Deskripsi rumput laut Spirulina sp.

Kurang lebih 70 persen wilayah Indonesia terdiri dari lautan yang kaya akan berbagai jenis sumber hayati. Salah satu diantaranya adalah rumput laut yang mempunyai nilai ekonomis penting bagi masyarakat Indonesia. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pola hidup dan makan yang sehat membuat rumput laut dipilih sebagai alternatif makanan sehat karena kandungannya yang kaya akan serat, vitamin dan mineral (Kabinawa, 2006).

Rumput laut merupakan tumbuhan tingkat rendah berupa thallus (batang) yang bercabang-cabang, dapat hidup di laut dan tambak dengan kedalaman yang masih dapat dijangkau oleh cahaya matahari. Rumput laut termasuk kelompok tumbuhan algae yang berukuran besar yang dapat terlihat dengan mata biasa tanpa alat pembesar dan bersifat bentik atau tumbuh melekat pada suatu substrat di perairan laut. Berdasarkan kandungan pigmennya, rumput laut dapat dibedakan menjadi kelas alga merah (Rhodophyceae) yang memiliki pigmen dominan fikoeretrin (phycoerethrin) dan fikosianin (phycocyanin); alga coklat (Phaeophyceae) yang memiliki pigmen dominan fuxocantin; alga hijau (Chlorophyceae) yang memiliki pigmen dominan klorofil (Chlorophyl); dan alga biru-hijau (Cyanophyceae), (Sulistyowaty, 2009; Atmadja, 2009; Astawan, 2009).

Klasifikasi rumput laut Spirulina sp

Spirulina sp. merupakan ganggang renik (mikroalga) hijau-biru yang diklasifikasikan sebagai berikut :

                        Phyllum         : Cyanophyta

                        Class              : Cyanophyceae

                        Ordo               : Nostocales

                        Family            : Oscillatoriaceae

                        Genus            : Spirulina

                        Species          : Spirulina sp

Ganggang renik Spirulina sp. adalah multiseluler berbentuk filamen (benang) yang tersusun atas sel-sel berbentuk silindris tanpa sekat pemisah (septa), tidak bercabang dengan trikhoma (benang) berbentuk heliks (berpilin) dan berwarna hijau kebiruan. Panjang trikhoma sekitar 20 mm, sehingga terlihat dengan mata telanjang. Sitoplasma spirulina mempunyai sekat pemisah (septa). Septa inilah yang oleh para ahli fikologi digunakan untuk membuat sistematika dari tipe Spirulina sp. (Kabinawa, 2006).

Spirulina sp. adalah ganggang renik (mikroalga) berwarna hijau kebiruan yang hidupnya tersebar luas dalam semua ekosistem, mencakup ekosistem daratan, dan ekosistem perairan baik itu air tawar, air payau, maupun air laut. Pada hakekatnya Spirulina sp. termasuk dalam kelompok tanaman Thallophyta, yaitu tanaman yang tidak memiliki akar, batang dan daun sejati, berbentuk filamen (benang) yang tersusun atas sel-sel silindris. Spirulina sp. mudah tumbuh di danau-danau alami dengan keasaman air alkalis (pH 8,5-11) sehingga bisa tumbuh monokultur (murni) seperti di danau  Chad, Lembah Rift, Texcoco, Togo, Ethiopia, Kenya, dan Peru. Di Indonesia mikroalga ini tumbuh endemik di Situ Ciburuji, Padalarang dan Ranu Kelakah. Spirulina sp. dapat tumbuh subur pada kisaran suhu 18-400 C dengan intensitas cahaya rendah sampai tinggi (500-350.000 lux), (Kabinawa, 2006).

Spirulina sp. memilki zat warna Cyanophysin sehingga dikenal juga dengan nama Cyanobakterium. Kelompok Cyanophyceae dicirikan oleh adanya zat warna hijau kebiruan (Cyanophysin), tidak memiliki flagel dan bergerak dengan meluncur. Tilakoid Spirulina sp. yang tersebar di dalam kromoplasma merupakan tempat melakukan fotosintesis yang menghasilkan klorofil (zat warna hijau). Spirulina sp. juga mengandung pigmen biru yang umum disebut phycocyanin (pigmen yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan menghasilkan anti kanker). Phycocyanin, protein kompleks yang terdapat lebih dari 20% dalam seluruh berat keringnya, adalah pigmen terpenting dari mikroalga spirulina. Pigmen ini berfungsi pula sebagai antioksidan, pewarna alami untuk makanan kosmetika, dan obat-obatan khususnya sebagai pengganti warna sintetik dan mampu mengurangi obesitas. Besar maupun kecilnya keberadaan fikosianin yang terkandung dalam biomassa sel tergantung banyak sedikitnya suplai nitrogen yang dikonsumsi Spirulina sp. tersebut. Pigmen lain pada Spirulina sp. adalah karotenoid yang terdiri atas xantofil dan beta-karoten. Fungsi karotenoid adalah melindungi klorofil dari reaksi fotooksidasi dengan mengikat molekul oksigen bebas yang dihasilkan dalam proses hidrolisis. Dalam keadaan terpapar molekul oksigen, struktur klorofil menjadi rusak melalui proses oksidasi karena tidak terlindung oleh karotenoid (Kabinawa, 2006).

Kandungan dan manfaat Spirulina sp.

Bagaikan sekumpulan serat kusut berwarna hijau kehitaman dan berlendir, wujud rumput laut ketika habis dipanen mungkin tampak tidak menarik. Namun, tumbuhan berderajat rendah ini sesungguhnya merupakan “tambang emas”. Dari sumber hayati laut yang tidak menarik itu, bila diproses lebih lanjut dapat menghasilkan lebih dari 500 jenis produk komersial, mulai dari agar-agar dan puding yang menjadi makanan kegemaran anak-anak, obat-obatan, komestik, sarana kebersihan seperti pasta gigi dan sampo, kertas, tekstil, hingga pelumas pada pengeboran sumur minyak (Sulistyowaty, 2009).

Dalam bidang kedokteran dan farmasi rumput laut merupakan salah satu bahan pangan yang juga telah banyak digunakan sebagai bahan pembuatan suplemen kesehatan. Hal tersebut tidaklah mengherankan, karena ternyata rumput laut mempunyai kandungan nutrisi cukup lengkap. Secara kimia rumput laut terdiri dari air (27,8%), protein (5,4%), karbohidrat (33,3%), lemak (8,6%), serat kasar (3%), abu (22,25%). Selain karbohidrat, protein, lemak, dan serat, rumput laut juga mengandung enzim, asam nukleat, asam amino, vitamin (A,B,C,D,E dan K) dan makro mineral seperti nitrogen, oksigen, kalsium dan selenium, serta mikro mineral seperti zat besi, magnesium, natrium. Kandungan asam amino, vitamin dan mineral rumput laut mencapai 10-20 kali lipat dibandingkan dengan tanaman darat (Sulistyowaty, 2009).

Mengkonsumsi rumput laut diyakini dapat mencegah kanker. Salah satu alasannya adalah kandungan serat, selenium, dan seng yang yang tinggi pada rumput laut dapat mereduksi estrogen sehingga dapat mencegah timbulnya kanker. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Harvard School of Public Health Amerika telah membuktikan bahwa pola konsumsi wanita Jepang yang selalu menambahkan rumput laut dalam menu makanannya, menyebabkan wanita premenopause di Jepang mempunyai peluang lebih kecil terkena kanker payudara dibandingkan dengan wanita Amerika. Mengkonsumsi rumput laut dapat juga membantu penyerapan kelebihan garam pada tubuh sehingga dapat mengatasi hipertensi. Disamping itu, serat pada rumput laut juga dapat membantu memperlancar proses metabolisme lemak sehingga akan mengurangi resiko obesitas, menurunkan kolesterol darah dan gula darah. Rumput laut juga membantu pengobatan tukak lambung, radang usus besar, susah buang air besar dan gangguan pencernaan lainnya. Sementara itu, vitamin, mineral, asam amino, dan enzim dalam rumput laut sangat potensial sebagai anti oksidan yang berperan dalam penyembuhan dan peremajaan kulit. Vitamin A (beta carotene) dan vitamin C bekerja sama dalam memelihara kolagen, sedangkan kandungan protein dari rumput laut penting untuk membentuk jaringan baru pada kulit. Dengan kata lain, rumput laut dapat membantu mencegah terjadinya penuaan dini dan menjaga kesehatan serta kehalusan kulit. Rumput laut juga mengandung iodium yang sangat tingi khususnya dari jenis turbinaria dan sargasum, sehingga mengkonsumsi rumput laut dapat mengatasi defisiensi yodium yang berdampak pada menurunnya tingkat kecerdasan. Kandungan klorofil dan vitamin C pada rumput laut (ganggang hijau) berfungsi sebagai anti oksidan sehingga dapat membantu membersihkan tubuh dari reaksi radikal bebas yang sangat berbahaya sehingga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Rumput laut mengandung kalsium sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan dengan susu, sehingga rumput laut sangat tepat dikonsumsi untuk mengurangi dan mencegah gejala osteoporosis. Dengan demikian, nutrisi yang optimal dalam rumput laut mampu memberikan fungsi imun terbaik, merevitalisasi tubuh, mendukung kesehatan jantung, memperbaiki pencernaan, menguatkan sistem saraf, dan menyeimbangkan hormon (Sulistyowaty, 2009).

Kandungan nutrisi pada Spirulina sp

Kandungan nutrisi yang ada pada Spirulina sp. antara lain :

  • Kandungan Protein

Protein sangat dibutuhkan sekali bagi pertumbuhan manusia karena berfungsi untuk mengatur metabolisme tubuh. Kandungan protein Spirulina sp. jauh lebih besar dibandingkan dengan berbagai sumber protein yang dikandung oleh jenis bahan pangan lainnya (Kabinawa, 2006).

  • Kandungan Asam Amino

Asam amino digunakan untuk mempertahankan keseimbangan nitrogen dalam tubuh. Asam amino dapat menambah kadar oksigen dalam tubuh agar tubuh dapat bekerja lebih baik, energik, dan membuat daya tahan tubuh lebih kuat menghadapi penyakit. Kebutuhan asam amino pada setiap orang berbeda, tergantung pada jenis kelamin, umur, aktivitas, dan berat badan (Kabinawa, 2006).

  • Kandungan Asam Lemak

Asam lemak berfungsi sebagai makanan cadangan bagi tubuh dan zat pembakar untuk menciptakan sumber energi. Asam lemak Spirulina sp. tersusun atas berbagai bahan seperti myristic, palmitic, palmitolic, heptadecanoic, stearic, oleic, linoleic, dan gamma linolenic. Kandungan asam lemak tertinggi adalah palmitic acid sebesar 45% yang berfungsi sebagai asam lemak jenuh. Sedangkan, kandungan asam lemak esensial (EFA) rantai panjang tak jenuh (PUFA) sebesar 24,7% berupa Gamma Linolenic Acid (GLA) kemudian Linoleic Acid (LA) sebesar 17,8%. Tingginya kandungan LA sangat menguntungkan karena GLA dapat dibuat dari LA dengan bantuan enzim delta 6-desturase. Selanjutnya GLA diubah menjadi PGE-1 yang sangat berguna bagi tubuh. Kekurangan PGE-1 dapat berpengaruh terhadap pengaturan tekanan darah, sintesis kolesterol, inflamasi, dan pembelahan sel (Kabinawa, 2006).

  • Kandungan Pigmen

Pigmen berfungsi sebagai detoksifikasi (pembersih racun), pengikat partikel-partikel bebas, antioksidan, meningkatkan kekebalan tubuh, meningkatkan jumlah bakteri usus, meningkatkan hemoglobin (Hb), darah, dan meningkatkan zat putih darah (limfosit), (Kabinawa, 2006). Kandungan pigmen atau zat warna yang ada pada spirulina adalah :

Kandungan Pigmen Persentase
Klorofil a (hijau) 0,8-1,5
Karotenoid (oranye) 0,65
Beta-karotin (oranye-merah) 28
Phycocyanin (biru) 20
Xanthofil 0,69

Tabel Kandungan pigmen (Kabinawa, 2006)

  • Kandungan Karotenoid

Fungsi karotenoid terutama beta-karotin adalah untuk meminimalkan resiko terjadinya penyakit kanker (Kabinawa, 2006).

  • Kandungan Vitamin

Spirulina adalah pangan alami yang kaya akan provitamin A dalam bentuk beta-karotin sebesar 23.000 IU per 10 gram biomasa. Berarti kandungan beta-karotinnya 4 kali lebih tinggi daripada 1/2 mangkok wortel atau 4-5 kali lebih tinggi daripada mikroalga Chlorella dan 20 kali lebih tinggi daripada buah semangka. Kandungan provitamin A pada spirulina 4,8 lebih tinggi daripada standar yang ditetapkan oleh Badan Pengendali Obat dan Makanan Amerika (USRDA) sebesar 5000 IU. Hal ini tidak akan berpengaruh negatif terhadap tubuh kita karena akan diubah menjadi vitamin A sesuai dengan kebutuhan. Kandungan vitamin lainnya, seperti vitamin B1 dan B2 nilainya lebih tinggi daripada biji-bijian, buah-buahan dan berbagai sayuran. Kandungan vitamin B lainnya seperti B3, B6, dan vitamin E 3-7% lebih besar daripada kebutuhan yang dianjurkan USRDA (Kabinawa, 2006). Berikut ini tabel yang memperlihatkan kandungan vitamin yang dimiliki oleh Spirulina sp. :

Jenis/Macam Vitamin Kandungan/10g USRDA %USRDA
Vitamin A (Beta-Karotin) 23.000 IU 5.000 IU 480
Vitamin B1 (Thiamin) 0,31 mg 1,5 mg 21
Vitamin B2 (Rioflavin) 0,35 mg 1,7 mg 21
Vitamin B3 (Niacin) 1,46 mg 20 mg 7
Vitamin B6 (Pyridoxine) 80 mcg 2 mg 4
Vitamin B12 (Cobalamine) 32 mcg 6 mcg 533
Vitamin C 0,5 mg 60 mg 0,8
Vitamin D 1 IU 400 IU _
Vitamin E (Omega-Tocoferol) 1 IU 30 IU 3
Folacine 1 mcg 400 mcg _
Panthotenic Acid 10 mcg 10 mg 1
Bipotin 0,5 mcg _ _
Inositol 6,4 mg _ _

Tabel Kandungan vitamin (Kabinawa, 2006).

  • Kandungan Mineral Organik

Mineral organik yang terdapat dalam Spirulina sp.dengan mudah dapat dicerna oleh tubuh manusia. Kandungan mineral organiknya sangat bervariasi, tergantung pada sifat fisika dan kimia dari medium tumbuhnya, jenis, dan daerah asalnya (Kabinawa, 2006).

Secara garis besar kandungan nutrisi yang ada pada Spirulina sp. berupa protein 60-70%, karbohidrat 15-25%, lemak 6-8%, mineral 7-13%, serat 8-10%, dan kadar air 3% (Kabinawa, 2006).

Daftar Pustaka

  1. Kabinawa I Nyoman, 2006. Spirulina ganggang penggempur aneka penyakit. Edisi pertama, Tangerang : PT agromediapustaka, h : 1-20.
  2. Sulistyowaty danny, 2009. Efek diet rumput laut Euchema sp. terhadap kadar glukosa darah tikus wistar yang disuntik aloksan. Penelitian eksperimental laboratoris, Universitas Diponegoro, Semarang.
  3. Astawan M, 2009. Agar-agar pencegah hipertensi dan diabetes [Internet]. http://rumputlaut.org/Agaragar%20Pencegah%20Hipertensi%20dan%20Diabetes.pdf, 25 januari 2012.
  4. Atmadja WS, 2009. Apa itu rumput laut sebenarnya ? [Internet]. http://www.coremap.or.id/print/article.php?id=264, 25 januari 2012.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *