USUL PENELITIAN  PENGARUH METODE BELAJAR DENGAN PETA PIKIRAN (MIND MAPPING) TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR MAHASISWA KEDOTERAN UNILA

PENELITI
dr. Rika Lisiswanti, MMedEd
NIP.198010052008122001

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014

HALAMAN PENGESAHAN

1. Judul :Pengaruh peta pikiran (mind mapping) terhadap motivasi dan hasil belajar mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
2. Identitas Peneliti
A. Ketua Pelaksana
Nama : dr. Rika Lisiswanti, MMedEd
Jenis Kelamin : Perempuan
NIP/ Pangkat/golongan : 198010052008122001
Disiplin Ilmu : Ilmu Pendidikan Kedokteran
(Medical Education)
Pangkat/Gol : IIIb/Penata Muda
Jabatan Fungsional : Asisten Ahli
Fakultas : Kedokteran
Alamat : Perum Villa Mutiara Blok D-14
Jl. Bumi manti I kp. Baru kec. Kedaton
Telepon / Hp : 081388514165
Alamat Email : rika_lisiswantil@yahoo.com

Lokasi Kegiatan : FK Unila
Belanja yang diusulkan : Rp. 9.540.000,00 (Sembilan Juta Lima Ratus
Empat Puluh Ribu Rupiah)

Bandar Lampung, Maret 2014
Mengetahui
Dekan FK Universitas Lampung Peneliti,

Dr. Sutyarso, M. Biomed dr. Rika Lisiswanti, MMedEd
NIP. 195012231977102001 NIP.198010052008122001

Menyetujui
Ketua Penelitian Universitas Lampung

Dr. Eng. Edmi Syarif
NIP : 196701031992031003

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul ……………………………………………………. i
Lembar Pengesahan ………………………………………………. ii
Lembar Pernyataan …………………………………………… iii
Kata Pengantar …………………………………………………… iv
Daftar Isi ……………………………………………. vi
Daftar Tabel ……………………………………………………. viii
Daftar Gambar ……………………………………………………. ix
Daftar Lampiran …………………………………………………….. x
Abstrak ……..……………………………………………… xi
BAB I. Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah …………………………………….. 1
B. Perumusan Masalah ……………………………………. 5
C. Tujuan Penelitian …………………………………….. 6
D. Manfaat Penelitian …………………………………….. 6
E. Keaslian Penelitian ……………………………………… 6
BAB II. Tinjauan Pustaka
A. Telaah Pustaka ..…………………………………………… 8
B. Kerangka Teori ………………………….…………………. 32
C. Kerangka Konsep ……..………………………..………….. 33
D. Pertanyaan Penelitian …..……………………………….. 33
E. Hipotesis Penelitian ………………………….………….. 33
BAB III. Metode Penelitian
A. Rancangan Penelitian …………………………………….. 34
B. Tempat dan Waktu Penelitian …………………………….. 42
C. Subjek Penelitian ……………………………………………. 42
D. Identifikasi Variabel Penelitian …………………………….. 43
E. Definisi Operasional ……………………………………. 43
F. Metode Pengumpulan Data ……………………………. 44
G. Metode Pengolahan Data …………………………………. 47
H. Etika Penelitian ……………………………………………. 49
I. Keterbatasan Penelitian …………………………………… 49
J. Jalannya Penelitian ………………………………………….. 50

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung sudah menerapkan pendekatan pembelajaran dengan kurikulum PBL. PBL mengharuskan mahasiswa untuk belajar secara mandiri. Sebagai pembelajar mandiri mahasiswa seharusnya diberikan keterampilan untuk memfasilitasi mereka meningkatkan pemahaman dan memberikan keterampilan. FK Unila belum memberikan keterampilan belajar kepada mahasiswa, seperti yang disebutkan di atas, dunia kedokteran akan terus berkembang. Metode pembelajaran pun terus berkembang seperti diterapkannya sistem PBL yang mengharuskan mahasiwa lebih banyak belajar mandiri, berfikir kritis sehingga mereka bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak.
Berdasarkan data yang ada tentang nilai ujian blok mahasiswa sejak tahun 2009 sampai 2012, nilai rata-rata ujian akhir blok cukup rendah. Mahasiswa angkatan 2008 selama belajar tahun peratama nilai rata-rata ujian blok 50, tahun kedua 47,5, tahun, ketiga 54,6. Mahasiswa yang masuk tahun 2009 selama tahun pertama nilai rata-rata ujian akhir blok adalah 57,7 tahun kedua 56,3. Mahasiswa yang masuk tahun 2010 nilai rata-rata blok Bioetika 64,5, blok basic medical science (dasar kedokteran) 41,9. Sedangkan angkatan 2011 nilai rata-rata ujian akhir blok Medical Basic Science adalah 28,3.
Rendahnya nilai mahasiswa ini kemungkinan banyak penyebabnya, sesuai dengan model yang diusulkan oleh Huitt’s (2003) menyatakan bahwa hasil belajar mahasiswa dipengaruhi oleh perilaku mahasiswa, motivasi, gaya belajar, intelejensinya. Perilaku mahasiswa dalam belajar dan bagaimana mereka belajar. Motivasi dapat meningkatkan proses belajarnya baik motivasi instrinsik dan ekstrinsik. Gaya belajar juga mempengaruhi hasil belajar kerena setiap mahasiswa mempunyai gaya belajar sendiri seperti visual, audio, kinestetik dan membaca/menulis. Sedangkan dari dosen yaitu prilaku dosen, kemampuan dosen, pengetahuan dosen dan keterampilan dosen. Kemampuan dosen dalam membuat metode pengajaran, menyusun instructional design sehingga mahasiswa mencapai pembelajarannya. Pengetahuan tentang materi yang diajarkan harus dikuasai oleh dosen. Kebijakan kampus terhadap sistem pengajaran, penilaian dan lingkungan belajar. Kebijakan dalam kurikulum jika kurikulum yang tidak sesuai dengan karakter mahasiswa atau tidak dilaksanakan dengan baik maka hasilnya juga kurang baik. Sistem penilaian yang berlebihan atau tidak sesuai dalam menilai apa seharusnya yang dinilai juga menyebabkan hasil yang kurang baik. Wawancara dengan mahasiswa menanyakan mengapa nilai mereka selalu rendah setiap ujian blok? Mereka mengatakan tidak sempat belajar untuk persiapan ujian karena padatnya jadwal perkuliahan dan banyaknya bahan. Sedangkan motivasi, menurut dosen yang mengajar di FK Unila mengatakan bahwa motivasi mahasiswa untuk belajar rendah jika dilihat dari hasil ujian mahasiswa dari blok ke blok.
Selain keterampilan belajar yang dapat meningkatkan pengetahuan mahasiswa, motivasi juga dapat mempengaruhi pencapaian hasil pembelajaran mahasiswa. Motivasi merupakan salah satu faktor yang terpenting dalam pemebelajaran dan pencapaiannya, penerimaan terhadap tugas, kepercayaan diri tentang pembelajaran ditentukan oleh motivasi (Pelaccia et al, 2009).
Menjadi seorang dokter merupakan profesi yang mengharuskan belajar sepanjang hayat, sebagai profesi dan pendidikan yang selalu berubah, pendekatan baru harus dirubah dan perlu diajarkan kepada mahasiwa sehingga mereka memperoleh banyak pengetahuan, mengintegrasikan pengetahuan berfikir kritis dan memecahkan masalah yang komplek (Daley & Torre 2010; Quirt, 2006). Sekarang ini sudah banyak dikembangkan metode dan pendekatan belajar berdasarkan prinsip teori-teori pembelajaran. Salah satunya adalah alat peta (mapping tool), salah satu alat yang banyak digunakan sekarang adalah mind mapping, concept mapping dan argument mapping (Davies, 2010). Semua alat mapping tersebut sama tetapi hanya beda pada penerapannya. Mind mapping membantu mahasiswa membayangkan dan mengasosiasikan antara konsep. Sedangkan concept map membantu mahasiswa mengerti hubungan antara konsep, mengerti konsep dan domain yang mereka punyai. Sedangkan argument konsep membantu mahasiswa melihat hubungan inferensial antara proposisi dan konten serta mengevaluasi validitas kesimpulan (Davies, 2010).
Mind mapping pertama kali dikembangkan oleh Tony Buzan tahun 1970. Mind mapping dikembangkan melalui catatan yang diambil secara visual oleh ilmuan terkenal, orang-orang mesir kuno menggambar dan hieroglyphics (Abdolahi, 2011). Mind mapping adalah suatu diagram yang merepresentasikan kata, ide, dan tugas lainnya yang diasosiasikan dengan topik (Wicramasinghe, 2007). Mind mapping banyak digunakan dalam pendidikan, bisnis, kepemimpinan. Mind mapping melibatkan hemisper otak kiri dan otak kanan manusia (Buzan & Buzan, 1993). Dalam pendidikan mind mapping dapat digunakan baik dalam mengajar atau belajar mahasiswa. Mind mapping menggunakan garis tebal, warna, gambar, dan diagram untuk mengumpulkan informasi (Davies, 2010). Mind mapping pertama kali dikembangkan oleh Tony Buzan tahun 1970. Mind mapping berguna untuk mahasiswa dalam belajar dalam hal mengorganisasikan, mengintegrasikan dan mengingat informasi. Mind mapping sudah banyak digunakan dalam pendidikan klinik sebagai sumber belajar, mecatat perkuliahan, mencatat informasi tertulis, mereviu dengan cepat serta mudah diperbaruhi (Sandra et al, 2010). Mind mapping dapat digunakan dalam berbagai situasi seperti problem-based learning (PBL), kelompok kecil dan alat penilaian (Sandra & Cooper, 2010).
Mind mapping bermanfaat dalam pemecahan masalah, berfikir kritis, mengingat kembali informasi, serta mengetahui keseluruhan konsep yang dipelajari serta digunakan sebagai penilaian (Noonan 2012). Mind mapping dapat digunakan sebagai alat bantu belajar dan mudah diajarkan kepada mahasiswa yang tidak mempunyai latar belakang mind mapping serta alat ini cukup murah dan menarik (D’Antoni, 2010). Mind mapping sesuai untuk kurikulum pendidikan dengan menggunakan pendekatan PBL, keduanya mendorong mahasiswa belajar lebih dalam. Sebelum menerapkan mind mapping, pelatihan yang efektif akan mendorong mahasiswa menerapkan mind mapping. Dengan menggabungkan dengan sesi keterampilan belajar lainnya pada awal pembelajaran PBL (Farrand, 2002).
Sebagai salah satu kerangka berpikir dan merupakan strategi belajar, peta pikiran mampu meningkatkan pemahaman dan pengalaman belajar mahasiswa. Sebagai dasar teori yang mendasari peta pikiran adalah teori belajar konstruktif, asimilasi pengetahuan dan media. Pembuatan kerangka berpikir dari peta pikiran merupakan cara berpikir kita membangun pengetahuan, pendekatan dari teori belajar konstruktif ini yaitu kita mengintegrasikan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru. Teori pendekatan konstruktif yang dapat meningkatkan pemahaman yang lebih mendalam sehingga dapat meningkatkan motivasi instrinsik serta terlibat aktif dalam proses belajar. Teori lain yang mendasari penggunaan peta pikiran ini adalah teori asimilasi oleh Ausubel. Teori ini mengatakan pengetahuan baru diasimilasikan ke dalam pengetahuan atau pemahaman yang relevan dengan yang sudah ada dituangkan dalam bentuk skema. Pembuatan skema atau kerangka pikiran terutama pada saat mencatat kembali (note taking) teori ini sangat berperan. Peta pikiran merupakan media yang dikreasikan, berwarna dan ini sesuai dengan teori pembelajaran media oleh Mayer, melalui media dapat meningkatkan proses belajar mahasiswa dan cukup menarik untuk mahasiswa. Teori pendekatan proses informasi merupakan dasar penggunaan peta pikiran. Kemampuan mengingat informasi dan mempertahankan memori pada tahap rehearsal atau pengulanngan dapat ditingkatkan melalui formulasi keyword dan mnemonic (Buzan & Buzan, 1993; Santrock, 2011; D’Antoni, 2009; Bodner, 1986; Novak, 2010; Evrekli et al., 2009; Mayer, 2009).
Penelitian yang dilakukan oleh Abdolahi, 2011 untuk melihat keefektifan mind mapping dalam pengajaran anatomi mendapatkan bahwa mind mapping lebih efektif dibandingan metode tradisional. Begitu juga penelitian yang dilakukan oleh Farrand et al. (2002) meneliti bahwa mind mapping lebih efektif pada informasi yang didapat secara tetrulis dan motivasi lebih rendah dari pada metode mandiri (Abdolahi, 2011; Farrand et al., 2002).
Survei awal yang dilakukan pada bulan November 2012 dengan membagikan kuesioner tentang strategi belajar. Mahasiswa angkatan 2009, 2010 dan 2011 sebagian besar mengunakan strategi belajar yaitu mengulang membaca pelajaran, membuat ringkasan, mencatat ulang dan membaca buku, membaca bahan dari dosen dan diskusi dengan teman, hanya sedikit yang menggunakan peta pikiran dalam mencatat, menyimpulkan pelajaran ataupun dalam pbl. Angkatan 2012, 100 orang dari 170 orang sudah menggunakan peta pikiran dalam belajar. Penelitian yang dilakukan oleh Rika (2013) pada mahasiswa FK Unila didapatkan bahwa terdapat hubungan positif lemah antara skor peta pikiran dengan hasil belajar. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peelitian selanjutnya sebaiknya dengan eksperimental sehingga terlihat pengaruh peta pikiran terhadap hasil belajar.
Di Indonesia mind mapping ini sudah diperkenalkan kepada sekolah-sekolah dan pemberian pelatihan disekolah-sekolah di Indonesia. Di pendidikan kedokteran sendiri baru dikembangkan. Fakultas Kedokteran Universitas Lampung belum memberikan pembelajaran kepada mahasiswa bagaimana belajar. Mind mapping berguna untuk pemahaman, pemecahan masalah atau critical thinking.
Pelajaran fisiologi merupakan pelajaran ilmu kedokteran dasar yang dipelajari oleh mahasiswa pada tahun pertama FK Unila. Pelajaran fisiologi merupakan pelajaran yang cukup sulit bagi mahasiswa selama ini. Mahasiswa sulit menghubungkan dan mengasosiasikan antara konsep. Penerapan mind mapping pada pelajaran fisiologi diharapkan mahasiswa mampu memahami materi fisiologi.

1.2. Identifikasi masalah
Berdasarkan latar belakang di atas penulis mencoba melihat keefektifan metode mind mapping terhadap pemahaman mahasiwa. Sehingga penulis bisa menerapkan keterampilan belajar kepada mahasiwa khususnya mind mapping.

1.3. Batasan Masalah
• Apakah pengetahuan mahasiswa menggunakan mind mapping pada pembelajaran fisiologi lebih baik dari pada mahasiswa yang tidak menggunakan mind mapping?
• Apakah motivasi mahasiswa yang menggunakan mind mapping pada pembelajaran fisiologi lebih baik dari pada mahasiswa yang tidak menggunakan mind mapping?
1.4. Tujuan
• Melihat pengaruh menggunakan mind mapping terhadap pengetahuan mahasiswa pada pembelajaran fisiologi dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak menggunakan mind mapping.
• Melihat pengaruh mind mapping terhadap motivasi mahasiswa pada pembelajaran fisiologi dibandingkan dengan mahasiswa tanpa menggunakan mind mapping.
1.5. Manfaat
a. Aplikatif
• Mengetahui efektifitas mind maping terhadap pelajaran fisiologi
• Mengetahui efektifitas mind mapping terhadap pengetahuan mahasiswa
• Melihat motivasi mahasiswa dalam pembelajaran dengan menggunakan mind mapping
• Meningkatkan pemahaman dan pengetahuan mahasiswa
• Dosen dapat menerapkan kemampuan mengajar di dalam kelas
b. Teoritis
Mengetahui manfaat teori belajar konstruktif dalam pendidikan kedokteran.
1.6. Keaslian penelitian
Penelitian ini adalah replikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Farrand et al., (2002). Tujuan penelitian adalah melihat keefektifan peta pikiran untuk meningkatkan mengingat informasi dan motivasi pada mahasiswa kedokteran tahun kedua dan ketiga Universitas London. Rancangan penelitiannya adalah kuasi eksperimental dengan cara mengelompokan mahasiswa dengan karakteristik yang sama menjadi dua kelompok yaitu kelompok menggunakan peta pikiran dan kelompok dengan kelompok teknik belajar pilihan sendiri. Data dasar mahasiswa diambil serta pada saat yang sama diberikan teks tentang transportasi sebanyak 600 kata dan tes singkat. Mahasiswa membuat kata kunci, membaca ulang atau menggaris bawahi. Setelah 10 menit teks tersebut dikumpulkan. Kemudian diberikan pre-tes selam 5 menit dengan 3 pertanyaan tentang ingatan teks tersebut. Kemudian mengumumkan kepada kelompok kontrol untuk kembali 30 menit lagi. Sedangkan kelompok peta pikiran dilatih teknik peta pikiran dan menyuruh mereka menerapkannya pada teks yang diberikan nanti. Kemampuan mengingat diuji (15 pertanyaan esai) setelah intervensi dan seminggu sesudahnya. Motivasi mahasiswa juga dinilai. Analisis data dengan menggunakan ANOVA untuk membandingkan masing masing hasil ujian esai anatar kelompok peta pikiran dan kontrol serta skor motivasi. Hasilnya meningkatnya kemampuan mengingat lebih besar 10% dari data awal. Sedangkan motivasi kelompok dengan peta pikiran lebih rendah.
Penelitian kali ini juga menggunakan rancangan kuasi eksperimental untuk melihat pengaruh peta pikiran terhadap pengetahuan mahasiswa. Sampel adalah mahasiswa tahun kedua Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Kerangka konsepnya sama dengan penelitian Farrand et al. (2000). Variabel bebas adalah peta pikiran dan teknik mencatat yang standar. Variabel terikatnya adalah pengetahuan mahasiswa (soal MCQ) dan motivasi mahasiswa (kuesioner MSQL). Mahasiswa dilakukan matching terlebih dahulu dengan menggunakan data nilai blok yang sudah ada dan jenis kelamin. Kemudian diberikan teks berisi materi kedokteran 600 kata dan mahasiswa hanya boleh menggaris bawahi, menuliskan kata kunci. Kemudian diadakan pretes selama 20 menit dengan soal MCQ sebanyak 10 butir selama 10 menit dan menjawab kuesioner motivasi (MSQL) selama 30 menit. Setelah itu mahasiswa kelompok peta pikiran diajarkan bagaimana membuat peta pikiran selama 30 menit. Setelah itu teks yang sama diberikan lagi dan mahasiswa mencatat dengan peta pikiran dan kelompok kontrol mencatat cara biasa selama 30 menit. Kemudian diberikan post-test dan kuesioner motivasi. Analisis yang digunakan adalah independent t-test untuk membandingkan nilai rata-rata MCQ kelompok peta pikiran dengan kelompok kontrol. Paired t-test untuk membandingkan hasil rata-rata nilai MCQ pre-test dan pos-test kelompok peta pikiran dan juga untuk kelompok kontrol. Sedangkan analisis kuesioner MSQL dengan ANOVA.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.1. Telaah Pustaka

2.1.1 Peta pikiran
a. Pengertian peta pikiran
Peta pikiran pertama kali dikembangkan oleh Buzan tahun 1970. Pengertian peta pikiran banyak didapatkan dalam literatur. Peta pikiran adalah suatu grafik atau kerangka berpikir yang berbentuk radian yang mampu mengasosiasikan, menghubungkan antara konsep atau kata yang logis, bergambar, adanya warna (Buzan & Buzan, 1993). Peta pikiran merupakan salah satu cara untuk mencatat (note taking) yang berguna dalam menghubungkan berbagai ide serta dapat membantu mengorganisasikan informasi sehingga kita mudah mengingat informasi tersebut (Reid, 2006). Asosiasi merupakan keistimewaan dalam peta pikiran, asosiasi dapat mencetuskan ide dan hubungan antar informasi (Reid, 2006). Peta pikiran adalah suatu kerangka yang mampu menghubungkan dan mengasosiasikan secara radian non linear, konsep besar berada disentral dan sub konsep di percabangan dengan adanya unsur-unsur garis, gambar dan warna.
Peta pikiran merupakan salah satu kerangka berpikir untuk meningkatkan pemahaman. Kerangka berpikir sudah dikembangkan banyak ahli. Jenis kerangka pikiran yang banyak dipakai adalah peta pikiran, peta konsep, peta argumen, peta berpikir, peta web, diagram konseptual dan visual metapora (Aydin & Balim, 2009; Okada et al., 2007; Epler, 2006). Peta pikiran berbeda dengan peta konsep dan peta argumen. Peta pikiran merupakan suatu variasi dari peta pikiran, pada peta pikiran judul topik terletak pada paling atas kemudian disusun ke bawah secara hirarki. Peta konsep merupakan suatu peta yang menjelaskan konsep dengan memakai urutan tingkatan atau hirarki dan tersusun dari judul kemudian turun ke arah bawah subtopik sampai ke ujung. Peta konsep didefinisikan sebagai suatu alat berbentuk grafik yang merepresentasikan dan menggambarkan pengertian dan pemahaman menjadi sebuah konsep. Peta konsep dikembangkan oleh Novak and Gowin berdasarkan teori asimilasi pembelajaran oleh Ausbel. Sedangkan peta argumen lebih berfokus pada mengembangkan struktur dari kesimpulan (Meier, 2007; Torre et al., 2007; Davies 2010; Daley & Torre, 2010).
Perbedaan peta konsep dan peta pikiran terletak pada linearnya, peta pikiran cara berpikir non linear yang berbeda dengan cara berpikir kita selama ini. Peta pikiran menampilkan semua ide atau konsep dalam satu halaman (Mueller et al., 2002). Menurut Mueller (2002) dalam peta pikiran semua ide akan berada saling berdampingan bersama-sama dalam satu halaman. Keunikan dari peta pikiran adalah mahasiswa mempunyai cara unik untuk membuat dan menghubungkan antara ide sehingga akan terlihat cara berpikir mahasiswa atau seseorang itu mempunyai keunikan (Heinrich, 2001).

Tabel 1 Perbedaan peta pikiran, peta konsep dan peta argumen oleh (Epler, 2006; Davies, 2010)
Perbedaan Peta pikiran Peta konsep Diagram konseptual Peta argumen
Tujuan Asosiasi antar ide, topik, konsep Hubungan antara konsep Menentukan kategori Menyimpulkan antara pernyataan (premis)
Bentuk Radial Hirarki Diagram Hirarki seperti pohon
Hubungan antar konsep Linear Non linear
(asosiasi) Linear Linear
Tingkat kesulitan Rendah Sedang Sedang-tinggi Tinggi
Kemampuan mengingat Sedang-tinggi Rendah Rendah-sedang rendah
Kemampuan dibaca orang lain Rendah Tinggi Sedang Tinggi
Konsep Semua konsep Konsep besar Struktur informasi untuk menentukan kategori Antara persoalan
Fungsi Menunjukan sistematika hubungan subkonsep penting Semua konsep dan subkonsep Analisis topik melalui kerangka analitik Menyimpulkan atau membuat premis
Kegunaan Menyimpulkan kata kunci topik Curah pendapat, perencanaan, note taking Mendefisikan kategori Akutansi
Unsur Kotak atau bulatan Gambar, garis, warna, adanya topik sentral Kotak dan panah Kotak, garis, warna, garis tebal
Metode pembuatan Mulai dari topik utama dipaling bawah atau atas Dimulai dari sentral Kanan kekiri, atas bawah Atas kebawah kesimpulan yang diambil
Konteks penerapan Kelas, belajar mandiri, revisi Note taking, brainstorming dan telaah ulang Presentasi, slide, ilustrasi Membaca komprehensif, analisis

Peta pikiran mempunyai kelebihan dan kekurangan. Menurut Davies (2010) kelebihan peta pikiran adalah dapat menghubungakan antara konsep, bentuk dan format bebas diekspresikan, lebih berpikir secara kreatif, lebih fokus terhadap topik, strukturnya tidak kaku, semua ide bisa dimasukan dalam peta pikiran, mendorong menggali pendapat, berwarna dan bergambar yang menarik. Konsep yang dihubungkan dalam peta pikiran merupakan semua konsep yaitu konsep besar dan sub konsep. Format peta pikiran tidak ada yang baku dan kaku, setiap orang bebas membuat peta pikiran yang terpenting memenuhi syarat yang diusulkan oleh Buzan. Membuat gambar adalah kreasi dari pikiran seseorang yang diekspresikan dalam bentuk gambar. Adanya warna dalam peta pikiran menambah kreasi dari peta pikiran. Peta pikiran mampu mengeluarkan ide-ide yang terpikirkan oleh seseorang.
Sedangkan kekurangannya adalah seseorang lebih mengingat diagram dari pada gambaran keseluruhan, hubungan yang dibuat hanya bersifat asosiasi (abstrak), tidak adanya hubungan yang jelas antara berbagai ide, susah untuk orang lain membaca peta pikiran seseorang, hanya menampilkan hubungan secara radian, konsep kadang tertutupi oleh gambar dan proses belajar yang terjadi tidak alami.

2.1.2 Tingkatan kemampuan membuat peta pikiran
Untuk menilai apakah peta pikiran yang dibuat sudah memenuhi syarat atau belum maka para peneliti mencoba mencari alat untuk penilaian tersebut. Walaupun sebenarnya pembuatan tidak ada aturan yang ketat tetapi tergantung dari kreasi masing-masing orang (Heinrich, 2001). Buzan (1993) menciptakan hukum pembuatan peta pikiran jika memenuhi hukum ini maka peta pikiran sudah dianggap bagus. Hukum pembuatan peta pikiran tersebut adalah:
a. Selalu menggunakan gambar ditengah. Gambar yang dibuat tergantung gaya masing-masing orang, warna yang dipakai lebih dari tiga untuk gambar tengah, dapat menggunakan gambar berdimensi, perasaan juga terlibat dalam pembuatan peta pikiran, ukuran gambar dibuat bervariasi, garis yang dipakai berbeda ukuran, organisasi ruangan yang dipakai harus tepat.
b. Asosiasi yaitu menggunakan panah jika ingin menghubungkan, menggunakan warna dan kode.
c. Kejelasan yaitu menggunakan satu kata pergaris, mencetak semua kata, mencetak kata kunci, panjang garis sama dengan panjang kata, menghubungkan garis dengan garis, garis tengah dibuat lebih tebal, buat batasan yang jelas antara cabang, membuat gambar dengan jelas, posisi kertas horizontal dan gambar dibuat tegak.
d. Mengembangkan gaya masing-masing. Setiap orang mempunyai gaya masing-masing dan bebas mengekspresikan pikiran dan kreasinya. Disinilah peta pikiran menjadi menarik, peta pikiran tidak akan sama antara orang satu dengan yang lainnya.
Para peneliti juga mengembangkan sistem penilaian yaitu sistem Scoring MMAR (Mind Mapping Assessment Rubric) untuk menilai apakah peta pikiran sudah efektif atau memenuhi syarat. Kriteria penilaian tersebut adalah (1) level 1 hubungan konsep (2 poin jika valid), (2) level 2 hubungan konsep (4 poin jika valid), (3) level 3 hubungan konsep (6 poin jika valid), (4) level 4 hubungan konsep (8 poin jika valid), (5) cross link (10 poin jika valid) (6) contoh (1 poin masing-masing jika valid, (7) hubungan (3 poin jika valid), (80 gambar, bentuk (3 poin jika valid), (9) invalid komponen (0). Untuk menilai kriteria peta pikiran sudah bagus atau belum Buzan sudah mengusulkan hukum pembuatan peta pikiran “ The Mind Map Law” (D’Antoni et al., 2009; Evrekli et al., 2010).
Kemampuan membuat peta pikiran tidak sama untuk semua orang, tergantung berapa seringkah seorang menggunakan peta pikiran. Orang yang pertama kali menggunakan peta pikiran, baru terpapar belum pernah melakukan sebelumnya, orang ini disebut novice (baru). Pada tingkatan ini butuh pelatihan dan membaca buku mengenai peta pikiran. Moderate adalah tingkatan kedua, pada tingkat ini seorang masih membutuhkan latihan untuk menjadi mahir atau terampil. Kemudian tingkatan ketiga adalah advance, disini seseorang sudah menguasai baik teori dan cara membuat peta pikiran (Buzan & Buzan, 1993).

b. Kegunaan peta pikiran
Peta pikiran dapat membantu kita dalam banyak segi kehidupan. Peta pikiran membuat rencana misalnya perencanaan anggaran, perencanaan masa depan dan perencanaan suatu proyek. Komunikasi ide atau pikiran kita kedalam suatu skema dan gambar. Berpikir kreatif terlihat dari gambar-gambar dan struktur peta pikiran yang kita buat. Waktu yang dibutuhkan untuk mencatat dengan peta pikiran menjadi lebih sedikit dibanding dengan mencatat cara biasa. Kita dapat menyelesaikan suatu masalah dengan memetakan masalah dan ide serta alternatif pemecahan dapat kita tuliskan di peta. Peta pikiran juga bisa memusatkan perhatian kita pada suatu topik atau isu dengan adanya isu sentral pada peta pikiran. Peta pikiran digunakan untuk menyusun dan menjelaskan pikiran, mengingat, belajar efisien dan melihat gambaran secara keseluruhan konsep (Buzan, 2011).
Kegunaan peta pikiran dalam Buku Buzan & Buzan (1993):
1. Memecahkan masalah pribadi
2. Memecahkan masalah interpersonal
3. Sebagai diari
4. Perencanaan bulanan
5. Perencanaan kehidupan
6. Menulis esai, mencatat dari buku atau kuliah dari unsur linear kedalam non linear
7. Saat ujian yaitu dengan membuat peta pikiran mini kemudian menuliskan pertanyan dan jawaban secara cepat
8. Laporan pekerjaan atau proyek
9. Laporan penelitian: mencatat sumber, menulis hasil, mengorganisasikan dan integrasikan ide, dasar untuk presentasi atau penulisan
10. Peta pikiran untuk pengajaran
11. Peta pikiran untuk memimpin rapat
12. Manajemen
Peta pikiran dalam bidang pendidikan digunakan sebagai alat yang membantu mahasiswa menentukan konsep-konsep penting. Peta pikiran merupakan salah satu cara untuk meningkatkan keefektifan proses pembelajaran selain membuat variasi aktivitas kelas. Menurut peta pikiran juga bermanfaat untuk membuat literatur reviu yang dapat mengidentifikasi keseluruhan isi literatur, membaca keseluruhan materi yang ada, menuliskan semua ide-ide dan menambahkan kalimat, menghubungkan antara berbagai ide dan mengorganisasikan konsep dari literatur. Dalam penelitian untuk membuat perencanaan penelitian, penyusunan proposal, metodologi dan analisis hasil penelitian dapat menggunakan peta pikiran (Reid, 2006; Heinrich, 2001, Crowe, 2011).
Peta pikiran dapat digunakan sebagai panduan mengajar, supervisi aktifitas pembelajaran, diagram untuk menganalisis data kualitatif. Peta pikiran mudah digunakan, metode yang alami dan tidak membutuhkan waktu (Kern et al., 2003). Penggunaan peta pikiran ini sudah diusulkan sebagai inovasi strategi belajar pada kurikulum keperawatan dan sudah diterima secara positif oleh pengajar. Peta pikiran banyak digunakan dalam berbagai bidang pekerjaan pendidikan, bisnis, akutansi, penelitian, proyek, rapat, kedokteran, keperawatan. Pada pendidikan keperawatan dan kebidanan peta pikiran digunakan sebagai pengumpulan data, evaluasi data pasien, data pemeriksaan fisik, diagnosis, hasil laboratorium, pengobatan dan interaksi dengan pasien. Pada sekolah kebidanan peta pikiran banyak digunakan sebagai cara mencatat, ujian, penugasan, penelitian, praktek klinis dan rencana dan akan dipakai sebagai salah satu alat penilaian (Kern et al., 2003; Noonan, 2012; Bharathi & Kumar, 2003; Mueller et al., 2002; Crowe & Sheppard, 2012 ).
Peta pikiran dalam kelompok juga dapat meningkatan pemahaman dan integrasi pembelajaran, hasilnya akan sama jika mahasiswa melakukan diskusi dengan anggota kelompok serta dalam kelompok dapat membagi ide dan informasi, memperbaiki peta pikiran yang sudah dibuat dan peta pikiran yang dihasilkan lebih banyak. Peta pikiran dibuat dengan kelompok efektifitasnya hampir sama dengan peta pikiran yang dibuat sendiri (Buzan & Buzan, 1993). Peta pikiran dengan kelompok merupakan hal menyenangkan, anggota kelompok mampu memecahkan masalah bersama-sama sehingga mampu membangun kerjasama antara anggota kelompok.

c. Peta pikiran sebagai alat pencatat (note taking)
Sebelum membahas peta pikiran sebagai alat pencatat sebaiknya kita definisikan terlebih dahulu perbedaan istilah note making dan note taking. Note making adalah menuliskan atau mencatat hasil dari pikiran atau ide kita sendiri. Note taking adalah mencatat atau menuliskan kembali ide dari orang lain misalnya kuliah, video, media, drama dan presentasi sesorang. Note making mencatat pikiran sendiri merupakan brainstorming dari pikiran kita misalnya kita gunakan dalam perencanaan. Note taking sebaiknya memasukan ide dari penulis sendiri (Buzan & Buzan, 1993).
Peta pikiran sebagai note taking diusulkan oleh Buzan, note taking dengan peta pikiran lebih efektif dari pada note taking secara tradisional. Waktu yang dibutuhan lebih sedikit, menyimpulkan lebih banyak konsep dalam satu halaman, menurut Buzan (1993) kesimpulan yang bisa dibuat dengan peta pikiran bisa 10-1000 halaman. Konsentrasi menjadi meningkat terhadap suatu kasus karena adanya konsep atau isu sentral. Adanya kata kunci dapat meningkatkan ingatan yang mudah untuk diingat. Hubungan antara kata kunci satu dan lainnya terlihat jelas. Peta pikiran sesuai dengan girus-girus alami otak, non linear sehingga mudah untuk diingat. Mencatat dengan peta pikiran, informasi dan pengetahuan dari yang dibaca akan meningkatkan pemahaman secara komprehensif teks yang dibaca.
Menurut Buzan fungsi peta pikiran sebagai note taking adalah
a. Mnemonic (berkenaan dengan ingatan) mampu meningkatakan ingatan
b. Analisis dengan mencatat. Dengan analisis kita dapat menentukan hubungan antara informasi, pada saat ini otak kita melakukan analisis terhadap informasi yang didapat baik melalui kuliah, presentasi atau informasi tertulis lainnya.
c. Kreatif. Pada saat membuat peta pikiran otak kita sebenarnya membuat suatu kreativitas membuat gambar, warna dan asosiasi. Warna berfungsi menstimulasi otak, meningkatkan memori visual dan membuat kita berpikir aktif dan kreatif (Buzan, 2007)
d. Konversasional. Pada saat mencatat dari perkuliahan kita sebenarnya mengadakan interaksi antar pikiran dan sumber informasi.
Penelitian yang dilakukan oleh Farrand et al. (2002), D’Anthoni et al. ( 2009), Aydin & Balim (2009), Wickramasinghe et al. (2007) adalah penelitian untuk melihat efektifitas peta pikiran sebagai note taking. Semuanya menyarankan peta pikiran dapat digunakan sebagai strategi belajar untuk mahasiswa walaupun hasil yang didapat tidak signifikan. Hasil yang tidak signifikannya mungkin disebabkan oleh belum terampilnya mahasiswa dalam membuat peta pikiran karena peta pikiran baru diajarkan 30 menit sebelum latihan mencatat. Seperti yang diusulkan oleh Dreyfus tentang pencapaian atau kompetensi (skills acquisition) dari suatu keterampilan. Terdapat empat tahap seorang tersebut dinyatakan master terhadap suatu keterampilan. Tingkatan pertama novice yaitu seseorang baru melakukan keterampilan tersebut. Kedua yaitu advance beginer yaitu sudah mulai berkembang. Ketiga kompeten yaitu sudah menyadari dan mengikuti standar. Ketiga adalah ahli dan keempat adalah expert. Tetapi dalam peta pikiran Buzan hanya membagi atas tiga tingkatan yaitu novice, intermediate dan advance.
d.Pembuatan peta pikiran
Peta pikiran sangat mudah dibuat serta alami, alat-alat yang dibutuhkan sangat mudah yaitu kertas kosong tak bergaris, pena dan pensil warna, otak dan imajinasi. Kertas yang diusulkan untuk membuat peta pikiran yaitu kertas kosong tidak bergaris yang berukuran. Usulan cara membuat peta pikiran di mulai dari bagian tengah kertas kosong, yang sisi panjangnya diletakkan mendatar, gunakan gambar atau foto untuk ide sentralnya, menggunakan warna kemudian menghubungkan cabang-cabang utama ke gambar pusat dan hubungkan cabang-cabang tingkat dua dan tiga ke tingkat satu dan dua dan seterusnya, garis penghubung dibuat melengkung, bukan lurus karena garis lurus akan membosankan otak dan gunakan satu garis untuk satu kata (Buzan & Buzan, 1993; Buzan T, 2012; Davies, 2010).

e. Penelitian yang berkaitan dengan peta pikiran
Farrand et al., (2002) meneliti keefektifan peta pikiran terhadap pengetahuan dan motivasi mahasiswa dibandingkan dengan strategi mereka sendiri. Metode yang digunakan adalah kuasi eksperimental yang membagi mahasiswa menjadi dua kelompok yaitu peta pikiran dan startegi biasa. Hasilnya peta pikiran lebih efektif pada memori jangka panjang yang dan motivasi lebih rendah dari pada metode mandiri. Motivasi mahasiswa lebih rendah pada penelitian ini bisa dipengaruhi oleh ketidakpercayaan diri mahasiswa pembuatan peta pikiran disebabkan peta pikiran baru diajarkan kepada mahasiswa. Sedangkan yang mahasiswa dengan strategi sendiri lebih terbiasa dengan cara mereka sehingga mereka lebih senang sehingga motivasinya rendah. Tetapi bila peta pikiran bukan hal baru bagi mahasiswa mungkin lebih disenangi karena sudah terbiasa. Farrand et al. (2002) menetapkan perbedaan rata-rata nilai mahasiswa anatar kelompok peta pikiran dan kelompok tidak menggunakan pikiran adalah 10% sedangkan motivasi 15%. menyarankan peta pikiran tetap bisa digunakan untuk meningkatkan pengetahuan. Analisis data seharusnya menggunakan independet t-tes dan paired t-tes untuk membandingkan nilai pengetahuan. Materi yang diberikan kepada mahasiswa sebaiknya materi kedokteran yang belum dikenal mahasiswa. Jumlah mahasiswa sebagai sampel juga sedikit hanya 31 orang. Pemberian tes aritmatika untuk menghilangkan efek hafalan mungkin diberikan video yang bisa menyegarkan mahasiswa.
Wickramasinghe et al. (2007) juga melakukan evaluasi keefektifan peta pikiran dibanding cara belajar lain untuk mahasiwa yang baru masuk fakultas kedokteran dengan disain penelitian yang sama. Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara mahasiswa menggunakan peta pikiran dengan yang tidak terhadap memori jangka pendek. Penelitian ini sama dengan yang dilakukan oleh Farrand et al. (2002) tetapi tes yang dilakukan dengan soal esai. Seperti penelitian sebelumnya mahasiswa juga baru menggunakan peta pikiran sehingga belum terbiasa dan menyebabkan keraguan pada diri mahasiswa. Kita melihat penjelasan di atas bahwa keterampilan peta pikiran juga mempunyai tingkatan. Jurnal tersebut tidak menjealskan bagaimana pet pikiran diajarkan dan materinya apa yang diajarkan. Penelitian ini tidak mejelaskan sesi secara lengkap. Analisis data juga tidak dijelaskan.
D’Antoni et al. (2010) melihat pengaruh peta pikiran terhadap berpikir kritis mahasiswa yang diberikan perkuliahan kemudian mencatat melalui peta pikiran, hasilnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara yang menggunakan peta pikiran dan tidak menggunakan terhadap berpikir kritis mahasiswa. Penelitian ini menambahkan variabel yang dinilai yaitu berpikir kritis. Hal ini juga sama yang terjadi dengan penelitian oleh peneliti sebelumnya dimana mahasiswa juga baru dipaparkan dengan peta pikiran dan tidak ada waktu jeda antara presentasi peta pikiran dengan note taking yang dilakukan oleh kelompok peta pikiran dan strategi standar. Untuk berpikir kritis juga tidak ada perbedaan ini menurut D’Antoni et al. (2010), berfikir kritis juga membutuhkan waktu untuk memahami materi tersebut. Motivasi mahasiswa juga mempengaruhi karena materi yang diberikan adalah materi ujian masuk, materi umum, hal ini membuat mahasiswa kedokteran tidak termotivasi. Penelitian ini menggunakan prosedur lengkap dan detail tetapi tetap ada ancaman validitas yaitu tes yang diberikan bertubi-tubi sehingga tidak mencerminkan hasil sebenarnya. Materi yang diberikan bukan materi kedokteran. Validasi instrumen MMAR tidak dijelaskan dalam penelitian tersebut. Persetujuan dengan mahasiswa dan etical clearence tidak dijelaskan. Sedangkan perbedaan rata-rata pada penelitian ini terlalu tinggi yaitu 0.8 sedangkan peneliti sebelumnya hanya menetapkan 0.1.
Penelitian lainnya dengan variabel yang berbeda dilakukan oleh Abdolahi et al. (2011) untuk melihat keefektifan peta pikiran dalam pengajaran anatomi mendapatkan bahwa pengajaran dengan peta pikiran lebih efektif dibandingan metode pengajaran tradisional. Fun & Maskat (2010) melihat penggunaan peta pikiran yang dibuat dosen dan peta pikiran yang dibuat mahasiswa mendapatkan bahwa penggunaan peta pikiran dibuat mahasiswa lebih efektif dari pada peta pikiran dibuat dosen terhadap nilai tes mahasiswa.
Tabel 2. Perkembangan penelitian peta pikiran
No Penulis Tujuan Metode/variabel Hasil
1. Farran P, Hussain F, Hennwssy
(2002)
Melihat keefektifan penggunaan peta pikiran untuk meningkatkan pengetahuan dan motivasi Rancangan penelitian: randomized control trial
Variabel independen
1. Teknik sendiri
2. Teknik peta pikiran

Variabel dependen
d. Pengetahuan
e. Motivasi dengan skala 5 poin (1 very un motivated, 5= very motivated) • Pengetahuan dengan teknik peta pikiran lebih banyak benar dari pada teknik sendiri.
• Tidak ada perbedaan signifikan terhadap motivasi tetapi motivasi peta pikiran lebih rendah dari pada belajar sendiri.

2 D’Antony VD, Zipp GP
(2006) Untuk mereviu literatur dan melihat kepuasan mahasiswa teknik belajar peta pikiran Rancangan penelitian: survei

3 Wickramasinghe A, Widanapathirana, Kuruppu O, Liyanage I, Karunathilake
(2007)
Melihat keefektifan peta peta pikiran sebagai alat belajar mahasiswa kedokteran Rancangan kuasi eksperimental
Variabel independen
1. Peta pikiran
2. Belajar sendiri
Variabel dependen
1. Pengetahuan (esai) Tidak ada perbedaan yang signifikan antar kelompok peta pikiran dengan kelompok strategi belajar sendiri.

4 Aydin G, Balim AG
(2009) Melihat kemampuan siswa Izmir terhadap materi “sitem tubuh” menghubungkan dengan pengetahuan sebelumnya Mahasiswa dibagi 3 kelompok:
Variabel independen
1. Kelompok eksperimen dengan peta pikiran
2. Kelompok eksperimen dengan concept mapping
3. Kelompok control Mahasiswa dengan menggunakan peta pikiran dan peta konsep dapat mengintegrasikan pengetahuan yang ada dengan pengetahuan baru
5 Evrekli E, Balim AG, Inel D
(2009) Untuk menilai pendapat calon guru tentang peta pikiran dan penggunaan peta pikiran dalam pembelajaran Kualitatif dengan memberikan pertanyaan tentang manfaat mind mapping
• Peta pikiran berguna untuk pengajaran science dan teknologi
• Permanen untuk recall
• Memastikan hubungan anatra konsep
• Peta pikiran dapat meningkatkan lingkungan pembelajaran mahasiswa
6 Allen JB, Smith VO
(2009) Mengembangkan suatu pendekatan pragmatis untuk mengatur data kualitatif dari pasien Peta pikiran digunakan pada saat focus group discussion.
Variabel independen:
1. Transkrip dengan mind mapping
2. Transkrip dengan cara tradisional
Variabel dependen
• Waktu Penggunaan peta pikiran membantu analisis data dan menjaga agar analysis tetap pada jalur yang ditentukan serta meningkatkan transparansi dan kecepatan dalam mengolah data
7 D. Anthony A, Zipp GP, Olson VG, Cahill T
(2010) Melihat hubungan antara peta pikiran dan critica thinking yang diukur dengan The health Sciences Reasoning Test (HSRT) dan melihat hubungan antara mind mapping dan mengingat kembali informasi.
Rancangan: kuasi eksperimental
Variabel independent:
SNT (standar note taking)
Peta pikiran
Variabel dependent:
MCQ pre and post
HSRT pre dan post

Variabel perancu
• Lingkungan
• Waktu
• Kemampuan MM
• Teks/knowledge
• Kelelahan mahasiswa Tidak ada perbedaan yang signifikan hasil pre dan post tes kedua kelompok dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara pre dan post HSRT dari total skor Tetapi skor critical thinking lebih tinggi daripada teknik sendiri
8 D’Anthony AV, Zipp GP, Olson VG.
(2010) Melihat interater reliability of MMAR (mind mapping assessment rubric)
Rancangan: eksperimen
Variabel Independen
MMAR
Variabel dependen
Interater Reabiliti antara penguji cukup tinggi sehingga reabiliti dapat digunakan sebagai aassessment mind maping
9 Fun CS, Maskat N
(2010) Membandingkan Teacher-centered mind mapping dan student-centered mind mapping terhadap pencapaian mahasiswa Rancangan: eksperimental
Variabel independent
• Teacher centered min mapping
• Student centered mind mapping

Variabel dependen:
• Achievement

Faktor perancu
• Prior knowledge (di kendalikan sudah punya prior knowledge accounting
• Mind mapping dilengkapi mahaisswa.
• Pengajaran peta pikiran Teacher-centerd mind map menurunkan tes skor mahasiswa
Student-centerd mind map signifikan meningkatkan nilai mahaisswa
10 Evrekli E, Inel D, Balim A
(2010) Menilai reabiliti sistem skor mind mapping

Rancangan: kohor
• Variabel independent
• Presentasi

Variabel dependent
• Peta pikiran
• Sistem skor Tidak ada perbedaan yang signifikan atara rater 1 dan 2, kemudian dengan waktu yang berbeda juga tidak ada perbedaan.
Skor ini dapat digunakan untuk menilai peta pikiran pada penelitian ini

11 Abdolahi M, Javadnia F, Bayat PD, Ghorbani R, Ghanhari A, Ghodost B
Int.J.Morphol
(2011) Melihat keefktifan peta pikiran dalam pengajaran anatomi dibandingkan dengan slide tradisional
Eksperimental
Variabel independen:
Teaching with Mind mapping
Teaching with tradisional

Variabel dependent
MCQ 40 dengan skor 0-20
Teknik pengajaran peta pikiran memiliki skor lebih tinggi dari pengajaran secara tradisional

1. Hubungan motivasi dengan pencapaian hasil belajar
Motivasi adalah kekuatan yang mendorong mahasiswa terlibat pembelajaran, fokus, perhatian dan mau mengerjakan tugas-tugas pembelajaran. Motivasi salah satu faktor yang terpenting dalam pencapaian belajar, menyelesaikan tugas, kepercayaan diri terhadap pembelajaran. Motivasi dapat diukur secara langsung dengan observasi prilaku mahasiswa serta dengan memakai kuesioner (Gagne, Wager, Golas & Keller, 2005; Pelaccia et al., 2009; Mahmud, 2010).
Motivasi dibagi menjadi dua yaitu motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi instrinsik dapat ditingkatkan melalui keterlibatan (keinginan untuk terlibat), keingintahuan (ketertarikan terhadap topik), tantangan (topik yang rumit) dan interaksi sosial. Sedangkan motivasi ekstrinsik dapat ditingkatkan melalui pemenuhan harapan (menemukan harapan lain dari apa yang dikatakan orang), dikenali (dikenal oleh masyarakat), kompetisi dan menghindari pekerjaan, imbalan (misalnya nilai). Jika mahasiswa mempunyai motivasi ekstrinsik maka resiko kegagalan akan lebih besar daripada motivasi instrinsik (William & William, 2011)
Teori motivasi yang diusulkan para ahli mengatakan terdapat hubungan antara motivasi dan belajar. Mahasiswa yang menggunakan strategi kognitif lebih baik dengan mengulang, mengingat dan mencatat pengetahuan (Gagne et al., 2005; Santrock, 2011). Penelitian oleh Long, Monoi, Harper, Knoblauch & Murphy (2007) mendapatkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara jenis kelamin terhadap goal oriented (motivasi) dan pencapaian. Crede & Kuncel (2008) meneliti keterampilan belajar. Hasilnya adalah motivasi dan kebiasaan belajar mempunyai hubungan kuat dengan pencapaian sedangkan kecemasan tidak berhubungan. Penelitian dilakukan oleh Lijun (2011) mendapatkan hasil motivasi berhubungan positif dengan strategi dan pencapaian hasil belajar. Yu (2012) meneliti hubungan motivasi dan strategi belajar juga mendapatkan hasil yang positif serta meningkatkan pembelajaran.
Peta pikiran dan motivasi berhubungan terutama motivasi instrinsik. Motivasi instrinsik mahasiswa meningkat karena mahasiswa bisa berpikir bebas dan kreatif. Pikiran merupakan dasar pengantar motivasi, dengan motivasi dapat mencapai tujuan pembelajaran. D’Antoni dan Zipp (2006) meneliti persepsi mahasiswa terhadap penggunaan peta pikiran di jurusan terapi fisik. Hasilnya menunjukan mahasiswa menyukai strategi belajar dengan peta pikiran.
Motivasi dapat diukur dengan menggunakan kuesioner motivasi. Kuesioner dikembangkan di Michigan, kuesioner ini dinamakan Motivated Strategies for Learning Questionaire (MSQL) yang dikembangkan oleh National Center for Research to Improve Postsecondary Teaching and Learning, Universitas Michigan (Pintrich et al., 1991 cit. Taylor, 2012) dilakukan setelah proses belajar. Kuesioner motivasi ini terdiri dari 31 pertanyaan dengan menggunakan skala 1 sampai 7. Skala 1 berarti sangat tidak sesuai dengan saya, angka 7 berarti sangat sesuai dengan saya. Terdapat 6 subskala yaitu instrinsic goal orientation, extrinsic goal orientation, task value, control of learning belief (keyakinan mahasiswa bahwa hasil belajar dapat dicapai dengan usaha sendiri dan dari faktor luar seperti dosen), self efficacy for learning and performance, task anxiety. Sedangkan 50 adalah pertanyaan tentang strategi belajar yang terdiri dari repetisi, elaborasi, organisasi, critical thinking, metacognitive self-regulated, manjemen waktu dan lingkungan, effort regulation, peer learning dan help seeking.
Peta pikiran adalah strategi yang dapat digunakan untuk mendorong belajar mendala. Marton & Saljo 1976 mengadakan penelitian belajar mendalam dan dangkal. Hasilnya belajar secara mendalam adalah motivasi instrinsik dimana mahasiswa mencoba mengerti dan memahami konteks dari ide baru dan konsep. Belajar dangkal cenderung ke arah motivasi ekstrinsik dan hanya bersifat hafalan (Buzan).
Berdasarkan penjelasan di atas penulis dapat simpulkan bahwa motivasi mempunyai hubungan kuat dengan hasil belajar.

Hasil belajar
Pencapaian hasil belajar menurut Bloom 1956 dibagi atas tiga domain yaitu kognitif (pengetahuan), keterampilan dan afektif. Untuk pengetahuan Bloom membagi atas 6 tingkatan pencapaian, sekarang sudah diperbaharui yaitu mengingat, pemahaman, aplikasi, analisis, evaluasi dan kreasi. Mengingat adalah mengenali atau mengingat kembali informasi yang telah dipelajari pada awal waktu serta menyimpannya dalam memori. Pemahaman yaitu membangun makna dari materi-materi pelajaran dan pesan-pesan misalnya menyimpulkan, mengartikan dan mengidentifikasi. Aplikasi yaitu meggunakan pengetahuan tersebut dalam situasi yang baru. Analisis adalah memecahkan informasi ke dalam bagian-bagian dan mengidentifikasi keterkaitan antara bagian-bagian tersebut. Evaluasi adalah membuat suatu ketentuan terkait informasi dengan menggunakan standar atau kriteria tertentu. Kreasi adalah meletakan pengetahuan dan prosedur secara bersamaan dalam bentuk yang koheren, terstruktur dan kemungkinan memiliki keaslian menyeluruh (Nitko, 1996).
Miller 1990 mengusulkan suatu piramida pencapaian kompetensi dan assessment yaitu mempertimbangkan perkembangan keahlian mahasiswa menjadi knowledgeable. Pada saat memilih suatu instrumen assessment kita harus menyesuaikan dengan level kompetensi yang harus dicapai. Seorang mahasiswa harus melalui tahap knows (factual knowledge) sebelum memasuki fase selanjutnya yaitu knows how (tahap membangun pemahaman), tingkatan pencapaian yang lebih tinggi lagi yaitu mahasiswa mampu melakukan performan atau menunjukan (show how). Sedangkan tingkatan yang tertinggi adalah does yaitu mampu melakukan tindakan atau performan pada situasi kehidupan nyata (Amin & Eng, 2006; Dornan, 2009).
Multiple choice question (MCQ) adalah tes berbentuk tulis yang paling banyak digunakan, tes ini menguji ingatan (factual recall) dengan memilih salah satu jawaban yang paling benar, waktu yang dibutuhkan untuk menjawab satu soal adalah 45 detik – 1 menit. Keuntungannya adalah relatif mudah digunakan (feasible), tingkat reliabiliti tinggi, validitas konten yang luas atau learning target yang diwakili lebih luas (Amin & Eng, 2006).

2.6 Teori yang mendasari peta pikiran
a. Teori belajar konstruktif
Teori yang akan digunakan adalah teori belajar konstruktif. Teori ini dikembangkan oleh Vygotsky’s (1896) dan Pieget’s (1920). Teori konstruktif yang diusulkan oleh Vygotsky’s lebih kearah pendekatan sosial yang menekankan pembangunan pengetahuan dan informasi atas dasar interaksi sosial. Pendekatan teori konstruktif menurut Pieget’s adalah mahasiswa membentuk pengetahuan dengan mentransformasikan, mengorganisasikan dan menyusun kembali pengetahuan dan informasi sebelumnya (Santrock, 2011). Teori belajar konstruktif ini, diharapkan mahasiswa membuat kreasi tertentu bukan hanya menemukan, mengembangkan kemampuan masing-masing dan menganggap dunia ini adalah sebagai cermin dari realita (Colliver, 2000). Mahasiswa diharapkan membangun pengetahuan sendiri berdasarkan kenyataan atau realita yang ada disekitarnya. Konstruktif inilah yang diharapkan terhadap mahasiswa belajar pada masa sekarang. Teori konstruktif ini sudah banyak diterapkan di belajar mengajar seperti problem- based learning, peer-asissted learning, kolaboratif di dalam kelas dan keterampilan berkerjasama. Pada pembelajaran dengan pbl mahasiswa dalam kelompok akan membangun pengetahuan mereka dengan cara berdiskusi dan mencari masalah (Colliver, 2000). Pengetahuan yang lama atau pengalaman diintegrasikan dengan pengetahuan baru merupakan inti dari teori konstruktif .
Peta pikiran didasari oleh teori konstruktif terutama pada fungsi peta pikiran sebagai curah pendapat, menghubungkan ide atau berbagai konsep menjadi suatu pengetahuan menyeluruh. Teori konstruktif yang diusulkan oleh Pieget’s menekankan bahwa membangun pengetahuan dalam diri atau pikiran sendiri. Teori ini menjelaskan bahwa informasi didapat dari apa yang dilihat, dibaca dan didengar. Kemudian informasi akan masuk ke dalam pikiran, didalam pikiran informasi akan diolah secara aktif. Disini akan terjadi integrasi informasi baru dengan pengalaman atau pengetahuan yang sudah ada sebelumnya sehingga mampu menyusun kerangka sendiri dan kemudian disimpan lebih lama dan paham (D’Antoni et al., 2009; D’Antoni et al, 2010).
Teori konstruktif diaplikasikan pada penelitian ini. Teori tersebut diharapkan dapat menjelaskan pengaruh peta pikiran dan strategi belajar lainnya dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mahasiswa. Menurut D’Antoni et al. (2010) semua strategi belajar berdasarkan teori konstruktif. Peta pikiran merupakan sumber informasi dalam bentuk gambar dan bacaan, informasi ini lebih banyak masuk ke dalam pikiran kita dibandingkan dengan hanya melalui teks saja atau gambar saja. Kemudian informasi yang banyak tersebut akan diolah dalam pikiran kita. Membuat peta pikiran merupakan pembangunan pengetahuan yang sudah ada kemudian kita tuangkan kedalam bentuk gambar dan tulisan sehingga informasi tersebut akan lama bertahan dalam pikiran kita. Teori konstruktif juga mengusulkan adanya motivasi instrinsik yang tidak dipengaruhi oleh imbalan yang diberikan dari orang lain tetapi keinginan sendiri untuk memahami pelajaran (Santrock, 2011).

b. Teori belajar asimilasi oleh Ausubel
Teori lainnya yang dipakai dalam penelitian ini adalah teori Asimilasi oleh Ausubel (1968). Asimilasi adalah memamahi informasi yang didapat dengan pemahaman sendiri. Prinsip pembelajaran teori Ausubel mengatakan bahwa terdapat enam prinsip pembelajaran yang saling berhubungan yaitu memori jangka pendek, sistem motor, tempat kerja memori, sistem afektif dan memori jangka panjang. Informasi akan masuk ke adalam otak yaitu memori jangka pendek kemudian akan disalurkan ke tempat kerja memori, sistem afektif, sistem motor. Dari ketiga bagian ini akan kembali ke memori jangka pendek dan akan diteruskan juga ke memori jangka panjang. Semua jaras memori tersebut akan akan menghasilkan proses pemahaman belajar. Pemahaman belajar ini akan akan menghasilkan pemahaman pelajaran lebih mendalam. Pengetahuan baru akan diasimilasi kedalam pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. Proses pembelajaran ini adalah proses aktif dan mahasiswa berhak memilihnya (Davies, 2010; Novak & Cana, 2012).
Teori Ausubel merupakan dasar dari meaningful theory (teori pemahaman), Ausubel membedakan antara (hafalan) rote learning dan (pemahaman) meaningful learning. Meaningful learning mampu mengintegrasikan ilmu baru dengan pengetahuan sebelumnya. Penelitian dan penerapan teori ini pada peta konsep, peta argumen dan peta pikiran. Menurut Novak (2011) ini adalah prinsip dari peta konsep yang dikembangkan karena dapat merangsang mahasiswa menghubungkan antara konsep dari ilmu-ilmu baru yang dipelajari berdasarkan pengetahuan yang sudah ada. Pada saat membuat peta konsep terjadi proses meaningful learning sehingga pengetahuan disimpan lebih lama. Hal ini juga dasar dari peta pikiran yaitu proses pemahaman pembelajaran lebih dalam yang mampu menghubungkan antar konsep secara radian berdasarkan pengetahuan yang sudah ada. D’Antoni et al. (2009) menyebutkan peta pikiran seperti peta konsep dan merupakan salah satu strategi peta yang memperlihatkan pemahaman mahasiswa.

B. Landasan Teori
Menurut Buzan (1993) mind mapping dapat mengaktifkan kedua hemisper otak kanan dan kiri, mind mapping dapat membantu sesorang untuk mengintegrasikan informasi, menghubungkan informasi serta mempertahankan informasi. Mind mapping sudah banyak digunakan dalam pendidikan klinik sebagai sumber belajar, mecatat perkuliahan, mencatat informasi tertulis, mereviu dengan cepat serta mudah diperbaruhi (Sandra et al, 2010). Mind mapping dapat digunakan dalam berbagai situasi seperti problem based learning, kelompok kecil dan alat assessment (Sandra&Cooper, 2010).
Motivasi merupakan salah satu faktor yang terpenting dalam pemebelajaran dan pencapaiannya, penerimaan terhadap tugas, kepercayaan diri tentang pembelajaran ditentukan oleh motivasi (Pelaccia et al, 2009)
2.5. Kerangka Konsep

5. Pertanyaan Penelitian

1. Pengetahuan mahasiswa yang belajar menggunakan peta pikiran akan lebih baik dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak menggunakan peta pikiran.
a. Apakah nilai MCQ mahasiswa yang menggunakan peta pikiran sama dengan MCQ mahasiswa yang tidak menggunakan peta pikiran?
b. Apakah nilai MCQ nilai mahasiswa menggunakan peta pikiran lebih besar dari yang tidak menggunakan peta pikiran?
2. Motivasi mahasiswa yang belajar menggunakan peta pikiran akan lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak menggunakan peta pikiran.
a. Apakah skor MSQL mahasiswa yang menggunakan peta pikiran sama dengan yang tidak menggunakan peta pikiran?
b. Apakah skor MSQL mahasiswa yang menggunakan peta pikiran lebih tinggi dengan yang tidak menggunakan peta pikiran?

2.7 Hipotesis Penelitian
1. Mahasiswa yang menggunakan peta pikiran akan menunjukan rata-rata nilai mcq yang lebih tinggi secara bermakna (ddmin; dmin=0,1) dibandingkan mahasiswa yang mendapat pengalaman belajar tanpa menggunakan peta pikiran.
2. Mahasiswa yang menggunakan peta pikiran akan menunjukan rata-rata skor MSQL yang lebih tinggi secara bermakna (ddmin; dmin=0,15) dibandingkan mahasiswa yang mendapat pengalaman belajar tanpa menggunakan peta pikiran.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Rancangan penelitian
Rancangan penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan kuasi-eksperimental. Ada dua hal yang diukur yaitu
1. Pengetahuan mahasiswa diukur dengan Multiple Choise Question
2. Motivasi mahasiswa dengan mind mapping yang diukur dengan MSQL
B. Subjek Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Fakultas kedokteran Universitas Lampung
Populasi penelitian adalah mahasiswa tahun pertama angkatan 2013 sebanyak 180 orang. Kemudian diambil sampel dengan tingkat kepercayaan 95 % (130 orang). Kemudian Mahasiswa dibagi secara random menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok yang menggunakan mind mapping dan kelompok tanpa mind maping pada pemebelajaran fisiologi.
C. Variabel penelitian
Variabel independen: Mind mapping
Variabel dependen : Pengetahuan mahasiswa (MCQ)
Motivasi

R X O2
R O4

D. Instrument penelitian
MCQ (multiple choice question) untuk menilai pengetahuan mahasiswa. Soal MCQ diberikan sebanyak 20 soal yang menilai pengetahuan mahasiswa.
MSQL (motivasi) dengan kuesioner yang terbagi dua yaitu untuk menilai motivasi dan strategi belajar, yang digunakan hanya bagian motivasi. Bagian motivasi terdiri dari 31 pertanyaan dengan menggunakan skala 1 sampai 7 (1 sangat tidak sesuai dengan saya, 7=sangat sesuai dengan saya).

E. Defenisi Operasional
• Mind Mapping: suatu diagram/peta yang merepresentasikan kata, ide, dan tugas lainnya yang diasosiasikan dengan topik, topik berada paling tengah serta subtopik pada cabang-cabang secara memancar dengan menggunakan gambar, bentuk, warna yang bervariasi.
• Belajar: suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan prilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
• MCQ: tes berbentuk tulis yang paling banyak digunakan, tes ini menguji ingatan (factual recall) dengan memilih salah satu jawaban yang paling benar, waktu yang dibutuhkan untuk menjawab satu soal adalah 45 detik – 1 menit.
• Motivasi: suatu alasan yang mendorong mahasiswa untuk melakukan proses belajar yang diukur dengan motivated Strategies for Learning Questionair (MSQL) yang dikembangkan oleh National center fo research to improve postsecondary teaching and learning, Universitas Michigan (Pintrich et al., 1991; Garcia & Pintrich, 1995; Duncan & McKeacchie, 2005) dan dilakukan setelah proses belajar.

F. Validasi dan Reliabilitas instrument
1. Pelatihan mind mapping
• Mahasiswa dilatih sendiri oleh Tim Peneliti
• Mahasiswa akan dilatih membuat mind mapping sampai mereka.
• Melakukan informed concent dengan mahasiswa agar tidak membocorkan pelatihan kepada kelompok kontrol
2. Teks book adalah buku fisiologi yang terstandar dan divaliditas oleh pengajar fisiologi berbahasa indonesia
3. MCQ dibuat oleh ahli fisiologi sebanyak 20 soal. Validitas isi akan direview oleh pengajar fisiologi. Untuk validitas konstruk akan dilakukan analisis factor.
Validitas isi: isi pertanyaan disesuaikan dengan materi yang dikuliahkan dan direview oleh ahli fisiologi dan pendidikan.
4. Kuesioner motivasi
Validitas isi: Kuesioner MSLQ (The motivated Strategy for Learning Questionnaire) yang dikembang oleh National Center for Research to Improve Postsecondary Teaching Learning, Universitas Michigan (Pintrich et al, 1991): diterjemahkan ahli bahasa inggris dan di konsulkan dengan psikolog serta di terjamahkan lagi. Jika sudah ada instrument Bahasa Indonesia yang sudah divalidasi maka akan di pakai dan tetap diuji validitas dan reabilitas.
Kuesioner motivasi ini terdiri dari 31 pertanyaan dengan menggunakan skala 1 sampai 7. Skala 1 berarti sangat tidak sesuai dengan saya, angka 7 berarti sangat sesuai dengan saya. Terdapat 6 subskala yaitu instrinsic goal orientation, extrinsic goal orientation, task value, control of learning belief (keyakinan mahasiswa bahwa hasil belajar dapat dicapai dengan usaha sendiri dari factor luar seperti dosen), self efficacy for learning and performancae, task anxiety.
• Validitas konstruk : perbandingan r dengan r tabel, analisis factor dan cronbach alfa.

G. Prosedur penelitian
1. Mahasiswa angkatan tahun pertama diambil secara random dengan konfiden interval 5% yaitu 130 orang dari 180. Kemudian di bagi dua secara acak menjadi kelompok yang mendapat mind mapping dan kelompok yang tidak mendapat mind mapping.
2. Mahasiswa akan diberikan inform concent atas kesediannya ikut dalam penelitian
3. Mahasiswa kelompok yang menggunakan mind mapping akan dilatih sampai bisa yaitu 3 hari sebelum pelaksanaan penelitian
4. Mahasiswa diminta untuk tidak memberi tahu taman yang lain bagaimana penggunakan mind mapping.
5. Pada saat penelitian mahasiswa akan dimulai jam 8 pagi. Mahasiswa kelompok mind mapping dan kelompok control ditempatkan dalam ruang yang berbeda dan di awasi oleh dosen
6. Mahasiswa diberikan teks atau buku popular tentang fisiologi sistem pencernaan sebanyak 600 kata selama 330 menit, setelah itu selama 15 menit mahasiswa merangkum atau mencatat.
7. Setelah itu mahasiswa akan diuji dengan memberikan soal MCQ sebanyak 20 buah lama waktu 20 menit
8. Setelah ujian mahasiswa akan diberikan kuesioner MSQL
9. Mahasiswa yang belum mendapatkan pelatihan mind mapping akan dilatih seminggu setelah intervensi.

Jalannya Penelitian

Random

20 menit

H. Analisis data
• Terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data dengan uji Kolmogorov-smirnov. Pengujian dilakukan pada rata-rata pengetahuan mahasiswa dan motivasi.
• Merumuskan hipotesis
Menentukan taraf signifikan α=0.05
Ho ditolak jika nila p lebih kecil dari tingkat signifikansi α sedangkan Ho diterima jika nilai p lebih besar dari tingkat signifikansi
• Hipotesis
Ho: Tidak ada perbedaan pengetahuan mahasiswa yang menggunakan mind mapping dan tidak menggunakan mind mapping
H1: Pengetahuan mahasiswa yang menggunakan mind mapping lebih baik dari pada tidak menggunakan mind mapping
Ho: µ1=µ2
H1: µ1≥µ2
• Melihat perbedaan pengetahuan mahasiswa yang menggunakan mind mapping dengan tanpa mind mapping.
Nilai pengetahuan yang diukur dengan MCQ mahasiswa yang menggunakan mind mapping dibandingkan dengan tidak menggunakan mind mapping dengan menggunakan uji t-test. Dilihat apakah p valuae < 0,05, maka perbedaannya signifikan.
• Melihat perbedaan motivasi mahasiswa yang menggunakan mind mapping dibandingkan dengan tidak menggunakan mind mapping.
Nilai motivasi yang diukur dengan MSQL pada mahasiswa yang menggunakan mind mapping akan lebih tinggi dari pada tidak menggunakan mind mapping. Dilakukan uji Mann-Whitney.
Ho: Tidak ada perbedaan motivasi mahasiswa yang menggunakan mind mapping dan tidak menggunakan mind mapping
H1: Motivasi mahasiswa yang menggunakan mind mapping lebih tinggi dari pada tidak menggunakan mind mapping

I. Etika Penelitian
Peneliti akan meminta izin ke pihak Fakultas Kedokteran FK Unila, kepada Koordinator blok dan pengajar fisiologi serta etika clearance Komite penelitian FK Unila. Penelitian akan dilaksanakan secara terencana dan dijelaskan kepada seluruh mahasiswa dan emminta kesediaannya sebagai partisipan.

J. Jadwal penelitian
Kegiatan Feb Maret April Mei Juni Juli Agus
Proposal
Pendahuluan
Persiapan
Validasi instrumen
Pelatihan
Penelitian
Analisis data
Pelaporan

a. Sumber Daya Manusia

1. Peneliti : 1 orang
2. Konsultan Pendidikan : 2 orang
3. Penanggungjawab blok : 2 orang
4. Asisten penelitian : 2 orang
5. Konsultasn Fisiologi : 2 orang

Perkiraan Biaya Penelitian
No Kegiatan Satuan Jumlah
1. Konsultasi fisiologi (2) @ 500.000 Rp. 1.000.000
2 Studi pendahuluan @ 300.000 Rp. 300.000
2. Alat tulis dan kertas (7 dus) HVS @ 40.000 Rp. 280.000
3 Pensil warna 130 0rang (mind mapping) @ 10.000 Rp. 1.300.000
4 Pengurusan Ethical Clearance @ 200.000 Rp. 200.000
5 Konsumsi mahasiswa (100) @ 10.000 Rp. 1.000.000
6. PJ Blok (2) @ 250.000 Rp. 500.000
7. Asisten (2) @ 250.000 Rp. 500.000
8. Terjemah instrumen (8 lembar) @ 70.000 Rp. 560.000
9. Konsultasi kuesioner (8 lembar) @ 400.000 Rp. 800.000
10. Jilid dan proposal (5) @ 20.000 Rp. 100.000
11 Jilid laporan (5) @ 50.000 Rp. 250.000
12. Dokumentasi & Penyimpan data (flasdisk dan CD) @ 150.000 Rp. 450.000
13. Cendramata untuk mahasiswa (130) @ 10.000 Rp. 1.300.000
14. Presentasi laporan (konsumsi) (30) @ 20.000 Rp. 600.000
Total Rp. 9.540.000

DAFTAR PUSTAKA

Huitt, W. (2003) A transactional model of the teaching/learning process. Available from: <http://www.edpsycinteractive.org/materials/tchlrnmd.html> [19 Desember 2012].
Daley, B.J., & Torre, M. (2010) Concept maps in medical education: an analytical literature review. BMC Medical Education, 44, pp. 440-448.
Davies, M. (2010) Concept mapping, mind mapping, argument mapping: what are the differentces and do the matter? Higher Education. Springer, 6, pp. 1-23.
Abdolahi, M., Jvadnia, F., Bayat,D., Ghorbani, R., Ghanbari, A., & Ghodosi, B. (2010). Mind map teaching gross anatomi is sex dependent. Int. J. Mhorpol,29. Vol.1.pp: 41-44.
Wickramasinghe, A., Widanapathirana, N., Kuruppu, O., Liyanage, I. & Karinathilake, I. (2007) Effectiveness of mind maps as a learning tool for medical students. South East Asian Journal of Medical education. Innaugural Issue, 1 (1), pp. 30-32.
Buzan, T., & Buzan, B. (1993) The Mind map book. How to use radiant thinking to maximize your brain’s uptapped potential. New York: A Dutton Book.
Pealcia, T., Delplanch,H., Triby, E., Bartier, J., Leman, C., Piere, J., Dupeytron. (2009) Impact of training periods in the emergency department on the motivation of health care student to learn. Medical Education, 43.pp:462-469.
Quiirt, M. (2006). Intuition and metacognition in Medical education key to developing expertise, Springer. New York
Noonan, M. (2012). Mind maps: Enhancing midwifery education. Nurse education today. ScienceDirrect. Elsevier,Doi: 10.1016/j.net.2012.02.003
D’Antoni, A.V., Zipp, G.P., Olson, V., & Cahill, T. (2010) Does the mind map learning strategy facilitate information retrieval and critical thinking in medical students? BMC Medical education, 10 (61), pp. 1-11.
D’Antoni, A.V., Zipp, G.P., & Olson, V. (2009) Interrater reliability of the mind map assessment rubric in a cohort of medical students. BMC Medical Education, 9 (19), pp. 1-8.
Novak, J. (2011) A theory of education: Meaningful learning underlies the constructive integration of thinking, feeling, and acting leading to empowerment for commitment and responsibility. Meaningful learning Review, VI (2), pp. 1-14.
Evrekli, E., Inel, D., & Balim, A. (2009) Mind mapping aplications in special teaching methods course for science teacher candidates and teracher candidates’ opinions concerning the aplications. Procedia Social and Behavioral Sciences, 1, pp. 2274-2279.
Farrand, P., Hussain, F., & Hannessy, E. (2002) The efficacy of the ‘mind map’ study technique. Medical Teacher, 36, pp. 426-43.
Reid, G. (2006) Learning Style and Inclusion. London: Paul Chapman
Meier, P.S. (2007). Mind-Mapping. A tool for eliciting and representing knowledge held by diverse informants. Sosial research update. University of surrey, Vol. 52
Heinrich, K. (2001) Mind-mapping: A successful technique organizing a literature review. Spring Nurse Author & Editor, pp. 7-9.
Mueller, A., Johnston, M., Bligh, D., & Wilkinson, J. (2002) Joining mind mapping and care planning to enhance student critical thinking and achieve holistic nursing care. Nursing Diagnosis, 13 (1), pp. 24-27.
Crowe, M., & Sheppard, L. (2012) Mind mapping research methods. Higher Education, 3 (8), pp. 1493-1503.

Kern, C., Bush, K., & McCleish, J. (2003) Mind-mapped care plans: Integrating an innovative educational tool as an alternative to traditional care plans. Journal of Nursing Education, pp. 112-119.

Fun, C., & Maskat, N. (2010) Teacher centered mind mapping vs student-centered mind mapping in the teaching of accounting at Pre-U level-an action research. Science Direct. Elsevier, 7 (c), pp. 240-246.
Buzan, T. (2012) Mind Map. Terjemahan. Gramdia
Edwards S, & Cooper N. (2010). Mind mapping as teaching resource. The clinical teacher, 7.pp:236-239.
Gagne, R., Wager, G., Golas, K., & Keller, J. (2005) Principles of Instructional Design. Fifth edition. United Kingdom: Thomson Wadsworth.
Mahmud (2010) Psikologi Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.
Williams, K., & Williams, C. (2011) Five key ingredients for improving student mitivation. Research in Higher Education Journal, 12, pp. 1-23.
Santrock, J. (2011) Educational Psychology. Fifth edition. New York: The McGraw-hill companies.
Lijun, Y. (2011) The investigation of learning motivation and strategy in the normal undergraduates. Canadian Academy of Oriental and Occidental Culture. 7 (3), pp. 126-131.

Long, J., Monoi, S., Harper, B., Knonlauch, D., & Murphy, P. (2007) Academic motivation and achievement among urban adolescents. Urban Education, 42 (30), pp. 196-221.
Yu, X. (2012) An empirical study on the correlation between English learning motivation and strategy. Asian Sosial Science, 8 (8), pp. 218-224.
Santrock, J. (2011) Educational Psychology. Fifth edition. New York: The McGraw-hill companies.
D’Antoni, A.V., & Zipp, G.P. (2006) Apllications of the mind map learning technique in chiropractic education: a pilot study and literature review. Journal of Chiropractic Humanities, 13, pp. 2-11.
Taylor, R.T. (2012) Review of motivated strategies for learning questionnair (MSLQ) using reability generalization techniques to assess scale reliability. A Dissertation Submitted to The Graduate Faculty of Auburn University, pp. 1-166.
Nitko, A. (1996) Educational Asessment of Student. Second edition. New Jersey: Merril an in printing of Prentice Hall.
Novak, J. (2011) A theory of education: Meaningful learning underlies the constructive integration of thinking, feeling, and acting leading to empowerment for commitment and responsibility. Meaningful learning Review, VI (2), pp. 1-14.
Zubair, A., & Eng, K.H. (2009) Basic in Medical Education. 2nd edition. World Scientific Publishing. Singapore.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *