BAB II
PEMBAHASAN

A. Tujuan Pendidikan Islam
1. Jiwa pendidikan Islam adalah budi pekerti
Pendidikan budi pekerti adalah jiwa dari pendidikan Islam. Tapi ini tidak berarti bahwa kita tidak mementingkan pendidikan jasmani atau akal atau ilmu ataupun segi-segi praktis lainnya tetapi artinya ialah bahwa kita memperhatikan segi-segi pendidikan akhlak seperti juga segi-segi lainnya itu.
Maka tujuan pokok dan terutama dari pendidikan Islam ialah mendidik budi pekerti dan pendidikan jiwa. Ghazali berpendapat : tujuan dari pendidikan ialah mendekatkan diri kepada Allah, bukan pangkat dan bermegah-megahan dengan kawan. Jadi pendidikan itu tidak keluar dari pendidikan akhlak.

2. Memperhatikan agama dan dunia sekaligus
Rasulullah sendiri pernah mengharuskan setiap individu dari umat Islam supaya bekerja untuk agama dan dunianya sekaligus.
Beliau berkata :
اعلم لدنياك كأنك تعيش ابدا, واعمل لاخرتك كأنك تموت غدا
“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selama-lamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.”

3. Memperhatikan segi-segi manfaat
Menurut pendapat Al Farabi, Ibnu Sina, Ikhwan As Safa, kesempurnaan manusia itu tidak akan tercapai kecuali dengan menyerasikan antara agama dan ilmu.

4. Mempelajari ilmu semata-mata untuk ilmu itu saja
Dalam bidang lain beliau berkata : “Tujuan dari belajar bukanlah mencari rezeki di dunia ini, tetapi maksudnya ialah untuk sampai kepada hakekat, memperkuat akhlak, dengan arti mencapai ilmu yang sebenarnya dan akhlak yang sempurna.

5. Pendidikan kejuruan, pertukangan, untuk mencari rezeki
Pendidikan Islam sebagian besarnya adalah akhlak, tetapi tetap tidak mengabaikan masalah mempersiapkan seseorang untuk hidup, mencari rezeki, dan tidak pula melupakan soal pedidikan jasmani, akal, hati, kemauan kita-kita, kecakapan tangan, lidah dan kepribadian.

B. Pendidikan Islam adalah pendidikan ideal
Pendidikan Islam telah berabad-abad sebelumnya menyuarakan banyak prinsip dari metode-metode penting dalam dunia pendidikan secara ringkas pendapat-pendapat abadi mengenai hal ini dapat kita ungkapkan sebagai berikut :
1. Kebebasan dan demokrasi dalam pendidikan
Islam telah menyerukan adanya prinsip persamaan dan kesempatan yang sama dalam belajar, sehingga terbukalah jalan yang mudah untuk belajar bagi semua orang. Bila seseorang memiliki keinginan untuk belajar dan rasa cinta ilmu, kegairahan untuk mengadakan penelitian dan pembahasan, pintu untuk belajar terbuka luas baginya, bahkan Islam mendorong supaya mereka belajar, apalagi bila seseorang itu pembawaan cerdas.
Dengan demikian pintu pendidikan terbuka seluas-luasnya bagi setiap orang yang berkeinginan untuk belajar agama dan lain-lainnya kapan saja dan dimana saja. Inilah dia demokrasi yang hakiki di dalam pendidikan dan pengajaran.
Islam ternyata telah menyamaratakan anak-anak si kaya dan si miskin dalam bidang pendidikan dan memberikan kesempatan yang sama kepada semua untuk belajar tanpa diskriminasi.
Islam tidak mengatakan kepada si miskin, kamu dijadikan untuk menduduki tempat-tempat rendah sedang orang-orang kaya dijadikan untuk menduduki tempat-tempat yang tinggi, seperti apa yang disuarakan di Eropa sampai pada abad ke 19.
Kesimpulannya di dalam pendidikan Islam terwujud prinsip-prinsip demokrasi, kebebasan, persamaan, dan kesempatan yang sama buat belajar, tanpa diskriminasi antara si kaya dan si miskin.
2. Pembentukan akhlak yang mulia adalah tujuan utama pendidikan Islam
Pembentukan moral yang tinggi adalah tujuan utama dari pendidikan Islam. Ulama dan sarjana-sarjana muslim dengan sepenuh perhatian telah berusaha menanamkan akhlah mulia, meresapkan fadhilah di dalam jiwa para siswa, membiasakan mereka berpegang kepada moral yang tinggi dan menghindari hal-hal yang tercela, berfikir secara rohaniah dan insaniah (prikemanusiaan) serta menggunakan waktu buat belajar ilmu-ilmu duniawi dan ilmu-ilmu keagamaan, tanpa memandang terhadap keuntungan-keuntungan materi.
Kaum muslimin memuliakan ilmu dan sarjana serta ketiggian akhlak. Ilmu di mata mereka adalah sesuatu yang paling berharga di dunia ini. Sedang ulama dan sarjana yang beramal adalah pewaris para nabi-nabi. Dan jalan ilmu dan amal serta karya-karya yang baik, rohani mereka meningkat naik mendekati Maha Pencipta yaitu Allah SWT.

3. Bicaralah kepada manusia sesuai dengan akalnya
Prinsip ini adalah salah satu prinsip terpenting dalam pendidikan Islam dan termasuk pula prinsip terbaru di dalam pendidikan modern. Al Ghazali dengan ucapannya : “Seseorang guru hendaknya membatasi dirinya dalam bicara dengan anak-anak sesuai dengan daya pengertiannya jangan diberikan kepadanya sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh akalnya, karena akibatnya ia akan lari dari pelajaran atau akalnya memberontak terhadapnya.” Isyarat ini adalah sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW yang berkata :
نحن معاشر الأنبياء أمرنا ان ننزل الناس منازلهم ونكلمهم على قدر عقولهم
“Kami para Nabi, diperintahkan untuk menempatkan seseorang pada posisinya, berbicara dengan seseorang sesuai dengan akalnya.”
Karena itu dikatakan : Berbicaralah kepada hamba sesuai dengan timbangan pengertiannya hingga engkau bisa selamat dan iapun mendapat manfaat. Menempatkan sesuatu pada tempatnya adalah nasehat yang sebaik-sebaiknya kalau dapat dilaksanakan oleh setiap juru didik laki-laki dan wanita.
4. Perbedaan metode yang dipergunakan dalam pengajaran
Metode yang dipergunakan dalam mengajar anak-anak berlainan dengan apa yang dipakai untuk mengajar orang-orang yang lebih besar. Al Ghazali telah menyarankan dipakainya metode ini oleh karena antara anak kecil dan yang besar terdapat perbedaan tanggapan.
Al Ghazali dan Ibnu Khaldun serta lain-lain filosof pendidikan Islam sependapat bahwa cara pemikiran anak-anak berbeda dari cara pemikiran orang besar, dan dalam hal ini harus diperhatikan dalam mengajar.

5. Pendidikan Islam adalah pendidikan bebas
Orang-orang yang memperhatikan metode pendidikan Islam akan melihat bahwa pendidikan Islam itu menuju kea rah pembiasaan siswanya untuk berpijak di atas kaki sediri di mana seorang guru atau dosen setiap akhir pelajaran, memberikan assignment (tugas) kepada siswa untuk mempelajari isi buku sebelum pelajaran yang akan dating dan mencoba untuk mengerti isi buku tersebut.
Dalam dunia pendidikan modern, system pemberian assignment (tugas belajar itu sendiri) dinamakan system Dalton yaitu system modern yang diciptakan oleh Missa Helen Parkherest yaitu yang pernah dipraktekkan oleh Missa Helen.
6. Sistem pendidikan individu dalam pendidikan Islam
Pendidikan Islam senantiasa menyerukan terwujudkan hubungan baik antara guru dan murid, memperhatikan tingkat-tingkat pembawaan dan kesediaan belajar dari seorang siswa dan menganjurkan pula pengembaraan untuk belajar dan pembahasan-pembahasan ilmiah. Semua prinsip ini merupakan prinsip yang ideal dalam pendidikan modern di abad ke 20 ini.
7. Perhatikan antar pembawaan dan instink seseorang dalam tuntunan ke bidang-bidang karya yang dipilihnya
Kepada semua siswa ditunjukkan ilmu-ilmu yang sesuai dengan sifat-sifatnya pendidikan Islam adalah pendidikan yang idealk, sejak lebih seribu tahun yang lalu Islam telah menganjurkan apa yang kini disuarakan oleh ahli-ahli ilmu jiwa dan ahli-ahli pendidikan.
Islam mengharapkan dari setiap guru agar mempelajari keadaan setiap siswa bila ia memiliki kelebihan-kelebihan dalam memahami pelajaran dimana ia sanggup menguraikan problem-problem mengungkapkan problematika ilmiah dan memperhatikan soal-soal pelajarannya dengan sungguh-sungguh. Pendidikan Islam tidak berbeda dengan pendidikan modern dari segi penelitian terhadap tingkat kesanggupan anak-anak dan pilihan yang tepat mengenai mata pelajaran serta maju setingkat demi setingkat dengan anak-anak itu menurut kadar kesediannya.
8. Cinta ilmu dan menyediakan diri untuk belajar
Setiap siswa yang cinta ilmu akan senang sekali belajar, akan menggunakan seluruh waktunya melakukan penelitian, pembacaan dan studi akan berdaya upaya memecahkan problematika ilmiah, mencernakan ilmu pengetahuan yang didapatinya.
9. Perhatian terhadap cara-cara berpidato, berdebat dan kelancaran lidah
Di antara jenis pendidikan Islam yang terpenting ialah pendidikan kelancaran lidah, yaitu membiasakan lidah mengucapkan kata-kata yang baik serta pemikiran yang tajam, berpidato tanpa teks serta keterampilan dalam berdebat, berdiskusi dan dalam symposium. Kelancaran lidah dalam berbicara dewasa-dewasa ini dianggap sebagai suatu syarat pokok untuk susksesnya seseorang dalam kehidupannya sebagai guru, penasehat hukum ataupun politikus.
10. Pelayanan terhadap anak-anak secara halus
Sistem pendidikan yang dipakai terhadap anak-anak ialah system keras dan kasar di mana-mana sekolah terdapat cambuk. Di mana-mana terdapat hukuman yang kejam. Bahayanya system ini dalam pendidikan, dan mereka telah melarang penggunaan cambuk dan hukuman kejam dan sebaliknya mengarahkan cara-cara lunak lembut, membenarkan kesalahan-kesalahan anak-anak dengan jiwa yang halus, lunak, lembut, da kasih saying serta menyelidiki pula latar belakang yang menyebabkan kekeliruan tersebut.

11. Sistem universalitas rakyat adalah diambil dari system pendidikan Islam
System universalitas rakyat yang modern telah diambil oleh Eropa dari pendidikan Islam di zaman keemasannya, yaitu bentuk pendidikan yang menggunakan ilmu pengetahuan, yang menganggapnya sebagai semacam ibadat.
Agama Islam adalah agama ilmu dan cahaya, bukanlah agama kejahilan, kebodohan dan kegelapan dan system universitas rakyat yang kini bekerja dalam rangka penyebaran ilmu pengetahuan umum kepada orang-orang yang berkeinginan untuk meningkatkan dirinya di bidang kebudayaan, pengetahuan, sastra, dan teknik adalah tiruan dari system pengajaran dalam pendidikan Islam di zaman keemasannya.
12. Perhatian terhadap perpustakaan-perpustakaan untuk merangsang penelitian dan pembacaan
Pendidikan Islam sangat memperhatikan sekali soal pembentukan perpustakaan-perpustakaan umum dan khusus. Tidak berlebih-lebihan bila dikatakan bahwa pembentukan perpustakaan-perpustakaan adalah ciptaan pendidikan Islam demi untuk mendorong para ulama.
13. Jabatan-jabatan asisten dalam universitas-universitas ditiru oleh institut-institut di Eropa dan Amerika dari pendidikan Islam
Al Ghazali berkata bahwa pendidikan berpengaruh dalam perawatan instink serta pembawaan dan dalam pendidikannya, begitu pula dalam hal mendorong apa yang harus diberikan dorongan, merubah apa yang harus dirubah. Bila dibesarkan di lingkungan Nasrani atau Majusi, ia akan menjadi Nasrani atau Majusi, sebaliknya bila ia dibesarkan dalam lingkungan atau rumah, maka iapun akan menjadi seorang muslim.
Inilah yang dimaksud dengan ucapan Rasulullah SAW.
كل مولود يولد على الفطرة وانما ابواه يهودانه او ينصرانه او يمجسانه
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, tetapi ibu bapaknyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”.

C. Ilmu dan pengajaran dalam pendidikan Islam
1. Islam menganjurkan pendidikan secara merata
Dalam pandangan Islam, ilmu itu adalah suatu hal yang tergolong suci, suatu yang sangat berharga dalam kehidupan seorang muslim, sedang para ulama dan sarjana mempunyai kedudukan dalam Islam langsung sesudah kedudukan para ambiya atau nabi-nabi.
Rasulullah SAW. berkata :
العلماء ورثة الانبياء
“Para sarjana dan ulama adalah pewaris dari para nabi”
Bahkan dikatakan bahwa para ulama dan sarjana dapat memberikan syafa’at atau bantuan kepada manusia di hari kiamat sesudah para nabi-nabi. Nabi Muhammad SAW bersabda :
ان مداد العلماء لخير من دماء الشهداء
“Tinta para ulama dan sarjana lebih mulia dari darahnya para syuhada”.
Dalam hal belajar dan menuntut ilmu, Islam tidak membedakan antara anak-anak putra-putri. Nabi telah bersabda :
طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة
“Belajar dan menuntut ilmu itu adalah kewajiban bagi setiap muslim lelaki dan wanita”.
2. Kenapa Islam memerintahkan belajar ?
Islam memerintahkan supaya belajar pada ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Oleh karena belajar itu adalah kewajiban utama dan sarana terbaik untuk mencerdaskan ummat dan pembangunan dunia ini, khususnya bila ilmu itu disertai dengan amal.
Para filosof Islam telah merasakan betapa pengaruhnya amal dalam memperkokoh dan memperdalam pengaruhnya ilmu. Rasulullah sendiri telah berkata :
وانما يزهد الرجل فى علم يعلم قلة انتفاعه بما علم.
“Seorang boleh meremehkan ilmu, bila ia mengetahui betapa sedikitnya manfaat yang dapat diperoleh dengan ilmu itu”.
Ilmu tanpa amal ibarat kayu tanpa buah.

D. Dimana kaum muslimin belajar ?
1. Pelajaran di rumah
Permulaan Islam, pelajaran agama diberikan di rumah-rumah. Rasulullah sendiri menggunakan rumah Arqam bin Abi Arqam sebagai tempat pertemuan dengan para sahabat dan pengikut-pengikut kaum muslimin di mana beliau mengajarkan kaidah-kaidah Islam dan membacakan ayat-ayat Al Qur’an.
Rumah sesungguhnya dipersiapkan untuk istirahat dan ketentraman, maka apabila setiap hari guru dating ke rumah-rumah untuk mengajarkan anak-anak atas panggilan ibu bapak mereka, maka kaum muslimin beranggapan bahwa adanya murid-murid di rumah tentu saja akan membawa keributan dan hiruk pikuk sehingga dapat mengurangi ketentraman dan menimbulkan kegelisahan penghuni rumah.
2. Pengajaran di langgar pondok atau pesantren
Langgar atau pondok sebelum Islam merupakan tempat belajar menulis dan membaca semata-mata dan setelah datangnya Islam, tugasnya bertambah luas menjadi tempat menghafal ayat-ayat Al Qur’an dan pelajaran agama Islam, kesenian tulis menulis, ilmu hitung dan tata bahasa. Dalam Islam tidak saja cukup, memberikan pelajaran kepada anak-anak dengan gratis, bahkan makanan dan pakaian diberikan pula dalam beberapa sekolah.
3. Menghafal Al Qur’an di pondok atau pesantren
Al Qur’an dihafalkan di pondok atau pesantren. Di masa keemasan Islam yang pertama-tama, jarang sekali orang yang menghafal Al Qur’an secara keseluruhannya, karena pada waktu itu mereka lebih mengutamakan pengertian tentang arti ayat-ayat Al Qur’an, dan mempraktekkannya dalam hidup dan menggali hukum-hukum yang terkandung di dalamnya lebih banyak dari hanya sekedar menghafal ayat-ayat.
Dalam rangka mendorong orang menghafal Al Qur’an, maka kepadanya diberikan kedudukan-kedudukan baik dan posisi-posisi seperti menjadi mufti. Seseorang yang hafal Al Qur’an digelari dengan “Qurra” karena mereka itu membaca Al Qur’an dan tahu persis ayat-ayat yang nasikh dan mansukh, ayat-ayat yang serupa dan yang tergolong al muhkam, serta mengerti pula akan maksud dan arti dari tiap-tiap ayat.
4. Pengajaran di langgar atau masjid
Pendidikan dalam Islam rapat sekali hubungannya dengan masjid. Kaum muslimin telah memanfaatkan masjid untuk tempat beribadat dan sebagai lembaga pendidikan dan pengetahuan Islam dan pendidikan keagamaan dipelajari qaidah-qaidah Islam, hukum-hukum agama, sebagai tempat-tempat pengadilan, sebagai tempat pertemuan bagi pemimpin-pemimpin pengadilan, sebagai tempat pertemuan bagi pemimpin-pemimpin militer dan bahkan sebagai istana tempat menerima duta-duta besar asing. Pendek kata sebagai center dan pusat kehidupan kerohanian, social, politik, sehingga masjid-masjid itu disebut sebagai :”Rumah Tuhan” (Baitullah).
Masjid yang pertama-tama didirikan dalam Islam ialah masjid Quba’ (di luar kota Madinah), di mana diberikan pula kuliah-kuliah agama dengan tersebar luasnya Islam, maka tersebar luas pulalah masjid di negara-negara Islam.
Guna memelihara langgar dan masjid-masjid, maka masjid dijadikan hanya sebagai tempat belajar bagi orang-orang dewasa dan mahasiswa baik tingkat menengah atau tingka tinggi dan itupun hanya tanpa pembayaran, hanya diberikan sedikit uang dan bantuan-bantuan lain agar mereka dapat melanjutkan pelajaran-pelajaran, dan belajar secara terus-menerus.
Pada abad ke 3 Hijriah, kota Baghdad sudah penuh masjid begitu pula kota-kota di mesir.
1. Masjid yang pertama-tama didirikan di Cairo ialah masjid Amr bin Ash. Didirikan pada tahun 12 H. atas perintah dari Umar bin Khattab, yaitu setelah Mesir ditaklukkan oleh tentara Islam. Kemudian masjid tersebut diperbaharui dan diperluas beberapa kali pada tahun 36 H. masjid Amr bin Ahs ini telah merupakan pusat kebudayaan dan sebagai tempat pengadilan, dan di dalamnya terdapat lebih dari 40 kelompok pelajaran yang didatangi oleh para mahasiswa untuk mencari ilmu dan penelitian.
Dalam catatannya Al Maqrizi menguraikan secara detail tentang 8 kelompok pengajaran yang terdapat di masjid Amr bin Ahs ini dari berbagai cabang ilmu pengetahuan termasuk antara lain :
a. Kelompok Imam Syafi’i. Diberi nama demikian karena Imam Syafi’i pernah mengajar di sana para tahun 182 H. Tempat kelompok tersebut dinamakan juga : “Zawiyah” dan kelompok ini memiliki tanah waqaf.
b. Kelompok “Sahibiyah”, yang mula-mula diadakan oleh Al Sahib Muhammad bin Fakhruddin dan dalam kelompok ini telah diangkat dua orang guru, masing-masing dari madzhab Syafi’i dan seorang lagi dari madzhab Maliki untuk mengajarkan fikih menurut madzhab Maliki.
2. Di antara masjid yang terkenal pula di bidang pengajaran ialah masjid Ahmad Ibnu Toulon yang pembuatannya selesai pada tahun 256 H.
5. Masjid Al Azhar
Masjid internasional ini didirikan oleh panglima Johar Al Si Siqilli, terletak dalam kota Cairo, yaitu di zaman pemerintahan Muizzi Lidinillah Al Fatimy. Ditegakkan pada hari Sabtu, 24 Jumadil Awwwl 359 H. bertepatan dengan 970 M. dan selesai tahun 361 H. atau 972 M. Dalam tahun 761 H. yaitu di bawah pemerintah Malik An Nasir Qalawoun, di samping masjid itu dibangun sebuah ruangan untuk mengajarkan Al Qur’an kepada anak-anak yatim kaum muslimin dan bagi pelajar-pelajar yang tidak mampu disediakan makanan yang dimasakkan setiap hari.
Pada tahun 818 H. muridnya telah mencapai 750 orang terdiri atas orang-orang Mesir, Maroko dan orang-orang yang bukan Arab, dan bagi setiap rombongan siswa ini dibuatkan pula ruangan tempat tinggal yang dinamakan “Ruqaq” dan masing-masing Ruqaq tersebut diberi nama sesuai dengan nama-nama negeri asal mereka.
6. Masjid Al Mansur di Baghdad
Masjid ini didirikan Abu Ja’far Al Mansur dan diperbaharui oleh Harun Al Rasyid dengan perluasan dan perbaikan-perbaikan seperlunya.
7. Masjid Al Umayyah di Damaskus
Masjid Agung Al Umayyah di Damaskus tergolong suatu keajaiban dunia. Untuk pembuatan masjid ini Khalifah Walid Ibnu Abdul Malik telah mengeluarkan biaya hasil dari 7 tahun pajak di negaranya, dan pekerjaan pembuatan masjid ini memakan waktu 8 tahun lamanya.
Pelajaran dan pengetahuan yang diberikan di masjid-masjid itu tidak hanya terbatas kepada ilmu-ilmu keagamaan semata-mata, tetapi mencakup pula cabang-cabang ilmu lainnya seperti gramatika bahasa, kesusastraan, sajak, ilmu perbintangan dan ilmu hitung.

8. Pengajaran di Darul Hikmah dan Darul Ilmi
Darul Hikmah dan Darul Ilmu itu merupakan Universitas dimana terdapat ruangan-ruangan untuk perpustakaan, di mana terdapat banyak ulama dan sarjana-sarjana berkumpul untuk membaca dan memberi petunjuk pula kepada para mahasiswa-mahasiswa yang berkunjung ke sana mengenai referensi mengenai bidang-bidang ilmu pengetahuan dan mata pelajaran ataupun karena mengadakan research untuk memperdalam ilmunya yaitu suatu system untuk belajar sendiri dan berfikir secara bebas.
Kesimpulan sejarah Darul Hikmah di Baghdad itu adalah bahwa ia merupakan Universitas atau institute tinggi buat spesialisasi di mana terdapat pula perpustakaan untuk dibaca dan disalin. Gedung-gedung seperti ini tidak terdapat di semua Negara Islam, tapi yang ada hanya di Mesir, Irak dan Persia.

E. Pengajaran di kelompok dan majelis-majelis sastera
Sasterawan wanita Islam mengadakan pula pertemuan-pertemuan khusus guna mempelajari sastera dan syair atau sajak. Dan melakukan pula kritik-kritik sastera serta berbalasan pantun sesame mereka. Di antaranya terdapat nama Sayyidah Sakinah dan Walladah binti Khalifah Al Mustakfi.
Penyair Al Muhanabbi, mendeklamasikan pula sajak-sajak hasil karyanya di istana. Saifuddaulah Al Hamdan, yaitu setelah arus kesusasteraan Arab ibukota kerajaan Hamdaniyah. Dalam kerajaannya yang tidak begitu luas itu, di berbagai bidang. Salah satu faktor yang menyebabkan para ahli sastera dan ulama-ulama berhubungan dengan beliau ialah karena kerendahan hati dan kebaikan budinya yang luar biasa.
Khalifah kemudian bertanya kepada orang itu : Apakah tuan tahu tentang syair atau sajak? Ia menjawab : Tanyalah apa yang paduka kehendaki, maka dijawab oleh Khalifah Abdul Malik : Syair apa yang terkenal pada orang Arab tentang pujian? Dijawab olehnya. Syair Jarir yang berbunyi :
الستم خير من ركب المطايا , واندى العالمين بطون راح
“Engkau adalah pengendara kuda yang paling baik, engkau adalah yang paling pemurah di dunia ini.”
Di istana-istana Mesir, khususnya sejak timbulnya kerajaan Tolouniyah, muncullah balai-balai kebudayaan, sedang pelajaran-pelajaran juga diberikan di istana amir-amir, menteri-menteri dan di rumah-rumah para ulama dan sarjana. Di istana Al Akhshid, setiap sore diadakan pembahasan-pembahasan di bidang sejarah.
Begitu pula Al Fatimiyah di Mesir, mereka mengadakan pula persidangan-persidangan ilmiah dari waktu ke waktu secara berkala. Tulang punggung dari persidangan-persidangan ini ialah mahaguru-mahaguru dari Baitul Hikmah (Darul Hikmah) yang telah digolongkan dan dibagi-bagi menurut jurusan keahlian dan subyek-subyek pengetahuan mereka.

F. Pendidikan Tingkat Tinggi
Islam menganjurkan dengan sangat supaya belajar, dan umat Islam ternyata menerima baik anjuran ini sehingga pendidikan berkembang pesat di langgar-langgar di masjid-masjid di seantero dunia Islam, di samping sembahyang dan peribadatan. Menurut keterangan Al Maqrizi, di zaman sahabat dan tabi’in, sekolahan-sekolahan itu tidak dikenal dan sekolahan mulai didirikan pada akhir abad ke 4 Hijriah.
Di antara sekolah-sekolah tinggi yang terpenting kita sebutkan di sini adalah :
1) Madrasah Nizamiyah di Baghdad
2) Madrasah Al Muntasiriyah di Baghdad
3) Madrasah An Nasiriyah di Cairo dan
4) Madrasah Annuriah di Damaskus

1. Madrasah An Nizamiyah di Baghdad
Sekolah ini sudah didirikan pada tahun 457 H. dan selesai pada tahun 459 H. letaknya ialah di pinggir sungai Dajlah. Di antara guru-guru yang telah mengajar di Madrasah Nizamiyah di Baghdad ini ialah Syekh Abdul Ishaq As Syirazi, pengarang kitaba At Tambib.
2. Madrasah Al Muntasiriyah di Baghdad
Madrasah Al Muntasiriyah yang didirikan oleh khalifah Al Muntasir di Baghdad dalam abad ke 13 Masehi dianggap sebagai suatu madrasah atau sekolah Islam yang terbesar. Dalam madrasah Al Muntasiriyah ini terdapat sebuah auditorium tempat memberikan kuliah-kuliah bagi tokoh-tokoh dari keempat madzhab Islamiyah.
3. Madrasah An Nasiriyah di Cairo
Menurut catatan Al Maqrizi, pembangunan Madrasah An Nasiriyah di Cairo itu dimulai oleh Sultan Al Adil Zeinuddin Katbaqa Al Mansuri dan diselesaikan oleh Sultan Muhammad bin Qalaum pada tahun 703 H.
4. Madrasah Annuriyah Al Kubra di Damaskus
Madrasah-madrasah yang didirikan oleh raja Zahid Nuruddin Abul Qasim Mahmud bin Zauki ialah Madrasah Annuriyah Al Kubra di Damaskud. Ia mempunyai asrama dengan segala kelengkapannya dan terletak kira-kira setelah mil dari masjid Umayyah.
Munculnya madrasah-madrasah ini dianggap sebagai daya upaya di dalam Islam untuk memberikan pelajaran dan pendidikan secara teratur di negara-negara Islam, menyediakan sarana-sarana yang cukup bagi pelajar untuk belajar semata-mata, antara lain dengan memberikan bantuan-bantuan serta buku-buku yang jaran ada tandingannya.

G. Pengajaran di Darul Kutub (Perpustakaan)
Perpustakaan-perpustakaan dalam Islam telah berkembang sedemikian rupa sehingga dapat dibanggakan. Di sebagian besar masjid, sekolah-sekolah, gedung-gedung pendidikan dan Darul Hikmah, terdapat perpustakaan-perpustakaan yang berisi berbagai jenis buku dan referensi yang jarang bandingannya untuk dipergunakan oleh para siswa, ulama, pembaca-pembaca, dan penyalin-penyalin setiap waktu.
Perpustakaan Islam ada 3 macam :
1. Perpustakaan umum
2. Perpustakaan buat umum dan khusus
3. Perpustakaan khusus

1. Perpustakaan umum
Yaitu perpustakaan yang didirikan oleh negara di langgar-langgar, masjid-masjid, dan madrasah-madrasah atau sekolah-sekolah sebagai alat pembantu dalam mempelajari ilmu pengetahuan, kesusasteraan dan dalam golongan ini dapat disebut sebagai berikut :
a. Baitul Hikmah
Perpustakaan ini didirikan oleh Khalifah Harun Al Rasyid di kota Baghdad, perpustakaan Baitul Hikmah ini tersimpan banyak sekali buku-buku dan tulisan-tulisan dalam berbagai bahasa antara lain bahasa Coptic, Greek kuno, Hindu, Persia dan Aramean. Perpustakaan Baitul Hikmah dianggap sebagai perpustakaan umum yang pertama-tama dalam dunia Islam.
b. Darul Hikmah di Cairo
Didirikan di Cairo oleh Hakim bin Amrillah pada hari Sabtu, 10 Jumadil AKhir 395 H. Darul Hikmah merupakan suatu gedung institute pendidikan yang besar, tempat belajar membaca, studi dan menyalin buku-buku.
c. Darul Ilmi atau pembendaharaan buku “Sabur”
Darul ilmi ini didirikan oleh Abu Masr Sabur bin Ardsyir tahun 383 H, di daerah Karakh. Yaqout menyebutkan bahwa di perpustakaan Darul Ilmi tersimpan 10.400 jilid buku dari berbagai cabang ilmu pengetahuan.

2. Perpustakaan buat umum dan khusus
Perpustakaan ini cukup besar dan penuh buku-buku adalah kepunyaan Khalifah atau raja-raja, antara lain perpustakaan Naserli Dinillah, perpustakaan Al Mu’tasim Billah dan perpustakaan Fatimiyyah yang didirikan di Cairo yang terletak di dalam istana Al Fatimy sebagai menyaingi khalifah-khalifah di Baghdad.
3. Perpustakaan khusus
Perpustakaan khusus ini yaitu yang didirikan oleh ulama sarjana dan sastrawan untuk referensi mereka masing-masing, yaitu perpustakaan Al Fatah bin Khakam, perpustakaan Jamaluddin Al Qafathi dan perpustakaan Amaduddin As fahani.

H. Pendidikan di Kampung-kampung
Dengan tersebar luasnya Islam, kaum muslim Arab terpaksa bercampur gaul dengan orang-orang Persia dan bangsa-bangsa lain di Madinah, Damaskus, Baghdad, Kufah dan Basrah sehingga akibatnya mulai rusaklah bahasa Arab di kota-kota dan di rumah-rumah. Orang-orang Arab umumnya sangat tidak senang mendengar bahasa yang tidak sesuai dengan gramatika bahasa. Di desa-desa padang pasir tetap terpelihara karena tidak bercampur dengan lidah asing. Bahasa Arab yang baik itu diterima dari orang-orang Baduwi dengan jalan meniru membacakan dan mendengar.

I. Pendidikan dan Moral dalam Islam
Tujuan utama ialah pembentukan akhlak dan budi pekerti yang sanggup menghasilkan orang-orang yang bermoral, laki-laki maupun perempuan, jiwa yang bersih, kemauan keras, cita-cita yang benar dan akhlah yang tinggi, tahu arti kewajiban dan pelaksanaannya, menghormati hak-hak manusia, tahu membedakan buruk dengan baik, memilih suatu fadhilah karena cinta pada fadhilah, menghindari suatu perbuatan yang tercela karena ia tercela, dan mengingat Tuhan dalam setiap pekerjaan yang mereka lakukan.
Tujuan dari pendidikan moral dan akhlak dalam Islam ialah untuk membentuk orang-orang yang bermoral baik, keras kemauan, sopan dalam berbicara dan perbuatan, mulia dalam tingkah laku dan perangai, bersifat bijaksana, sempurna, sopan dalam berada, ikhlas, jujur dan suci. Jiwa dari pendidikan Islam ialah pendidikan moral dan akhlak.
1. Pendidikan budi pekerti di masa anak-anak
“Pelajaran di waktu kecil ibarat lukisan di atas batu, pendidikan di waktu besar ibarat lukisan di atas air”. Dan itu tidak mengherankan bila ahli-ahli pendidikan modern abad ke 20 berkata bahtwa anak-anak meniru tabiat orang yang mendampinginya dalam 5 tahun pertama dari umurnya.
Artinya bahwwa pendidikan budi pekerti yang tinggi, wajib dimulai di rumah, dalam keluarga, sejak waktu kecil, dan jagan sampai dibiarkan anak-anak tanpa pendidikan, bimbingan dan petunjuk-petunjuk, bahkan sejak waktu kecilnya harus telah dididik sehingga ia tidak terbiasa kepada adat dan kebiasan yang tidak baik.
2. Metode pendidikan moral dalam Islam
a. Pendidikan secara langsung yaitu dengan cara mempergunakan petunjuk, tuntunan, nasehat, menyebutkan manfaat dan bahaya-bahayanya sesuatu, di mana pada murid dijelaskan hal-hal yang bermanfaat dan yang tidak, menuntun kepada amal-amal baik, mendorong mereka berbudi pekerti yang tinggi dan menghindari menghindari hal-hal yang tercela.
Wasiat-wasiat yang baik dalam bidang pendidikan moral anak-anak kita sebutkan sebagai berikut :
– Sopan santun adalah warisan yang berbaik
– Budi pekerti yang baik adalah teman yang sejati
– Mencapai kata mufakat adalah pimpinan yang terbaik
– Ijtihad adalah perdagangan yang menguntungkan
– Akal adalah harta yang paling bermanfaat
– Tidak ada bencana yang lebih besar dari kejahilan
– Tak ada kawan yang lebih buruh dari mengagungkan diri sendiri
b. Pendidikan akhlak secara tidak langsung, yaitu dengan jalan sugesti seperti mendiktekan sajak-sajak yang mengandung hikmat kepada anak-anak, memberikan nasehat-nasehat dan berita-berita berharga, mencegah mereka membaca sajak-sajak yang kosong termasuk yang menggugah soal-soal cinta dan pelakon-pelakonnya.
c. Mengambil manfaat dari kecenderungan dan pembawaan anak-anak dalam rangka pendidikan akhlak.
3. Pembentukan tingkah laku yang baik pada anak-anak sejak waktu kecilnya
a. Filosof-filosof pendidikan Islam telah menyuarakan apa yang disesuaikan oleh ahli-ahli ilmu pendidikan dan ahli-ahli moral di waktu ini yaitu supaya pembentukan tingkah laku yang baik pada anak-anak dilakukan sejak waktu kecilnya, seperti membiasakan ia tidur lebih cepat, membiasakan ia berjalan dan melakukan gerakan-gerakan olah raga, membiasakan supaya jangan meludah di tempat-tempat umum, jangan mengeluarkan ingus atau berdiri membelakang di mana orang lain, jangan ongkang kaki, jangan suka berdusta dan jangan suka bersumpah baik benar ataupun salah, dan membiasakan anak-anak itu mentaati ibu-bapak dan gurunya.
Dikatakan bahwa :
من شب على شئ شاب عليه
“Siapa yang membiasakan sesuatu di waktu mudanya, waktu tua akan menjadi kebiasaannya juga”.
b. Tidak mungkin kita katakan bahwa madrasah Islam kita saja yang sanggup mendidik anak-anak dengan pendidikan moral yang sempurna, tetapi ada pihak-pihak lain bersama-sama madrasah yang berpengaruh dalam pendidikan anak-anak itu seperti rumah tangga dan masyarakat.
4. Pendidikan anak-anak menurut teori Al Ghazali
Al Ghazali sependapat dengan Ibnu Sina bahwa pemeliharaan kesehatan baik dari perawatan, dan anak-anak haruslah dibiasakan sejak kecilnya kepada adat kebiasaan yang terpuji sehingga menjadi kebiasaan pula bila ia sudah besar. Al Ghazali menulis dalam bukunya “Ihya Ulumuddin” jilid II halaman 63 antara lain sebagai berikut :
Ketahuilah bahwa melatih pemuda-pemuda adalah suatu hal yang terpenting dan perlu sekali, anak-anak adalah amanah ditangan ibu bapaknya, hatinya masih suci ibarat permata yang mahal harganya, maka apabila ia dibiasakan pada permata yang mahal harganya, maka apabila ia dibiasakan pada suatu yang baik berbahagia dunia akhirat. Sebaliknya jika terbiasa dengan adat-adat buruk, tidak dipedulikan seperti halnya hewan, ia akan hancur dan binasa. Nabi SAW berkata :
كل مولود يولد على الفطرة وانما ابواه يهودانه او ينصرانه او يمجسانه
“Semua anak-anak dilahirkan suci, tetapi ibu bapaknyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”.
Suatu kewajiban memelihara amanah ini, hatinya yang suci, rohaninya yang bersih, dapat dimasuki yang baik dan yang buruk, maka apabila ia dibiasaka dengan yang baik dan diajar sejak waktu kecilnya, maka ia akan menjadi besar dengan sifat-sifat yang baik dan bila dewasa ia akan berbuat demikian pula, dengan arti berbahagialah ia dunia dan akhirat.

J. Islam dan Pendidikan Wanita
Dalam agama Islam, wanita diwajibkan menuntut ilmu pengetahuan seperti halnya kaum pria. Agama Islam telah menyamakan wanita dan pria dalam hal-hal yang bersifat kerohanian dan kewajiban keagamaan tanpa perbedaan dalam sifat ilmu dan pendidikan. Rasulullah SAW berkata :
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim pria dan wanita”, tanpa perbedaan. Ilmu adalah sesuatu yang sangat dihargai di dalam Islam dan mempelajarinya adalah kewajiban atas setiap muslim pria dan wanita.
Di dalam Islam, persamaan antara wanita dan pria itu mencakup juga bidang pahala dan siksaan, dan tidak ada perbedaan antara mereka kecuali kewajiban memberi nafkah, pemeliharaan dan perlindungan terhadap wanita. Allah SWT berfirman mengenai kedudukan wanita ini dalam surat Al Baqarah ayat 228 sebagai berikut :
ولهن مثل الذى عليهن بالمعروف وللرجال عليهن درجة (البقرة : 338)
“Dan para wanita mempunyai hak yang sama seimbang dengan kewajiban-kewajiban menurut cara yang baik, akan tetapi para suami mempunyai satu tingkat lebih tinggi dari isteri-isterinya”.
Dalam buku-buku sastra dan sejarah Islam, terdapat sejumlah besar wanita-wanita muslim yang terkenal, kita sebut antara lain :
1. Aliyah binti Al Mahdi : beliau adalah seorang penyair yang terkenal dengan irama syairnya, retorikanya yang luas, terminologinya yang sangat menarik
2. Aisyah bin Ahmad bin Qodim : beliau dibesarkan di Cordova, di saat hidupnya tidak terdapat wanita lain di Andalusia yang menyamai beliau dalam pengertian, ilmu, sastera, sajak, kehalusan bahasa dan kesucian.
3. Walladah binti Khalifah Al Mustakfi Billah : beliau adalah seorang penyair, sasterawati, kritikus, sastera dan syair, istana beliau menjadi tempat perhimpunan yang cukup luas menampung sasterawan-sasterawan, penyair-penyair, menteri-menteri, ualam, sarjan dan hakim-hakim.
1. Perbandingan antara wanita Islam dan wanita Kristen di Abad pertengahan
Bila kita membolak-balik halaman sejarah di abad pertengahan, kita akan melihat betapa wanita-wanita Kristen di Eropa tenggelam di dalam lautan kejahilan dan kita melihat betapa bangsa Romawi kuno-selain orang-orang Sparta dan Plato yang memiliki suatu civilisasi dan kebudayaan tinggi, menganggap wanita adalah suatu harta benda yang boleh dipermainkan oleh lelaki untuk berfoya-foya, tanpa memberikan kepada wanita hak untuk belajar dan persamaan dengan kaum pria dalam bidang kemasyarakatan. Bahkan orang Jerman berkata : “Almari pakaian adalah kantornya kaum wanita”. Orang-orang Prancis berpendapat pula bahwa wanita haruslah hidup dalam empat dinding. Sedang sebaliknya, kita melihat bahwa wanita Islam di abad pertengahan itu sudah mencapai suatu tingkat yang tinggi dari segi ilmiah, kebangunan mental, ketinggian jiwa, dan turut berpartisipasi dalam kehidupan agama, sosial, politik dalam masyarakat Islam di zaman keemasannya, di saat mana mereka tidak mencapai tingkat pendidikan dan ilmu pengetahuan yang begitu tinggi yang cukup membuat iri.

K. Guru dan Murid dalam Islam
Guru adalah spiritual father atau bapak rohani bagi seorang murid, ialah yang memberi santapan jiwa dengan ilmu, pendidikan akhlak dan membenarkannya, maka menghormati guru berarti pernghormatan terhadap anak-anak kita, dengan guru itulah mereka hidup dan berkembang, sekiranya setiap guru itu menunaikan tugasnya dengan sebaiknya. Abu Darda, melukiskan pula mengenai guru dan murid itu bahwa keduanya adalah berteman dalam kebaikan, dan tanpa keduanya tidak akan ada kebaikan.
1. Sifat-sifat yang harus dimiliki oleh guru dalam Pendidikan Islam
a. Zuhud tidak mengutamakan materi dan mengajar karena mencari keridlaan Allah semata
b. Kebersihan guru
c. Ikhlas dalam pekerjaan
d. Suka pemaaf
e. Seorang guru merupakan seorang bapak sebelum ia seorang guru
f. Harus mengetahui tabi’at murid
g. Harus menguasai mata pelajaran
2. Guru khusus atau muaddab
Muaddib atau guru khusus ialah seorang yang memberikan pelajaran khusus kepada seorang atau lebih dari seorang anak pembesar, pemimpin negara atau khalifah.
3. Hak-hak siswa dan kewajiban mereka dalam pendidikan Islam
1) Sebelum memulai belajar, siswa itu harus terlebih dahulu membersihkan hatinya dari segala sifat yang buruk, karena belajar dan mengajar itu dianggap sebagai ibadat.
2) Dengan belajar itu ia bermaksud hendak mengisi jiwanya dengan fadhilah, mendekatkan diri kepada Allah
3) Bersedia mencari ilmu, termasuk meninggalkan keluarga dan tanah air
4) Jangan terlalu sering menukar guru, tetapi haruslah ia berpikir panjang dulu sebelum bertindak hendak mengganti guru
5) Hendaklah ia menghormati guru dan memuliakannya serta mengagungkannya karena Allah, dan menyenangkan hati guru dengan cara yang baik
6) Jangan merepotkan guru dengan banyak pertanyaan, janganlah meletihkan dia untuk menjawab, jangan berjalan dihadapannya, jangan duduk di tempat duduknya
7) Jangan membukakan rahasia kepada guru, jangan pula seorangpun menipu guru
8) Bersungguh-sungguh dan tekun belajar
9) Siswa harus terlebih dahulu memberi salam kepada gurunya
4. Kewajiban guru menurut pendapat Imam Ghazali
1) Berikanlah nasehat kepada murid pada tiap kesempatan
2) Sang guru harus mengamalkan ilmunya dan jangan berlainan dengan perbuatannya

L. Hukuman menurut Pandangan Sarjana-sarjana Islam
Hukuman sekolah menurut pendapat filosof-filosof Islam sebagai tuntunan dan perbaikan, bukan sebagai hardikan atau balas dendam.
Jiwa santun, kasih dan saying mengenai masalah hukuman terhadap anak ini. Untuk dijatuhi hukuman jasmaniah diisyaratkan sebagai berikut :
1. Sebelum berumur 10 tahun anak-anak tidak boleh dipukul
2. Pukulan tidak boleh lebih dari 3 kali
3. Diberikan kesempatan kepada anak untuk tobat dari apa yang ia lakukan dan memperbaiki kesalahannya
1) Hukuman menurut pendapat Al Ghazali
Diselidiki latar belakang yang menyebabkan ia berbuat kesalahan serta mengenai umur yang berbuat kesalahan itu.
2) Hukuman menurut pendapat Al Abdari
Menurut pendapat Al Abdari, sifat-sifat anak yang berbuat salah itu harus diteliti, dan satu pandangan mata dan kerlingan saja terhadap si anak mungkin cukup untuk pencegahan dan perbaikan. Jika terpaksa harus menjatuhkan hukuman atas anak kecil, cukuplah kiranya diberi tiga pukulan ringan, dan kalau perlu jangan sampai lebih dari 10 pukulan. Al Abdari mengeritik keras cara-cara penggunaan tongkat seperti pelepah kepala, cabang kayu lonz dan cambuk karet model polisi ataupun tongkat kayu pendek untuk memukul anak-anak sebagai hukuman.
3) Pendapat Ibnu Khaldun mengenai hukuman
Ibnu Khaldun anti dengan menggunakan kekerasan dan kekerasan dalam pendidikan anak-anak. Bahwa kekerasan dengan anak-anak menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan penakut, menjauhkan anak-anak dari kegairahan bekerja keberanian bertindak, dan menyebabkan ia senantiasa merasa sengsara.
4) Pendapat kita mengenai hukuman-hukuman di sekolah
Menurut pendapat kita hukuman-hukuman di sekolah itu dibuat bukan untuk sebagai pembalasan dendam tetapi dibuat untuk memperbaiki anak-anak yang dihukum dan melindungi murid-murid lain dari kesalahan yang sama.
Sesuatu hukuman itu jangan sampai menyinggung harga diri dari seorang anak, jangan sampai berupa penghinaan atasnya, seperti umpamanya menuduh seorang anak mencuri dan tuduhan ini disiarkan dihadapan anak-anak ramai di sekolah. Setiap anak itu mempunyai kepribadian yang harus diperhatikan, rasa harga diri yang harus dipelihara.

M. Prinsip-prinsip Pokok dalam Kurikulum Pendidikan Islam
Kurikulum tingkat pertama dalam pendidikan Islam sebagai berikut : Al Qur’an, dan sendi-sendi agama, membaca, menulis, berhitung, bahasa, sajak-sajak yang mengandung ajaran-ajaran akhlak-akhlak menulis baik, cerita-cerita dan latihan berenang dan naik kuda. Pengajaran Islam tingkat tinggi di dunia ia akan mendapati bahwa kurikulumnya terbagi kepada dua golongan :
a. Rencana pelajaran agama dan sastera, dan
b. Rencana pelajaran ilmu eksakta dan sastra
Dari uraian mengenai kurikulum pelajaran tingkat tinggi tersebut kita dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai beriktu :
1. Perhatian kaum muslimin terhadap studi keagamaan sangat besar dan mendahului perhatian mereka terhadap subyek-subyek lain
2. Menurut pendapat Al Farabi, Ibnu SIna dan Ikhwan As Safa, kesempurnaan insan ini tidak akan terwujud kecuali dengan penyerasian antara ilmu agama dan ilmu eksakta.
3. Kecenderungan kepada pelajaran-pelajaran sastera dan ilmu keagamaan dan kemanusiaan

N. Prinsip yang Diperhatikan dalam Menyiapkan Kurikulum Pendidikan Islam
Bila kita perhatikan pendidikan Islam kita akan melihat bahwa dalam pembuatan kurikulum itu dipegang prinsip-prinsip berikut :
1. Pengaruh mata pelajaran itu dalam pendidikan jiwa serta kesempurnaan jiwa. Dari itu diberikan pelajaran-pelajaran keagamaan dan keTuhanan serta sifat-sifat yang pantas pada Tuhan.
Al Ghazali membagi ilmu pengetahuan ini kepada tiga bagian :
a. Bagian tercela, biar banyak atau sedikit, yaitu seperti ilmu sihir
b. Bagian yang terpuji, biar banyak ataupun sedikit, terpuji sejauh mungkin yaitu ilmu mengenai Allah, perbuatan Tuhan terhadap makhlukNya.
c. Bagian yang dipuji secara sewajarnya saja, seperti ilmu perbintangan (Ihya Ulumuddin, jilid Islam hal 36).
2. Pengaruh suatu pelajaran dalam bidang petunjuk, tuntunan, adalah dengan menjalani cara hidup yang mulia, sempurna, seperti dengan ilmu akhlak, hadits, fiqih.
Sebagian lainnya dari ulama-ulama Islam, menganggap bahwa mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan itu ilmu agama ataupun filsafat, semuanya membawa kepada tujuan-tujuan rohaniah dan akhlak. Dari itu dengan sepenuh hati mereka mempelajarina, yaitu untuk mencapai tujuan-tujuan rohaniah dan akhlak sebelum tujuan-tujuan yang lainnya.
3. Di samping itu ada lagi mata pelajaran yang dipelajari oleh orang-orang Islam karena mata pelajaran tersebut mengadung kelezatan ilmiah dan kelezatan teologi, yaitu apa yang oleh ahli-ahli pendidikan utama dewasa ini dinamakan menuntut ilmu karena itu ilmu itu sendiri, selain itu ada lagi mata pelajaran yang oleh sarjana-sarjana Islam dianjurkan untuk dipelajari karena secara praktis dan langsung memberikan manfaat di dalam hidup.

O. Metode Umum dalam Pengajaran
1. Metode mempelajaran Al Qur’an
Sebelum belajar membaca dan menulis, anak-anak menghafal surat-surat singkat dari Al Qur’an secara lisan, yaitu dengan jalan membacakan kepada mereka surat-surat singkat dan merekapun membaca bersama-sama, hal ini diulang berkali-kali sampai merek hafal di luar kepala.
Salah satu syair berbunyi :
ارانى أنسى ماسلمت فى الكبر , وكنت بناس ما تعلمت فى الصغر
“Saya lihat betapa saya lupa akan apa yang saya pelajari di waktu besar”.
2. Pengajaran syair dan sajak bagi anak-anak
Pengajaran syair adalah suatu pendidikan langsung buat akhlak dan sebagai jalan menegakkan moral yang mulia. Para sarjana Islam telah membayangkan betapa baiknya pengaruh irama syair itu dalam jiwa anak-anak dan kemungkinan penanaman akhlak yang tinggi melalui syair-syair tersebut.

3. Pelajaran para tingkat tinggi
a. Memasuki institut-institut tinggi tanpa syarat
Pendidikan tingkat tinggi dalam pendidikan Islam mulai pada umur dewasa. Masa belajar tingkat tinggi mungkin 5 tahun dan mungkin juga lebih dari 10 tahun. Untuk masuk institut-nstitut tinggi itu tidak ada ditentukan syarat-syarat khusus, akan tetapi institut-institut itu terbuka bagi setiap orang yang ingin belajar, yang haus kepada ilmu pengetahuan dan mampu untuk belajar.
b. Mengembara untuk mencari ilmu
Pendidikan Islam dalam tingkat ini terkenal dengan sistem pengembaraan. Yang dimaksud dengan pengembaraan itu ialah bahwa seseorang mahasiswa itu mengembara dari satu ke lain negeri untuk mengambil ilmu pengetahuan secara langsung dari guru besar dalam subyek-subyek tertentu.
Ibnu Khaldun telah menjelaskan sebab-sebab kaum muslimin suka mengembara ialah bahwa manusia memperoleh ilmu dan akhlak serta madzhab-madzhab yang mereka sukai, kadang-kadang dengan belajar, mengajar dan pidato, kadang-kadang dengan bercerita dan pendidikan secara langsung.
c. Kebebasan mahasiswa dan mahaguru
Dalam institut Islam di waktu dulu tidak ada kelas-kelas buat masing-masing kelompok pelajaran dan tidak pula para siswanya berpindah dari satu ke lain kelas. Pelajar-pelajar bebas dating atau tidak ke sekolah, bebas memilih gurunya sendiri, guru bebas pula menentukan tentang waktu-waktu kuliah, apakah itu sesudah sembahyang Subuh, waktu terbit matahari, sesudah Dhuhur, sesudah Ashar, ataupun antara Maghrib dan Isyak.
4. Pendidikan Islam ternyata lebih cenderung kepada segi-segi kerohanian bukan kepada segi-segi kebendaan dan keuntungan-keuntungan materi, suatu hal yang tidak lagi diragukan, bagi seorang yang membolak-balik buku-buku lama tentang pendidikan Islam walaupun segi-segi kebendaan tidak dilupakan.
5. Pendidikan kejuruan, teknik, industrialisasi buat mencari penghidupan. Pendidikan Islam mengutamakan segi-segi kerohanian, keagamaan dan moral, hal ini dapat dirasakan oleh orang-orang yang membaca buku-buku yang ditulis oleh filosof-filosof dan ulama-ulama Islam, tetapi sementara itu pendidikan Islam tidak mengesampingkan pemberian tuntunan kepada para siswa untuk mempelajari subyek atau latihan-latihan kejuruan mengenai beberapa bidang pekerjaan teknik, dan perindustrian segera setelah mereka selesai dari menghafal Al Qur’an dan pelajaran-pelajaran agama, dengan maksud mempersiapkan mereka untuk mencari kebutuhan hidup.
6. Islam atau tarbiyah Islamiyah mengutamakan pendidikan agama, akhlak dan kerohanian. Setelah itu barulah pelajaran-pelajaran mengenai kebudayaan. Perbedaan penting antara pendidikan Islam dengan pendidikan umum sekarang ini ialah bahwa tujuan utama pendidikan Islam ialah segi kerohanian dan segi akhlak danmoral.
Bila pendidikan Islam lebih mengutamakan nilai-nilai ilmiah yang bersifat kerohanian, Islam juga tidak mengabaikan subyek-subyek kebudayaan, kejurua serta latihan-latihan praktis dan pemikiran-pemikiran dalam menghadapi kebutuhan hidup. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah.
اعمل لدنياك كانك تعيش ابدا, واعمل لاخرتك كانك تموت غدا.
“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan meninggal besok”

KESIMPULAN
Pendidikan budi pekerti adalah jiwa dari pendidikan Islam. Tapi ini tidak berarti bahwa kita tidak mementingkan pendidikan jasmani atau akal atau ilmu ataupun segi-segi praktis lainnya tetapi artinya ialah bahwa kita memperhatikan segi-segi pendidikan akhlak seperti juga segi-segi lainnya itu.
Maka tujuan pokok dan terutama dari pendidikan Islam ialah mendidik budi pekerti dan pendidikan jiwa. Ghazali berpendapat : tujuan dari pendidikan ialah mendekatkan diri kepada Allah, bukan pangkat dan bermegah-megahan dengan kawan. Jadi pendidikan itu tidak keluar dari pendidikan akhlak
Menurut pendapat Al Farabi, Ibnu Sina, Ikhwan As Safa, kesempurnaan manusia itu tidak akan tercapai kecuali dengan menyerasikan antara agama dan ilmu.
Dalam bidang lain beliau berkata : “Tujuan dari belajar bukanlah mencari rezeki di dunia ini, tetapi maksudnya ialah untuk sampai kepada hakekat, memperkuat akhlak, dengan arti mencapai ilmu yang sebenarnya dan akhlak yang sempurna.

TUGAS MAKALAH
“PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM”

DI AJUKAN SEBAGAI TUGAS AKHIR
MATA KULIAH KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN

Dosen Pembimbing:
Drs. H. Sudiyono

Oleh:
Muhammad Thoha
02110008

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG
2006
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat taufiq hidayah-NYA kepada kita sehingga kita dapat melaksanakan aktivitas sehari-hari dalam lindungan-NYA.
Shalawat serta salam kami limpahkan kepda Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah membawa kita dari jurang kebodohan menuju alam yang penuh dengan keintelektualan , sehingga kita dapat membedakan yang hak dan yang bathil.
Dan tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Drs. H, Sudiyono selaku dosen pembimbing mata kuliah kapita selekta pendidikan yang selalu memberikan banyak solusi untuk pengembangan keilmuan dan sebagai acuan dalam langkah untuk mengembangkan keintelektualan kami.
Juga teman-teman yang selalu memberikan masukan dan optimis dalam rangka diskusi bersama untuk menambah luasnya keilmuan dan menjunjung tinggi jalan yang di ridhainya.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, maka dengan segala ketulusan dan kerendahan hati, penulis sangat mengharapkan saran dan krtikan yang bersifat konstruktif demi kesempurnaan makalah-makalah selanjutnya.
Akhirnya dengan segala bentuk kekurangan penulis berharap semoga dengan rahmat dan izin-NYA mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi kita semua. AMIN

Malang, 3, Januari 2006

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan alat penting bagi kehidupan manusia, tanpa adanya pendidikan maka manusia tidak akan pernah bisa memberikan definisi terhadap sesuatu bahkan dalam konsep Islam tidak bisa membedakan yang hak dan yang bathil. Pendidikan merupakan satu-satunya tonggak kehidupan manusia untuk memberikan kecermelangan hidupnya dan orang lain, bahkan saking penting pendidikan Nabi bersabda sebagai berikut:
Artinya: carilah ilmu sampai ke china
Statemen ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan sangat penting bagi kita dan orang-orang muslim yang lain sehingga Nabi sangat mewanti-wanti untuk menuntut ilmu keluar daerah, dan tempat tinggal kita. Dengan sangat pentingnya pendidikan maka dalam makalah ini kami mencoba sedikit menjabarkan pendidikan dalam perspektif Islam. Dalam makalah ini juga kami susun dengan sistematis dan beberapa poin sebagai berikut:
a. Tujuan pendidikan
b. Pendidikan Islam ideal
c. Ilmu dan pengajaran dlm pendidikan Islam
d. Dimana kaum muslim belajar
e. Pengajaran kelompok dan majelis-majelis sastera
f. Pendidikan tingkat tinggi
g. Pengajaran di Darul kutub
h. Pendidikan di kampung-kampung
i. Pendidikan dan moral Islam
j. Islam dan Pendidikan Wanita
k. Guru dan murid dalam Islam
l. Hukuman murid menurut pandangan sarjana Islam
m. Prinsip-prinsip pokok dalam kurikulum pendidikan Islam.
Poin-poin diatas adalah gambaran makalah yang kami buat dan mudah-mudahan dapat memberi gambaran yang jelas dan kontribusi positif yang dapat dikenan sepanjang hayat.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………………… i
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………… ii
BAB II PEMBAHASAN ………………………………………………………… 1
A. Tujuan Pendidikan……………………………………………….. 1
B. Pendidikan Islam Ideal…………………………………………… 2
C. Ilmu dan Pengajaran dalam Pendidikan Islam…………………… 5
D. Dimana Kaum Muslim Belajar ………………………………….. 6
E. Pengajaran Kelompok dan Majelis-Majelis Sastera ……………… 9
F. Pendidikan Tingkat Tinggi……………………………………….. 10
G. Pengajaran di Darul Kutub………………………………………. 11
H. Pendidikan di Kampung-Kampung………………………………. 12
I. Pendidikan dan Moral Islam………………………………………. 12
J. Islam dan Pendidikan Wanita……………………………………….. 14
K. Guru dan Murid dalam Islam……………………………………….. 15
L. Hukuman Murid Menurut Pandangan Sarjana Islam………………. 16
M. Prinsip-Prinsip Pokok dalam Kurikulum Pendidikan Islam………. 17
N. Prinsip yang diperhatkan dalam
Menyiapkan Kurikulum Pendidikan Islam………………………… 18
O. Metode Umum dalam Pembelajaran…………………………………. 18
BAB III PENUTUP…………………………………………………………………… 21
a. Kesimpulan………………………………………………………………… 21
DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA

Azra, Azyumardi. 1999. Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Millennium Baru, Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Arifin, M. 1996. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, cet. IV.

Al-Jauzy, bin Ali Hasan. 2001. Manhaj Tarbiyah Ibnu Qayyim. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar.

Al-Jamali, Fadlil, Muhamamad. 1986. Filsafat Pendidikan Dalam Al-Qur’an. Surabaya: Bina Ilmu.

AR, Muhammad. 2003. Pendidikan di Alaf Baru: Rekonstruksi atas Moralitas Pendidikan. Jogjakarta: Prismasophie.

Ali, Mohamammad. 1985. Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung: Sinar Baru.

Al-jamali, Fadlil, Muhammad. 1986. Filsafat Pendidikan dalam Al-Qur’an. Surabaya: Bina Ilmu. .

Feisal, Amir, Jusuf. 1995. Reorientasi Pendidikan Islam. Jakarta: Gema Insani Press.

Hitami, Munzir. 2004. Mengonsep Kembali Pendidikan Islam. Riau: Infinite Press.

Hujair dan Sanaky. 2003. Paradigma Pendidikan Islam: Membangun Masyarakat Madani Indonesia. Yogyakarta: Safiria Insania Press.

Jalal, Fatah, Abdul. 1988. Asas-Asas Pendidikan Islam. Semarang: CV Dipenegoro.

Zuhairini, dkk. 1981. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya: Usana Offset Printing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *