SOSIALISASI PENYULUHAN KESEHATAN MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN: SOLUSI EFEKTIF KENDALIKAN INSIDENSI MALARIA PADA IBU HAMIL

Verdani Leoni Edrin dan Imadie Yaqzhan

Malaria merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan yang meresahkan masyarakat dinegara-negara seluruh dunia, terutama dinegara berkembang yang beriklim tropis, termasuk Indonesia. Namun, tak sedikit orang yang tidak peduli terhadap penyakit tersebut yang disebabkan oleh berbagai macam faktor. Padahal, malaria menyerang individu tanpa membedakan umur dan jenis kelamin. Malaria dapat mengenai orang dewasa maupun anak-anak dan dapat mengenai pria ataupun wanita. Selain itu juga dapat ditularkan secara langsung melalui transfusi darah atau jarum suntik yang tercemar. Tidak terkecuali pada ibu hamil yang ternyata juga merupakan golongan yang rentan terkena malaria. Malaria pada ibu hamil harus mendapatkan perhatian dan pengawasan lebih. Angka kematian ibu karena kehamilan dan persalinan, dan angka kematian bayi di Indonesia masih jauh lebih tinggi dibandingkan di negara maju. Sehingga menjadi tanda tanya, bagaimanakah cara mengendalikan penyakit malaria pada ibu hamil.

Malaria merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh protozoa obligat intraseluler yang hidup intra sel dari genus Plasmodium (Klas Sporozoa) yang menyerang sel darah merah. Penularan malaria dilakukan oleh nyamuk Anophelesbetina. Setiap tahun terdapat 300-500 juta kasus malaria di dunia. Menurut WHO kasus malaria tahun 2006 mencapai 250 juta dan penyebab 1 juta kematian utamanya anak balita. Di daerah yang terjangkit malaria, penyakit tersebut dapat menjadi penyebab utama kematian dan penghambat pertumbuhan anak. Di Indonesia, berdasarkan data Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) 1999 hingga tahun 2000, dikenal 4 (empat) macam spesies malaria tertiana, P. Falciparum sebagai penyebab malaria tropika yang sering menyebabkan malaria otak dengan kematian, P. Malariae sebagai penyebab malaria quartana, P. Ovale yang merupakan penyebab malaria sudah sangat jarang ditemukan. Namun malaria pada kehamilan dapat disebabkan oleh keempat spesies plasmodium tersebut, tetapi plasmodium Falciparum merupakan parasit yang dominan dan mempunyai dampak paling berat terhadap morbiditas dam mortalitas ibu dan janinnya.

Parasit malaria memerlukan dua hospes untuk siklus hidupnya, yaitu manusia dan nyamuk anopheles betina. Siklus manusia berawal pada waktu nyamuk anopheles infektif menghisap darah manusia, sporozoit yang berada dalam kelenjar liur nyamuk akan masuk ke dalam peredaran darah selama lebih kurang 30 menit. Setelah itu sporozoit akan masuk ke dalam sel hati dan menjadi tropozoit hati. Kemudian berkembang menjadi skizon hati yang terdiri dari 10.000 sampai 30.000 merozoit hati. Siklus ini disebut siklus eksoeritrositer yang berlangsung selama lebih kurang 2 minggu. Pada P.vivax dan P.ovale, sebagian tropozoit hati tidak langsung berkembang menjadi skizon, tetapi ada yang menjadi bentuk dorman yang disebut hipnozoit. Hipnozoit tersebut dapat tinggal di dalam sel hati selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. Pada suatu saat bila imunitas tubuh menurun, akan menjadi aktif sehingga dapat menimbulkan relaps (kambuh). Merozoit yang berasal dari skizon hati yang pecah akan masuk ke dalam peredaran darah dan menginfeksi sel darah merah. Di dalam sel darah merah, parasit tersebut berkembang dari stadium tropozoit sampai skizon ( 8 sampai 30 merozoit ). Proses perkembangan aseksual ini disebut skizogoni. Selanjutnya eritrosit yang terinfeksi (skizon) pecah dan merozoit yang keluar akan menginfeksi sel darah merah lainnya. Siklus ini disebut siklus eritrositer. Setelah 2 sampai 3 siklus skizogoni darah, sebagian merozoit yang menginfeksi sel darah merah dan membentuk stadium seksual yaitu gametosit jantan dan betina.

Siklus pada nyamuk anopheles betina dimulai apabila nyamuk anopheles betina menghisap darah yang mengandung gametosit, di dalam tubuh nyamuk, gamet jantan dan betina melakukan pembuahan menjadi zigot. Zigot berkembang menjadi ookinet kemudian menembus dinding lambung nyamuk. Pada dinding luar lambung nyamuk ookinet akan menjadi ookista dan selanjutnya menjadi sporozoit. Sporozoit ini akan bersifat infektif dan siap ditularkan ke manusia. Masa inkubasi adalah rentang waktu sejak sporozoit masuk sampai timbulnya gejala klinis yang ditandai dengan demam. Masa inkubasi bervariasi tergantung spesies Plasmodium. Masa prepaten adalah rentang waktu sejak sporozoit masuk sampai parasit dapat dideteksi dalam darah dengan pemeriksaan mikroskopik.

 Sporozoit pada fase eksoeritrosit bermultiplikasi dalam sel hepar tanpa menyebabkan reaksi inflamasi, kemudian merozoit yang dihasilkan menginfeksi eritrosit yang merupakan proses patologi dari penyakit malaria. Infeksi eritrosit ini mengakibatkan 250 juta kasus malaria dan 2 juta kematian setiap tahunnya di seluruh dunia. Proses terjadinya patologi malaria serebral yang merupakan salah satu dari malaria berat adalah terjadinya perdarahan dan nekrosis sekitar venula dan kapiler. Kapiler dipenuhi leukosit dan monosit, terjadi sumbatan pembuluh darah oleh roset eritrosit yang terinfeksi.

Malaria pada ibu hamil dapat menimbulkan berbagai kelainan, tergantung pada tingkat kekebalan seseorang terhadap infeksi parasit malaria dan paritas (jumlah kehamilan). Ibu hamil yang tidak memiliki sistem iun tubuh yang baik dan tinggal didaerah endemi malaria dapat menderita malaria klinis berat hingga menyebabkan kematian. Gejala klinis yang perlu untuk diperhatikan ialah demam, anemia, hipoglikemia, edema paru, akut, malaria serebral dan, malaria berat lainnya.

Prevalensimalariadalam kehamilandi bidangKesehatan KabupatenLiteService padaJanuari 2009hingga Juni2009 adalah3,2%. Enam puluhpersen adalahprimigravida, 100% ditunjukkangejalademam, menipu,dan berkeringat. Hanya 20% diagnostikdibuat dengan pemeriksaanRDT. 80% kasusadalahterapi denganklorokuindan 20% diminta untuk melengkapi pelayanan kesehatan. Dari kriteriaprognosis, 80% melahirkan bayiyang kuatdan kondisiibuyang baik, dan 20% bayidisampaikansudah mati.

Seakan tak mau kalah, malaria pun juga dapat mengenai janin jika seorang ibu hamil yang menderita malaria tidak segera ditangani yang dikenal dengan sebutan malaria plasenta. Seperti yang kita ketahui, Plasenta merupakan organ yang sangat aktif dan memiliki mekanisme khusus untuk menunjang dan mempertahankan hidup janin. Hal ini termasuk pertukaran gas yang efisien, transport aktif zat-zat energi. Jiwa ibu dan janin tergantung pada plasenta, baik tidaknya anak nanti bergantung pada baik buruknya faal plasenta. Terdapat satu fungsi plasenta yang berkaitan dengan pembahasan kita ini, yaitu plasenta sebagai barrier yang terbagi lagi menjadi barrier mekanis dan barrier physis. Barrier mekanis physis terhadap eritrosit, kuman dan molekul besar. Plasenta menghalangi masuknya kuman yang terdapat dalam darah ibu ke dalam janin, tapi virus yang terlalu kecil kadang tak terhalang oleh plasenta. Sedangkan fungsinya sebagai barrier kimiawi yaitu berapa zat yang masuk ke sinsitium akan diubah, seperti insulin yang berasal dari ibu.

Bila terjadi kerusakan pada plasenta, barulah parasit malaria dapat menembus plasenta dan masuk kesirkulasi darah janin, sehingga terjadi malaria kongenital. Beberapa penelitii menduga hal ini terjadi karena adanya kerusakan mekanik, kerusakan patologi oleh parasit, fragilitas dan permeabilitas plasenta yang meningkat akibat demam akut dan akibat infeksi kronis. Kekebalan ibu berperan menghambat transmisi parasit kejanin. Oleh sebab itu pada ibu-ibu yang tidak kebal atau dengan kekebalan rendah terjadi transmisi malaria intra-uretrin ke janin, walaupun mekanisme transplasental dari parasit ini masih belum diketahui.

Abortus, kematian janin, bayi lahir mati dan prematuritas dilaporkan terjadi pada malaria berat dan apa yang menyebabkan terjadinya kelainan tersebut diatas masih belum diketahui 32. Malaria maternal dapat menyebabkan kematian janin, karena terganggunya tarnsfer makanan secara transplasental, demam yang tinggi (hiper-pireksia) atau hipoksia karena anemial5. Kemungkinan lain adalah Tumor Necrosis Factor (TNF) yang dikeluarkan oleh makrofag bila di aktivasi oleh antigen, merupakan salah satu faktor yang dapat menimbulkan berbagai Kelainan pada malaria, antara lain demam, kematian janin, abortus. Umumnya infeksi pada plasenta lebih berat daripada darah tepi. Kortmann (1972) melaporkan bahwa plasenta dapat mengandung banyak eritrosit yang terinfeksi (sampai 65%), meskipun pada darah tepi tidak ditemukan parasit. Jadi tidak ada hubungan antara kepdatan parasit dalam darah tepi dan plasenta pada plasenta yang baik perkembangan kekebalannya. Sebaliknya pada wanita yang tidak kebal dari daerah non endemi, sering terdapat parasit ilmiah tinggi tanpa infeksi parasit yang berat pada plasenta. Jefile di Kampala Uganda melaporkan dari 750 wanita hamil yang diperiksa, 5,6% di antaranya menanggung parasit malaria dalam darah tepinya, tetapi pada pemeriksaan plasenta infeksinya mencapai 6,1%. Hal ini mungkin terjadi karena plasenta merupakan tempat parasit berkembang biak, seperti pada kapiler alat dalam lainnya.

Pada semua daerah, malaria maternal dapat dihubungkan dengan berkurangnya berat badan lahir, terutama pada kelahiran anak pertama. Hal ini mungkin akibat gangguan pertumbuhan intra-uretrin, persalinan prematur atau keduanya. Selama epidemi telah dilaporkan kelahiran prematur yang tinggi, mungkin hal ini berhubungan dengan gejala infeksi akut. Pertumbuhan lambat intra-uretrin pada malaria maternal berhubungan dengan malaria plasenta dan hal ini disebabkan oleh berkurangnya transfer makanan dan oksigen dari ibu ke janin. Tetapi hal ini bukan suatu mekanisme yang menghambat pertumbuhan intra uretrin, karena berat badan lahir rendah (BBLR) dilaporkan pada daerah dengan pervalensi malaria plasenta rendah. Laporan terakhir menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara BBLR dengan malaria plasenta. Hal ini berarti bahwa patofisiologi pertumbuhan lambat intra-uretrin pada malaria adalah multifactor. Sebagai contoh, anemia maternal berhubungan dengan BBLR baik di daerah endemi maupun pada daerah non endemi.

Insidens malaria plasenta dipengaruhi oleh paritas ibu yaitu lebih tinggi daripada primipara (persalinan pertama) dan makin rendah sesuai dengan peningkatan paritas ibu. Demikain pula berat badan lahir dipengaruhi oleh paritas ibu, ini dapat diterangkan bahwa pada multigravida kekeblan pada ibu telah dibentuk dan meningkat.

Tak dapat dipungkiri bahwa mencegah memang merupakan hal yang lebih baik dilakukan daripada mengobati. Namun, malaria kini sudah merajalela pada ibu hamil sehingga yang kita perlukan saat ini yaitu pengontrolan penyakit tersebut agar terjadi penurunan insidensi malaria pada ibu hamil. Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegah gigitan nyamuk dan penyebaran vektor malaria pada ibu hamil. Pengontrolan ini harus dilakukan secara holistik oleh berbagai kalangan, mulai dari keluarga, khususnya ibu hamil sendiri, tenaga medishingga institusi maupun pemerintahagar didapat hasil yang optimal.

Pengontrolan malaria dalam kehamilan tergantung pada derajat transmisinya. Derajat transmisi tersebut berdasarkan gabungan dari diagnosis dan pengobatan malaria ringan dan anemia ringan sampai moderat, kemoprofilaksis, penatalaksanaan komplikasi malaria berat yang termasuk anemia ringan, dan pendidikan kesehatan serta kunjungan yang teratur untuk Ante Natal Care (ANC). ANC teratur adalah dasar keberhasilan penatalaksanaan malaria dalam kehamilan, yang bertujuan untuk memberikan pendidikan kesehatan termasuk penyuluhan tentang malaria dan dampaknya (malaria serebral, anemi, hipoglikemi, edema paru, abortus, pertumbuhan janin terhambat, prematuritas, kematian janin dalam rahim, dan lain-lain) pada kehamilan di semua lini kesehatan (Posyandu, Pustu, Puskesmas dan Rumah Sakit). Memantau kesehatan ibu dan janin, serta kemajuan kehamilan, diagnosis dan pengobatan yang tepat (tepat waktu) dan memberikan ibu suplai obat untuk kemoprofilaksis  juga merupakan hal yang esensial dalam pengontrolan malaria pada kehamilan.

Pemakaian kelambu juga dapat dilakukan untuk mencegah kontak dengan vektor yang merupakan perlindungan pribadai pada ibu hamil. Selain itu dapat dilakukan pemeriksaan hemoglobin dan parasitologi malaria setiap bulan, pemberian tablet besi dan asam folat serta imunisasi TT lengkap, pemberian klorokuin 2 tablet dari minggu pertama datang atau setelah sakit sampai masa nifas pada ibu hamil non imun dan pemberian sulfadoksin-pirimetamin (SP) pada trimester II dan III awal pada ibu hamil semi imun didaerah non resisten klorokuin, serta pada daerah resisten klorokuin semua ibu hamil baik non imun maupun semi imun diberikan SP pada trimester II dan III awal.

Pada ibu hamil yang terkena malaria harus mendapatkan penanganan malaria di Puskesmas dan Ruamah Sakit yaitu jika ditemukan kriteria rawat jalan dan kriteria rawat tinggal. Kriteria rawat jalan mencakup terdapatnya gejala klinis malaria tanpa komplikasi, bukan malaria berat, dan parasitemia <5%. Sedangkan kriteria rawat tinggal yaitu jika ditemukan gejala klinis malaria dengan komplikasi, merupakan malaria berat, dan parasitemia >5%. Dengan penanganan yang tepat dan segera pada ibu hamil dapat menurunkan angka malaria plasenta pada janin.

Pemerintah pun dapat melakukan beberapa dalam pemberantasan malaria. Upaya pertama yang dapat dilakukan berupa komitmen internasional melalui pendekatan Roll Back  Malaria dengan strategi sebagai berikut: deteksi dini dan pengobatan yang tepat; peran serta aktif masyarakat dalam pencegahan malaria; dan perbaikan kualitas dari pencegahan dan pengobatan malaria melalui perbaikan kemampuan tenaga medis yang terlibat. Tak kalah pentingnya juga, pendekatan terintegrasi dari pemberantasan malaria dengan kegiatan-kegiatan kesehatan seperti promosi kesehatan dan berbagai kegiatan lainnya.

Kedua, menerapkan sistem kewaspadaan dini dan upaya penanggulangan epidemi agar penyakit malaria tidak semakin menyebar yang dapat dilakukan dengan cara diagnosis awal dan pengobatan yang tepat, intensifikasi pengawasan, dan kontrol vektor secara selektif. Kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah dalam pemberantasan malaria adalah dengan membangun kerjasama antar sektor. Bentuk operasional Roll Back Malaria adalah Gerakan Berantas Kembali Malaria atau GEBRAK Malaria, dimana program tersebut memprioritaskan kemitraan antara pemerintah, swasta/sector bisnis, dan masyarakat untuk mencegah penyakit malaria.

Ketiga, menggalakkan program pemberantasan malaria yang saat ini terdiri dari delapan kegiatan, yaitu : diagnosis awal dan pengobatan yang tepat, program kelambu dengan insektisida, penyemprotan, pengawasan deteksi aktif dan pasif, survey demam dan pengawasan migran, deteksi dan kontrol epidemik, langkah-langkah lain seperti larvaciding, dan peningkatan kemampuan (capacity building).

Keempat, pengawasan penyakit. Pengawasan penyebaran malaria yang dapat dilakukan dengan caramemastikan pelaporan data tepat waktu dari fasilitas kesehatan di lapangan, termasuk rumah sakit untuk memonitor insiden malaria,  mendeteksi dan membatasi wabah ledakan malaria, serta melaksanakan survey untuk menghitung prevalensi malaria yang merupakan bagian esensial dari pengawasan malaria.. Dalam pemilihan intervensi yang akurat seperti penyemprotan insektisida diperlukan penelitian terlebih dahulu untuk menentukan jenis populasi nyamuk dan habitat idealnya, tiap provinsi perlu melakukan survei secara teratur untuk memonitor daerah-daerah dengan parasit yang resisten terhadap obat-obatan malaria.

Kini dapat kita simpulkan bahwa malaria adalah penyakit parasit yang resikonya lebih tinggi pada ibu hamildibandingkan dengan mereka yang tidak hamil, terutama selama kehamilan pertama yang dapat menyebabkan infeksi plasenta, abortus, meninggal dalamkandungan, anemia dan berat badan lahir rendah.Pengaruh utama malaria selama kehamilan adalah terutama pada ibu danjaninnya. Dimana pada ibu dengan infeksi plasmodium falciparum dapat terjadi komplikasi beratseperti demam, anemia, hipoglikemia, malaria otak, edema paru merupakanyang utama mempengaruhi wanita-wanita dengan kekebalan rendah dan pada malaria plasenta dapat menyebabkan kematian janin, abortus,hiperpireksia, prematuritas dan berat badan lebih rendah. Oleh karena, itu perlulah dilakukan kontrol malaria pada kehamilan. Kontrol dapat dilakukan dengan kemoprofilaksis, kemoterapi, dan mengurangi kontak dengan vektor.

Apakah dengan kesimpulan diatas sudah bisa mengendalikan penyakit malaria? Belum tentu. Perlu kerjasama dalam penyuluhan dari berbagai pihak dalam mengatasi masalah ini, dimulai dari tenaga medis, instiusi maupun pemerintah. Dimana penyuluhan tersebutlah yang akan merubah menambah pengetahuan dan merubah pola pikir seseorang. Yang dahulu menganggap malaria merupakan penyakit yang ‘dikirim’ oleh dukun, kini mengerti bahwa memang lingkungan yang mereka tempati jg berperan penting terhadap penyakit malaria sehingga yang awalnya acuh tak acuh, kini peduli terhadap lingkungan. Dan pengetahuan yang luas tersebut dapat merubah perilaku seseorang menjadi lebih baik lagi. Sehingga penyuluhan kesehatan masyarakat dan lingkungan yang tepat dan menyeluruh, merupakan solusi efektif dalam mengendalikan insidensi malaria pada ibu hamil.

Dengan melakukan hal diatas kita dapat mengendalikan penyakit malaria yang menyerang ibu dan anak serta dapat membawa kita kepada masa depan Indonesia yang cerah dan bersinar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *