INDUSTRI LOIN TUNA DI INDONESIA

Republik Indonesia merupakan negara kepulauan terluas di dunia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau, diantaranya masih banyak yang belum berpenghuni. Indonesia terletak pada garis khatulistiwa dan terbentang dari barat ke timur sepanjang hampir 5.000 km mulai dari Sabang di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (5°38’N, 94°44’E) hingga Merauke di Propinsi Papua berbatasan dengan Papua Nugini (141°37’E) dan dari utara ke selatan sepanjang 1.770 km dari Sangihe Talaud hingga Pulau Rote (13°33’S).
Perikaanan merupakan salah satu bidang yang manjadi penopang peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia. Subsektor perikanan dapat berperan dalam pemulihan dan pertumbuhan perekonomian bangsa Indonesia karena potensi sumber daya ikan yang besar dalam jumlah dan keragamannya.
Selain itu, sumberdaya ikan termasuk sumberdaya yang dapat diperbaharui (renewable resources), sehingga dengan pengelolaan yang bijaksana dapat terus dinikmati manfaatnya.
Industri perikanan Tuna merupakan salah satu usaha penangkapan ikan yang cukup penting di Indonesia. Salah satu ikan Tuna yang merupakan spesies dominan adalah ikan Tuna sirip kuning (Thunnus albacores). Produksi perikanan laut provinsi Aceh mencapai 129.731 ton pada tahun 2007, dari total keseluruh produksi perikanan provinsi Aceh tersebut jenis tangkapan terbesar adalah ikan tongkol, ikan Tuna, cakalang (Andika 2009).
Seiring dengan tingginya tingkat penangkapan dan kebutuhan konsumsi ikan Tuna maka dibutuhkan upaya penanganan yang baik agar hasil tangkapan tidak rusak (kualitasnya menurun) sehingga pada saat ikan Tuna sampai ke pasaran harganya menjadi rendah atau sama sekali tidak bisa diterima di pasaran.
Permintaan terhadap komoditi tuna loin cukup tinggi, bahkan pasokan saat ini belum dapat memenuhi permintaan negara-negara importir. Tuna loin di pasar lokal dijual ke Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang telah memiliki lisensi ekspor, restoran dan hotel. Negara-negara importir tuna loin diantaranya adalah Jepang, USA, Australia dan beberapa negara Eropa. Masing-masing negara importir tersebut memiliki kualifi kasi dan standar mutu sendiri. Kualifikasi tuna loin yang diminta negara Jepang hanya grade A atau grade sashimi, sedangkan negara tujuan Amerika dan Eropa masih bisa menerimatuna loin grade B atau C (BI,2009)
Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor Tuna terbesar di dunia. Volume total ekspor Tuna pada tahun 2004 mencapai 94.221 ton dengan nilai US $ 243,937 juta. Akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir ini volume ekspor Tuna merosot tajam karena masalah mutu dan kontaminasi logam berat. Ekspor ikan Tuna ke Uni Eropa merosot dari 7.400 ton di tahun 2004 menjadi 2.416 ton pada tahun 2006 (Widiastuti, 2009).
Penurunan volume ekspor ikan Tuna segar ke Uni Eropa antara lain disebabkan karena tingginya kadar histamin dan logam berat. Bahkan saat ini ekspor Tuna dari Indonesia ke negara-negara Uni Eropa terkena penolakan dengan sistem RASFF (Rapid Alert System far Food and Feed). Sementara itu, laporan FDA (Food and Drug Administration), dari tahun 2001-2005 terdapat 350 penolakan pada produk Tuna Indonesia, karena kasus histamin dan logam berat (Widiastuti, 2009).
Dalam bukunya ”Nautika Kapal Penangkap Ikan” Setiono Adi (2008) menjelaskan bahawa kerusakan dan pembusukan ikan banyak kaitannya dengan kandungan histamin, histamin terjadi setelah ikan mati dan dibiarkan pada suhu tinggi sehingga bakteri dapat tumbuh dan berkembang biak.
Kadar histamin pada ikan segar dipengaruhi oleh tingkat kesegarannya, jenis ikan, ukuran, maupun warna dagingnya. Enzim histidin dekarboksilase bereaksi didalam tubuh ikan yang menghasilkan histamin dan cenderung lebih stabil dari pada bakteri dalam keadaan beku dan aktif kembali dengan sangat cepat setelah di thawing. Studi terbaru mengatakan bahwa bila produksi histamin meningkat disebabkan karena kandungan histidin dekarboksilase tinggi, dan pembentukan histamin dapat berlanjut walaupun dalam keadaan beku. (Andika 2009).
Dari ratusan bakteri yang telah diteliti ada tiga jenis bakteri yang mampu memproduksi histamin dari histidin dalam jumlah tinggi yaitu : Proteus morganii atau Morganella morganii (terdapat pada ikan Big eye Tuna, Skipjack), Enterobacter aerogenes (pada Skipjack), Clostridium perfringens (pada Skipjack). Masalah serius dalam penanganan Tuna dalam mempertahankan mutu ikan Tuna adalah adanya kandungan histamin dan pembentukan histamin dapat berhenti pada suhu 00C sedangkan pada suhu 200C histamin terbentuk dalam jumlah yang banyak. Oleh karena itu, upaya mempertahankan mutu ikan Tuna perlu dilakukan secara intensif untuk meningkatkan akses pasar ke negara/kawasan tujuan ekspor. (Widiastuti, 2009).

Share this post