TUGAS MAKALAH
PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS ORGANIK
MASERASI DAUN KUNYIT

Disusun Oleh:
1. Agus Nugroho 136596
2. Aprilia Ayu Kirana Putri 136618
3. Dinda Ayu Ramadhani 136658
Kelas : 2D1
Kelompok : 4

Kementrian Perindustrian RI
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri
POLITEKNIK AKA Bogor 2015

DAFTAR ISI
COVER……………………………………………………………………………i
DAFTAR ISI……………………………………………………………………1
1.TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………………….2
1.1.Taksonomi kunyit……………………………………………………………2
1.2.Manfaat kunyit……………………………………………………………….4
1.3.Kandungan Senyawa Kunyit…………………………………………………7
2.TEKNIK MASERASI………………………………………………………..10
3.SKRINING FITOKIMIA…………………………………………………….13
4.UJI AKTIFITAS ANTIOKSIDAN ANTIMIKROBA ANTIKANKER……..15
5.HASIL DAN PEMBAHASAN………………………………………………22
6.KESIMPULAN………………………………………………………………30
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………..……31

1. TINJAUAN PUSTAKA
1.1. Taksonomi
Indonesia kaya akan herba obat. Salah satu yang populer digunakan masyarakat kita adalah kunyit atau biasa juga dikenal dengan nama kunir. Herba yang satu ini biasa digunakan dalam dunia pengobatan dan juga kuliner. Tanaman multiguna ini memang penting. Kunyit dikenal dengan nama latin Curcuma domestica val. Nama daerah untuk kunyit yaitu kunir, koneng, koneng temen (Sunda), kunyit (Aceh), kuning (Gayo), kuning, unik (Batak), kunyit (Melayu), cahang (Dayak), kunyit, janar (Banjar), kunir, kunir betis, temu kuning (Jawa), konye, temu koneng (Madura), kunyik (Sasak), huni (Bima), unyi (Bugis), kumino, unin, unine, uninum (Ambon), rame, kandeifu, nikwai, mingguai, jaw (Irian), kunyir (Lampung), kunidi (Sulawesi Utara)

Gambar Akar dan Serbuk Akar Kunyit
Tabel Taksonomi Tanaman Kunyit
Kerajaan Plantae
Divisi Spermatophyta
Sub Divisi Angiospermae
Kelas Monocotyledoneae
Ordo Zingiberales
Familia Zingiberaceae
Genus Curcuma
Spesies Curcuma domestica Val

1.1.1 Morfologi Tanaman
Secara umum, kunyit memiliki ciri-ciri antara lain memiliki cabang dengan ketinggian antara 10 sampai 100 cm. Tanaman kunyit adalah tanaman berumur panjang dengan daun besar berbentuk elips, 3-8 buah, panjang sampai 85 cm, lebar sampai 25 cm, pangkal daun meruncing, berwarna hijau seragam. Batang semu berwarna hijau atau agak keunguan, tinggi sampai 1,60 meter. Bagian batangnya tidak berupa batang berkambium melainkan batang semu yang tegak dan cenderung bulat. Batang tersebut membentuk rimpang, berwarna hijau bercampur kuning dan tersusun atas pelepah-pelepah daun dengan tekstur yang lunak.
Sementara itu bagian daun memiliki bentuk yang lanset atau bulat telur. Ukuran panjangnya bisa mencapai 40 cm. Sementara itu lebarnya antara 8 sampai 12,5 cm. Daun tersebut merupakan daun tunggal dengan tulang menyirip dan warna hijau yang cenderung pucat. Dari klasifikasi kunyit di atas, kita juga bisa mengetahui bahwa bunga pda kunyit merupakan jenis bunga majemuk dengan rambut juga sisik yang terletak di pucuk batang semunya.

Perbungaan muncul langsung dari rimpang, terletak di tengah-tengah batang, ibu tangkai bunga berambut kasar dan rapat, saat kering tebalnya 2-5 mm, panjang 16-40 cm, daun kelopak berambut berbentuk lanset panjang 4-8 cm, lebar 2-3,5 cm, yang paling bawah berwarna hijau, berbentuk bulat telur, makin ke atas makin menyempit dan memanjang, warna putih atau putih keunguan, bagian ujung berbelah-belah, warna putih atau merah jambu. Bentuk bunga majemuk bulir silindris. Mahkota bunga berwarna putih. Bagian di dalam tanah berupa rimpang yang mempunyai struktur berbeda dengan Zingiber (yaitu berupa induk rimpang tebal berdaging, yang membentuk anakan, rimpang lebih panjang dan langsing) warna bagian dalam kuning jingga atau pusatnya lebih pucat.

1.1.2. Ekologi dan Penyebaran
Tanaman kunyit tumbuh dan ditanam di Asia Selatan, Cina Selatan, Taiwan, Indonesia, dan Filipina. Tanaman kunyit tumbuh dengan baik di tanah yang baik tata pengairannya, curah hujan yang cukup banyak dan di tempat yang sedikit kenaungan, tetapi untuk menghasilkan rimpang yang lebih besar dan baik ditanam di tempat yang terbuka.
1.2. MANFAAT KUNYIT
1.2.1. Kunyit Sebagai Obat Tradisional
Kunyit mempunyai khasiat sebagai jamu dan obar tradisional untuk berbagai jenis penyakit mempunyai peranan sebagai antioksidan, antitumor, antikanker, antimikroba, antipikun, dan antiracun, Secara tradisional kunyit sering digunakan oleh masyarakat di berbagai negara . Jamu pada prinsipnya bermakna ”obat kuat” atau “obat seluruh” serta adalah sistem pengobatan lokal yang datang dari indonesia. Kunyit yaitu bahan jamu alami yang sudah dipakai sejak masa dahulu.
Di beberapa negara scperti di Madagaskar, Cina, India, dan Yunani, kunyit sering digunakan sebagai antiparasit, anti-infeksi, antiperiodik, astringen, diuretik, perangsang, dan tonik. Selain itu juga sebagai obat luka, sakit perut, penyakit hati, dan gangguan saluran kencing
1.2.2. Kunyit sebagai rempah-rempah
Kunyit merupakan salah satu rempah yang biasa dijadikan bumbu dapur. Hampir setiap masakan lezat dari Indonesia tidak luput dari kunyit sebagai bumbunya. Selain dijadikan sebagai bumbu masak, kunyit yang memiliki nama latin Curcuma Domestica Val ini juga sering dijadikan jamu dan bahan ramuan obat tradisional.
Daun kunyit merupakan bumbu dapur yang diambil dari daun tumbuhan kunyit. Bumbu ini banyak digunakan dalam beberapa jenis masakan Indonesia, terutama di dapur Sumatera. Kegunaannya adalah memberi rasa gurih dengan aroma khas yang lembut. Cara penggunaannya dalam masakan adalah dengan mencampurkan daun kunyit segar ke dalam masakan, baik yang masih utuh maupun diiris tipis terlebih dahulu. Beberapa masakan yang sering menggunakan daun kunyit adalah aneka gulai, aneka kalio, rendang, dan sebagainya.
Tanaman kunyit dapat dengan mudah dibudidayakan di halaman rumah karena ia dapat tumbuh di hampir seluruh tempat di Indonesia. Anda juga dapat memeprolehnya di pasar-pasar tradisional dengan mudah

1.2.3. Mengurangi kanker karena memiliki kandungan anti-kanker
kunyit juga punya potensi menambah jumlah antioksidan didalam tubuhKunyit punya potensi didalam penyembuhan kanker. Pada penderita kanker, beberapa sel kanker menjalar melewati pembuluh darah ( metastasis ) serta jaringannya jadi tumor. Angiogenesis juga berlangsung, yakni perkembangan pembuluh darah baru yang menyebar ke arah tumor untuk suplai nutrien, oksigen serta sirkulasi kotoran. Kurkumin menyembuhkan kanker hambat laju perkembangan pembuluh-pembuluh darah baru tersebut
1.2.4. Memperlambat proses penuaan
penyakit pikun bisa diperlambat dengan kerap konsumsi kunyit didalam makanan. Penyakit alzheimer yaitu di antara penyakit pikun yang berlangsung biasanya pada umur tua, saat kapasitas fisik otak menyusut. Kunyit punya potensi memperpanjang periode waktu abilitas kognitif otak. Sebagian penelitian menunjukkan bahwa manula di asia yang kerap mengonsumsi kare ( curry ) yang memiliki kandungan kunyit mempunyai daya ingatan yang tambah baik dari pada manula di benua yang lain.

1.2.5. Menyembuhkan Penyakit
Kunyit untuk mengobati berbagai jenis penyakit, seperti pcnyakit yang di­ sebabkan oleh milcroba parasit, gi­ gitan serangga, penyakit mata, cacar, sakit perut (diare, sembelit, kembung), gangguan pencernaan, gangguan hati, asma, menghilangkan gatal-gatal dan penyakit kulir lain, mengurangi rasa nyeri dan sakit pada penderita rematik arthritis.
Karakter analgesik alami kunyit bekerja hambat cox-2 yang mencetuskan rasa nyeri. Dengan karakter analgesik serta antiinflamasinya, kunyit bisa menyembuhkan artritis serta rheumatoid artritis. Bagian yang sering dimanfaatkan sebagai obat adalah rimpang; untuk, antikoagulan, antiedemik, menurunkan tekanan darah, obat malaria, obat cacing, obat sakit perut,
Kurkumin juga berkhasiat mematikan kuman dan menghilangkan rasa kembung karena dinding empedu dirangsang lebih giat untuk mengeluarkan cairan pemecah lemak. Minyak atsiri pada kunyit dapat bermanfaat untuk mengurangi gerakan usus yang kuat sehingga mampu mengobati diare. Selain itu, juga bisa digunakan untuk meredakan batuk dan anti kejang. Kunyit membantu menyembuhkan luka lebih cepat, sebagai antiseptic alami dan mencegah leukemia
1.2.6. Meningkatkan kekebalan tubuh
Kurkumin, senyawa fenolik alami pada kunyit, berguna untuk menambah kekebalan tubuh dan mengelola berat badan secara efektif
1.2.7. Membantu melawan gangguan kulit.
Kunyit memiliki kegiatan antiseptik yang bisa menyingkirkan gatal-gatal serta infeksi bakteri seperti jerawat. Kunyit juga dipakai oleh industri kosmetik didalam cream tabir surya, product hair removal serta perawatan bekas luka, menyembuhkan pigmentasi, melembabkan kulit, menyembuhkan memar dan menyembuhkan luka.

1.2.7. Membersihkan kulit wajah, membuat lebih bersinar dan cerah
Kunyit didalam jamu atau bahan lulur dipakai oleh beberapa wanita untuk mencerahkan warna kulit dan membuatnya lebih sehat, halus serta mulus.
1.3. Kandungan Senyawa
Kandungan zat-zat kimia yang terdapat dalam rimpang kunyit adalah sebagai berikut:

1.3.1. Zat warna kurkuminoid
Kurkumin (1,7-bis(4′ hidroksi-3 metoksifenil)-1,6 heptadien, 3,5-dion merupakan komponen penting dari Curcuma longa Linn. yang memberikan warna kuning yang khas (Jaruga et al., 1998 dan Pan et al., 1999). Kurkumin termasuk golongan senyawa polifenol dengan struktur kimia mirip asam ferulat yang banyak digunakan sebagai penguat rasa pada industri makanan Kurkuminoid merupakan suatu senyawa diarilheptanoid 3-4%. Kandungan kurkuminoid berkisar antara 3,0 – 5,0%, yang terdiri dari kurkumin dan turunannya yaitu deme­ toksikurkumin dan bisdemetoksi­ kurkumin. Kurkuminoid berbentuk kristal prisma atau batang pendek, membentuk emu lsi atau tidak Larnt dalam air, dan mudah larut dalam aseton, etaool, metanol, bensen, dan khloroform. Degradasi kurkumin tergantung pada pH dan berlangsung lebih cepat pada kondisi netral-basa. Senyawa tersebut memberikan fluorsensi warna kuning, jingga, sampai jingga kemerahan yang kuat di bawah sinar ultra violet yang tidak stabil jika kcna sinar matahari dan menjadi stabil apabila dipanaskan.
Serbuk kering rhizome (turmerik) mengandung 3-5% kurkumin dan dua senyawa derivatnya dalam jumlah yang kecil yaitu desmetoksi kurkumin dan bisdesmetoksikurkumin, yang ketiganya sering disebut sebagai kurkuminoid.
Kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat obat, yang disebut kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin , desmetoksikumin sebanyak 10% dan bisdesmetoksikurkumin sebanyak 1-5% dan zat-zat bermanfaat lainnya seperti minyak atsiri yang terdiri dari Keton, sesquiterpen, turmeron, tumeon 60%,Zingiberen25%, felandren , sabinen , borneol dan sineil. Kunyit juga mengandung Lemak sebanyak1-3%, Karbohidrat sebanyak3%, Protein 30%, Pati 8%, Vitamin C 45-55%, dan garam-garam mineral, yaitu zat besi, fosfor, dan kalsium.

1.3.2. Minyak atsiri
Minyak atsiri terdiri dari seskuiterpen dan turunan fenilpropana turmeron (aril-turmeron, alpha turmeron dan beta turmeron), kurlon kurkumol, atlanton, bisabolen, seskuifellandren, zingiberin, aril kurkumen, humulen. Senyawa utama yang terkandung dalam rimpang kunyit adalah kurkuminoid dan minyak atsiri. Kandungan minyak at­ siri rimpang kunyit berkisar autara 2,5 – 6,0%, yang terdiri dari komponen arnuneron, alfa dan beta tumeron, tumerol, alfa atlanton, beta kariofilcn, linalol, 1,8 sineol, zingi­ beren, dd felandren, d-sabinen, dan borneol. Aroma khas kunyit yaitu dari minyak atsiri yang memiliki kandungan alkohol seskuiterpen.

1.3.3. Arabinosa, fruktosa, glukosa, pati, tanin dan dammar
1.3.4. Antioksidan
Antioksidan adalah suatu sonya­ wa yang dapat menangkal scnyawa­ scnyawa radikal bebas. Kunyit di­ nyatakan dapat mencegah kerusakan akibat scnyawa radikal bcbas tcr­ sebut. Secara in-vitro tclah dibukti­ kan bahwa kurkuminoid kunyit dapat mcnghambat proses peroksi­ dasi lcmak pada bati tikus. Kurku­ min dilaporkan mcrupakan antiok­ sidan yang kuat yang daya antiok­ sidannya dinyatakan 8 kali lebih kuat dibandingkan dengan vitamin E. Daya antioksidan dari kurkumin mungkin sebagai penetral senyawa radikal bebas, penghambat enzirn rcaksi oksidasi seperti sirok­ rom P-450, menyetop tchelating atau disarming) proses oksidasi dari ion logam seperti Fe, memadamkao (quencing) oksigen, sehingga tidak tersedia untuk reaksi oksidasi.
1.3.5. Antitumor dan antikanker
Secara in-vitro, senyawa kurkumin yang terkandung dalam rimpang kunyit bersifat iiotoksik yang dapat menghambal proliferasi scl-sel kan­ kcr dan dapat mcngurangi dan menghilangkan bau, rasa gatal dan nyeri. cairan eksudat yang keluar dari luka, dan mengurangi ukuran luka dad kanker. Oleh karcna itu, kunyit memungkinkan untuk di­ gunakan scbagai antiradang yang berguna dalam terapi pcngobatan tumor dan kanker. Kurkumin juga dapat berpotensi untuk diguna­ kan sebagai Cox-Z inhibitor sintetik karena dapat mengharnbat Cox-2 enzymes, sehingga dapar digunakan untuk mengobati penyakit kanker, rematik, arthritis, gout, dan inflamasi.

2.TEKNIK MASERASI
2.1.Maserasi
Istilah maceration berasal dari bahasa latin macerare, yang artinya adalah “merendam”. Maserasi merupakan proses ekstraksi paling tepat dimana obat yang sudah halus memungkinkan untuk direndam dalam pelarut sampai meresap dan melunakkan susunan sel, sehingga zat-zat yang mudah larut akan terlarul di dalamnya (Ansel, 1989). Maserasi merupakan cara penyarian yang paling sederhana yang dilakukan dengan meredam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya, dimana cairan penyari akan masuk kedalam sel melewati dinding sel (Sudjadi, 2008).
Metode maserasi digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, tiraks dan lilin. Pada teknik maserasi, cairan penyari akan masuk kedalam sel melalui dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan didalam sel dan diluar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi rendah melalui proses difusi. Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan didalam sel dan diluar sel. Selama proses maserasi, dilakukan pengadukan dan penggantian cairan penyari setiap hari. Endapan yang diperoleh dipisahkan dan filtratnya dipekatkan. (Gandjar dan Rohman, 2007)
Kecuali dinyatakan lain, maserasi dilakukan sebagai berikut: sepuluh bagian simpilisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok dimasukkan di dalam bejana, lalu dituangi 75 bagian penyari, ditutup dan dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil sering diaduk. Setelah 5 hari campuran tersebut diserkai, diperas, dicuci ampasnya dengan cairan penyari secukupnya hingga diperoleh 100 bagian. Lalu maserat dipindah dalam bejana tertutup dan dibiarkan di tempat sejuk, terlindung dari cahaya selama 2 hari, maserat disaring. Kemudian maserat disuling atau diuapkan pada tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 500 hingga konsistensi yang dikehendaki. Maserat dipanasi pada suhu 900 untuk mengendapkan protein agar sediaan tahan lama (Anief, 1997).
Keuntungan dari metode ini yaitu unit alat yang dipakai sederhana, (hanya dibutuhkan bejana perendam), biaya operasionalnya relatif rendah. prosesnya relatif hemat penyari, tanpa pemanasan. Kelemahan dari metode ini yaitu proses penyariannya tidak sempurna, karena zat aktif hanya mampu terekstraksi sebesar 50% saja, prosesnya lama, butuh waktu beberapa hari (Kusmardiyani dan Nawawi, 1992).

2.2.Ekstraksi Dengan Metode Maserasi
Daun kunyit yang segar dikering anginkan. Masing-masing sampel diblender kering hingga menjadi simplisia. Simplisia direndam dalam metanol selama 3 hari pada suhu ruangan. Maserat kemudian disaring, filtrat dipisahkan dan ampasnya direndam kembali ke dalam metanol yang baru, maserasi diulangi sebanyak ± 5 kali hingga diperoleh maserat berwarna jernih. Filtrat yang diperoleh dipekatkan dalam rotary evaporator ( 40 oC) atau pada suhu didih (Ginting, 2008), hingga diperoleh ekstrak kental pada masing-masing sampel. Ekstrak kental dimasukkan ke dalam botol vial dan dikeringkan dalam desikator hingga diperoleh ekstrak kering. Ekstrak metanol yang kering sebanyak 1,4 g dari masing-masing tanaman dicampur dengan 2 mL dimethilsulfoxyde (DMSO) sehingga diperoleh larutan induk dengan konsentrasi 70 % lalu dilakukan pengenceran untuk mendapatkan ekstrak 60, 50, 40, 30, 15, 10 dan 5 %. Ekstrak yang diperoleh disimpan dalam botol vial pada suhu refrigerator.

2.3. Metoda Pemisahan
Metode pemisahan merupakan suatu cara yang digunakan untuk memisahkan atau memurnikan suatu senyawa atau kelompok senyawa yang mempunyai susunan kimia yang berkaitan dari suatu bahan, baik dalam skala laboratorium maupun skala industri. Metode pemisahan bertujuan untuk mendapatkan zat murni atau beberapa zat murni dari suatu campuran, sering disebut sebagai pemurnian dan juga untuk mengetahui keberadaan suatu zat dalam suatu sampel (analisis laboratorium).

Berdasarkan tahap proses pemisahan, metode pemisahan dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu metode pemisahan sederhana dan metode pemisahan kompleks.
Metode Pemisahan Sederhana
Metode pemisahan sederhana adalah metode yang menggunakan cara satu tahap. Proses ini terbatas untuk memisahkan campuran atau larutan yang relatif sederhana.

Metode Pemisahan Kompleks
Metode pemisahan kompleks memerlukan beberapa tahapan kerja,diantaranya penambahan bahan tertentu,pengaturan proses mekanik alat, dan reaksi-reaksi kimia yang diperlukan.Metode ini biasanya menggabungkan dua atau lebih metode sederhana.

3.SKRINING FITOKIMIA
Sebelum melakukan isolasi terhadap suatu senyawa kimia yang diinginkan dalam suatu tumbuhan maka perlu dilakukan identifikasi pendahuluan kandungan senyawa metabolit sekunder yang ada pada masing-masing tumbuhan, sehingga dapat diketahui kandungan senyawa yang ada secara kualitatif dan mungkin juga secara kuantitatif golongan senyawa yang dikandung oleh tumbuhan tersebut (Darwis, 2000)
Skrining fitokimia merupakan langkah awal yang dapat membantu untuk memberikan gambaran tentang golongan senyawa yang terkandung dalam tanaman yang sedang diteliti serta ada atau tidaknya senyawa kimia tertentu dalam tumbuhan tersebut yang dapat dikaitkan dengan aktivitas biologinya. Secara umum dapat dikatakan bahwa metodenya sebagian besar merupakan reaksi pengujian warna dengan suatu pereaksi warna. (Kristanti dkk., 2008).
Skrining fitokimia merupakan analisis kualitatif terhadap senyawa-senyawa metabolit sekunder. Suatu ekstrak dari bahan alam terdiri atas berbagai macam metabolit sekunder yang berperan dalam aktivitas biologinya. Senyawa-senyawa tersebut dapat diidentifikasi dengan pereaksi-pereaksi yang mampu memberikan ciri khas dari setiap golongan dari metabolit sekunder (Harborne, 1987).
Berbagai metode yang dapat digunakan untuk identifikasi metabolit sekunder yang terdapat pada suatu ekstrak antara lain:

3.1. Identifikasi senyawa fenolik
Identifikasi adanya senyawa fenolik dalam suatu cuplikan dapat dilakukan dengan pereaksi besi (III) klorida (FeCl3) 1% dalam etanol. Adanya senyawa fenolik ditunjukkan oleh timbulnya warna hijau, merah ungu, biru atau hitam yang kuat (Harborne, 1987).

3.2. Identifikasi senyawa golongan saponin (steroid dan terpenoid)
Saponin adalah suatu glikosida yang larut dalam air dan mempunyai karakteristik dapat membentuk busa apabila dikocok, serta mempunyai kemampuan menghemolisis sel darah merah. Saponin mempunyai toksisitas yang tinggi. Berdasarkan strukturnya saponin dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu saponin yang mempunyai rangka steroid dan saponin yang mempunyai rangka triterpenoid. Berdasarkan pada strukturnya saponin akan memberikan reaksi warna yang karakteristik dengan pereaksi Liebermann-Buchard (LB)(Harborne, 1987).

3.3.Identifikasi senyawa golongan alkaloid
Alkaloid merupakan senyawa nitrogen yang sering terdapat dalam tumbuhan. Atom nitrogen yang terdapat pada molekul alkaloid umumnya
merupakan atom nitrogen sekunder ataupun tersier dan kadang terdapat sebagai atom nitrogen kuarterner (Harborne, 1987). Salah satu pereaksi untuk mengidentifikasi adanya alkaloid menggunakan pereaksi Dragendorff dan pereaksi Mayer.

3.4.Identifikasi golongan antraquinon
Antrakuinon merupakan suatu glikosida yang di dalam tumbuhan biasanya terdapat sebagai turunan antrakuinon terhidloksilasi, termitilasi, atau terkarboksilasi. Antrakuinon berikatan dengan gula sebagai o-glikosida atau sebagai C glikosida.
Turunan antrakuinon umumnya larut dalam air panas atau dalam alcohol encer. Senyawa antrakuinon dapat bereaksi dengan basa memberikan warna ungu atau hijau (Harborne, 1987).

4. Uji Aktifitas Antioksidan Antimikroba dan Antikanker

Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan hasil pertanian dan tanaman herbal. Sumber daya alam yang dimiliki telah memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari disamping sebagai bahan makanan juga dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Penelitian mengenai tanaman – tanaman herbal yang memiliki aktivitas antibakteri telah dilakukan untuk mengurangi efek samping penggunaan bahan kimia dalam produk hasil pertanian dan peternakan. Tanaman herbal tersebut diantaranya kunyit, kunyit putih, temulawak dan temuireng.
Kunyit mengandung senyawa aktif yaitu kurkumin yang berperan sebagai antitumor, antibakteri dan antioksidan. Kurkumin berwarna kuning alami dan termasuk kelompok senyawa polifenol yang dapat menyebabkan denaturasi protein dan merusak membran sel. Kunyit putih merupakan tanaman herbal yang potensial dan banyak diteliti untuk pengobatan kanker. Temulawak memiliki khasiat sebagai antiinflamasi, antioksidan dan antitumor. Kurkumin yang terdapat dalam rimpang temulawak efektif sebagai antibakteri Escherichia coli dengan konsentrasi 100% dalam uji Kadar Hambat Minimum. Rimpang temuireng merupakan salah satu tanaman tradisional yang sering digunakan untuk menambah nafsu makan dan memacu pertumbuhan. Temuireng memiliki aktivitas antibakteri terhadap Bacillus subtilis, Staphylococcus epidermidis. Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosa.
Berdasarkan latar belakang diatas diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai aktivitas antibakteri dari tanaman herbal tersebut terhadap bakteri dalam tubuh ternak. Escherichia coli merupakan bakteri terbanyak yang terdapat di saluran pencernaan ternak terutama unggas dengan jumlah 104 – 105 CFU/ml. E. coli merupakan salah satu bakteri penyebab infeksi dalam saluran pencernaan. Pada beberapa kasus, e. coli adalah bakteri yang paling banyak menimbulkan infeksi saluran cerna. Tingginya angka kejadian ini disebabkan karena keadaan higienis makanan, minuman dan air yang dikonsumsi kurang baik, serta dipengaruhi oleh higienis lingkungan sekitar.

4.1. MATERI DAN METODE
Materi
Materi yang digunakan dalam penelitian terdiri dari peralatan dan bahan. Peralatan yang digunakan ialah peralatan uji antibakteri seperti cawan petri, tabung reaksi, erlenmeyer, inkubator, timbangan ohaus, mikropipet 1 ml, autoklaf, waterbath dan magnetic stirrer. Bahan yang digunakan adalah akuades, ekstrak kunyit, kunyit putih, temulawak, temuireng, bakteri Escherichia coli dan media uji antibakteri Mueller Hinton Agar (MHA).
Metode
Metode penelitian adalah metode laboratorium dengan menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 6 perlakuan dan 4 ulangan sebagai berikut :
A0 : Akuades
A1 : Antibiotik (tetrachlor)
A2 : Ekstrak kunyit
A3 : Ekstrak kunyit putih
A4 : Ekstrak temulawak
A5 : Ekstrak temuireng

Prosedur uji diameter zona hambat
Persiapan bahan dimulai dengan menyiapkan ekstrak herbal (kunyit, kunyit putih, temulawak dan temuireng). Prosedur selanjutnya ialah sterilisasi alat dan media MHA. Alat dan media yang digunakan uji antibakteri disterilisasi menggunakan autoklaf dengan suhu 121 ºC dalam waktu 30 menit. Selanjutnya uji diameter zona hambat bakteri Escherichia coli dilakukan menggunakan metode difusi sumur agar. Langkah berikutnya adalah mengikuti prosedur kerja uji diameter zona hambat dan dilanjutkan dengan uji KHM.

Prosedur uji KHM
Langkah-langkah uji KHM adalah:
1. Menyiapkan larutan ekstrak sebanyak 1 g kemudian diencerkan dengan aquades 10 ml dan ditambahkan larutan tween 80 sebanyak 100 μL (b/v).
2. Menyiapkan tabung reaksi sebanyak 7 tabung terdiri dari 6 tabung untuk perlakuan dan 1 tabung untuk kontrol.
3. Tabung reaksi 1 diisi 1 ml bakteri uji dengan konsentrasi 106bakteri/ml tanpa pencampuran

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh ekstrak herbal terhadap zona hambat bakteri Escherichia coli
Ekstrak herbal merupakan nutrisi yang diberikan kepada ternak yang berasal dari bahan – bahan alami dan berfungsi meningkatkan penampilan produksi dan kesehatan ternak. Ekstrak herbal yang digunakan dalam penelitian ialah kunyit, kunyit putih, temulawak dan temuireng. Keempat bahan ini digunakan karena memiliki zat aktif berupa kurkumin yang berfungsi sebagai antibakteri. Antibakteri merupakan senyawa kimia khas yang dihasilkan oleh organisme hidup dalam konsentrasi rendah serta dapat menghambat proses penting didalam suatu mikroorganisme. Hasil penelitian pengaruh ekstrak herbal terhadap zona hambat bakteri Escherichia coli dapat

Berdasarkan Gambar 1 dapat dijelaskan bahwa diameter zona hambat terluas adalah antibiotik tetrachlor (tetrasiklin + eritromisin) dan ekstrak herbal yang terbaik adalah kunyit. Diamater zona hambat terlihat dari zona bening di sekitar lubang. Jika semakin luas zona bening maka semakin besar suatu bahan dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Tabel 1 menunjukkan bahwa ekstrak herbal kunyit memiliki diameter zona hambat tertinggi dibandingkan dengan ektrak kunyit putih, temulawak dan temuireng. Hal ini menandakan bahwa aktivitas antibakteri kunyit paling tinggi dibandingkan ekstrak herbal lain meskipun nilainya masih rendah dibandingkan antibiotik. Uji diameter zona hambat dilakukan dengan metode difusi sumuran yaitu membuat lubang pada media Muller Hinton Agar yang sudah padat dan diinokulasi dengan bakteri Escherichia coli. Kemudian lubang diinjeksikan dengan ekstrak herbal yang diuji. Setelah dilakukan inkubasi, pertumbuhan bakteri diamati untuk melihat ada tidaknya daerah hambatan di sekeliling lubang. Davis and Stout (1971) menyatakan diameter zona bening 10–20 mm memiliki daya hambat kuat, diameter zona bening 5–10 mm mempunyai daya hambat sedang dan diameter zona bening Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak herbal dalam berbagai level memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap diameter zona hambat bakteri Escherichia coli. Hasil Uji Jarak Berganda Duncan’s diketahui bahwa diameter zona hambat ekstrak herbal tertinggi ditunjukkan pada perlakuan A1 (10,97±0,03 mm) dan terendah A0 (0±0 mm).
Menurut hasil penelitian ekstrak herbal yang efektif dalam menghambat bakteri Escherichia coli ialah kunyit yaitu sebesar 5,64±0,25 mm. Menurut Davis and Stout (1971), diameter zona bening antara 0–5 mm mempunyai daya hambat sedang. Hal ini dikarenakan kunyit memiliki senyawa aktif kurkumin yang mempunyai aktivitas antibakteri berspektrum luas yaitu antibakteri yang aktif terhadap berbagai jenis bakteri gram positif dan gram negatif, antivirus, dan penginduksi apoptosis sel. Hal ini menunjukkan bahwa kunyit memiliki potensi yang tinggi sebagai pengganti antibiotik. Cikrici et al., (2008) menambahkan bahwa aktivitas antibakteri kurkumin dapat menghambat pertumbuhan Escherichia coli penyebab penyakit diare akut. Proses penghambatan kurkumin terhadap aktivitas bakteri Escherichia coli dengan cara menghambat aktivitas enzim siklooksigenase-2 (cox-2) yang mengubah asam arakhidonat menjadi prostaglandin yang menyebabkan timbulnya rasa sakit. Kurkumin merupakan senyawa fenolik yang juga dapat menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara mendenaturasi dan merusak membran sel sehingga proses metabolisme sel akan terganggu.
Menurut Pelczar dan Chan (1988), perbedaan ketebalan dinding sel bakteri non patogen dan patogen berpengaruh terhadap rekasi yang disebabkan oleh senyawa fenolik. Dinding sel bakteri non patogen akan mengalami dehidrasi sehingga pori–pori akan mengecil. Hal ini menyebabkan daya rembes dinding sel dan fungsi membran menurun, sedangkan pada bakteri patogen lipid akan terekstrasi dari dinding sel sehingga pori – pori mengembang. Hal ini menyebabkan daya rembes sel dan fungsi membran meningkat oleh penyerapan yang tidak terkontrol sehingga merusak komponen dinding selnya.
Gangguan pembentukan dinding sel disebabkan oleh akumulasi komponen lipofilat pada dinding atau membran sel sehingga menyebabkan perubahan komposisi dinding sel. Akumulasi tersebut terjadi karena senyawa antimikroba dipengaruhi oleh bentuk tak terdisosiasi. Pada konsentrasi rendah molekul-molekul fenol yang terdapat pada minyak thyme kebanyakan berbentuk tak terdisosiasi, lebih hidrofobik, dapat mengikat daerah hidrofobik membran protein dan dapat melarut baik pada fase
Lipid dari membran bakteri. Reaksi dengan membran sel terjadi karena komponen bioaktif dapat menganggu dan mempengaruhi integrasi membran sitoplasma yang mengakibatkan kebocoran intraseluler sehingga menyebabkan lisis sel, denaturasi protein dan menghambat ikatan ATP ase pada membran sel. Selain itu, cara yang digunakan adalah dengan menginaktivasi enzim. Mekanisme tersebut menunjukkan kerja enzim akan menganggu dalam mempertahankan kelangsungan aktivitas mikroba sehingga mengakibatkan enzim akan memerlukan energi dalam jumlah besar untuk mempertahankan kelangsungan aktivitasnya. Akibatnya energi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan menjadi berkurang dan aktivitas mikroba menjadi terhambat. Pertumbuhan bakteri akan terhenti jika kondisi tersebut berlangsung secara terus menerus. Khunaifi menyatakan bahwa didalam sel terdapat enzim dan protein yang membantu kelangsungan proses-proses metabolisme. Beberapa zat kimia telah diketahui dapat mengganggu reaksi biokimia seperti logam-logam berat, golongan tembaga, perak dan air raksa. Senyawa logam berat lainnya umumnya efektif sebagai bahan antimikroba pada konsentrasi yang relatif rendah. Logam–logam tersebut akan mengikat gugus enzim sulfihidril yang berakibat terhadap perubahan protein yang terbentuk. Penghambatan ini dapat mengakibatkan terganggunya metabolisme sel.
Meskipun demikian, diameter zona hambat kunyit lebih rendah dibandingkan dengan zona hambat antibiotik yaitu 10,97±0,03 mm. Hal ini karena antibiotik berasal dari mikroorganisme atau zat yang dihasilkan secara sintesis kimia. Antibiotik berasal dari zat sama yang sebagian atau seluruhnya dibuat dengan cara sintesis kimia dimana dengan konsentrasi rendah mampu menghambat bahkan membunuh mikroorganisme. Pada uji diameter zona hambat diketahui bahwa kunyit memiliki diameter zona hambat tertinggi yaitu 5,64±0,25 mm terhadap bakteri Escherichia coli. Uji KHM bertujuan untuk mengetahui konsentrasi minimal suatu bahan yang dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli seperti yang tercantum pada Tabel 2. Penghambatan aktivitas bakteri Escherichia coli dilakukan dengan metode dilusi tabung yaitu senyawa antibakteri diencerkan hingga diperoleh beberapa macam konsentrasi. Kemudian masing – masing konsentrasi ditambahkan bakteri Escherichia coli dalam media nutrient broth. Perlakuan tersebut akan diinkubasi dan diamati ada atau tidaknya pertumbuhan bakteri yang ditandai dengan terjadinya kekeruhan. Pratiwi (2008) menyatakan bahwa larutan uji senyawa antibakteri pada kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya pertumbuhan bakteri uji ditetapkan sebagai KHM atau Minimal Inhibitory Concentration (MIC).
Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 2, ekstrak kunyit dapat menghambat aktivitas bakteri Escherichia coli dengan konsentrasi minimum 50% dan konsentrasi tertinggi 100%. Ekstrak kunyit pada konsentrasi 50% mampu menghambat aktivitas bakteri Escherichia coli. Hal ini dikarenakan semakin tinggi konsentrasi suatu zat antibakteri semakin tinggi daya antibakterinya. Bakteri akan terbunuh lebih cepat apabila konsentrasi zat antibakteri lebih tinggi. Kurkumin pada kunyit mempunyai aktivitas antibakteri berspektrum luas yaitu antibakteri yang aktif terhadap berbagai jenis bakteri gram positif dan gram negatif, antivirus dan penginduksi apoptosis sel. Pada konsentrasi 50% jumlah bakteri Escherichia coli mengalami penurunan 0,4 x 107 dan pada konsentrasi minimum 50% zat aktif dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Sedangkan pada konsentrasi 100% jumlah bakteri Escherichia coli menurun sebanyak 1,5 x 104.

KESIMPULAN
Ekstrak kunyit memiliki diameter zona hambat tertinggi dibandingkan ekstrak kunyit putih, temulawak dan temuireng yaitu 5,64 mm dengan kadar hambat minimum 50%.

5.HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1.Skrening kandungan fitokimia
Skrening kandungan fitokimia dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan kandungan fenolik, flavonoid dan tanin terkondensasi dalam ekstrak metanol (EM), ekstrak etanol (EE) dan ekatrak aseton (EA) disajikan dalam tabel 1. Dari ketiga ekstrak kunyit yang diuji, semua ekstrak memiliki kandungan fenolik, flavonoid dan tannin yang signifikan. Hasil ini mengindikasikan bahwa ekstrak kunyit yang diuji kaya dalam fitokimia fenolik, flavonoid dan tanin. Dari data secara kuantitatif menunjukkan bahwa kandungan total fenolik, flavonoid dan tanin pada ekstrak kunyit kelihatan sangat berbeda diantara jenis pelarut
yang digunakan (Tabel 1).

Dari tiga jenis pelarut yang dipilih paling tinggi, kandungan total fenolik ditemukan pada EM (139,08±0,02 mg/kg) diikuti oleh EA (117,14±0,03 mg/kg) dan EE (96,67±0,01 mg/kg). Untuk kandungan total flavonoid tertinggi ditemukan pada ekstrak EM dan EA diikuti oleh EE, kandungannya berturut-turut adalah 16,89±0,01; 14,50±0,01 dan 13,80±0,018. Sebaliknya, kandungan tanin terkondensasi tertinggi ditemukan pada ekstrak EE dan EA, kandungnya adalah 54,72±0,01 dan 42,44±0,08, selanjutnya yang terendah diperoleh pada EM sebesar 35,94±0,01 mg/kg. Daun kunyit yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun kunyit yang sudah layak dipanen. Kandungan total fenolik dan flavonoid dari ekstrak EM dan EA yang dideteksi memiliki kandungan cukup tinggi dibandingkan EE sedangkan kandungan total terkondensasi tertinggi ditemukan pada ekstrak EE.

5.2.Aktivitas ekstrak daun kunyit terhadap radikal bebas DPPH
Aktivitas penangkal (scavenging) radikal bebas dari ketiga ekstrak daun kunyit dievaluasi
dengan pengujian radikal bebas 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH). Senyawa radikal DPPH
biasanya digunakan sebagai subtrat untuk mengevaluasi aktivitas antioksidatif dari
antioksidan. Radikal DPPH adalah radikal bebas stabil dan menerima satu elektron atau hidrogen
menjadi molekul yang stabil (Matthaus, 2002).
Pengujian aktivitas penangkal radikal bebas DPPH secara spektrofotometer dilakukan dengan mereaksikan ekstrak dengan larutan DPPH. Berkurangnya absorbansi dari larutan radikal
bebas DPPH dan diikuti perubahan warna dari ungu menjadi kuning. Hal ini dapat terjadi ketika
radikal bebas DPPH ditangkal oleh antioksidan melalui donor hidrogen ke bentuk molekul DPPH yang stabil (Juntachote dan Berghofer, 2005).

Hasil uji aktivitas penangkalan radikal bebas DPPH dari ketiga jenis ekstrak daun kunyit.
Ketiga jenis ekstrak mencapai kemampuan sebagai penangkap radikal bebas di atas 50%,
ekstrak metanol (EM), ekstrak etanol (EE) dan ekstrak aseton (EA) (Gambar 1). Dari gambar
tersebut diperoleh bahwa ekstrak EM menunjukkan aktivitas paling tinggi dalam
penangkal radikal bebas diikuti EA dan EE pada tingkat konsentrasi yang sama. Kemampuan penangkal radikal bebas dari EA berbeda nyata dengan EE (p<0,05). Adapun kemampuan menangkal radikal bebas DPPH dari EM, EE dan EA berturut=turut adalah 76,34; 67,34 dan 62,23%. Oleh karena itu, ketiga ekstrak tersebut memiliki kemampuan tinggi untuk melepaskan satu elektron atau atom hidrogen kepada radikal difenilpikrilhidrazil (violet) sehingga terbentuk senyawa non radikal difenilpikrilhidrazin yang berwarna kuning (Molyneux, 2004). Adapun urutan aktivitas penangkap radikal bebas yang terkuat adalah EM > EA > EE.

5.3 Efek ekstrak daun kunyit terhadap fotooksidasi asam linoleat
Pengaruh 500 ppm dari ekstrak EM, EE dan EA terhadap angka peroksida asam linoleat yangdiberikan cahaya sebesar 4000 lux dapat dilihat pada Gambar 2. Ekstrak EM dan EA mempunyai pengaruh yang paling kuat untuk penstabil (quencher) oksigen singlet yang diikuti oleh EE selama 5 jam penyinaran cahaya fluoresen (p<0.05). Eritrosin yang diberi cahaya (kontrol) menunjukkan perubahan angka peroksida yang terus meningkat selama penyinaran 5 jam. Kemungkinan dapat dijelaskan bahwa eritrosin yang digunakan sebagai sensitiser dapat bertindak sebagai inisiator fotooksidasi asam linoleat dan ini dibuktikan dengan naiknya angka peroksida minyak selama penyinaran 5 jam. Asam linoleat yang diberikan eritrosin tanpa menggunakan cahaya (TC) tidak menunjukkan perubahan angka peroksida secara signifikan (p<0,05). Hal ini dapat dijelaskan bahwa tanpa diberi cahaya walaupun diberikan eritrosin tak mampu menghasilkan oksigen singlet dari oksigen triplet. Fotosensitiser seperti eritrosin (Sen) dapat menyerap cahaya dan mentransformasikan menjadi keadaan tereksitasi selanjutnya berubah menjadi sensitiser pada keadaan triplet (3Sen*) yang kurang stabil. Sensitiser dapat memindahkan energinya ke oksigen pada keadaan triplet yang lebih stabil. Karena tingkat energi sensitizer sangat tinggi sehingga dapat mengubah oksigen triplet menjadi oksigen singlet. Selanjutnya oksigen singlet dapat menyerang ikatan rangkap yang terdapat dalam asam linoleat. Yang et al. (2002) melaporkan bahwa eritrosin dapat menurunkan headspace (oksigen triplet) dalam minyak kedele dengan meningkatnya konsentrasi (0, 5, 20, 100 dan 200 ppm) selama penyinaran 4 jam. Penelitian lain, menunujukkan bahwa pengaruh eritrosin terhadap metil linoleat bias membentuk hidroperoksida, hidroperoksida ini merupakan produk utama akibat terjadinya fotooksidasi oleh sensitiser (Pan et al., 2005).

Hasil uji fotooksidasi yang dilakukan terhadap asam linoleat menggunakan ekstrak daun kunyit pada beberapa konsentrasi dapat dilihat pada gambar 3. Pada gambar 3 menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak daun kunyit serta pelarut yang digunakan dalam ekstraksi sangat berpengaruh pada aktivitas penstabil oksigen singlet terhadap fotooksidasi asam linoleat.

Pada ekstrak EM dan AE menunjukkan hasil yang sama, dimana semakin besar konsentrasi maka semakin besar persentase penghambatan oksigen singlet. Artinya bahwa semakin besar konsentrasi ekstrak maka semakin besar pula potensi ekstrak sebagai penstabil oksigen singlet. Sedangkan pada ekstrak EE, persentase penghambatan pada konsentrasi 1500 ppm menunjukkan angka yang lebih besar. Hal ini terjadi karena kemungkinan besar pada ekstrak EE terekstraksi komponen kimia yang bukan berperan sebagai penstabil oksigen singlet seperti klorofil, minyak atsiri, oleoresin dan lemak. Komponen kimia seperti klorofil mampu berperan aktif sebagai katalitik untuk menghasilkan oksigen singlet sehingga mendukung terbentuknya peroksida.

5.4 Efek ekstrak daun kunyit terhadap fotooksidasi protein
Beberapa asam amino seperti metionin, histidin, triptopan, tirosin dan cystein dalam protein secara khusus rentan terhadap oksidasi oleh oksigen singlet untuk menghasilkan karbonil (Jung et al., 1998; Min dan Boff, 2002). Penelitian ini mempelajari efeek fotooksidasi eritrosin dalam protein. Dalam penelitian ini, BSA digunakan sebagai sumber protein dan oksidasi protein ditentukan dengan mengukur kandungan protein karbonil. Setelah 4 jam disinari cahaya fluorescent dalam hadirnya eritrosin, protein karbonil meningkat dari 12,89 μM menjadi 22,73 μM (Gambar 4). Ini mengindikasikan bahwa ini benar-benar terjadi oksidasi protein selama disinari cahaya fluorescent. Akan tetapi, oksidasi ini tidak signifikan meningkat dalam kandungan protein karbonil yang teramati dalam sampel tanpa cahaya setelah 4 jam. Sampel yang diperlakukan dengan 500 ppm ekstrak kunyit dari EM, EE dan EA berturut-turut adalah 18,43; 20,82 dan 13,82 μM mampu menurunkan kandungan protein karbonil. Dari data ini menunjukkan bahwa ekstrak EA lebih kuat
menghambat oksidasi protein daripada EM dan EE setelah 4 jam disinari cahaya fluoresen.

Dari gambar 4 menunjukkan efek ekstrak daun kunyit dengan beberapa konsentrasi yaitu 500, 1000 dan 1500 ppm terhadap protein karbonil dalam fotooksidasi bovin serum albumin (BSA) yang diinduksi oleh eritrosin. Dari ketiga konsentrasi ekstrak EM dan EE cendrung menunjukkan kemampuan menurunkan kandung protein karbonil. Hal ini membuktikan bahwa semakin besar konsentrasi yang diberikan semakin kecil perubahan protein karbonil yang terbentuk. Akan tetapi, ekstrak EA tidak menunjukkan signifikan perubahan kandungan protein karbonil, ini berarti bahwa kenaikan konsentrasi EA relatif tidak mempengaruhi pemhambatan oksidasi protein setelah 4 jam
disinari cahaya fluoresent.

Dari gambar 5, konsentrasi 500, 1000 dan 1500 ppm EM menunjukkan persentase kenaikan penghambatan oksidasi protein berturut adalah 18,92; 21,25 dan 39,73%, sedangkan EE berturut-turut adalah 8 Hasil ini jelas menyimpilkan bahwa ketiga ekstrak daun kunyit mampu melindungi oksidasi protein yang diinduksi oleh cahaya dan eritrosin sebagai sensitiser. Ini menarik untuk dicatat bahwa pada konsentrasi 500 ppm ekstrak EA mampu menurunkan kandungan protein karbonil besar daripada EM dan EE, sebaliknya pada konsentrasi 1500 ppm EM dan EE menunjukkan lebih besar penurunan kandungan protein karbonil daripada EA. Akan tetapi, dari data ini memperlihatkan tidak signifikan berbeda dalam karbonil antara perlakuan EM dan EE pada konsentrasi 1500 ppm.
Hasil ini jelas menunjukkan bahwa ekstrak daun kunyit sangat efektif menstabilkan oksigen singlet pada perlakuaan konsentrasi rendah. Ini telah dilaporkan bahwa oksigen singlet secara ekstrem reaktif dengan komponen biologi seperti protein, lipida dan DNA. Selain itu, hasil ini pula jelas menyarankan bahwa aktivitas perlindungan dari ekstrak daun kunyit melawan fotosensitasi eritrosin dan oksidasi protein adalah setidaktidaknya bagian yang disebabkan dari aktivitas penstabilan oksigen singlet dalam sistem.
Oksidasi protein yang menyebabkan modifikasi protein termasuk kehilangan fungsi protein, seperti aktivitas enzim, reseptor dan transport membrane serta bisa menghasilkan
dalam disfungsi biologi (Davies dan Goldberg, 1987). Dalam studi ini aktivitas perlindungan dari
ekstrak kunyit terhadap bahaya biologi yang disebabkan oksigen singlet tidak pernah dilaporkan sebelumnya. Ini diharapkan bahwa efek perlindungan dari ekstrak kunyit terhadap oksigen singlet yang menyebabkan bahaya biologi seperti yang disajikan dalam penelitian ini. Pada studi ini, bisa memberi kontribusi pada efek manfaatnya melawan oksigen singlet yang berdampak pada pathogenesis.

6.KESIMPULAN
Daun kunyit yang diekstraksi dengan pelarut metanol 80%, etanol 80% dan aseton 80% mengandung senyawa fenolik, flavonoid dan tannin terkondensasi yang signifikan. Ekstrak methanol dan aseton dari daun kunyit memiliki kemampuan yang kuat sebagai penstabil oksigen singlet dan penangkal radikal bebas DPPH daripada ekstrak etanol. Ketiga ekstrak memiliki aktivitas penstabil oksigen singlet tergantung pada konsentrasi, semakin besar konsentrasi ketiga ekstrak menunjukkan aktivitas yang paling kuat.

DAFTAR PUSTAKA

• perkebunan.litbang.pertanian.go.id/Perkebunan_KhasiatKunyit.pdf
• www.warintek.ristek.go.id/pertanian/kunyit.pdf
• biosains.mipa.uns.ac.id/F/F0302/F030205.pdf
• caramencegah.com/search/khasiat-kunyit-putih-pdf
• repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22027/4/Chapter%20II.pdf
• Ananggia S. A. dan Murnah. 2007. Profil kromatogram dan aktivitas antibakterial ekstrak etanol rimpang temulawak terhadap pertumbuhan Escherichia coli in vitro. http://eprints.undip. ac.id/ 22669/1/Sarlin.pdf.
• Bermawie, N. 2006. Mengatasi demam berdarah dengan tanaman obat. Warta penelitian dan pengem- bangan pertanian
• Cikrici, S., E. Mozioglu, H. Yilmaz. 2008. Biological activity of curcuminoids from Curcuma longa.
• Joe. 2004. Senyawa kimia yang terdapat pada rempah–rempah. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
• Khunaifi, M. 2010. Uji aktivitas antibakteri daun binahong terhadap bakteri Staphyococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Skripsi. Fakultas Sanis dan Teknologi. Univer- sitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Malang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *