BAB I
PENDAHULUAN
1.1        Latar Belakang
Sekarang ini, keong mas sangat meresahkan para petani. Keong mas yang dulunya dijadikan sebagai hewan hiasan dan peliharaan kini malah sudah menjadi hama bagi tanaman padi. Keong mas ini tidak mudah untuk dimusnahkan, karena hewan ini memiliki perkembangan yang cukup cepat. Hanya dalam umur hitungan minggu saja, hewan ini sudah dapat bertelur dalam jumlah yang banyak.
 Biji Penteut Ie (Barringtonia racemosa) dan getah pohon widuri merupakan salah satu pohon yang mengandung zat toksik yang mampu membunuh keong mas ini. Hal ini belum banyak diketahui oleh warga dikarenakan penelitian untuk hal ini belum banyak dilakukan. Salah satu dosen kami dari Jurusan Ilmu Kelautan dan juga sebagai dosen pengasuh mata kuliah Toksikologi yaitu bapak Dr. Musri Musman sebagai dosen bidang kimia telah melakukan penelitian yang menyangkut hal ini. Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan beliau, Biji dari pohon Penteut Ie ini bisa membunuh keong mas dalam kurun waktu 48 jam.
Hal ini sangat berguna bagi kita semua mengingat hama keong mas ini sudah semakin mendunia. Selain itu, pohon puntuet ie dan getah pohon Widuri ini merupakan bahan yang sangat mudah ditemukan didalam lingkungan dan juga bisa menghemat biaya.
Berdasarkan pada penelitian yang telah dilakukan, kami melakukan percobaan ini guna membuktikan dan membandingkan zat toksik dari pohon mana yang lebih cepat membunuh keong mas tersebut.
1.2        Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum toksikologi ini yaitu untuk mengetahui berapa lama efek toksik dari ekstrak biji Penteut ie dan getah dari pohon Widuri terhadap keong mas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1    Barringtonia racemosa
Barringtonia racemosa merupakan tanaman tropis tingkat tinggi anggota dari famili Lecythidaceae (Sangai, 1971) yang banyak tersebar di Afrika Timur, Asia Tenggara dan Kepulauan Pasifik (Strey, 1976; Chantaranothai, 1995).  Tumbuh di negara-negara berlintang rendah dimana terkena sinar matahari dengan intensitas tinggi dalam jangka waktu yang lama.
Barringtonia racemosa merupakan tumbuhan asosiasi mangrove, yang dapat ditemukan di daerah hutan hujan tropis dan daratan rendah yang terbuka (Sangai, 1971). Tumbuhan ini dapat mentolerir air dengan salinitas yang tinggi sehingga dapat tumbuh subur pada daerah pantai dan estuari (Strey, 1976).
Secara lokal tanaman ini dikenal sebagai peunteut ie (Musman, 2010) dan bijinya sering digunakan sebagai obat tradisional untuk mengobati batuk, asma, dan diare (Ojewole et al, 2005). Di Malaysia daunnya digunakan sebagai obat darah tinggi (Chantaranothai, 1995).
2.2  Calostropis gigantea
Biduri atau widuri dengan nama ilmiah Calostropis gigantea memiliki sinonim Aselepias gigantea Willd, termasuk familia aselepiadaceae. Di Sumatera dikenal sebagai rubik biduri, lembega, rembega dan rumbigo. Masyarakat di Jawa mengenalnya sebagai babakoan, badori, biduri, widuri, saduri, sidaguri, bhiduri dan burigha. Sedagkan di Nusatenggara disebut muduri, rembiga, kore, krokoh kolonsusu, mado kapauk, modo kampauk. Di Sulawesi dikenal sebagai lambega. Widuri banyak ditemukan di daerah bermusim kemarau panjang, seperti padang rumput yang kering, lereng-lereng gunung yang rendah, dan pantai berpasir.
            Tumbuhan ini berciri-ciri semak tegak, tinggi 0,5-3 m. Batang bulat, tebal, ranting muda berambut tebal berwarna putih. Daun tunggal, bertangkai pendek, letak berhadapan. Helaian daun berbentuk bulat telur atau bulat panjang, ujung tumpul, pangkal berbentuk jantung, tepi rata, pertulangan menyirip, panjangnya 8-30 cm, lebar 4-15 cm, berwarna hijau muda. Permukaan atas helaian daun muda berambut rapat berwarna putih (lambat laun menghilang), sedangkan permukaan bawah tetap berambut tebal berwarna putih, namun bulunya akan luluh bila daun sudah tua. Mahkota bunganya bewarna ungu dengan tabungnya yang bewarna hijau pucat, sedangkan mahkota bunga tambahan bewarna putih.
Biduri berbiji bulat telur memanjang dengan ujung melengkung serupa kait, bijinya bewarna coklat, berambut pendek dan lebat serta berumbai putih seperti sutera yang panjang. Batangnya bila ditoreh akan mengeluarkan getah bewarna putih dan rasanya pahit. Getah ini dapat dipakai untuk obat sakit gigi. Pada zaman dulu, orang Cina di Indonesia memanfaatkan  bunga widuri sebagai manisan, dan serabut batangnya digunakan untuk jaring ikan atau dibuat tali.
Kulit akar biduri dikenal dengan nama simplisia Calotropidis radix cortex. Kandungan zat kimia berkhasiatnya adalah saponin, sapogenin, kalotropin, kalotoksin, uskarin, kalaktin, gigantin dan harsa. Kegunaan kulit akar biduri adalah untuk memacu enzim pencernaan dan peluruh keringat. Sedangkan getahnya dipakai untuk pencahar dan penyebab muntah. Getah biduri bersifat racun.
2.2    Keong mas (Pomacea canaliculata)
            Keong mas atau murbai ( Pomacea canaliculata ) merupakan salah satu jenis invertebrara dari kelas Gastropoda air tawar yang diintroduksi ke Indonesia pada tahun 1981 sebagai hewan hias. Sejak awal introduksi ada dua pendapat yang bertentangan perihal keong mas. Satu pihak mendukung introduksi keong mas dan mengembangbiakkannya sebagai komoditas ekspor dan ekonomu, dan di pihak lain mengkhawatirkan keong mas akan menjadi hama tanaman dan pertanian.
Keong mas (Pomacea canaliculata) termasuk dalam filum: Molusca, Kelas: Gastropoda, Sub kelas: Pulmonata, Ordo: Stylommatohora, Genus: Ampallarius, dan Spesies: Pomacea canaliculata (Ghesquiere, 2007).
Pomecea canaliculata secara morfologi ditandai oleh karakteristik sebagai berikut : rumah siput bundar, memiliki menara pendek, rumah siput besar, mulut besar dengan bentuk oval, overculum tebal rapat menutup mulut apabila diberikan gangguan, berwarna kuning muda, dagingnya lunak berwarna putih krem, terkadang ditemukan juga yang berwarna biru gelap. Operculum betina cekung dan tepi mulut rumah ciput melengkung ke dalam, sebaliknya operculum jantan cembung dan tepi mulut rumah siput melengkung keluar.
Keong mas (Pomacea canaliculata) dapat menyebar dengan cepat karena setiap keong mas dewasa (60 hari setelah menetas hingga 3 tahun) menghasilkan telur berkisar antara 132 sampai 1.827 butir. Telur menetas setelah 7 sampai 14 hari dengan persentase menetas lebih 80% (Musman, 2004).
BAB III
METODELOGI PEERCOBAAN
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium Jurusan Ilmu Kelautan UNSYIAH pada tanggal 5 juni 2011 pada pukul 09.00 sampai selesai.
3.2 Alat dan Bahan
            Tabel 3.2.1 Nama alat dan bahan
No.
Nama alat dan bahan
Jumlah
1.
Aquarium
3 unit
2.
Keong mas
secukupnya
3.
Ekstrak Penteut Ie
secukupnya
4.
Air
secukupnya
5.
Getah widuri
Secukupnya
3.3 Metode Kerja
a. Keong mas + ekstrak Penteut Ie
ü  Dibersihkan keoang mas terlebih dahulu
ü  Dimasukkan kedalam aquarium yang telah diisi air
ü  Dibiarkan dulu keong mas bergerak bebas
ü  Dituangkan larutan Penteut Ie yang telah disiapkan terlebih dahulu pada beberapa sisi aquarium
ü  Dibiarkan sampai keong mas mati
b. Keong mas + getah Widuri
ü  Dibersihkan keoang mas terlebih dahulu
ü  Dimasukkan kedalam aquarium yang telah diisi air
ü  Dibiarkan dulu keong mas bergerak bebas
ü  Dituangkan getah Widuri yang telah disiapkan terlebih dahulu pada beberapa sisi aquarium
ü  Dibiarkan sampai keong mas mati
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
§  Keong mas + ekstrak Penteut Ie
§  Keong mas + getah pohon Widuri
4.2 Pembahasan
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dapat kita bisa liat bahwa ekstrak pohon Penteut Ie dan getah pohon Widuri mampu membunuh keong mas walaupun dalam kurun waktu lebih dari 24 jam. Tetapi ada juga yang langsung mati dalam waktu 10 menit. Ini dikarenakan pertahanan tubuh dari masing-masing keong mas tersebut yang tidak dapat menerima zat-zat yang ada terkandung pada Barringtonia racemosa dan Calostropis gigantea. Pada kedua jenis tanaman tersebut mengandung senyawa metabolit sekunder, yaitu saponin dan flavonoid. Kedua jenis senyawa tersebut merupakan senyawa racun bagi hewan Keong mas, terutama senyawa saponin.
Dapat kita ketahui secara visualisasi, bahwa eksrak biji Barringtonia racemosa  mengandung saponin. Pada saat melarutkan ekstrak biji Barringtonia racemosa terbentuk busa-busa pada campuran ektrak Barringtonia racemosa dengan air. Hal ini menandakan bahwa Barringtonia racemosa mengandung saponin. Untuk uji terhadap kandungan flavoid terhadap tanaman dibutuhkan uji laboratorium kembali. Namun berdasarkan referensi yang telah ada dapat diketahui kandunga saponin pada tanaman Barringtonia racemosa. Sedangkan pada tanaman Calostropis gigantea ataupun Widuri juga terkandung berbagai macam jenis metabolit sekunder. Hal ini dapat kita lihat pada kegunaan tanaman Calostropis gigantea untuk pengobatan tradisional.
Pada uji ekstrak Barringtonia racemosa dan Calostropis gigantea terhadap beberapa Keong Mas pada aquarium yang telah berisi air, diberikan perlakuan pendiaman terhadap Keong mas supaya merasa nyaman dan bergerak di dalam aquarim. Hal ini dilakukan agar proses masuknya senyawa racun ke dalam tubuh Keong Mas berlansung sangat cepat dikarenakan pada saat keong bergerak, dikarenakan pada saat keoan Mas bergerak operculum keong akan terbuka dan senyawa-senyawa racun masuk lansung ke dalam tubuh.
Respon Keong ketika dimasukkan larutan ekstrak Barringtonia racemosa dan Calostropis gigantea ke dalam masing-masing dua aquarium yang telah berisikan beberapa Keong mas , sangat berbeda. Pada uji sampel Barringtonia racemosa sampel uji beberapa Keong lansung mengalami respon pergerakan membuka dan menutup operculumnya sambil sesekali mengeluarkan cairan mukosa dari dalam tubuhnya. Hal ini dilakukan keong mas karena tubuh Keong mas tidak menrima keberadaan zat lain di sekitar ruang lingkup kehidupannya, teruma zat yang beracun. Ketika Keong mas mendeteksi zat-zat beracun melalui sungut-sungutnya, Keong lansung berusaha mempertahankan dirinya agar tidak tekontaminasi racun dengan cara menutup tubuhnya dengan operculum serapat-rapatnya dan mengeluarkan cairan mukosa. Akibat pengeluaran cairan mukosa yang terlalu banyak di dalam cangkang menghambat dan menyebabkan Keong mas kesulitan untuk bernapas, sehingga secara perlahan akan menyebabkan kematian pada Keong Mas karena kekurangan oksigen di dalam tubuhnya.
Pada uji sampel Keong Mas yang kedua,di masukkan ekstrak getah dari tanaman  Calostropis gigantea. Ekstrak yang dimasukkan ke dalam aquarium sebelumnya di cairkan dengan air, lalu dituangkan ke dalam aquarium yang berisi beberapa Keong Mas. Setelah dimasukkan efek yang terjadi terhadap Keong Mas sedikit berbeda dengan efek yang terjadi ketika ekstrak Barringtonia racemosa dimasukkan ke dalam aquarium sampel sebelumnya. Keong yang diberikan ekstrak getah Calostropis gigantea mengalami respon menggerakkan membuka dan menutup operculum serta mengeluarkan mukosa namun tidak secepat ketika perlakuan sampel sebelumnya. Tingkah laku Keong mas terhadap racun hanya sementara. Sebagian Keong Mas bergerak menjauh dari ekstrak Calostropis gigantea yang telah dicairkan sebelumnya dan sebagin lagi bahkan ada yang menaiki dinding aquarium untuk mengindari racun dari Calostropis gigantea. Hal ini  dikarenakan ekstak getah Calostropis gigantea yang dicairkan tidak larut secara sempurna, sehingga cairan ekstrak Calostropis gigantea tidak menyebar secara merata di air dan cenderung mengendap di dasar aquarium. 

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang telah kami lakukan dapat kita ketahui bahwa pohon Penteut Ie dan getah pohon Widuri mengandung zat toksik yang dapat mematikan keong mas yang selama ini menjadi hama bagi padi para petani.  
5.2 Saran
  Semoga dengan adanya praktikum ini, kita bisa memberikan informasi ini kepada masyarakat supaya para petani bisa menerapkannya. Sehingga para petani bisa meminimalkan perkembangan hama keong mas ini yang selama ini memjadi masalah pertama bagi petani sehingga menyebabkan hasil panen berkurang atau gagal panen.