YOGA UNTUK MENGATASI MASALAH STRES PADA IBU MENYUSUI

Oleh: William

Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya

Pendahuluan

Seringkali para ibu mengeluhkan kalau produksi ASInya kurang ataupun tidak keluar. Ibu sering kurang yakin bahwa dirinya dapat memproduksi ASI yang cukup bagi bayinya. Persiapan psikologi ibu sangat menentukan dalam keberhasilan menyusui. Kondisi seperti stres,kacau, khawatir, marah, sedih, dan ketidakbahagiaan dalam diri ibu pada periode menyusui sangat berperan dalam mensukseskan pemberian ASI eksklusif untuk si bayi.

Tidak jarang keadaan stres ini dapat berlanjut menjadi depresi setelah beberapa minggu melahirkan. Di Amerika Serikat, depresi postpartum ini terjadi pada 13 persen wanita (satu dari setiap delapan wanita). Mengingat bahwa ada hampir 4 juta kelahiran di Amerika Serikat setiap tahunnya, setengah juta perempuan mengalami gangguan ini setiap tahun. Sebuah meta-analisis dari 59 penelitian melaporkan prevalensi depresi postpartum sebesar 13%, dengan kebanyakan kasus dimulai dalam tiga bulan pertama postpartum.

Masalah depresi pasca melahirkan ini telah meningkat selama 20 tahun terakhir, dimana orangtua dan para psikolog berusaha untuk membantu memperbaiki kondisi depresi ini. Masalah ini telah banyak menerima perhatian sebagai fokus untuk penelitian dan intervensi karena terjadinya peningkatan resiko putusnya hubungan antara ibu-anak, pelecehan anak, masalah perkembangan dan keadaan sosial anak, bahkan kejadian bunuh diri ibu banyak ditemukan. (Murray & Cooper,1997)

Faktor yang mempengaruhi laktasi                                                           

Ada 3 hal yang berperan dalam pembentukan dan pengeluaran air susu yaitu hormon prolaktin, oksitosin dan refleks let down. Ketika bayi mulai menghisap ASI, terjadi dua refleks yaitu refleks prolaktin dan oksitosin yang menyebabkan ASI keluar dengan baik. Prolaktin merupakanhormon laktogenik yang berperan merangsang kelenjar susu untuk memproduksi ASI, dirangsang oleh kelenjar hipofisis anterior karena adanya hisapan pada payudara.

Hormon lainnya adalah hormon oksitosin yang diproduksi di hipofisis posterior,hormon oksitosin masuk ke dalam darah menuju payudara, membuat otot- otot payudara vasokonstriksi.Keluarnya hormon oksitosin menstimulasi turunnya susu (milk ejection/let-downrefleks). Oksitosin menstimulasi otot di sekitar payudara untuk memeras ASI keluar.

Refleks turunnya susu tidak selalu konsisten khususnya pada masa-masa awal. Tetapi refleks ini bisa juga distimulasi dengan hanya memikirkan tentang bayi, atau mendengar suara bayi, sehingga terjadi pengeluaran ASI, payudara yang tidak di susui bayi mengeluarkan ASI pada saat bayi menghisap payudara yang berlawanan, setelah duaminggu, refleks turunnya susu menjadi lebih stabil Refleks turunnya susu ini penting dalam menjaga kestabilan produksi ASI, namun refleks ini dapat terganggu jika ibu mengalami stres. Oleh karena itu sebaiknya ibu tidak mengalami stres.

Semua stres secara otomatis mempengaruhi produksi hormon oksitosin yang tidak boleh dianggap remeh perannya dalam produksi ASI berkualitas. Sayangnya, selama ini tidak semua orang memahami pentingnya mengelola stres.

Laktasi dan stres

Ada beberapa jenis stres yang umum dialami oleh ibu menyusui. Dari mulai khawatir akan kurangnya kuantitas produksi ASI, khawatir kualitas ASInya tidak cukup baik untuk sang bayi, takut bentuk tubuh atau payudaranya berubah (faktor estetika), stres akibat perubahan pola/gaya hidup (terutama menyusui anak pertama), merasa pemberian ASI kurang praktis bagi ibu bekerja, dan tidak yakin akan pemberian ASI sebagai makanan terbaik bagi bayinya.

Ibu – ibu dengan kondisi seperti ini dapat mengalami depresi postpartum yang akhirnya mempengaruhi produksi ASI. Periode postpartum merupakan saat pengaturan kembali dan adaptasi memasuki “childbearing family”. Ibu mengalami berbagai respon dimana dirinya mengatur anggota keluarga baru.

Tanda-tanda deperesi postpartum dapat berupa gangguan fisiologis seperti gangguan tidur, tidak nafsu makan, dan gangguan kognisi selama dua minggu atau lebih yang berlangsung setiap hari selama 4 minggu setelah melahirkan. Biasanya sering disertai suasana hati “mood” yang jelek, konsentrasi menurun, sulit untuk mengambil keputusan, sering merasa bersalah, dan kurang bergairah dalam melakukan aktivitas. Interaksi antara pengasuh yang mengalami stres dengan bayinya akan mempengaruhi kondisi kognitif dan perilaku bagi bayinya.

Manfaat ASI

Sangat disayangkan bila ibu mempunyai keinginan untuk menyusui anaknya tetapi ASInya tidak keluar. Padahal ASI mempunyai banyak manfaat bagi bayi maupun ibu itu sendiri. ASI mengandung nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang sang bayi, serta dapat bermanfaat bagi kesehatan ibu yang menyusui. Isapan bayi pada payudara ibu akan merangsang terbentuknya oksitosin oleh kelenjar hipofisis yang membantu involusi uterus dan mengurangi terjadinya pendarahan pascapersalinan. Selain itu ASI juga bermanfaat dalam menurunkan risiko kanker ovarium dan payudara, mencegah osteoporosis, meningkatkan kesejahteraan serta memberikan dampak psikologis yang baik bagi ibu.

Kandungan lemak pada ASI mempunyai kadar asam linoleat (Omega 6) dan kolesterol yang tinggi yang dibutuhkan untuk perkembangan otak. ASI juga mengandung asam linolenat (Omega 3) sebagai prekursor DHA. Karbohidrat yang utama terdapat pada ASI adalah laktosa dan bila dibandingkan dengan susu mamalia lain, kadar laktosa dalam ASI adalah yang paling tinggi, yaitu 7 g persen.  Laktosa dapat mempertinggi penyerapan kalsium dan juga merangsang pertumbuhan lactobacillus bifidus. Protein yang terdapat di ASI sebagian besar adalah whey dimana whey lebih mudah dicerna dibandingkan kasein, yang menjadi protein utama dalam susu sapi. Ada 2 asam amino dalam ASI yang tidak terdapat dalam susu sapi yaitu cystine dan taurin. Cystine diperlukan untuk pertumbuhan somatik sedangkan taurin diperlukan untuk pertumbuhan otak.

Dengan menggunakan elektroforesis terbukti bahwa ASI terutama kolostrum mengandung imunnoglobulin, yaitu IgA sekretorik (terbanyak), IgG, IgM, dan IgE. Oleh karena bayi belum mampu memproduksi IgA sampai ia berusia 3-4 minggu, ia tidak mempunyai imunitas diri sehingga mudah terkena penyakit infeksi. Tetapi jika bayi diberi ASI sedini mungkin maka ia akan memperoleh imunitas pasif yang dapat melindungi bayi dari infeksi.

Pemberian ASI secara eksklusif dapat menekan angka kematian bayi hingga 13 % sehingga dengan dasar asumsi jumlah penduduk 219 juta, angka kelahiran total 22 per 1000 kelahiran hidup, angka kematian balita 46 per 1000 kelahiran hidup maka jumlah bayi yang akan terselamatkan sebanyak 30 ribu. Untuk itu ASI patut menjadi prioritas (Sitopeng, 2008).

Yoga, sinergi tubuh, pikiran, jiwa

Latihan yoga telah banyak diminati di banyak negara, seperti di Amerika Serikat (AS), UK, dan Jepang. Popularitas yoga di AS terbukti dengan bertambahnya peserta yang mengikuti latihan dari tahun 1997 sekitar 3,7%, meningkat di tahun 2002 sekitar 5,1%, dan di tahun 2007 sebesar 6,1%. Yoga telah dilaporkan mempunyai banyak manfaat terapeutik. Sebuah penelitian memperlihatkan bahwa dengan melakukan latihan yoga setidaknya dua kali seminggu secara teratur dapat mengurangi stres, depresi, dan perasaan negatif.

Yoga memang dapat dilakukan siapa pun, gerakannya pun dapat diikuti setiap orang. Hanya, karena gerakan yoga cenderung lebih gemulai dibanding fitness dan aerobik, sebagian besar peserta yoga adalah perempuan. Yoga dipercaya dapat memberikan efek rasa segar sehingga tidak cepat emosional dalam menghadapi masalah.

Di Indonesia, yoga sudah dikenal sejak 1970. Tren yoga terjadi sepanjang 2-3 tahun terakhir. Pada saat kehidupan manusia sudah sangat dihimpit banyak persoalan, stres tak terhindarkan dan berbagai macam ketegangan hidup. Namun, tidak ada penyaluran untuk melepaskan ketegangan tersebut. Yoga mensinergikan tubuh, pikiran, dan jiwa hingga dicapai keseimbangan hidup.

Prinsip yoga terdiri dari 5 poin. Pertama, beraktivitas fisik secara teratur (proper exercise). Kedua, bernapas perlahan tetapi dalam (proper breathing). Melakukan pranayama (teknik mengolah napas dalam yoga). Ketiga, beristirahat cukup (proper rest). Keempat, menjaga pola makan (proper diet). Sangat baik untuk menjaga pola makan yang seimbang, baik secara gizi (kualitas) maupun porsi (kuantitas). Kelima, berpikir positif melalui meditasi (positive thinking through meditation)

Yoga tidak hanya bermanfaat untuk terapi masalah mental tetapi juga dapat meningkatkan kondisi fisik. Selain itu yoga dapat digunakan sebagai terapi fisik seperti asma, hipertensi, rematoid arthitis, migrain, kelainan muskuloskeletal, gejala dari kanker, dan gejala lain yang berhubungan dengan faktor mental yang disebabkan oleh stres. Seseorang yang  menunjukan tanda-tanda kecemasan, ketegangan, depresi, kemarahan, dan kebingungan, setidaknya dengan mengikuti satu kali sesi yoga dapat membuat dirinya lebih rileks dan tenang (Manocha et al.).

Yoga dan stres

Kondisi mental seseorang berhubungan dengan jumlah hormon kortisol dalam tubuh. Kortisol yang disekresikan dari korteks adrenal merupakan indeks biokimia dari aktivasi aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA), dan terkait dengan kondisi stres psikologis. Beberapa studi telah menunjukan bahwa latihan meditasi jangka panjang, yang merupakan salah satu komponen yoga, tidak membawa pengaruh yang signifikan terhadap level kortisol antara grup yang melakukan yoga jangka panjang dengan grup kontrol.

Selain memperhatikan kadar kortisol, ada beberapa studi yang membandingkan tingkat katekolamin, seperti norepinefrin, epinefrin, dan asam vanilymandelic (VMA). Indeks biokimia tersebut dapat mewakili kondisi stres seseorang. Suatu studi oleh infate dkk dilaporkan bahwa jumlah norepinefrin dan epinefrin dalam urin pada kelompok yang melakukan meditasi lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol. Konsentrasi rendah VMA kemih juga ditemukan pada praktisi meditasi dibandingkan dengan kelompok kontrol. (Walton et al)

Indikator lain yang dapat dipakai adalah asam gamma-aminobutirat (GABA). GABA berkurang ketika seseorang dalam kondisi stres atau depresi. Dalam suatu studi mengunakan MRS (Magnetic Resonance Spectoscopy) untuk memperoleh hasil level GABA thalamic, peningkatan level GABA seluruhnya terjadi pada kelompok yang melakukan sesi yoga selama 60 menit dibandingkan kelompok kontrol yang melakukan sesi membaca selama 60 menit. Ada korelasi positif antara melakukan yoga dengan peningkatan kadar GABA thalamic dan perbaikan dalam skala mood.

Selain studi yang membandingkan jumlah indeks biokimia terhadap stres, terdapat juga penelitian yang menggunakan kuisioner POMS (Profile of Mood States Questionnaire). Kuesioner diberikan kepada semua perseta. Kuesioner ini mencakup pertanyaan tentang usia, ras, pendidikan, durasi dalam berlatih yoga, dan disertai dengan 6 skala untuk menilai suasana hati “mood” yaitu ketegangan-kecemasan, depresi, kemarahan-kebencian, gairah, kelelahan, dan kebingungan. Hasil yang didapat ada kecenderungan skor lebih tinggi pada kelompok yang melakukan yoga daripada kontrol. Tetapi pada skala kebingungan dan gairah tidak ada perbedaan yang signifikan.

Kesimpulan

Latihan yoga bisa menjadi salah satu solusi alternatif bagi ibu yang mengalami stres maupun depresi setelah melahirkan. Selain membantu meringankan masalah psikologis, yoga dapat meningkatkan kebugaran dan kesehatan jasmani bagi ibu. Dengan demikian, ibu tidak mengalami kendala ASI tidak dapat keluar, sehingga proses laktasi dapat dilakukan. Proses laktasi ini dapat meningkatkan gizi bagi anak dan menurunkan resiko penyakit bagi ibu. Pada akhirnya angka kematian ibu dan anakdapat menurunkan.

Daftar Pustaka

  1. Streeter C, Whitfield H, Owen L, Rein T, Karri K, Yakhind A, et al. Effect of Yoga Versus Walking on Mood, Anxienty, and Brain GABA Levels: A Randomized Controlled MRS Study. c2010 [cited 2011 Sept 25]. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3111147/?tool=pmcentrez
  1. Yoshihara K, Hiramoto T, Sudo N, Kubo C. Profile of mood states and stress-related biochemical indices in long-term yoga practitioners. c2011 [cited 2011 Sept 25]. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3125330/?tool=pmcentrez
  1. Wardlaw M, Hampl S, DiSilvestro A. Perspectives in Nutrition. America: McGraw-Hill, 2004;p. 588-593
  1. Tumbelaka R. Hendarto A. Hegar B, dkk. Bedah ASI. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang DKI Jakarta; 2008.
  1. Sloane D, Benedict Salli, Mintzer M. Petunjuk lengkap kehamilan. Jakarta: Mitra Utama, 1991;p. 81-111
  1. Wisner L, Parry L, Piontek M. Postpartum Depression. c2002 [cited 2011 Sept 25]. Available from: http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMcp011542
  1. Dennis L. Psychosocial and psychological intervention for prevention of postnatal depression: systematic review. c2005 [cited 2011 Sept 25]. Available from: http://www.bmj.com/content/331/7507/15.full?sid=bab6e9fa-bf21-4cb5-9d96-5b564c219d8e

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *