REFERAT SINUSITIS

Oleh :
KELOMPOK VI
Eka Evia R.A
Mustika Anggane Putri
KEPANITERAAN KLINIK RSUP FATMAWATI
STASE THT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2009
BAB I
PENDAHULUAN
Sinusitis merupakan penyakit yang sering ditemukan dalam praktek dokter sehari-hari, bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di seluruh dunia. Sinusitis umumnya disertai peradangan di hidung (rhinitis), sehingga sering disebut rhinosinusitis. Kurang lebih 10 sampai 15 juta orang di dunia mengalami gejala sinusitis tiap tahunnya. Insidens kasus baru rinosinusitis pada penderita dewasa yang datang di Divisi Rinologi Departemen THT RSCM Januari-Agustus 2005, adalah 435 pasien, 69% (300 pasien) adalah sinusitis.
Definisi sinusitis sendiri adalah inflamasi atau peradangan yang terjadi pada mukosa sinus paranasal. Sinusitis sering disebut dengan rinosinusitis karena umumnya sinusitis dipicu oleh rhinitis. Agen penyebab sinusitis adalah infeksi virus kemudian diikuti infeksi bakteri dan jamur. Sinusitis bisa terjadi pada salah satu, beberapa atau semua sinus. Sinusitis yang mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, dan apabila mengenai semua sinus disebut pansinusitis.
Sinus yang paling sering terkena adalah sinus etmoid, kemudian sinus maksila. Gejala sinusitis sangat mempengaruhi aktivitas penderita seperti nyeri kepala, hidung tersumbat, post-nasal drip, kelemahan, halitosis dan dyspepsia. Sinusitis dapat menyebabkan komplikasi ke orbita dan intracranial serta oseteomielitis dan kelainan paru.
BAB II
PEMBAHASAN
II.1. Anatomi dan Fisiologi Sinus Paranasal
Sinus paranasal merupakan suatu ruang berisi udara yang berada di
tulang kepala (os maxillae, os frontale, os sphenoidale, dan os ethmoidale).
Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala.Sinus
paranasal berhubungan dengan kavum nasi melalui suatu ostium. Manusia
memiliki empat pasang sinus paranasal, mulai dari yang terbesar yaitu
sinus maksila, sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sphenoid. Sama halnya
dengan tuba eustachius, telinga tengah dan saluran pernapasan, epitel sinus
paranasal dilapisi oleh epitel kubus bertingkat bersilia.
Secara embriologi, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa
rongga hidung, dan perkembangannya dimulai pada usia fetus 3-4 bulan,
kecuali sinus sphenoid dan sinus frontal, sinus maksila dan sinus etmoid
telah ada saat bayi lahir, sedangkan sinus frontal berkembang dari sinus
etmoid anterior pada anak yang berusia kurang lebih 8 tahun. Pneumatisasi sinus sphenoid dimulai pada usia 8-10 tahun dan berasal dari bagian posterosuperior rongga hidung.
a.Sinus Frontal
Sinus frontal terletak pada os frontal. Sinus frontal kuarng lebih bentuknya menyerupai pyramid, dengan dinding anteriornya os frontal yaitu dahi, dinding posterosuperior dibentuk oleh os frontal yang berbatasan dengan lobus frontal cerebri, dan dasarnya dibentuk oleh sel etmoid, atap fossa nasal dan orbita. Sinus frontal kanan dan kiri dipisahkan oleh septum. Sinus frontal bermuara ke bagian anterior meatus medius melalui infundibulum ke dalam hiatus semilunaris.
b.Sinus Maksilaris
Sinus maksilaris merupakan sinus terbesar berbentuk piramida yang terletak pada os maksilaris. Dinding medial dibentuk oleh dinding lateral dari rongga hidung, dinding anterior sinus adalah permukaan fasial os maksila, dinding posterior adalah permukaan infratemporal maksila, dinding superiornya adalah dasar orbita dan dinding inferiornya ialah prosesus alveolaris dan palatum. Sinus maksila bermuara ke hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid.
c.Sinus Etmoid
Sinus etmoid terletak didalam os ethmoidale, diantara hidung dan orbita. Sinus etmoid berongga-rongga, terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang tawon. Sel-sel ini jumlahnya bervariasi. Sinus ini dibagi dalam dua
kelompok : anterior dan posterior. Sel-sel sinus etmoid anterior biasanya kecil-kecil dan banyak, letaknya di depan lempeng yang menghubungkan bagian posterior konka media dengan dinding lateral, dan bermuara di meatus medius. Sedangkan sel-sel sinus etmoid posterior biasanya lebih besar dan lebih sedikit jumlahnya , terletak di posterior dari lamina basalis, dan bermuara di meatus superior. Sinus etmoid terpisah dari orbita oleh lamina tipis tulang, sehingga infeksi dengan mudah dapat menjalar dari sinus ke dalam orbita. Selain itu, sinus etmoid dapat merupakan focus infeksi bagi sinus-sinus lainnya. Di bagian terdepan sinus etmoid anterior terdapat recessus frontal yang berhubungan dengan sinus frontalis. Di daerah etmoid anterior terdapat suatu penyempitan yang disebut infundibulum, tempat bermuaranya sinus maksila. Sehingga peradangan di recessus frontal dapat menytebabakan sinusitis frontal dan peradangan di infundibulum dapat menyebabkan sinusitis maksila.
d.Sinus sphenoid
Sinus sphenoid terdapat dalam corpus ossis sphenoidales. Sinus ini dibagi dua oleh septum intersfenoid. Batas superior sinus adalah fosa serebri media dan kelenjar hipofisa, sebelah inferior adalah atap nasofaring, sebelah lateral berbatasan dengan sinus kavernosus dan a.karotis interna, dan sebelah posteriornya berbatasan dengan fosa serebri posterior di daerah pons. Sinus sphenoidales bermuara ke dalam recessus sphenoethmoidales di atas concha superior.
Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu di meatus medius, terdapat muara-muara saluran sinus maksila, sinus frontal dan sinus etmoid anterior. Daerah ini rumit dan sempit, dinamakan kompleks ostiomeatal, terdiri dari infundibulum etmoid yang terletak dibelakang prosessus unsinatus, resessus frontalis, bula etmoid dan sel-sel etmoid anterior dengan ostiumnya dan sinus maksila.
Mukus yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar mukosa yang melapisi sinus paranasal dialirkan ke dalam kavum nasi oleh kerja silia dari sel-sel mukosa. Drainase mucus juga dibantu oleh tenaga menyedot saat membuang ingus.Lendir yang berasal dari kelompok sinus anterior yang bergabung di infundibulum etmoid dialirkan ke nasofaring di depan muara tuba eustachius. Lendir yang berasal dari kelompok sinus posterior bergabung di recessus sfenoetmoidales, dialirkan ke nasofaring di posterosuperior muara tuba. Inilah sebabnya pada sinusitis didapati secret
pasca nasal (post nasal drip), tetapi belum ada secret di rongga hidung. Fungsi sinus paranasal adalah sebagai resonator suara, mengurangi berat cranium, membantu produksi mucus, penahan suhu dan peredam perubahan tekanan udara.
II.2. Sinusitis
II.2.1. Pendahuluan
Sinusitis adalah peradangan pada mukosa sinus paranasal. Sinusitis merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup sering. Sinusitis bisa mengenai semua sinusparanasal yang ada : sinus maksila, sinus etmoid, sinus sphenoid, dan sinus frontal. Apabila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut pansinusitis. Sinusitis umumnya disertai peradangan di hidung (rhinitis), sehingga sering disebut rhinosinusitis. Kurang lebih 10 sampai 15 juta orang didunia mengalami gejala sinusitis tiap tahunnya. Insidens kasus baru rinosinusitis pada penderita dewasa yang datang di Divisi Rinologi Departemen THT RSCM Januari-Agustus 2005, adalah 435 pasien, 69% (300 pasien) adalah sinusitis.
Sinusitis yang berlangsung beberapa hari sampai satu bulan disebut sinusitis akut, sinusitis subakut apabial berlangsung 4 minggu sampai 3 bulan dan apabial lebih dari 3 bulan disebut sinusitis kronik.
II.2.2. Etiologi dan fraktor predisposisi
Beberapa etiologi dan faktor predisposisi terjadinya sinusitis antara lain Infeksi saluran nafas atas akibat virus yang bisa diikuti infeksi bakteri, infeksi pada gigi rahang atas, asma , kelainan anatomi seperti deviasi septum atau hipertrofi konka, beberapa hal yang menyebabkan seseorang lebih rentan terhadap infeksi diantaranya : Rhinitis alergi, rhinitis hormonal, polip hidung, defisisensi imun (misalnya :pasien HIV) dan beberapa hal yang menghambat drainase saluran sinus (misalnya : sumbatan kompleks osteomeatal). Hipertrofi adenoid dan infeksi tonsil merupakan faktor penting penyebab sinusitis pada anak-anak.
Berbagai faktor fisik, kimia, saraf, hormonal dan emosional dapat mempengaruhi mukosa hidung, demikian juga mkosa sinus dalam derajat yang lebih rendah. Defisiensi gizi, defisiensi imun, dan penyakit sistemik umum perlu dipertimbangkan dalam etiologi sinusitis. Perubahan dalam faktor-faktor lingkungan, misalnya dingin, panas, kelembaban, dan kekringa, demikian pula polutan atmosfer termasuk asap tembakau , dapat merupakan predisposisi infeksi.
Agen etiologi sinusitis dapat berupa virus, bakteri atau jamur. Sinusitis virus biasanya terjadi selama infeksi saluran nafas atas; virus yang umumnya menyerang hidung dan nasofaring juga menyerang sinus. Mukosa sinus paranasal berjalan kontinu dengan mukosa hidung, dan penyakit virus yang menyerang hidung perlu dicurigai dapat meluas ke sinus.Edema dan hilangnya fungsi silia normal pada infeksi virus menciptakan suatu lingkungan yang ideal untuk perkembangan infeksi
bakteri. Infeksi ini sering melibatkan lebih dari satu bakteri. Yang sering ditemukan adalah streptococcus pneumonia, Haemophilus influenza, bakteri anaerob, Branhamella catarrhalis, streptococcus alfa, staphylococcus aureus, dan streptococcus pyogenes.
II.2.3. Patofisiologi
Normalnya, mucus yang dihasilkan oleh membrane mukosa sinus dialirkan ke rongga hidung melalui suatu ostium. Patensi ostium –ostium sinus dan lancarnya system drainase mucus ke dalam KOM sangat berpengaruh terhadap kondisi sinus, karena mucus juga mengandung substansi antimicrobial bdan zat-zat yang berfungsi sebagai pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan.
Organ-organ yang membentuk KOM letaknya berdekatan, dan bila terjadi edema, mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan ostium tersumbat. Akibatnya terjadi tekanna negative di dalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi, mula-mula serous. Kondisi ini bisa dianggap sebagai rinosinusitis non-bacterial dan biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa pengobatan.
Bila kondisi ini menetap, secret yang terkumpul dalam sinus merupakan media baik untuk tumbuhnya dan multiplikasi bakteri. Secret menjadi purulen. Keadaan ini disebut sebagai rinosinusitis akut bacterial dan memerlukan terapi antibiotic.
Jika terapi tidak berhasil, inflamasi akan berlanjut, terjadi hipoksia dan baktei anaerob berkembang. Mukosa makin membengkak dan ini
merupakan rantai siklus yang terus berputar sampai akhirnya perubahan mukosa menjadi kronik yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista. Pada keadaan ini mungkin perlu tindakan operasi.
II.2.4. Gejala
Keluhan utama sinusitis akut adalah nyeri atau nyeri tekan pada wajah, hidung tersumbat, serta ingus purulen yang bisa berwarna hijau atau kekuningan dan seringkali turun ke tenggorok (post nasal drip) yang menyebabakan sesak dan batuk pada anak. Dapat juga disertai gejala sistemik seperi demam dan lesu, dan gejala lainnya seperti sakit kepala, nafas berbau, hipoosmia/anosmia. Pada sinusitis maksila dapat disertai nyeri alih ke gigi dan telinga; sinusitis ethmoid menyebabkan nyeri disekitar atau diantara kedua mata dan pada sisi hidung; Sinusitis sphenoid dapat menyebabkan nyeri dibelakang mata, vertex, oksipital dan daerah mastoid; sinusitis frontal menyebabkan nyeri di dahi atau seluruh kepala.
Keluhan sinusitis kronik tidak khas sehingga sulit didiagnosis. Kadang-kadang hanya 1 atau 2 dari gejala – gejala di bawah ini yaitu sakit kepala kronik, post nasal drip, batuk kronik, gangguan tenggorok, gangguan telinga akibat sumbatan kronik muara tuba eustachius, gangguan ke paru seperti bronchitis (sino-bronkitis), bronkiektasis dan yang penting adalah serangan asma yang meningkat dan sulit diobati.
II.2.5. Klasifikasi
Berdasarkan waktu, konsensus tahun 2004 membagi menjadi sinusitis akut dengan batas sampai 4 minggu, sinusitis subakut antara 4 minggu sampai 3 bulan dan sinusitis kronik jika lebih dari 3 bulan.
Berdasarkan penyebabnya, dibagi menjadi sinusitis rhinogen apabila penyebabnya infeksi pada hidung, dan sinusitis dentogen apabila penyebabnya infeksi pada gigi.
a. Sinusitis Akut
Sinusitis Maksilaris
Sinusitis maksilaris akut biasanya didahului infeksi saluran napas atas yang ringan. Alergi hidung kronik, benda asing dan deviasi septum nasi merupakan faktor predisposisi local yang paling sering ditemukan.Deformitas rahang-wajah, terutama palatoskisis, dapat menimbulkan masalah pada anak. Anak-anak ini cenderung menderita infeksi nasofaring atau sinus kronik dengan angka insidens yang lebih tinggi. Sedangkan gangguan geligi bertanggung jawab atas sekitar 10 persen infeksi sinus maksilaris akut.
Gejala infeksi sinusitis maksilaris akut berupa demam, malaise dan nyeri kepala yang tak jelas yang biasanya reda dengan pemberian analgesic biasa seperti aspirin. Wajah terasa bengkak, penuh dan gigi terasa nyeri pada gerakan kepala mendadak. Seringkali terdapat nyeri pipi khas yang tumpul dan menusuk, serta nyeri pada palapasi dan perkusi.
Sinusitis Etmoidalis
Sinusitis etmoidalis akut lazim terjadi pada anak-anak, seringkali bermanifestasi sebagai selulitis orbita. Pada dewasa seringkali bersama-sama dengan sinusitis maksilaris, serta dianggap sebagai penyerta sinusitis frontalis yang tak dapat dielakkan. Gejala berupa nyeri dan nyeri tekan diantara kedua bola mata dan di atas jembatan hidung, drainase dan sumbatan hidung. Pada anak dinding lateral labirin etmoidalis (lamina papirasea) seringkali merekah dan karena itu cenderung lebih sering menimbulkan selulitis orbita.
Sinusitis Frontalis
Sinusitis frontalis akut hampir selalu bersama-sama dengan infeksi sinus etmoidalis anterior. Sinus frontalis berkembang dari sel-sel udara etmoidalis anterior, dan duktus nasalis frontalis yang berlekuk-lekuk berjalan amat dekat dengan sel-sel ini. Maka faktor-faktor predisposisi infeksi sinus frontalis akut adalah sama dengan faktor-faktor untuk infeksi sinus lainnya. Penyakit ini sering ditemukan pada dewasa, dan selain daripada gejala nfeksi yang umum, pada sinusitis frontalis terdapat nyeri kepala yang khas. Nyeri berlokasi di alis mata, biasanya pada pagi hari dan makin memburuk menjelang tengah hari, kemudian perlahan-lahan mereda menjelang malam. Tanda patognomonik adalah nyeri hebat pada palpasi atau perkusi di atas daerah sinus yang terinfeksi.
Sinus Sfenoidalis
Sinusitis sfenoidalis akut amat jarang. Sinusitis ini dicirikan oleh nyeri kepala yang mengarah ke vertex cranium. Namun penyakit ini lebih lazim menjadi bagian dari pansinusitis, dan oleh karena itu gejalanya menjadi satu dengan gejala infeksi sinus lainnya.
b. Sinusitis Kronik
Sinusitis kronik adalah sinusitis yang berlangsung lebih dari 3 bulan. Pada sinusitis akut, perubahan patologik membrane mukosa berupa infiltrate polimorfonuklear, kongesti vascular dan deskuamasi epitel permukaan yang semuanya reversible. Gambaran patologik sinusitis kronik adalah kompleks dan irreversible. Mukosa umumnya menebal , membentuk lipatan-lipatan-lipatan atau pseudopoli. Epitel permukaan tampak mengalami deskuamasi, regenerasi , metaplasia.
.Gejala sinusitis kronik tidak jelas,selama eksaserbasi akut , gejala-gejala mirip dengan gejala sinusitis akut; namun, di luar masa itu gejala berupa suatu perasaan penuh pada wajah dan hidung dan hipersekresi yang seringkali mukopurulen. Gejala lain berupa nyeri kepala, hidung tersumbat dan gejala-gejala faktor predisposisi seperti rhinitis alergika yang menetap. Batuk kronik dengan laryngitis kronik ringan atau faringitis seringkali menyertai sinusitis kronik.
Sinusitis pada dasarnya bersifat rinogenik. Pada sinusitis kronik, sumber infeksi berulang cenderung berupa suatu daerah stenotik, biasanya infundibulum etmoidalis dan resesus frontalis. Karena inflamasi menyebabkan saling menempelnya mukosa yang berhadapan dalam ruangan sempit ini, akibatnya terjadi gangguan transport mukosiliar, menyebabkan retensi mucus dan mempertinggi pertumbuhan bakteri dan virus. Infeksi kemudian menyebar ke sinus yang berdekatan. Pada sinusitis maksilaris kronik yang mengenai satu sisi dengan ingus purulen dan napas berbau busuk harus curiga adanya sinusitis dentogen. Sinusitis dentogen ini nerupakan salah satu penyebab penting sinusitis kronik. Karena dasar sinus maksila adalah prosesus alveolaris tempat akar gigi rahang atas, maka apabila terjadi infeksi gigi rahang atas atau inflamasi jaringan periodontal mudah menyebar secara langsung ke sinus, atau melalui pembuluh darah limfe.
II.2.5. Diagnosis
Kriteria rinosinusitis akut dan kronis pada penderita dewasa dan anak berdasarkan gambaran klinik dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kriteria Rinosinusitis Akut dan Kronik pada Anak dan Dewasa Menurut International Conference on Sinus Disease 1993 & 2004. Disarikan dari : Kennedy DW dan Meltzer.
Diagnosis Rinosinusitis Akut Pada Dewasa
Ditegakkan berdasarkan kriteria di bawah ini:
Anamnesis
Riwayat rinore purulen yang berlangsung lebih dari 7 hari, merupakan keluhan yang paling sering dan paling menonjol pada rinosinusitis akut. Keluhan ini dapat disertai keluhan lain seperti sumbatan hidung, nyeri/rasa tekanan pada muka, nyeri kepala, demam, ingus belakang hidung, batuk, anosmia/hiposmia, nyeri periorbital, nyeri gigi, nyeri telinga dan serangan mengi (wheezing) yang meningkat pada penderita asma.
Rinoskopi Anterior
Rinoskopi anterior merupakan pemeriksaan rutin untuk melihat tanda patognomonis, yaitu sekret purulen di meatus medius atau superior;
atau pada rinoskopi posterior tampak adanya sekret purulen di nasofaring (post nasal drip).
Nasoendoskopi
Pemeriksaan nasoendoskopi dapat dilakukan untuk menilai kondisi kavum nasi hingga ke nasofaring. Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan dengan jelas keadaan dinding lateral hidung.
Foto polos sinus paranasal
Pemeriksaan foto polos sinus bukan prosedur rutin, hanya dianjurkan pada kasus tertentu, misalnya:
– Rinosinusitis akut dengan tanda dan gejala berat.
– Tidak ada perbaikan setelah terapi medikamentosa optimal
– Diduga ada cairan dalam sinus maksila yang memerlukan tindakan irigasi
– Evaluasi terapi
– Alasan medikolegal.
Tomografi Komputer dan MRI
Pemeriksaan tomografi komputer tidak dianjurkan pada rinosinusitis akut, kecuali ada kecurigaan komplikasi orbita atau intrakranial.
Pemeriksaan MRI hanya dilakukan pada kecurigaan komplikasi intrakranial.
Diagnosis Rinosinusitis Kronis Pada Dewasa
Diagnosis rinosinusitis kronis dapat ditegakkan berdasarkan kriteria di bawah ini:
Anamnesis
Riwayat gejala yang diderita sudah lebih dari 12 minggu, dan sesuai dengan 2 kriteria mayor atau 1 kriteria mayor ditambah 2 kriteria minor dari kumpulan gejala dan tanda menurut International Consensus on Sinus Disease, 1993. dan 2004 (Lihat Tabel 2). Kriteria mayor terdiri dari: sumbatan atau kongesti hidung, sekret hidung purulen, sakit kepala, nyeri atau rasa tertekan pada wajah dan gangguan penghidu. Kriteria minornya adalah demam dan halitosis. Keluhan rinosinusitis kronik seringkali tidak khas dan ringan bahkan kadangkala tanpa keluhan dan baru diketahui karena mengalami beberapa episode serangan akut.
Rinoskopi anterior
Terlihat adanya sekret purulen di meatus medius atau meatus superior. Mungkin terlihat adanya polip menyertai rinosinusitis kronik.
Pemeriksaan nasoendoskopi
Pemeriksaan ini sangat dianjurkan karena dapat menunjukkan kelainan yang tidak dapat terlihat dengan rinoskopi anterior, misalnya sekret purulen minimal di meatus medius atau superior, polip kecil, ostium
asesorius, edema prosesus unsinatus, konka bulosa, konka paradoksikal, spina septum dan lain-lain.
Pemeriksaan foto polos sinus
Dapat dilakukan mengingat biayanya murah, cepat dan tidak invasif, meskipun hanya dapat mengevaluasi kelainan di sinus paranasal yang besar.
Pemeriksaan CT Scan
Dianjurkan dibuat untuk pasien rinosinusitis kronik yang tidak ada perbaikan dengan terapi medikamentosa. Untuk menghemat biaya, cukup potongan koronal tanpa kontras. Dengan potongan ini sudah dapat diketahui dengan jelas perluasan penyakit di dalam rongga sinus dan adanya kelainan di KOM (kompleks ostiomeatal). Sebaiknya pemeriksaan CT scan dilakukan setelah pemberian terapi antibiotik yang adekuat, agar proses inflamasi pada mukosa dieliminasi sehingga kelainan anatomis dapat terlihat dengan jelas.
Pungsi sinus maksila
Tindakan pungsi sinus maksila dapat dianjurkan sebagai alat diagnostik untuk mengetahui adanya sekret di dalam sinus maksila dan jika diperlukan untuk pemeriksaan kultur dan resistensi.
Sinoskopi
Dapat dilakukan untuk melihat kondisi antrum sinus maksila serta. Pemeriksaan ini menggunakan endoskop, yang dimasukkan melalui pungsi di meatus inferior atau fosa kanina. Dilihat apakah ada sekret, jaringan polip, atau jamur di dalam rongga sinus maksila, serta bagaimana keadaaan mukosanya apakah kemungkinan kelainannya masih reversibel atau sudah ireversibel.
Tabel 2. Gejala dan Tanda Rinosinusitis
Dikutip dari: Kennedy DW
Diagnosis rinosinusitis ditegakkan jika terdapat 2 kriteria mayor atau 1 kriteria mayor ditambah 2 kriteria minor.
II.2.6 Penatalaksanaan
Tujuan terapi sinusitis ialah 1) mempercepat penyembuhan; 2) mencegah komplikasi; 3) mencegah perubahan menjadi kronik. Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di KOM sehingga drenase dan ventilasi sinus-sinus pulih secara alami.
Antibiotik dan dekongestan merupakan terapi pilihan pada sinusitis akut bacterial, untuk menghilangkan infeksi dan pembengkakan mukosa serta membuka sumbatan ostium sinus. Antibiotik yang dipilih adalah golongan penisilin seperti amoksisilin. Jika diperkirakan kuman telah resisten atau memproduksi beta laktamase, maka dapat diberikan amoksisilin-klavulanat atau jenis sefalosporin generasi ke-2. Pada sinusitis, antibiotic diberikan selama 10-14 hari meskipun gejala klinik sudah hilang.
Pada sinusitis kronik diberikan antibiotik yang sesuai untuk kuman gram negatif dan anaerob. Selain dekongestan oral dan topical, terapi lain dapat diberikan jika diperlukan, seperti analgetik, mukolitik, steroid oral/topical, pencucian rongga hidung dengan NaCl atau pemanasan (diatermi). Antihistamin tidak rutin diberikan, karena sifat antikolinergiknya dapat menyebabkan secret jadi lebih kental. Bila ada alergi berat, sebaiknya diberikan antihistamin generasi ke-2. Irigasi sinus maksila atau Proetz displacement therapy juga merupakan terapi tambahan yang dapat bermanfaat.Imunoterapi dapat dipertimbangkan jika pasien menderita kelainan alergi yang berat.
Tindakan Operasi
Rinosinusitis kronik yang tidak sembuh setelah pengobatan medikamentosa adekuat dan optimal, sinusitis kronik disertai kista atau kelainan yang ireversibel; polip ekstensif, adanya komplikasi sinusitis serta sinusitis jamur, serta adanya obstruksi KOM merupakan indikasi tindakan bedah.14,15
Beberapa macam tindakan bedah yang dapat dipilih untuk dilakukan, mulai dari pungsi dan irigasi sinus maksila, operasi Caldwell-Luc, etmoidektomi intra- dan ekstranasal, trepanasi sinus frontal dan bedah sinus endoskopik fungsional (BSEF).
Bedah sinus endoskopik fungsional (BSEF) merupakan langkah maju dalam bedah sinus. Jenis operasi ini menjadi pilihan karena merupakan tindakan bedah invasif minimal yang lebih efektif dan fungsional. Keuntungan BSEF adalah penggunaan endoskop dengan pencahayaan yang sangat terang sehingga saat operasi, kita dapat melihat lebih jelas dan rinci adanya kelainan patologi di rongga-rongga sinus. Jaringan patologik dapat diangkat tanpa melukai jaringan normal dan ostium sinus yang tersumbat diperlebar. Dengan ini drenase dan ventilasi sinus akan lancar kembali secara alamiah, jaringan normal tetap berfungsi dan kelainan di dalam sinus-sinus paranasal akan sembuh dengan sendirinya.
II.2.7 Komplikasi
Komplikasi sinusitis telah menurun secara nyata sejak ditemukannya antibiotic. Komplikasi berat biasanya terjadi pada sinusitis akut atau pada sinusitis kronis dengan eksaserbasi akut, berupa komplikasi orbita atau intracranial.
Komplikasi orbita
Sinus etmoidalis merupakan penyebab komplikasi pada orbita yang tersering. Pembengkakan orbita dapat merupakan manifestasi etmoiditis akut, namun sinus frontalis dan sinus maksilaris juga terletak di dekat orbita dan dapat pula menimbulkan infeksi isi orbita. Terdapat lima tahapan :
1. Peradangan atau reaksi edema ringan. Terjadi pada isi orbita akibat infeksi sinus etmoidalis di dekatnya. Seperti dinyatakan sebelumnya, keadaan ini terutama ditemukan pada anak, karena lamina papirasea yang memisahkan orbita dan sinus etmoidalis seringkali merekah pada kelompok umur ini.
2. Selulitis orbita. Edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif menginvasi isi orbita namun pus belum terbentuk.
3. Abses subperiostal. Pus terkumpul di antara periorbita dan dinding tulang orbita menyebabkan proptosis dan kemosis.
4. Abses orbita. Pada tahap ini, pus telah menembus periosteum dan bercampur dengan isi orbita. Tahap ini disertai gejala sisa neuritis optic dan kebutaan unilateral yang lebih serius.
5. Trombosis sinus kavernosus. Komplikasi ini merupakan akibat penyebaran bakteri melalui saluran vena ke dalam sinus kavernosus dimana selanjutnya terbentuk suatu tromboflebitis septic.Secara patognomonik, thrombosis sinus cavernous terdiri dari oftalmoplegia, kemosis konjungtiva, gangguan penglihatan yang berat, kelemahan pasien dan tanda-tanda meningitis oleh karena letak sinus cavernous yang berdekatan dengan saraf cranial II,III, IV, dan VI, serta berdekatan juga dengan otak.
Komplikasi intrakranial.
Komplikasi intracranial dapat berupa meningitis, abses ekstradural atau subdural, abses otak dan thrombosis sinus cavernous.
Komplikasi juga dapat terjadi pada sinusitis kronik berupa osteomielitis dan abses subdural.komplikasi ini paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan biasanya ditemukan pada anak-anak. Komplikasi lainnya dapat berupa kelainan paru seperti bronkiektasis. Adanya kelainan sinus paranasal disertai dengan kelainan paru ini disebut sino-bronkitis. Selain itu dapat juga menyebabkan kambuhnya asma bronchial yang sukar dihilangkan sebelum sinusitisnya disembuhakan.
BAB III
ILUSTRASI KASUS
I. Identitas
Nama : Khairunisa
Umur : 20 tahun
Pekerjaan : –
Alamat : Kebagusan
II. Keluhan Utama
Terasa nyeri diantara kedua bola mata sejak 2 tahun yang lalu
III. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan nyeri diantara kedua bola mata sejak 2 tahun SMRS. Nyeri dirasakan baik saat ditekan ataupun tidak. Pasien mengaku keluar ingus kental, berwarna hijau sampai kecoklatan, terkadang ingus berbau. Setelah diobati sekret menjadi encer. Hidung terasa tersumbat jika terdapat sekret di hidung. Setiap pagi pasien mengatakan ada lendir yang mengalir dari hidung ke tenggorokan. Pasien mengaku sering batuk&pilek. Pasien mengaku sering bersin-bersin dengan ingus encer jika terpapar debu. Pasien tidak mersa ada gangguan pendengaran.
IV. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat diabetes melitus disangkal
V. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat asma disangkal
Riwayat diabetes melitus disangkal
Riwayat alergi disangkal
VI. Status Generalis
1. Keadaan Umum : sakit ringan
2. Nadi : 80x/menit
3. Kesadaran : compos mentis
4. Suhu : 36,80C
5. Tensi : 120/70 mmHg
VII. Pemeriksaan THT
1. TELINGA
Tes Valsava : Tidak dilakukan
Tes Toynbee : kanan (+), kiri (+)
Tes Penala
Kanan
Kiri
Rinne
+
+
Weber
Lateralisasi ke kiri
Schwabach
Memanjang
Memanjang
Tes Berbisik : Tidak dilakukan
Audiometri : Tidak dilakukan
Timpanometri : Tidak dilakukan
Tes Keseimbangan/ENG : Tidak dilakukan
2. HIDUNG
Kanan
Kiri
Hidung Luar
Normal
Normal
Vestibulum
Vibrisae (+), sekret (+)
Vibrisae (+), sekret (+)
Lubang hidung
Lapang
Lapang
Rongga hidung
Lapang
Lapang
Septum
Deviasi (-)
Deviasi (-)
Dasar hidung
Normal
Normal
Konka
– Konka superior
– Konka medius
– Konka inferior
Sulit dinilai
Sulit dinilai
Hipertrofi, livid
Sulit dinilai
Sulit dinilai
Hipertrofi, livid
Meatus
– Meatus superior
– Meatus media
– Meatus inferior
Sulit dinilai
Sulit dinilai
Sinus
– Sinus maksila
– Sinus etmoid
– Sinus frontal
Nyeri tekan (-)
Nyeri tekan (+)
Nyeri tekan (-)
Nyeri tekan (-)
Nyeri tekan (+)
Nyeri tekan (-)
Pemeriksaan Transiluminasi
– Sinus maksila
– Sinus frontal
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
3. NASOFARING
– Koana
– Septum bagian belakang
– Sekret Sulit dinilai
– Muara Tuba eustachius
– Torus Tubarius
– Fosa Rosenmuleri
– Adenoid
4. FARING
– Arkus faring : simetris
– Uvula : lurus ditengah
– Dinding faring : hiperemis
– Tonsil : T2 – T2 Tenang
5. LARING
– Epiglotis
– Plika ariepiglotika
– Plika ventrikularis
– Plika vokalis Sulit dinilai
– Rima glotis
– Aritenoid
– Subglotik
– Fosa firiformis
6. GIGI GELIGI
Karies (-)
7. KELENJAR LIMFE LEHER
Nyeri (-)
Benjolan (-)
VIII. Resume/Ringkasan
Pasien wanita berusia 20 tahun datang dengan keluhan nyeri di daerah kedua bola mata sejak 2 tahun SMRS. Pasien mengeluh hidung tersumbat disertai keluarnya sekret kental dan terkadang berbau, berwarna hijau sampai kecoklatan dari hidung. Pasien mengaku sering batuk&pilek. Pasien mengaku sering bersin-bersin dengan ingus encer apabila terpapar debu. Adanya sekret yang mengalir dari hidung ke tenggorokan, yang dirasakan setiap pagi.
Pemeriksaan Fisik :
– Konka inferior kanan&kiri hipertrofi&livid
– Nyeri tekan sinus etmoidalis kanan&kiri (+)
– Dinding faring hiperemis
– Tonsil : T2 – T2 Tenang
IX. Diagnosis Kerja
– Sinusitis etmoidalis kronik
– Tonsilitis kronik
– Faringitis akut
– Rinitis Alergi

X. Diagnosis Banding

XI. Pemeriksaan anjuran
– Tes Alergi : tes cukit kulit
– Foto polos sinus paranasal
XII. Rencana Pengobatan
 Medikamentosa
– Amoxycilin 500 mg 3×1
– Mukolitik : Ambroxol 30 mg 3×1
– Dekongestan oral : pseudoefedrin
– Antihistamin : Loratadin
 Operatif

BAB IV
ANALISIS KASUS
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya mengenai penyakit sinusitis, mulai dari etiologi sampai penatalaksanaannya, maka pada contoh kasus ini jelas sekali bahwa pasien dicurigai mengidap penyakit sinusitis.
Data – data yang mendukung diagnosa sinusitis pada pasien ini adalah sebagai berikut :
1. Anamnesis
Keluhan utama yang dirasakan pasien adalah rasa nyeri di antara kedua bola mata sejak 2 tahun SMRS. Pasien mengeluh hidung tersumbat disertai keluarnya sekret kental kadang berbau, berwarna hijau sampai kecoklatan dari hidung. Riwayat batuk&pilek (+). Pasien mengaku sering bersin-bersin dengan ingus encer apabila terpapar debu. Adanya sekret yang mengalir dari hidung ke tenggorokan, yang dirasakan setiap pagi.
2. Pemeriksaan Fisik
– Konka inferior kanan&kiri hipertrofi&livid
– Nyeri tekan sinus etmoidalis kanan&kiri (+)
– Dinding faring hiperemis
– Tonsil : T2 – T2 Tenang
Lokasi nyeri di daerah kedua bola mata sesungguhnya adalah lokasi sinus etmoidalis. Sinusitis etmoidalis juga dapat menimbulkan nyeri
alih ke belakang atau diantara bola mata. Rasa nyeri itu sendiri terjadi karena adanya proses inflamasi pada mukosa sinus etmoidalis tersebut. sekret kental berbau, berwarna hijau sampai kecoklatan dari hidung merupakan sekret yang berasal dari ruang sinus etmoidalis, yang sudah terakumulasi sehingga menjadi media yang baik untuk berkembangnya bakteri sehingga sekret tersebut kental, berbau dan berwarna hijau sampai kecoklatan, begitu pun dengan sekret yang dirasakan turun dari hidung ke tenggorokan atau yang dikenal dengan bahasa kedokteran sebagai post-nasal drip, adalah berasal dari ruang sinus etmoidalis.
Kejadian bersin-bersin yang dialami pasien ketika terpapar debu, menandakan adanya faktor alergi yang diderita pasien, yaitu rinitis alergi yang menjadi salah satu penyebab tersumbatnya kompleks osteomeatal (KOM). Seperti yang kita tahu bahwa Kompleks osteomeatal adalah suatu kompleks di sepertiga tengah dinding lateral hidung, yaitu di meatus medius yang merupakan tempat muara saluran dari sinus maksia, frontal da etmoid anterior. KOM merupakan daerah yang rumit dan sempit sehingga bila terjadi edema di Kom ini , mukosa yang letaknya berhadapan akan saling bertemu, sehingga silia tidak dapat bergerak dan lendir tidak dapat dialirkan. Maka terjadi gangguan draenase dan ventilasi di dalam sinus.
Pada rinitis alergi akan terjadi edema konka dan mukosa-mukosa rongga hidung, hal ini menyebabkan KOM tersumbat sehingga terjadi gangguan draenase dan ventilasi di dalam sinus. Itu pula yang menjadi alasan mengapa pada pemeriksaan rinoskopi anterior konka inferior
terlihat hipertrofi dan livid. Konka yang hipertrofi dan livid merupakan tanda dari rinitis alergi.
Faringitis juga dapat menjadi faktor penyebab dari sinusitis atau sebaliknya sinusitis menyebabkan faringitis, karane adanya penyebarab kuman ke dinding faring.
Pada pasien ini diagnosis kerja nya adalah sinusitis, rinitis alergi, dengan faringitis dan tonsilitis kronik, karena pada pemeriksaan fisik juga didapatkan hasil dinding faring hiperemis dan tonsil T2-T2 tenang.
Terapi yang diberikan untuk sinusitis bertujuan untuk 1)mempercepat penyembuhan; 2)mencegah komplikasi; dan 3)mencegah perubahan menjadi kronik. Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di KOM sehingga drenase dan ventilasi sinus-sinus pulih secara alami.
Antibiotik dan dekongestan merupakan terapi pilihan pada sinusitis bakterial akut, obat – obatan tersebut untuk mengatasi infeksi dan pembengkakan mukosa serta membuka sumbatan ostium sinus. Antibiotik yang dipilih untuk sinusitis kronik adalah yang sesuai untuk kuman negatif gram dan anaerob.
Pemeriksaan penunjang yang disarankan pada pasien ini adalah tes cukit kulit untuk menentukan alergi pasien tersebut dan foto polos sinus paranasal (SPN) untuk melihat keadaan sinus. Dari tes cukit kulit hasil yang diharapkan adalah jenis alergen yang yang dapat memicu reaksi alergi pasien beserta derajat kesensitifan pasien terhadap alergen tersebut secara semi kuantitatif. Sedangkan pada foti polos SPN, kita
mengharapkan adanya tanda-tanda sinusitis kronik yairu penebalan mukosa sinus atau perselubungan.
Antihistamin dapat diberikan sebagai terapi alerginya, tetapi tidak diberikan rutin, karena sifat antikolinergiknya dapat menyebabkan sekret jadi lebih ketal. Selain itu dapat juga diberikan analgetik dan mukolitik.
DAFTAR PUSTAKA
1. Soepardi EA, Iskandar HN. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung dan Tenggorok Kepala Leher.Edisi 6, Balai Penerbit FKUI, Jakarta : 2007.
2. Efendi H. Boies Buku Ajar Penyakit THT edisi ke 6, cetakan III, EGC. Jakarta : 1997
3. Ellis, Harold. Clinical Anatomy, A Revision and Applied Anatomy for Clinical Students.11th ed. Blackwell Publishing.2006.
4. Snell, Richard S. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran.Edisi 3. EGC, Jakarta : 1997.
5. Data Poli Rawat Jalan Sub Bagian Rinologi, Bagian THT FKUI – RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta 2000-2005.
6. Kennedy DW, International Conference On Sinus Disease, Terminology, Staging, Therapy. Ann Otol Rhinol Laryngol 1995; 104 (Suppl. 167):7-30
7. Meltzer EO, Hamilos DL, Hadley JA, et al. Rhinosinusitis: Establishing definitions for clinical research and patient care. Otolaryngol Head Neck Surg 2004; 131(supl):S1-S62.
8. Antonio T, Hernandes J, Lim M, Mangahas L et al. Rhinosinusitis in Adult. In: Clinical Practise Guideline. The Task Force on CPG. Philippine Society Otorhinolaryngology – Head and Neck Surgery 1997; 16-20.
9. Soetjipto D, Bunnag C, Fooanant T, Passali D, Clement PAR, Gendeh BS, Vicente G (Working Group). Management of Rhinosinusitis For The Developing Countries. Presented in The Seminar on Standard ORL Management in Developing Countries, Bangkok, 29 January 2000.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *