KONTROL DALAM MULTI DRUG RESISTEN TUBERKULOSIS

Tujuan utama dalam mengontrol resistensi obat maupun multi-drug resistant tuberculosis adalah untuk mencegah perkembangan yang lebih luas. Hal ini dapat dilakukan dengan program Directly Observed Treatment Short Course (DOTS), yang merupakan cara yang paling hemat dan efektif dalam pengobatan dan pencegahan MDR- tuberculosis. Pada saat yang sama, ketika kasus MDR-TB tidak berespon bagus terhadap kemoterapi jangka pendek, haruslah dengan hati-hati mengenalkan obat lain untuk mengobati kasus MDR untuk mengurangi transmisi dari strain yang didapat. Ketika obat baru mengobati tuberculosis belum dijumpai dalam waktu dekat ini, kunci sukses penanggulangannya tetap pada diagnosis yang tepat dan benar dan pengobatan yang efektif pada pasien yang terinfeksi.
Terlepas dari adanya upaya yang kuat dalam program pengontrolan tuberculosis, dibutuhkan juga survey yang berkala dan berkelanjutan tentang resistensi obat ini yang bisa memberikan informasi dalam tipe kemoterapi yang dapat digunakan pada pengobatan pasien serta menjadi parameter dalam evaluasi program kemoterapi yang sedang dilakukan maupun yang sudah lalu. Ada suatu kebutuhan untuk revisi petunjuk program-program nasional berdasar pada tingkatan-tingkatan resistensi, training para professional dari berbagai sektor yang berperan, penguatan program nasional pengendalian Tuberkulosis, pengurangan penggunaan Rifampicin (yang diawasi dan untuk TB dan lepra saja).
Penyediaan logistik secara regular untuk menjamin terlaksananya secara regular penyediaan obat untuk seluruh tingkat National Tuberculosis Control Programme dan menjamin pemenuhannya, penambahan sarana seperti penyediaan secara bebas/subsidi obat anti tuberkulosa, pengawasan pengobatan dan penyuluhan kesehatan. Untuk mengontrol emergensi dari drug resistant dan multi drug resistant tuberculosis, WHO pada tahun 1998 telah membuat suatu rencana yang dikenal dengan ‘Dots Plus’ yang sudah didizinkan oleh Green light committee. Tujuan utama dari komite ini adalah untuk untuk menyetujui, melakukan dan mengatur proyek percontohan didasarkan di petunjuk untuk menetapkan proyek percontohan ‘dots plus‘.
Karena infeksi dengan resistan obat M.Tuberculosis sangat beresiko, persiapan khusus harus disiapkan dengan hati-hati untuk memperkecil resiko di dalam kontak-kontak pasien-pasien ini. Pencegahan mempunyai dua aspek yaitu mekanika dan chemoprophylaxis. Aspek mekanis prevensi termasuk ventilasi yang yang bagus, iradiasi germisidal dengan UV, penggunaan masker, respirator dan filtrasi ketat dari pasien yang diisolasi. Kemoprophylaxis termasuk perawatan dari kontak-kontak dengan yang menggunakan Pyrazinamide (Z) dan Ofloxacin/Ciprofloxacin atau E dan Z atau Ofloxacin / Ciprofloxacin

Share this post