Studi mengenai proses menua  telah dikenal jauh  dalam sejarah. Dalam sebuah literatur kuno, tercantum bahwa Aristoteles mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar proses menua. Dia berdiskusi mengenai umur harapan hidup, teori penuaan, dan umur maksimal dari berbagai spesies. Kemudian Galen dan Roger Bacon turut memberikan kontribusi berupa literatur-literatur yang topiknya seputar masalah penuaan.
Pada zaman Renaissance, Francis Bacon menulis sebuah tulisan berjudul “History of Life and Death”. Sebuah monograf yang ditulis oleh Joseph Freeman menampilkan sebuah kilas balik yang menakjubkan yang berisi catatan sejarah mengenai riset seputar masalah penuaan yang dilakukan lebih dari 2500 tahun yang lalu. Sejak zaman dulu, ada dua hal yang saling bertentangan, yaitu aksi anti lanjut usia dan mereka yang menganggap para lanjut usia adalah komunitas yang penting dalam kehidupan sosial. Contoh nyata pertentangan ini dapat ditemukan di Mesir pada upacara peringatan raja Amenophis III dimana pada upacara ini para lanjut usia dibunuh.
Orang Jepang, yang tinggal berdekatan dengan Cina, mencontoh cara berbakti kepada orang tua dari kebudayaan cina. Pada abad ke-8 sebelum masehi, kekaisaran Congo menciptakan pelayanan kesehatan tidak hanya untuk para orang sakit tapi juga bagi para orang tua dan tidak mampu, dari hal-hal yang telah disebut diatas, terlihat bahwa budaya Cina lebih unggul dan merupakan contoh terbaik dari peradaban dimana para orang tua dianggap mulia dan diberi perlakuan khusus serta patut dihormati. Dari awal mereka telah menetapkan sistem patriakal dimana orang tua adalah inti dan sumber dari kebijaksanaan.

MASA KUNO
Mesopotamia
Kira-kira tahun 1800 sebelum masehi, raja hammurabi menerapkan dalam kode hammurabi yamg merupakan kitab hukum pertama yang beberapa isinya berkaitan dengan kedoktran. Budaya empirik dan religius ini terpahat di batu nisan yang dinamakan cuneiform. Dalam kode ini ditetapkan biaya dan penghargaan yang diberikan pada konsultan pengobatan, juga hukuman berat seperti pemotongan tangan kepada mereka yang melakukan malpraktek.
Mesir
Budaya mesir berkembang bersama ilmu kedokterannya yang merupakan perintis dari ilmu kedokteran sains di lembah sungai Nil. Yang terpenting ditulis oleh Edwin Smith. Sekarang tulisan tersebut dapat ditemukan di Universitas Leipzig.
Tulisan ini lebih kearah internal seperti anatomi, fisiologi dan patologi. Semua itu merupakan catatan pertama tentang proses menua. Menurut tulisan ini penyakit merupakan suatu hasil dari proses menua. Penyakit menua ini diantaranya adalah gagal jantung yang mana menurut suku mesir jantung merupakan pusat dari kehidupan, pemikiran dan ini juga menunjukkan kenapa patung mumi tidak boleh disentuh.
Cina
Pada jaman dahulu kala, orang hidup berdasar pada Tao, The Principle . Mereka selalu patuh pada Yin dan Yang, mereka bijak, memiliki hidup yang sederhana dan teratur. Karena hal tersebut badan dan roh mereka sehat sehingga mereka dapat hidup ratusan tahun lamanya dan dalam keadaan sehat. Disini terlihat adanya perhatian mereka terhadap proses menua. Pada masa ini gaya dan cara hidup menjadi tidak sehat sehingga sulit untuk mencapai usia 50 tahun. Orang bijak mengajarkan bahwa perlu untuk memiliki hidup yang sederhana, memiliki energi yang sesuai sehingga penyakit tidak mudah menyerang tubuh sehingga umur dapat diperpanjang.
Israel
Israel merupakan sebuah peradaban yang lain yang peduli terhadap lanjut usia. Mereka memiliki gaya peradaban yang mirip dengan Cina. Mereka percaya bahwa penuaan membawa kekuatan yang diberikan oleh Tuhan.

PERIODE YUNANI-ROMAWI
Yunani
Pada zaman kejayaan Romawi praktek pengobatan dilakukan hanya untuk para pemimpin dan orang-orang yang dituakan. Simbol ular yang dipakai sebagai dalam ilmu pengobatan berasal dari sini.
Di Lonia perkembangan filosofis naturalis dimulai dari kisah Miletus. Dia adalah seorang pengembara dan dia belajar dari Mesir dan negara lainnya. Dia mengembangkan suatu sistem yang menjelaskan tentang dunia dan manusia berasal dari empat elemen alam (tanah, air,udara dan api) dan komponen lain. Ini mendasari untuk dilakukan observasi dan penelitian, mengatasi dasar sebab-musabab dan dalil yang telah ditemukan oleh manusia satu setelah yang lainnya. Hal tersebut adalah pengetahuan awal dan merubah dunia orang Yunani menjadai ahli filsafat (ilmu kejiwaan), contohnya Phytagoras, ia menyumbangkan ilmu berhitung dan keselarasan, pencapaian keseimbangan dari keempat elemen, di mana keseimbangan menghasilkan kesehatan.
Analisa filsafat membawa akibat baik dalam bidang ilmu kedokteran. Hyprocrates sangat mengerti kemajuan dalam ilmu kedokteran, ia mampu membalikan metode-metode ilmu kedokteran yang ada. Celsius dan Galen menyebut Hipocrates sebagai bapak ilmu kedokteran.
Hyprocrates merupakan seorang dokter yang sangat teliti ketika menguji dan mengintepretasi teknik-teknik kedokteran, hal ini sama baiknya ketika ia mengobservasi seorang pasien yang berumur tua, serta mengobservasi kebiasaan dan suasana hati pasien dan ia juga tidak pernah kehilangan kemampuan untuk melewatkan bagian emosional dari pasien. Hyprocrates mengamati ada penyakit tertentu yang sering kali menyerang orang yang lebih tua, diantaranya: dyspnoe, demam, dysuria, nyeri sendi, penyakit ginjal, vertigo, ayan, kekurangan gizi, pruritus di seluruh badan, insomnia, gangguan usus, kelembaban pada mata dan hidung, daya ingat yang berkurang, katarak, dan ketulian. Sebagai tambahan pada lanjut usia juga sering terjadi penyakit ginjal dan penyakit kandung kemih yang susah untuk disembuhkan.
Romawi
Pada masa romawi ini muncul seorang internis yang paling terkenal, yaitu : Areteus dari Capodicia. Dia dianggap dokter paling terkenal pada masanya oleh para penilik sejarah, menempatkan dia di antara Hypocrates dan Galen. Karyanya yang paling penting adalah “De cousis et signis morborum” di karya inilah ia mempertahankan doktrin yang paling alami mengenai penyakit.
Tokoh terkemuka lainnya adalah Cornelius Celsius. Menurut beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh Alexander Selechenick (1996) dan Lipowski (1980-1981), Celsius adalah orang yang memperkenalkan istilah delirium dan dementia.
Galen adalah seorang ahli dalam ilmu kesehatan pada masanya, ia menulis sebuah karya bernama Gerontocomy. Dalam karyanya, dia mengeluarkan nasehat yang bisa mencegah penyakit untuk mendapatkan kesehatan jasmani dan mental pada usia tua dan menganggap bahwa usia tua merupakan batasan antara kesehatan dan penyakit, hal ini sangat berlawanan dari Teori Hypocrates.

PERIODE PERTENGAHAN
Periode pertengahan dimulai setelah tahun meninggalnya Galen bersamaan dengan invasi Jerman pada zaman Romawi. Periode ini terbagi menjadi tiga budaya, yaitu : Byzntine, Arab, dan Kristen Barat.
Byzantine
Ilmu kedoktran Byzantine berlangsung dengan peralatan kedokteran yang minimal. Pada masa ini sudah terdapat rumah sakit dan panti asuhan, bantuan kepada fakir miskin, dan mereka menekankan cinta dan amal, juga menekankan perawatan pasien tanpa memandang asal-usul mereka. Periode ini merupakan awal dari munculnya gerontologi sosial.
Arab
Rhazes (Abu Bakar Muhamad Bin Zakariya al-Rhazi)merupakan orang pertama dan dianggap yang terbaik di dalam bidang kedokteran klinik. Dia menulis suatu karya kedokteran yang dinamakan kitab Al Mansuri atau Liber de Medicina ad Almansorem, dimana kitab ini diterjemahkan dalam bahasa latin oleh Gerald of Cremona pada tahun 1170 secara sistematis yang isinya mengenai anatomi, fisiologi dan patologi kedokteran. Pada kitab ini terdapat tulisan mengenai kehidupan orang tua dan orang jompo.
Pada masa ini muncul salah satu pelopor geriatri yang bernama Corovan. Ia memperkenalkan tata cara hygiene untuk orang tua, pencegahan konsumsi alkohol, dan mengatur pola makan, serta mencoba mengatur frekuensi kunjungan dokter.
Kristen Barat
Pada masa pertengahan inilah kekuatan komunitas Kristiani berjaya. Perhatian khusus terhadap pasien di dalam pengobatan dan perawatan sudah cukup baik. Pada masa ini selain itu perkembangan ilmu geriatri di fakultas-fakultas kedokteran sudah cukup berkembang. Selain itu perhatian terhadap proses menua serta masalah-masalah sosial yang erat kaitannya dengan proses menua juga sudah mulai timbul. Pasien lanjut usia sudah mulai diterima meskipun pada masa ini sering terjadi diskriminasi pada lanjut usia.

PERIODE AMERIKA
Latar belakang
Berkenaan dengan dengan ilmu pengobatan di Amerika, sama seperti semua penduduk kuno lainnya, penduduk di Amerika kuno percaya bahwa penyakit berhubungan dengan kekuatan supranatural dan penyembuhannya dilakukan dengan cara yang ajaib dengan upacara spiritual yang ditampilkan oleh kepala suku.
Kebudayaan Mesoamerika
Kebudayaan Mesoamerika meliputi suku Aztec di Meksiko dan suku Maya di Yucatan dan Guatemala. Di kedua kebudayaan ini orang tua dianggap sebagai kelompok yang istimewa dimana mereka menerima pujian, penghormatan dan upeti. Pengetahuan dalam ilmu kedokteran masih sangat minim sehingga hanya mengandalkan pendeta. Diagnosa penyakit hanya didasarkan dari perkiraan, serta melalui upacara dan ramalan.
Kebudayaan Andean
Gomez dan Curcio mengemukakan bahwa suku  Inca memberikan penerapan khusus kepada orang lanjut usia, sebagai contoh mereka menerapkan aturan bahwa orang-orang yang berusia lebih dari 50 tahun tidak diberangkatkan untuk perang, serta menawarkan pelayanan pribadi atau emigrasi, sedangkan mereka yang berusia 80 tahun cukup bekerja mengawasi rumah atau dilayani.
Akhir penjajahan
Pada masa penjajahan, bangsa Spanyol memimpin daerah jajahan di Amerika Tengah dan Selatan, dan bangsa Portugis menguasai Brazil. Pada abad 16, ilmu kedokteran bangsa Spanyol telah memiliki level yang tinggi dan sebuah kelompok telah dikirim ke daerah jajahan. Pusat penelitian tumbuhan telah diciptakan dan telah mempelajari lebih dari 300 tanaman obat.
Penjajahan di Utara, dipelopori oleh Prancis dan Inggris. Pada tahap awal kedua negara tersebut tidak memberikan negara jajahannya suatu dukungan nyata untuk pelayanan kesehatan sampai abad ke-18.
Perhatian terhadap pelayanan kesehatan dimulai ketika John Morgandan William Schippen mendirikan sekolah kedokteran pertama di Universitas Pennsylvania (1765).

PERIODE REINASSANCE
Pada abad ke-15, dimulailah suatu zaman yang disebut sebagai ”Reinassance”  di Eropa. Periode ini memberikan suatu momentum sosial pada ilmu pengetahuan yang ditandai dengan adanya dorongan-dorongan baru dalam bidang seni dan kesastraan, serta perubahan pada bidang agama, penemuan dan kolonisasi suatu benua baru (Amerika). Terdapat juga kemajuan di bidang medis, terutama anatomi. Pada masa ini muncul Paracelcus(Theophrastus Bombastus Von Hohenheim) dia adalah pengkritik pengobatan dan farmasi kuno. Dia menulis beberapa karya dalam bidang pengobatan dan filosofi, yang semuanya diedit pada tahun 1541, setelah kematiannya. Dia membuat penelitian penting dalam penuaan. Dia menegaskan bahwa para individu adalah entitas kimia yang mana jika diracuni maka penuaan akan terjadi. Kemudian proses oksidasi dianggap sebagai komplikasi pada penuaan.
Leonardo da Vinci merupakan salah satu orang yang luar biasa pada zaman Reinassance, ia adalah orang yang membuat gambar anatomi manusia. Selain itu, Leonardo menulis bahwa hilangnya elastisitas dari arteri (ateriosklerosis) terjadi dalam pembuluh darah dari orang tua. Seorang Italia bernama Gabrielle Zerbi (1502) menggambarkan hubungan antara tonus vagina dari testikel dan peritonium dan serat otot perut transversal. Pada karyanya yang bernama Gerontocomia(1489), ia menegaskan konsep Gallenical, dan juga menambahkan perlunya untuk meningkatkan kondisi lanjut usia khususnya dari sudut pandang nutrisi dan aktivitas fisik.
Sekitar tahun 1537, H.Stromel, dekan dari fakultas kedokteran di Leipzig, yaitu seorang ahli yang cerdas pada masa itu menulis suatu monograf yang disebut Decreta Medica de Sectute, dimana dia menekankan pada beberapa fakta mengenai usia panjang dari sudut pandang klinis.
Seorang ilmuwan dari Venezia, Luigi Cornaro menulis buku pada tahun 1588, ketika dia berumur hampir 100 tahun yang diberi judul Discolsi Imtormo Alla Vitasobria. Pada buku tersebut tercantum tulisan mengenai peraturan higienis pada usia tua, dia juga menetapkan aturan hidup yang sederhana untuk orang tua, yaitu melakukan diet terhadap daging, roti, kuning telur, dan sedikit anggur.
Sebuah karya yang menarik dipublikasikan pada tahun 1585 bernama Gerracologig oleh Brisentus. Karya itu membahas tentang masalah kesehatan dan perawatan terhadap beberapa penyakit yang sering terjadi pada orang tua, seperti inkontinensia, ia menganjurkan orang tua untuk melakukan diet supaya awet muda dengan mengkonsumsi makanan yang sehat. Pada abad yang sama, Robert Burton, pada karyanya yang bernama Anatomi of Melancholy, terdapat penjelasan yang rinci mengenai hubungan antara penuaan dengan kesedihan, dia menjelaskan arti dari kejadian alamiah yang dialami oleh orang-orang dan kemungkinan hal ini dipengaruhi oleh rasa kesepian terutama terhadap orang lanjut usia.

PERIODE BAROQUE
Pengobatan Baroque terjadi pada abad ke-17 dan 18. Pada periode ini ditemukan mikroskop, termometer, kanul trakeostomi, dan pulsilogium, penemuan ini memungkinkan peningkatan yang lebih rasional dan efektif dari diagnosa, patologi dan terapi penyakit.
Pada masa ini banyak muncul ilmuwan-ilmuwan pada berbagai bidang kedokteran. Anselmus pada tahun 1606 menulis Geromica Seude Senum Regimene, ia menetapkan metode-metode pencegahan terhadap penyakit mental. Pada tahun 1644, W. Salomon, menjelaskan dalam bukunya Defects of  Imagination, Reason and Memory of a very Dear Man, sebuah kasus medis dimana ia menemukan seorang pasien yang dianggap orang gila tetapi dari hasil diagnosanya pasien tersebut hanya mengalami kemunduran mental. Dia juga menunjukkan defek di area kognitif sebagai penyebab terjadinya dementia senilis. Sebiz (1641) dan G.H. Welsch (1655) mempublikasikan suatu artikel yang berhubungan dengan kebersihan dan nutrisi kaum muda. James Easton (1799), seorang ilmuwan mempublikasikan artikel mengenai cara hidup agar panjang umur, dimana ia mengumpulkan data-data orang yang hidup lebih dari 100 tahun sepanjang tahun 66 SM sampai 1799 sesudah masehi. Pada 1973, konsep dari demensia pada orang lanjut usia berkembang dan proses ini dikatakan sebagai ”Kekacauan dari pikiran”, di mana seseorang yang menderita demensia menganggap tidak merasakan adanya hubungan antara hal yang satu dengan yang lain, termasuk di dalamnya persepsi dan daya ingat yang berkurang sejalan dengan bertambahnya usia.
Pada periode ini para terapis menggunakan terapi alami dan meminimalkan kesalahan dalam penatalaksanaan pasien dalam hal nutrisi terutama usia lanjut. Pada periode ini muncul kakek dari Charles Darwin bernama Erasmus, ia adalah ahli biologi onkogenik yang hebat, ia berpendapat bahwa orang lanjut usia mempunyai kerentanan yang cukup besar untuk jatuh yang disebabkan oleh penurunan fungsi sistem rangka. Pada periode ini pengetahuan tentang lanjut usia terus dikembangkan dan disempurnakan