PENULIS ADALAH MAHASISWA ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA BANDA ACEH

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Dalam dua tahun terakhir ini, beberapa surat kabar mengemukakan tentang gangguan hama keong mas yang menyerang tanaman padi yang masih muda mulai dari Sumatera, Jawa hingga Papua. Sejumlah petani di Kecamatan Palas, Lampung Selatan harus mengulang tanam hingga beberapa kali karena padinya diserang hama keong mas pada musim tanam akhir tahun 2008 (Lampung Pos, 15-12-2008). Di Kabupaten Aceh Besar dan Banda Aceh, petani diperkirakan sempat tidak menikmati hasil panen karena setelah tiga hari terendam banjir bandang, puluhan ribu hektar tanaman padi mereka digerogoti keong mas (Gatra.com, 01-12-2000)
Keong Pomacea merupakan salah satu hama yang sangat merugikan petani. Keong Pomacea memakan batang padi muda, dan menyebabkan gagal panen. Penanggulangan yang telah dilakukan untuk membasmi hama keong Pomacea adalah dengan menggunakan moluskosida sintetis. Namun penggunaan senyawa anti-moluska ini berbahaya bagi lingkungan.
Tanaman Biduri (Calotropis gigantean L.) dalam bahasa Aceh disebut Bak Rubek. Merupakan tumbuhan liar yang telah banyak dikaji. Biduri merupakan mangrove asosiasi yang terdapat di sepanjang zona tropis dan subtropiks Asia dan Afrika, getahnya mengandung alkaloid, glikosida, flavonoid, polifenol, tannin, saponin, sterol, dan triterpenoid (Subramanian dan Saratha, 2010). Tanaman ini mengandung senyawa moluskosida, dan diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengendalikan hama keong Pomacea. Juga mengurangi penggunaan senyawa moluskosida sintetis yang membahayakan lingkungan.

1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum adalah untuk menguji racun yang terkandung pada tanaman Biduri (Calotropis gigantean L.) terhadap keong Pomacea dan mengamati reaksi keong Pomacea.

1.3. Manfaat
Praktikum ini memberikan informasi baru tentang teknik pengendalian populasi keong Pomacea dengan racun Biduri. Dan cara pemanfaatan tanaman liar di lingkungan sekitar kita sebagai moluskosida.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keong Mas

Keong mas atau keong murbai (Pomacea canaliculata Lamarck) termasuk keong air tawar, dengan cangkang berbentuk bulat mengerucut berwarna kuning keemasan. Keong ini berasal dari daerah Amazon, Amerika Selatan dan diperkirakan masuk ke Indonesia melalui perdagangan ikan hias sekitar tahun 1984. Keong mas saat ini banyak dijumpai dan sebagian besar belum dapat dimanfaatkan disebabkan perkembangan pupulasinya yang cepat (Sihombing. 1999 Disitasi oleh Wardana 2008)
Keong mas atau siput murbai (Pomacea canaliculata Lamarck) merupakan salah satu hama utama yang dapat menimbulkan masalah dalam produksi padi (Gambar 1). Badan Pangan Dunia (FAO) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNO) menduga kehilangan hasil yang disebabkan hama ini mencapai 40% dari areal padi sawah di Filipina pada tahun 1989 yang menyebabkan kehilangan hasil cukup besar (Hendarsih, 2004 Disitasi oleh Wardana 2008)
Keong mas banyak ditemukan di lingkungan basah seperti persawahan dan rawa-rawa. Siklus hidupnya cukup lama yaitu 2 hingga 6 tahun dengan kemampuan bertelur mencapai 1000 hingga 1200 butir dalam sebulan mengakibatkan pertumbuhan populasi yang tinggi (Hendarsih, 2004 Disitasi oleh Wardana 2008)
Tak hanya di Indonesia, keong mas jenis Pomacea canaliculata (setidaknya sejauh ini dari jenis itu yang terdeteksi secara ilmiah) ternyata juga menginvasi sejumlah negara, seperti Filipina, Vietnam, Kamboja, Thailand, Myanmar, Taiwan, China, Jepang, negara-negara di kawasan Amerika Utara, dan Amerika Selatan.
Sampai saat ini belum ditemukan obat yang efektif untuk membasmi hama keong mas di lahan sawah. Selama ini, antisipasi yang dilakukan petani dalam mengendalikan serangan hama keong mas adalah dengan cara memberi bubuk racun pada lahan sawah sebelum masa tanam padi. Biasanya bubuk atau cairan racun itu dicampur pada pupuk urea dan disebarkan di seluruh lahan sawah sebelum penaman dilakukan. Tapi ini pun terkadang tidak efektif, karena kenyataan di lapangan keong mas hanya terbenam saja di tanah dan saat hujan datang, kembali datang dan menyerang tanaman.
Klasifikasi Keong Mas Adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animals
Divisi : Mollusca
Kelas : Gastropoda
Ordo : Pulmonata
Famili : Pomaceatidae
Genus : Pomacea
Spesies : Pomacea canaliculata Lamarck.

2.2 Biduri
Klasifikasi Tanaman Biduri Adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Asteridae
Ordo : Gentianales
Famili : Asclepiadaceae
Genus : Calotropis
Spesies : Calotropis gigantea
Tanaman Biduri merupakan semak tegak yang umumnya tumbuh di musim kemarau pada lahan-lahan kering. Tanaman termasuk tumbuhan tahunan dengan tinggi bisa mencapai 0,5 – 3 m. Helaian daun memiliki bentuk bulat telur atau bulat panjang, yang pertulangan daunnya menyirip. Permukaan atas daun berambut putih tersusun rapat ketika muda, sedangkan permukaan bawah tetap berambut tebal putih. Daunnya bertipe tunggal dengan tangkai pendek menempel langsung pada batang tersusun berseling (decusatus). Bunga bertipe majemuk dalam anak payung yang menempel pada di ujung batang atau ketiak daun. Corona berdaging padat dan seukuran atau lebih lebar dibanding tabung stamen (Ahmed et all, 2005) . Bunga akan berkembang menjadi buah tipe bumbung berbentuk bulat telur atau bulat panjang. Buah memiliki ukuran 9 – 10 cm dan berwarna hijau. Biji di dalam buah berbentuk lonjong pipih dan berwarna cokelat. Permukaan biji terdapat rambut pendek yang menyelimuti, umbai rambut ini panjang dan tampak seperti sutera. Tubuh akan mengeluarkan getah putih encer dan kelat. Getah ini beracun dan baunya sangat menyengat. Kulit batang mengandung serat yang bisa dimanfaatkan untuk membuat jala (Direktorat Jendral Perkebunan, 2006)
Biduri dapat tumbuh dari biji di lahan yang relatif kering seperti padang rumput kering, lereng-lereng gunung yang rendah, dan pantai berpasir. Tanaman perenial ini mempunyai persebaran di wilayah tropis dan subtropis, di benua Asia dan Afrika (Ahmed et all, 2005). Tanaman ini cukup adaptif di lingkungan yang ekstrim kering dan panas. Di India terwakilli oleh 2 spesies, yaitu Calotropis gigantea dan Calotropis procera. Di beberapa negara, seperti India, Sri Lanka, Singapore, Malaysia, Filipina, Cina Selatan dan Thailand umumnya digunakan sebagai obat tradisional.
Secara konvensional sering dimanfaatkan untuk keperluan pengobatan tradisional. Bagian kulit akar bermanfaat memacu kerja enzim pencernaan, peluruh kencing (diuretik), peluruh keringat (diaforetik), dan perangsang muntah (emetik). Kulit batang yang diolah dahulu berguna untuk perangsang muntah, sedang bunganya berkhasiat tonik, serta menambah nafsu makan (stomakik). Daunnya berkhasiat rubifisien dan menghilangkan gatal. Getah yang disekresikan bersifat racun, namun berkhasiat sebagai obat pencahar.
Organ tumbuhan tersebut mengandung beberapa senyawa aktif yang bisa dimanfaatkan dalam pengobatan beberapa penyakit luar atau penyakit dalam (Kongkow, 2007). Beberapa pengguna juga sudah memanfaatkan bahan tanaman ini untuk kepentingan pengendalian hama, sebagai insektisida, antinematoda, serta antirayap (Jayashankar et all, 2002). Sedang penelitian yang telah Chobchuenchum dkk (2004), menggunakan ekstrak Calotropis gigantea dengan beberapa pelarut sebagai agen biomoluskisida pada keong mas (Pomacea canaliculata).
Hampir semua organ tubuh tanaman mengandung senyawa-senyawa kimia bermanfaat. Secara umum, akar mengandung saponin, sapogenin, kalotropin, kalotoksin, uskarin, kalaktin, gigantin, dan harsa. Organ daun mengandung bahan aktif seperti saponin, flavonoid, polifenol, tanin, dan kalsium oksalat. Kandungan pada batang berupa tanin, saponin, dan kalsium oksalat. Getah yang dihasilkan juga memuat senyawa racun jantung yang menyerupai digitalis (Kongkow, 2007).
Bahan kimia khas yang terkandung yaitu calotropin dan giganticine. Dari review yang dikemukakan oleh Ahmed et al (2005), investigasi-investigasi telah menemukan senyawa dari kelompok cardenolide dari getah dan daun. Kelompok cardiac glikoside yang telah teridentifikasi yaitu calotropogenin, calotropin, uscharin, calotoxin, dan calactin. Kelompok cardenolide glikoside meliputi coroglaucigenin, frugoside dan 4’-o-beta-D-glukopyranosylfrugoside. Pada ekstrak alkohol dari akar dan daun menghasilkan efek antikanker pada epidermal carcinoma manusia serta kultur jaringan nasopharync. Dari uji coba tertentu, campuran senyawa tersebut bersifat sitotoksik pada beberapa tipe bentuk sel pada manusia dan mencit. Efek antiplasmodia juga dibuktikan pada percobaan invitro menggunakan eritrosit. Adanya calotropin menghambat spermatogenesis dan menimbulkan efek abortif pada tikus dan kelinci. Getah campuran yang diramu khusus mengganggu siklus uterus pada tikus. Lhinhatrakool dan Sutthivaiyakit (2006) mengemukakan bahwa adanya kelompok senyawa cardenolids yang terkandung memberikan efek sitotoksik pada siklus sel kanker.
Antifertilitas bisa diartikan sebagai sifat penghambatan kemampuan individu untuk menghasilkan keturunan/anakan (Jujena, 2001). Kegagalan menghasilkan keturunan tersebut ditimbulkan oleh beberapa sebab, seperti kegagalan spermatogenesis & oogenesis serta kematian embrio postzigotik. Senyawa seperti calotropin yang diisolasi dari spesies lain mampu menghambat spermatogenesis dan efek abortif pada tikus dan kelinci. Getah campuran yang diramu khusus juga menimbulkan aktifitas spontan pada percobaan yaitu ketidak matangan uterus tikus (Ahmed et al., 2005). Screening yang dilakukan Chobchuenchum et al., (2004), menyebutkan C. gigantea salah satu bahan ekstrak yang digunakan, mempunyai LC50 = 86,00 mg/L mampu mematikan lebih 90 % hewan uji setelah inkubasi 72 jam. Ekstrak etanol C. gigantea terbukti bersifat toksik kuat untuk keong mas berukuran diameter operkulum 3 – 5 mm yang dibandingkan dengan ekstrak airnya pada percobaan. Adanya senyawa-senyawa aktif tersebut diduga dapat menimbulkan efek abortif pada hewan uji. Oleh karena itu potensi tersebut bisa diujikan pada hama pertanian dengan pertumbuhan populasi yang pesat.


BAB III
METODELOGI PERCOBAAN

3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum telah dilaksanakan :
Tempat : Laboratorium Kelautan
Waktu : 14.00 WIB – selesai

3.2. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan adalah

Tabel 3.2.1. Alat dan Bahan

No Alat dan Bahan Jumlah
1. Keong Pomacea 2 individu
2. Getah Biduri (Calotropis gigantean L.) 10 mL
3. Alkohol 10 mL
4. Breaker glass 1000 mL 2 buah
5. Breaker glass 50 mL 2 buah
6. Alat bedah 1 set

3.3. Cara Kerja
3.3.1. Penggumpulan keong Pomacea
1. Keong Pomacea ditangkap di alam kemudian dipisahkan berdasarkan jenis kelamin.
2. Selanjutnya keong Pomacea diaklimasi hingga keong mulai bergerak kembali.

3.3.2. Pembuatan larutan getah Biduri
1. Getah segar tanaman Biduri ditampung dalam wadah (sekitar 10 mL).
2. Getah dicampurkan dengan alkohol, perbandingan 1 : 1.
3. Aduk larutan hingga membentuk gum.
4. Pisahkan gum. Larutan yang tersisa dicampur dengan air, bagi menjadi dua bagian.

3.3.3. Pengujian pada keong Pomacea
1. Masing – masing satu individu keong Pomacea jantan dan betina dimasukkan dalam wadah yang telah diisi air.
2. Kemudian dituang larutan tersebut, amati respon yang diberikan oleh keong Pomacea.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 4.1.1. Perbandingan respon antara keong betina dan jantan terhadap getah Biduri

No. Kelamin Waktu Kematian Warna Bedah Anatomi Dalam
(Jantung)
1. Betina ± 12 menit Orange
2. Jantan ± 13 menit Orange pudar

4.2. Pembahasan
Tanaman Biduri (Calotropis gigantean L.) merupakan tumbuhan liar yang telah banyak dikaji. Tanaman ini mengandung senyawa moluskosida yang dapat menghambat aktivitas keong Pomacea. Getah Biduri (Calotropis gigantean L) mengandung glikosida, protease, taraxasterol, kalotropin, kardenolida, flavonoid, gigantisin, kalaktin, kalotoksin, uscharidin, gigantin, uscharin, kalotropain, alkaloid, polifenol, tannin, saponin, sterol, triterpenoid, terpene, pregnana, asam amino nonprotein, α-amirin, β-amirin, ψ-taraxasterol, lupeol, kalatropogenin, asam amino, klorofil, amida, karbohidrat, lignin, dan zat tepung (Musman, 2010).
Pemberian larutan getah Biduri ke dalam wadah menyebabkan keong Pomacea sulit bergerak dan menghambat pernapasan. Zat tersebut menyebar dengan segera dan menyebabkan reaksi spontan pada keong. Perbedaan konsentrasi sangat berpengaruh terhadap lama pajanan.
Respon yang diberikan keong betina dan jantan ketika diberikan senyawa getah Biduri :
o Menarik kaki ke dalam cangkang untuk mengurangi kadar zat terserap,
o Menaiki dinding atas agar sifon mendapatkan udara bersih.
o Mengeluarkan kotoran sebagai reaksi zat tersebut telah masuk ke tubuh keong.
o Mengeluarkan lendir melalui operculum dan operculum menjadi kaku.

Jantung merupakan organ yang paling vital pada tubuh makhluk hidup. Jantung keong Pomacea berwarna orange cerah. Bila zat racun terserap dan menghambat pernapasan si keong, maka jantungnya akan berwarna orange pudar. Pembedahan tubuh keong betina menunjukkan jantung yang berwarna orange, sedangkan jantung keong jantan berwarna orange pudar.
Kematian keong betina membutuhkan waktu ± 12 menit, sedangkan keong jantan membutuhkan waktu ± 13 menit. Perbedaan ini dipengaruhi oleh ketahanan tubuh masing – masing keong dan konsentrasi zat yang diberikan juga berbeda.

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Beberapa kesimpulan yang dapat diperoleh dari praktikum adalah
1. Getah tanaman Biduri (Calotropis gigantean L) memiliki efek toksik terhadap keong Pomacea.
2. Konsentrasi larutan getah mempengaruhi lama pajanan dan perubahan warna pada jantung keong Pomacea.

5.2. Saran
Untuk praktikum selanjutnya diharapkan dapat menguji tanaman liar lain yang diduga bersifat toksik terhadap keong atau mengandung senyawa moluskosida.