Tinjauan Mutu Fisik Granul

Kecepatan Alir Granul dan Sudut Diam

Kecepatan alir merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap aliran granul yang masuk di mesin pencetak tablet sehingga tablet yang dihasilkan memiliki bobot yang seragam. Untuk menghasilkan tablet dengan bobot yang seragam, diperlukan suatu batas kecepatan alir minimum. Untuk itu dilakukan pengukuran kecepatan alir dan sudut diam granul. Kecepatan alir granul yang baik jika lebih besar dari 10 g/detik, dengan sudut diam antara 24 – 40° (Cartensen, 1977). Metode pengukuran sifat alir dan sudut diam dapat dilihat pada gambar 2.6.

Gambar 2.6 Metode Pengukuran Sifat Alir dan Sudut Diam
(Banker & Anderson, 1986)

Tabel II.1 Hubungan antara kecepatan alir dengan Sifat Aliran Granul
(Aulton,2002)

Kecepatan alir (g/dtk) Sifat Aliran Granul
>10 Bebas Mengalir
4-10 Mudah Mengalir
1,6-4 Kohesif
<1,6 Sangat Kohesif

Pengukuran waktu dimulai pada saat lubang corong dibuka sampai seluruhnya granul keluar dari corong. Satuan kecepatan alir adalah gram per detik. Pengukuran sudut diam dilakukan dengan mengukur tinggi serta jari-jari lingkaran atas kerucut (Cartensen, 1977). Semakin datar kerucut, artinya sudut kemiringan semakin kecil, maka sifat aliran serbuk makin baik. Untuk mendapatkan sifat alir yang baik, dilakukan penambahan lubrikan pada formulasi atau bisa juga dengan meniadakan partikel < 10 µm (Voigt,1984). Nilai sudut diam ≤ 30° umumnya menunjukkan granul bebas-mengalir, dan sudut diam ≥40° menandakan granul memiliki aliran yang buruk (Banker & Anderson, 1986).
Kecepatan alir = (Berat granul (gram))/(Waktu (detik))
Sudut diam yang kecil mempunyai struktur permukaan yang halus dan sifat kohesinya makin kecil sehingga kemampuan alirannya makin baik (Cartensen, 1977).
Sudut diam (tg α) = (Tinggi kerucut (cm))/(Jari-jari (cm))

Tabel II.2 Hubungan Sudut Diam dan Daya Alir (Aulton,2002)

Sudut Diam Daya Alir
40 Sangat Buruk

Moisture Content
Kandungan lengas (Residual Moisture Content) merupakan salah satu faktor yang sangat penting dan menentukan cocok tidaknya granul untuk proses selanjutnya, stabilitas kimia bahan serta kemungkinan kontaminasi kombinasi mikroba. Kandungan lengas yang terlalu rendah meningkatkan kemungkinan terjadinya capping (permukaan tablet pecah atau retak atau timbul garis pada tablet) sedangkan kandungan lengas yang terlalu tinggi meningkatkan kemungkinan terjadinya picking (adanya granul tablet yang menempel pada dinding die atau mesin cetak tablet). Persyaratan granul yang baik memiliki kandungan lengas 1-2% (Aulton,2002). Untuk itu diperlukan perhitungan kandungan lengas pada suatu sediaan tablet.
% MC = (Berat air dalam sampel)/(Berat Sampel kering) x 100 %
= (Berat sampel basah-Berat sampel kering)/(Berat Sampel kering) x 100
Distribusi Ukuran Granul
Penentuan distribusi ukuran partikel diperoleh dengan menggunakan alat sieve shaker, distribusi ukuran partikel untuk mengetahui jumlah fines yang berada dalam granul, fines adalah partikel-partikel yang mempunyai ukuran < mesh 100 (Martin, 1993), granul yang baik fines< 20 % (King, 1980). Jika jumlah fines sedikit maka akan mengurangi sudut diam dan jika jumlah fines besar maka maka akan meningkatkan sudut diam. Selain itu juga fines juga mempengerahui sifat alir dan keseragaman bobot tablet. Penentuan % Kompresibilitas Kompresibilitas dihitung dari bobot jenis nyata dan bobot jenis mampat, untuk mengetahui kemampuan granul mengatur diri dalam ruang cetak. Bobot jenis nyata adalah perbandingan massa terhadap volume dari sejumlah granul yang dituang bebas ke dalam suatu gelas ukur. Bobot jenis mampat adalah perbandingan massa terhadap volume setelah massa tersebut dimampatkan sampai volume tetap. Bobot jenis nyata mempunyai korelasi dengan bobot jenis mampat karena keduanya ditentukan dari bahan yang memiliki sifat-sifat yang sama, misalnya bentuk partikel, ukuran dan distribusi ukuran partikel. Pemampatan hanya menyebabkan struktur “packing” yang lebih tepat. % Kompresibilitas =(B.J.M-B.J.N)/(B.J.M)x 100 % Dengan : B.J.M = bobot jenis mampat setelah pemampatan B.J.N = bobot jenis nyata sebelum dimampatkan Bobot Jenis Nyata=(W2-W1)/100 g/ml Bobot Jenis Mampat=(W2-W1)/(Vol.Mampat) g/ml Dengan : W1 = berat gelas ukur sebelum di isi granul W2 = berat gelas ukur setelah di isi granul Dari nilai Bobot Jenis Mampat dan Bobot Jenis Nyata dapat diihat hubungan indeks kompresibilitas dan kemampuan alir seperti yang tertera pada tabel. Tabel II.3 Hubungan Indeks Kompresibilitas dan Kemampuan Alir (Aulton, 2002) % Kompresibilitas Kemampuan Alir 5-10 12-16 18-21 23-28 28-35 35-38 >40 Sangat baik
Baik
Cukup baik
Cukup
Jelek
Sangat jelek
Sangat jelek sekali

Uji Kompaktibilitas
Kemampuan serbuk membentuk massa kompak dengan pemberian tekanan, tergantung pada karaterisktik kompresibilitas serbuk tersebut. Kompresibilitas serbuk dapat segera diketahui dengan menggunakan penekan hidrolik. Serbuk yang dapat membentuk tablet yang keras tanpa menunjukkan kecenderungan “capping” dapat dianggap kompresibel.
Informasi mengenai sifat kompresi bahan murni sangat bermanfaat. Bahan-bahan yang akan dicetak menjadi tablet harus bersifat plastis, yaitu dapat mengalami deformasi yang permanen tetapi juga harus menunjukkan fragmentasi sampai derajat tertentu.

DAFTAR PUSTAKA
Agoes, Goeswin. 2008. Pengembangan Sediaan Farmasi. Edisi Revisi dan Perluasan, Bandung; Penerbit ITB
Anief, M., 2000. Ilmu Meracik Obat. Edisi Revisi. Cetakan ke 9. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, hal 168-169.
Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, EdisiKeempat. UI – Press: Jakarta, pp. 300, 607-608
Ansel, Howard C. Nicholas G. Popovich and Layd V. Allen Jr. 1995. Pharmaceutical Dosage Forms and Drug Diliverry Sistems. Six Edition, 194-202, Lea and Febiger, USA.
Arisandi Y, Andriani Y.2008. Khasiat Tanaman Obat. Pustaka Buku Murah, hal 251-52
Aulton, M., and Summers M. 2002. Tablet and Compaction in : Pharmaceutics The Science of Dosage Form Design. 2nd., Churchill Livingstone : Philadelphia,pp. 397-439
Banker, G. S., and Anderson N. R. 1986. Tablet in: Lachman L., Lieberman H. A., andKanig J.L. Eds. The Theory and Practice of Industrial Pharmacy. 3rd., Lea and Febiger : Philadelphia,pp. 293-343.
Bonte, F., 1994, Influence of asiatic acid, madecassic acid, and asiaticoside on human collagen I synthesis, Planta Medica, Vol. 60, 133-135.
Brinkhaus, B.; Lindner, M.; Schuppan, D.; Hahn, E.G. 2000. Chemical, pharmacological and clinical profile of the East Asian medicinal plant Centella asiatica. Phytomedicine, pp. 7, 427-448.
Brooks, G. F., Butel, J. S ., Morse, S. A., 2007. Mikrobiologi Kedokteran Jawetz, Melnick, dan Adelberg Edisi 23. Jakarta: EGC pp. 640
Cartensen, Jens T. 1977. Pharmaceutics of Solids and Solid Dosage Forms. John Wiley &Sons : New York,pp. 132-243.
Chatterjee TK, Chakraborty A, Pathak M. 1992. Effects of plant extract Centella asiatica L. on cold restraint stress ulcer in rats. Indian journal of experimental biology, pp. 30:889–891.
Cronquist, A., 1981, An Intergrated System of Classification of Flowering Plants, New York, Columbia University Press, 477.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Farmakope Herbal Indonesia. Edisi I. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia, Edisi IV. Departemen KesehatanRI : Jakarta.
Duke, 2003, Phytochemical and Ethnobotanical Databases, http:/www.ars grin.gov/duke, Diakses tanggal 10 Januari 2013.
Hutapea, JR. 1993. Inventaris Tanaman Obat Indonesia (II). Jakarta: Depkes RI.
Inamdar, P. K., Teola, R. D., Ghogare, A. B. and de Souza, N. J. 1996. Determination of biologically active constituents in Centella asiatica. Journal of Chromatography A 742: 127-130.
James, J. T. and Dubery, I. A. 2009. Pentacyclic triterpenoids from the medicinal herb, Centella asiatica (L.) Urban. Molecules 14: 3922-3941.
Kartnig, T., 1988, Clinical applications of Centella asiatica (L.) Urb. In : Craker, L.E. Simon, J.E., Eds., Herbs, spices, and medicinal plants : recent advances in botany, horticulture, and pharmacology, Vol. 3, Phoenix, AZ, Oryx Press, 145- 173.
King, Robert E. 1980. Tablets, Capsules, and Pills, in Osol A., Chase G. D., Gennaro A. R., Gibson M. R., Granberg C. B., Harvey S. C., King R. E., Martin A. N., Swinyard E. A., Zink G. L. Remington’s Pharmaceutical Sciences 16th Edition, Volume 2. Mack Publishing Company : Easton.
Koensoemardiyah. 2010. A to Z Minyak Atsiri – untuk Industri Makanan, Kosmetik, dan Aromaterapi. Yogyakarta: C.V ANDI OFFSET. Hal. 1.
Lachman, C.L., Lieberman, H.A., dan Kanig, J,L., 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi II. Diterjemahkan oleh Siti Suyatmi. Jakarta: Universitas Indonesia Press, pp. 160-161, 713-714.
Lieberman M.A, et. Al. 1989. Pharmaceutical Dosage Forms : Tablet. Second Edition, Revisied dan Expanded, Volume I, Marcel Dekker, Inc.
Loiseau, A. and Mercier, M. 2000. Centella asiatica and skin care. Cosmetics and Toiletries Magazine 115: 63-67.
Martin, A., 1993. Farmasi Fisik: Dasar – Dasar Kimia Fisik dalam Ilmu Farmasetik, Edisi ketiga, Penerbit Universitas Indonesia : Jakarta.
Peters, D., 1989, Medicated Lozenges, In : Lieberman. H. A., Lachman. L. And Schwart.I.B.Eds.,Pharmaceutical Dosage Form, Tablet, Vol 1,2 nd Ed Revisied And Expanded, Marcel Dekker. Inc, New York, pp :339-463.
Pramono S. 1992. Profil Kromatogram Ekstrak Herba Pegagan yang Berefek Antihipertensi. Warta Tumbuhan Obat Indonesia I, hal (2): 37-39.
Pramono S. D, Ajiastuti. 2004. Standarisasi Ekstrak Herba Pegagan (Centella asiatica L) Berdasarkan Kadar Asiaticosida Secara KLT-Desnsitometri. Majalah Farmasi Indonesia 15 (3), hal 118-123.
Qin, L. P., Ling, R. X., Zhang, W. D. et al. 1998. Essential oil from Centella asiatica and its antidepressant activity. Di Er Jun Yi Da Xue Xue Bao (Second Military Medical University) 19: 186-187.
Rahardja, Kirana. 2008. Obat Obat Penting. Edisi Keenam Cetakan Pertama. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
Robinson, T., 1991, Kandungan Organik Tumbuhan Tingkat Tinggi, 132-138, Penerbit ITB, Bandung.
Rowe, R.C., Sheskey, P.J., Weller, P.J. 2009.Handbook of Pharmaceutical Excipient, Sixth Edition. The Pharmaceutical Press and The American Pharmaceutical Association : London,pp. 581-585
Shin Etsu Chemical Company. 1997. Product Bulletin., Cellulose Division. Japan
Shin HS et al. Clinical trials of madecassol (Centella asiatica) on gastrointestinal ulcer patients. Korean journal of gastroenterology, 1982, 14:49–56
Siregar, CJP., Wikarsa, S. 2010. Teknologi Farmasi Sediaan Tablet : Dasar-dasar Praktis. Jakarta: EGC.
Sheth, B. B., Bandelin F, J., Shangraw r.,F., 1980, Compressed Tablet., in Lieberman M.A, et. Al. 1989. Pharmaceutical Dosage Forms : Tablet. Second Edition, Revisied dan Expanded, Volume I, Marcel Dekker, Inc., New York and Basel, 105-115.
Suntornsuk, L. and Anurukvorakun, O. 2005. Precision improvement for theanalysis of flavonoids in selected Thai plants by capillary zone electrophoresis. Electrophoresis 26: 648-660.
Voigh, R. 1971. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, oleh Dr..rer.nat. Soendani NoeronoSoewandhi., Apt (penterjemah) dan Prof. Dr. Moch. Samhoedi Reksohadiprodjo., Apt (Editor). Gajah Mada University press : Jogjakarta.
Wahyuningtyas Ika. 2010. Formulasi Sediaan Tablet Fast Disintegrating Antasida Dengan Primojel® Sebagai Bahan Penghancur Dan Manitol Sebagai Bahan Pengisi. Skripsi thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta .
Winarto, W.P., dan Surbakti, 2003, Khasiat dan Manfaat Pegagan Tanaman Penambah Daya Ingat, 1,5-9,39, Agromedia Pustaka, Jakarta.
Zainol, M. K. M. 2004. Determination of flavonoids in Centella asiatica (L.) Urban and their utilization in herbal noodles. Serdang, Malaysia: Universiti Putra Malaysia, MSc Thesis.
Zheng, C. J. and Qin, L.P. 2007. Chemical components of Centella asiatica and their bioactives. Journal of Chinese Integrative Medicine 5: 348-351.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *