PENDAHULUAN

Salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari umur harapan hidup penduduknya. Demikian juga Indonesia sebagai negara berkembang dengan perkembangannya yang cukup baik, diharapkan angka harapan hidup pada tiap-tiap penduduk dapat mencapai usia lebih dari 70 tahun pada tahun 2020 yang akan datang. Semua ini merupakan gambaran yang terjadi pada seluruh negara di dunia baik negara berkembang maupun negara maju berkat adanya kemajuan pendidikan, teknologi, serta kondisi sosial-ekonomi yang terjadi di negara-negara tersebut.

       Ilmu pengetahuan dan teknologi masih ditantang untuk menerangkan penyebab orang menjadi tua atau proses menua. Banyak teori yang telah diajukan dan belum dapat memuaskan semua pihak. Yang jelas ialah bahwa proses menua merupakan kombinasi dari berbagai jenis faktor yang satu sama lain saling berkaitan.

       Gerontologi adalah ilmu yang mempelajari segala aspek yang berhubungan dengan masalah lanjut usia atau dapat pula diartikan sebagai suatu pendekatan ilmiah dari berbagai aspek proses menua dapat ditinjau dari segi kesehatan, sosial, ekonomi, perilaku, hukum, lingkungan dan lain-lain. Perkembangan ilmu ini tidak dapat dipisahkan dari kemajuan ilmu dan teknologi, karena sampai setengah abad yang lalu ilmu ini memang belum dikenal.

       Tujuan hidup manusia adalah menjadi  tua tetapi dalam keadaan sehat (healthy aging). Tujuan geriatri/gerontologi adalah mewujudkan healthy aging tersebut dengan jalan melaksanakan P4 di bidang kesehatan, yaitu : peningkatan mutu kesehatan (promotion), pencegahan penyakit (preventive), pengobatan penyakit (curative), dan pemulihan kesehatan (rehabilitation).

Masalah lanjut usia akan dihadapi oleh setiap orang dan akan berkembang menjadi masalah yang lebih kompleks karena :

  1. Umur harapan hidup (life expectancy) pada saat itu akan berada di atas usia 70 tahun, sehingga populasi lanjut usia di Indonesia tidak saja akan melebihi jumlah balita tetapi dapat menduduki peringkat keempat di dunia setelah RRC, India dan Amerika Serikat.
  2. Sistem pensiun atau tunjangan kesehatan yang memadai sampai saat ini masih belum dipikirkan secara mendasar, padahal angka kesakitan dan kemiskinan pada lanjut usia tentunya akan meningkat.
  3. Setiap keluarga pada saat itu rata-rata akan mempunyai dua orang anak. Para lanjut usia akan menghadapi keadaan di mana semua anak mereka harus bekerja dan berkarir. Sehingga muncul pertanyaan : siapakah yang dapat diharapkan dan mau menjadi care provider bagi mereka? Masalah globalisasi akan menuntut perkembangan keluarga yang tadinya berintikan nilai tradisional/keluarga guyub beralih dan cenderung berkembang menjadi keluarga individual/patembayan. Norma masyarakat juga akan bergeser dan mengarah pada kehidupan yang egosentris.
  1. Masalah gender akan berkembang menjadi topik besar, karena jumlah lanjut usia wanita akan melebihi jumlah prianya (karena umur harapan hidup wanita memang lebih tinggi), sedangkan kelompok wanita tua lebih bercirikan kekurangmampuan/kemiskinan, kurangnya keterampilan yang dimiliki dibandingkan dengan kelompok pria dan ketidakberdayaan. Di lain pihak, kelompok yang melayani lanjut usia umumnya terdiri dari para wanita.
  2. Terbatasnya aksesibilitas lanjut usia sehingga mobilitas menjadi sangat terbatas.
  3. Terbatasnya hubungan dan komunikasi lanjut usia dan lingkungannya dan penurunan kesempatan dan produktivitas kerja.
  4. Terbatasnya kemampuan dalam memanfaatkan dan mendayagunakan sumber-sumber yang ada.

       Terberantasnya penyakit infeksi yang disebabkan  kuman dan parasit, berkembangnya ilmu kesehatan lingkungan serta keberhasilan program keluarga berencana menyebabkan meningkatnya angka harapan hidup dan tentunya dibarengi konsekuensi  lainnya yang lebih kompleks. Perkembangan ilmu kesehatan yang berkaitan dengan lanjut usia juga tumbuh lebih cepat, karena penyakit lanjut usia memiliki karakteristik tertentu yang jarang didapatkan pada masa anak dan dewasa muda. Masalah lainnya pun berkembang cepat sehingga sampai saat ini dikenal berbagai cabang ilmu seperti :

  1. Proses biologi pada usia lanjut
  2. Socio-gerontology
  3. Psycho-gerontology
  4. Medical-gerontology yang mencakup aspek preventif, kuratif dan rehabilitatif. Sementara itu, ilmu geriatri praktis mempelajari aspek kedokteran klinis dan tidak terlampau banyak membicarakan aspek preventif
  5. Anthropo-gerontology, dan lain sebagainya.

       Semua pihak hendaknya mengantisipasi hal ini dan mempersiapkan diri menghadapi permasalahan yang sangat kompleks yang akan timbul. Permasalahan potensial yang akan terjadi tidak hanya ditimbulkan oleh faktor kependudukan, akan tetapi juga disebabkan oleh faktor biologis, sosial budaya, ekonomi, hukum dan etika, psikologis dan perilaku, kesehatan, pembinaan, perawatan, pelayanan serta jaringan kerjasama tingkat lokal, nasional, regional, bahkan global. Belum lagi sering terjadi saling mempengaruhi antar berbagai faktor yang disebutkan tadi.

       Beberapa produk hukum telah dikembangkan dan yang terbaru adalah Undang-Undang Republik Indonesia nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia. Produk hukum tersebut dapat dijadikan pedoman guna memperbaiki kinerja para pelaksana sehingga diperoleh kegiatan yang lebih terarah, terpadu, efektif dan efisien dengan tujuan akhirnya, yaitu membuat lanjut usia dan keluarganya sejahtera.

        Dengan demikian iklim yang tercipta perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh seluruh pihak yang berkiprah dalam pembangunan lanjut usia.

  1. Demografi lanjut usia

Transisi Demografi

       Pada pertemuan di Madrid, WHO mengungkapkan bahwa semasa abad yang lalu telah terjadi perubahan-perubahan besar sebelum perang dunia pertama, dimana hampir semua negara-negara di seluruh dunia tercekam oleh penyakit-penyakit menular, kekurangan gizi dan menurunnya status kesehatan lingkungan sehingga umur harapan hidup sangat rendah. Setelah Ilmu Kesehatan Masyarakat dikembangkan, maka penyakit-penyakit tadi dapat ditekan, oleh sebab itu sejak 60 tahun yang lalu ada paradigma kesehatan baru yang disebut dengan epidemiological shift. Lalu berkembang suatu masa dimana sejak perang dunia kedua, hampir semua penduduk dunia berkembang biak dengan jumlah anak-anak kecil yang dilahirkan tanpa suatu program khusus, jadi dalam keluarga tersebut bisa memiliki sepuluh orang anak bahkan lebih sehingga jumlah penduduk menjadi tidak terkontrol. Saat itulah terjadi suatu gerakan dunia untuk mengingatkan agar jangan sampai dunia mengalami kekurangan pangan bagi penduduk-penduduk baru dan diproklamirkan suatu gerakan berencana internasional yang disebut family planning program. Di Indonesia gerakan family planning program ternyata cukup berhasil. Maka kira-kira 30 tahun lalu terjadi suatu pergeseran baru dalam kesehatan yang disebut dengan demographical shift.

       Pada akhir abad yang lalu disinyalir umur lanjut usia semakin banyak. Ada negara-negara yang mempunyai jumlah lanjut usia diatas 10% dan disebut dengan Aging Populated Countries. Di Indonesia, kini populasi lanjut usia rata-rata 7,5% dari jumlah total penduduk dan dalam waktu 20 tahun lagi jumlah lanjut usia Indonesia akan melebihi balita. Pada saat itulah WHO mengatakan bahwa milenium ini ditandai dengan apa yang disebut dengan gerontological shift, dimana jumlah lanjut usia dengan permasalahannya akan jauh lebih besar, lebih serius dan lebih kompleks. Karena itu diperlukan suatu program-program yang lebih terarah dan hanya bisa dimulai bila institusi-institusi mulai memberikan perhatian.

 

Population distribution, distribution of the elderly and proportion of ageing in Indonesia’s provinces, 1990

 

Province Total population Distribution Number of elderly Distribution Proportion of ageing
Aceh 3,415,595 1,91 181,620 1,61 5,32
Sumatra Utara 10,251,690 5,72 533,393 4,73 5,20
Sumatra Barat 3,999,622 2,23 291,930 2,59 7,30
Riau 3,278,788 1,83 131,050 1,16 4,00
Jambi 2,018,430 1,83 79,264 0,70 3,93
Bengkulu 1,178,872 1,13 55,860 0,50 4,74
Sumatra Selatan 6,311,792 3,52 297,734 2,64 4,72
Lampung 6,015,612 3,36 285,058 2,53 4,74
Jakarta 8,277,697 4,59 266,750 2,37 3,24
Jawa Barat 35,380,879 19,74 2,131,561 18,90 6,02
Jawa Tengah 28,515,580 15,91 2,231,269 19,79 7,82
Yogyakarta 2,912,552 1,62 321,558 2,82 11,04
Jawa Timur 32,486,610 18,12 2,595,002 123,01 7,99
Bali 2,777,326 1,55 230,511 2,04 8,30
NTB 3,386,642 1,88 180,975 1,61 5,37
NTT 3,267,788 1,82 204,565 1,81 6,26
Timor Timur 747,533 0,42 27,052 0,24 3,62
Kalimantan Barat 3,227,997 1,80 141,890 1,26 4,40
Kalimantan Tengah 1,395,959 0,78 56,844 0,50 4,07
Kalimantan Selatan 2,596,536 1,45 132,105 1,17 5,09
Kalimantan Timur 1,875,032 1,05 64,824 0,57 3,46
Sulawesi Utara 2,477,121 1,38 154,812 1,37 6,25
Sulawesi Tengah 1,703,296 0,95 73,333 0,65 4,31
Sulawesi Selatan 6,980,411 3,89 425,095 3,77 6,09
Sulawesi Tenggara 1,349,196 1,75 56,606 0,50 4,20
Maluku 1,852,723 1,03 95,194 0,84 5,14
Irian Jaya 1,630,107 0,91 27,747 0,26 1,82
Indonesia 179,243,386 100,00 11,275,557 100,00 6,29

Sumber : Central Bureau Statistic, 1992

Seperti diketahui bahwa Indonesia saat ini sedang berada dalam transisi demografi dengan persentasi lanjut usia diproyeksikan menjadi 11,34% pada tahun 2020. Keberhasilan pembangunan akan meningkatkan derajat kesehatan penduduk yang ditandai dengan menurunnya tingkat kelahiran dan kematian serta diikuti oleh semakin luasnya cakupan dan meningkatnya mutu pelayanan kesehatan dan gizi rakyat telah mendorong terjadinya pergeseran berbagai paramater demografi ke arah yang lebih baik. Salah satu diantaranya adalah meningkatnya usia harapan hidup dari 45,7 tahun pada tahun 1968 menjadi 61,3 tahun pada tahun 1992. Diproyeksikan usia harapan hidup penduduk Indonesia akan semakin meningkat.

       Salah satu konsekuensinya yang perlu diantisipasi sejak dini adalah meningkatnya baik jumlah maupun persentasi penduduk lanjut usia. Pada tahun 1990 penduduk berusia 60 tahun ke atas sudah mencapai 11,3 juta atau 6,4 % dari jumlah penduduk dan akan terus meningkat. Pada tahun 2005 jumlah lanjut usia diramalkan akan menjadi 19 juta (8,5%) dan pada tahun 2010 akan melebihi jumlah balita. Keadaan ini mempunyai implikasi yang besar pada kebijakan makro di berbagai sektor pembangunan.

       Kebijakan makro pun akan banyak mengalami pergeseran. Secara alami proses manjadi tua menyebabkan para lanjut usia mengalami kemunduran fisik dan mental. Makin lanjut usia seseorang, makin banyak ia mengalami permasalahan terutama fisik, mental, spiritual, ekonomi dan sosial sehingga diperlukan upaya khusus yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif agar para lanjut usia tetap dapat mandiri dan tidak menjadi beban bagi dirinya maupun keluarga dan masyarakat.

       Struktur masyarakat Indonesia berubah dari masyarakat/populasi “muda” (1971) menjadi populasi yang lebih “tua” pada tahun 2020. Piramida penduduk Indonesia berubah bentuk dengan basis lebar (fertilitas tinggi) menjadi piramida berbentuk bawang yang menunjukan rendahnya fertilitas dan mortalitas. Pergeseran ini menuntut perubahan dalam strategi pelayanan kesehatan, dengan kata lain perhatian dan prioritas untuk penyakit-penyakit dewasa dan lanjut usia akan lebih dibutuhkan, namun penyakit-penyakit anak dan balita masih juga belum diselesaikan (beban ganda). Perubahan struktur ini juga akan mempengaruhi rasio ketergantungan (Dependency Ratio).

      Dengan demikian lapisan kaum lanjut usia dalam struktur demografi Indonesia menjadi makin tebal, dan sebaliknya kaum muda menjadi relatif lebih sedikit. Dengan kata lain, timbul regenerasi yang bisa membawa akibat negatif. Proses ini berlangsung beberapa tahap, antara lain :

  • Tahap I

Timbul kesenjangan antar generasi (generation gap), karena kaum muda secara lebih dinamis mengikuti kemajuan teknologi canggih, sedangkan kaum lanjut usia acuh, tetap tertinggal dan membiarkan kaum muda berjalan terus. Keadaan ini belum berbahaya.

  • Tahap II

Karena makin tebalnya lapisan lanjut usia dan makin meningkatnya tingkat kesehatan,mereka pun masih mampu mengimbangi kaum muda dan menghendaki tetap pada jabatannya, sehingga tidak mau digeser. Pada saat inilah timbul tekanan pada generasi muda (generation pressure) yang lebih berbahaya dari keadaan tahap I. Tahapan Indonesia saat ini adalah tahap I dan mulai memasuki tahap II dengan timbulnya isu peningkatan usia pensiun.

  • Tahap III

Tahap yang paling berbahaya, ditandai dengan timbulnya konflik antar generasi (generation conflict). Dalam keadaan ini para lanjut usia yang jumlahnya makin banyak merasa makin kuat dan terus-menerus menekan generasi di bawahnya, sedangkan generasi muda bereaksi dan melawan tekanan-tekanan tersebut sehingga timbul konflik yang berkepanjangan dan sulit diatasi dengan segera. Ini merupakan keadaan yang berbahaya.

Untuk mencegah proses regenerasi menuju keadaan yang berbahaya, maka antara lain harus dilaksanakan hal-hal sebagai berikut :

  1. menyelenggarakan program pensiun secara terpadu dan merata
  2. menciptakan lapangan kerja/kegiatan bagi lanjut usia yang tidak bertentangan dengan kebutuhan kaum muda.

 

Pengaruh Proses Industrialisasi terhadap perkembangan gerontologi

         Di negara-negara maju ternyata kualitas hidup dapat ditingkatkan dengan cepat berkat industrialisasi. Hal ini umpamanya terjadi di Jepang yang pada tahun 1955 masih mempunyai persentase orang-orang usia lanjut sebesar 5,3%, pada tahun 1975 telah meningkat menjadi 8,6% dan menjadi 14,3% pada tahun 2000.

      Dengan kata lain, bahwa dengan adanya industrialisasi maka penggunaan teknologi modern dapat lebih dimanfaatkan demi peningkatan derajat hidup. Tetapi perkembangan industri membawa serta pula kontaminasi lingkungan dan gangguan kelestarian lingkungan hidup, sehingga memerlukan pengaturan dan pengawasan yang baik. Bila tidak, maka polusi ini akan berpengaruh buruk pada lingkungannya dan terutama yang akan terkena lebih dahulu dampaknya ialah anak-anak dan orang lanjut usia (WHO, 1974).

      Dengan adanya industrialisasi, urbanisasi juga terjadi, sehingga menambah kepadatan penduduk kota dan segala macam masalahnya, yang secara langsung atau tak langsung akan mempengaruhi perkembangan geriatri (gerontologi) pada umumnya.

      Selain itu industrialisasi juga membawa pikiran-pikiran yang lebih materialistik dan dapat mendesak budaya tradisional yang baik. Jadi perkembangan industri disini bisa berpengaruh positif, tetapi bila tidak diawasi dengan baik juga dapat memberi dampak negatif terhadap golongan penduduk berusia lanjut.

      Pada era industrialisasi,baik suami maupun istri harus bekerja, sedangkan anak-anak harus bersekolah. Seorang nenek atau kakek haruslah sendirian di rumah. Masalah akan timbul bila mereka sudah lemah dan sakit-sakitan, maka justru disini perlu adanya apa yang disebut “day care center” atau “day hospital” untuk pengawasan, rehabilitasi dan lain sebagainya. Para lanjut usia tersebut pada sore/malam hari dapat dijemput pulang ke rumah kembali.

Indikator Demografi

Berbagai indikator demografi yang lazim dipakai adalah sebagai berikut :

  1. Indeks Penuaan (The Ageing Index)

      Rasio penduduk lanjut usia terhadap penduduk usia kurang dari 15 tahun.

  1. Usia Median (Median Age)

      Membagi sama penduduk usia muda dan tua.

  1. Penuaan Penduduk Tua (The Ageing of the Elderly Population)

      Proporsi penduduk lanjut usia diatas 75 tahun dibanding lanjut usia diatas.

  1. Besar dan Proporsi Penduduk Lanjut Usia (The Relative Weight of Elderly)

      Angka 10% merupakan tanda transisi struktur penduduk muda ke arah tua.

 

 

Data Kependudukan: Proyeksi Lanjut Usia di Indonesia

 

Tahun Usia Harapan Hidup (UHH) Jumlah

 

Perkotaan Pedesaan
1988 52,2 tahun

 

7.998.543

(5,45%)

1.452.934

(4,42%)

6.545.609

(5,75%)

1990 59,8 tahun 12.778.121

(6,29%)

4.209.999

(5,88%)

8.568.213

(6,96%)

1995 63,6 tahun 13.298.588

(6,83%)

4.027.515

(5,76%)

9.271.173

(7,43%)

2000 64,5 tahun 17.767.709

(7,97%)

7.793.880

(7,60%)

9.973.829

(8,29%)

2010 67,4 tahun 23.992.552

(9,77%)

12.380.321

(9,58%)

15.612.232

(9,97%)

2020 71,1 tahun 28.822.879

(11,34%)

15.714.952

(11,20%)

13.107927

(11,51%)

Sumber data : Badan Pusat Statistik, tahun 2002

  1. Komposisi Penduduk Lanjut Usia Pria-Wanita (The Sex Composition of the Elderly Population)

 

 

Persentase penduduk lanjut usia di Asia Tenggara dan di Indonesia

 

Negara/

Kawasan

1970 1995 2025 2050
Asia Tenggara 5,7 4,9 7,2 6,0 13,3 10,9 21,7 18,3
Indonesia 5,5 4,9 7,2 6,3 13,8 11, 6 23,1 20,0

           Sumber : United Nations, World Demographic Estimates and Projections 1950-2020, New York,1988

           

  1. Angka Ketergantungan Penduduk Lanjut Usia (The Aged Dependency Ratio)

Jumlah penduduk lanjut usia terhadap 100 penduduk usia kerja yang berusia 15-59 tahun.

Dependency ratio in Indonesia, 1971-2020

 

Year Elderly Young people Total
1971 4,69 82,15 86,84
1980 5,82 73,27 79,09
1990 6,32 61,51 67,83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *