Sejarah Penemuan Sel

Penemuan susunan sel dalam organisme adalah bersamaan dengan permulaan pemakaian mikrosop cahaya. Antonie van Leeuwenhoek (1632–1723) merancang sebuah mikroskop kecil berlensa tunggal. Mikroskop digunakan untuk mengamati air rendaman jerami. Dan menemukan organisme yang bergerak-gerak di dalam air, yang kemudian disebut bakteri. Antonie van Leeuwenhoek merupakan orang pertama yang menemukan sel hidup (Subowo, 2007).




Pada tahun 1665, Robert Hooke mengamati sayatan gabus dari batang Quercus suber menggunakan mikroskop, dan menemukan adanya ruang-ruang kosong yang dibatasi dinding tebal dalam pengamatannya. Robert Hooke menyebut ruang-ruang kosong tersebut dengan istilah cellulae artinya sel.

Organisme tumbuh-tumbuhan dan hewan terdiri atas kumpulan sel-sel. Schwan mengemukakan teori sel, yaitu bahwa sel sebuah organisme; hingga hewan maupun tumbuhan merupakan kumpulan sel dan organisme. Haeckel membagi dunia hewan berdasaran jumlah sel yang membentuknya menjadi protozoa (hewan bersel tunggal) dan metazoa (hewan bersel banyak). Albert kolliker menemukan spermatozoon dan ovum yang dianggap sebagai unsur histologi yang merupakan asal dari organisme baru. R.Vichov (1838) menngemukakan bahwa proses patologi terdapat pada sel dan jaringan.

Struktur dan Fungsi Bagian-Bagian Sel

Sel merupakan unit terkecil dalam kehidupan, Struktur sel dibagi menjadi struktur sel prokariotik dan eukariotik. Perbedaan struktur sel tersebut dikarenakan ada atau tidaknya membran inti, yaitu selaput pembungkus pada inti sel. Dengan tidak adanya selaput inti maka materi genetik akan mengalami kontak langsung dengan sitoplasma. Sel eukaiotik memiliki organel yang lebih kompleks dibandingkan sel prokariotik. Sel eukariotik pada sel tumbuhan dan sel hewan berbeda. Pada sel tumbuhan terdapat dinding sel yang merupakan pelindung organel-organel di dalam sel. Selain itu terdapat plastida pada sel tumbuhan yang berperan dalam proses fotosintesis, sedangkan pada sel hewan tidak terdapat dinding sel dan plastida.

  • Nukleus

              Nukleus atau inti sel berperan sebagai pengendali kegiatan sel. Nukleus merupakan organel terbesar yang berada dalam sel. Nukleus berdiameter sekitar 10 µm. Nukleus biasanya terletak di tengah sel dan berbentuk bulat atau oval. Pada umumnya sel organisme berinti tunggal, tetapi ada juga yang memiliki lebih dari satu inti. Salah satu fungsi nukleus adalah mengontrol perpindahan molekul antara nukleus dan sitoplasma .

  • Membran Plasma

Sel atau membran plasma tersusun atas lapisan rangkap molekul lipid yang diapit oleh lapisan protein. Tersusunnya molekul-molekul lipid dalam dua lapisan tersebut tidak lain disebabkan oleh sifat-sifat khusus dari molekul lipid sendiri. Molekul fospolipid terdiri dari dua bagian; bagian hidrofilik dan hidrofobik. Hidrofilik merupakan gugus polar yang merupakan bagian kepala lipid yang menyenangi air, sedangkan hidrofobik merupakan gugus non polar yang merupakan bagian ekor lipid yang menjauhi air. Membran plasma berfungsi memfilter bahan-bahan yang melintasinya dengan tetap memelihara perbedaan kadar ion di luar dan di dalam sel. Bahan-bahan yang diperlukan oleh sel dapat masuk, sedangkan bahan-bahan yang merupakan limbah sel dapat melintas ke luar sel.

Membran inti membungkus nukleoplasma, cairan kental yang mirip dengan sitopasma. Nukleolus merupakan bagian dalam dari nukleus.

  • Sitoplasma

Sitoplasma mengandung 75-85% air, 10-20% protein, 2-3% lipid, dan 1% bahan anorganik. Air berfungsi sebagai pelarut alami bagi ion mineral dan bahan-bahan lain serta untuk medium dispersi bagi sistem koloid dalam protoplasma, air juga digunakkan untuk mengeluarkan bahan-bahhan dari sel dan menyerap panas. Garam dan ion, garam terurai menjadi kation (misalnya Na+, K) dan anion (misalnya Cl) yang penting untuk menjaga tekanan osmosis dan keseimbangan asam basa sel. Makromolekul dalam bentuk polimer, yaitu sebagai asam nukleat, polisakarida, dan polipeptida serta protein. Karbohidrat yang terdiri karbon, hidrogen dan oksigen merupakan sumber energi bagi sel (Subowo, 2007).

  • Retikulum Endoplasma (RE)

Retikulum Endoplasma (RE) ini terdiri dari jaringan tubula dan gelembung membran yang disebut sisterna. Retikulum Endoplasma (RE) ditemukan pertama kali oleh Porter dkk. tahun 1945. Nama RE diambil karena strukturnya sebagai anyaman. Berdasarkan atas ada tidaknya ribosom pada permukaanya, dibedakan dua macam retikulum endoplasma, yaitu :

  1. Retikulum Endoplasma kasar (rough endoplasmic reticulum = rER). Pada permukaan luar membran retikulum endoplasma kasar terdapat butir-butir ribosom.
  2. Retikulum Endoplasma halus (smooth endoplasmic reticulum = sER) pada strukturnya yaitu tidak memiliki ribosom pada permukaan membrannya dan sebagian besar berbentuk tubuler yang saling beranyaman.
  • Ribosom

Ribosom merupakan organel tempat berlangsungnya sintesis protein. Ribosom terdiri dari sub unit kecil dan sub unit besar yang mengandung rRNA dan protein. Sub unit kecil (40 S) dan sub unit besar (60 S) dari ribosom, sebagai mesin pembentuk protein dilengkapi tRNA dan mRNA serta rantai polipeptida yang telah terangkai. Ribosom membangun protein dalam dua lokasi sitoplasma. Ribosom bebas tersuspensi dalam sitosol, sementara ribosom terikat dilekatkan pada retikulum endoplasma. Ribosom dapat berada bebas dalam sitoplasma atau menempel pada gelembung-gelembung yang berdinding membran.

  • Badan Golgi

Badan golgi terdiri dari kantung membran yang pipih-sisterna yang tampak sebagai tumpukan roti . Badan golgi berfungsi untuk pengangkutan intraseluler. Protein yang  terbentuk dari RE kasar akan ditampung dalam aparatus golgi dibagian sakula. Isi dalam sakula mengalami perubahan-perubahan konensasi menjadi lebih pekat. Isi sakula diangkut melalui vesikel sekretoris. Vesikula skretori akan segera melepaskan isi sakula setelah menerima isyarat yang diperlukan .

  • Mitokondria

Struktur mitokondria terdiri dari dua lapisan lipid. dinding sebelah dalam melipat-melipat membentuk sekat-sekat yang sekat-sekat yang disebut cristae mitokhondriales. Krista membuat mitokondria mempunyai suatu permukaan yang luas yang bisa meningkatkan produkivitas respirasi seluler. Diameter mitokondria sekitar 0,35-0,74 mikron. Di dalam mitokondria terdapat cairan yang lebih padat dari sitoplasma yang disebut matriks mitokondria. Di dalam mitokondria ditemukan DNA, RNA dan ribosom. Dengan adanya DNA, RNA dan ribosom sendiri di mitokondria, maka mitokondria mampu membuat proteinnya sendiri.

  • Lisosom dan Perioksisom

Lisosom merupakan kantung terikat membran dari enzim hidrolitik yang digunakan oleh sel untuk mencerna makromolekul. Lisosom memiliki fungsi sebagai fagosit yang mampu memfagositosis granulosit, monosit dan makrofag yang banyak mengandung gelembung-gelembung  lisosom. enzim hidrolisis,  yaitu protase, glikosidase, lipase, fosfolipase dan fosfatase. Pada pengamatan dengan menggunakan mikroskop elektron enzim fosfatase memberikan gambaran gelap .

Perioksisom dapat diperoleh bersama dengan lisosom dalam endapan setelah disentrifugasi. Prioksisom mempunyai diameter 0,5 mikron yang mengandung enzim oksidatif, yaitu oksidase, D-amino, oksidase urat dan katalase.

  • Sentriol

Sentriol terdapat ditengah dekat salah satu kutub inti. Dengan menggunakan mikroskop cahaya sentriol hanya nampak sebagai dua buah titik kecil dalam daerah sitoplasma yang jernih. Mikrotubulus merupakan silinder panjang dan sempit yang terdiri dari tubulus protein . Mikrofilamen merupakan serat yang mengandung protein aktin .

  • Dinding Sel

Dinding sel merupakan lapisan yang berfungsi untuk melindungi, mendukung, dan memberi bentuk pada sel. Sel hewan tidak memiliki dinding sel tetapi sel tumbuhan memilikinya. Pada sel tumbuhan yang masih muda dapat menyekresikan pektin dan polisakarida ke luar permukaan membran.

  • Plastida

Plastida merupakan organel bermembran yang berfungsi dalam fotosintesis atau penyimpanan pada sel tumbuhan. Kloroplas, kromoplas dan amiloplas merupakan plastida umum .

Kloroplas merupakan organel yang berfungsi khusus untuk fotosintesis. Kloroplas berbentuk oval atau lempengan. Stroma merupakan cairan kloroplas yang berguna untuk menyimpan hasil fotosintesis.

Kromoplas merupakan tempat membuat dan menyimpan pigmen selain klorofil. Kromoplas memiliki karotenoid dalam jumlah besar, pigmen yang memberi warna ungu atau jingga pada bunga, daun, buah dan akar. Amiloplas adalah plastid tidak berpigmen yang menyimpan butiran pati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *