Abstrak
Luka adalah suatu gangguan dalam struktur jaringan yang utuh, pada umumnya dihubungkan dengan hilangnya struktur jaringan. Proses penyembuhan luka dipengruhi oleh tiga faktor mekanisme. Ketiga mekanisme penyembuhan luka tersebut adalah kontraksi, epitelialisasi, dan deposisi jaringan ikat. Proses awal penyembuhan luka, fibroblas berpindah tempat, menghasilkan kolagen. Oksigen dalam jumlah yang cukup diperlukan untuk proliferasi fibroblas dan produksi kolagen. Terapi oksigen hiperbarik merupakan terapi dengan menggunakan oksigen bertekanan. Peran oksigen hiperbarik dalam penyembuhan luka adalah oksigenasi untuk luka hipoksik, peningkatan fibroblas dan produksi kolagen serta meningkatkan kemampuan leukosit. Kasus osteomielitis yang pernah ditangani di rumah Sakit Angkatan Laut Dr. Ramelan Memberikan Hasil yang baik.
Kata Kunci : luka, oksigen hiperbarik, proses penyembuhan

Pendahuluan
Luka adalah hilangnya kontiunitas dari struktur-struktur jaringan yang utuh dan pada umumnya disertai dengan hilangnya sebagian dari jaringn. (1) Sebagai tambahan, ulkus yang terjadi akibat tekanan (pressure ulcer) dan lebih dikenal sebagai decubitus ulcer atau bed sores bisa dipertimbangkan sebagai suatu luka. (2) Cidera atau kerusakan yang lebih dalam pada jaringan otot, sistem skeletal ataupun bagian-bagian yang lebih dalam dari suatu organ disebut sebagai luka komplikasi. (3)
Pada umumnya keadaan luka adalah hipoksia dan masalah luka yang tidak sembuh biasanya disebabkan oleh jaringan yang hipoksia. Dalam proses penyembuhan luka adanya oksigen sangat diperlukan, seperti dijelaskan pada penelitian tentang oksigen pada jaringan. (4) Beberapa jenis luka yang berhasil diterapi dengan oksigen hiperbarik adalah beberapa jenis ulkus (ulcers due to peripheral vascular insufficiency, venous stasis ulcers, decubitus ulcer) luka crush injury, luka yang tidak sembuh pada insisi bedah,kerusakan jaringan akibat suhu dingin Frotbite), dan luka gigitan binatang. (1)
Pada makalah ini akan dibahas mengenai manfaat terapi oksigen hiperbarik dalam mempercepat proses penyembuhan luka.
Tinjauan Pustaka
Proses penyembuhan luka
Jaringan yang rusak atau cedera harus diperbaiki, baik melalui regenerasi sal atau pembentukan jaringan parut. Tujuan dari kedua jenis perbaikan tersebut adalah untuk mengisi daerah yang rusak agar integritas struktural jaringan pulih kembali. Kedua proses diatas dikenal sebagai proses penyembuhan luka. (5) Lebih Lnjut dikatakan proses penyembuhan luka merupakan proses yang kompleks dan melibatkan interaksi berbagai jenis sel dan mediator-mediator biokimia. (1) Oleh karena itu proses penyembuhan luka tidak terbatas pada proses-proses regenerasi lokal tapi merupakan kondisi keseluruhan yang melibatkan faktor-faktor endogen seperti umur, nutrisi, pengobatan, status imunologis, kondisi metabolik dan sebagainya.
Pada umumnya proses penyembuhan luka terdiri atas tiga mekanisme, satu dari tiga mekanisme tersebut dapat lebih nominan. Adapun mekanisme proses penyembuhan luka tersebut adalah kontraksi, epitelialisasi dan deposisi jaringan ikat. Sebagai contoh, kontraksi merupakan mekanisme penyembuhan luka yang dominan pada kasus-kasus amputasi. Epitelialisasi lebih dominan pada penyembuhan abrasi, dan deposisi jarangan ikat lebih dominan pada penutupan luka laserasi dengan jahitan. (6)
Tahap-tahap penyambuhan luka terdiri dari fase inflamasi atau eksudasi untuk melepaskan jaringan yang rusak dan membersihkan luka, fase proliferasi untuk perkembangan jaringan granulasi dan fase diferensiasi atau regenerasi untuk maturasi, pembentukan parut dan epitelialisasi. Secara praktis fase tersebut diatas dikenal sebagai fase pembersihan, fase granulasi dan epitelialisasi. (3) Lebih lengkap Hall (6)menyebutkan tahapan proses penyembuhan luka adalah perdarahan, inflamasi proliferasi dan remodeling.
Secara garis besar, dikenal dua fase penyembuhan luka yaitu penyembuhan luka secar apremier dan sekunder. Suatu jaringan dikatakan mengalami penyembuhan luka secara intensi primer apabila proses penyembuhan berlangsung cepat dan hasilnya baik. Penyembuhan secara primer ini terjadi pada luka yang bersih, luka insisi dengan ujung aposisi yang baik dan umumnya terjadi pada insisi bedah. (7)
Proses penyembuhan luka secara intensi primer lebih lanjut dapat dijelaskan sebagai berikut:(7,8) Sesaat setelah terjadi luka gumpalan darah dan debris mengisi celah jaringan yang cedera. Inflasi awal terjadi setelah dua sampai tiga jam yang ditandai dengan hyperemia ringan dan adanya sedikit polymorps. Pada hari kedua sampai ketiga aktivitas makrofag menghilangkan clot dan terjadi aktivitas fibroblast. Pada hari kesepuluh sampai keempat belas scab hilang dan epitel telah terbentuk sempurna dan terjadi penyatuan jaringan fibrous pada tepi luka namun pada saat ini luka masih lemah.
Beberapa minggu kemudian jaringan bekas luka masih sedikit hiperemis, penyatuan jaringan fibrous baik tapi belum mencapai kekuatan yang penuh. Devaskularisasi, remodeling kolagen oleh aktivitas enzim terjadi sesudah beberapa bulan hingga beberapa tahun. Pada periode tersebut bekas luka mengecil dan sudah menyatu dengan jaringan sekitarnya. Jika penyembuhan luka berjalan lambat dan disertai pembentukan jaringan parut, proses ini dikatakan mengalami penyembuhan secara sekunder. (5) Penyembuhan jenis ini terjadi pada luka yang terbuka, umumnya jika terdapt jaringan yang hilang, nekrosis atau infeksi.
Kekuatan luka akan mencapai dua puluh persen kekuatan jaringan normal dalam tiga minggu dan kemudian mencapai kekuatan lebih lagi tetapi tidak pernah mencapai lebih dari tujuh puluh persen kekuatan normal. (8)
Oksigen memiliki dua fungsi besar dalam metabolisme seluler, hal yang paling penting yaitu sebagai transfer elektron pada sistem oksidasi yang mana bertanggung jawab sekitar sembilan puluh persen dalam konsumsi oksigen secara keseluruhan. (9) Oksigen diperlukan oleh mitokondria untuk fosforilasi oksidatif dan pembentukan ATP dimana lebih dari sembilan puluh persen dari ATP yang dihasilkan ini dipergunakan untuk metabolisme seluler. (5)
Pada awal penyembuhan luka, fibroblas mulai bermigrasi dan menghasilkan kolagen yang merupakan matrik penting dalam prose penyembuhan luka sebagai sumber energi pada proses perbaikan, juga diperlukan dalam metabolisme dan proses pemeliharaan jaringan.

Oksigen Hiperbarik
Ketika oksigen dihirup pada konsentransi yang lebih tinggi dari yang ditemukan dalam atosfir, udara pada keadaan ini pertimbangkan sebagai obat. Berdasarkan definisi ini oksigen hiperbarik kemudian dipastikan sebagai obat dan dapat dipergunakan dalam suatu terapi. (1)
Terapi oksige hiperbarik merupakan bentuk pengobatan, penderita harus berada dalam ruangan bertekanan dan bernafas dengan oksigen murni (100%) pada tekanan udara lebih besar daripada udara atmosfir normal, yaitu sebesar 1 atm (760 mmHg). Keadaan ini dapat dialami oleh seseorang pada waktu menyelam atau berada dalam ruangan udara bertekanan tinggi (hyperbaric chamber) yaitu suatu ruang kedap udara terbuat dari perangkat keras yang mampu diberikan tekanan lebih besar dari 1 atm (ruang kompresi) beserta sumber oksigen dan sistem penyalurannya ke dalam ruang rekompresi tersebut.
Dua efek penting yang mendasar pada terapi oksigen hiperbarik adalah: (11) Efek mekanik meningkatnya tekanan lingkungan atau ambient yang memberikan manfaat penurunan volume gelembung gas atau udara seperti pada terapi penderita dekompresi akibat kecelakaan kerja penyelaman dan gas emboli yang terjadi pada beberapa tindakan medis rumah sakit. Efek peningkatan tekanan parsial oksigen dalam darah dan jaringan yang memberikan manfaat terapeutik: bakteriostatik pada infeksi kuman anaerob, detoksikasi pada keracunan karbon monoksida, sianida dan hidrogensulfida, reoksigenasi pada kasus iskemia akut, crush injury, compartment syndrome maupun kasus iskemia kronis, luka yang tidak sembuh, nekrosis radiasi, skin graft preparation dan luka bakar.
Pembahasan
Terapi oksigen hiperbarik untuk pertama kalinya digunakan pada penyakit dekompresi (DeCompression Ilnes), yaitu suatu penyakit yang dialami oleh penyelam dan pekerja tambang bawah tanah akibat penurunan tekanan saat naik ke permukaan secara mendadak. Dari berbagai penelitian terungkap bahwa oksigen hiperbarik mempunyai manfaat lebih, tidak terbatas pada kasus-kasus penyelaman saja. Satu contoh terapi oksigen hiperbarik yang berhasil, digunakan dalam mempercepat proses penyembuhan luka. Terapi oksigen hiperbarik sebenarnya merupakan terapi penunjang pada proses penyembuhan luka, Sedangkan perawatan utamanya sendiri adalah debridement dan penjahitan jika diperlukan.
Namun demikian oksigen hiperbarik dapat mempercepat proses penyembuhan luka, sehingga jaringan yang hipoksia memperlihatkan hasil yang baik pada terapi oksigen hiperbarik. (1) Yusman (13) menyatakan bahwa luka yang sulit sembuh dan luka bakar merupakan indikasi yang tepat untuk rujukan terapi oksigen hiperbarik. Hal ini ditegaskan dalam hasil konfrensi kedokteran hiperbarik tahun 1991 di Ancona Italia, bahwa luka yanga sulit sembuh (delayed wound healing) termasuk dalam kelompok Accepted chronic indication untuk terapi oksigen hiperbarik. (11)
Fisher pada tahun 1969 untuk pertama kali menggunakan oksigen hiperbarik pada 32 pasiennya yang mengalami ulser pada kaki. Penelitian serupa dilakukan pada tahun 1975 pada pasien lainnya. Oksigen dialirkan dan dipertahankan selama 41 menit, terapi dilakukan dua kali sehari dan setiap sesi dilakukan sedikitnya 2-3 jam. Hasil penelitiannya menunjukkan banyak ulkus yang sembuh dengan baik, walau demikian iksogen hiprbarik gagal pada kasus-kasus iskemia hebat.
Ignacio et.al pada 18 pasien denga jenis ulcer yang berbeda dan hasilnya cukup memuaskan. Heng memberikan terapi oksigen hiperbarik secara topikal pada 6 pasien denga 27 ulser (5 dari 6 pasien Penyembuhan terjadi pada hari 6 sampai dengan 21 hari, sedangkan 10 ulser tanpa terapi oksigen hiperbarik tidak terjadi proses penyembuhan pada periode waktu yang sama. (1) Terapi oksigen hiperbarikselain dapat mempercepat proses penyembuhan pada luka diketahui juga dapat mempercepat pertumbuhan jaringan, seperti kasus yang dilakoprkan di RSAL Mintohardjo Jakarta. Kasus transplantasi jari pasien sesaat setelah operasi, pasien terapi denhanoksigen hiperbarik ternyata penyembuhan berjalan lebih cepat dan sel tumbuh lebih cepat. (13) Berikut ini diperlihatkan kasus yang pernah diterapi dengan oksigen hiperbarik di RSAL Dr. Ramelan Surabaya.
Tabel 1.
Gambaran prosentase lama penyembuhan pada osteomielitis rahang dengan pemakaian terapi penunjang oksigen hiperbarik
————————————————————————————————————-
Lama Penyembuhan Jumlah kasus prosentase
————————————————————————————————————-
5 Hari 1 10%
————————————————————————————————————-
10 Hari 3 30%
————————————————————————————————————–
20 Hari 4 40%
————————————————————————————————————–
30 Hari 1 10%
—————————————————————————————————————
40 Hari 1 10%
—————————————————————————————————————-
Jumlah 10 100%
—————————————————————————————————————-
Tabel 2.
Gambaran prosentase lama penyembuhan osteomielitis rahang tanpa terapi penunjang oksigen hiperbarik. (14)
———————————————————————————
Lama Penyembuhan Jumlah         Prosentase
———————————————————————————
60 Hari                       1              33,3%
———————————————————————————-
50 Hari                      2               66,7%
———————————————————————————-
Jumlah                      3               100%
———————————————————————————–
Dari dua tabel diatas dapat dilihat bahwa proses penyembuhan berlangsung lebih cepat pada kasus osteomielitis rahang dengan terapi penunjang oksigen hiperbarik.
Secara garis besar pemakaian dan mekanisme oksigen hiperbarik dalam proses penyembuhan luka dapat dijelaskan sebagai berikut: Hipoksia pada luka dapat dikoreksi dengan terapi oksigen yang bervariasi dari pemakaianintalasi oksigen 40% pada tekanan udara bebas hingga oksigen 100% pada tekanan 2,5 Tekanan Atmosfir Absolut (ATA). Tekanan yang tinggi diperlukan untuk oksigenasi di pusat luka kronis yang hipoksia. Terapi oksigen hiperbarik pada tekanan 2 ATA memperlihatkan terjadinya peningkatan oksigenasi jaringan yang mengalami hipoksia. Koreksi secara intermiten pada luka yang hipoksia dengan terapi oksigen dapat meningkatkan replikasi fibroblas dan produksi kolagen. Meningkatnya tekanan oksigen pada luka dapat meningkatkan aktifitas leukosit untuk membunuh bakteri patogenik. (1)
Kesimpulan
Oksigen diperlukan untuk mempertahankan integritas sel, fungsi metabolisme sel dan perbaikan pada jaringan yang luka. Oksigen tidak hanya diperlukan sebagai energi pada proses metabolisme tapi juga sangat diperlukan oleh sel PMN, proliferasi fibroblast, dan deosisi kolagen. Pada proses penyembuhan luka suplai oksigen yang cukup sangat diperlukan untuk sintesis kolagen dan perbaikan jaringan.
Terapi oksigen hiperbarik sebagai terapi penunjang pada penyembuhan luka sangat membantu dalam mempercepat proses penyembuhan luka. Hal ini terlihat dari jaringan yang hipoksia memperlihatkan respon yang baik pada terapi oksigen hiperbarik. Penggunaan terapi oksigen hiperbarik didasarkan pada mekanisme terapi tersebut yang merangsang terjadinya perbaikan jaringan dengan cara peningkatan tekanan oksigen, mekanisme kerja leukosit, hiperokdigenasi, neovaskularisasi, hiperoksia dan aktivitas osteoklas.