimbingan guru.
e. Minat yang besar. Motif akan timbul jika individu memiliki minat yang besar.
f. Mengadakan penilaian atau tes. Pada umumnya semua siswa mau belajar dengan tujuan memperoleh nilai yang baik. Hal ini terbukti dengan kenyataan bahwa banyak siswa yang tidak belajar bila tidak ada ulangan. Akan tetapi, bila guru mengadakan bahwa lusa akan diadakan ulanagn lisan, barulah siswa giat belajar agar mendapat nilai yang baik. Jadi, angka atau nilai itu merupakan motivasi yang kuat bagi siswa.
C. Materi IPS.
D. Materi Konflik dan Integrasi sosial
1. Konflik
a. Pengetian Konflik
Istilah “konflik” berasal dari bahasa Inggris, yaitu “conflict” yang artinya pertentangan atau perselisihan. Konflik adalah proses disosiatif dalam interaksi sosial yang terjadi ketika semua pihak dalam masyarakat ingin mencapai tujuannya dalam waktu bersamaan.
Pengertian Konflik Menurut Para Ahli
Agar lebih memahami apa arti konflik, maka kita dapat merujuk pada pendapat beberapa ahli berikut ini:
1. Taquiri dan Davis
Menurut Taquiri dan Davis, pengertian konflik adalah warisan kehidupan sosial yang terjadi dalam berbagai keadaan sebagai akibat dari bangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi, dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih secara terus-menerus.

Baca Juga:  Makalah Urbanisasi Di Indonesia

2. Lewis A. Coser
Menurut Lewis A. Coser, arti konflik adalah perjuangan nilai atau tuntutan atas status dan merupakan bagian dari masyarakat yang akan selalu ada, sehingga apabila ada masyarakat maka akan muncul konflik.

3. Soerjono Soekanto
Menurut Soerjono Soekanto, pengertian konflik adalah suatu keadaan pertentangan antara dua pihak untuk berusaha memenuhi tujuan dengan cara menentang pihak lawan.

4. Robbins
Menurut Robbins, arti konflik adalah proses sosial dalam masyarakat yang terjadi antara pihak berbeda kepentingan untuk saling memberikan dampak negatif, artinya pihak-pihak yang berbeda tersebut senantiasa memberikan perlawanana.

5. Alabaness
Menurut Alabaness, pengertian konflik adalah keadaan masyarakat yang mengalami kerusakan keteraturan sosial yang dimulai dari individu atau kelompok yang tidak setuju dengan pendapat dan pihak lainnya sehingga mendorong terjadinya perubahan sikap, prilaku, dan tindakan atas dasar ketidaksetujuannya.
b. Faktor Penyebab Konflik
Konflik tidak terjadi begitu saja, ada banyak faktor penyebab yang melatarbelakanginya. Adapun beberapa faktor penyebab konflik adalah sebagai berikut:
 Perbedaan Setiap Individu
Setiap individu di dalam suatu kelompok masyarakat pasti memiliki perbedaan pandangan, pendapat, dan cara berinteraksi. Hal ini sangat berpotensi menimbulkan terjadinya perselisihan yang kemudian menjadi penyebab konflik.
 Faktor Kebudayaan
Latar kebudayaan yang berbeda di suatu masyarakat dapat menimbulkan terjadinya konflik. Kebudayaan masing-masing daerah memiliki keunikan tersendiri dan dapat membentuk kepribadian seseorang. Contohnya, perilaku dan cara berbicara orang Batak yang keras seringkali dianggap arogan dan suka marah oleh orang lain yang berbeda kebudayaan, misalnya orang Sunda.

 Faktor Kepentingan
Setiap individu maupun kelompok di dalam suatu masyarakat memiliki beragam kepentingan masing-masing. Kepentingan tersebut bisa dalam hal ekonomi, sosial, maupun politik. Perbedaan pandangan dan kepentingan di berbagai bidang kehidupan manusia merupakan faktor penyebab konflik yang sangat sulit untuk dihindari.
 Interaksi Sosial
Kurangnya keharmonisan dalam hal interaksi sosial juga dapat menimbulkan terjadinya konflik di masyarakat. Ketidakharmonisan dalam interaksi sosial bisa disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya sifat bawaan seseorang, kondisi ekonomi, kesenjangan sosial, kurang pendidikan, dan lain sebagainya.
 Perubahan Sosial
Perubahan sosial dapat terjadi secara alami karena pada dasarnya manusia memang senantiasa mengalami perubahan. Dan perubahan sosial ini cukup sering menjadi faktor penyebab terjadinya konflik di dalam masyarakat.
c. Bentuk – bentuk Konflik
Ada beberapa jenis konflik yang sering terjadi di masyarakat. Mengacu pada pengertian konflik di atas, adapun macam-macam konflik adalah sebagai berikut:
 Konflik Individu
Konflik pribadi adalah konflik yang terjadi antara individu dengan individu atau dengan kelompok masyarakat. Jenis konflik ini sangat sering terjadi di dalam keluarga, pertemanan, dunia kerja, dan lainnya.
 Konflik Rasial
Konflik rasial adalah konflik yang terjadi antara dua ras atau lebih yang berbeda. Konflik rasioal akan terjadi ketika setiap ras merasa lebih unggul dan lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri di atas kepentingan bersama.
 Konflik Agama
Konflik agama adalah konflik yang terjadi antara kelompok-kelompok yang memiliki agama dan keyakinan berbeda. Sebagian besar masyarakat menganggap agama sebagai tuntunan dan pedoman hidupnya yang harus diikuti secara mutlak. Sehingga apapun yang berbeda atau tidak sesuai dengan agamanya akan dianggap masalah dan kemudian memicu terjadinya konflik.
 Konflik Antar Kelas Sosial
Adanya pengelompokan kelas di dalam masyarakat sangat berpotensi menimbulkan terjadinya konflik. Perebutan dan upaya mempertahankan peran dan status di dalam kelompok masyarakat seringkali menimbulkan konflik. Misalnya kelompok kaya dan kelompok miskin/ menengah yang saling memperebutkan kekuasaan di dalam politik.
 Konflik Politik
Konflik politik adalah konflik yang terjadi karena adanya perbedaan pandangan di dalam kehidupan politik. Konflik ini terjadi karena masing-masing kelompok ingin berkuasa terhadap suatu sistem pemerintahan.
 Konflik Sosial
Konflik sosial adalah konflik yang terjadi di dalam kehidupan sosial masyarakat. Misalnya masalah pergaulan, masalah ekonomi, komunikasi, dan lain-lain.
 Konflik Internasional
Konflik internasional adalah konflik yang terjadi antar negara-negara di dunia, baik itu negara berkembang maupun negara maju. Konflik ini bisa terjadi karena salah satu negara merasa dirugikan oleh negara lainnya atau karena masing-masing negara ingin memperebutkan eksistensinya. Misalnya, perang dingin antara Rusia dan Amerika.
d. Dampak Konflik
Pada dasarnya konflik akan menimbulkan dampak negatif bagi setiap pihak. Namun, selain menimbulkan dampak negatif, pada kasusu tertentu ternyata konflik juga bisa memberikan dampak positif..Sesuai dengan pengertian konflik di atas, berikut ini adalah dampak yang ditumbulkan oleh konflik:
Dampak Negatif
• Meningkatkan solidaritas antara anggota kelompok yang berkonflik dengan kelompok lain karena mereka memiliki pemahaman yang sama untuk menggulingkan partai lawan
• Hubungan antara kelompok atau individu dalam konflik atau konflik
• Kerusakan harta benda dan hilangnya nyawa
• Perubahan kepribadian pada individu, misalnya. Misalnya kebencian, kebencian, dan saling curiga
Dampak Positif
• Pemecahan masalah, yaitu, jika ada ketidaksepakatan dalam diskusi atau forum, misalnya, tentu akan lebih lengkap untuk dijelaskan sehingga akan lengkap
• Dapat bertindak sebagai sarana mencapai keseimbangan kekuasaan di masyarakat
• Dapat menghidupkan kembali standar lama dan menciptakan standar baru
• Dimungkinkan untuk menciptakan kembali norma-norma lama yang tidak mampu mewakili kehidupan saat ini.
e. Langkah-langkah untuk Mengatasi Konflik Sosial di Masyarakat
 Paksaan
Metode ini digunakan oleh pihak-pihak yang secara fisik kuat atau yang menindas dan memaksa pihak-pihak yang bertikai untuk mengakhiri perselisihan mereka. Paksaan ini dapat berupa mental atau fisik. Partai wajib juga mengusulkan prinsip damai yang disepakati oleh kedua belah pihak
 Arbitrasi
Arbitrase adalah proses penyelesaian konflik melalui penggunaan layanan pihak ketiga sebagai mediator dan pembuat keputusan. Arbitrase adalah keputusan arbiter. Pihak ketiga ini dipilih secara bebas oleh kedua pihak yang bersengketa dan memiliki hak untuk menentukan bagaimana konflik dapat diselesaikan tanpa terikat oleh hukum dan peraturan.
 Mediasi
Prosedur konsiliasi ini juga melibatkan pihak ketiga untuk menyelesaikan konflik. Perbedaannya dengan arbitrase, bagaimanapun, adalah pihak ketiga dalam konsiliasi adalah pihak yang menjaga hubungan baik dengan kedua pihak yang bersengketa. Mediator mengusulkan kondisi perdamaian kepada kedua belah pihak, sehingga keputusan akhir akan terus dibuat oleh pihak-pihak yang bertikai.
 Pendengaran
Negosiasi adalah proses penyelesaian masalah di mana kedua belah pihak berjalan dengan itikad baik dengan mengadakan diskusi bersama dan menghadirkan masalah dan solusi utama.

2. Integrasi Sosial
a. Pengertian Integrasi sosial
Integrasi sosial merupakan situasi dimana kelompok-kelompok minoritas tergabung kedalam tatanan sosial masyarakat yang lebih luas. Integrasi sosial ditandai dengan meleburnya nilai, norma dan budaya, dimana hal tersebut membuat individu terhubung dengan kelompok dan komunitas yang lebih besar, tanpa menghilangkan kekhasan masing-masing individu. Integrasi sosial adalah gabungan dari dua istilah kata, yaitu integrasi yang juga di dalam Bahasa Inggris disebut dengan “integration” memiliki arti kesempurnaan atau keseluruhan, sementara kata sosial berarti hubungan dan juga timbal balik dari tidakan yang dilakukan oleh masyarakat.
Pengertian Integrasi Sosial Menurut Para Ahli
 Penganut pendekatan konflik
Suatu masyarakat terintegrasi atas paksaan (coercion) dari suatu kelompok atau satuan sosial yang dominan terhadap kelompok-kelompok atau satuan-satuan sosial yang lain.
 Penganut fungsionalisme struktural
Sistem sosial senantiasa terintegrasi di atas dua landasan yaitu konsensus tentang nilai-nilai fundamental dan cross-cutting affiliations (keanggotaan ganda dan satu kesatuan sosial).
 Kun Maryati dan Juju Suryawati (2014:140)
Integrasi sosial merupakan proses penyesuaian unsur-unsur yang berbeda di dalam masyarakat sehingga menjadi satu kesatuan. Unsur-unsur yang berbeda tersebut dapat meliputi perbedaan kedudukan sosial, ras, etnik, agama, bahasa, kebiasaan, sistem nilai, dan norma.
 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Integrasi merupakan pembauran sesuatu yang tertentu hingga menjadi kesatuan yang utuh dan bulat.
 Abu Ahmadi
Melihat bahwa dalam integrasi masyarakat terdapat kerja sama dari seluruh anggota masyarakat, mulai dari tingkat individu, keluarga, lembaga, dan masyarakat sehingga menghasilkan konsensus (kesepakatan) nilai yang sama-sama dijunjung tinggi.

 Abdul Syani
Melihat integrasi tidak hanya cukup diukur dari kriteria berkumpul atau bersatunya anggota masyarakat secara fisik, tetapi juga terdapat konsensus yang merupakan pengembangan sikap solidaritas dan perasaan manusiawi.
 Idianto Muin (2006:69)
Menurut pendapat Idianto Muin, integrasi sosial merupakan proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang berbeda di dalam kehidupan bermasyarakat.
 Michael Banton
Mendefinisikan integrasi sebagai suatu pola hubungan yang mengakui adanya perbedaan ras dalam masyarakat. Tetapi tidak memberikan fungsi penting pada perbedaan ras tersebut. Hak dan kewajiban yang terkait serta ras seseorang hanya terbatas pada bidang tertentu saja. Serta tidak ada sangkut pautnya dengan bidang pekerjaan atau status
 Gillin
Bagian dari proses sosial yang terjadi karena perbedaan fisik, emosional, budaya dan perilaku.
 Soerjono Soekanto
Sebuah proses sosial individu atau kelompok yang berusaha memenuhi gol melawan lawan yang disertai dengan ancaman dan / atau kekerasan.
 Wikipedia
Integrasi merupakan sebuah sistem yang mengalami pembauran hingga menjadi suatu kesatuan yang utuh. Integrasi berasal dari bahasa inggris “integration” yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan.
 William F. Ogburn dan Mayer Nimkoff
Integrasi sosial akan terbentuk apabila sebagian besar anggota masyarakat tersebut sepakat (konsensus) mengenai:
• struktur masyarakat yang dibangun
• merasa berhasil saling mengisi kebutuhan-kebutuhan di antara mereka
• bisa menjalankan norma dan nilai yang telah terbangun cukup lama secara konsisten.
b. Proses Integritas Sosial
Dalam kehidupan di masyarakat pastianya terdapat gesekan antar individu maupun kelompok sehingga akan memicu timbulnya gejala sosial, perubahan sosial, atau bahkan konflik. Dan hal tersebut dapat diatasi dengan adanya proses integrasi guna menyatukan kembali individu atau kelompok yang berbeda paham terssebut.
 Proses Interaksi
Proses interaksi merupakan proses paling awal dalam membangun suatu kerjasama yang ditandai dengan adanya kecenderungan dan juga niat positif yang di mana berpotensi akan menjadikan aktivitas bersama.
 Proses Identifikasi
Selanjutnya dari proses interaksi tersebut terdapat proses identifikasi. Proses identifikasi ini berlangsung pada saat setiap pihak bisa menerima secara terbuka tentang keberadaan dari pihak lain secara menyeluruh. Maka, pada hakikatnya, proses identifikasi adalah proses yang bertujuan untuk memahami beragam karakter, latar belakang, dan juga kepentingan pihak lain.
 Kerjasama (Cooperation)
Charles H. Cooley menyatakan apabila suatu kerjasama bisa saja terjadi apabila masing-masing pihak sadar jika mereka memiliki kepentingan yang sama. Di waktu yang bersamaan, mereka juga mempunyai pengetahuan sekalihus pengendalian diri yang cukup untuk mencapai kepentingan tersebut dengan melalui kerjasama. Saat hal tersebut telah dapat dipahami oleh masing-masing pihak, maka proses integrasi selanjutnya akan berjalan lebih mudah sebab setiap pihak telah bersedia untuk membuka diri guna menjalin kerjasama yang positif.
 Proses Akomodasi
Akomodasi bisa dipahami sebagai langkah guna mengatasi pertentangan tanpa membuat pihak lawan hancur. Dalam proses akomodasi, upaya dilakukan semaksimal mungkin pada setiap pihak guna mencapai kata sepakat dalam memenuhi tujuan tanpa merugikan pihak lain.
 Proses Asimilasi
Proses asimilasi dalam kasusu ini bisa diartikan sebagai sebuah cara yang ditandai dengan adanya kegiatan nyata dengan tujuan guna mengurangi perbedaan yang ada pada individu atau kelompok yang sedang terjadi konflik. Proses ini juga termasuk dalam usaha untuk menyatukan persepsi antara kedua belah pihak dengan cara memperhatikan tujuan dan juga kepentingan bersama.

 Proses Integrasi
Proses integrasi bisa dipahami dengan adanya sebuah proses penyesuaian antar unsur di dalam masyarakat majemuk samapi terbentuk keselarasan dalam kehidupan sosial bermasyarakat.
c. Syarat Integrasi Sosial
Integrasi social akan terbentuk di dalam masyarakat jika sebagian besar anggota masyarakat itu sendiri mempunyai suatu kesepakatan mengenai batas-batas teritorial dari suatu wilayah ataupun negara dimana mereka tinggal. Tak hanya itu , sebagian besar dari masyarakat itu juga sepakat tentang struktur kemasyarakatan yang di bangun.
Hal tersebut temasuk nilai-nilai, norma-norma, dan yang lebih tinggi lagi ialah pranata-pranata sosisal yang hidup di dalam masyarakatnya, hal itu bertujuan untuk mempertahankan keberadaan dari masyarakat tersebut. Selain itu, karakteristik yang terbentuk juga sekaligus manandai adanya batas sekaligus corak di dalam masyarakatnya
Menurut pendapat yang dikemukakan oleh William F. Ogburn dan Mayer Nimkoff, syarat berhasilnya dari suatu integrasi sosial ialah sebagai berikut:
1. Anggota-anggota masyarakat merasa bahwa mereka berhasil saling mengisi kebutuhan-kebutuhan satu dengan yang lainnya. Hal ini berarti kebutuhan fisik berupa sandang dan pangan serta kebutuhan sosialnya dapat di penuhi oleh budayanya. Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan ini menyebabkan masyarakat perlu saling menjaga keterikatan antara satu dengan lainnya.
2. Masyarakat berhasil menciptakan kesepakatan (consensus) bersama mengenai norma-norma dan nilai-nilai social yang di lestarikan dan di jadikan pedoman dalam berinteraksi satu dengan yang lainnya, termasuk menyepakati hal-hal yang di larag menurut kebudayaannya.
3. Norma-norma dan nilai social itu berlaku cukup lama dan di jalankan secara konsisten serta tidak mengalami perubahan sehingga dapat menjadi aturan baku dalam melangsungkan proses interaksi social.
d. Faktor Integrasi Sosial
Adapun beberapa faktor yang menyelimuti integrasi sosial, baik faktor pendorong, penghambat, internal dan external
Faktor Pendorong
 Toleransi tentang adanya perbedaan.
 Kesempatan yang seimbang di dalam bidang ekonomi.
 Memunculkan siikap saling menghargai satu sama lain.
 Sikap terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat.
 Adanya persamaan di dalam unsur-unsur kebudayaan.
 Adanya perkawinan campuran (amalgamation).
 Terdapat musuh bersama yang berasal dari luar.
Faktor Penghambat
Adapun faktor penghmabat dari integritas atau integrasi sosial ini, diantaranya adalah:
 Kondisi masyarakat yang terisolasi.
 Masyarakat kunang memiliki ilmu pengetahuan.
 Terdapat perasaan superior salah satu kelompok.
 Kurangnya rasa toleransi kepada golongan lain yang berbeda.
 Tidak terdapat penghargaan dalam perbedaan.
 Terdapat rasa tidak puas kepada ketimpangan sosial serta ketidak merataannya pembangunan.
 Kurangnya rasa kesadaran diri dalam masing-masing individu dalam menjaga persatuan dan kesatuan.
Selain beberapa faktor pendorong dan penghambat di atas, ada juga beberapa faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi terjadinya integrasi sosial dalam masyarakat, diantaranya adalah sebagai berikut:
Faktor Internal
 Kesadaran diri sebagai makhluk sosial
 Jiwa dan semangat gotong royong
 Tuntutan kebutuhan
Faktor External
 Tuntutan perkembangan zaman
 Terbukanya kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan bersama
 Adanya konsensus nilai
 Persamaan kebudayaan
 Sikap toleransi
 Persaman visi, misi, dan tujuan
 Adanya tantangan dari luar
Munurut pendapat dari Prof. Dr. Ramlan Surbakti, terdapat 9 faktor yang bisa mempengaruhi kelompok masyarakat akan mengalami integrasi dalam komunitas bersama. Diantara ke 9 faktornya adalah sebagai berikut:

Baca Juga:  MEMAHAMI AKUNTABILITAS DALAM MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS)

 Primodial
Identitas bersama komunitas dapat terbentuk karena adanya ikatan keaslian kedaerahan, kekerabatan, kesamaan suku, ras, tempat tinggal, bahasa dan istiadat.
 Sakral
Yang dimaksud sakral dalam konsep ini adalah ikatan-ikatan religius yang dipercayai sebagai hal yang berkaitan dengan kebenaran mutlak karena dipercayai sebagai wahyu ilahiyah. Keyakinan masyarakat yang bersifat sakral terwujud dalam agama dan kepercayaan kepada hal-hal yang bersifat supranatural.
 Tokoh
Integrasi bisa tercipta manakala dalam suatu masyarakat terdapat seorang atau beberapa tokoh pemimpin yang disegani dan dihormati karena kepemimpinannya yang bersifat karismatik.
 Bhineka tunggal ika
Bhineka tunggal ika dilihat sebagai pemersatu suatu bangsa yang majemuk untuk mencapai integritas suatu bangsa. Dalam konsep ini biasanya bangsa di dalam suatu negara terdiri atas kelompok-kelompok atas dasar suku, agama, ras, dan antar golongan yang tersegmentasi ke dalam kelompok-kelompok yang antara kelompok satu dan lainnya tidak saling melengkapi akan tetapi justru lebih bersifat kompetitif.
 Perkembangan ekonomi
Perkembangan ekonomi melahirkan pembagian kerja dan spesialisasi pekerjaan yang mendukung kelangsungan hidup suatu fungsi sistem ekonomi, yaitu menghasilkan barang dan jasa.
 Homogenitas kelompok
Kemajemukan sosial selalu mengisi setiap lini kehidupan sosial hanya tiap-tiap kehidupan sosial akan memiliki intensitas (tingkat tinggi dan rendah) yang berbeda-beda. Integrasi antar kemajemukan sosial ini akan tercapai jika antar elemen pembentuk struktur sosial tersebut berusaha membentuk integritas sosial dengan menekankan kesadaran untuk mengurangi intensitas perbedaan masing-masing elemen sosial tersebut.
 Besar kecilnya kelompok
Jika kehidupan sosial relativ kecil, maka akan mudah mencapai integrasi sosial dibandingkan dengan kelompok yang memiliki intensitas perbedaanya lebih besar.

 Mobilitas sosiogeografis
Mobilitas sosial artinya perpindahan manusia dari tempat yang satu ke tempat yang lain dengan berbagai latar belakang tujuan. Pada umumnya mobilitas sosial di indonesia di dominasi oleh tingginya tingakat urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan.
 Efektifitas dan efesiensi komunikasi
Cepat lambatnya integrasi sosial akan sangat dipegaruhi oleh tingkat efektivitas dan efesiensi komunikasi sosial, sebab komunikasi merupakan salah satu prasyarat terjadinya interaksi, sedangkan interaksi merupakan prasyarat terjadinya integrasi maupun konflik sosia.
e. Contoh Integrasi Sosial
Berikut merupakan contoh integrasi sosial dalam masyarakat Indonesia, baik di dalam kehidupan sehari-hari, di sekolah, ataupun di dalam suatu kelompok:
 Tidak mengutamakan ego dan kepentingannya
 Bersilahturami
 Bermain dengan teman sebaya.Cth : bermain sepak bola
 Mengisi kemerdekaan dengan kegiatan positif
 Memberi salam pada orang yang dikenal
 Beribadat
 Saling tolong-menolong
 Mengikuti upacara bendera dengan hikmat
 Mengembangkan akhlak dan kepribadian masing masing
 Melestarikan kebudayaan bangsa dengan mengikuti setiap pementasan
 Ikut berperan aktif melaksanakan kegiatan siskamling
 Mengikuti setiap kegiatan di dalam maupun di luar sekolah
 Sekaten
 Akulturasi antara budaya Jawa, Islam dan Hindu
 Bergotong royong
 Tidak mengikuti pergaulan yang buruk,seperti narkoba dan diskotek
 Menanamkan nilai-nilai luhur berbangsa dan bernegara
 Tidak memaksakan kehendak orang lain
 Bersosialisasi
 Menjaga dan memelihara lingkungan sekitar
 Berdiskusi atau kerja kelompok
 Kebutuhan harus utama bukan keinginan
 Mengikuti kegiatan/perlombaan di sekolah dan masyarakat
 Tidak KKN (Korupsi,Kolusi,dan Nepotisme)
 Menjadi orang yang berguna di masa akan datang,seperti pejabat negara
f. Bentuk Integrasi Sosial
Berikut merupakan bentuk-bentuk dari integrasi sosial, diantaranya yaitu:
 Asimilasi adalah pembaharuan kebudayaan yang disertai dengan ciri khas dari kebudayaan asli.
 Akulturasi adalah penerimaan sebagian unsur asing tanpa dengan menghilangkan dari kebudayaan asli. Contoh dalam hal iniyaitu sekaten yang merupakan akulturasi antara budaya Jawa, Islam dan juga Hindu.
 Integrasi Normatif adalah integrasi yang terjadi akibat terdapat beberapa norma yang berlaku di dalam masyarakat, contoh dalam hal ini yaitu masyarakat Indonesia yang disatukan dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika
 Integrasi Fungsional adalah integrasi yang terbentuk dari adanya akibat serta fungsi-fungsi tertentu di dalam masyrakat. Contoh dalam hal ini yaitu Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, mengintegrasikan dirinya dengan melihat fungsi dari masing-masing seperti suku bugis melaut, jawa pertanian, serta Minang yang pandai dalam berdagang.
 Integrasi Koersif adalah integrasi yang terbentuk dengan didasari kekuasaan yang dimiliki oelh penguasa. Dalam kasus ini penguasa akan mengenakan cara koersif.
Bentuk lain integrasi
Integrasi Instrumental
Integrasi Instrumental merupakan integrasi yang terbentuk dari adanya ikatan-ikatan sosial yang mengikat diantara berbagai individu di dalam lingkungan masyarakat. Adapun ciri dari integrasi instrumental, diantaranya yaitu:
o Terdapat norma atau kepentingan tertentu yang menjadi pengikat atau instrument.
o Terdapat kesamaan atau keseragaman dalam aktivitas keseharian.
o Terdapat keseragaman pakean.
o Terdapat tujuan tertentu yang disesuaikan dengan kepentingan kelompok.
Integrasi Ideologi
Intergasi Ideologi adalah suatu bentuk integrasi yang tidak tampak secara visual sebab terbentuk dari ikatan spiritual atau ideologi yang kuat dan juga berdasar sekaligus mengikat. Integrasi ini akan memberikan gambaran mengenai adanya suatu pemahaman kepada nilai-nailai, persepsi serta tujuan sekelompok orang yang menjadi suatu kesatuan sosial. Adapun ciri dari integrasi ideologi, diantaranya adalah sebagai berikut:
o Terdapat persamaan nilai-nilai yang mendasar yang terbentuk atas kehendak sendiri dan bukan atas dasar adanya ikatan atau paksaan;
o Terdapat persamaan persepsi, yakni suatu pandangan yang diilhami oleh nilai-nilai yang sama diantara anggota kelompok;
o Terdapat persamaan orientasi kerja diantara anggota kelompok
o Terdapat tujuan yang sama yang mengacu pada prinsip-prinsip ideologis yang dianut
g. Manfaat Integrasi Sosial
Dari sekilas pembahasan yang disampaikan di atas, dapat kita tarik kesimpulannya bahwa integrasi sosial sangatlah bermanfaat untuk kedamaian di dalam suatu wilayah, sehingga yuksinau.id merangkumkan manfaat dari adanya integrasi sosial ini, diantaranya ialah sebagai berikut:
 Membuat kehidupan di dalam linkgungan masyarakat menjadi lebih tentram.
 Memberikan kenyamanan di dalamkehidupan berbangsa dan bernegara.
 Melahirkan kebudayaan baru yang berbeda dengan kebudayaan sebelumnya tanpa meninggalkan ciri dari kebudayaan asli.
 Mampu memberikan sikap kepedulian antar sesama, walaupun berbeda dalam suku, budaya, negara, dan yang lainnya

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP PGRI CITEUREUP terletak di jalan Pahlawan No.7 Kecamatan Citeureup Kabupaten Bogor. Setting penelitian ini ditujukan pada siswa kelas VIII 7 yang sering mengalami kejenuhan dalam pembelajaran IPS, yang selama ini dalam pembelajaran IPS menggunakan metode atau strategi yang monoton. Sehingga sebagian siswa malas dan merasa bosan dengan pembelajaran IPS tersebut meskipun mereka tergolong pintar.
B. Rencana Tindakan
Secara garis besar, dalam penelitian tindakan kelas terdapat empat tahapan yang harus dilaluinya, yaitu:
1. Perencanaan Tindakan
Perencanaan (Planning). Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Adapun langkah-langkah yang akan dilakukan oleh peneliti sebelum melaksanakan penelitian tindakan kelas, yaitu:
a. Observasi kelas dan mata pelajaran
b. Konsultasi dengan guru mata pelajaran IPS
c. Identifikasai masalah yang terdapat dalam mata pelajaran tersebut
d. Mencari metode atau strategi yang sesuai dengan materi tersebut
e. Menyususn rencana pelaksaan pembelajaran sesuai dengan mata pelajaran secara sistematis
f. Menysusun materi pelajaran
g. Melaksanakan penelitian tindakan kelas
Pertemuan ini dilaksanakan 4 kali pertemuan dengan 2 sklus setiap siklusnya terdiri dari 2 kali pertemuan di satu kelas yaitu kelas VIII 7 SMP PGRI CITEUREUP, kecamatan Citeureup, kabupaten Bogor. Yang dilaksanakan selama pelajaran IPS berlangsung.
2. Implementasi Tindakan
Pelaksanaan (Acting) tahap kedua dari penelitian tindakan adalah pelaksanaan yang merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan tindakan kelas.
Pada tahap ini rencana pembelajaran yang telah disusun oleh peneliti akan dilaksanakan oleh peneliti, oleh karena itu pengamatan secara intensif dilakukan oleh peneliti dan menjadi tanggung jawab peneliti. Tindakan yang akan dilaksanakan dikelas secara garis besar adalah sebagai berikut:
a. Penyampaian tujuan pembelajaran
b. Penyampaian materi secara garis besar
c. Penerapan team quiz dalam proses pembelajaran di kelas
d. Evaluasi terhadap tingkat pemahaman siswa

3. Observasi dan Interpretasi
Pengamatan (Observing) tahap ketiga ini, yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat. Sebetulnya sedikit kurang tepat kalau pengamat ini dipisahkan dengan pelaksaan tindakan karena seharusnya pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang dilakukan. Jadi keduanya berlangsung dalam waktu yang sama.
Dalam penelitian ini hal-hal yang akan diamti oleh peneliti adalah:
a. Aktivitas guru
b. Aktivitas siswa
c. Interaksi siswa dengan guru
d. Interaksi siswa denngan siswa
e. Interaksi siswa dengan bahan ajar
f. Interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya.

4. Analisis dan Refleksi
Refleksi (Reflecting) tahap keempat merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Kegiatan refleksi ini sangat tepat dilakukan ketika guru pelaksana sudah melakukan tindakan, kemudian berhadap dengan peneliti untuk mendiskusikan implementasi rancanagan tindakan, jika penelitian ini kolaboratif. Data yang diperoleh dari tindakan kelas akan dianalisis untuk mengetehaui tingkat kesesuaian dan keberhasilan pada saat menggunakan Team Quiz pada materi pengangguran dan penyebabnya.
Adapun hal-hal yang perlu didiskusikan pada saat menganalisis yaitu: kesesuaian antara pelaksanaan dengan rencana pembelajaran yang dibuat, kekurangan yang ada selama proses pembelajaran, kemajuan yang telah dicapai siswa, dan rencana tindakan pembelajaran selanjutnya.
C. Siklus Penelitian
Adapun siklus penelitian yang akan dilaksanakan di SMP PGRI CITEUREUP kelas VIII.7adalah sebagai berikut.

Bagan 3.1 Model Penelitian Tindakan Kelas

D. Pembuatan Instrumen
Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data penelitian. Instrumen dalam penelitian ini dikategorikan menjadi dua, yaitu
1. Instrumen utama
Instrumen utama pada penelitian tindakan kelas adalah peneliti sendiri. Karena penelitilah yang dapat menghadapi situasi yang berubah – ubah dan tidak menentu, seperti halnya banyak terjadi di kelas. Karena peneliti adalah instrumen utama dalam penelitian, maka seorang peneliti dalam melaksanakan tindakan kelas harus:
a. Responsif terhadap berbagai petunjuk baik yang bersifat perorangan maupun yang bersifat lingkungan. Jadi peneliti harus selalu respon terhadap segala sesuatu yang terjadi.
b. Adaptif dengan mampu mengumpulkan berbagai informasi mengenai banyak faktor pada tahap yang berbeda-beda secara simultan.
c. Menekankan aspek holistik, karena manusialah yang mampu dengan segera menempatkan dan menyimpulkan kejadian-kejadian yang membingungkan ke dalam posisinya secara keseluruhan.
d. Pengembangan berbasis pengetahuan, hanya peneliti yang dapat berpikir mengungkapkan, menyusun, dan memahami apa yang diteliti sehingga peneliti benar-benar menyumbangkan kedalaman dan kekayaan kepada penelitian.
e. Memproses dengan segera, peneliti yang mampu segera memproses data di tempat, membuat generalisasi, di dalam situasi yang sengaja diciptakan.
f. Klarifikasi dan kesimpulan, peneliti juga dapat membuat kesimpulan di tempat, dan langsung meminta klarifikasi, pembetulan, atau elaborasi kepada subyek yang diteliti.
g. Kesempatan eksplorasi, yakni menguji validitas, dan memahami penelitian dengan pemahaman yang tinggi dari penelitian biasa.
2. Instrumen pendukung
Instrumen ini berupa pedoman pengumpulan data, yaitu pedoman wawancara dan observasi. Dan tes digunakan untuk menggali data kuantitatif berupa skor tugas kelompok dan skor tugas individu. Pedoman observasi lapangan dibuat sebagai acuan menjawab rumusan masalah untuk mengukur keberhasilan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa.
E. Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data akan diperoleh data yang valid apabila ketika proses pengumpulan data dipersiapkan dengan matang. Dalam penelitian tindakan akan digunakan beberapa cara untuk mengumpulkan data selama proses penelitian ini, yaitu:

1. Observasi aktivitas dikelas.
Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Observasi dibagi menjadi dua, yaitu: observasi langsung dan observasi tidak langsung.
Pada tahap ini peneliti melakukan observasi secara langsung dalam pengumpulan data karena menurut peneliti observasi dipandang sebagai teknik yang paling tepat dalam pengumpulan data tentang proses pembelajaran IPS selama berlangsungnya Penelitian Tindakan Kelas. Ketika observasi berlangsung Peneliti mengumpulkan data selama berlangsungnya proses pembelajaran meliputi aktivitas guru, aktivitas siswa, interaksi siswa dengan guru, interaksi siswa dengan sesama siswa, interaksi siswa dengan bahan ajar, atau semua fakta yang ada selama berlangsungnya proses pembelajaran, data yang diperoleh oleh peneliti pada umumnya tentang proses perubahan kinerja pembelajaran yang bersifat kualitatif. Data yang dikumpulkan sesegera mungkin dilakukan interpretasi karena interpretasi yang ditunda-tunda seringkali menghasilkan informasi yang kurang baik.
Dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas, peneliti menggunakan tiga fase dalam mengobservasi kelas, yaitu:
c. Fase Pertemuan Perencanaan
Dalam pertemuan perencanaan, peneliti menyajikan dan mendiskusikan rencana pembelajaran dengan partisipator (guru bidang studi IPS) tentang bagaimana penyajian langkah pembelajaran yang akan dilakukan sebagai usaha untuk memperbaiki pembelajran yang telah dilakukan sebelumnya.
d. Observasi kelas
Observasi kelas dilakukan untuk melihat sejauh mana penerapan team quiz dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Teknik ini dilakukan secara obyektif dari kegiatan belajar oleh peneliti dan partisipator.
c. Diskusi balikan
Dari hasil observasi kelas peneliti melakukan diskusi balikan dengan pihak partisipan. Diskusi ini berdasarkan hasil pengamatan atau observasi kelas. Dimana peneliti dan partisipator mencari kekurangan dan kelebihan untuk dijadikan catatan lapangan dan didiskusikan langkah berikutnya.
Tiga fase dalam mengobservasi kelas dapat dilihat pada gambar 3.2 berikut ini:
Gambar 3.2 Fase Observasi Kelas

2. Teknik Interview/wawancara
Interview (wawancara) adalah teknik pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan langsung oleh pewawancara kepada responden, dan jawaban-jawaban responden dicatat atau direkam.
3. Teknik Dokumen
Dokumen adalah teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan pada subyek penelitian, namun melalui dokumen. Dokumen dapat berupa secarik kertas yang berisi tulisan mengenai kenyataan, bukti, ataupun informasi, dapat pula berupa foto, pita kaset atau pita recording,slide, mikro film, dan film. Oleh sebab itu dokumen dalam hal ini dapat berupa arsip.
F. Indikator Kinerja
Adapun indikator kinerja yang digunakan untuk menentukan keberhasilan pelaksanaan tindakan dengan menggunakan strategi pembelajaran Team Quiz adalah dua kriteria, yakni :
1. Indikator kualitatif berupa keantusiasan siswa mengikuti pembelajaran dan sikap mereka terhadap strategi pembelajaran yang dikembangkan, diantaranya:
a. Merasa terangsang melaksanakan tugas yang diberikan
b. Bersemangat terhadap tugas yang diberikan
c. Tergerak untuk selalu belajar
d. Tergerak untuk selalu melakukan pekerjaan yang sesuai minatnya
e. Terangsang untuk mewujudkan keinginannya
f. Melakukan sesuatu karena ada rangsangan
g. Keinginan untuk selalu menghilangkan kemalasan
h. Mempunyai keinginan kuat terhadap sesuatu
i. Mengikuti pembelajaran dengan senang
j. Tidak merasa jenuh dengan pelajaran
k. . Selalu tak kenal malas dalam belajar
l. Bertanya untuk mencari tahu
m. Selalu penasaran terhadap sesuatu
2. Indikator kuantitatif berupa besarnya skor ujian yang diperoleh siswa dari hasil nilai individu yang awalnya atau sebelum pembelajaran meggunakan strategi metode team quiz nilai rata-rata kelas sebasar 69,5, selanjutnya setelah pembelajaran dengan menggunakan metode team quiz nilai rata-rata meningkat menjadi 82,6. itu menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa meningkat.

Baca Juga:  KOMUNIKASI DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN

BAB IV
PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN

A. Paparan Data
1. Siklus Pertama
Pada siklus 1 dilaksanakan 1 kali pertemuan. Sebelum masuk pada siklus 1 ini peneliti mengadakan pre test sebagai tindakan memeriksa lapangan dengan menggunakan ceramah dan tanya jawab. Hal ini digunakan sebagai tolak ukur perbandingan antara sebelum adanya tindakan kelas dan sesudah adanya tindakan kelas. Peneliti menerapkan strategi dan Team Quiz untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
a. Perencanaan
Beberapa bentuk perencanaan yang disiapkan peneliti sebelum menjalankan tindakan pada siklus pertama ini adalah :
1) Peneliti membuat RPP.
2) Pembuatan modul pembelajaran IPS
3) Peneliti mempersiapkan berbagai media yang akan digunakan dalam metode Team Quiz. Proses perencanaan dalam bentuk persiapan media ini dilakukan dengan menata bangku-bangku atau meja siswa sesuai dengan kebutuhan Team Quiz.
4) Bangku-bangku ini akan digunakan kelompok siswa dalam menyampaikan atau mempresentasikan hasil pembahasan kelompoknya.
5) Setelah itu siswa dibentuk menjadi tiga kelompok untuk pembelajaran secara kelompok.

b. Pelaksanaan
Pelaksanaan siklus ini dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan dengan pokok bahasan materi pelajaran yakni tentang konflik dan integrasi sosial. Rincian dari dua pertemuan ini adalah sebagai berikut :
PERTEMUAN I
1) Kegiatan Awal
(a) Guru menyampaikan kompetensi dan indikator dalam materi yang akan disampaikan agar para siswa memahami tujuan pembelajaran, sehingga dimungkinkan mereka dapat menguasai lebih mendalam setelah pembelajaran selesai dilakukan.
(b) Guru melakukan proses tanya jawab awal tentang materi angkatan kerja, tenaga kerja dan kesempatan kerja dengan tujuan untuk menumbuhkan rangsangan pada siswa terhadap materi yang akan disampaikan.
2) Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti, pelaksanaannya dilakukan dalam dua tahapan, yakni:
Kegiatan inti pertama
(a) Menjelaskan materi tentang pengertian konflik dan integrasi sosial
(b) Sebagai fasilitator guru melakukan Tanya jawab dengan siswa mengenai konflik dan integrasi sosial
Kegiatan inti kedua
(a) siswa menjadi tiga kelompok yaitu A, B dan C.
(b) menyampaikan kepada siswa format penyampaian pelajaran kemudian mulai penyampaian materi. Batasi penyampaian materi maksimal 10 menit.
(c) Setelah penyampaian, minta kelompok A menyiapkan pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan materi yang baru saja disampaikan. Kelompok B dan C menggunakan waktu ini untuk melihat lagi catatan mereka.
(d) Mintalah kepada kelompok A untuk memberi pertanyaan kepada kelompok B. Jika kelompok B tidak dapat menjawab pertanyaan lempar pertanyaan tersebut kepada kelompok C.
(e) Kelompok A memberikan pertanyaan kepada kelompok C, jika kelompok C tidak bisa menjawab, lemparkan kepada kelompok B.
(f) Jika Tanya jawab selesai, lanjutkan pertanyaan ke dua dan tunjuk kelompok B untuk menjadi kelompok penanya. Lakukan seperti proses untuk kelompok A.
(g) Setelah kelompok B selesai dengan pertanyaanya, lanjutkan penyampaian pelajaran ke tiga dan tunjuk kelompok C sebagai kelompok penanya.
3) Kegiatan Akhir
(a) Tanya jawab tentang materi yang telah disampaikan sebagai bentuk proses review.
(b) Guru menyampaikan kesimpulan pembelajaran.
(c) Pemberian tugas rumah (PR).

c. Pengamatan
Pengamatan atau observasi dilakukan untuk mengetahui terlaksanannya Metode Team Quiz dalam siklus pertama ini dalam pengaruhnya terhadap motivasi belajar siswa. Hasil pengamatan dari siklus pertama ini digunakan sebagai bahan evaluasi untuk pelaksanaan pembelajaran pada siklus selanjutnya.
PERTEMUAN I
Hasil dari pengamatan keseluruhan pada tahap ini, bahwa peserta didik sudah mencapai beberapa indikator yang harus dicapai, hal ini dapat ditunjukkan bahwa motivasi pembelajaran IPS meningkat. Indikator motivasi siswa dapat diamati dengan melihat semangat yang ditampakkan oleh peserta didik terhadap tugas yang diberikan, terangsang untuk mewujudkan keinginannya, mempunyai keinginan yang kuat terhadap sesuatu dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.
d. Refleksi
Pada tahap kegiatan inti awal pertemuan pertama dalam siklus ini, guru menyampaikan gambaran umum tentang materi angkatan kerja, kesemptan kerja dan tenaga kerja dengan menggunakan metode ceramah. Dari hasil pengamatan pada tahap tersebut siswa cenderung lebih pasif dan terkesan malasmalasan. Hal demikian bisa diakibatkan karena penyampaian yang dilakukan oleh guru dengan ceramah dirasa membosankan dan kurang menarik bagi siswa. Selain itu, materi kesempatan kerja yang disampaikan oleh guru juga belum begitu dipahami oleh mayoritas siswa.
Pada pelaksanaan Team Quiz tampak telah membuat siswa menjadi lebih antusias dan termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran. Peningkatan motivasi siswa ini karena pada pelaksanaan Team Quiz terdapat proses persaingan atau kompetisi antar kelompok. Kelompok yang satu berusaha memberikan pertanyaan agar sekiranya tidak mampu dijawab oleh kelompok lainnya. Begitupun ketika menerima pertanyaan kelompok tersebut juga berusaha agar mampu menjawabnya dengan tepat. Inilah yang menyebabkan dalam pengamatan tadi muncul kerja sama siswa di masing-masing kelompok.
2. Siklus kedua
a. Perencanaan
Menyikapi hasil refleksi dari siklus pertama, maka pada tahap perencanaan siklus kedua ini perlu untuk mengetahui kemajuan atau kembali ke masalah awal, sehingga pada siklus sebelumnya tersebut tidak terulang kembali. Adapun bentuk pengujian siklus kedua diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Memberikan penjelasan tentang pembelajaran Team Quiz pada siswa.
2) Memberikan motivasi kepada siswa agar mereka berani mengungkapkan pendapatnya di depan kelas.
3) Membiasakan bertukar pikiran atau bekerja kelompok untuk menjadi kekompakan setiap kelompok, agar siswa bisa belajar berinteraksi dengan temannya, berani berpendapat, sehingga tidak mengandalkan siswa yang aktif saja.
4) Memberikan kebebasan pada setiap kelompok misalnya membuat yel-yel agar mereka lebih bersemangat.
5) Mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan siklus dua.
Beberapa bentuk perencanaan yang disiapkan peneliti tersebut
adalah :
a) Peneliti membuat Rancangan Pembelajaran.
b) Penyampaian beberapa poin materi pembelajaran sesuai dengan indikator belajar tentang permasalahan jumlah penduduk dengan angkatan kerja, tenaga kerja dan pengangguran.
c) Peneliti mempersiapkan berbagai media yang akan digunakan
d) Dalam metode Team Quiz. Proses perencanaan dalam bentuk persiapan media ini dilakukan dengan menata bangku-bangku atau meja siswa sesuai dengan kebutuhan Team Quiz.
b. pelaksanaan
Pelaksanaan siklus kedua ini materi yang akan disampaikan adalah tentang pengangguran. Siklus kedua ini merupakan siklus terakhir dalam Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan peneliti di SMP PGRI CITEUREUP yang akan dibagi dalam satu kali pertemuan.
1) Kegiatan Awal
(a) Pemberian motivasi pada siswa dalam bentuk pemberian penilaian pada hasil tugas rumah masing-masing siswa.
(b) Mengoreksi secara bersama-sama tugas rumah tersebut dengan sesekali memberikan kesempatan pada siswa yang jawabannya benar untuk menyampaikan jawaban mereka, hal ini juga sebagai salah satu bentuk motivasi karena dengan itu siswa akan merasa dihargai terhadap tugas yang telah dikerjakannya.
(c) Tanya jawab antara guru dan siswa tentang materi yang disampaikan pada pertemuan sebelumnya. Hal ini sebagai salah satu bentuk proses review terhadap materi pelajaran.
(d) Guru menyampaikan kepada siswa tentang kompetensi dan indikator hasil pembelajaran dalam materi yang akan disampaikan.
2) Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti, pelaksanaannya dilakukan dalam dua
tahapan, yakni :
(a) Kegiatan inti pertama
Guru menjelaskan gambaran umum tentang Pengangguran, yakni : dilakukan dengan memberikan pengertian dan macam-macam pengangguran, memberikan contoh pengangguran dan dampak dari pengangguran.
(b) Kegiatan Inti Kedua
Pada kegiatan inti ini, guru menggunakan Metode Team Quiz. Pelaksanaan Team Quiz hampir sama dengan pelaksanaan pada siklus pertama, yakni meliputi beberapa tahap, diantaranya :
a) Guru memilih topik yang dapat disampaikan dalam tiga segmen.
b) Membagi siswa menjadi 3 kelompok, yakni : A, B, dan C. Ketiga kelompok tersebut akan membahas topik yang diberikan oleh guru dengan segmen yang berbeda-beda.
c) Menyampaikan format pembelajaran yang akan dilakukan kepada siswa.
d) Setiap kelompok melakukan presentasi masing-masing maksimal 10 menit.
e) Setelah presentasi semua kelompok selesai, guru memberikan kesempatan pada kelompok A untuk menyiapkan pertanyaan dari hasil penyampaian presentasi dari kelompok A dan C. Pada saat bersamaan kelompok B dan C diberi kesempatan untuk melihat lagi catatan-catatan mereka.
f) Kelompok A menyampaikan pertanyaan pada kelompok B, jika kelompok B tidak mampu menjawab lempar pertanyaan pada kelompok C.
g) Kelompok A menyampaikan pertanyaan pada kelompok C, jika kelompok C tidak mampu menjawab lempar pertanyaan pada kelompok B.
h) Jika tanya jawab ini sudah selesai, maka dilajutkan pada sesi berikutnya dengan menunjuk kelompok B sebagai penanya pada kelompok A dan C. Proses ini dilakukan sebagaimana sesi sebelumnya yang dilakukan pada kelompok A.
i) Jika sudah selesai, lanjutkan pada sesi berikunya dengan kelompok C sebagai penanya-nya dan prosesnya juga sama seperti pada kelompok A dan B.
3) Kegiatan Akhir
(a) Guru menyimpulkan hasil pelaksanaan Team Quiz tersebut.
(b) Guru menjelaskan kembali pada siswa terhadap pemahaman yang salah dan terhadap pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh siswa pada saat tanya jawab Team Quiz. Penjelasan akhir oleh guru tersebut dilakukan agar semua siswa benar-benar mampu memahami substansi materi pelajaran yang disampaikan secara menyeluruh.
(c) Guru memberikan waktu kepada siswa untuk menyampaikan pertanyaan terkait hal-hal yang belum dipahamai siswa pada materi pengangguran ini. Dalam siklus dua ini menunjukkan adanya peningkatan motivasi belajar dan ini sudah mencapai maksimal. Hasil pre test ini menunjukkan rata-rata kelas 82,6.
c. Pengamatan
Pengamatan atau observasi tehadap siklus kedua ini merupakan tindak lanjut dari hasil refleksi siklus yang pertama. Pada siklus yang kedua ini yang merupakan siklus terakhir pelaksanaan penelitian yang dilakukan peneliti secara umum memfokuskan pada terciptanya tujuan pelaksanaan Team Quiz dalam meningkatkan motivasi belajar siswa.
Dari hasil pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan ini diketahui bahwa motivasi siswa ketika melakukan Pembelajaran Team Quiz semakin meningkat dan bahkan antusiasmenya melebihi daripada pelaksanaan pada siklus yang pertama. Sebagaimana yang terjadi pada pertemuan ketiga, antusiasme siswa tampak dari pelaksanaan Team Quiz, dimana para siswa saling bekerja sama ketika mempersiapkan pertanyaan pada kelompok lain atau ketika menjawab pertanyaan dari kelompok lain.
Hal ini bahkan dilakukan dengan lebih seru dan lebih menarik, karena siswa yang aktif ketika sesi tanya jawab lebih banyak daripada sebelumnya, sehingga dapat dikatakan antusiasmenya melebihi pada pelaksanaan pertemuan sebelumnya.
Dari sisi substansi materi pembelajaranpun diketahui bahwa siswa telah dapat lebih memahami materi pelajaran tersebut dengan lebih optimal. Hal ini diketahui dari saat pelaksanaan Team Quiz, dimana pada saat sesi tanya jawab antar kelompok, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan telah mampu dijawab oleh kelompok lainnya dengan baik, walaupun terdapat beberapa jawaban pertanyaan yang tidak tepat benar atau kurang sempurna. Selain itu, pada pelaksanaan Team Quiz pertemuan ini juga tidak terdapat lagi pertanyaan dari satu kelompok yang tidak mampu dijawab oleh kelompok lainnya.
Hasil dari pengamatan keseluruhan pada tahap ini, bahwa peserta didik sudah mencapai indikator yang harus dicapai, hal ini dapat ditunjukkan bahwa motivasi peserta didik dalam proses pembelajaran IPS meningkat, peserta didik lebih bersemangat terhadap tugas yang diberikan, tergerak untuk selalu belajar dan melakukan pekerjaan sesuai dengan minatnya, terangsang untuk mewujudkan keinginannya, mempunyai keinginan yang kuat terhadap sesuatu, mengikuti kegiatan pembelajaran dengan senang dan tidak merasa jenuh dengan pelajaran, selalu merasa penasaran dan bertanya untuk mencari tahu.
Siklus ke dua ini sebagai tindak lanjut atas kekurangan-kekurangan yang ditemukan pada siklus pertama. Pada tahap ini, peneliti juga memberikan evaluasi sebagai tolak ukur peningkatan keberhasilan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran.

d. Refleksi
Tugas rumah yang dapat dikerjakan dengan maksimal oleh mayoritas siswa menunjukkan bahwa penyampaian materi sebelumnya tentang Tenaga kerja, kesempatan kerja dan angkatan kerja telah dapat dipahami dengan baik oleh siswa.
Selain itu dengan model penyampaian satu materi pelajaran menggunakan metode yang sama dalam dua siklus menunjukkan adanya peningkatan motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
Peningkatan motivasi ini disebabkan karena siswa tidak lagi merasa bosan dengan konsep pembelajaran yang ada. Sebelumnya pembelajaran terkesan monoton sebab hanya dilakukan dengan metode ceramah saja, sedangkan ketika diterapkan metode Team Quiz ini antusiasme siswa dalam belajar menjadi terangkat.
Sementara Antusiasme siswa ketika melakukan Metode Team Quiz pada siklus ini yang melebihi antusiasme pada siklus pertama dapat disebabkan karena kelompok siswa termotivasi untuk dapat menjawab pertanyaan oleh kelompok lainnya dengan lebih tepat lagi daripada sebelumnya. Hal ini utamanya yang ditunjukkan oleh kelompok siswa yang pada pelaksanaan sebelumnya pernah tidak mampu menjawab pertanyaan dari kelompok lainnya, sehingga mereka lebih bersemangat dalam belajar sebelum pelaksanaan Team Quiz kali ini.
Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan ibu Farida Nafik selaku guru mata pelajaran IPS. Kutipan wawancara tersebut adalah sebagai berikut:
saya sangat senang melihat anak-anak suka dengan metode taem quiz ini karena sejak diterapkannya team quiz pada mata pelajaran IPS, siswa lebih antusias dan semangat dalam mengikuti pembelajaran, jadi kelas lebih hidup. Sehingga saya mengharapkan guru-guru lain termasuk saya, dapat menerapkan strategi atau metode lain yang sesuai dengan mata pelajaran masing-masing dalam setiap pembelajaran.
B. Pembahasan
Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa selama proses pembelajaran materi IPS mulai dari siklus pertama hingga siklus kedua pada penelitian ini terjadi peningkatan motivasi siswa dalam belajar ketika menggunakan Metode Team Quiz. Sebelum penelitian siswa cenderung pasif dan kurang memiliki antusias ketika mengikuti pelajaran.
Kemudian pada siklus penelitian pertama hal tersebut juga masih sedikit tampak ketika proses pembelajaran menggunakan Metode Team Quiz, namun dari sisi pemahaman siswa terhadap substansi materi pelajaran yang disampaikan, terlihat masih cenderung kurang. Kemudian pada pelaksanaan siklus kedua pertemuan kedua, antusiasme siswa ketika mengikuti pelajaran meningkat drastis, antusias siswa ketika mengikuti Metode Team Quiz juga terjadi peningkatan. Jumlah siswa yang ikut aktif terlibat tanya jawab pada metode tersebut yang terjadi peningkatan dibandingkan pada saat pelaksanaan siklus pertama.
Selain itu, peningkatan motivasi belajar siswa setelah menggunakan Metode Pembelajaran Team Quiz juga dibuktikan dari hasil nilai rata-rata siswa Kelas VIII .7 SMP PGRI CITEUREUP yang menjadi objek dalam penelitian ini. Dimana dari hasil nilai rata-rata siswa pada siklus pertama mencapai 66,9 dan pada siklus kedua mencapai 82,6. Siswa merasa dengan metode pembelajaran Team Quiz menjadikan mereka lebih bersemangat dalam belajar atau dengan kata lain motivasi atau belajar mereka meningkat.
Dilihat dari hasil pengamatan peneliti selama di lapangan diketahui bahwa dibandingkan dengan pelaksanaan pembelajaran sebelum penelitian ini dilakukan, Metode Pembelajaran Team Quiz memiliki beberapa keuntungan, diantaranya:
1. Dapat menjadikan suasana proses pembelajaran menjadi lebih menarik,sehingga tidak menimbulkan kebosanan pada siswa.
2. Dapat menjadikan siswa menjadi lebih kritis dan kreatif dalam menggali isi materi pelajaran.
3. Dapat meningkatkan kemandirian siswa dalam belajar, sehingga tidak memiliki ketergantungan yang berlebihan pada guru.
4. Memberikan pembelajaran bekerja sama antar siswa melalui pola kompetisi antar kelompok.
Dengan beberapa keuntungan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa Metode Team Quiz ini sangat tepat diterapkan dalam proses pembelajaran IPS. Pada mata pelajaran IPS materi yang akan disampaikan sebagian besar berhubungan dengan hal-hal yang abstrak, sehingga dibutuhkan pemilihan startegi pembelajaran yang sangat tepat. Maka strategi ini dapat menjadi salah satu alternatif sebagai metode pembelajaran IPS tersebut. Metode Team Quiz berbeda dengan metode ceramah yang selama ini mayoritas diterapkan di sekolah, sehingga hal tersebut dapat meminimalisir tingkat kebosanan siswa dalam mengikuti rangkaian proses pembelajaran. Jika hal tersebut dapat tercapai maka secara tidak langsung antusias siswa dalam mengikuti proses pembelajaran menjadi lebih meningkat, sehingga motivasi belajar mereka dapat meningkat pula.

BAB V
PENUTUP
Hasil penelitian tentang penerapan metode Team Quiz Dalam Meningkatkan Motivasi Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VIII.7 SMP PGRI CITEUREUP, kecamatan Citeureup Kabupaten Bogor diperoleh kesimpulan dan saran sebagai berikut :
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian pada pelaksanaan tindakan kelas yang telah dilakukan peneliti, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Dalam proses perencanaan metode Team Quiz, langkah awal yang dilakukan adalah memahami buku panduan IPS kelas VIII , membuat silabus, menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), membuat modul pembelajaran, penyiapan membagi siswa ke dalam beberapa kelompok serta direncanakan juga materi yang akan dijadikan pokok bahasan oleh masing-masing kelompok tersebut.
2. Dalam tahap pelaksanaan Team Quiz diketahui bahwa pada penelitian siklus pertama, siswa memiliki antusias dalam mengikuti proses pembelajaran. Pada pertemuan kedua, antusiasme siswa ini semakin meningkat tampak ketika proses pembelajaran.
3. Dari hasil penilaian dapat dibuktikan adanya peningkatan motivasi siswa dalam belajar ketika menggunakan Metode Team Quiz. Sebelum penelitian ini dilakukan siswa cenderung pasif dan kurang memiliki antusiasme ketika mengikuti materi pelajaran. Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa Metode Team Quiz ini sangat tepat untuk dapat diterapkan dalam proses pembelajaran IPS.
B. SARAN
Berdasarkan kesimpulan tersebut di atas, maka peneliti mengemukakan saran – saran sebagai berikut :
1. Metode pembelajaran Team Quiz dapat diterapkan pada proses pembelajaran materi IPS di semua Madrasah. Kedua metode ini dapat meningkatkan antusiasme siswa ketika mengikuti pembelajaran di sekolah, sehingga secara tidak langsung akan berpengaruh pada peningkatan motivasi siswa dalam belajar.
2. Dalam penerapan metode ini dibutuhkan tingkat keaktifan dan kreatifitas siswa, sehingga peran guru untuk memberikan pengarahan dan motivasi kepada siswa menjadi sangat penting agar tujuan dari proses pembelajaran ini tercapai secara maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Ardiwinata, Rustana. 1986. Metode Mengajar dan Kesulitan Belajar. Bandung: Tarsito.
Ahmadi, Abu. 2005. SBM (Strategi Belajar Mengajar). Bandung: CV Pustaka Setia.
Arikunto, Suharsimi, dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: bumi aksara.
Inoid. 2008. Faktor-faktor yang Menurunkan Motivasi Siswa. http://www.inoid.blog.friendster.com
Margono S. 2000. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Sardiman. 1986. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Silbermen, L Melvin. 2006. Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nusa Media.

Uno B Hamzah. 2007. Teori Motivasi Dan Pengukurannya Analisis Di Bidang Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

. 2007. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar Yang Kreatif Dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.

Usman, Uzer Moh. 2002. Menjadi Guru professional. Bandung: PT Remaja Rosda Karya