ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN ABLASIO RETINA

Merupakan penyakit mata gawat darurat, penderita mengeluh ada kabut dilapangan pandangnya secara mendadak seperti selubung hitam. Kalau mengenai makula lutea maka visusnya mundur sekali, bila ditanya mungkin ditemukan gejala ada bintik hitam sebelumnya dan penderita miopia tinggi.
Ablasia retina adalah suatu penyakit dimana lapisan sensorik dari retina lepas. Lepasnya bagian sensorik retina ini biasanya hampir selalu didahului oleh terbentuknya robekan atau lubang didalam retina (P.N Oka, 1993), lepasnya lapisan saraf retina dari epitelium. Penyakit ini harus dioperasi, penderita tidak boleh terlalu banyak bergerak dan goyang supaya bagian retina yang sudah lepas, tidak bertambah lepas lagi.
Ada 2 tipe ablasio retina :
1. Non rhemathogen retina detachmen :
a. Malignancy hypertensi
b. Choriodal tumor
c. Chorioditis
d. Retinopati
2. Rhemathogen retina detachmen :
a. Trauma
b. Degenerasi
c. Kelainan vitreus
Etiologi :
Ablasio retina dapat terjadi secara spontan atau sekunder setelah trauma, akibat adanya robekan pada retina, cairan masuk kebelakang dan mendorong retina (rhematogen) atau terjadi penimbunan eksudat dibawah retina sehingga retina terangkat (non rhegmatogen), atau tarikan jaringan parut pada badan kaca (traksi). Penimbunan eksudat terjadi akibat penyakit koroid, misalnya skleritis, koroiditis, tumor retrobulbar, uveitis dan toksemia gravidarum. Jaringan parut pada badan kaca dapat disebabkan DM, proliferatif, trauma, infeksi atau pasca bedah.

Faktor predisposisi :
Mata dengan miopia tinggi, pasca retinitis,ekstraksi katarak dan retina yang memperlihatkan degenerasi diperifer.
Manifestasi klinis :
Tabir yang menutupi penglihatan dan seperti melihat pijaran api, penglihatan menurun secara bertahap sesuai dengan daerah yang terkena, bila makula yang terkena maka daerah sentral yang terganggu.
Pemeriksaan penunjang :
Pada pemeriksaan Funduskopi terlihat retina yang terangkat berwarna pucat dan adanya retina yang berwarna merah, sering ditemukan pada daerah temporal superior. Bila bola mata bergerak terlihat robekan retina bergoyang, terdapat defek aferen pupil tekanan bola mata rendah. Bila tekanan bila mata meningkat maka terjadi glaukoma neomuskular pada Ablasi yang lama.
Penatalaksanaan :
Menghindari robekan lebih lanjut dengan memperhatikan penyebabnya, seperti :Foto koagulasi laser, krioterapi,retinopexy pneumatic, bila terjadi akibat jaringan parut dilaku kan vitrektomi, scleral buckling atau injeksi gas intraokuler.
Usaha Pre-operatif :
Sedikitnya 5 – 7 hari sebelum operasi, penderita sudah harus masuk rumah sakit, harus tirah baring sempurna (Bedrest total). Kepala dan mata tidak boleh digerakan, mata harus di tutup segera, segala keperluan pen-derita dibantu. Kedua mata ditetesi midriatik sikloplegik seperti: Atropin tetes 1 % jangan menggunakan obat-obat mata dalam bentuk salep mata karena akan menghalangi jalannya operasi (kornea akan keruh akibat salep). Persiapan lainnya sama dengan persiapan operasi katarak, operasi ablasio retina mengguna kan anestesi umum tetapi bila menggunakan anestesi lokal maka 1 jam sebelum operasi diberikan luminal (100 mg) atau largactil (100 mg) IM, kemudian ½ jam sesudahnya diberi pethidine (50 mg) dan phenergan (25 mg) IM.
Usaha Post-operatif :
Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam perawatan adalah posisi kepala, per-gerakan mata, obat-obat, lamanya mobilisasi dan pemeriksaan lanjutan (follow –up). Posisi kepala dan badan, arah miringnya kepala, tergantung posisi/keadaan sewaktu operasi yaitu kearah mana punksi cairan subretina dilakukan. Pada robekan yang sangat besar, posisi kepala dan badan dipertahankan sedikitnya 12 hari. Pergerakan mata, bila operasi dilakukan dengan kombinasi cryo atau diathermi koagulasi dengan suatu implant atau scleral buckling, maka kedua mata ditutup selama 48 – 72 jam sedang badan boleh bergerak untuk mencegah pergerakan matanya. Bila hanya menggunakan cryo atau diathermi saja mata ditutup selama 48 jam samapai cairan subretina diabsobsi. Bila robekan belum semua tertutup, maka kedua mata harus ditutup selama 12 – 14 hari, retina menempel kembali dengan kuat pada akhir minggu ketiga setelah operasi, karena itu selama periode 3 minggu itu diberikan instruksi sebagai berikut :
– Jangan membaca.
– Melihat televisi hanya boleh dari jarak 3 meter.
– Mata diusahakan untuk melihat lurus kedepan, bila berkendaran hendaknya mata di tutup.
Obat – obat :
Selama 24 jam post-operasi diberikan obat anti nyeri (analgesik) 3 X 500 mg, bila mual muntah berikan obat anti muntah. Sesudah 24 jam tidak perlu diberikan obat-obat, kecuali bila merasa sakit. Penggantian balut dilakukan setelah 24 jam, saat itu mata ditetesi dengan Atropin tetes steril 1 %. Bila kelopak mata bengkak, diberikan Kortikosteroid lokal disertai babat tindih (druk verban) dan kompres dingin.
Follow Up:
Setelah pulang, penderita kontrol tiap 1 minggu, 3 minggu, 6 minggu kemudian tiap 3, 6 dan 12 bulan. Refraksi stabil setelah 3 bulan pasca bedah. Visus terlihat kemajuannya setelah 1 tahun pasca bedah.
Prognosis :
90 % detachmen retina setelah enam bulan melekat baik tidak akan lepas lagi.

Fokus pengkajian :
– Klien mengeluh ada bayangan hitam bergerak
– Gangguan lapangan pandang
– Melihat bendan bergerak seperti tirai
– Bila mengenai makula visus sentral sangat menurun
– Terjadi secar tiba-tiba/perlahan-lahan
– Pemeriksaan funduskopi, blade, tear, hole
– Diperlukan tindakan pembedahan/operasi.

Diagnosa perawatan Pre-operasi yang mungkin terjadi
Perubahan persepsi sensori melihat berhubungan dengan efek dari lepasnya saraf sensori dari retina.
Tujuan :
Tidak terjadi kehilangan penglihatan yang berlanjut.
Kriteria :
– Klien memahami pentingnya parawatan yang intensif/bedrest total.
– Klien mampu menjelaskan resiko yang akan terjadi sehubungan dengan penyakitnya.
Rencana Intervensi :
INTERVENSI RASIONAL
Anjurkan klien untuk bedrest total Agar lapisan saraf yang telepas tidak bertambah parah.
Berikan penjelasan tujuan bedrest total Agar klien mematuhi dan mengerti maksud pemberian /perlakuan bedrest total.
Hindari pergerakan yang mendadak, meng-
hentakkan kepala,menyisir,batuk,bersin, muntah Mencegah bertamabh parahnya lapisan saraf retina yang terlepas .
Jaga kebersihan mata Mencegah terjadinya infeksi,agar mem permudah pemeriksaan dan tindakan operasi.
Berikan obat tetes mata midriatik-sikloplegik dan obat oral sesuai anjuran dokter. Diharapkan dengan pembnerian obat-obat
Kondisi penglihatan dapat dipertahankan/
Dicegah agar tidak menjadi parah

Ansietas yang berhubungan dengan ancaman kehilangan penglihatan
Tujuan :
Kecemasan berkurang
Kriteria :
– Klien mampu menggambarkan ansietas dan pola kopingnya.
– Klien mengerti tentang tujuan perawatan yang diberikan/dilakukan.
– Klien memahami tujuan operasi, pelaksanaan operasi, pasca operasi, prognosisnya (bila dilakukan operasi).
Rencana Intervensi :
INTERVENSI RASIONAL
Kaji tingkat ansietas : ringan,sedang,berat,panik Untuk mengetahui sampai sejauh mana tingkat kecemasan klien sehingga memu-dahkan penanganan/pemberian askep se-lanjutnya.
Berikan kenyaman dan ketentraman hati Agar klien tidak terlalu memikirkan penyakitnya.
Berikan penjelasan mengenai prosedur perawatan,perjalanan penyakit & progno-sisnya. Agar klien mengetahui/memahami bahwa ia benar sakit dan perlu dirawat.
Berikan/tempatkan alat pemanggil yang mudah dijangkau oleh klien Agar klien merasa aman dan terlindungi saat memerlukan bantuan.
Gali intervensi yang dapat menurunkan ansietas. Untuk mengetahui cara mana yang efektif untuk menurunkan/mengurangi ansietas.
Berikan aktivitas yang dapat menurunkan kecemasan/ketegangan. Agar klien dengan senang hati melakukan aktivitas karena sesuai dengan keinginan-nya dan tidak bertentangan dengan prog-ram perawatan.

Resiko terhadap ketidak efektifan penatalaksanaan program teapeutik yang berhubung-an dengan ketidak cukupan pengetahuan tentang aktivitas yang diperbolehkan dan yang dibatasi, obat-obatan,komplikasi dan perawatan tindak lanjut.
Tujuan :
Klien mampu berintegrasi dengan program terapeutik yang direncanakan/dilakukan untuk pengobatan, akibat dari penyakit dan penurunan situasi berisiko (tidak aman, polusi).
Kriteria :
– Klien mengungkapkan ansietas berkurang tentang ketakutan karena ketidak tahuan, kehilangan kontrol atau kesaahan persepsi.
– menggambarkan proses penyakit, penyebab dan faktor penunjang pada gejala dan aturan untuk penyakit atau kontrol gejala.
– Mengungkapkan maksud/tujuan untuk melakukan perilaku kesehatan yang diperlukan dan keinginan untuk pulih dari penyakit dan pencegahan kekambuhan atau komplikasi.

Rencana Intervensi :
INTERVENSI RASIONAL
Identifikasi faktor-faktor penyebab yang menghalangi penata laksanaan program terapeutik yg efektif. Agar diketahui penyebab yg mengha-langi sehingga dpt segera diatasi sesuai prioritas.
Bangun rasa percaya diri. Agar klien mampu melakukan aktifitas sendiri/dengan bantuan orang lain tanpa mengganggu program perawatan.
Tingkatkan rasa percaya diri dan kemampuan diri klien yang positif. Agar klien mampu dan mau melakukan/ melaksanakan program perawatan yang dianjurkan tanpa mengurangi peran ser-tanya dalam pengobatan/ perawatan diri-nya.
Jelaskan dan bicarakan: proses penyakit, aturan pengobatan/perawatan,efek sam-ping prognosis penyakitnya. Klien mengerti dan menyadari bahwa penyakitnya memerlukan suatu tindakan & perlakuan yang tidak menyenangkan.

PENGKAJIAN DATA

Nama Mahasiswa : Subhan
Tempat Praktek : Ruang Mata
Tanggal : 11 s/d 13 April 2001

I. Identitas Klien
Nama : Ny. I.F
Umur : 39 tahun
TTL : 12 Mei 1962
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Jl.Gubeng kertajaya III /No.3R.
Status perkawinan : Kawin
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah tangga
Lama bekerja : –
MRS : 9 April 2001
Keluarga terdekat : Suami
Pendidikan : Perguruan tinggi
Pekerjaan : Pegawai PT.POS Banyuwangi
Alamat : Banyuwangi.

II. Status Kesehatan Saat Ini:
3. Alasan kunjungan ke RS. mata kiri mendadak kabur  10 hari yang lalu sebelumnya melihat bayangan hitam seperti ombak, tidak dapat melihat walau jaraknya dekat. Mata kanan kabur sejak 2 tahun yang lalu.
4. Keluhan utama saat ini: Kedua mata kabur tidak dapat melihat dengan jelas terutama mata kiri hanya terlihat bayangan hitam seperti ombak,kilatan cahaya tidak tampak.
5. Lama keluhan : Mata kiri  10 hari (tiba-tiba)
Mata kanan 2 tahun yang lalu.
6. Timbulnya keluhan: Mata kiri : mendadak.
Mata kanan : Bertahap
7. Faktor yang memperberat: Bila mata mengalami iritasi/kemasukan debu.
8. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi: datang kedokter spesialis mata di Banyuwangi dan Surabaya, mendapat obat tetes mata dan obat oral, ke rumah sakit dirujuk oleh dokter yang merawat dengan diantar saudara.
9. Diagnosa medik: Mata kiri : Ablasio retina, tanggal 09 April 2001.
Mata kanan: Katarak matur, tanggal 09 April 2001.
III. Riwayat Kesehatan Yang Lalu:
1. Penyakit yang pernah dialami: Sejak 2 tahun yang lalu mata kanan kabur ada bintik putih ditengah-tengah bola mata
2. Klien tidak mempunyai riwayat alergi.
3. Imunisasi lengkap tidak ada reaksi kecuali demam sewaktu mendapat imunisasi BCG.
4. Kebiasaan : minum teh pagi hari.
5. Obat-obatan : lamanya  2 tahun, minum obat-obat tradisional (jamu) dan resep dari dokter spesialis mata, obat tetes mata dan obat oral.
6. Pola nutrisi : makan 3 X sehari, BB= 48 Kg, TB= 158 cm, makan nasi, sayuran, lauk-pauk dan buah-buahan serta susu, tidak ada pantangan, nafsu makan baik.
7. Pola eliminasi : BAB= 2 X sehari (pagi/sore), tanpa menggunakan pencahar, warna kuning, konsistensi lembek. BAK= 2 – 3 X, warna kuning jernih, bau tidak terlalu menusuk.
8. Pola tidur dan istirahat : waktu tidur pukul 20.00 Wib – 05.30 Wib ( 7 – 8 jam) sebelum tidur menonton TV sebentar.
9. Pola aktifitas dan latihan : Memasak,mencuci, bersih-bersih rumah dan kegiatan rumah tangga lainnya, kegiatan waktu luang diisi bersama keluarga, kesulitan dalam melakukan pergerakan tubuh, mandi,mengenakan pakaian dan bersolek terutama dalam berebrapa hari belakangan ini.
10. Pola kerja : sebagai ibu rumah tangga yang tidak mempunyai jam kerja.
IV. Riwayat Keluarga : Tidak ada keluarga yang mengalami/mendaerita penyakit seperti yang diderita klien.
V. Riwayat lingkungan : lingkungan bersih dan aman bebas dari polusi
VI. Aspek Psikososial :
– Pola pikir dan persepsi: klien memakai kaca mata, sering pusing dan tidak bisa melihat dengan jelas pandangan kabur. Klien sangat memikirkan pelaksanaan operasi dan keadaan matanya juga anak perempuannya yang hampir selesai sekolahnya klien ingin menyaksikan wisuda dan pernikahan anaknya nanti. Harapan klien cepat sem buh dan dioperasi karena tidak bisa melakukan aktifitas seperti biasanya. Suasana hati cemas dan gelisah, perhatian terfokus pada pelaksanaan operasi dan keadaan matanya.
– Hubungan/komunikasi: bicara jelas, relevan, mampu mengekspresikan dan mengerti orang lain. Klien tingagal bersama suami dan 2 orang anaknya sedangkan anak tertuanya sekolah diakademi pariwisata Nusa dua Bali. Adat istiadat yang dianut adalah adat Jawa, pembuat keputusan dalam keluarga ayah dan ibu setelah itu baru dimusyawarahkan ke anak-anak dan keluarga yang lain, keuangan memadai.
– Pertahanan koping: pengambil keputusan suami dan kakak klien, jika stres tidur dan diam, yang dapat dilakukan perawatan agar klien merasa nyaman dan aman adalah memberikan penjelasan mengenai penyakit klien dan pelaksanaan operasinya.
– Sistem nilai kepercayaan: Tuhan YME merupakan sumberkekuatan, setiap minggu mengikuti pengajian tapi mulai jarang sejak sakit.

VII. Pengkajian fisik :
Kepala : bentuk simetris,keluhan kadang pusing bila dipaksa untuk melihat.
Mata:
Mata kanan Mata kiri
1/300 PI BSA Visus 1/300 PI BSA
14,6 mmHg Tekanan okuli 10,2 mmHg
Spasme (-) Oedema(-) Palpebra Sapsme(-), Oedema(-)
CVI(-), PCVI(-) Konjunctiva CVI(-), PCVI(-)
Jernih Kornea Jernih
Dalam BMD Dalam
Reguler Iris Reguler
2 mm Pupil Bulat, VC (+) 3mm
Keruh Lensa Jernih
FR (-) Funduskopi FR (+) pupil N II Batas tegas,warna normal, retina blass (+), makula Reff ,
eksudat (-), tear be-
lum ditemukan.
Fungsi penglihatan : kabur,terlihat bayangan hitam seperti omnbak,tidak ada rasa sakit. Tanda – tanda radang (-), pemeriksaan mata terakhir tanggal 09 April 2001
Pada praktek dokter spesialis mata disurabaya,kemudian klien dirujuk keRS untuk mendapat perawatan lebih lanjut.
Hidung : tak ada kelainan
Mulut dan tenggorokan : tak ada kelaian
Penapasan : Batuk (-), RR= 18 X/menit, pola napas baik tidak ada perubahan.
Sirkulasi : Nadi 80 X/menit, distensi vena jugularis tak ada,suara jantung tamabahan tak ada,pusing kadang-kadang bila dipaksakan melihat lama.
Nutrisi : diet biasa, nafsu makan baik,mual-muntah tak ada, intake cairan 1 – 2 liter.
Eliminasi : tak ada kelainan
Reproduksi : tak ada kelaianan
Neurologis : Tingkat kesadaran GCS : 456, orientasi baik, bisa mengingat orang, waktu dan tempat.
Muskuloskeletal : Tak ada kelainan
Kulit : warna putih, integritas baik, turgor baik

Data laboratorium
Tanggal 09 April 2001
Darah lengkap : Urine lengkap :
– Hb : 11,5 gr% – Leukosit 25 /ul (+)
– LED : 20 mm/l – Eritrosit 25 /ul (+)
– Leuko : 5.100 X 109 /dl – Warna : kining muda
– Thrombosit : 240 X 109 /L – Kekeruhan : Jernih

Kimia darah : Darah puasa : 79 mg/dl
– Bilirubin total 0,49 mg/dl 2 jam PP : 127 mg/dl
– Bilirubin terikat 0,6 mg/dl Kreatinin serum : 0,66 mg/dl
– SGOT : 29 u/l BUN : 9 mg/dl
– SGPT : 26 u/l
– Protein total : 7,2 g/dl
– Albumin : 4,1 g/dl
– Glukosa : 3.2 g/dl

Pengobatan :
Atropin 1 % 2 X 1 tts OS

Analisa Data
T Tanggal Kelompok Data Kemungkinan Penyebab Masalah Diagnosa Keperawatan
2/4/211/04/01

2/42 11/04/01

DS:Kx.mengeluh mata
Kirinya tidak bisa
Melihat/kabur se-jak 10 hari yang lalu, yg tampak hanya bayangan hitam spt ombak saja.
DO: VOS 1/300PI BSA
TOS 10,2 mmHg
FdOS = FR (+)
Pupil N II batas
Tegas, retina blass
(+),makula reff ,
tear belum ditemu
kan.

DS: kx.terus menanya
kan kapan pelak
sanaan operasinya
serta keadaan mata
nya.
DO: Kx.gelisah,selalu
Bertanya,tdk me
nuruti anjuran u/
bedrest total,ber
debar-debar. Lep Lepasnya saraf sensori retina
.

Ancaman kehilangan peng
lihatan

Per Perubahan persepsi sensori melihat

see

Ansietas/
cemas Pe Perubahan persep-si sensori melihat berhubungan de-ngan efek dari lepasnya saraf senori dari re-tina

An Ansietas yang berhubungan dengan ancaman kehilangan penglihatan

NO DIAGNOSA TUJUAN KRITERIA INTERVENSI RASIONAL IMPLEMENTASI EVALUASI
1.

2. Perubahan persepsi sen sori melihat berhubung-an dengan efek dari le-pasnya saraf sensori da- ri retina.

Ansietas yang berhu-bungan dengan anca-man kehilangan peng-lihatan. Tidak terjadi ke- hilangan pengli-hatan yang ber-lanjut.

Kecemasan ber -kurang. -Klien memahami pentingnya pera-watan yang inten-sif/bedrest total.

– Klien mampu menjelaskan resi-ko yang akan ter-jadi sehubungan dengan penyakit-nya.

– Klien mampu menggambarkan ansietas dan pola kopingnya.
– Klien mengerti tentang tujuan perawatan yang diberi-kan/dilakukan.
– Klien memahami tujuan operasi, pelaksanaan operasi, pasca operasi, progno sisnya (bila di lakukan operasi) 1. Anjurkan klien untuk bed rest total.

2. Berikan penjelasan tujuan bed rest total.

3. Hindari pergerakan yang mendadak, menghentakkan kepala, menyisir, batuk, ber sin, muntah.

4. Jaga kebersihan mata.

5. Berikan obat tetes mata. Midriatiksikloplegik & obat oral sesuai anjuran dokter.

1. Kaji tingkat ansietas : ringan, sedang, berat, pa-nik.

2. Berikan kenyamanan dan ketentraman hati.

3. Berikan penjelasan menge-nai prosedur perawatan, perjalanan penyakit & prog nosisnya.

4. Berikan/tempatkan alat pe- manggil yang mudah dijang kau oleh klien.

5. Gali intervensi yang dapat menurunkan ansietas.

6. Berikan aktivitas yang dapat menurunkan kecemas an/ ketegangan. Untuk mengetahui sampai sejauh mana tingkat kecemasan klien sehingga memu-dahkan penanganan/ pemberian askep se-lanjutnya.

Agar klien mematuhi & mengerti maksud
pemberian/perlakuan bed rest total.

Mencegah bertambah parahnya lapisan saraf retina yang terlepas.

Mencegah terjadinya infeksi, agar memper mudah pemeriksaan & tindakan operasi.

Diharapkan dengan pemberian obat-obat an kondisi penglihat-an dapat dipertahan
kan/dicegah agar ti-dak bertambah parah.

Untuk mengetahui sampai sejauh mana tingkat kecemasan klien sehingga memu-dahkan penanganan/
pemberian askep se-lanjutnya.

Agar klien tidak terla- lu memikirkan penya- kitnya.

Agar klien mengeta -hui/memahami bahwa ia benar sakit dan per- lu dirawat.

Agar klien merasa aman dan terlindungi saat memerlukan ban- tuan.

Untuk mengetahui ca- ra mana yang efektif un-tuk menurunkan /mengurangi ansietas.

Agar klien dengan senang hati melaku- kan aktivitas karena sesuai dengan keingi -nannya dan tidak ber -tentangan dengan program perawatan.

1. Menganjurkan klien untuk bed rest total, usahakan tidur ter-lentang.

2. Memberikan pen-jelasan tujuan bed rest total.

3. Menghindari per-gerakan yang men-dadak, menghen-takkan kepala, me-nyisir, batuk, bersin, muntah.

4. Menjaga kebersih- an mata, ditutup dengan kassa, tidak boleh menggosok mata.

5. Memberikan obat tetes mata Mid-
riatiksikloplegik & obat oral sesuai an-juran dokter. Atropin tetes 1% 2×1 tetes OS.

1. Mengkaji tingkat ansietas : ringan, sedang, berat, panik, sesuai respon yang diberikan klien.

2. Memberikan kenya-manan dan ketentra -man hati.

3. Memberikan penje- lasan mengenai prosedur perawat -an, perjalanan pe-nyakit & prognosis nya.

4. Memberikan/tem- patkan alat pemang -gil yang mudah di -jangkau oleh klien.

5. Menggali intervensi yang dapat menurun- kan ansietas.
Menanyakan hobi/
kegemaran klien.

6. Memberikan aktivi -tas yang dapat menu runkan kecemasan/ ketegangan.
Mendengarkan mu- sik/radio. 13-4-2001
S: Klien mengeluh mata kiri nya masih kabur.
O:VOS1/300 PI BSA
TOS10,2 mmHg
FdOS= FR (+)
Pupil N II batas Te- gas, retina blass (+), makula reff , te-
ar belum ditemu- kan.
A: Masalah klien belum teratasi.
P: Rencana tindakan diterus-kan.
I:Melaksana-kan tindakan yang telah ada.
E: Mata kiri klien ma -sih kabur VOS: 1/300, persiapan operasi.

13-4-2001
S: Klien menanyakan rencana ope -rasinya.
O: Klien terus bertanya tentang rencana operasinya.
A: Masalah klien be- lum terata-si.
P: Rencana tindakan diteruskan.
I:Melaksana-kan tindakan yang telah ada.
E: Kecemas-
an klien
berkurang.

   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *