REVITALISASI PERAN PEMUDA
DALAM PERGERAKAN ISLAM KONTEMPORER
(Sebuah Upaya Mengambil Pelajaran dari Kemunduran Umat Uslam
Paska Imperialisme Barat dan Keruntuhan Turki Utsmani)

Hatta Syamsuddin, Lc
Makalah Seminar Sehari tentang Pemuda, Gerakan dan Kebangkitan Islam
Aula Masjid Agung Surakarta, 29 Agustus 2010

A. PENDAHULUAN
Kemunduran Dunia Islam saat ini merupakan gambaran yang terpampang jelas di depan mata. Salah satu indikasinya adalah banyaknya terjadi krisis di negara Islam dalam kurun waktu beberapa dasawarsa terakhir ini. Dimulai dari terjajahnya hampir seluruh negara muslim di Asia dan Afrika pada awal abad 20, hingga hari ini belahan bumi Palestina masih meradang dalam cengkraman penjajahan Israel. Belum lagi jika kita lihat dari sisi kebijakan internasional, politik ekonomi, maupun isi terorisme, semua mengarah pada kesimpulan betapa lemahnya umat Islam hari ini.
Rasulullah SAW sejak awal telah memperingatkan kondisi yang semacam ini. Diriwayatkan oleh Tsauban, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, ”Akan terjadi masa di mana umat-umat di luar Islam berkumpul di samping kalian, wahai umat islam. Sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang menyantap hidangan.” Lalu, seorang sahabat bertanya, ”Apakah kami pada saat itu sedikit, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Tidak. Bahkan, ketika itu, jumlah kalian banyak. Akan tetapi, kalian ketika itu bagaikan buih di lautan. Ketika itu, Allah hilangkan dari musuh-musuh kalian rasa segan dan takut terhadap kalian dan kalian tertimpa penyakit wahn.” Sahabat tadi bertanya lagi, ”Wahai Rasulullah, apa yang baginda maksud dengan wahn itu?” Rasulullah menjawab, ”Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Dawud). Inilah gambaran umat Islam hari ini, yang telah jauh-jauh hari diprediksi oleh nabi, dengan sebab kemerosotan soliditas moral dan ruhiyah umatnya.
Pertanyaan yang menggelitik selanjutnya adalah, lalu dimana posisi pemuda dan pergerakan Islam yang ada selama ini di tengah berlanjutnya episode kemunduran demi kemunduran umat Islam. Bukankah eksistensi pergerakan dan pemuda Islam terus ada dan berkembang di berbagai negara muslim saat ini ? Bukankah sudah banyak pemuda dan pergerakan Islam yang mewarnai beberapa pemerintahan negara-negara muslim hari ini ?. Pertanyaan di atas bukanlah gambaran pesimisme, namun lebih jauh lagi adalah ajakan untuk mengkaji dan mengevaluasi kembali langkah yang sudah diayunkan selama ini. Karena bisa jadi, sebab belum optimalnya pengaruh pergerakan Islam dalam meningkatkan kemuliaan dunia Islam, berasal dari diri kita sendiri, yaitu para pemudanya.
Makalah sederhana ini kami mulai dengan belajar dari sejarah awal kemunduran umat Islam khususnya abad 20 ini, yang ditandai dengan masuknya imperialisme modern di sebagian besar negara-negara muslim, dan juga keruntuhan simbol persatuan umat kekhalifahan Turki Utsmani pada tahun 1924. Kemudian pembahasan singkat tentang perkembangan gerakan Islam setelah masa itu, dilengkapi dengan problematika yang melingkupinya. Diakhiri dengan bagaimana peluang dan potensi pemuda islam yang sesungguhnya dalam pergerakan Islam yang telah ada dan eksis selama ini.

B. TONGGAK AWAL KEMUNDURAN UMAT ISLAM
Dua hal yang tidak bisa dipisahkan sebagai tonggal awal kemunduran umat Islam adalah imperialisme barat dan keruntuhan khilafah Turki Utsmani. Mengkaji kemunduran umat Islam saat ini tidak bisa tidak harus menelisik sejenak tentang apa yang terjadi pada masa rentetan abad 18,19 dan 20 dimana imperialisme barat dan keruntuhan khilafah Turki Utsmani terjadi. Sejarah masa itu adalah pelajaran besar yang harus senantiasa dipahami umat Islam khususnya pemuda Islam hari ini.
a. Imperialisme Modern dan Kemunduran Umat Islam
Imperialisme modern pada hakikatnya adalah perang salib gaya baru yang dicanangkan oleh raja-raja Eropa. Tetapi dalih yang senantiasa dimunculkan hingga hari ini memang beragam tidak hanya kepentingan agama, tetapi juga politik dan ekonomi. Dalih ekonomi yaitu mencari jajahan untuk dijadikan sumber bahan mentah dan pasar bagi hasil-hasil industri. Seperti kita ketahui, revolusi industri mencapai puncaknya di eropa pada abad 17. Para pemimpin eropa menyadari betul, jika imperialisme ini digelari simbol dan kepentingan agama, maka akan mendapatkan perlawanan luar biasa dari kaum muslimin sebagaimana terjadi pada perang salib. Karenanya, mereka menyembunyikan dalam-dalam sisi ini, dan memunculkan semangat perbaikan dan kemajuan untuk melunakkan hati penduduk daerah jajahan.
Ilustrasi yang nyata dalam masalah ini bisa kita lihat dengan masuk Islamnya Napoloen Bonaparte setelah menguasai kota Iskandariyah Mesir pada tahun 1798 . Ia menyatakan dengan resmi keislamannya seraya mengatakan, “ Wahai rakyat Mesir, konon pernah dikatakan bahwa aku masuk ke negeri kalian dengan maksud memusnahkan agama kalian. Isu itu tersebut sama sekali tidak benar dan jangan kalian percayai. Katakan pada pendusta tersebut bahwa aku datang kepada kalian dengan tujuan mulia, yaitu mengembalikan hak-hak kalian yang sekarang berada di tangan penguasa yang kejam “. Hal semacam ini ditempuh Napoleon dengan maksud menghindari perlawanan sengit seperti yang dialami perang Salib karena membawa nama agama.
Maka yang terjadi kemudian negara Islam bak hidangan roti yang dibagi-bagi dengan mudahnya diantara negara-negara eropa. Inggris menjajah India, Mesir, Irak dan Yordania. Perancis menjajah Suriah dan Libanon. Di Asia Tenggara, Inggris menjajah Malaysia dan Singapura. Belanda menjajah Indonesia. Di Afrika, Perancis mendapat wilayah jajahan yang sangat luas dan berbagi dengan Inggris.
Kendati negara-negara imperialis berupaya menyembunyikan aspek agama dalam penjajahannya, namun kaum muslimin di negara-negara jajahan tidak sepenuhnya bisa dibohongi. Karenanya bermunculan gerakan perlawanan dimana-mana yang dipimpin oleh tokoh-tokoh agama dengan semangat jihadnya. Di Mesir, gerakan melawan penjajah dipimpin oleh ulama Al-Azhar yang mulia. Gerakan perlawanan lainnya juga terjadi di negara lainnya, seperti : Umar Mukhtar di Libya, Amir Muhammad bin Abdul Karim Al-Khottobi di Maroko, Syaikh Izzudin Al-Qossam di Palestina, dan Muhammad Ahmad al-Mahdi di Sudan. Begitu pula di Indonesia, tidak bisa kita pungkiri gerakan perlawanan yang dipimpin oleh Imam Bonjol, Teuku Umar, Kyai Mojo, sangat terkait erat dengan semangat jihad menentang penjajah.

Bagaimana Imperialisme menjadi penyebab Kelemahan Umat Islam ?
Para pelaku imperialisme sangat menyadari bahwa selama kekuatan umat Islam dalam kondisi stabil dan bersatu, maka seluruh agenda imperialisme mereka akan susah untuk dicapai dan dijalankan. Karenanya, beriringan dengan penjajahan fisik yang mereka lakukan, serangkaian langkah strategis untuk melemahkan umat Islam juga segera dijalankan. Dua hal yang paling berpengaruh antara lain :
Pertama : Memecahbelah dan mengkotak-kotakan umat Islam
Upaya imperialisme sejak awal ditujukan untuk membagi-bagi dan mengkotak-kotakkan wilayah Islam yang sejatinya tak mengenal batas geografis. Setelah terjadi pembagian geografis, maka orang-orang Eropa mulai membangkitkan semangat nasionalisme di tiap daerah. Sehingga kaum muslimin disibukkan dengan urusan daerahnya sendiri dan tidak lagi memikirkan daerah muslimin lainnya. Bahkan lebih jauh lagi, dipertentangkan antara satu daerah dengan daerah lainnya. Diberikan anggapan bahwa Mesir hanya bagi orang Mesir, Suriah hanya bagi orang Suriah, dan Irak bagi orang Irak. Hal ini ditambah lagi dengan slogan-slogan baru seperti : nasionalisme arab, nasionalisme Kurdi Irak, Nasionalisme Iran, dan Nasionalisme Kurdi Turki. Semua ini tanpa disadari menjadikan pemikiran dan kepedulian kaum muslimin menjadi menyempit, hanya sebatas daerah dan negaranya masing-masing. Cara lain yang digunakan oleh negara imperialis adalah dengan menganjurkan pendirian partai dan organisasi kecil atas nama demokrasi, untuk kemudian digunakan sebagai alat pecah belah rakyat yang mudah digunakan setiap saat.

Kedua : Memalingkan rakyat jajahannya dari agamanya
Para politikus, pemimpin militer dan para pemikir imperialisme mencurahkan seluruh pikirannya untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya. Mereka sangat mengetahui bahwa rahasia kekuatan umat Islam ada pada pemahaman mereka terhadap agamanya. Karenanya berbagai konferensi dan pertemuan intensif digelar untuk menyusun formula penjauhan umat Islam dari ajaran agamanya. Statemen Zwemmer sangat dikenal dalam hal ini, saat berbicara dalam konferensi negara-negara imperialis di Al-Quds setelah ditaklukannya kota tersebut, ia berpidato : ” Bahwa tugas besar dipundak para missionaris yang dikirim ke negara-negara Islam ialah mengeluarkan orang muslim dari keislamannya, agar ia menjadi manusia yang tidak memiliki hubungan dengan Allah. Dengan sendirinya ia kemudian tidak berpegang teguh dengan akhlak yang merupakan lambang suatu bangsa dalam kehidupannya.”. Gladston juga menegaskan hal ini dengan mengatakan, ”Sesungguhnya kepentingan Eropa di Asia tetap terancam selama disana masih ada Al-Quran yang dibaca dan Ka’bah yang kerap dikunjungi.
Untuk mencapai target tersebut, serangkaian langkah telah dijalankan dengan halus dan nyaris tidak mendapat penentangan dari kaum muslimin, antara lain :
1) Tasykik : membuat keragu-raguan tentang Islam sebagai solusi dalam kehidupan. Menuduhnya seolah sebagai agama yang kuno jauh dari ilmu pengetahuan.
2) Sekulerisasi : menjauhkan penguasa dari hukum syariat dengan dalih agama adalah perintang kemajuan bangsa.
3) Dikotomi pendidikan : menempatkan alumni pendidikan umum pada jabatan strategis dan meremehkan alumni pendidikan agama agar menjadi preseden buruk di masyarakat.
4) Menyebarkan kerusakan moral dalam masyarakat agar tenggelam dalam syahwat. Tak kurang seorang orientalis bernama Syatulyn mengatakan, ” Gelas dan artis mampu menghancurkan umat Muhammad dari seribu meriam, maka tenggelamkan umat muhammad ke dalam cinta materi dan syahwat.”
5) Mendirikan sekolah-sekolah untuk mendidik generasi ala barat dan menanamkan kebencian akan Islam sejak dini.
6) Membuka rumah sakit dan tempat penampungan untuk memudahkan penyebaran fikrohnya. Missionaris Irharz mengatakan : ” para dokter missionaris tidak boleh lupa meski dalam sekejap mata bahwa profesi utamanya adalah sebagai missionaris dan profesi dokter hanyalah sebagai sampingan saja”.
7) Memberikan beasiswa kepada anak-anak dan pemuda Islam untuk belajar di negaranya. Hal ini membuka jalan lebar bagi mereka menanamkan pemahaman yang salah tentang Islam sekaligus merusak kepribadian orang Islam.
Semua langkah di atas dilakukan dengan bertahap dan dalam jangka yang sangat panjang. Jika kita perhatikan, maka sungguh hari ini pun langkah-langkah di atas masih mengelilingi kehidupan masyarakat negara muslim secara keseluruhan.

b. Keruntuhan Kekhalifahan Turki Utsmani

Khilafah Islamiyah sejak jaman Khulafaur Rosyidin berdiri dengan kokoh sampai pada Khilafah Utsmaniyah. Eksistensi khalifah sendiri adalah sesuatu yang penting di dalam Islam. Hal ini tergambar dalam kesibukan sahabat Muhajirin dan Anshor untuk menentukan khalifah pengganti Rasulullah SAW di perkampungan bani Saqifah, sementara jenazah Rasulullah sendiri belum dikuburkan. Kekhalifahan dalam Islam mengalami pasang surut antara kejayaan, keemasan dan kadang kemunduran. Salah satu kekhalifahan yang mempunyai rentang waktu panjang dan kejayaan yang mengagumkan adalah Kekhalifahan Utsmaniyah di Turki. Kesukseskan terbesar kekhalifahan Utsmaniyah diantaranya adalah penaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453. Hal ini mengukuhkan status kesultanan tersebut sebagai kekuatan besar di Eropa Tenggara dan Mediterania Timur. Hingga hampir dikatakan, semua kota penting yang sangat terkenal sejak jaman dahulu masuk ke dalam wilayah kekhalifahan Utsmaniyah. Pada saat itu seluruh Eropa gemetar dengan kekuasaan Utsmaniyah, Raja-raja Eropa berada dalam jaminan keselamatan yang diberikan khalifah Utsmaniyah.

Semua hal inilah yang menjadikan raja-raja Eropa menyimpan dendam sekaligus hasrat yang membara untuk meluluhlantakkan Khalifah Utsmaniyah. Mereka menunggu kesempatan dan menyusun rencana yang benar-benar matang. Bahkan disebutkan bahwa para pemikir, filosof, raja, panglima perang dan pastur bangsa Eropa ikut terlibat dalam penyusunan rencana tersebut. Tak kurang dari perdana menteri Romawi Dubuqara menulis buku yang berjudul Seratus Kiat untuk Menghancurkan Turki.
Sebab-sebab Keruntuhan Kekhalifahan Utsmaniyah Turki
Pemerintahan Kekhalifahan Utsmaniyah berakhir pada 1909 H, dan kemudian benar-benar dihapuskan pada 1924 H. Setidaknya ada tiga sebab yang melingkupi keruntuhan kekhilafahan kebanggaan kaum muslimin ini, antara lain :

Pertama : Kondisi Pemerintahan yang Lemah dan Kemorosotan Akhlak
Turki mulai mengalami kemunduruan setelah terjangkit penyakit yang menyerang bangsa-bangsa besar sebelumnya, yaitu : cinta dunia dan bermewah-mewahan, sikap iri hati, benci membenci, dan penindasan. Pejabat pemerintahan terpuruk karena suap dan korupsi. Para wali dan pegawai tinggi memanfaatkan jabatannya untuk jadi penjilat dan penumpuk harta. Begitu pula rakyat yang terus menerus tenggelam dalam kemewahan dan kesenangan hidup, meninggalkan pemahaman dan semangat jihad.

Kedua : Serangan dan Pertempuran Militer dari Eropa
Sebelum terjadinya Perang Dunia I yang menghancurkan Turki, upaya penyerangan dari Raja Eropa ke Turki sebenarnya sudah dimulai pada akhir abad 16, dimana saat itu keluar statement yang menyatakan bahwa : ” Sri Paus V, raja Perancis Philip dan republik Bunduqiyah sepakat untuk mengumumkan perang ofensif dan defensif terhadap orang-orang Turki untuk merebut kembali wilayah-wilayah yang dikuasai Turki seperti Tunisia, Al-Jazair dan Taroblush”. Sejak itulah Turki melemah karena banyaknya pertempuran yang terjadi antara mereka dan negara-negara Eropa.
Puncak dari semua itu adalah keterlibatan Turki dalam Perang Dunia I pada 2 Agustus 1914 atas rencana busuk dari Mustapa Kamal, dan mengakibatkan Turki kehilangan segala-galanya, dimana militer penjajah akhirnya memasuki Istambul.

Ketiga : Gerakan Oposisi Sekuler dan Nasionalis
Selain serangan konspirasi dari luar, kekhalifahan Utsmaniyah juga menerima perlawanan oposisi dari organisasi sekuler dan nasionalis yang sempit, seperti Organisasi Wanita Turki dan Organisasi Persatuan dan Kemajuan yang digawangi oleh Mustafa Kemal Ataturk. Dalam perjuangannya, mereka banyak bekerja sama dengan negara Eropa untuk mewujudkan keinginan mereka menghilangkan kekhalifahan.
Puncaknya apa yang terjadi pada tahun 1909 H, dengan dalih gerakan mogok massal, organisasi Persatuan dan Kesatuan berhasil memasuki Istambul, menyingkirkan khalifah Abdul Hamid II dan melucutinya dari pemerintahan dan keagamaan dan tinggal menjadi simbol belaka. Tidak cukup itu, pada 3 Maret 1924, badan legislatif mengangkat Mustafa Kamal sebagai presiden Turki dan membubarak khilafah islamiyah. Tidak lama setelah itu, Khalifah Abdul Hamid dan keturunannya diusir dari Turki dan aset kekayaannya disita.

C. PERKEMBANGAN GERAKAN ISLAM DAN PERMASALAHANNYA
Benturan-benturan antara Islam dan kekuatan Eropa telah menyadarkan umat Islam bahwa tentang urgensi kebangkitan dan penataan langkah bersama agar Islam kembali kuat dan jaya. Usaha untuk memulihkan kembali kekuatan Islam dikenal dengan sebutan gerakan pembaharuan atau pergerakan Islam. Pada periode ini mulai bermunculan ragam pemikiran pembaharuan dalam Islam, khususnya yang perkaitang dengan dua hal :

Pertama : Gerakan yang berkonsentrasi pada Pemurnian Ajaran Islam
Gerakan ini timbul dari kesadaran di kalangan ulama bahwa banyak ajaran – ajaran asing yang masuk dan diterima sebagai ajaran Islam padahal bukan bagian dari agama Islam itu sendiri. Ajaran – ajaran tersebut bertentangan dengan semangat ajaran Islam yang sebenarnya, sepert bid’ah, khurafat dan takhayul. Ajaran inilah yang menyebabkan Islam menjadi mundur. Oleh karena itu, mereka bangkit membersihkan Islam dari ajaran atau paham tersebut. Yang termasuk dalam model gerakan ini antara lain :
1) Gerakan Wahhabiyah yang dipelopori oleh Muhammad ibn Abdul al-Wahhab ( 1703 – 1787 M) di Arabia.
2) Grakan Syah Waliyullah ( 1703 – 1762 M ) di India.
3) Gerakan Sanusiyyah di Afrika Utara yang dipimpin oleh Said Muhammad Sanusi dari Aljazair.

Kedua : Gerakan yang mengarah pada Penyatuan dan Kebangkitan umat Islam dari sisi politik dan peradaban.
Gerakan ini lahir sebagai reaksi atas gencarnya serangan pemikiran dan hegemoni barat atas kaum muslimin. Maka mereka berupaya untuk menyatukan potensi dan kemampuan kaum muslimin untuk bangkit dan melawan dominasi Barat. Tokoh dan pemikir yang masuk dalam model gerakan ini antara lain :
1) Di Mesir : Jamaluddin al-Afghani ( 1839 – 1897 M ), Muhammad ‘Abduh (1849-1905 M). Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935 M)
2) Di India :Syed Amir Ali ( 1848-1928 M ) , Sayid Ahmad Khan (1817-1897 M), Muhammad Iqbal (1877)
3) Di Turki : Said Nursi (1876)
4) Di Indonesia HOS Tjokroaminoto dengan Serikat Islam-nya (SI) pada awal abad 20

Pada perkembangan selanjutnya, kedua model gerakan di atas telah menginspirasi lahirnya gerakan islam modern yang beragam dan tersebar diseluruh penjuru negara-negara muslim, ada yang berskala lokal seperti Jama’at Islami (Pakistan), Masyumi , Nadhatul Ulama dan Muhammadiyah (Indonesia), maupun yang berskala lebih luas seperti Ikhwanul Muslimin, Jamaah Salafiyah, Jama’ah Tabligh dan juga Hizbut Tahrir. Beberapa yang disebut terakhir hingga saat ini terus mewarnai medan dakwah dan pergerakan Islam kontemporer. Untuk mengenal manhaj dan karakteristik masing-masing dari gerakan tersebut, bisa dilihat di buku Gerakan Pemikiran dan Keagamaan yang disusun oleh World Assembly of Muslim Youth.

Permasalahan Pergerakan Islam Kontemporer

Perkembangan gerakan Islam kontemporer begitu marak setelah selesainya era perang dunia, hal ini ditandai dengan dimulainya keterlibatan mereka dalam kebijakan politik dan pemerintahan negara-negara muslim. Meski tidak semua negara muslim bisa mengakomodasi sepenuhnya dengan gerakan ini, tetapi beberapa contoh di lapangan seperti Sudan, Palestina, Turki dan Indonesia menunjukkan bahwa kelangsungan dan eksistensi gerakan Islam tetap diakui dan dibutuhkan. Namun permasalahan yang melingkupi gerakan Islam kontemporer juga senantiasa berulang dan seolah tak pernah habis oleh perkembangan zaman. Karenanya, menjadi kewajiban bagi pemuda Islam untuk melihat dan mengkaji apa yang sebenarnya di alami oleh gerakan Islam kontemporer, agar bisa mengambil pelajaran sekaligus solusi yang tepat untuk menyelesaikannya.

Dr. Yusuf Qardhawi sebagai ulama sekaligus praktisi gerakan Islam, menuliskan dalam bukunya Ainal Kholal, tentang permasalahan yang senantiasa menghinggapi gerakan islam kontemporer, yaitu tiga hal sebagai berikut :

Pertama : Lemahnya Kritik Subyektif ( Otokritik)
Dalam istilah syariat, otokritik disebut sebagai muhasabah atau instropeksi dan pengendalian diri. Hal ini merupakan anjuran yang berlaku bagi seluruh kaum muslimin, tak terkecuali gerakan islam sebagai salah satu komponennya. Dalam hadits nabi disebutkan : “ orang yang pandai adalah orang yang suka merendahkan diri “ (HR Ibnu Majah, Tirmizi dan al Hakim). Pernyataan Umar bin Khotob juga cukup dikenal dalam masalah ini, ia mengatakan : “ hisablah dirimu sebelum engkau dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum engkau ditimbang nanti “.

Perlu kiranya menghidupkan karakter muhasabah dan instropeksi pada setiap elemen gerakan Islam, sehingga lebih terbuka pada masukan dan kritikan dari pihak luar kepadanya. Tidak selalu merasa benar dan tertutup dalam manhaj dan amaliyahnya. Begitu pula jika kritikan itu datang dari anggota gerakannya, tidak kemudian lantas dicap sebagai pengganggu ketaatan dan soliditas jamaah.

Kedua : Pertentangan dan Pengelompokan
Permasalahan berikutnya yang dihadapi gerakan Islam adalah pengelompokan dan pertentangan satu sama lainnya di medan dan lapangan dakwah. Beragamnya gerakan dakwah yang masing-masing mempunyai kecenderungan yang berbeda dalam manhajnya, membuat situasi di lapangan terkadang begitu keruh karena perbedaan yang mengerucut. Dalam masalah ini yang menjadi korban adalah masyarakat awam yang senantiasa disodori sekian pertentangan dan perbedaan antar gerakan Islam. Hal semacam ini tentu saja menjadi sebuah keprihatinan tersendiri mengingat Allah SWT berfirman : “ Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh “ (QS As-Shof : 04)

Ketiga : Mendahulukan Kecenderungan Perasaan atas Akal dan Pemahaman
Perasaan tentu mempunyai tempat yang mulia dalam aktifitas setiap muslim. Namun terkadang berlebihan dari sisi perasaan tanpa melihat sisi ilmu dan pemahaman akan menjebak gerakan Islam dalam kesalahan tertentu, seperti :
1) Minimnya Studi dan Perencanaan : karena semangat dan perasaan yang berlebih dalam melakukan kebaikan, terkadang tidak diikuti dengan kemampuan perencanaan yang matang. Maka akhirnya banyak program yang dijalankan di awal tanpa ada kelanjutan dan kesinambungan.
2) Ketergesaan : yaitu berharap bahwa apa yang dijalankan dan diprogramkan harus senantiasa terlihat hasilnya dalam waktu yang singkat.
3) Berlebihan dalam Pernyataan : yaitu cepat menganggap sesuatu hasil sebagai prestasi besar, dan sebuah cacat sebagai kegagalan besar. Padahal hakikat perjalanan dakwah memang senantiasa dihiasi dengan suka duka perjuangan, juga pujian dan cercaan.

Ketiga masalah di atas tentunya dialami dengan kuantitas dan kualitas berbeda bagi setiap gerakan Islam yang ada. Namun menjadi penting bagi para pemuda untuk segera mengukur dan menyiapkan diri dalam mencari jalan keluar permasalahannya.

D. POTENSI PEMUDA DAN REVITALISASI PERANANNYA
Sebutan pemuda memang menjadi sebuah jaminan akan dinamisme sebuah gerakan bahkan juga sebuah generasi sekalipun. Dalam sejarah akan dengan mudah kita temukan nama-nama pemuda yang menghiasi perubahan dan kemajuan setiap zaman. Hal ini disebabkan golongan pemuda pada dasarnya memang mempunyai sekian potensi kebaikan dan keunggulan yang sangat mudah untuk diberdayakan menjadi kekuatan positif. Dr. Mustafa Muhammad Thahan dalam Risalah Pergerakan Pemuda Islam menyebutkan sekian potensi pemuda Islam, antara lain :
1) Kekuatan Pemuda ( Quwwatu As-Syabab)
2) Obyektif / Memberi tanpa berpihak ( Al-Atho bila tahazzub)
3) Kelompok yang semangat Bekerja ( Qoumun Amaliyyun)
4) Gemar Berdiskusi dan Syuro secara terbuka ( As-Syuro bila Istbidad)
5) Jauh dari Fanatisme Golongan ( Alamiyah duuna Taashob)
Potensi di atas menjadi modal awal bagi pemuda untuk melakukan revitalisasi peranannya dalam perjalanan gerakan Islam kontemporer. Kita mulai dengan memaknai lebih dalam tentang revitalisasi
Makna Revitalisasi Peran Pemuda : Bekal dan Peluang
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, Revitalisasi berarti proses, cara, dan perbuatan menghidupkan kembali suatu hal yang sebelumnya kurang terberdaya. Revitalisasi berarti menjadikan sesuatu atau perbuatan menjadi vital. Sedangkan kata vital mempunyai arti sangat penting atau perlu sekali (untuk kehidupan dan sebagainya). Maka dalam kaitannya dengan Revitalisasi Peran Pemuda, pengertian yang bisa kita simpulkan secara sederhana adalah mengoptimalkan dan memastikan kembali peran muda dalam gerakan perbaikan secara umum, dan gerakan islam kontemporer secara khusus.

Sehingga, secara sederhana bisa kita simpulkan, bahwa revitalisasi peran pemuda hanya bisa terwujud dengan optimal jika ada kepastian dalam dua sisi, yaitu bekal dan peluang.

Pertama : Membekali Pemuda
Jika kita melihat kembali uraian sebelum ini tentang sebab kemunduran umat Islam dari sisi imperialisme barat, juga sebab-sebab keruntuhan Turki Utsmani, dan juga tentang berbagai kelemahan dan permasalahan yang melingkupi gerakan Islam, maka sungguh kemudian kita perlu menghadirkan sosok pemuda dengan bekal yang cukup beragam agar tidak jatuh pada kesalahan yang sama dengan hal-hal yang tadi disebutkan. Sehingga yang diperlukan adalah pembekalan secara intensif dan kontinyu untuk mencetak pemuda yang mempunyai karakter :
1) Terbuka dan menyatukan umat, bukan fanatis dan memecah belah.
2) Sederhana dan praktis dalam kehidupan, tidak mudah tergoda dengan kemewahan dunia
3) Keahlian manajerial dan perencanaan yang menonjol, dalam setiap bidang yang ditekuninya
4) Spesialisasi keilmuan yang unggul dan beragam
Pemuda dengan jam terbang keilmuan yang terbatas akan sangat riskan jika harus maju ke dalam aktifitas gerakan Islam. Akibatnya bisa mengulangi kesalahan yang sama , mungkin juga berarti kerusakan dan kehancuran. Tentang hal ini, Rasulullah SAW telah memberikan peringatan dalam sabdanya : “ Jika sebuah urusan diserahkan pada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya “ (HR Bukhori ).
Hendaklah setiap pemuda berbekal dengan baik sebelum dan sesudah melangkah dalam aktifitas gerakan dakwah , dan tidak perlu juga tergesa-gesa untuk menjadi pemimpin sebelum benar-benar matang keilmuannya. Umar bin Khotob ra berkata : Tingkatkanlah pemahaman sebelum kamu diangkat jadi pemimpin . Sementara itu, Ibnu Hajar dalam Fathul Bary mengutip ucapan Imam Syafi’I ra : Apabila anak muda diangkat menjadi pemimpin maka ia kehilangan banyak Ilmu .

Kedua : Memberi Peluang Kepada Pemuda untuk Memimpin
Peluang disini artinya peluang untuk memimpin, baik secara umum dalam masyarakat, maupun secara khusus dalam gerakan Islam kontemporer. Ini adalah sesuatu yang menarik, dan senantiasa menjadi wacana yang berulang pembahasannya dari hari ke hari. Sejatinya, prasyarat kepemimpinan dalam Islam, tidak pernah disangkutkan dengan usia. Bahkan dalam Sholat sekalipun, urutan prioritas menjadi imam bukanlah ditangan mereka yang paling tua, akan tetapi yang paling faham dan hafal dengan kitabullah. Kalaupun ada syarat yang lain, adalah yang lebih dahulu hijrah atau masuk Islam. Lagi-lagi hal ini juga tidak selalu identik dengan prasyarat usia. Bukti yang lebih jelas lagi adalah diangkatnya Usamah bin Zaid ra oleh Rasulullah SAW untuk memimpin pasukan besar menuju Balqo’ arah Palestina pada tahun 11 Hijriyah. Sebagai catatan tambahan, usia Usamah pada waktu itu baru 18 tahun, sementara didalam pasukannya ada nama-nama besar, para sahabat veteran berbagai kancah jihad seperti Abu Bakar ra dan Umar.
Maka dengan ini semua, sungguh revitalisasi pemuda akan selalu menemukan jodoh dan muaranya saat benar-benar bisa menjadi pemimpin dalam masyarakat dan gerakan Islam yang ada. Salah satu yang menjadi kendala utama adalah penerimaan publik kepada para pemuda untuk menjadi pemimpinnya. Dalam banyak kesempatan, nyaris para pemuda tidak mendapat peluang yang signifkan untuk menjadi pemimpin dalam masyarakat dan gerakan Islam. Jadi pada sini ini, penerimaan oleh publik perlu menjadi wilayah perhatian para pemuda sebelum berkiprah lebih jauh dalam masyarakat atau gerakan dakwah.
Sisi penerimaan publik sangat dihargai dalam Islam. Dalam sholat sekalipun, tidak diperkenankan menjadi imam bagi mereka yang tidak disukai jamaahnya. Contoh sejarah telah banyak membuktikan bahwa kelancaran kinerja sebuah jamaah, organisasi, ataupun pasukan biasanya ditentukan faktor ketaatan pada pimpinan. Pada kondisi tertentu, ketaatan ini sangat berhubungan dengan penerimaan publik atau orang-orang yang dipimpinnya. Jika sejak awal ada ketidakpercayaan pada sosok pimpinan, maka ini akan sangat mengganggu kerja-kerja berikutnya.
Akhirnya, betapapun baik kita menyiapkan para pemuda kita dengan berbagai bekal dan tempaan, tapi jika tidak didukung dengan kelapangan hati kepada mereka untuk mendapatkan posisi strategisnya, maka cita-cita revitalisasi peran pemuda menjadi prematur dengan sendirinya.

E. KESIMPULAN DAN PENUTUP
Dihadapan kita sejarah kemunduran Islam begitu terpampang jelas, khususnya yang berkaitan dengan faktor-faktor yang menyebabkannya. Dari mulai gambaran imperialisme hingga keruntuhan Turki Utsmani. Proses bangkitnya umat ini dari keterpurukan, yang disupervisi oleh gerakan islam pun bukan tanpa masalah, bahkan serentetan masalah internal gerakan Islam senantiasa ada dan menghiasi perjalanannya. Maka, sebelum menyalahkan dunia barat akan lambatnya proses kebangkitan umat, akan lebih baik melihat ke dalam, memperbaiki proses pembekalan dan pengkaderan pemuda islam agar mempunyai kemampuan dan karakter unggulan dalam menjalankan aktifitasnya. Setelah itu, pada saatnya nanti perlu juga dibuka kepastian tentang peluang pemuda sebagai pemimpin dalam berbagai level kepemimpinan, baik di dalam gerakan islam maupun level masyarakat umum. Semoga Allah SWT memudahkan.

Daftar Pustaka
Thahan, Musthafa Muhammad. 2007. Risalah Pergerakan Pemuda Islam, WAMY, Jakarta.
An-Nadwi, Abul Hasan Ali Al Hasani. 2002. Bahaya Kemunduran Umat Islam, Pustaka Setia, Bandung.
Qardhawi, Yusuf. 2001. Titik Lemah Umat Islam, Salam, Jakarta.
Qardhawi, Yusuf. 1994. Membangun Masyarakat Baru, GIP Jakarta.
Al-Wakil, Muhammad Sayid. 2009. Wajah Dunia Islam. Al-Kautsar, Jakarta.
Al Maktabah Asy-Syamilah

Hatta Syamsuddin, Lc
Mahad Abu Bakar As-Shiddiq Universitas Muhammadiyah Surakarta
Jl. A. Yani 1 Pabelan Kartasura PO. BOX. 108 Surakarta,
e-mail: sirohcenter@gmail.com – www.indonesiaoptimis.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *