BATASAN
Uretritis Non Gonore (UNG) adalah suatu peradangan dari selaput lendir saluran kencing (uretra) yang bukan disebabkan oleh kuman Neisseria gonorrhoea.

ETIOLOGI
– Chlamydia trachomatis
– Ureaplasma urealyticum
– Trichomonas vaginalis
– Candida albicans
– Virus Herpes Simplex
– Tidak spesifik
Chlamydia trachomatis, Ureaplasma urealyticum dan Herpes simplex belum dapat diidentifikasi dengan pemeriksaan laboratorium sehingga dimasukkan ke dalam penyebab yang tidak spesifik atau Uretritis Non Spesifik.

PATOFISIOLOGI
Chlamydia trachomatis bersifat parasit intraseluler obligat. Setelah kontak seksual masuk ke mukosa dan pada stadium pertumbuhannya menghancurkan sel mukosa, dan terjadi peradangan sehingga mukosa oedema dan kemerahan disertai dengan adanya sel lekosit.

Ureaplasma urealyticm juga dijumpai pada orang yang sehat, tetapi pada penderita UNG lebih banyak ditemukan, lebih-lebih pada UNG yang tidak ditemukan adanya Chlamydia. Juga banyak ditemukan pada pria yang banyak mempunyai partner seks. Bagaimana terjadi infeksi belum diketahui dengan jelas.
Trichomonas vaginalis menyerang epitel skwamous uretra, terjadi proses peradangan yang akut dengan sekret yang mengandung leukosit yang banyak.
Manifestasi klinik biasanya lebih jelas pada wanita dan bila pria ditemukan karena kontaks seks yang cukup lama dan berulang-ulang. Partner seksual harus diobati.
Spora dari Candida albicans melekat pada lapisan sel mukosa dan mengadakan perusakan dari sel. Spora mudah diphagosit oleh lekosit sedangkan bentuk pseudohypha sukar. Candida ini sering merupakan flora yang normal pada alat kelamin dan bagaimana menjadi patogen belum diketahui dengan jelas.

GEJALA KLINIS
Masa inkubasi dari UNG 1 sampai 4 minggu.

Keluhan yang dijumpai yaitu :

Sekretat pada uretra
Pada UNG sekret yang dijumpai biasanya jernih sampai sedikit keruh atau berupa lendir, paling jelas waktu pagi hari, tetapi kadang-kadang hanya berupa bercak pada celana dalam.

Disuri
Disuri atau sakit waktu kencing dapat berupa rasa terbakar sampai pada rasa gatal atau perih pada pangkal sampai muara dari uretra. Walaupun demikian keluhan nyeri tidak sehebat gonore.

Gatal
Kadang-kadang ditemukan adanya keluhan gatal sepanjang saluran uretra yang bisa dari ringan sampai hebat.

Polaksisuri
Adalah keluhan sering kencing yang kadang-kadang dapat bercampur darah atau disertai adanya nokturia.
Dapat disertai gejala sistemik demam, pembengkakan skrotum, pembesaran atau nyeri pada kelenjar inguinal.
Adanya riwayat dari partner seksual yang menderita infeksi pada alat kelamin.

PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS
Pada meatus eksternus nampak tanda radang beurpa edema dan kemarahan yang biasanya ringan dan tidak sehebat gonore, atau tak ada kelainan.
Sekret uretra dapat berupa purelent (lebih sering pada gonore), mukos, seromukos atau cairan jernih. Pada umumnya sekret uretra tidak sehebat sekret pada gonore.

LABORATORIUM
Bahan yang dilakukan pemeriksaan laboratorium adalah
– Sekret uretra
– Urin gelas yang pertama. Urin yang ditampung sebaiknya urin yang pertama pada pagi hari atau minimal 4 jam setelah kencing terakhir.
– Hapusan endouretral, yaitu dengan lidi kapas yang steril dimasukkan ke dalam uretra sedalam 1 – 2 cm di atas fossa navikularis, kemudian di putar secara perlahan-lahan ke kiri dan ke kanan.

Kriteria laboratorium uretritis non gonore ditegakkan apabila ;
a. Pada sekret uretra atau hapusan endouretal dilakukan pengecatan gram ditemukan 5 atau lebih sel lekosit polimorphonuklear pada mikroskop dengan pemebsaran 1000 kali, atau
b. Pada sedimen urin ditemukan lebih dari 10 sel lekosit polimorphonuklear dengan mikroskop pembesaran 400 kali.
c. Pada preparat gram tidak ditemukan adanya Diplococcus gram negatif.

Pemeriksaan kuman penyebab
Ada beberapa penyebab UNG yang sulit atau tidak dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium seperti C. trachomatis, U. urealytiocuma dan virus H Simplex sehingga dimasukkan ke dalam grup tidak spesifik.
Trichomonas vinalis ditemukan protozoa yang mempunyai flagel dan bergerak aktif. Pembiakan dari kuman.
Candida albicans ditemukan adanya spora atau pseudo-hyphae.
Dilakukan pembiakan dari jamur.

Penatalaksanaan
1. Menentukan adanya uretritis
Anamnesa keluhan : disuri, sekret uretra, gatal, bercak pada celana.
Koitus suspektus : 7 hari atau lebih.
Pemeriksaan klinik : sekret purulen, mukopurulen, serous, jernih.
Peradangan muara uretra.
Laboratorium : Lekosit lima atau lebih pada pengecatan gram
Leko 10 atau lebih pada sediaan basah.
2. Menyingkirkan adanya : Neisseria gonorrhoea dengan preparat gram dan atau pembiakan.
3. Menemukan : Trichomonas vaginalis dengan sediaan basah, gram dan atau kultur.
Candida albicans dengan sediaan basah, gram dan atau kultur. Anamnesa dan pemeriksaan adanya penyebab non infeksi.
Uretritis Non spesifik bila semua penyebab di atas tidak ditemukan.
4. Pengobatan : uretritis non spesifik
Tretrasiklin HCL 500 mhg 3 – 4 kali sehari selama 7 hari.
Eritromisin 500 mg 3 – 4 kali sehari selama 7 hari.
Doksisiklin 100 mg 2 kali sehari selama 7 hari.
Bila BB 60 kg. Tetrasiklin
Eritromisin diberikan 3 x 500 mg sehari selama 7 hari.

Trichomoniasis :
Metronidazol 3 kali 250 mg selama 7 hari.
Metronidazol 2 gram dosis tunggal.

Candida albicans :
Instilasi dengan larutan gentian violet 1 0/00
Instalasi dengan nystatin.
Ketakonasol 2 kali 200 mg sehari selama 5 hari.

5. Tindak lanjut
Setelah pengobatan uretritisn non gonore, dilakukan kontrol minimal 3 kali dengan interval 7 hari.

DAFTAR PUSTAKA
1. Felman YM, Philm. Sexually Transmitted Diseases, Churchil Livingstone, 1986, 65 – 84.
2. Holmes KK, Mardh PA, Sparling PF, Wiesner PJ. Sexually Transmitted Diseases, Mc Graw Hill, First Edition, 1989, 627 – 640.
3. King A, Nicol C, Veneral Diseases 3 rd ed. The English Language Book Society Baillere Tindal, 1980, 274 – 293.
4. Standarisasi Diagnostik dan Penatalaksanaan Beberapa Penyakit Menular Seksual (PMS), FKUI, 1990, 147 – 154.
5. Thin N.R. Lecture Notes on Sexually Transmitted Diseases Blackwell Scientific Publications, 1982, 129 – 141.