Strategi Dakwah bagi Lansia 

Oleh:

Thalib Manhia, S.Sos.I

Versi dalam docx bisa anda download di akhir tulisan.

Tulisan berikut merupakan artikel kiriman bukan hasil tulisan team karya tulis ilmiah.com.

Biodata penulis bisa di lihat di akhir tulisan.

B A B   I

PENDAHULUAN

Golongan manusia lanjut usia (lansia) yang hidup pada usia senja,  mereka adalah insan yang telah selesai berfikir, berkarya,  bekerja keras dalam mewujudkan kehidupan yang layak bagi generasi setelah mereka.

Generasi sekarang yang sedang menikmati masa keemasan dunia kerja, merupakan bagian hasil jerih payah dari para lansia,  sebagai hubungan kausal antara mereka yang menjadi sunnatullah.

Para lansia cukup berbahagia, ketika melihat anak dan cucu mereka berada dalam suasana kesuksesan dan kemapanan hidup, seolah senyum anak dan cucu adalah senyum bagi mereka dan sebaliknya duka anak dan cucu mereka adalah luka yang sangat pedih yang harus ditanggung mereka.

Namun demikian, meskipun bukan atas kehendak dan permintaan mereka, generasi sekarang patut untuk ikut memikirkan dan mempersiapkan apa yang menjadi kebutuhan para lansia di penghujung hayat mereka, mengingat kehidupan pada masa seperti itu rentan dengan berbagai persoalan fisik dan psikis.

Dalam rangka menanggulangi dampak perubahan fisik dan psikis, maka secara regenerasi melalui pemerintah baik di pusat dan daerah secara berkesinambungan telah mengambil langkah yang tepat dengan membuat tempat-tempat pelayanan bagi lansia baik yang secara langsung bermukim pada panti sosial yang menangani lansia maupun yang tersebar dan membaur dengan masyarakat pada umumnya.

  1. Latar Belakang

Jumlah penduduk Indonesia menurut Sensus Penduduk (SP) tahun 2010 berjumlah 237,6 juta jiwa. Jumlah yang besar ini terdiri dari lapisan penduduk balita, anak, dewasa, dan lansia. Khusus lansia, menurut Pendataan Keluarga tahun 2010 yang dilakukan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) ternyata jumlah penduduk lansia di Indonesia berjumlah 15,5 juta jiwa. Jumlah ini semakin tahun akan semakin besar. Hal ini karena adanya pembangunan kesehatan dan sosial ekonomi yang diselenggarakan di Indonesia.

Agar penduduk lansia tidak menja dibeban pembangunan diperlukan adanya pemberdayaan penduduk lansia. Hal ini sesuai dengan undang-undang No.13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia.

Dalam undang undang tersebut dijelaskan bahwa penduduk lansia di Indonesia dibagi menjadi dua golongan, yaitu : penduduk lansia potensial dan penduduk lansia tidak potensial.

BKKBN yang merupakan instansi pemerintah yang berwenang menyelenggerakan Program Kependudukan dan Keluarga Berencana memiliki Program Pembangun Ketahanandan Kesejahteraan Keluarga (PK3)

Persoalan lain selain diperkirakan akan menjadi beban negeri, lansia dalam pola fikir masyarakat di lingkungannya menganggap bahwa lansia sepatutnya istirahat dari berbagai aktifitas mereka, sebahagian lagi menginginkan agar lansia di penghujung umurnya diharapkan dapat membantu memerankan tugas dan kewajiban dari anak dan cucu mereka. Bahkan ada lansia yang dengan suka rela melakukan apa saja yang dapat mereka lakukan di rumah anak dan cucunya.

Sementara itu kaum lansia sedang  diperhadapkan dengan perubahan pada dirinya; sehingga perlahan namun pasti sebahagian besar lansia akan mengalami kecemasan, lalu meningkat menjadi frustasi dan berakhir dengan konflik. Kemungkinan besar semua itu bisa terjadi, saat mereka tidak banyak tahu tentang akibat penuaan yang menimpa mereka.

Oleh karena itu, penulis memandang penting untuk menemukan strategi yang tepat sesuai dengan kondisi fisik dan psikis para lansia untuk mengantarkan kehidupan mereka pada khusnul khatimah (happy ending), bebas dari kecemasan, frustasi dan konflik jiwa yang tercermin pada Firman Allah SWT. QS. Al Fajr ayat 27-30

يآئيها النفس المطمعنة  ارجعي إلى ربك راضية مرضية    فادخلي في عبادي    وادخلي جنتي

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.

  1. Deskripsi Singkat

Makalah yang penulis susun ialah mengambil judul, “ Strategi Dakwah Bagi Lansia “. Maka bila diuraikan setiap terma yang tercantum dalam judul, maka pengertian yang muncul adalah sebagai berikut :

Strategi berasal dari bahasa Yunani Yaitu Stratos yang artinya Pasukan dan agein yang artinya memimpin. jadi Strategi dapat dimaknai dengan “ Memimpin pasukan” atau “Pola umum yg biasa dilakukan untuk mencapai tujuan yg telah ditetapkan”

Beberapa pendapat yang mengemukakan tentang makna strategi, yaitu :

  1. A.Kosasih Djahiri, Strategi :  Upaya mencapai sesuatu dengan sejumlah metode.
  2. Halim, Strategi adalah suatu cara dimana organisasi / lembaga akan mencapai tujuannya, sesuai dengan peluang – peluang dan ancaman – ancaman lingkungan eksternal yang dihadapi, serta sumber daya dan kemampuan internal.
  3. Kaplan & Norton, Strategi adalah seperangkat hipotesis dalam model hubungan cause dan effect, yaitu suatu hubungan yang dapat diekspresikan melalui kaitan antara pernyataan if-then.
  4. Stephanie k. Marrus, Strategi didefinisikan sebagai suatu proses penentuan rencana para pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang organisasi, diserta penyusunan suatu cara atau upaya bagaimana agar tujuan tersebut dapat dicapai.
  5. Hamel & Prahalad (1995), Strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) dan terus – menerus, serta dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggakn di masa depan.
  6. Sjahfrizal, Strategi adalah cara untuk mencapai tujuan berdasarkan analisa terhadap faktor internal dan eksternal.
  7. Webster’s Third New International Dictionary, Strategi adalah ilmu dan seni tentang penggunaan kekuatan-kekuatan politik, ekonomi, psikologi, dan militer satu bangsa atau kelompok bangsa-bangsa yang memungkinkan dukungan maksimal kepada kebijakan yang telah ditetapkan, baik saat damai maupun saat perang

Sementara itu, kata strategi berasal dari bahasa Yunani yang berarti “strategia” yang diartikan sebagai “the art of the general” atau seni seorang panglima yang biasanya digunakan dalam peperangan.

Umumnya, strategi adalah cara untuk mendapatkan kemenangan atau mecapai tujuan. Strategi pada dasarnya merupakan seni dan ilmu menggunakan dan mengembangkan kekuatan (ideologi, politik, ekonomi,sosial-budaya dan hankam) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

  1. Dakwah

Dakwah ditinjau dari Etimologi berasal dari bahasa Arab, yaitu bentuk isim Masdar dari kata,   دعا  يدعو-  –  دعوة . yang artinya menyeru, memanggil, mengajak dan menjamu,[1]  Berdasarkan Ensiklopedi Islam, dakwah adalah masdar (kata dasar) dari kata kerja da’a-yad’u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan,[2]  Kata da’a mengandung arti mengajak, menyeru dan memanggil, maka sebagai ajakan, seruan, panggilan kepada Islam.

Adapula pengertian lain mengatakan kata dakwah diamil dari kata da’a yang artinya memanggil, menyeru, dan menghimpun manusia untuk suatu perkara dan menganjurkan mereka untuk mengamalkannya sebagaimana yang terdapat dalam QS. Yunus/10: 25: [3]  Artinya : “Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)”. (QS. Yunus: 25) Sedangkan secara istilah dakwah didefinisikan sebagai setiap kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah Swt. Sesuai dengan garis akidah, yaitu syariat dan akhlak Islamiyah.[4]

Dalam buku Prinsip dan Kode Etik Dakwah, dakwah ialah mengajak dan mengumpulkan manusia untuk kebaikan serta membimbing mereka kepada petunjuk dengan cara ber amar ma’ruf nahyi munkar.[5]
Menurut H.N.S Nasrudin Latif, dakwah artinya usaha atau aktivitas dengan lisan atau tulisan yang bersifat menyeru, mengajak, memanggil manusia lainnya untuk beriman dan menaati Allah Swt. Sesuai dengan garis-garis aqidah dan syariat serta akhlak Islamiyah.[6] Ghulusy menjelaskan bahwa dakwah ialah pekerjaan atau ucapan untuk mempengaruhi manusia supaya mengikuti ajaran Islam sesuai dengan ketentuan syariat Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadist Nabi.[7]

Umumnya para ulama mendefinisikan dakwah dengan  :

“ الحث الناس علي الخير و الهدى و الأمر بالمعروف و النهي عن المنكر ليفوزوا لسعدة الآجل و العاجل “

Yakni menuntun manusia pada kebaikan dan hidayah, menyerukan sesuatu yang baik dan melarang dari perkara yang munkar guna kesuksesan kebahagiaan di dunia dan di akhirat

Oleh sebab tujuan untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat maka muncullah statemen  إش كريما أو مت شهيدا hidup mulia atau mati syahid.

  1. Lansia

Lanjut Usia (Lansia)  yaitu setiap warga negara Indonesia laki-laki dan perempuan yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas, baik potensial maupun tidak potensian (Keputusan Mensos RI, No.15/HUK/2007)

Menurut Hurlock (1980: 380) adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang, yaitu suatu periode di mana seseorang telah “beranjak jauh” dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan, atau beranjak dari waktu yang penuh dengan manfaat.

Perubahan fisik yang menyebabkan seseorang berkurang harapan hidupnya disebut proses menjadi tua (Monks, et. al, 2004: 323).  Masih belum ada batasan umur yang pasti untuk menyatakan seseorang adalah lanjut usia (elderly). Dalam penetapan batas minimal umur seseorang dianggap telah memasuki lansia,  Setiap negara mempunyai patokan sendiri.

Negara-negara maju di Eropa dan Amerika memberi batasan umur 65 tahun sebagai lanjut usia, Pemerintah Indonesia menentukan bahwa yang disebut lanjut usia (lansia) adalah orang yang berusia 60 tahun ke atas. Mereka mendapatkan fasilitas tertentu, antara lain mendapatkan potongan 25-30% untuk berbagai layanan, seperti biaya perjalanan naik kereta api atau pesawat terbang; mereka yang sudah mencapai usia 60 tahun, dibuatkan KTP seumur hidup (Suparto, 2000: 10 – 11),

WHO (1989) menetapkan batas umur 60 tahun sebagai lanjut usia (Sidiarto, 2003: 23). Hal ini sebagaimana pendapat Hurlock (1980: 380) yang menyatakan: Usia enam puluhan biasanya dipandang sebagai garis pemisah antara usia madya dan usia lanjut

  1. Manfaat Makalah

Sebagai salah satu sumber informasi dan edukasi tentang lansia dan problematika hidup mereka; seingga  pemahaman khalayak tentang lansia akan semakin meluas.

  1. Tujuan Makalah

Makalah ini ditulis dan disusun untuk memberikan informasi kepada khalayak tentang : pentingnya dakwah bagi lansia, kejiwaan lansia, problematika hidup yang dihadapi lansia dan strategi dakwah yang tepat bagi lansia.

  1. Sasaran Makalah

Makalah ini disusun untuk dapat dimanfaatkan oleh :

  1. Pengurus panti sosial yang menangani lansia,
  2. Masyarakat umum,
  3. Kalangan Akademisi,
  4. Penyuluh Kesehatan dan utamanya
  5. Penyuluh Agama.

B A B   II

PEMBAHASAN

  1. Dakwah Bagi Lansia

Maksud dakwah bagi lansia adalah : “ Panggilan, ajakan atau seruan kepada kebaikan yang  diperuntukkan  bagi mereka manusia yang sudah lanjut usia.

Saat memasuki fase lanjut usia, seseorang bukan berarti tidak butuh lagi dengan dakwah kepada kebaikan, mungkin saja karena anggapan bahwa orang tua sudah lebih tahu dan mampu mengamalkan kebaikan itu dengan baik. Hemat penulis justeru makin lanjut usia, itu artinya manusia sudah sangat dekat dengan kematian dan saat proses kematian nanti tiba, Rasulullah sangat menganjurkan orang yang lagi sakarat agar dituntun melafadzkan tahlil. Sabdanya “ لكنوا موتاكم بكلم لا إله إلا الله  ”  talkinlah orang yang sedang sakaratul maut di antara kalian dengan kalimat  La Ilaha IllalLah,  dengan jaminan bahwa :

من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة

Siapa saja yang meninggal dan ucapan terakhirnya adalah” Tiada Ilah selain Allah “, maka dia masuk syurga.

Sehingga semua amal perbuatan hendaklah tidak dilakukan kecuali benar-benar berorientasi pada harapan mendapatkan keberkahan, restu dan pahala dari Allah SWT semata.

Tatkala taqdir Allah telah mengantarkan lansia pada puncak tahapan kehidupannya, berarti setelah masa itu pasti tidak ada lagi kesempatan untuk hidup, mau atau tidak mau, suka atau tidak, seseorang harus masuk pada kehancuran dan kematiannya sebagai akhir dan bentuk penyempurnaan hidupnya di dunia. Dengan harapan, dapat menutup lembaran kehidupan dengan baik (khusnul khatimah).

Memang sangat menarik gambaran Allah tentang orang tua di dalam  al qur’an surah al Isyra’ ayat 23 yang semestinya menjadi nikmat bagi setiap mereka yang mencapai usia tua.Allah berfirman

وقضى ربك ألا تعبدوا إلا إياه وبالوالدين إحسانا إما يبلغن عندك الكبر أحدهما أو كلاهما فلا تقل لهما أف ولا تنهرهما وقل لهما قولا كريما

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Ketika tua nanti kepada kita semestinya anak berbuat baik apalagi cucu dan cicit, merka juga bekewajiban memelihara dan merawat kita saat kita berangsur-angsur melemah dan sering sakit, bahkan mereka berkewajiban bertutur kata yang baik dan mendoakan kita.

Demikan pula apa yang disampaikan Allah Ta’Ala dalam QS.Lukman ayat 14 dan 15.

ووصينا الإنسان بوالديه حملته أمه وهنا على وهن وفصاله في عامين أن اشكر لي ولوالديك إلي المصير

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada ibu-bapaknya; ibu telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Ayat ini menegaskan “ Disamping berbuat baik kepada orang tua anakpun berkewajiban berterimakasih kepada keduanya. Allah berfirman dalam QS At Tahrim ayat 6. Selain itu Allah juga berfirman dalam QS Ali Imron ayat 104 yang berbunyi :

ولتكن منكم بأمة يدعون إلى الخير ويأمرون المعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون (آل عمران:104(

Artinya :”Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung”. (Q.S. Ali Imron : 104)

Hadist Nabi : بلغوا عنى ولو آية (رواه البخارى) Artinya : Sampaikan ajaranku kepada orang walaupun hanya satu ayat. (H.R. Buchori) Ayat dan hadits Nabi tersebut diatas Tujuan tersebut adalah tujuan yang ingin dicapai dalam setiap pendidikan agama Islam. Allah berfirman : وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون (الذارية: 56) Artinya: “Dan Aku tidak akan menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Q.S. Adzaariyat: 56)

Untuk alasan keselamatan hidup, dakwah menjadi sangat penting bagi umat manusia utamnya para lansia.

  1. Kejiwaan Lansia

Logika kita berpendapat bahwa, Manusia yang diberikan Allah kesempatan hidup yang cukup lama di dunia ini sehingga dia dapat menikmati sisa umur di usia senja,  pasti memiliki segudang pengalaman hidup. Orang seperti itu telah merasakan pahit getirnya hidup lalu dia mampu mengatasinya,  merasakan manis gurihnya hidup lalu bisa melewatinya,  merasakan miris dan sakitnya hati yang tercabik-cabik lalu dia bisa bersabar atasnya atau mengalami riang gembiranya kehidupan lalu dia mampu mensyukurinya. Maka dengan sederet pengalaman tersebut idealnya mampu membentuk jiwa dan karakter yang kokoh juga tangguh yang mampu mengatasi warna warni persoalan hidup.

Sebagai orang yang berpengalaman dalam mengarungi kehidupan, lansia membutuhkan pengakuan dari lingkungannya, pengakuan yang menuntut perlakuan dan penghargaan yang sepatutnya sehingga terjalin hubungan yang terikat oleh rasa hormat dan kasih sayang antar sesama manusia.

Pada masa lansia, kecenderungan untuk mengakui kebenaran ajaran agama makin meningkat, kecenderungan hawa nafsu makin terkendali, kebutuhan terhadap gemerlapnya dunia makin berkurang,  dan keyakinan akan kehancuran dunia makin nyata dan kekekalan akhirat makin terasa.   Dalam buku psikologi agama Jalaluddin menuliskan beberapa ciri-ciri

keberagaman manusia pada usia lanjut secara garis besarnya adalah:

  1. Kehidupan keberagaman pada usia lanjut sudah mencapai  tingkat kemantapan
  2. Meningkatkan mulai munculnya pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat secara lebih sungguh-sungguh
  3. Sikap keberagaman cendrung mengarah kepada kebutuhan saling cinta antar sesama manusia, serta sifat-sifat luhur.
  4. Meningkatnya kecendrungan untuk menerima pendapat keagamaan
  5. Timbul rasa takut kepada kematian yang sejalan dengan pertambahan usia lanjut
  6. Perasaan takut kepada kematian ini berdampak pada peningkatan pembentukan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan abadi (akhirat).

Sebuah penelitian menyatakan bahwa lansia yang lebih dekat dengan agama menunjukkan tingkatan yang tinggi dalam hal kepuasan hidup, harga diri dan optimisme.

Usia lanjut merupakan usia yang mendekati akhir siklus kehidupan manusia di dunia. Usia tahap ini dimulai umur 60an sampai akhir kehidupan. Periode ini digambarkan dalam hadist sebagai berikut:

“Masa penuaan umur umatku adalah enam puluh hingga tujuh puluh tahun”(HR Muslim dan Nasa’i), Mereka para shahabat bertanya:”Ya Rasulullah, barapakah ketetapan umur-umur umatmu?”Jawab beliau,”saat kematian mereka (pada umumnya) antara usia enam puluh dan tujuh puluh. ” Mereka bertanya lagi:”Ya Rasulallah ,bagaimana dengan umur delapan puluh?”Jawab beliau, “Sedikit sekali umatku yang dapat mencapainya. Semoga Allah merahmati orang-orang yang mencapai umur delapan puluh”(HR Hudzaifah Ibn Yamani).[8]

Menurut Sastroamijoyo (1971: 15) masa tua (old age) merupakan masa hidup yang terakhir, masa hidup ini mempunyai arti yang sah dan khas (authentical). Pada umumnya dalam masa tersebut orang telah berjasa terhadap masyarakatnya. Pada galibnya dalam masa itu ia menghendaki hidup tenang, sejahtera, berumur lebih panjang, tetap sehat, dan tidak menderita sesuatu apapun.

Selanjutnya Kroll dan Hawkins (2001: 19) mengemukakan bahwa masyarakat saat ini  memandang para lanjut usia sebagai orang-orang yang kurang produktif, kurang menarik, kurang energik, mudah lupa, dan kurang bernilai dibandingkan dengan mereka yang masih dalam keadaan prima.

Padahal masa ini mungkin masa yang paling penting karena ini adalah masa terakhir di mana kita harus bersiap untuk meninggalkan dunia ini. [9]

Tahap usia lanjut adalah tahap dimana terjadi penuaan dan penurunan, yang penurunanya lebih jelas dan lebih dapat di perhatikan daripada tahap usia baya. Penuaan merupakan perubahan kumulatif pada mahluk hidup, termasuk tubuh, jaringan dan sel, yang mengalami penurunan kapasitas fungsional.

Yang nampak melalui ciri-ciri usia lanjut:

  1. Kepadatan tulang dapat hilang.
  2. Tulang belakang dapat memadat.
  3. Membuat punggung menjadi terlihat lebih pendek atau melengkung.
  4. Kekuatan tulang menurun dan menyebabkan kerapuhan (osteoporosis).
  5. Persendian dapat menjadi kaku atau kurang fkeksibel.
  6. Cairan sendi berkurang.
  7. Otot menjadi kurang padat.
  8. Membuat lengan dan kaki menjadi lebih gemuk.
  9. Jaringan otot menjadi lebih kurang fleksibel.
  10. Otot kehilangan kekuatan.
  11. Kulit menebal dan semakin kendur atau semakin banyak keriput.
  12. Rambut menjadi putih dan putih.
  13. Lapisan kulit paling luar (epidermis) menebal,meskipun jumlah lapisan sel relatif tidak berubah.
  14. Jumlah sel yang berisi pigmen (melanocytes) berkurang.
  15. Lebih pucat kurang bersinar.
  16. Titik besar pigmen dapat muncul pada daerah yang sering terkena matahari.
  17. Perubahan dalam jaringan konektif mengurangi kekuatan dan elastisitas kulit.
  18. Pembuluh darah pada kulit menjadi lebih rentan,sehingga terlihat menjadi biru memar.
  19. Kelenjar kulit menghasilkan minyak yang sedikit sehingga membuat kulit menjadi kering dan gatal-gatal,dan resiko untuk mengalami cidera kulit bertambah.
  20. Masa sel syaraf berkurang,yang menyebabkan atrophy pada otak dan spinal cord.
  21. Berat otak  berkurang, dan masing-masing sel memiliki lebih sedikit cabang (Dendrit).
  22. Refleks dapat berkurang atau hilang.
  23. Alat-alat indera menjadi kurang tajam.
  24. Gendang telinga menebal sehingga tulang dalam telinga dan struktur lain terpenngaruh.
  25. Mata memproduksi lebih sedit air mata sehingga membuat  mata menjadi kering.
  26. Pupil dapat bereaksi lebih lambat terhadap perubahan cahaya gelap dan terang.
  27. Toleransi mata terhadap silau berkurang.
  28. Mata tenggelam ke kantung belakang.
  29. Otot mata menjadikan mata kurang dapat berputar secara penuh.
  30. Kesulitan untuk membedakan warna biru dan hijau.
  31. Rentan terserang penyakit.
  32. Terjadi penurunan kemampuan berfikir, mereka lebih banyak mengingat masa lalu dan sering kali melupakan apa yang baru di perbuatnya.[10]

dan diantara kamu ada yang dikembalikan pada umur yang paling hina(tua renta),supaya dia tidak mengetahui segala sesuatupun yang pernah di ketahuinya.(QS Al-Nahl 16;70).[11]

Pada masa ini, mereka juga merasa usiannya telah semakin mendekati akhir kehidupan, sehingga mereka lebih banyak mengingat kematian daripada sebelumnya.

Untuk menyamakan persepsi dan operasionalisasi konsep-konsep yang digunakan dalam kajian ini, ada beberapa istilah yang perlu dijelasakan antara lain:

  1. Pembinaan: yaitu usaha tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara berdayaguna dan berhasilguna untuk memperoleh hasil yang lebih baik (Depdiknas, 1991);
  2. Kehidupan beragama: yaitu mengenai realita pemahaman, kegiatan dan pengamalan agama, baik oleh individu maupun kelompok.
  3. Lanjut usia (lansia): yaitu setiap warga negara Indonesia laki-laki dan perempuan yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas, baik potensial maupun tidak potensian (Keputusan Mensos RI, No.15/HUK/2007)

Dengan demikian yang dimaksud dengan pembinaan kehidupan beragama lanjut usia di panti sosial yaitu usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara berdayaguna kepada warga negara Indonesia laki-laki dan perempuan yang telah berusia 60 tahun ke atas  untuk memperoleh hasil yang lebih baik dalam hal kehidupan keagamaan.

Kehidupan keagaman pada usia lanjut menurut hasil penelitian psikologi agama ternyata meningkat. M.Argyle mengutip sejumlah penelitian yang dilakukan ole Cavan yang mempelajari 1.200 orang sampel yang berusia 60-100 tahun. Temuan menunjukkan secara jelas kecendrungan untuk menerima pendapat keagamaan yang semakin meningkat pada umur-umur ini sedangkan pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat baru muncul sampai dengan seratus persen setelah usia 90 tahun.[12]

Agama dapat memenuhi beberapa kebutuhan psikologis yang penting pada lansia dalam  hal menghadapi kematian, menemukan dan mempertahan -kan perasaan berharga dan pentingnya dalam kehidupan, dan menerima kekurangan di masa tua.

  1. Strategi Dakwah yang tepat bagi Lansia

Bertolak dari kondisi kejiwaan lansia yang cenderung membutuhkan pengakuan dan perlakuan serta penghargaan yang setimpal,  maka strategi balas budi/berterimakasih (asy syukru)  lebih dikedepankan dalam dakwah. sebagaimana disampaikan Allah Ta’Ala dalam QS.Lukman ayat 14 dan 15.

ووصينا الإنسان بوالديه حملته أمه وهنا على وهن وفصاله في عامين أن اشكر لي ولوالديك إلي المصير

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada ibu-bapaknya; ibu telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu

Balas budi/jasa secara luas dapat di artikan menampakkan kegembiraan dan menghaturkan terimakasih terhadap jasa-jasa lansia di saat mereka belum membutuhkan bantuan kita, namun ketika tiba masanya mereka membutuhkan, maka membantu dan memenuhi kebutuhan mereka termasuk dalam kategori balas budi.

Selanjutnya dapat memilih strategi dakwah terbaik (ikhsanan), dakwah dengan strategi ikhsanan ini harus dilakukan dengan sepenuh hati sebab sasaran sentuhan dakwahnya adalah perasaan orang tua yang ada dalam hati mereka yang paling dalam.  Tepatnya dakwah dengan strategi terbaik ini dilakukan saat para lansia berada dalam tanggungan kita, oleh Allah kita diwajibkan untuk memperlakukan merekan dengan sebaik-baiknya. Firman Nya :

وقضى ربك ألا تعبدوا إلا إياه وبالوالدين إحسانا إما يبلغن عندك الكبر أحدهما أو كلاهما فلا تقل لهما أف ولا تنهرهما وقل لهما قولا كريما

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Apapun alasannya, dakwah terhadap orang tua terlebih lagi lansia, seharusnya senantiasa mengedepankan sikap terbaik,  prilaku yang bijaksana dan tutur kata yang memuliakan mereka harus selalu menjadi pilihan ungkapan kalimat dari seorang da’i.

Dakwah terhadap lansia juga dapat melalui strategi keumuman yang dijalankan oleh para da’I secara umum yakni :

  1. dengan hikmah,
  2. contoh teladan yang baik
  3. dan berdebat dengan cara terbaik.

بااحكمة و الموعظة الحسنة وجادلهم باالتي أحسن

             Selain itu juga dapat menempuh  strategi kelembutan  (layyinun) , hal ini sesuai firman Allah QS. Ali Imran 159 : فبما رحمة من الله لنت لهم ولو كنت فظا غليظ القلب لانفضوا من حولك (ال عمران: 159) Artinya :”Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (Q.S. Ali Imron : 159)

B A B   III

P E N U T U P

  1. Kesimpulan

Berdakwah kepada kaum lansia, seorang Da’i/Penyuluh Agama harus memiliki kompetensi yang mumpuni, pengalaman berdakwah yang luas, sensitive dan mampu melihat cela pada sisi kehidupan sasaran binaan (mad’uw) untuk menjamin keberhasilan dakwah secara tiba-tiba (imfromtu).

Disamping itu, seorang Da’i/Penyuluh Agama dituntut untuk menguasai teknik berdakwah,  metode yang diterapkan  sehingga terwujud kegiatan dakwah yang memiliki fariasi strategi yang tepat dalam kegiatan dakwah.

Sebagai pelaksana dakwah di kalangan kaum lansia, seorang Da’i/Penyuluh Agama   setidaknya menguasai strategi dasar berdakwah kepada objeknya (mad’uw) yakni :

  1. strategi balas budi/berterimakasih (asy syukru),
  2. strategi dakwah terbaik (ikhsanan) dan
  3. strategi kelembutan (layyinun)

Menerapkan strategi dalam berdakwah tentunya akan mengantarkan pada kesuksesan asimilasi sikap dai dan mad’uw dalam proses kegiatan dakwah yang pada gilirannya akan memberikan dampak pada keberhasilan dakwah dengan kata lain informasi dan edukasi materi dakwah dapat dicerna dengan baik sehingga harapan akan penghayatan dan pengamalan materi yang di dakwahkan terbuka lebar.

Biasanya hasil itu terlihat pada akhir pekerjaan, keshalehan dan ke thalehan seseorangpun sering menjadi penilaian manusia saat mereka mengakhiri hidupnya. Yaitu husnul khaatimah  atau justeru suu’ul khaatimah.

Jika berakhir dengan husnul khaatimah, maka perjalanan hidupnya kemungkinan besar akan dijadikan panutan hidup bagi orang lain dan bila sebaliknya, maka yang terjadipun akan sebaliknya.

Atas alasan inilah, dakwah kepada kaum lansia harus tetap dilaksanakan secara terus-menerus sebagai langkah preventif sekaligus upaya mencapai khusnul khatimah dalam menutup lembaran kehidupan di dunia yang fana ini.

Akhirnya, mengharapkan terwujudnya cita-citaاش كريما او مت شهيدا  bagi lansia akan sangat tergantung pada aspek pengetahuan (Kompetensi),   penghayatan kedalam jiwa (Afektif) penerapan (Psikomotor) materi dakwah sepanjang hayat mereka.

  1. Saran

Strategi dakwah yang penulis utarakan dalam makalah ini adalah hasil penelaahan penulis terhadap teori-teori dakwah dan teori strategi yang selanjutnya penulis padukan; sehingga – Segala puji hanya bagi Allah SWT. dan sanjungan shalawat serta taslim atas nabi sekaligus utusan-Nya – (Muhammad SAW). penulis berharap dalam do’a, semoga akan lebih mampu berfikir dan menganalisa maqashidusy syariat dan dapat mengembangkan pada disiplin pengetahuan lainnya.

Melalui kesempatan yang baik ini pula, penulis berasa untuk menggugah para ilmuan dan kalangan pemikir, kiranya berkenan untuk membaca dan menemukan celah dan kekeliruan alur berfikir dan statemen penulis dalam tulisan ini agar mendapat kritikan yang dapat dijadikan alasan perbaikan makalah atau sebagai pembading.

Daftar Kepustaakaan

  1. Muhammad Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penerjemahan/ penafsiran Al-Qur’an (1973),
  2. Ismah Ismail, Vol-1 (Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997)
  3. Muhammad Sayyid al-wakil, Prinsip dan Kode Eti Dakwah, Penerjemahan Nabhani Idris (Jakarta Akadamika Pressindo, 2002)
  4. Ensiklopedi Islam,
  5. Al-Wakil, Prinsip dan Kode Etik Dakwah.
  6. Rosyid Shaleh, Manajemen Dakwah Islam, Cet. Ke 1 (Jakarta: Bulan Bintang, 1997)

[1]       Muhammad Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penerjemahan/ penafsiran Al-Qur’an (1973), h. 127

[2]       Ensiklopedi Islam, Vol-1 (Jakarta: PT Ichtiar BARU Van Hoeve, 1997) h. 280.

[3]       Ismah Ismail, Vol-1 (Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997) h. 280

[4]       Muhammad Sayyid al-wakil, Prinsip dan Kode Eti Dakwah, Penerjemahan Nabhani Idris (Jakarta   Akadamika Pressindo, 2002).h.1

[5]       Ensiklopedi Islam, h.280

[6]       al-wakil, Prinsip dan Kode Etik Dakwah. H.1-2

[7]       A. Rosyid Shaleh, Manajemen Dakwah Islam, Cet. Ke 1 (Jakarta: Bulan Bintang, 1997)h. 280

[8]       Aliah B Purwakania Hasan, Psikologi Perkembangan Islami;Menyikapi Rentang kehidupan

         Manusia dari Prakelahiran Hingga Pasca Kematian(Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2006),117

[9]       Steve simajuntak.com

[10]     Aliah B Purwakania Hasan, Psikologi Perkembangan Islami,118-122

[11]     Al-Qur’an:Al-Nahl;70.

[12]     Jalaluddin, Psikologi keagamaan: (PT raja grafindo persada, 2007) hal 103.

Biodata Penulis

Nama                  :  Thalib Manhia, S.Sos.I

Nip                     :  197905152009011010

TT/Lahir             :  Paguyaman, 15 Mei 1979

Pekerjaan            :  Penyuluh Agama Islam

Unit Kerja          :  Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bone Bolango

Alamat kantor    :  Desa Ulantha Kecamatan Suwawa Kab. Bone Bolango Prov. Gtlo

Isteri                   :  Fatriyanti Ahmad, S,Pd

Anak                  :  1. Abdillah Al Fauzan T. Manhia

  1. Asma’ An Nazhifah T. Manhia
  2. ‘Alya Al Fajriyah T. Manhia
  3. Ahmad Al Faruq T. Manhia

Alamat               :  Jl. Rambutan, Perum Mansai Permai, Blok H no. 14,  Lingkungan II,

Kel. Huangobotu, Kec. Dungingi Kota Gorontalo

e-mail: PAIBonbol@gmail.com

  1. Thalib.Manhia.5@facebook.com

Pendidikan         :  SD Inpres Paris     lulus tahun 1994

MTs Al Khairaat Paguyaman        lulus tahun 1997

  1. Al Khairaat Kota Gorontalo lulus tahun 2000

Ma’had Al Birr Makassar lulus tahun 2002

IAIN Sultan  Amai  Gorontalo     lulus tahun 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *