BAB II




TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Televisi

Televisi merupakan paduan audio dari segi penyiarannya ( broadcast) dan video dari segi gambar bergeraknya. Sejak ditemukannya televisi untuk pertama kalinya orang dapat mengetahui dari dekat sebuah tampilan gambar yang bergerak dengan disertai suara yang dibuat oleh orang lain disuatu tempat. Mulai saat itu manusiapun berlomba ingin menampilkan segala macam sesuatu dengan tujuan agar dilihat oleh orang lain melalui media televisi (Effendy,1984:24).

Seiring perkembangannya, televisi akhirnya menjadi salah satu unsur penting dalam dunia komunikasi dan informasi, karena televisi dapat menghubungkan seorang komunikator dengan jutaan komunikan diseluruh dunia. Sebagai sarana informasi, televisi merupakan sarana yang paling diminati, karena selain dapat menghasilka gambar dan suara sekaligus juga dapat menghadirkan informasi tentang suatu kejadian di tempat dan waktu yang bersamaan. Selain itu televisi juga menjadi sarana propaganda yang ampuh, seperti yang diungkapkan oleh Martin Esslin “Tak ada satu faktor dalam kehidupan kita abad ini  tidak juga sistem pendidikan, agama, ilmu pengetahuan, atau juga senidapat menyebar dan sekaligus berpengaruh karena diterima secara total oleh semua anggota masyarakat seperti yang dilakukan oleh televisi“ ( Esslin, 1982 : 54).

2.2 Format Acara Televisi

Format acara televisi adalah sebuah perencanaan dasar dari suatu konsep acara televisi yang akan menjadi landasan kreatifitas dan desain produksi yang akan terbagi dalam berbagai kriteria utama yang disesuaikan dengan tujuan dan target pemirsa acara tersebut ( Naratama, 2004 : 62 ) Format acara televisi dibedakan menjadi 3, yakni :

2.2.1   Fiksi (Drama)

Sebuah format acara televisi yang diproduksi dan diciptakan melalui proses imajinatif kreatif dari kisah-kisah drama atau fiksi  yang direkayasa  dan dikreasi ulang. Format yang digunakan merupakan interpretasi kisah  kehidupan yang diwujudkan dalam suatu runtutan cerita dalam sejumlah  adegan. Adegan-adegan tersebutakan menggabungkan antara realitas  kenyataan hidup dengan fiksi atau imajinasi khayalan para kreatornya. Sebagai contoh, antara  lain : drama percintaan, tragedi, horor, komedi, legenda, aksi, dan sebagainya.

2.2.2 Nonfiksi

Sebuah format acara televisi yang diproduksi dan dicipta melalui pengolahan imajinatif kreatif dari realitas kehidupan sehari-hari tanpa harus  menginterpretasi ulang dan tanpa harus menjadi dunia khayalan. Format  nonfiksi  bukan  merupakan  runtutan cerita fiksi dari setiap pelakunya. Untuk  itu, format-format program acara nonfiksi merupakan sebuah runtutan  pertunjukan  kreatif  yang  mengutamakan  unsur  hiburan yang dipenuhi  dengan  aksi, gaya, dan musik. Contoh  :  talkshow,  konser musik, variety show, dll.

2.2.3 Berita Dan Olahraga

Sebuah format acara televisi yang diproduksi berdasarkan informasi  dan fakta atas kejadian dan peristiwa yang berlangsung pada kehidupan  sehari-hari. Format ini memerlukan nilai-nilai faktual dan aktual  yang  disajikan dengan ketepatan dan kecepatan waktu dimana dibutuhkan sifat liputan yang independent. Terbagi menjadi 3, yakni hard news, soft news, dan feature news.

2.3  Program Acara Televisi

Acara televisi atau program televisi merupakan acara – acara yang  ditayangkan oleh stasiun televisi. Sebelum membentuk sebuah program acara, harus menentukan sebuah format acara televisi terlebih dahulu. Agar dapat terbentuk sebuah program acara yang berkualitas dan dapat diterima di hati pemirsa.

Dari format tersebut, didapat berbagai macam jenis program televisi. Berbagai jenis program ini dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar berdasarkan jenisnya, yakni program informasi (berita) dan program hiburan (entertainment). Selanjutnya, program informasi dibagi lagi menjadi dua jenis. Yakni berita keras (hard news), yang merupakan laporan berita terkini yang harus segera  disiarkan dan berita lunak  (soft news), yang merupakan kombinasi dari fakta, gosib, dan opini. Sedangkan program hiburan terbagi atas  tiga kelompok besar, yakni musik, drama permainan (game show), dan pertunjukan.

2.3.1. Program  informasi 

Segala jenis siaran yang tujuannya untuk memberikan tambahan  pengetahuan (informasi) kepada khalayak audience. Program informasi tidak  harus program berita dimana presenter membacakan berita, tapi juga termasuk  di dalamnya acara talkshow (perbincangan). Program ini dibagi 2, yakni barita keras (hard news) dan berita lunak (soft news).

  1. Berita keras (Hard News), segala informasi penting dan atau daya tarik yang harus segera disiarkan oleh media penyiaran karena sifatnya yang harus segera ditayangkan agar dapat diketahui khalayak audience secepatnya. Dalam  hal ini berita keras dibagi kedalam beberapa bentuk berita, yakni, straigt news, feature, dan infotainment.
  2. Berita lunak (Soft News), segala informasi yang penting dan menarik yang disampaikan secara mendalam, namun tidak bersifat harus segera ditayangkan. Program yang masuk dalam kategori berita lunak, antara lain : current affair, magazine, dokumenter, dan talk show.

2.3.2 Program Hiburan

Segala bentuk siaran yang bertujuan untuk menghibur audien dalam bentuk musik, lagu, cerita, dan permainan. Yang termasuk dalam kategori  hiburan adalah drama, permainan (game), musik, dan pertunjukan.

  1. Drama, pertunjukkan yang menyajikan cerita mengenai kehidupan atau karakter seseorang atau beberapa orang yang diperankan oleh pemain (artis) yang melibatkan konflik dan emosi.
  2. Permainan, merupakan suatu bentuk program yang melibatkan sejumlah orang baik secara individu ataupun kelompok (tim) yang saling bersaing mendapatkan sesuatu. Program permainan dibedakan menjadi 3, yakni Quiz Show, Ketangkasan, dan reality show.
  3. Musik, dibedakan menjadi dua, yakni out door dan in door. Program musik di televisi sangat ditentukan dengan kemampuan artis dalam menarik audien. Tidak saja dari segi suara tapi juga dalam mengemas penampilan agar menjadi lebih menarik.
  4. Pertunjukkan, program yang menampilkan kemampuan (performance) seseorang atau beberapa orang pada suatu lokasi, baik dalam studio maupun luar video ( Morissan, 2008 : 207 ). Pengaturan penayangan program televisi di sebuah stasiun televisi diatur oleh bagian pemrograman siaran atau bagian perencanaan siaran. Pada umumnya, pihak perencanaan siaran mengatur jadwal penayangan satu program televisi berdasarkan perkiraan kecenderungan menonton peminat program tersebut. Misalnya, pengaturan jadwal tayang siaran berita di pagi hari disesuaikan dengan kecenderungan peminat penonton siaran berita.

2.4 Format Hasil Produksi

Di dalam produksi sebuah program acara televisi dapat dibedakan menjadi dua bentuk hasil produksi, yaitu :

2.4.1 Program acara tidak langsung

Sebuah program acara yang disiarkan secara tidak langsung. Sehingga  program acara tersebut kejadiannya sudah dilakukan terlebih dahulu, baru  kemudian dilakukan proses penyempurnaan baik sistem audio melalui mixing  atau dubbing dan system video melalui proses editing, titling, chroma key, pemberian effect dan sebagainya. Di dalam TV Production hal ini dikenal  dengan istilah Post Production. Karena semua hasil produksi sudah dalam  bentuk jadi maka bila hendak menyiarkan atau menyajikannya kepada  pemirsa,  cukup dengan cara memutar rekaman dari VHS, mini DV, hardisk, ataupun  media penyimpanan yang lainnya. Proses produksi acara tidak langsung lebih mudah karena bila ada kesalahan bisa diulang dan diralat. Sedangkan hasil  produksi bisa di evaluasi dan diperbaiki serta dipoles terlebih dahulu sebelum ditayangkan di televisi.

2.4.2 Program acara siaran langsung

Sebuah program acara yang disiarkan secara langsung atau live kepada  pemirsa. Siaran lansung dapat dibedakan dalam dua kategori besar yaitu  siaran  langsung dari studio atau di arena stasiun televisi itu sendiri dan siaran langsung  yang berasal dari luar area stasiun televisi tersebut, baik di dalam maupun diluar kota.

Dalam pengaturan penayangan program televisi di sebuah stasiun televisi biasanya diatur oleh bagian programming atau bagian perencanaan siaran. Programming sendiri dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan atau pekerjaan menyusun program–program secara sistematis dan terjadwal untuk  terselenggaranya kegiatan siaran baik radio maupun televisi. Penyusunan  program dapat dilakukan berdasarkan pola harian, mingguan, bulanan, bahkan  tahunan. Sehingga istilah programming menurut Effendy adalah Pendistribusian waktu siaran atau penataan acara siaran. Pada umumnya, pihak perencanaan siaran mengatur jadwal penayangan satu program televisi berdasarkan perkiraan kecendrungan menonton peminat  program tersebut. Misalnya, pengaturan jadwal tayang siaran berita di pagi hari disesuaikan dengan kecendrungan peminat penonton siaran berita ( Suprapto , 2006 : 98 ).

2.5 Feature

Feature adalah suatu program yang membahas suatu pokok bahasan, satu tema, diungkapkan lewat berbagai pandangan yang saling melengkapi, mengurangi, menyoroti secara kritis, dan disajikan dengan berbagai format

( Wibowo, 2007 : 186 ).

Feature merupakan program yang berisi segmen-segmen yang dikemas  dalam bentuk penyajian yang bervariasi. Sebuah program berbentuk features  biasanya membahas suatu topik yang menarik dengan menggunakan beberapa bentuk penyajian atau pendekatan program.

News Feature adalah sisi lain dari suatu berita straight news yang lebih menekankan pada sisi human interest dari suatu berita. Feature dibedakan menjadi 2 jenis, yakni :

  1. Feature Berita, lebih banyak mengandung unsur berita berhubungan dengan peristiwa aktual yang menarik perhatian khalayak. Biasanya merupakan pengembangan dari sebuah straight news. (Contoh tayangan : Program Investigasi, Delik, Sigi 30 menit, dll).
  2. Feature Artikel, lebih cenderung segi sastra. Biasanya dikembangkan dari sebuah berita yang tidak aktual lagi atau berkurangnya aktualitasnya. Misalnya, tulisan mengenai suatu keadaan atau kejadian, seseorang suatu hal,suatu  pemikiran, tentang ilmu pengetahuan, dan lain-lain yang dikemukakan sebagai  laporan (informasi) yang dikemas secara ringan dan menghibur. (contoh tayangan : Program Jakarta Underground (atmosphere) Jejak Malam, Fenomena dll).

Secara umum, berdasarkan tipenya, feature memiliki beberapa jenis, yakni:

  1. Feature Human Interest, langsung menyentuh keharuan, kegembiraan, kejengkelan, simpati). Misalnya, cerita tentang penjaga mayat di rumah sakit, lika-liku kehidupan seorang guru atau dokter di daerah terpencil, atau kisah seorang menimbulkan kejengkelan (Contoh tayangannya : Ngalam indie, dll).
  2. Feature Pribadi-Pribadi Menarik Atau Feature Biografi Misalnya riwayat hidup seorang tokoh yang meninggal, tentang seorang yang berprestasi atau seorang yang memiliki keunikan sehingga bernilai berita tinggi (Contoh tayangannya : Lipsus ( liputan khususb), dll).
  3. Feature Perjalanan, misalnya kunjungan ke tempat bersejarah di dalam ataupun di luar negri, atau ke tempat yang jarang dikunjungi orang. Dalam feature jenis ini, biasanya unsur subjektifitas menonjol, karena biasanya penulisannya yang terlibat langsung dalam peristiwa / perjalanan itu mempergunakan “Aku”, “Saya”, atau “Kami” (sudut pandang ‘‘Point Of View’ orang pertama) (Contoh tayangannya : Jalan-jalan, dll).
  4. Feature Sejarah, yaitu tulisan tentang peristiwa masa lalu, misalnya peristiwa proklamasi kemerdekaan, atau peristiwa keagamaan, dengan memunculkan “tafsir baru” sehingga tetap terasa aktual untuk masa kini. (Contoh tayangannya : Lipsus (liputan khusus), jalan–jalan, dll).
  5. 5. Feature Petunjuk Praktis (TIPS) Yaitu mengajar keahlian, how to do it. Misalnya tentang memasak, merangkai bunga,membangun rumah, dan sebagainya (contoh tayangan : Pengajian ahad pagi annur bululawang, dll).

Dalam pembahasan ini, fokus interest nya adalah feature human interest yang masuk dalam jenis feature artikel. Maka, dalam feature ini akan terdiri dari wawancara, vox pop, puisi, musik, nyanyian, sandiwara pendek atau fragmen.

  1. Wawancara : kegiatan yang menjadi tanggung jawab reporter terhadap narasumber dengan tujuan untuk mendapatkan penjelasan atau keterangan dari narasumber tersebut.
  2. Voxpop : Merupakan kependekan dari vox populi, dalam bahasa latin berarti  suara dari rakyat. Vox Pop adalah cerminan pendapat masyarakat terhadap suatu berita  tertentu yang diambil dalam satu waktu dan tempat yang sama.
  3. Puisi : Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama. Misalnya, dengan kiasan, dengan citra-citra, dan disusun secara artistik (misalnya selaras, simetris, pemilihan kata-katanya tepat, dan sebagainya), dan bahasanya penuh perasaan, serta berirama seperti musik (pergantian bunyi kata-katanya berturu-turut secara teratur) ( Morissan, 2004 : 42).
  4. Musik : Lagu-lagu atau musik juga menjadi kebutuhan dalam program siaran yang nantinya dapat digunakan sebagai musik latar (backsound).
  5. Fragmen : Reka adegan dari sebuah informasi yang didapat dari narasumber yang diperankan oleh model ( Wibowo, 2007 : 186 ).

2.6 Definisi Mekanisme Produksi Acara Televisi

Bekerja di dunia penyiaran tidak hanya cukup sekedar menguasai teori tetapi juga harus mampu mengaplikasikannya. Sebaliknya kemampuan praktek ataupun pengalaman tidak cukup apabila tidak dilandasi oleh teori-teori yang  relevan. Perpaduan antara praktek dan teori bidang keahlian komunikasi  penyiaran khususnya didalam memproduksi dan menyiarkan mata acara akan meningkatkan  kreativitas  bagi seseorang yang bekerja di dunia penyiaran untuk  menciptakan dan menulis program siaran yang menarik khalayak (Tommy Suprapto, 2006 : 56).

Merencanakan sebuah produksi acara televisi memerlukan waktu yang cukup lama dan berliku-liku karena perlu direncanakan dengan cermat dan baik dari segi isi, format, maupun pelaksanaan produksinya. Berfikir tentang produksi  televisi bagi pengelola profesional berarti mengembangkan gagasan bagaimana  materi produksinya dapat menjadi suatu sajian yang bernilai dan memiliki makna.

Produksi yang bernilai atau berbobot hanya dapat diciptakan oleh seorang produser yang memiliki visi. Visi tumbuh dari suatu acuan mendalam  yang bermuara pada orientasi, ideologi, religi dan pemikiran-pemikiran kritis  atas sarana yang dipakai untuk menampilkan materi produksi (Wibowo, 1997:7).

Hasil produksi yang memiliki visi akan memperlihatkan kekhasan dan keunikan dari produksi itu. Untuk menghasilkan  suatu  sajian yang bernilai dan  bermakna, ada lima hal yang sangat penting didalam merencanakan, memproduksi, dan menyiarkan suatu acara televisi. Lima hal tersebut yaitu : materi produksi, sarana produksi, biaya produksi, organisasi pelaksanaan produksi dan tahap pelaksanaan produksi.

2.6.1   Materi Produksi

Materi produksi dapat berupa apa saja. Kejadian pengalaman,hasil  karya, benda, binatang, manusia, merupakan bahan yang dapat diolah menjadi  produksi yang bermutu. Tetapi semua itu masih harus dilengkapi dengan latar belakang yang jelas, untuk itu perlu melakukan riset yang mendalam agar semua data yang diperlukan lengkap sehingga mudah diolah menjadi program yang baik

Dari hasil suatu riset suatu materi produksi muncul gagasan atau ide  yang kemudian akan diubah menjadi tema untuk program dokumenter atau  simetron (film tv) atau mungkin langsung menjadi konsep program, seperti  gebyar dan gelar musik, tari atau program hiburan lain. Tema atau konsep program kemudian diwujudkan menjadi treatment. Treatment adalah langkah  pelaksanaan  perwujudan  gagasan menjadi program (Wibowo, 1997: 9).

Treatment untuk setiap format acara berbeda-beda. Dari treatmet akan  diciptakan naskah (script) atau langsung dilaksanakan produksi pakat suatu acara. Muatan setiap suatu acara sebetulnya sudah tampak ketika gagasan  diubah menjadi treatment. Dari sinilah penyempurnaan konsep program dapat  dilaksanakan sehingga menghasilkan naskah atau program yang baik.

2.6.2   Sarana Produksi (equipment)

Sarana produksi menjadi sarana penunjang terwujudnya ide menjadi hasil produksi. Tentu saja diperlukan kualitas alat standar yang mampu menghasilkan gambar dan suara  secara bagus. Ada tiga pokok unit peralatan  yang diperlukan sebagai alat produksi, yaitu  :  unit peralatan,  perekam  gambar,  unit peralatan perekam suara dan unit peralatan pencahayaan. Kualitas standar dari ketiga unit peralatan ini menjadi sebuah pertimbangan penting dalam perencanaan produksi. Hal ini berpengaruh pada penentuan jumlah kerabat (crew) dan perrencanaan anggaran produksi (production budget).

2.6.3 Biaya Produksi

Merencanakan biaya untuk setiap produksi acara tidaklah mudah. Hal  ini perlu dipikirkan sampai sejauh mana produksi itu kiranya akan memperoleh dukungan financial dari suatu pusat produksi. Perencanaan biaya produksi dapat didasarkan pada dua kemungkinan yaitu  financial Oriented dan Quality Oriented.

  1. Financial Oriented

Perencanaan biaya produksi yang didasarkan pada kemungkinan keuangan yang ada. Jika dana terbatas maka tuntutan – tuntutan untuk  keperluan  produksi harus dibatasi. Sehingga semuanya diatur berdasarkan dana yang yang tersedia.

  1. Quality Oriented

Perencanaan biaya produksi berdasarkan atas tuntutan kualitas dari  produksi yang maksimal. Dalam hal ini tidak mempermasalahkan dana yang ada, yang penting hasil dari produksi tersebut berbobot, memiliki nilai dan berguna bagi masyarakat.

Seluruh unsur yang memerlukan biaya harus dihitung dan tidak boleh terlupakan, oleh siapa dan dari mana dana itu akan dipergunakan. Oleh sebab itu perlu dibuatkan perencanaan anggaran yang dipakai untuk memperhitungkan semua biaya. Estimasi biaya yang telah tertera dalam perencanaan anggaran, paling tidak dapat membuat batasan – batasan yang baik ketika pelaksanaan produksi dan mencegah pemborosan. ( Wibowo, 1997 : 12 ).

2.6.4 Organisasi Pelaksanaan Produksi

Pada suatu produksi acara televisi akan melibatkan banyak orang, seperti  pengisi acara, crew, dan fungsionalis lembaga penyelenggara.Agar  pelaksanaan shooting dapat berjalan lancar perlu menyusun organisasi pelaksanaan  produksi yang  serapi – rapinya. Karena  apabila suatu  organisasi  produksi  tidak  diatur  secara  rapi  akan  menghambat jalannya produksi. Pada sebuah organisasi pelaksanaan produksi, terbagi menjadi dua unit satuan kerja yaitu satuan kerja teknis dan non teknis.

2.6.4.1 Satuan kerja teknis, meliputi :

  1. Kameramen
  2. VTR
  3. Penata Cahaya
  4. Penata Suara
  5. Penata Artistik
  6. Pengarah teknis
  7. Switcher
  8. VCR Operator

2.6.4.2 Satuan kerja non teknis, meliputi :

  1. Produser
  2. Pengarah acara
  3. Pengarah lapangan
  4. Penulis naskah
  5. Unit manager
  6. Penata rias dan pakaian
  7. Pengisi acara

2.6.5   Tahap Pelaksanaan Acara

Dalam proses pembuatan produksi sebuah program acara televisi memerlukan tahapan pelaksanaan produksi yang jelas dan efisien dibandingkan tahapan sebelumnya.

Untuk melaksanakan tahapan-tahapan produksi dilaksanakan sesuai Standart Operation Procedure (SOP). Namun tidak semua  acara terkait dengan SOP tersebut, seperti untuk acara berita karena terkait  dengan nilai aktualitas dan faktualitasnya sehingga tidak perlu melewati tahapan tersebut. Di dalam bukunya Television Production, Alan Wurtzel menguraikan  prosedur kerja untuk memproduksi program siaran televisi, disebut sebagai Four Stage of Television Production. Keempat tahapannya adalah Pre Production Planning, Setup and Rehearsal, Production, Post / Pasca Production ( Darwanto, 1994 : 157 ). Secara skematis keempat tahapan produksi ini dapat diuraikan sebagai berikut :

2.6.5.1  Pre Production Planning

Pada tahapan ini merupakan proses awal dari seluruh kegiatan yang akan  datang. Tahap pra-produksi meliputi tiga bagian seperti berikut ini :

  1. Penemuan Ide

Tahapan ini dimulai ketika seorang produser menemukan ide atau gagasan, membuat riset dan menuliskan naskah atau meminta penulis naskah mengembangkan gagasan menjadi naskah  sesudah riset.

  1. Perencanaan

Tahap ini meliputi penetapan jangka waktu kerja (time schedule),  pemyempurnaan naskah, pemilihan artis, lokasi dan crew. Selain estimasi biaya, penyediaan biaya dan rencana alokasi merupakan bagian dari perencanaan yang perlu dibuat secara hati – hati dan teliti.

  1. Persiapan

Tahap  ini meliputi pemberesan semua kontrak, perizinan, dan surat – menyurat. Latihan para artis dan pembuatan setting, meneliti dan melengkapi peralatan yang diperlukan. Semua persiapan ini paling baik diselesaikan menurut jangka waktu kerja (time schedule) yang sudah ditetapkan. ( Wibowo, 1997 : 20 ).

2.6.5.2  Setup and Rehearsal

  1. Setup merupakan tahapan  persiapan  – persiapan  yang  bersifat teknis  dan  dilakukan oleh anggota inti bersama kerabat kerjanya, sejak dari mempersiapkan peralatan yang akan digunakan baik untuk keperluan di dalam maupun di luar  studio, sampai mempersiapkan denah untuk seting lampu, microfon maupun tata dekorasi.
  2. Latihan (rehearsal) tidak saja berlaku bagi para artis pendukungnya, tetapi sangat penting pula bagi anggota kerabat kerja, sejak dari switcher, penata lampu, penata suara, floor director, kameramen sampai ke pengarah acaranya sendiri. Dalam latihan ini dipimpin sendiri oleh pengarah acara.

2.6.5.3  Production

Yang dimaksud dengan production adalah upaya merubah bentuk  naskah menjadi bentuk auditif bagi radio dan audio visual untuk televisi. Di dalam  pelaksanaan poduksi, karakter produksi lebih ditentukan oleh karakter naskahnya.Sebab naskah merupakanhasil penuangan ide atau gagasan. Karakter produksi menurut lokasinya di bagi menjadi tiga bagian, yaitu :

  1. Produksi yang diselenggarakan sepenuhnya di dalam studio.
  2. Produksi yang sepenuhnya diselenggarakan di luar studio.
  3. Produksinya merupakan gabungan di dalam dan di luar studio.

2.6.5.4 Post Production

Pada tahapan terakhir atau tahap post production, dimaksudkan merupakan tahap Penyelesaian atau penyempurnaan, dari bahan baik yang berupa pita auditif maupun pita audio visual. Tahap penyelesaian atau penyempurnaan meliputi :

  1. Melakukan editing baik suara atau gambar.
  2. Pengisian grafik pemangku gelar atau berupa insert visualisasinya.
  3. Pengisian narasi.
  4. Pengisian sound effeck dan ilustrasi.
  5. Melakukan evaluasi terhadap hasil produksinya. (Darwanto, 1994 : 158-159 )

Tiga langkah utama pada tahap pasca produksi ( Wibowo, 2007 : 195) yaitu :

  1. Editing off line

Setelah shoting selesai, Script boy / girl membuat logging,  yaitu mencatat  kembali semua hasil shoting berdasarkan catatan shoting, gambar beserta time  codenya. Kemudian berdasarkan catatan tersebut, sutradara akan membuat editing kasar yang disebut editing off line sesuai dengan gagasan yang ada  dalam synopsis dan treatment. Sesudah hasil editing off line itu  dirasa  pas  dan memuaskan barulah dibuat editing script. Editing script ini sudah dilengkapi  dengan uraian untuk narasi dan bagian bagian  yang perlu diisi dengan ilustrasi musik. Kemudian hasil shoting asli dan naskah editing diserahkan kepada editor untuk dibuat editing on line.

  1. Editing on line

Berdasar naskah editing atau editing script, editor  mengedit  hasil shoting asli. Sambungan – sambungan setiap shot dan adegan (scene) di buat tepat berdasarkan catatan kode waktu dalam naskah editing. Demikian pula sound  asli dimasukan dengan level yang sempurna. Setelah editing on line ini siap, proses berlanjut dengan mixing.

  1. Mixing

Narasi yang sudah direkam dan ilustrasi musik yang juga  sudah direkam, dimasukan ke dalam pita hasil editing on line sesuai dengan petunjuk atau  ketentuan yang tertulis dalam naskah editing. Keseimbangan antara sound effect, suara asli, suara narasi dan musik harus dibuat sedemikian rupa sehingga tidak saling mengganggu dan terdengar jelas. Sesudah proses mixing ini  boleh  dikatakan bagian yang penting dalam post production sudah selesai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *