1. Pengertian Aktivitas

Barangkali manusia ada dalam keadaan yang baik apabila ia sedang belajar. Mengapa atau dalam keadaan bagaimana seseorang manusia melakukan perbuatan belajar? Sebab manusia belajar pada dasarnya sama dengan sebab-sebab ia melakukan setiap  perbuatan lain.

Sedang aktivitas yang dilakukan siswa dalam belajar adalah mendengar, mencatat, menjawab pertanyaan yang diajukan padanya, menyimpulkan, memperhatikan, membaca dan lain-lain.

Adapun macam-macam aktivitas yang dilakukan siswa dalam belajar adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Paul B. Diebrich yang disitir oleh Nasution (1982: 93) dalam bukunya “Didaktik Azas-Azas Mengajar” sebagai berikut:

  1. Visual activities, seperti membaca, memperhatikan gambar, demontrasi, percobaan, pekerjaan orang lain dan sebagainya.
  2. Oral Activities seperti; menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan interview, diskusi, interupsi, dan sebagainya.
  3. Listening activities, seperti: mendengarkan uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato, dan sebagainya
    1. Writing activities, seperti: menulis cerita, karangan, laporan, test, angket, menyalin dan sebagainya
    2. Motor activities, seperti; melakukan percobaan, membuat konstruksi, model, meresapi, bermain, berkebun, memelihara binatang, dan sebagainya
    3. Mental activities, seperti: menganggap, mengingat memecahkan soal, menganalisa, melihat hubungan, mengambil keputusan, dan sebagainya.
    4. Emosional activities, seperti menaruh minat, merasa bosan, gembira, berani, tenang, gugup, dan sebagainya.

Tentu saja kegiatan-kegiatan itu tidak terpisah antara satu dengan yang lain. Dalam setiap kegiatan notaris terkandung kegiatan mental dan disertai perasaan tertentu. Dalam tiap pelajaran dapat dilakukan bermacam-macam kegiatan.

  1. Pengertian Belajar

Belajar sesungguhnya adalah masalah yang dihadapi sepanjang sejarah manusia dan dialamis etiap orang. Hampir semua kecakapan, ketrampilan, pengetahuan, kebiasaan, kegemaran dan sikap terbentuk dimodifikasi dan berkembang karena belajar. Dan proses belajar tersebut terjadi dimana-mana, dirumah, dimasyarakat, dipabrik, di kantor dan di sekolah.

Sehingga kenyataan tentang belajar itu sangat banyak, namun secara garis besarnya dapat berupa perubahan sikap dan kebiasaan, penguasaan nilai-nilai pengetahuan dan keterampilan.

Menurut Nasution (1982: 39) mengemukakan bahwa belajar membawa sesuatu perubahan pada individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan melainkan juga dalam bentuk kecakapan, kebiasaan, sikap pengertian, penghargaan, minat, penyesuaian diri, pendeknya segala aspek organisme atau pribadi seseorang.

Sedangkan menurut Mahfud Shalahuddin (1988: 117) belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku melalui pendidikan atau lebih khusus melalui prosedur latihan. Perubahan itu sendiri berangsur-angsur dimulai dari sesuatu yang tidak dikenalnya untuk kemudian dikuasai atau dimilikinya dan dipergunakan sampai suatu saat untuk dievaluasi oleh yang menjalani proses belajar.

Dalam kesleuruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik.

Seseorang akan berhasil dalam belajar, kalau pada dirinya ada keinginan untuk belajar. Belajar adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada disekitarnya individu dengan cara melihat, mengamati dan memahami sesuatu. Hubungan antara guru dengan siwa di dalam kelas membawa implikasi terhadap kadar hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Hasil belajar tersebut sebagai akibat hubungan guru-siswa dalam mengembangkan dirinya secara bebas, pembentukan memori (ingatan) pada  siswa, dan pembentukan pemahaman pada siswa.

Hasil belajar adalah hasil dari suatu proses belajar yang dilakukan seseorang. Dlam pengertian ini hasil yang yang diperoleh adalah hasil kegiatan dalam belajar siswa dalam bentuk  pengetahuan sebagai akibat dari perlakuan alam pembelajaran yang dilakukan oleh pengajar ( guru ). Seperti yang dikemukakan oleh sudjana ( 1989 : 45) mmemberikan pengertian, hasil belajar adalah proses verbal dari fakta ataupun proses tingkah laku secara fisik yang berupa memori atau ingatan. Ia juga menambahkan hasil belajar adalah proses hubugan guru-siswa di dalam kelas yang membawa implikasi terhadap pengembangan diri siswa secara jelas., pembentukan memori (ingatan) pada siswa dan pembentukan pemahaman pada siswa.

Menurut Sukmadinata (1997: 196) tutjuan utama kegiatan guru adalah mendorong dan meningkatkan kemampuan sebagai hasil belajar, dengan cara itu guru dapat mempengaruhi perubahan tingkah laku siswa. Untuk mencapai siswa agar dapat berhasil dapat diperlukan hubungan timbal balik guru dan siswa. Guru perlu menyenangi siswanya, bersikap menerima, mengerti dan membatu. Sebaliknya siswa harus bisa menerima, menyenangi dan menghormati gurunya. Kesukaan dan sikap positif terhadap guru akan meningkatkan hasil belajar mereka. Hasil dan kemajuan belajar yang dicapai siswa ditentukan oeh bentuk hubungan guru dan orang tua siswa juga hubungan guru dengan siswa juga menjadi syarat mutlak.

Pandangan skinner dalam Dimyati (1998: 9) Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku pada saat orang belajar, maka responya akan menjadi lebih, sebaliknya jika ia tidak belajar maka responya menurun.

Sedangkan menurut Gagne dalam Mudjiono (198: 10) belajar merupakan kegiatan yang komplek, hasil belajar merupakan kapabilitas yaitu setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan , sikap dan nilai.

Mouli dalam Sudjana (2001: 5) belajar asalah proses perubahan tingkah laku seseorang berkat adanya pengalaman. Pendapat serupa dikemukakan oleh Kimble dan Garmezi dalam sudjana (2001: 5) belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif permanen, terjadi sebagi hasil dari pengalaman. Pada dasarnya belajar adalah suatu proses yang ditandai adanya  perubahan-perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagi hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti berubah berpengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu si belajar.

Kondisi pembelajaran yang sangat memprihatinkan pada giliranya membutuhkan perhatian yang sering dari berbagai kalangan, guna mencari alternatif pemecahan masalah yang tepat. Guna menaggulagi permasalahan penbelajaran seorang guru harus memperbaiki proses  pembelajaran dalam rangka menigkatkan hasil belajar siswa menurut Reigeluth dalam Degeng (189: 14) Dalam menigkatkan hasil belajar perlu adanya perbaikan proses pengajaran (metode mengajar). Jadi kondisi pengajaran akan menentukan kualitas hasil belajar siswa.

Kondisi belajar dibedakan menjadi dua, yang berasal dari sumber yang berbeda yaitu kondisi internal dan eksternal. Kondisi internal  belajar adalah keterampilan prasyarat dan fase-fase pegolahan informasi. Sedangkan kondisi eksternal adalah cara pembelajaran.Kedua kondisi ini, baik internal maupun eksternal saling berinteraksi untuk menghasilkan belajar pada siswa.

Dikelas kondisi belajar eksternal berupa strategi pembelajaran yang ditentukan oleh guru untuk membelajarkan siswa. Kapan siswa dapat dikatakan belajar melalui kegiatan pembelajaran dari pengajar (guru) ?. Siswa dikatakan dikatakan belajar melalui kegiatan pembelajaran dari guru jika belajar yang terjadi adalah lebuh besar dari pada yang terjadi bila guru tidak melakukan kegiatan sama sekali. Dengan demikian dapat dipastikan proses pembelajaran sesungghnya terjadi bila ada kegiatan yang dilakukan oleh guru.Logikanya pada proses pembelajaran harus ada nilai tambah (peningkatan) pada hasil belajar siswa dari hasil proses dengan adanya kegitan yang dilakukan oleh guru.

Untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dengan jalan membandingkan hasil tes awal yang diperoleh siswa dengan tes akhir yang diperoleh siswa setelah pembelajaran selesai. Bila hasil tes akhir skornya lebih tinggi dari skor tes awal berarti proses pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Perbedaan hasil skor yang nyata sebagai akibat pembelajaran yang terjadi karena perlakuan guru.

Seperti yang dikemukakan oleh Sudjana (1989: 45) memberikan pengertian hasil belajar adalah:

“Proses verbal dari fakta ataupun proses tingkah laku secara phisik yang berupa memori atau ingatan yang bersifat mentalistik, ia juga menambahkan, hasil belajar adalah proses hubungan antara guru-siswa di dalam kelas yang membawa implikasi terhadap pengembangan diri siswa secara bebas, pembentukan memori (ingatan) pada siswa, dan pembentukan pemahaman pada siswa.”

Seorang akan berprestasi dalam belajar apabila ada keinginan untuk belajar, Mouly dalam Sudjana (2001: 5) belajar adalah proses perubahan tingkah laku seseorang berkat adanya pengalaman.

Pendapat serupa dikemukakan oleh Kimble dan Garmezi dalam Sudjana (2001: 5) belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif permanen terjadi dari prestasi pengalaman.

Menurut Reigeluth dalam Degeng (1989: 14) dalam meningkatkan prestasi belajar perlu adanya perbaikan proses pengajaran (metode pengajaran). Jadi kondisi pengajaran akan menentukan kualitas prestasi belajar siswa. Dikelas kondisi eksternal untuk belajar adalah strategi pembelajaran yang ditentukan oleh guru untuk membelajarkan siswa. Siswa dikatakan belajar melalui kegiatan pembelajaran dari guru jika belajar yang terjadi adalah lebih besar daripada yang dapat terjadi bila guru tidak melakukan kegiatan sama sekali. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa proses pembelajaran sesungguhnya terjadi bila ada kegiatan yang dilakukan oleh guru. Logikanya pada proses pembelajaran harus ada nilai tambah (peningkatan) pada prestasi belajar yaitu dari prestasi proses dengan adanya kegiatan yang dilakukan oleh guru. Seseorang akan berprestasi dalam belajar, kalau pada dirinya ada keinginan untuk belajar. Belajar adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada disekitar individu dengan cara melihat, mengamati, memahami sesuatu. Hubungan antara guru dan siswa dalam kelas membawa implikasi terhadap kadar prestasi belajar yang dicapai oleh siswa. Prestasi belajar tersebut sebagai akibat hubungan guru – siswa dalam mengembangkan dirinya secara bebas, pembentukan memori (ingatan) pada siswa, dan pembentukan pemahaman pada siswa.

Kondisi belajar dibedakan menjadi dua, yang berasal dari sumber yang berbeda yaitu kondisi internal dan kondisi eksternal. Kondisi internal belajar adalah keterampilan prasyarat dan fase-fase pengolahan informasi, sedangkan kondisi eksternal belajar adalah cara pembelajarannya. Kedua kondisi ini, baik internal maupun eksternal saling berinteraksi untuk meningkatkan prestasi belajar pada siswa (Prayitno, 1989: 67).

Pada dasarnya belajar adalah suatu proses yang ditgurui dengan adanya perubahan-perubahan pada diri seseorang, perubahan seperti : pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan kebiasaan serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu belajar.

Jadi jelaslah bahwa hasil belajar itu merupakan hasil yang dicapai seseorang siswa dalam belajar yang dinyatakan dalam bentuk skor nilai. Akan tetapi secara luas tidak hanya ditentukan oleh skor saja, bahkan juga pada hal-hal yang nyata seperti bakat dan keahlian.

Dalam hal hasil ini, sesuai dengan kenyataan yang ada, bagaimana keadaan siswa di kelas, di rumah dan di masyarakat, apakah sesuai dengan kepribadiannya, inipun merupakan hasil, hanya saja hasil yang merupakan perubahan yang ada di rumah atau di masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *