Longsoran adalah salah satu jenis bencana yang sering dijumpai di Indonesia, baik skala kecil maupun besar. Longsoran mudah terjadi pada tanah kohesif atau berbutir halus, dan pada saat jenuh air, karena pada saat tersebut nilai kuat geser dan kohesinya terendah. Sebagian besar longsoran (mass movement) di Indonesia terjadi pada musim hujan sebagai akibat masuknya air hujan pada tanah kohesif atau berbutir halus. Hal ini menyebabkan massa tanah bertambah, dan gaya geser antara masa tanah yang akan bergerak dengan lereng yang stabil semakin berkurang. Dimensi longsoran semacam ini umumnya tidak terlalu besar, dan sering terjadi pada alur sungai, sepanjang sungai dan pada timbunan tanah untuk jalan maupun tanggul.

Upaya penanggulangan longsoran biasanya dilakukan setelah terjadi, meskipun gejala longsoran dapat diketahui sebelum kejadian. Pada saat ini penanggulangan longsoran semacam ini dilakukan dengan membuat dinding penahan. Metode ini selain mahal, seringkali hanya bertahan dalam beberapa tahun dan tidak menyelesaikan masalah utamanya, yaitu tidak merubah sifat tanah kohesif yang memang mudah menyerap air.

Dalam bidang mekanika tanah perbaikan tanah kohesif dapat dilakukan dengan mencampur tanah dengan kapur tohor (Ca(OH)2) atau dengan semen dalam perbandingan tertentu, sesuai dengan jenis tanah kohesifnya. Dalam pembuatan timbunan tanah untuk jalan atau tanggul, dapat dilakukan dengan menebarkan kapur tohor pada permukaan tanah setempat, kemudian dicampur dengan bantuan alat berat dan dipadatkan dengan storm walles. Pelaksanaan perbaikan tanah semacam ini tidak dapat dilakukan pada lereng atau bagian lereng yang berpotensi longsor, sehingga pembuatan dinding penahan merupakan cara yang paling populer. Metode lain yang saat ini dikembangkan adalah dengan memasang geogrid atau geotekstil, atau kombinasi antara dinding penahan dan geotekstil. Ketiga metode ini sampai saat ini masih mahal. Penanaman pohon dengan akar tunjang juga sangat dimungkinkan, tetapi perlu waktu lama untuk tumbuh.

Upaya pencegahan logsoran dapat dilakukan dengan membangun dinding penahan atau dengan geotekstil, namun metode ini masih dianggap terlalu mahal. Untuk itu perlu dicari metode lain yang mudah dilakukan dan berbiaya rendah. Elektrochemical injection adalah metode penyemenan material berbutir halus dengan memanfaatkan fenomena elektroosmosis, yakni aliran zat yang dapat terpolarisasi sebagai akibat beda potensial, atau adanya arus listrik. Bedanya, metode ini memanfaatkan fenomena tersebut untuk mengalirkan cairan perekat (semen) agar tanah mempunyai kuat geser lebih tinggi. Metode ini telah dimanfaatkan oleh beberapa ahli geoteknik di Jerman untuk mempercepat proses konsolidasi tanah dan memperbaiki tanah di bawah pondasi akibat penurunan air tanah atau pelarutan, dan kemungkinan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan stabilitas tanah agar potensi longsoran berkurang