TUGAS KELOMPOK
STRATEGI PEMBELAJARAN

“STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS SISWA”

Disusun Oleh :
Asri Wijaya 1115061022
Atika Anggraini 1115051007
Aulia Marinda 1115060001
Fauzia Augustianah 1115060010
Iffan Sultami 1115061016
Indriyati Eka 1115061018
Juni Fitriannisa 1115061012
M. Zakie Walad 1115060003
Siti Amiah 1115061030
Vidia Widianti 1115066056

PSIKOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2008
BAB I
PENDAHULUAN

I. 1 Latar Belakang
Strategi pembelajaran berbasis siswa dipandang sebagai suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan kepada aktivitas siswa secara optimal. Untuk memperoleh hasil belajar berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif dan psikomotor secara seimbang.
Dari konsep tersebut ada dua hal yang harus dipahami. Pertama, dipandang dari sisi proses pembelajaran, strategi tersebut menekankan kepada aktivitas siswa secara optimal, artinya strategi pembelajaran berbasis siswa menghendaki keseimbangan antara aktivitas fisik, mental termasuk emosional dan aktivitas intelektual. Oleh karena itu, kadar strategi pembelajaran berbasis siswa tidak hanya bisa dilihat dari aktivitas fisik saja, akan tetapi juga aktivitas mental dan intelektul.
Kedua, dipandang dari sisi hasil belajar, strategi pembelajaran berbasis siswa menghendaki hasil belajar yang seimbang dan terpadu antara kemampuan intelektual (kogitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor). Artinya, dalam strategi tersebut pembentukan siswa secara utuh merupakan tujuan utama dalam proses pembelajaran.
Dari konsep di atas, maka jelas bahwa pendekatan yang berorientsi pada siswa berbeda dengan proses pembelajaran yang selama ini banyak berlangsung. Selama ini proses pembelajaran banyak diarahkan kepada proses menghafalkan informasi yang disajikan guru. Ukuran keberhasilan pembelajaran adalah sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran; apakah materi itu dipahami untuk kebutuhan hidup siswa, apakah siswa bisa menangkap hubungan materi yang dihafal itu dengan pengembangan potensi yang dimilikinya, bukan tidak menjadi soal, yang penting siswa dapat mengungkapkan kembali apa yang telah dipelajari. Oleh sebab itu, tidak heran kalau proses pembelajaran yang selama ini digunakan tidak memperhatikan hakikat mata pelajaran yang disajikan.
Dari penjelasan di atas, maka strategi pembelajaran berbasis siswa sebagai salah satu bentuk inovasi dalam memperbaiki kualitas proses belajar mengajar. Bertujuan untuk membantu peserta didik agar bisa belajar mandiri dan kreatif, sehingga ia dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dapat menunjang terbentuknya kepribadian yang mandiri. Dengan kemampuan itu diharapkan lulusan menjadi anggota masyarakat yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang dicita-citakan.

BAB II
PEMBAHASAN

II. 1 Pengertian Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran adalah pendekatan atau metode dalam pembelajaran berbentuk pedoman atau kerangka kegiatan untuk membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Menurut Seels & Richey, strategi pembelajaran adalah spesifikasi untuk memilih dan mengurutkan proses dan kegiatan-kegiatan dalam suatu pelajaran. Strategi pembelajaran menurut J.R David, 1976 adalah perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang di desain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Ada dua hal yang patut dicermati dari pengertian di atas. Pertama, strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunan metode dan penggunaan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. Ini berarti penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. Dengan demikian, penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan, berbagai fasilitas dan sumber belajar sebelumnya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan. Oleh sebab itu, sebelum menentukan strategi, perlu dirumuskan tujuan yang jelas dan dapat diukur keberhasilannya, sebab tujuan adalah rohnya dalam implementasi suatu strategi.

II. 2 Pengertian Strategi Pembelajaran Berbasis Siswa
Strategi pembelajaran berbasis siswa merupakan strategi pembelajaran dimana siswa dituntut peran dalam aktivitasnya secara utuh. Strategi ini didesain untuk membelajarkan siswa. Artinya, sistem pembelajaran menempatkan siswa sebagai subyek belajar. Dengan kata lain, pembelajaran berorientasi pada aktivitas siswa (PBAS). Aktivitas tidak dimaksudkan terbatas pada aktivitas fisik, akan tetapi juga meliputi aktivitas yang bersifat psikis seperti aktivitas mental. Dengan kata lain, terjadi perpaduan antara aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
Dalam hal ini guru sebagai fasilitator dan perancang dari pengalaman belajar yang dibutuhkan siswa. Pendekatan ini dikenal dengan istilah pembelajaran siswa aktif. Pembelajaran siswa aktif dapat diorganisasikan secara individual maupun secara kelompok.

II. 3 Macam-Macam Strategi Pembelajaran Berbasis Siswa
Terdapat beberapa macam turunan strategi pembelajaran dan metode pembelajaran yang merujuk pada strategi pembelajaran berbasis siswa, diantaranya: strategi pembelajaran Inquiry, pembelajaran berbasis masalah, discovery, peningkatan kemampuan berpikir, kooperatif, kontekstual dan simulasi.

II. 3. 1 Strategi Pembelajaran Inkuiri
3. 1. 1 Konsep Strategi Pembelajaran Inkuiri
Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI) adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berfikir secara kritis dan analitis untuk mencari menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Jadi secara singkat dapat dikatakan strategi pembelajaran ini menekankan pada proses mencari dan menemukan inti dari suatu materi pelajran, guru hanya bertugas sebagai fasilitator dan pembimbing. Aktivitas pembelajaran dalam strategi ini bisasanya dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan siswa.
Ada tiga ciri utama dari dari strategi pembelajaran inkuiri. Yang pertama adalah penekanan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan atau dengan kata lain siswa ditempatkan sebagai subyek belajar. Kedua seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (sel belief). Ketiga tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sestematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Jadi, dalam strategi pembelajaran ini, siswa tidak hanya dituntut untuk dapat memahami materi pelajaran tapi juga meningkatkan kemampuan berfikir.

3. 1. 2 Prinsip – prinsip Strategi Pembelajaran Inkuiri
Ada lima prinsip dalam strategi pembelajaran inkuiri. Kelima strategi tersebut adalah:
1. Berotientasi pada pengembangan intelektual
Karena tujuan dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berfikir. Maka strategi pembelajaran ini selain berorientasi kepada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar. Oleh karena itu, criteria keberhasilan dari roses pembelajaran dengan menggunakan strategi inkuiri bukan ditentukan oleh sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan sesuatu.

2. Prinsip interaksi
Dalam strategi ini, sangat ditekankan adanya interaksi antara guru dan siswa, dan dalam hal ini interaksi itu berupa pertanyaan yang dilontarkan oleh guru.
3. Prinsip bertanya
Peran guru dalam strategi pembelajaran ini adalah guru sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk menjawa setiap pertannyan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir. Oleh sebab itu, kemampuan guru utnuk bertanya dalam setiap langkah inkuiri sangat diperlukan, apakah itu hanya sekedar untuk meminta perhatian siswa, untuk melacak ,mengembangkan kemampuan atau untuk menguji
4. Prinsip belajar untuk berfikir
Belajar bukan hanya menghafal atau mengingat suatu fakta atau konsep akan tetapi belajar harus mancangkup peningkatan proses berfikir.
5. Prinsip keterbukaan
Belajar adalah suatu proses mencoba berbagai kemungkinan. Segala sesuatu meungkin saja terjadi. Oleh sebab itu, anak perlu diberikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya.

3. 1. 3 Langkah – langkah Strategi Pembelajaran Inkuiri
Langkah – langkah yang perlu dilakukan dalam strategi pembelajaran inkuiri yaitu:
1. Orientasi
Lankah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajran yang responsive. Pada langkah ini guru mengkonsisikan agar siswa siap melaksanakn proses pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini yang pertama adalah penjelasan mengenai topik, tujuan serta hasil belajar yang diharapkan. Lalu dilanjutkan dengan kegiatan menjelaskan pokok – pokok kegiatan yang akan dilakukan. Yang terakhir adalah menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar.
2. Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka – teki. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan masalah, antara lain masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa, dengan kata lain guru hanya memberikan topik yang akan dipelajari, sedangkan bagaimana rumusan masalah yang sesuai dengan topik yang telah ditentukan sebaiknya diserahkan kepada siswa. Selain itu syarat lain adalah masalah itu haruslah memiliki jawaban yang pasti, dan yang terakhir konsep utama dari masalah itu haru sudah diketahui oleh siswa sebelumnya.
3. Mengajukan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalah yang sedang dikaji. Pada tahap ini sesuai dengan prinsip keterbukaan, siswa memiliki kesempatan yang bebas untuk merumuskan hipotesisnya sendiri sesuai dengan tingkat rasional yang ia miliki.
4. Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah kegiatan menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam strategi pembelajaran ini, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sagat penting dalam pengembangan intelektual. Tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mendorong siswa untuk berfikir mencari informasi yang dibutuhkan.
5. Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh pada tahap pengumpulan data. Pada tahap ini aspek yang dilatih adalah tingkat keyakinan siswa terhadap hipotesis yang mereka buat, selain itu aspek lain yang dilatih adalah kemampuan untuk berfikir rasional.
6. Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil hipotesis.

3. 1. 4 Keunggulan dan kelemahan Strategi Pembelajaran Inkuiri
1. Keunggulan
– Merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara berimbang.
– Memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
– Sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman
– Dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata.
2. Kelemahan
– Sulit untuk mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa
– Sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar
– Terkadang dalam pengimplementasiannya memakan waktu yang leih lama dari jadwal yang sudah ditentukan.

II. 3. 2 Pendekatan Inquiry Discovery Learning
Pendekatan ini diilhami oleh Inquiry Training model dari Richard Suchman. Pada awalnya pendekatan ini diterapkan untuk pengajarn ilmu-ilmu eksakta, namun kemudian dikembangkan untuk pengajaran ilmu-ilmu social. Pendekatan ini sangat mengedepankan keaktifan dan kreativitas anak. Pendekatan ini bermanfaat terutama untuk pembentukan kemampuan berfikir induktif yang banyak diperlukan dalam kegiatan akademik.
Inquiry Discovery Learning adalah belajar mencari dan menemukan sendiri. Dalam system belajar-mengajar ini guru menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuk yang final, dalam hal ini anak didik diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri dengan mempergunakan teknik pendekatan pemecahan masalah.
Pada kegiatan discovery guru hanya memberikan masalah dan siswa disuruh memecahkan masalah melalui percobaan. Pada pendekatan inquiry, siswa mengajukan masalah sendiri sesuai dengan pengarahan guru. Keterampilan mental yang dituntut lebih tinggi dari discovery antara lain: merancang dan melakukan percobaan, mengumpulkan dan menganalisis data, dan mengambil kesimpulan.
Adapun garis besar prosedur pendekatan itu adalah sebagai berikut :
1. Simulation. Guru mulai bertanya dengan mengajukan beberapa persoalan kepada para siswa, atau siswa disuruh membaca buku untuk memecahkan persoalan yang diajukan oleh guru.
2. Problem Statement. Anak didik diberi kesempatan untuk mengidentifikasi beberapa masalah. Di antara masalah / problem yang paling banyak adalah yang menarik dan fleksibel untuk dipecahkan. Permasalahan yang dipilih itu kemudian dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni pernyataan (statement) sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan.
3. Data Collection. Untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan kebenaran hipotesis tersebut, siswa diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan, membaca literature, mengamati obyek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba dan sebagainya.
4. Data Processing. Semua informasi hasil bacaan, wawancara, observasi dan sebagainya, kemudian diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasikan, kemudian ditafsirkan pada tinggkat kepercayaan tertentu.

5. Verification atau pembuktian. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu kemudian dicek, apakah sudah terjawab, atau tidak, terbukti atau tidak.
6. Generalization. Tahap selanjutnya setelah verifikasi adalah diajak menarik sebuah kesimpulan atau generalisasi.
Dengan pendekatan ini siswa lebih mudah menghafal atau mengingat materi pelajaran. Daur proses pembelajaran dengan menjadikan siswa aktif dan merasa terikat untuk memperoleh informasi-informasi baru, sehingga hasil yang diperolehnya menjadi puas. Hanya kelemahannya adalah waktu yang diperlukan cukup lama dan perlu instruksi yang jelas. Oleh karena itu apabila instruksinya tidak jelas, dan tidak terarah, dapat menjurus ke kekacauan dan kekaburan materi yang dipelajari. Disamping itu, bahan-bahan penunjang, seperti kelengkapan buku diperpustakaan, dan kalau bisa ada VCD dan internet sehingga informasi yang dibutuhkan siswa lebih lengkap.
II. 3.3 Pembelajaran Berbasis Masalah
3. 3. 1 Pendahuluan
Dalam penerapan pembelajaran ini, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan topic masalah, walaupun sebenarnya guru sudah mempersiapkan apa yang harus dibahas. Proses pembelajaran di arahkan agar siswa mampu menyelesaikan masalah secara sistematis dan logis.

3. 3. 2 Konsep Dasar dan Karakteristik
Pembelajaran berbasis masalah dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah.
Terdapat 3 ciri utama dari pembelajaran ini :
– Merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran
– Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah
– Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah.

Pembelajaran berbasis masalah dengan pemecahan masalah dapat diterapkan :
– Manakala guru menginginkan agar siswa tidak hanya sekedar dapat mengingat materi pelajaran, akan tetapi menguasai dan memahaminya secara penuh.
– Apabila guru bermaksud untuk mengembangkan keterampilan berpikir rasional siswa, yaitu kemampuan menganilisis situasi, menerapkan pengetahuan yang mereka miliki dalam situasi baru, mengenal adanya perbedaan antara fakta dan pendapat, serta mengembangkan kemampuan dalam membuat judgment secara objektif.
– Manakala guru menginginkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah serta membuat tantangan intelektual siswa.
– Jika guru ingin mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
– Jika guru ingin agar siswa memahami hubungan antara apa yang dipelajari dengan kenyataan dalam kehidupannya (hubungan antara teori dengan kenyataan).

3. 3. 3 Hakikat Masalah dalam Pembelajaran Berbasis Masalah
Hakikat masalah dalam pembelajaran berbasis masalah adalah kesenjangan antara situasi nyata dan kondisi yang diharapkan, atau antara kenyataan yang terjadi dengan apa yang diharapkan. Kesenjangan tersebut bisa dirasakan adanya keresahan, keluhan, kerisauan, atau kecemasan.
Kriteria pemilihan bahan pelajaran dalam pembelajaran berbasis masalah
1. Bahan pelajaran harus mengandung isu-isu yang mengandung konflik (conflict issue) yang bisa bersumber dari berita; rekaman video, dan yang lain.
2. Bahan yang dipilih adalah bahan yang bersifat familiar dengan siswa, sehingga setiap siswa dapat mengikutinya dengan baik.
3. Bahan yang dipilih merupakan bahan yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak (universal), sehingga terasa manfaatnya.
4. Bahan yang dipilih merupakan bahan yang mendukung tujuan atau kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
5. Bahan yang dipilih sesuai dengan minat siswa sehinggan setiap siswa merasa perlu untuk mempelajarinya.

3. 3. 4 Tahapan- tahapan Pembelajaran Berbasis Masalah
Sesuai dengan tujuan pembelajaran ini adalah untuk menumbuhkan sikap ilmiah, dari beberapa bentuk pembelajaran berbasis masalah yang dikemukakan para ahli, maka secara umum pembelajaran berbasis masalah bisa dilakukan dengan langkah-langkah :
a. Menyadari masalah
b. Merumuskan masalah
c. Merumuskan hipotesis
d. Mengumpulkan data
e. Menguji hipotesis
f. Menentukan pilihan penyelesaian

3. 3. 5 Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Berbasis Masalah
Pembelajaran Berbasis Masalah memiliki beberapa keunggulan, diantaranya :
g. merupakan teknik yang cukup bagus untuk memahami isi pelajaran
h. menantang kemampuan siswa serta memberi kepuasan untuk menemukan pengetahuan bagi siswa
i. dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa
j. membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata
k. dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Disamping itu , pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya
l. dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa
m. mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata
n. dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus balajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.

Disamping keunggulan, pembelajaran ini juga memiliki kelemahan, diantaranya :
1. ketika siswa tidak memliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba
2. keberhasilan pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.

II.3.4 Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB)
3.4.1 Pengertian SPPKB
SPPKB merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada kemampuan berpikir siswa. Joyce dan Weil (1980) menem¬patkan model pembelajaran ini ke dalam bagian model pembelajar¬an Cognitive Growth: Increasing the Capacity to Think.
Dalam SPPKB, materi pelajaran tidak disajikan begitu saja ke¬pada siswa. Akan tetapi, siswa dibimbing untuk menemukan sendiri konsep yang harus dikuasai melalui proses dialogis yang terus-me¬nerus dengan memanfaatkan pengalaman siswa. Walaupun tujuan SPPKB sama dengan strategi pembelajaran inkuiri (SPI), yaitu agar siswa dapat mencari dan menemukan materi pelajaran sendiri, akan tetapi keduanya memiliki perbedaan yang mendasar. Perbedaan ter¬sebut terletak pada pola pembelajaran yang digunakan. Dalam pola pembelajaran SPPKB, guru memanfaatkan pengalaman siswa se-bagai titik tolak berpikir, bukan teka-teki yang harus dicari jawaban¬nya seperti dalam pola inkuiri.

3.4.2 Hakikat dan Pengertian Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB)
Telah dijelaskan bahwa salah satu kelemahan proses pem¬belajaran yang dilaksanakan para guru adalah kurang adanya usaha pengembangan kemampuan berpikir siswa. Dalam setiap proses pembelajaran pada mata pelajaran apa pun guru lebih banyak mendorong agar siswa dapat menguasai sejumlah materi pelajaran. Strategi pembelajaran ini pada awalnya dirancang untuk pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Hal ini didasar¬kan pada asumsi bahwa selama ini IPS dianggap sebagai pelajaran hafalan. Namun demikian, tentu saja dengan berbagai penyesuaian topik, strategi pembelajaran yang akan dibahas ini juga dapat di¬terapkan pada mata pelajaran lain. Berdasarkan hasil penelitian, selama ini IPS dianggap sebagai pelajaran kelas dua. Para orang tua siswa berpendapat IPS merupakan pelajaran yang tidak terlalu penting dibandingkan dengan pelajaran lainnya, seperti IPA dan matematika (Sanjaya, 2002). Hal ini merupakan pandangan yang keliru. Sebab, pelajaran apa pun diharapkan dapat membekali siswa balk untuk terjun ke masyarakat maupun untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kekeliruan ini juga terjadi pada sebagian besar para guru. Mereka berpendapat bahwa IPS pada hakikatnya adalah pelajaran hafalan yang tidak menantang untuk berpikir. IPS adalah pelajaran yang sarat dengan konsep-konsep, pengertian-pengertian, data, atau fakta yang hares dihafal dan tidak perlu dibuktikan.
Sekarang, bagaimana mengubah paradigma berpikir tentang IPS sebagai mata pelajaran hafalan? Bagaimana IPS dapat dijadikan mata pelajaran yang mampu mengembangkan kemampuan berpikir siswa? Di bawah ini akan dijelaskan satu strategi pembelajaran berpikir dalam pelajaran IPS. Model pembelajaran ini adalah model pembelajaran basil dari pengembangan yang telah diuji coba (Sanjaya, 2002).
Model strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir (SPPKB) adalah model pembelajaran yang bertumpu kepada pengembangan kemampuan berpikir siswa melalui telaahan fakta-fakta atau pengalaman anak sebagai bahan untuk memecahkan masalah yang diajukan. Terdapat beberapa hal yang terkandung dalam pengertian di atas.
1. SPPKB adalah model pembelajaran yang bertumpu pada pengembangan kemampuan berpikir, artinya tujuan yang ingin dicapai oleh SPPKB adalah bukan sekadar siswa dapat menguasai sejumlah materi pelajaran, akan tetapi bagaimana siswa dapat me-ngembangkan gagasan-gagasan dan ide-ide melalui kemampuan berbahasa secara verbal. Hal ini didasarkan kepada asumsi bahwa kemampuan berbicara secara verbal merupakan salah satu kemam¬puan berpikir.
2. Telaahan fakta-fakta sosial atau pengalaman sosial me¬rupakan dasar pengembangan kemampuan bepikir, artinya pe¬ngembangan gagasan dan ide-ide didasarkan kepada pengalaman sosial anak dalam kehidupan sehari-hari dan/atau berdasarkan ke¬mampuan anak untuk mendeskripsikan ‘hasil pengamatan mereka terhadap berbagai fakta dan data yang mereka peroleh dalam ke¬hidupan sehari-hari.
3. Sasaran akhir SPPKB adalah kemampuan anak untuk memecahkan masalah-masalah sosial sesuai dengan taraf per¬kembangan anak.

3.4.3 Karakteristik SPPKB
SPPKB memiliki tiga karakteristik utama, yaitu sebagai berikut:
1. Proses pembelajaran melalui SPPKB menekankan kepada proses mental siswa secara maksimal. Artinya setiap kegiatan belajar itu disebabkan tidak hanya peristiwa hubungan stimulus-respons saja, tetapi juga disebabkan karena dorongan mental yang diatur oleh otaknya. Berkaitan dengan karakteristik tersebut, maka dalam proses implementasi SPPKB perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Jika belajar tergantung pada bagaimana informasi diproses secara mental, maka proses kognitif siswa harus menjadi kepedulian utama para guru. Artinya, guru harus menyadari bahwa proses pembelajaran itu yang terpenting bukan hanya apa yang dipelajari, tetapi bagaimana cara mereka mempelajarinya.
b. Guru harus mempertimbangkan tingkat perkembangan kog¬nitif siswa ketika merencanakan topik yang harus dipelajari serta metode apa yang akan digunakan.
c. Siswa harus mengorganisasi yang mereka pelajari. Dalam hal ini guru harus membantu agar siswa belajar untuk me¬lihat hubungan antarbagian yang dipelajari.
d. Informasi baru akan bisa ditangkap lebih mudah oleh siswa, manakala siswa dapat mengorganisasikannya dengan pe¬ngetahuan yang telah mereka miliki. Dengan demikian guru hares dapat membantu siswa belajar dengan memperlihat¬kan bagaimana gagasan bare berhubungan dengan penge¬tahuan yang telah mereka miliki.
e. Siswa harus secara aktif merespons apa yang mereka pe¬lajari. Merespons dalam konteks ini adalah aktivitas mental bukan aktivitas secara fisik.
2. SPPKB dibangun dalam proses pembelajaran melalui dialog dan tanya jawab terus-menerus, hal itu diarahkan untuk memperbaiki dan meningkat¬kan kemampuan berpikir siswa, yang pada gilirannya kemampu¬an berpikir itu dapat membantu siswa untuk memperoleh pe¬ngetahuan yang mereka konstruksi sendiri.
3. SPPKB adalah model pembelajaran yang menyandarkan kepada dua sisi yang sama pentingnya, yaitu sisi proses dan hasil belajar.¬ Proses belajar diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir, sedangkan sisi hasil belajar diarahkan untuk meng-konstruksi pengetahuan atau penguasaan materi pembelajaran baru.

3.4.4 Perbedaan SPPKB dengan Pembelajaran Konvensional
Ada perbedaan pokok antara SPPKB dengan pembelajaran yang selama ini banyak dilakukan guru. Perbedaan tersebut adalah:
1. SPPKB menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar, arti¬nya peserta didik berperan aktif dalam setiap proses pembe¬lajaran dengan cara menggali pengalamannya sendiri; sedang¬kan dalam pembelajaran konvensional peserta didik ditempat¬kan sebagai objek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif.
2. Dalam SPPKB, pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata melalui penggalian pengalaman setiap siswa; sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran bersifat teoritis dan abstrak.
3. Dalam SPPKB, perilaku dibangun atas kesadaran diri, sedang¬kan dalam pembelajaran konvensinal perilaku dibangun atas proses kebiasaan.
4. Dalam SPPKB, kemampuan didasarkan atas penggalian pengalaman; sedangkan dalam pembelajaran konvensional kemam¬puan diperoleh melalui latihan-latihan.
5. Tujuan akhir dari proses pembelajaran melalui SPPKB adalah kemampuan berpikir melalui proses menghubungkan antara pengalaman dengan kenyataan; sedangkan dalam pembelajar¬an konvensional tujuan akhir adalah penguasaan materi pem¬belajaran.
6. Dalam SPPKB, tindakan atau perilaku dibangun atas kesadaran diri sendiri, misalnya individu tidak melakukan perilaku tertentu karena ia menyadari bahwa perilaku itu merugikan dan tidak bermanfaat; sedangkan dalam pembelajaran konvensional tin¬dakan atau perilaku individu didasarkan oleh faktor dari luar dirinya, misalnya individu tidak melakukan sesuatu disebab¬kan takut hukuman.
7. Dalam SPPKB, pengetahuan yang dimiliki setiap individu selalu berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya, oleh sebab itu setiap peserta didik bisa terjadi perbedaan dalam me¬maknai hakikat pengetahuan yang dimilikinya. Dalam pembelajaran konvensional, hal ini tidak mungkin terjadi. Kebenaran yang dimiliki bersifat absolut dan final, oleh karma pengetahuan dikonstruksi oleh orang lain.
8. Tujuan yang ingin dicapai oleh SPPKB adalah kemampuan siswa dalam proses berpikir untuk memperoleh pengetahuan, maka kriteria keberhasilan ditentukan oleh proses dan basil belajar; sedangkan dalam pembelajaran konvensional keberhasilan pem¬belajaran biasanya hanya diukur dari tes.

3.4.5 Tahapan-tahapan Pembelajaran SPPKB
Ada 6 tahap dalam SPPKB. Setup tahap dijelaskan berikut ini.
1. Tahap Orientasi
Pada tahap ini guru mengkondisikan siswa pada posisi siap untuk melakukan pembelajaran. Tahap orientasi dilakukan dengan, per¬tama, penjelasan tujuan yang harus dicapai baik tujuan yang ber¬hubungan dengan penguasaan materi pelajaran yang harus dicapai, maupun tujuan yang berhubungan dengan proses pembelajaran atau kemampuan berpikir yang harus dimiliki siswa. Kedua, penjelasan proses pembelajaran yang harus dilakukan siswa, yaitu penjelasan tentang apa yang harus dilakukan siswa dalam setiap tahapan proses pembelajaran.
Pemahaman siswa terhadap arah dan tujuan yang harus dicapai dalam proses pembelajaran seperti yang dijelaskan pada tahap orientasi sangat menentukan keberhasilan SPPKB. Pemahaman yang baik akan membuat siswa tahu ke mana mereka akan dibawa, sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar mereka. Oleh sebab itu, ta-hapan ini merupakan tahapan yang sangat penting dalam imple¬mentasi proses pembelajaran. Untuk itulah dialog yang dikembang¬kan guru pada tahapan ini harus mampu menggugah dan menum¬buhkan minat belajar siswa.
2. Tahap Pelacakan
Tahap pelacakan adalah tahapan penjajakan untuk memahami pengalaman dan kemampuan dasar siswa sesuai dengan tema atau pokok persoalan yang akan dibicarakan. Melalui tahapan inilah guru mengembangkan dialog dan tanya jawab untuk mengungkap pengalaman apa saja yang telah dimiliki siswa yang dianggap relevan dengan tema yang akan dikaji. Dengan berbekal pemahaman itulah selanjutnya guru menentukan bagaimana ia harus mengembangkan dialog dan tanya jawab pada tahapan-tahapan selanjutnya.
3. Tahap Konfrontasi
Tahap konfrontasi adalah tahapan penyajian persoalan yang ha¬rus dipecahkan sesuai dengan tingkat kemampuan dan pengalam¬an siswa. Untuk merangsang peningkatan kemampuan siswa pada tahapan ini guru dapat memberikan persoalan-persoalan yang dile¬matis yang memerlukan jawaban atau jalan keluar. Pada tahap ini guru harus dapat mengembangkan dialog agar siswa benar-benar memahami per¬soalan yang harus dipecahkan. Mengapa demikian? Sebab, pemaha¬man terhadap masalah akan mendorong siswa untuk dapat berpikir. Oleh sebab itu, keberhasilan pembelajaran pada tahap selanjutnya akan ditentukan oleh tahapan ini.
4. Tahap Inkuiri
Tahap inkuiri adalah tahapan terpenting dalam SPPKB. Pada tahap inilah siswa belajar berpikir yang sesungguhnya. Melalui inkuiri, siswa diajak untuk memecahkan persoalan yang dihadapi. Oleh sebab itu, pada tahapan ini guru harus memberikan ruang dan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan gagasan dalam upaya pemecahan persoalan. Melalui berbagai teknik bertanya guru harus dapat menumbuhkan keberanian siswa agar mereka dapat menjelaskan, mengungkap fakta sesuai dengan peng¬alamannya, memberikan argumentasi yang meyakinkan mengem-bangkan gagasan, dan lain sebagainya.
5. Tahap Akomodasi
Tahap akomodasi adalah tahapan pembentukan pengetahuan baru melalui proses penyimpulan. Pada tahap ini siswa dituntut untuk dapat menemukan kata-kata kunci sesuai dengan topik atau terra pembelajaran. Pada tahap ini melalui dialog, guru membimbing agar siswa dapat menyimpulkan apa yang mereka temukan dan mereka pahami sekitar topik yang dipermasalahkan. Tahap akomo¬dasi bisa juga dikatakan sebagai tahap pemantapan hasil belajar, sebab pada tahap ini siswa diarahkan untuk mampu mengungkap kembali pembahasan yang dianggap penting dalam proses pem-belajaran.
6. Tahap Transfer
Tahap transfer adalah tahapan penyajian masalah baru yang se¬padan dengan masalah yang disajikan. Tahap transfer dimaksudkan sebagai tahapan agar siswa mampu mentransfer kemampuan ber¬pikir setiap siswa untuk memecahkan masalah-masalah baru. Pada tahap ini guru dapat memberikan tugas-tugas yang sesuai dengan topik pembahasan.

Beberapa hal yang harus diperhatikan agar SPPKB dapat berhasil dengan sempurna khususnya bagi guru sebagai pengelola pembelajaran.
1. SPPKB adalah model pembelajaran yang bersifat demokratis, oleh sebab itu guru harus mampu menciptakan suasana yang terbuka dan sating menghargai, sehingga setiap siswa dapat me¬ngembangkan kemampuannya dalam menyampaikan peng¬alaman dan gagasan. Dalam SPPKB guru harus menempatkan siswa sebagai subjek belajar bukan sebagai objek. Oleh sebab itu, inisiatif pembelajaran harus muncul dari siswa sebagai subjek belajar.
2. SPPKB dibangun dalam suasana tanya jawab, oleh sebab itu guru dituntut untuk dapat mengembangkan kemampuan ber¬tanya, misalnya kemampuan bertanya untuk melacak, kemam¬puan bertanya untuk memancing, bertanya induktif-deduktif, dan mengembangkan pertanyaan terbuka dan tertutup. Hindari peran guru sebagai sumber belajar yang memberikan informasi tentang materi pelajaran.
3. SPPKB juga merupakan model pembelajaran yang dikem¬bangkan dalam suasana dialogis, karena itu guru harus mampu merangsang dan membangkitkan keberanian siswa untuk men¬jawab pertanyaan, menjelaskan, membuktikan dengan mem¬berikan data dan fakta sosial serta keberanian untuk menge¬luarkan ide dan gagasan serta menyusun kesimpulan dan men¬cari hubungan antar-aspek yang dipermasalahkan.

III. 3. 5 Konsep Strategi Pembelajaran Kooperatif (SPK)

Model pembelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Ada empat unsur penting dalam SPK, yaitu: (1) adanya peserta dalam kelompok; (2) adanya aturan kelompok; (3) adanya upaya belajar setiap anggota kelompok; dan (4) adanya tujuan yang harus dicapai.
Peserta adalah siswa yang melakukan proses pembelajaran dalam setiap kelompok belajar. Pengelompokan siswa bisa ditetapkan berdasarkan beberapa pendekatan, diantaranya pengelompokan yang didasarkan atas latar belakang kemampuan, pengelompokan yang didasarkan atas campuran baik campuran ditinjau dari minat maupun campuran ditinjau dari kemampuan.
Aturan kelompok adalah segala sesuatu yang menjadi kesepakatan semua pihak yang terlibat, baik siswa maupun sebagai peserta didik, maupun siswa sebagai anggota kelompok. Misalnya, aturan tentang pembagian tugas setiap anggota kelompok, waktu dan tempat pelaksanaan, dan lain sebagainya.
Upaya belajar adalah segala aktivitas siswa untuk meningkatkan kemampuannya yang telah dimiliki maupun meningkatkan kemampuan baru, baik kemampuan dalam aspek pengetahuan, sikap, maupun keterampilan.
Aspek tujuan dimaksudkan untuk memberikan arah perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
Salah satu strategi dari model pembelajaran kelompok adalah strategi pembelajaran kooperatif (cooperative learning) (SPK). SPK merupakan strategi pembelajaran kelompok yang akhir-akhir ini menjadi perhatian dan dianjurkan para ahli pendidikan untuk digunakan. Slavin (1995) mengemukakan dua alasan, pertama, beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatifdapat meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri orang lain, serta dapat meningkatkan harga diri. Kedua, pembelajaran kooperatif dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berpikir, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan. Dari dua alasan tersebut, maka pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran yang dapat memperbaiki sistem pembelajaran yang selama ini memiliki kelemahan.
Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran edngan menggunakan sistem pengelompokan / tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belekang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (heterogen). Sistem penilaian dilakukan terhadap kelompok. Setiap kelompok akan memperoleh penghargaan (reward), jika kelompok mampu menunjukan prestasi yang dipersyaratkan. Dengan demikian, setiap anggota kelompok akan mempunyai ketergantungan positif. Ketergantungan semacam itulah yang selanjutnya kan memunculkan tanggung jawab individu terhadap kelompok dan keterampilan interpersonal dari setiap anggota kelompok. Setaip individu akan saling membantu, mereka akan mempunayi motivasi untuk keberhasilan kelompok, sehingga setiap individu akan memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan kontribusi demi keberhasilan kelompok.
SPK mempunyai dua komponen utama, komponen tugas kooperatif (cooperative task) dan komponen struktur insentif kooperatif (coperative incentive stucture). Tugas kooperatif berkaitan dengan hal yang menyebabkan anggota bekerja sama dalam menyelesaikan tugas kelompk; sedangakn struktur insentif kooperatif merupakan sesuaru yang membangkitakn motivasi individu untuk bekerja sama mencapai tujuan kelompok. Struktur insentif dianggap sebagai keunikan dari pembelajaran kooperatif, karena melalui struktur insentif setiap anggota kelompok bekerja keras untuk belajar, mendorong dan memotivasi anggota lain menguasai materi pelajaran, sehingga mencapai tujuan kelompok.
Jadi, hal yang menarik dari SPK adalah adanya harapan selain memiliki damapak pembelajaran, yaitu berupa peningkatan prestasi belajar peserta didik (student achievement) juga mempunyai dampak pengiring sebagai relasi sosial, penerimaan terhadap peserta didik yang dianggap lemah, harga diri, norma akademik, penghargaan terhadap waktu, dan suka memberi pertolongan pada yang lain.
Strategi ini bisa digunakan manakala:
 Guru menekankan pentingnya usaha kolektif disamping usaha individual dalam belajar.
 Jika guru menghendaki seluruh siswa (bukan hanya siswa yang pintar saja) untuk memperoleh keberhasilan dalam belajar.
 Jika guru ingin menanamkan, bahwa siswa dapat belajar dari teman lainnya, dan belajar dari bantuan orang lain.
 Jika guru menghendaki untuk mengembangkan kemampuan komukikasi siswa sebagai bagian dari isi kurikulum.
 Jika guru menghendaki meningkatnya motivasi siswa dan menambah tingkat partisipasi mereka.
 Jika guru menghendaki berkembangnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan menemukan berbagai solusi pemecahan.

3. 5. 1 Karakteristik dan Prinsip-prinsip SPK
1. Karakteristik SPK
Lebih menekankan kepada proses kerja sama dalam kelompok. Tujuan yang ingin dicapai tidak hanya kemampuan akademik dalam pengertian penguasaan bahan pelajaran, tetapi juga adanya unsur kerja sama untuk penguasaan materi tersebut. Adanya kerja sama inilah yang menjadi ciri khas dari pembelajaran kooperatif.
Slavin, Abrani, dan Chambers (1996) berpendapat bahwa belajar melalui kooperatif dapat dijelaskan dari beberapa perspektif, yaitu perspektif motivasi, perspektif sosial, perspektif perkembangan kognitif, dan perspektif elaborasi kognitif.
a. Pembelajaran secara tim
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran secara tim Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Semua anggota tim (anggota kelompok) harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itulah, kriteria keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh keberhasilan tim.
b. Didasarkan pada manajemen kooperatif
Sebagaimana pada umumya, manajemen mempunyai empat fungsi pokok, yaitu fungsi perencanaan, fungsi organisasi, fungsi pelaksanaan, dan fungsi kontrol.
c. Kemauan untuk bekerja sama
Pembelajaran kooperatif ditentuka oleh keberhasilan secara kelompok. Oleh sebab itu, prinsip bekerja sama perlu ditekankan dalam proses pembelajaran kooperatif
d. Keterampilan bekerja sama
Kemauan untuk bekerja sama itu kemudian dipraktikkan melalui aktivitas dan kegiatan yang tergambarkan dalam ketermapilan bekerja sama.

2. Prinsip-prinsip Pembelajaran Kooperatif
a. Prisip ketergantungan kelompok, keberhasilan suatu penyelesaian tugas sangat tergantungn kepada usaha yang dilakukan setiap anggota kelompoknya. Oleh sebab itu, perlu disadar oleh setiap anggota kelompk keberhasilan penyelesaian tugas kelompok akan ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota. Dengan demikian, semua anggota dlam kelompok akan merasa kelompok akan merasa saling ketergangtungan.

b. Tanggung Jawab perseorangan (Individual Accountability)
Prinsip ini merupakan kensekuensi dari prinsip yang pertama. Oleh karena keberhasilan kelompok tergantung pada setiap anggotanya, maka setiap anggota kelompok harus memiliki tanggung jawab sesuai dengan tugasnya.

c. Interaksi tatap muka (face to face promotion interaction)
Pembelajaran kooperatif memberi ruang dan kesempatan yang luas kepada setiap anggoat kelompok untuk bertatap muka saling memberikan informasi dan saling membelajarkan. Interaksi tatap muka akan memberikan pengalaman yang berharga kepada setiap anggota kelompok untuk bekerja sama, mengharagi setiap perbedaan, memanfaatkan kelebihan masing-masing sanggota dan mengisis kekurangan masing-masing.

d. Partsipasi dan komunikasi (participation communication)
Pembelajaran kooperatif melatih siswa untuk dapat mampu berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Kemampuan ini sangat penting sebagai bekal mereka dalam kehidupan di masyarakat kelak. Oleh sebab itu, sebelum melakukan kooperatif, guru perlu membekali siswa dengan kemampuan berkomunikasi.

3. 5. 2 Prosedur Pembelajaran Kooperatif
Prosedur pembelajaran kooperatif pada prinsipnya teridri atas empat tahap, yaitu: (1) penjelasan mataeri; (2) belajar dalam kelompok; (3) penilaian; dan (4) pengakuan tim.

1. Penjelasan materi
Tahap penjelasan diartikan sebagai proses penyampaian pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok. Tujuan utama dalam tahap ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran. Pada tahap ini guru memberikan gambaran umum tentang materi pelajaran yang harus dikuasai yang selanjutnya siswa akan memperdalam materi dalam pembelajaran kelompok (tim).

2. Belajar dalam kelompok
Setelah guru menjelaskan gambaran umum tentang pokok-pokok materi pelajaran, selanjutnya siswa diminta untuk belajar pada kelompoknya masing-masing yang telah dibentuk sebelumnya. Pengelompokkan dalam SPK bersifat heterogen.

3. Penilaian
Penilaian dalam SPK bisa dilakukan dengan tes atau kuis. Tes atau kuis dilakukan baik secara individual maupun secara kelompok.

4. Pengakuan Tim
Pengakuan Tim (team recognition) adalah penetapan tim yang dianggap paling menonjol atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah.

3. 5. 3 Keunggulan dan kelemahan SPK
1. Keunggulan SPK
Keunggulan pembelajaran kooperatif sebagai suatu strategi pembelajaran diantaranya adalah :
 Siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
 Siswa dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide lain
 Dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan
 Dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar
 Merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial
 Dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik
 Dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata (riil)
 Interaksi yang terjadi dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir

2. Keterbatasan SPK :
 Membutuhkan waktu yang lama untuk memahami dan mengerti filosofis SPK
 Jika tanpa peer teaching yang efektif, bisa terjadi cara belajar yang seharusnya dipelajari dan dipahami siswa tidak pernah dicapai siswa
 Penilaian yang diberikan dalam SPK didasarkan kepada hasil kerja kelompok
 Keberhasilan SPK dalam upaya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang
 Banyaknya aktivitas dalam kehidupan yang hanya daidasarkan kepada kemampuan secara individual
II.3.6 Strategi Pembelajaran Kontekstual
3. 6. 1 Konsep Dasar
Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Dari konsep ini ada 3 hal yang harus kita pahami:
1. CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi.
2. CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata.
3. CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan
Sehubungan dengan hal diatas, terdapat 5 karakteristik penting dalam proses pembelajaran CTL :
1. (Activing Knowledge) / Pengaktifan pengetahuan
Artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
2. (Acquiring Knowledge) / Memperoleh dan menambah pengetahuan baru
Artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan kemudian memerhatikan detailnya.
3. (Understanding Knowledge) / Pemahaman pengetahuan
Artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami dan diyakini.
4. (Applying Knowledge) / Mempraktikan atau mengaplikasikan pengetahuan
Artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus diaplikasikan dalam kehidupannya.
5. (Reflecting Knowledge) / Melakukan refleksi
Artinya sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.

3. 6. 2 Asas-Asas CTL
Atau biasa disebut sebagai Komponen-komponen CTL yaitu 7 komponen :
1. Konstruktivisme
Adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Pengetahuan itu memang berasal dari luar, akan tetapi dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang.
2. Inkuiri
Adalah proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri.
3. Bertanya / Menjawab pertanyaaan (Questioning)
Pada hakikatnya dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berfikir.
4. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Artinya bahwa pengetahuan dan pemahaman seseorang ditopang oleh komunikasi dengan orang lain, suatu permasalahan tidak mungkin dapat dipecahkan sendiri, tetapi membutuhkan bantuan orang lain.
5. Pemodelan (Modeling)
Artinya proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa.
6. Refleksi (Reflection)
Artinya proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya.
7. Penilaian Nyata (Authentic Assesment)
Artinya proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak, apakah pengalamann belajar siswa memilki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa.
3. 6. 3 Pola dan Tahapan Pembelajaran CTL
Berikut ini cara mengaplikasikan CTL dalam proses pembelajaran, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
a. Pendahuluan
1. Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari.
2.Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL
• Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah siswa.
• Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi.
• Melalui observasi siswa ditugaskan untuk mencatat berbagai hal yang ditemukan.
3. Guru melakukan tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerjakan oleh
setiap siswa.
b. Inti
Di lapangan
1. siswa melakukan observasi ke suatu tempat sesuai dengan pembagian kelompok.
2. siswa mencatat hal-hal yang mereka temukan dipasar sesuai dengan alat observasi yang telah mereka tentukan sebelumnya.
Di dalam kelas
1. Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing
2. Siswa melaporkan hasil diskusi
3. Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok yang lain.
Penutup
1. Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi sekitar masalah tempat yang diobservasinya sesuai dengan indikator hasil belajar yang harus dicapai.
2. Guru menugaskan siswa untuk membuat karangan tentang pengalaman belajar mereka, misalnya dengan tema “pasar”.

II.3.7. Metode Simulasi

Sebagai metode mengajar, simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu. Simulasi dapat digunakan sebagai metode mengajar dengan asumsi tidak semua proses pembelajaran dapat dilakukan secara langsung pada objek yang sebenarnya. Demikian juga untuk mengembangkan pemahaman dan penghayatan terhadap suatu peristiwa, penggunaan simulasi akan sangat bermanfaat.

3. 7. 1 Jenis- jenis Simulasi
Simulasi terdiri dari beberapa jenis, diantaranya:
a. Sosiodrama, adalah metode pembelajaran bermain peran untuk memecahkan masalah- masalah yang berkaitan dengan fenomena sosial, permasalahn yang menyangkut hubungan antara manusia. Digunakan untuk memberikan pemahaman dan penghayatan akan masalah- masalah social serta mengembangkan kemampuan siswa untuk memecahkannya.
b. Psikodrama, adalah metode pembelajaran dengan bermain peran yang bertitik tolak dari permasalahan- permasalahan psikologis, biasanya digunakan untuk terapi
c. Role playing (bermain peran), adalah metode pembelajaran sebagai bagian dari simulasi yang diarahkan untuk mengkreasi peristiwa sejarah, peristiwa- peristiwa actual, atau kejadian- kejadian yang mungkin muncul pada masa mendatang.

2 Langkah- langkah Simulasi
d. Persiapan Simulasi
i. Menetapkan topik atau masalah serta tujuan yang hendak dicapai
ii. Memberikan gambaran masalah
iii. Menetapkan pemain yang akan terlibat, peranan para pemain serta waktu yang disediakan
iv. Memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya
e. Pelaksanaan simulasi
i. Simulasi mulai dimainkan
ii. Para siswa yang tidak terlibat mengikuti dengan penuh perhatian
iii. Guru memberikan bantuan kepada pemeran yang mendapat kesulitan
iv. Simulasi hendaknya dihentikan pada saat puncak agar siswa terdorong untuk berpikir dalam menyelesaikan masalah yang disimulasikan
3 Penutup
v. Melakukan diskusi tentang jalannya simulasi dan materi cerita yang disimulasikan
vi. Merumuskan kesimpulan

4 Kelebihan dan Kelemahan Metode Simulasi

Kelebihan :
Sebagai bekal bagi siswa dalam menghadapi situasi yang sebenarnya kelak
Mengembangkan kreativitas siswa
Memupuk keberanian dan percaya diri siswa
Memperkaya pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa
Meningkatkan gairah siswa dalam proses pembelajaran
Kelemahan :
1. Pengalaman yang diperoleh melalui simulasi tidak selalu tepat dan sesuai dengan kenyataan dilapangan
2. Simulasi sering dijadikan sebagai alat hiburan, sehingga tujuan pembelajaran terabaikan
3. Faktor psikologis seperti rasa malu dan takut sering memengaruhi siswa dalam melakukan simulasi

BAB III
PENUTUP

III. 1 Kesimpulan
 Strategi pembelajaran menurut J.R David, 1976 adalah perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang di desain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
 Strategi pembelajaran berbasis siswa merupakan strategi pembelajaran dimana siswa dituntut peran dalam aktivitasnya secara utuh. Strategi ini didesain untuk membelajarkan siswa. Pendekatan ini dikenal dengan istilah pembelajaran siswa aktif.
 Terdapat beberapa macam strategi dan metode pembelajaran yang merujuk pada strategi pembelajaran berbasis siswa, diantaranya:
1. Strategi Pembelajaran Inquiry
2. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah
3. Discovery Learning
4. Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir
5. Strategi Pembelajaran Kooperatif
6. Strategi Pembelajaran Kontekstual
7. Metode Simulasi

III. 2 Saran
Prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran adalah bahwa tidak semua strategi pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan. Setiap strategi memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Sehingga dalam penggunaan strategi pembelajaran berbasis siswa pun sebaiknya guru harus mampu memilih strategi yang dianggap cocok dengan keadaan. Selain itu, terjadi kekeliruan yang kerap muncul adalah adanya anggapan bahwa dengan menggunakan strategi pembelajaran berbasis siswa peran guru semakin berkurang. Anggapan semacam ini tentu saja tidak tepat, sebab walaupun strategi pembelajaran tersebut didesain untuk meningkatkan aktivitas siswa, tidak berarti mengakibatkan kurangnya peran dan tanggung jawab guru. Baik guru maupun siswa sama-sama harus berperan secara penuh. Dalam strategi pembelajaran ini menuntut guru untuk kreatif dan inovatif sehingga mampu menyesuaikan kegiatan kegiatan mengajaranya dengan gaya dan karakteristik belajar siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Gulo, W. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo.
N.K, Roestiyah.2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran:Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Suprayekti. 2007. Strategi Pembelajaran. Jakarta: UNJ.
Dimyati dn Mudjiono.1992. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdiknas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *