Kima merupakan hewan laut yang bersifat protandrous hermaphrodites yang berarti setiap individu Kima dilengkapi oleh sel – sel telur dan sperma namun pemijahannya selalu didahului oleh pengeluaran sperma, kemudian diikuti oleh pelepasan telur, hal itu terjadi karena saluran reproduksi berada lebih dekat dengan sel sperma dibandingkan dengan sel telur (Wada, 1994; Knop, 1996). Pengeluaran sel-sel gamet tersebut diatas pada umumnya dirangsang oleh keadaan fisik lingkungan perairan maupun zat-zat kimia yang terkandung didalamnya. Hidrogen peroksida (H2O2) diduga mempunyai pengaruh merangsang pengeluaran sel-sel gamet (spawning) (Morse et al., 1977). Larva yang baru berumur 2 hari tidak memiliki zooxanthellae dan bersifat filter feeder terhadap fitoplankton sebagai makanannya (Lucas, 1988). Kebanyakan individu muda Kima adalah jantan dan sifat hermaproditnya baru muncul setelah dewasa.
Setelah pengeluaran sperma dan pelepasan sel telur maka terjadi fertilisasi. Telur yang telah dibuahi akan berkembang cepat menjadi trocophor (stadium trocophor). Zygot ini kemudian berkembang ketingkat yang lebih tinggi menjadi veliger (stadium veliger) yang bersifat planktonik. Kedua stadium diatas disebut stadium burayak (larva). Perkembangan secara lengkap fase – fase setelah fertilisasi pada Kima berlangsung antara 24 – 48 jam. Secara umum stadium veliger cangkang transparan dan berbentuk huruf D sehingga disebut D-veliger. Veliger Kima bersifat lecitotrofik, artinya hidup bergantung pada persediaan kuning telur (Heslinga, 1989 dalam Panggabean, 1991a). Setelah Kima berumur 10 hari veliger akan bermetamorfosis menjadi pediveliger selama kurang lebih 2 – 8 hari kemudian berubah menjadi juvenil yang ditandai dengan Kima berada didasar perairan atau settle (Romimohtarto et al., 1987).
Sebagai organisme yang sebagian besar hidup di laut dangkal dan di sekitar terumbu karang, Kima bersimbiosis dengan alga bersel satu yang lebih dikenal dengan nama zooxanthellae. Tumbuhan tersebut hidup pada mantel dan mendapat suplai karbondioksida dan senyawa – senyawa ammonia yang berasal dari jaringan mantel. Hasil fotosintesis dari zooxanthellae dimanfaatkan oleh Kima untuk tumbuh dan berkembang (Braley, 1992).
Laju pertumbuhan Kima berbanding terbalik dengan kelangsungan hidupnya. Pertumbuhan awal Kima relatif sangat cepat 7 – 14 hari (Gwyther dan Munro, 1981). Mortalitas larva dan juvenile Kima sangat tinggi. Menjelang dewasa, mortalitasnya berangsur – angsur turun sampai rendah sekali, setelah melewati kedewasaan kelulushidupan Kima dapat mencapai 96% (Munro, 1986).
Dilihat dari cara hidupnya suku Tridacnidae dapat dibedakan menjadi 2 golongan. Golongan pertama meliputi jenis-jenis kima yang hidupnya membenamkan diri pada Terumbu Karang baik seluruh atau sebagian saja dari cangkangnya. Golongan pertama ini meliputi Tridacna crocea dan Tridacna maxima. Golongan kedua adalah jenis kima yang hidupnya menempel atau bebas diantara batu Karang atau hidup bebas didasar yang berpasir didaerah terumbu. Jenis Kima dari golongan kedua ini meliputi Tridacna gigas, Tridacna derasa, Tridacna squamosa, Hippopus hippopus dan Hippopus porcellanus (Kastoro 1979).
            Golongan pertama disebut juga golongan pembor (boring form). Mekanisme pemboran dari jenis kima ini dimulai ketika masih kecil/anak (spat) yang mulai aktif melakukan pemboran kira-kira pada ukuran 1 cm – 2 cm, dengan gerakan yang teratur mereka menekankan badannya pada batu karang sehingga akhirnya  seluruh atau sebagian dari cangkangnya masuk kedalam batu karang. Pemboran dilakukan oleh bagian engsel (hinge) dengan posisi menghadap keatas. Kima juga mempunyai alat perekat yang kuat berupa bysus yang terbentuk dari bahan gel (gelatin) yang disekresikan melalui lubang yang disebut bysal orifise (Rosewater 1965). Adanya alat perekat ini menyebabkan jenis kima lebih kuat menempel pada substrat.
Golongan kedua adalah jenis kima yang cara hidupnya bebas, menempel atau terbaring diantara batu karang atau dasar yang berpasir didaerah Terumbu karang. Pada umumnya golongan kima ini mempunyai ukuran yang lebih besar bila dibandingkan dengan kima golongan pertama. Hal ini merupakan adaptasi dalam hidupnya, karena jenis kima ini pada umumnya tidak mempunyai alat perekat ataupun kalau ada hanya kecil sekali. Dengan ukuran tubuh yang besar dan berat meraka mampu mempertahankan posisinya sekalipun dihempas oleh arus dan ombak.
BUTUH DAFTAR PUSTAKA KLIK DISNI