Teori paritas daya beli menyatakan bahwa kurs antar mata uang sama dengan nisbah tingkat harga masing-masing negara pemiliknya; tingkat harga ini dihitung berdasarkan harga uang dari suatu komoditi acuan. Purchasing Power Parity sama artinya dengan pernyataan bahwasannya daya beli suatu mata uang sama besarnya di setiap negara. Selain PPP absolut, teori PPP masih memiliki versi yang lain, yakni Purchasing Power Parity relatif yang memprediksikan bahwa perubahan persentase kurs sama dengan tingkat inflasi nasional.

Landasan utama teori Purchasing Power Parity adalah dalil satu harga (law of one price). Dalil ini menyatakan apabila perdagangan benar-benar bebas dan tidak ada hambatan apapun terhadapnya, maka suatu barang pasti dijual di bagian manapun dari dunia ini dengan harga yang sama. Namun para pendukung teori PPP sering menegaskan bahwa kesahihan teori PPP tidak ditentukan oleh keberlakuan dalil satu harga atas setiap komoditi.

Secarateoritis dinyatakan bahwa tingkat harga yang dibayar oleh konsumen untuk suatu produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan dan diperoleh dari mekanisme penawaran dan permintaan. Penawaran adalah jumlah barang atau jasa yang dihasilkan produsen untuk dijual. Keterkaitan antara harga dan barang atau jasa yang ditawarkan dengan asumsi bahwa kondisi lain berada dalam kondisi konstan dijabarkan dalam kurva penawaran. Sedangkan permintaan adalah jumlah barang atu jasa yang ingin dan mapu untuk dibeli oleh konsumen. Hubungan harga dan jumlah barang atau jasa yang diminta oleh konsumen dilukiskan dalam kurva permintaan, garis singgung penawaran dan permintaan menghasilkan harga jual bagi produsen dan (nilai beli) bagi konsumen.

Teori perilaku dan permintaan konsumen

Pada garis besar tiap perekonomian terdiri 3 kelompok subjek ekoomi yaitu konsumen , produsen dan pemilik. Faktor produksi setiap konsumen harus menentukan bagaimana cara mengalokasikan uang miliknya terhadap barang dan jasa yang ada dipasar, dan ditunjukkan dalam permintaan pasar.

Perilaku konsumen menurut  James F Angel[1] adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mengkonsumsi dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang melalui dan menyusul tindakan ini. Jika suatu usaha memehami  benar tentang bagaimana konsumen memberi jawaban tentang ciri produk, harga, saluran pemasaran dan informasi maka pelaku usaha tersebut akan mendapat keuntungan yang lebih banyak dari pesaingnya.

Tabel 2.1

Model Perilaku Pembelian Kotler

Rangsangan dari luar Pembeli Keputusan Pembelian
Pemasaran Lingkungan Karakter Pembeli Proses keputusan pembeli
Produk

Price

Promotion

Place

Perekonomian

Teknologi

Politik

Budaya

Budaya

Sosial

Pribadi

Kejiwaan

  • Pengenalan masalah
  • Pencarian Informasi
  • Evaluasi
  • Keputusan dan perilaku setelah membeli
  • Memilih produk
  • Memilih Merk
  • Memilih Penjual
  • Penentuan harga
  • Penentuan Jumlah Pembelian

 Sumber : Kotler

Pembeli sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi pada saat ini dan yang akan datang, seperti permintaan modal apalagi dalam situasi resesi ekonomi. Orpha Jane(1997:560)[2] menyatakan seorang konsumen mengambil keputusan didalam proses pembelian yang dilandasi oleh pengaruh eksternal . Menurut Engel (1995:4) perilaku konsumen (Consumer Behavior) di definiskan sebagai berikut :

            ”Consumer behavior as those activity directly involved in obtaining , consuming and disposing of product and service, including the decision process that precede and follow these action”

Menurut  Wells (1996:4)[3] consumer behavior is the study  of consumer as they exchange something of value for a product of service that satisfied their need.

Harga dapat diartikan sebagai suatu ketetapan dari UKM terhadap sesuatu yang dihasilkan dengan mempertimbangkan berbagai biaya baik faktor input . Harga juga dapat diartikan  sebagai satuan nilai yang dinyatakan dalam satuan uang, harga merupakan salah satu unsur yang paling penting dan turun menentukan keputusan konsumen membeli.   Pentingnya harga bergantung pada sifat pembeli beberapa pelanggan yang lebih menyukai faktor lain seperti kemudahan akan pertimbangan harga yang lebih tinggi .

Penetapan harga secara efektif dalam arti mengandung keunggulan kompetitif bisa dicapai, jika UKM mampu menetapkan harga produksi secara kompetitif terhadap harga produksi pesaing. Dalam situasi moneter yang semakin sulit , penurunan daya beli konsumen menyebabkan konsumen semakin peka terhadap harga.

[1] James F Angel :Consumer behavior , Sixth Edition , Dryden Press, Chicago

[2] Orpha Jane : Pendekatan Untuk Memahami Consumer Behavior Dalam Melakukan Pembelian, Jurnal ISIP,No 19, Maret, ISSN 0853-1080, Kilat Jaya, Bandung

[3] Wells : Consumer behavior ,John Willy  dan Sons , inc, Newyork,1996, hlm 5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *