TEKNIK DAN PEMECAHAN MASALAH SECARA KREATIF

Pada pembahasan ini mengemukakan beberapa teknik kreatig, yang dikelompokkan sesuai dengan tiga tingkatan model belajar menurut Treffinger; dimulai dengan memberikan pemanasan untuk dilanjutkan dengan teknik sumbang saran dan teknik pertanyaan yang memacu gagasan atau daftar periksa (teknik tungkat I), teknik synectics dan futuristics sebagai teknik tingkat II, dan terakhir teknik pemecahan masalah secara kreatif dengan Metode Parnes dan metode atau Pendekatan Shallcross.

Teknik Kreatif Tingkat I
1. Memberikan Pemanasan (Warming Up)
Untuk menumbuhkan iklim atau suasana kreatif di dalam kelas yang memungkinkan siswa untuk membuka dirinya, merasa bebas dan aman untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya, guru perlu melakukan “pemanasan” atau warming up, seperti dilakukan sebelum berenang, hanya saja di sini pemanasannya adalah secara mental. Siswa didalam kelas dituntut mengerjakan tugas yang hanya mempunyai satu jawaban yang benar, seperti berhitung atau matematika, maka siswa memerlukan switch mental dari proses pemikiran reproduktif dan konvergen ke proses pemikiran divergen dan imajinatif.
Pemanasan dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan terbuka yang menimbulkan minat dan rasa ingin tahu siswa, seperti, “Apa saja yang membuat kamu merasa senang?” “Apa yang kamu sukai di sekolah? Dan apa yang tidak kamu sukai?” Cara lain yang berhasil guna adalah dengan mendorong siswa mengajukan pertanyaan terhadap suatu masalah, seperti misalnya sering terjadinya perkelahian antara siswa.
Berpikir divergen dapat pula dirangsang dengan mengajukan pertanyaan yang mendorong ungkapan pikiran dan perasaan yang berakhir terbuka (open-ended thoughts and feelings), seperti:

a. Andaikata…
Andaikata tidak ada malam, apa akibatnya?
Andaikata semua manusia tidak makan, apa yang akan terjadi?
b. Bagaimana dapat memperbaiki buku pelajaran, bangku sekolah, tas, sepatu, ruang kelas, halaman sekolah?
c. Dapatkah memikirkan penggunaan baru untuk benda sehari-hari, seperti kapur, pensil, bola tenis, dan lain-lain?

Dengan memberikan pertanyaan pemanasan seperti ini, siswa menjadi lebih terbuka dan siap untuk teknik-teknik kreatif.

2. Sumbang Saran (Brainstorming)
Teknik sumbang saran yang dikembangkan oleh Alex F. Osborn merupakan teknik yang ampuh untuk meningkatkan gagasan jika diajarkan dan diterapkan dengan tepat (Shallcross, 1985).
Osborn, pendiri dari Creative Education Foundation, dalam bukunya Applied Imagination menentukan empat aturan dasar untuk sidang sumbang saran, yaitu:
a. Kritik tidak dibenarkan atau ditangguhkan
Asas pertama dari berpikir divergen ialah meniadakan sensor untuk kala waktu tertentu. Hal ini lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan, karena pada umumnya kita cenderung kritis dan berhati-hati; kita diajarkan untuk selalu mempertimbangkan, selektif, dan lebih menghargai kualitas daripada kuantitas. Kecenderungan untuk kritis ini menyebabkan bahwa kita lebih memperhatikan apa yang salah, apa yang lemah, apa yang keliru pada gagasan yang diberikan orang lain, daripada memperhatikan apa yang baik. Kritik yang diberikan terlalu cepat tanpa memberikan kesempatan untuk mengembangkan suatu gagasan baru dapat mematikan kreativitas.
b. Kebebasan dalam memberikan gagasan (Freewheeling)
Diperlukan iklim tertentu agar seseorang bebas dalam mencetuskan gagasan, yaitu iklim dimana ia merasa aman, diakui, dan dihargai. Apalagi jika siswa belum biasa untuk bebas berbicara, hal ini pun memerlukan latihan.
c. Gagasan sebanyak mungkin (penekanan pada kuantitas)
Di sini berlaku asas quantity breeds quality; dengan memberikan banyak gagasan, makin besar kemungkinan bahwa diantara sekian banyak gagasan ada beberapa yang baik, yang berkualitas. Jika dalam sidang sumbang saran, 10 persen dari gagasan adalah gagasan yang baik, yang dapat dikerjakan, maka jika ada 100 gagasan, berarti ada 10 gagasan yang baik. Dengan menekankan kuantitas, disamping kemungkinan memilih lebih besar, peserta dituntut untuk berusaha lebih keras dalam menyambung gagasan.
d. Kombinasi dan peningkatan gagasan (membonceng, hitchhiking)
Dalam bidang sumbang saran tidak jarang terjadi bahwa gagasan yang diberikan seseorang menyambung pada gagasan orang lain. Ini merupakan salah satu manfaat terbesar dari teknik sumbang saran bahwa peserta sidang saling memacu dalam pemberian gagasan. Biasanya suasananya menyenangkan dan mencerminkan keasyikan, memberikan pengalaman positif bekerja sama untuk mencapai tujuan memecahkan masalah.

Biasanya sidang sumbang saran dilakukan dalam kelompok kecil (6-8 orang), meskipun juga dapat dilakukan sendiri. Penting bahwa setiap anggota kelompok mematuhi aturan tersebut dimuka.

3. Pertanyaan yang Memacu Gagasan (Idea Spurring Questions)
Teknik ini yang juga disebut daftar periksa (cheklist), dikembangkan oleh Alex Osborn dengan tujuan meningkatkan gagasan. Pertanyaan-pertanyaan Osborn yang berupa “kata kerja manipulatif” membantu seseorang dalam mengembangkan gagasan kreatif dengan melihat hubungan-hubungan baru, memanipulasi informasi dan gagasan untuk menghasilkan ide-ide orisinal.
Daftar pertanyaan Osborn adalah sebagai berikut (dikutip Shallcross, 1985):
a. Digunakan untuk hal-hal lain (put to other uses)
Cara-cara baru untuk menggunakannya?
Penggunaan lain bila dimodifikasi?
b. Menyesuaikan (Adapt)
Apa lainnya yang seperti ini?
Gagasan lain apakah yang dapat disarankan?
c. Mengubah (modify)
Mengubah arti, warna, gerakan, suara, aroma, rasa, bentuk, ukuran?
Perubahan lain?
d. Memperbesar (Magnify)
Apa yang perlu ditambah atau diperbesar/ditingkatkan?
Frekuensinya? Kekuatannya? Ukurannya?
Tambah bahannya? Perlu digandakan?
e. Memperkecil (minify)
Apa yang perlu dikurangi, dihilangkan, diperkecil, dipadatkan, diperpendek?
Dibuat lebih ringan? Diperlambat? Dibagi?
f. Mengganti (Substitute)
Menggantikan apa atau siapa? Bahan Lain? Proses Lain?
Tempat, waktu atau pendekatan lain?
g. Menyusun kembali (rearrange)
Adakah unsur-unsur yang perlu diubah susunannya?
Pola, tata, letak, urutan lain?
h. Membalik (Reverse)
Melakukan yang sebaliknya, yang bertentangan
Memutarbalikkan; yang atas jadi bawah, yang dalam jadi luar
i. Menggabung (Combine)
Menggabung tujuan? Menggabung gagasan?
Menggabung fungsi? Menggabung dana? Dipadukan?
Penggunaan teknik ini menyarankan macam-macam kemungkinan dan meningkatkan kelenturan pemikiran siswa. Daftar pertanyaan Osborn memberi banyak kesempatan kepada siswa untuk menggunakan daya imajinasi mereka dan menyarankan berbagai kegiatan belajar.

Teknik Kreatif Tingkat II

1. Synectics
Teknik synectics dikembangkan oleh William J.J Gordon dan merupakan teknik berpikir kreatif yang menggunakan analogi dan metafor (kiasan) untuk membantu pemikir mengnalisis masalah dan mengembangkan berbagai sudut tinjau (Feldhusen dan Treffinger, 1980). Tidak memerlukan peralatan, kecuali kertas atau papan tulis untuk mencatat ide-ide. Langkah pertama ialah merumuskan masalah yang ditulis di papan tulis agar semua dapat melihatnya. Kegiatan selanjutnya berlangsung dengan seluruh kelas dipimpin oleh guru atau dalam kelompok kecil dipimpin oleh siswa.
Ada tiga jenis analogi yang digunakan dalam synectics, yaitu analogi fantasi, analogi langsung, dan analogi pribadi. Yang paling umum digunakan ialah analogi fantasi; di sini siswa mencari pemecahan yang ideal untuk suatu masalah, termasuk solusi yang aneh atau tidak lazim.
Bentuk analogi yang lain ialah analogi langsung. Di sini siswa diminta untuk menemukan situasi masalah sejajar dalam situasi kehidupan nyata, misalnya bagaimana memindahkan perabot yang berat ke dalam ruang kelas.
Analogi pribadi menuntut siswa menempatkan dirinya dalam peran masalah itu sendiri. Misalnya, “jika saya sebuah ayunan di tempat bermain dan ingin pindah ke tempat lain, apa yang akan saya lakukan? Saya akan berayun jauh dan tinggi sampai saya dapat meraih dahan pohon (seperti Tarzan) saya dapat sampai di tempat yang saya inginkan.”
Teknik synectics merupakan cara yang menyenangkan untuk melibatkan siswa dalam diskusi yang imajinatif dan menghasilkan strategi pemecahan masalah yang tidak lazim tetapi dapat dilaksanakan. Setiap topik dari bidang studi dapat dibahas dalam kelompok diskusi kecil atau besar. Melalui synectics siswa dapat belajar strategi yang bermakna untuk memecahkan masalah.

2. Futuristics
Mengajar dengan pandangan masa depan (futuristic point of view) amat penting agar siswa berbakat kelak dapat menggunakan kemampuan mereka untuk membantu mencipta masa depan. Toffler (1981), yang termasuk futurist yang paling terkenal di Amerika Serikat, menyatakan bahwa siswa perlu dibantu dalam mengaitkan perubahan yang akan terjadi di dunia dengan perubahan dalam kehidupan mereka sendiri.
Pendekatan dalam menggunakan futuristics dengan siswa berbakat agak berbeda dari yang digunakan kebanyakan guru di dalam kelas biasa. Dalam mengajar futuristics dipandang sebagai suatu falsafah mengajar yang menggunakan sudut tinjau futuristics (masa depan). Hal ini dapat meningkatkan pembelajaran pada semua mata pelajaran. Jika futuristics diajarkan sebagai topik tersendiri atau sebagai pengalaman satu kali saja, maka tidak memungkinkan penyerapan pemikiran futuristis. Satu cara untuk menggambarkan proses penyerapan menyeluruh adalah dengan membayangkan garis waktu (Sick, 1987).
Beberapa keterampilan yang dapat digunakan pada futuristis.
a. Menulis Skenario
Salah satu cara untuk merangsang siswa berbakat siswa berbakat menulis skenario adalah dengan menggunakan pemacu atau pengantar skenario.
b. Roda Masa Depan
Future Wheels dikembangkan oleh Jerry Glenn, seorang futuris. Gagasannya adalah untuk mengidentifikasi suatu kecenderungan yang ada atau yang akan timbul dan menempatkan kecenderungan ini dipusat, dan kemudian menemukenali hubungan sebab-akibat dari kecenderungan itu.
c. Trending
Trending atau melihat kecenderungan-kecenderungan merupakan teknik lain yang berguna yang melengkapi teknik roda masa depan.

Pentingnya pendekatan garis waktu dinyatakan oleh Naisbitt sebagai berikut: “Cara yang paling andal untuk mengantisipasi masa depan adalah dengan memahami masa kini.” Dengan menggunakan teknik futuristis di dalam kelas, siswa berbakat meramal (predict, forecast, ingat model talenta berganda dari Taylor) masa depan akan terlibat secara aktif dalam merencanakan dan mencipta masa depan mereka. Pendekatan futuristis menekankan penggunaan proses pemikiran tingkat tinggi yang sangat perlu bagi siswa berbakat.

Teknik Kreatif Tingkat III

Jika pada tingkat I siswa belajar untuk membuka dirinya terhadap pertanyaan-pertanyaan yang berakhir terbuka (open-ended questions) dan terhadap kemungkinan memberikan banyak gagasan atau pemecahan masalah (berpikir divergen) seperti pada teknik sumbang saran dan teknik pertanyaan yang memacu gagasan. Pada tingkat II siswa diajak untuk lebih meluaskan pemikiran mereka dan berperan serta dalam kegiatan yang lebih majemuk dan menantang, seperti pada teknik synectics dan futuristis, pada tingkat III siswa dilibatkan dalam tantangan dan masalah nyata. Ia menjadi seorang peneliti dan dalam penelitiannya ia dapat menggunakan teknik-teknik kreatif yang sudah dipelajari pada tingkat I dan II.
1. Pemecahan Masalah Secara Kreatif
Proses Creative Problem Solving (CPS) atau Pemecahan Masalah secara Kreatif (PMK) dikembangkan oleh Parnes, Presiden dari Creative Problem Solving Foundation (CPSF). Proses ini meliputi lima langkah: menemukan fakta, menemukan masalah, menemukan gagasan, menemukan solusi, dan menemukan penerimaan. Tahap pertama didahului dengan ungkapan pikiran dan perasaan mengenai masalah yang dirasakan sebagai mengganggu (mess) tetapi masih samar-samar (fuzzy problem).
Tahap menemukan fakta ialah tahap mendaftar semua fakta yang diketahui mengenai masalah yang ingin dipecahkan dan menemukan data baru yang diperlukan. Tahap ini didahului oleh keadaan “kacau” dan masalahnya masih samar-samar (mess and fuzzy problem).
Pada tahap menemukan masalah, diupayakan merumuskan masalah dengan menanyakan: “Dengan cara-cara apa saya…”; pertanyaan ini mengundang memberikan banyak gagasan. Pemikir diharapkan dapat mengembangkan masalahnya dengan menemukenali sub-masalah: masalah dapat dirumuskan kembali (redefinition) atau disempitkan.
Pada tahap menemukan gagasan diupayakan mengembangkan gagasan pemecah masalah sebanyak mungkin. Dalam hal ini dapat digunakan teknik-teknik yang sudah diajarkan pada tingkat I dan tingkat II.
Pada tahap penemuan sosial, gagasan yang dihasilkan pada tahap sebelumnya diseleksi berdasarkan kriteria evaluasi yang bersangkut-paut dengan masalahnya, misalnya berdasarkan waktu, biaya, dan tenaga yang diperlukan untuk melaksanakan gagasan tersebut.
Pada tahap terakhir, menemukan penerimaan atau tahap pelaksanaan disusun rencana tindakan agar mereka yang mengambil keputusan (kepala sekolah, orang tua, majikan, dan lainnya) dapat menerima gagasan tersebut dan melaksanakannya.

2. Proses Lima Tahap (Shallcross)
Sehubungan dengan tingkatan dalam proses kreatif ini, Shallcross (1985) membedakan antara primary creativity dengan secondary process creativity. Kreativitas primer ialah proses pemecahan masalah secara alamiah oleh pikiran kita, karena pemikir tidak menyadari bahwa terjadi suatu proses. Sedangkan pada kreativitas sekunder ada peningkatan kesadaran dalam pemecahan yang berlangsung melalui beberapa tahapan.
Teknik pemecahan masalah secara kreatif yang dikemukakan oleh Shallcross (1985), meliputi lima tahap, yaitu orientasi, persiapan, penggagasan, penilaian, dan pelaksanaan atau implementasi.
Pendekatan ini pada dasarnya sama seperti Creative Problem Solving (CPS), tetapi CPS meliputi enam tahap, dimulai dengan ungkapan masalah secara samar (mess and fuzzy problem) sedangkan teknik Shallcross hanya terdiri dari lima tahap. Pernyataan masalah dirumukan pada tahap orientasi, sedangkan tahap persiapan adalah tahap menemukan, penggagasan merupakan tahap menemukan gagasan, tahap penilaian sesuai dengan tahap penemuan solusi, dan tahap implementasi adalah tahap menemukan penerimaan pada CPS.
Pada tahap, orientasi masalah dirumuskan atau tujuan ditentukan. Masalah atau topik dijabarkan dengan menulis suatu paragraf yang melukiskan bagaimana pikiran dan perasaan seseorang mengenai topik atau masalah tersebut. Kemudian dalam satu atau dua kalimat dirumuskan tujuan yang ingin dicapai atau masalah yang hendak dipecahkan.
Pada tahap persiapan kita menghimpun semua fakta yang sudah diketahui mengenai masalahnya dan menanyakan semua fakta yang belum kita ketahui. Tahap ini adalah tahap pengumpulan data.
Pertama, daftar semua informasi faktual yang sudah dimiliki dengan menanyakan:
• Siapa?
• Apa?
• Bilamana?
• Dimana?
• Mengapa?
Kedua, daftarlah semua informasi faktual yang masih perlu diperoleh. Untuk setiap butir daftar ini, sebut kemungkinan sumber-sumber yang dapat memberi informasi tersebut. Jangan membatasi diri pada sumber-sumber yang biasa digunakan. Gunakan teknik-teknik yang sudah dipelajari sebelumnya untuk menemukan sumber-sumber yang baru, yang tidak lazim atau konvensional.
Pada tahap penggagasan (ideation), Anda menerapkan berpikir divergen untuk menghasilkan gagasan-gagasan sementara (tentatif) untuk pemecahan masalah. Tanyakan pada diri sendiri:”Dengan cara-cara apa saya dapat…” (memecahkan masalahnya)?” Jangan tanyakan: “Bagaimana saya dapat…” karena ini dapat diartikan bahwa hanya ada satu solusi, sedangkan yang diinginkan justru banyak kemungkinan solusi (berpikir divergen).
Pada tahap penilaian atau evaluasi, Anda menerapkan berpikir konvergen yaitu menyeleksi gagasan-gagasan yang paling baik untuk dilaksanakan. Kunci untuk penilaian yang berhasil ialah menemukan kriteria untuk mempertimbangkan kelayakan dari setiap gagasan. Setiap kriteria dipilih berdasarkan pertimbangan apa dampaknya terhadap situasi atau orang apabila gagasan itu dilaksanakan. Misalnya, dalam proyek yang hanya menyangkut Anda, kriteria yang dapat dipilih seperti, apa dampaknya terhadap waktu, biaya, dan terhadap diri Anda sendiri.
Tahap pelaksanaan atau implementasi merupakan tahap terakhir dalam proses pemecahan masalah secara kreatif. Perlu diperhatikan bahwa kelima tahap ini tidak statis. Mungkin saja ketika mengerjakan tahap ketiga timbul informasi yang penting untuk tahap pertama atau kedua. Dalam hal ini Anda dapat kembali dan melengkapi informasi tambahan itu. Makin lengkap setiap tahap, makin besar kemungkinan mencapai pemecahan yang memuaskan.

DAFTAR PUSTAKA

Munandar, Utami. 2004. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Munandar, Utami. 1999. Kreativitas dan Keberbakatan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Semiawan, Conny R. 1992. Pengembangan Kurikulum Berdiferensiasi. Jakarta: PT Grasindo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *