Yuliana Fitri Syamsuni (C 551090171) -1

REPRODUKSI PENYU DAN RESPON TERHADAP PERUBAHAN IKLIM

Oleh

Yuliana Fitri Syamsuni (C 551090171)

Pasca Sarjana IPB, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan – Mayor Ilmu Kelautan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor

Dipersiapkan untuk tugas Mata Kuliah Biologi Laut

Dosen Pengajar: Dr. Ir. Neviaty P. Zamani, M.Sc. dan Dr. Karen von Juterzenka

RINGKASAN

1. Pendahuluan
Penyu merupakan hewan purba yang masih bertahan hingga sekarang ini. Namun demikian,
jumlah spesies dan populasinya menurun drastis selama beberapa dekade terakhir. Hanya terdapat
tujuh spesies di dunia, diantaranya adalah penyu Hijau (Chelonia mydas), penyu Sisik (Eretmochelys
imbricata), penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), penyu Tempayan (Caretta caretta), penyu Pipih
(Natator depressus), dan penyu Kempi (Lepidochelys kempi) yang termasuk ke dalam famili
cheloniidae dan penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) yang termasuk dalam famili
Dermochelydae.
Daerah distribusi penyu tersebar dari daerah tropis hingga sub tropis. Dari tujuh spesies di
dunia, enam diantaranya terdapat di Indonesia untuk bertelur dan mencari makan, yaitu penyu
Hijau, penyu Sisik, penyu Belimbing, penyu Lekang, penyu Tempayan dan penyu Pipih. Khusus
penyu pipih, keberadaannya di Indonesia hanya untuk mencari makan. Jenis ini bertelur di daerah
Australia. Satu-satunya spesies yang tidak terdapat di Indonesia adalah penyu Kempi, penyu ini
hidup endemik didaerah Australia (Dermawan dan Adnyana, 2003).
2.Siklus Hidup Penyu
Penyu merupakan hewan yang memiliki siklus hidup yang panjang (Lanyon et al, 1989).
Hewan ini mencapai dewasa pada umur 30-50 tahun. Selain itu, hewan ini memilki keistimewaan
lainnya yaitu mampu bermigrasi sangat jauh dan kembali ke tempat asalnya untuk bereproduksi.
Penyu jantan dan betina dewasa melakukan kopulasi di sekitar pesisir. Setelah kopulasi, penyu
betina akan naik ke pantai untuk bertelur sedangkan penyu betina akan kembali ke perairan untuk
mencari makan. Interval bertelur pada penyu betina sekitar 2-3 minggu sedangkan interval untuk
melakukan perkawinan selama 2-8 tahun (Lanyon et al., 1989; Marquez-M, 1990). Setelah selesai
bertelur, induk dewasa akan kembali lagi ke laut. Telur-telur akan menetas 2-3 bulan, variasi
tergantung pada spesies dan suhu lingkungan. Anak-anak penyu atau tukik yang menetas akan
berjuang sendiri untuk kembali ke laut. Fase ini merupakan fase yang paling rentan terhadap
predasi. Konon, hanya 1% dari semua tukik yang menetas mampu mencapai umur dewasa.
3. Reproduksi
Penyu merupakan hewan dioceous, dimana terdapat individu jantan dan individu betina.
Kopulasi, biasanya berhubungan dengan tingkah laku, terjadi di perairan dangkal. Fertilisasi terjadi
secara internal. Seperti reptil lainnya, penyu bersifat ovovipar yaitu bertelur (Miller, 1997). Seperti
yang telah disebutkan sebelumnya, umur dewasa penyu tercapai pada kisaran 30-50 tahun (Lanyon
et al., 1989), sedangkan ukuran tubuh tidak bisa dijadikan sebagai indikator kedewasaan (Miller,
1997).
3.1. Biologi Reproduksi
Marquez-M (1990) mengemukakan bahwa terdapat variasi lamanya periode inkubasi pada
beda spesies. Lamanya periode inkubasi telur penyu Sisik berkisar pada 43-80 hari (Pilcher and Ali,
1999); penyu Lekang berkisar pada 46-91 hari Limpus et al (1985), Margaritoulis (2005); penyu Hijau
Yuliana Fitri Syamsuni (C 551090171) -2
berkisar pada 43-70 hari (Broderick et al.,2000, Marquez-M, 1990); penyu Kempi berkisar pada 45-
58 hari (Marquez-M, 1990); penyu Tempayan berkisar pada 49-69 hari (Marquez-M, 1990); penyu
Belimbing berkisar pada 50->70 hari (Marquez-M, 1990).
Jenis kelamin penyu ditentukan oleh besarnya suhu lingkungan atau suhu sarang (Limpus et
al., 1985 dan Miller, 1997). Suhu tinggi akan menghasilkan individu betina, sebaliknya suhu rendah
akan menghasilkan individu betina. Suhu penentu jenis kelamin ini juga sedikit bervariasi pada beda
spesies. Suhu penentu ini merupakan titik suhu dimana akan dihasilkan individu betina dan dengan
perbandingan yang sama. Marquez-M (1990) memberikan beberapa informasi suhu penentu jenis
kelamin pada beberapa spesies. Penyu Sisik dan penyu Belimbing mempunyai suhu penentu jenis
kelamin pada rentang 29-30°C. Penyu Tempayan juga berada pada suhu sekitar 30°C. Besaran suhu
di atas suhu-suhu tersebut di atas akan menghasilkan jenis kelamin betina, sebaliknya di bawah
besaran-besaran suhu tersebut akan menghasilkan jenis kelamin jantan. Informasi yang lebih detail
didapat pada penyu Lekang, dimana suhu 28°C akan menghasilkan individu jantan dan 32°C akan
menghasilkan individu betina.
3.2. Tingkah Laku Reproduksi
Umumnya penyu dewasa (Miller, 1997) melakukan kopulasi di perairan sekitar pesisir.
Setelah itu, penyu betina akan naik ke pantai untuk bertelur sedangkan individu jantan akan tetap
berada di perairan. Penyu betina bisa bertelur 2-3 kali dalam satu periode reproduksi dengan
interval kurang lebih 2-3 minggu (Marquez-M, 1990). Individu betina tidak bereproduksi tiap tahun,
melainkan 2-3 tahun sekali (Miller, 1997).
Tingkah laku bertelur penyu juga amat menarik. Umumnya induk penyu mendarat untuk
bertelur pada malam sampai dini hari. Miller (1997) menyimpulkan penelitian yang dilakukan oleh
Carr and Ogren (1960), Hendrickson (1958,1982) dan Bustard, Greenham and Limpus (1975)
mengenai tingkah laku bertelur penyu. Secara umum, ritual yang dilakukan oleh penyu betina
dalam bertelur diterangkan dalam urutan di bawah ini.
1. Mulai naik ke darat,merasakan pasir, muncul dari ombak
2. Merayap di pantai
3. Memilih tempat bertelur
4. Membersihkan tempat bertelur
5. Membuat lubang badan
6. Membuat lubang sarang
7. Mengeluarkan telur
8. Menimbun lubang sarang
9. Menimbun lubang badan
10. Kembali ke laut
4. Respon Penyu Terhadap Perubahan Iklim
Dampak peningkatan suhu secara global nampaknya mempengaruhi semua aspek
kehidupan, tidak terkecuali keberlangsungan hidup spesies penyu yang terancam punah ini. Aspek
struktur populasi dan migrasi merupakan hal yang sangat rentan terhadap kondisi ini. Berikut ini
merupakan beberapa aspek yang rentan mengalami perubahan.
• Peningkatan suhu pasir akan mempengaruhi sex ratio:
Akan menghasilkan lebih banyak betina, dengan kondisi ekstrim dimana 100% individu betina
akan dihasilkan. Pertanyaannya adalah apakah suhu penentu kelamin penyu akan bergeser
untuk mengakomodasi keseimbangan rasio kelamin betina dan jantan, dan apakah proses
pendinginan (presipitasi) mampu mengimbangi peningkatan suhu pasir sarang?
• Perkawinan silang antar spesies (hibridisasi):
Diduga karena faktor ketidakseimbangan rasio kelamin betina dan jantan di populasi. Contoh
antara penyu sisik dan penyu hijau di Teluk California, Meksiko(Seminoff et al., 2003). Sehingga
Yuliana Fitri Syamsuni (C 551090171) -3
jika kondisi ketidakseimbangan rasio kelamin ini terus berlanjut, akankah kejadian hibridisasi
makin banyak ditemukan?
• Perubahan struktur populasi pada habitat bertelur:
Contoh : Perubahan populasi penyu di pesisir Guyana dari dominasi penyu sisik (Eretmochelys
imbricata) dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea) menjadi penyu hijau (Chelonia mydas) dan
penyu belimbing (Dermochelys coriacea) (artikel Stabroek News, 25 Juni 2007 dalam Marine
Turtle Newsletter No. 117, 2007). Pertanyaannya adalah apakah ini merupakan efek dari global
warming atau bukan?
• Penaikan muka air laut (sea level rise):
Yang akan terjadi adalah habitat peneluran menyempit/menghilang (terutama pantai yang
landai), kasus penumpukan sarang makin banyak, kasus sarang penyu terendam pasang air laut
makin banyak, angka keberhasilan penetasan (hatching succes) berkurang. Pertanyaan yang
timbul adalah apakah sarang akan semakin menuju darat (jauh dari laut) dan akankah populasi
penyu memilih pindah tempat lain?
• Diprediksikan perubahan sistem arus global:
migrasi penyu bergantung pada arus laut sehingga kemungkinan bisa mempengaruhi rute
migrasi penyu
5. Rekomendasi Penelitian
Status populasi :
• Keberhasilan tetas (Hatching success), Periode Inkubasi, Estimasi Sex ratio
• Distribusi sarang penyu
• Hibridisasi (morfologi dan analisis DNA)
• Monitoring populasi (termasuk migrasi)
Parameter fisik :
• Monitoring suhu pasir sarang penyu
• Studi perubahan garis pantai (modelling)
• Modelling migrasi penyu (tukik sampai dewasa) terhadap arah arus
• Survey dan monitoring pantai-pantai (terutama pulau kecil) yang merupakan habitat
peneluran
6. Pustaka
Broderick, A.C., B.J. Godley, S. Reece and J.R. Downie. 2000. Incubation periods and sex ratios of green
turtles: highly female biased hatchling production in the eastern mediterranian. Mar Ecol Prog Ser
(202): 273-281
Lanyon, J., Limpus, C.J, and Marsh H. 1989. Generalized life cycle of sea turtle in Larkum, A.W.D., McComb,
A.J., and Sheperd, S.A (Eds.) Biology of seagrasses. Elsevier. New York.
Limpus, C.J., P.C. Reed and J.D. Miller. 1985. Temperature dependent sex determination in queensland
seaturtles: intraspecific variation in Caretta caretta.In Grigg, G., R. Shine and H. Ehmann (Eds.) Biology
of Australasian frogs and reptiles. Royal Zoological Property. New South Wales. pp:343-351
Margaritoulis, D. 2005. Nesting activity and reproductive output of loggerhead seaturtles, Caretta caretta,
over 19 seasons (1984-2002) at Laganas Bay, Zakynthos, Greece: The largest rookery in the
Mediterranean. Chelonian Conservation and Biology (4): 916-929
Marquez-M, Rene. 1990. FAO species catalogue vol.11 Sea turtles of the world. An annotated and illustrated
catalogueof sea turtle species known to date. FAO Fisheries Synopsis No. 125, volume 11. Rome
Miller, J.D. 1997. Reproduction in sea turtles. In Lutz P.L and J.A. Musick (Eds.) The Biology of sea turtles. CRC
Press, Inc.pp:52-81
Seminoff J.A., S.A. Karl, T. Schwartz and A. Resendiz. 2003. Hybridization of the green turtle (Chelonia mydas)
and hawksbill turtle (Eretmochelys imbricata) in the pacific ocean: indication of an absence of gender
bias in the directionality of process. Bulletin of Marine Science, 73(3):643-652
Stabroek News. 1997. Climate change affecting sea turtle nesting habits in Marine Turtle Newsletter No. 117.
2007. (Article)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *