Pengertian Isolasi

Ramali A. dalam Wahida (2008) mendefinisikan isolasi merupakan tindakan memisahkan misalnya penderita penyakit menular maupun keadaan terasingkan, seperti dalam memperoleh biakan mikroorganisme. Sedangkan menurut Hinchiff dalam Wahida (2008). Isolasi merupakan pemisahan seorang pasien dari pasien-pasien lainnya.

Kewaspadaan Isolasi

Menurut Tietjen dalam Andra (2008). Kewaspadaan isolasi yang spesifik berdasarkan penularan ada 3 macam yaitu :

  • Kewaspadaan melalui udara

Kewaspadaan melalui udara perlu dianjurkan pada klien, klien yang sudah diketahui penderita penyakit-penyakit seperti :

Tuberculosis (TB), cacar atau (virus varisella) dan campak (Rubella).

Hal-hal yang diperhatikan dalam kewaspadaan melalui udara antara lain :

  • Perawatan klien
  1. Kamar khusus.
  2. Tutup pintu.
  3. Udara di kamar dapat dialirkan keluar menggunakan penyaringan udara.
  4. Jika tidak tersedia kamar khusus, klien dirawat bersama dengan penyakit yang sama, tetapi tidak dengan infeksi lain.
  • Perlindungan pernapasan
  1. Pakai masker.
  2. Jika tersangka TB, pakai alat bantu pernapasan (bila tersedia).
  3. Masker dilepas setelah keluar kamar pasien dan letakkan dalam kantong plastik atau tempat sampah.
  • Ambulasi klien
  1. Batasi ambulasi klien.
  2. Selama ambulasi klien memakai masker.
  3. Beritahu penerima klien.
  • Kewaspadaan Percikan

Kewaspadaan melalui percikan merupakan kewaspadaan sederhana dari kewaspadaan melalui udara karena siswa partikel berada di udara dalam waktu yang singkat. Hal-hal yang diperhatikan dalam kewaspadaan percikan antara lain :

  • Penempatan klien
  1. Kamar khusus.
  2. Jika kamar khusus tidak ada, tempatkan klien dalam ruangan klien infeksi dengan penyakit yang sama, tidak ada infeksi lain.
  3. Jika tidak ada fasilitas, pisahkan dengan jarak 1 meter (3 kaki) di antara klien.
  • Perlindungan pernapasan

Pakai masker jika jarak 1 meter dari klien.

  • Transportasi klien
  1. Pembatasan klien bila diperlukan.
  2. Selama transportasi klien harus menggunakan masker.
  3. Beritahu yang menerima klien.
  • Kewaspadaan kontak

Kewaspadaan kontak ini mengurangi resiko penularan organisme dari klien terinfeksi atau teknologi baik langsung maupun tidak langsung.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kewaspadaan kontak antara lain :

  • Penempatan klien
  1. Kamar khusus
  2. Jika kamar khusus tidak ada tempatkan klien dalam ruangan klien infeksi dengan penyakit yang sama, tidak dengan infeksi lain.
  • Sarung tangan
  1. Pakai sarung tangan yang bersih.
  2. Ganti sarung tangan setelah kontak dengan barang-barang yang terinfeksi.
  3. Buka sarung tangan sebelum meninggalkan klien.
  • Cuci tangan
  1. Cuci tangan dengan sabun anti bakteri atau gunakan cuci tangan anti septic berbahan alkohol, setelah melepas sarung tangan.
  2. Jangan sentuh permukaan atau benda-benda secara potensial dapat terkontaminasi sebelum meninggalkan ruangan.
  • Pakaian dan perlengkapan perlindungan
  1. Pakai pakaian bersih, tidak perlu steril sewaktu masuk ke ruangan klien.
  2. Antisipasi apabila kontak dengan klien inkontinensia disertai diare, atau luka yang terpasang drain yang tidak ditutup kasa.
  3. Ganti pakaian sebelum meninggalkan ruangan, jangan biarkan pakaian menyentuh permukaan yang potensial terkontaminasi.
  • Transportasi klien
  1. Batasi transportasi klien seperlunya saja.
  2. Selama transportasi pertahankan kewaspadaan untuk meminimalkan resiko penularan dari mikroorganisme.
  • Perlengkapan perawatan klien
  1. Bersihkan dan desinfeksi semua peralatan sesudah dipakai.
  2. Jika mungkin perlengkapan untuk tiap klien.

Daftar Pustaka

Amtaris. 2009. Lingkungan Perawatan. http://www.google.co.id. Di Unduh Tanggal 04 Januari 2010.

Andra, 2008. Http://spiritia.or.id/cst/bacacstperawmenu. Di Unduh tanggal 4 Januari 2010.

Arwani, 2003. Komunikasi Dalam Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Bambang. 2009. Pendidikan. http://www.teori-psikologi.blogspot.com. Di Unduh Tanggal 25 Desember 2009.

Chandra, 2008. http://Teori-psikologi.blogspot.com. Di Unduh tanggal 25 Desember 2009

Hidayat, Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data, Penerbit Salemba Medika, Jakarta.

La Ode Jumadi Gaffar, 2002. Pengantar Keperawatan Profesional, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Mustikasari, 2008. Mustikanurse.blogspot.com. di Unduh tanggal 27 Desember 2009

Notoatmodjo, S. 2005, Metodologi Penelitian Kesehatan, Penerbit Rineka Cipta, Cetakan Ketiga, Jakarta.

Patti, 2009. http://perawat-blogspot.com. Di Unduh tanggal 05 Januari 2010.

Pidyawati, 2007. http://bankdata.depkes.go.id/2008. Di Unduh tanggal 26 Desember 2009

Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Edisi 4. EGC. Jakarta.

Sabarguna. 2008. Karya Tulis Ilmiah Untuk Mahasiswa D-III Kesehatan. Sagung Seto. Jakarta.

Sahara, 2008. http:// creasoft.wordpress.com /2008 /04 /15/ komunikasi- terapeutik. Di Unduh tanggal 04 Januari 2010.

Siswono, 2006. http://www.gizi.net/cgi- bin/berita/ fullnews.cgi. Di Unduh tanggal 23 Desember 2009.

Sitorus, R. 2006. Model Praktik Keperawatan Profesional di Rumah Sakit, Penerbit Kedokteran EGC, Jakarta.

Wahida, 2008. http://wordpress.com/2008/03/10/isolasi-pasien. di Unduh tanggal 7 Januari 2010.