REFERAT
HUBUNGAN ANTARA TERAPI HIPERBARIK OKSIGEN DENGAN KEJADIAN BAROTRAUMA PARU

Pembimbing:
Letkol Laut (K) dr.Djati Widodo EP, M.Kes

Penyusun :
M. Fahmi Budiman 2015.04.2.0090
Maria Gabriella S. 2015.04.2.0094
Melia Yunita 2015.04.2.0097

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HANG TUAH
RSAL dr.RAMELAN SURABAYA
2015
LEMBAR PENGESAHAN

Judul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa dan disetujui sebagai salah satu tugas baca dalam rangka menyelesaikan studi kepaniteraan Dokter Muda di bagian LAKESLA RSAL dr Ramelan Surabaya.
Mengetahui,
Dosen Pembimbing I

Letkol Laut (K) dr. Djati Widodo EP., M.Kes

Dosen Pembimbing II Dosen Pembimbing III

Mayor Laut (K/W) dr Titut H., M.Kes dr. Ni Komang S.D., M.Kes, Sp.S

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkah dan rahmatNya, kami bisa menyelesaikan referat dengan topik “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” dengan lancar. Referat ini disusun sebagai salah satu penilaian tugas untuk menyelesaikan kepaniteraan klinik di bagian LAKESLA RSAL dr. RAMELAN Surabaya. Penulis berharap referat ini dapat dijadikan sebagai tambahan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.
Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang membantu penulis dalam penyusunan referat ini, yaitu:
a. dr.Djati Widodo, M.Kes, selaku Pembimbing dari referat ini.
b. dr. Titut Harnanik, M.Kes dan dr. Ni Komang Sri Dewi, M.Kes, Sp.S
c. Para perawat dan pegawai di LAKESLA RSAL dr. RAMELAN Surabaya.
d. Kelompok DM 39N dan 39O
Kami menyadari bahwa referat yang kami susun ini masih jauh dari kesempurnaan, maka penulis berharap ada masukan, saran, atau kritik yang membangun dari semua pihak. Semoga referat ini dapat memberi manfaat bagi kita semua.

Surabaya, Agustus 2015

Penulis

DAFTAR ISI

Cover
Lembar Pengesahan i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii

Bab 1 Pendahuluan 1
Bab 2 Tinjauan Pustaka 3
2.1. Anatomi dan Fisiologi Paru 3
2.1.1 Anatomi Paru 3
2.1.2 Topografi Paru 4
2.1.3 Fisiologi Paru 5
2.2 Barotrauma 6
2.2.1 Definisi 6
2.2.2 Pembagian Barotrauma 6
2.2.3 Barotrauma Paru 7
2.3 Terapi Oksigen Hiperbarik 11
2.3.1 Definisi 11
2.3.2 Sejarah Terapi Hiperbarik 12
2.3.3 Aspek Fisika 12
2.3.4 Efek fisiologis 13
2.3.5 Indikasi Terapi Oksigen Hiperbarik 15
2.3.6 Kontraindikasi Terapi Oksigen Hiperbarik 16
BAB 3 Hubungan antara Terapi Oksigen Hiperbarik dengan Barotrauma Paru 19
BAB 4 Kesimpulan 22

DAFTAR PUSTAKA 23

BAB 1
PENDAHULUAN
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.466 pulau, dimana luas laut yang ada di Indonesia adalah 2/3 total dari luas seluruh wilayah Indonesia. Luasnya perairan di Indonesia ini berdampak pada kegiatan bawah laut yang dilakukan baik untuk rekreasi, penyelaman, aktivitas ekonomi, dan juga keperluan militer. Banyaknya penyelam baik yang professional maupun awam, juga berdampak pada pengembangan kesehatan kelautan.
Kegiatan penyelaman harus didahului dengan pengetahuan akan penyelaman terlebih dahulu. Sebagian besar penyelam tidak mengetahui bahaya penyelaman bagi tubuh penyelam tersebut, ini terlihat dari timbulnya keluhan yang sering dialami oleh penyelam. Menurut survey dari 251 responden penyelam di 9 (Sembilan) propinsi di Indonesia, keluhan yang sering didapat penyelam antara lain 21.2% pusing / sakit kepala; 12.6% lelah; 12.5% pendengaran berkurang; 10.8% nyeri sendi; 10.2% perdarahan hidung; 9.7% sakit dada/ sesak; 6.4 % penglihatan berkurang; 6,0% bercak merah di kulit; 5,6 gigitan binatang; 3.2 % lumpuh; dan 1.7 % hilang kesadaran (Subdit Kesehatan Matra tahun 2009). Salah satu hal yang paling penting untuk diketahui penyelam adalah kedalaman penyelaman. Kedalaman ini sangat berpengaruh karena semakin dalam penyelaman, maka tekanan akan menjadi semakin tinggi. Peningkatan tekanan tersebut akan mempengaruhi semua organ tubuh penyelam. Penyelam yang tidak dapat mengimbangi pengaruh tekanan ini, maka akan terjadi barotrauma yang dapat berakibat buruk bagi penyelam tersebut..
Barotrauma adalah kerusakan jaringan dan sequelenya akibat ketidakseimbangan antara tekanan udara rongga fisiologis dalam tubuh dengan tekanan lingkungan di sekitarnya. Berdasarkan patogenesisnya, barotrauma dapat dibedakan menjadi dua, yaitu barotrauma waktu turun (descent barotrauma) dan barotrauma waktu naik (ascent barotrauma). Berdasarkan organ yang terkena, maka barotrauma dapat dibedakan menjadi: barotrauma telinga, barotrauma paru, barotrauma gigi, barotrauma wajah, kulit dan barotrauma intestinal. Barotrauma paru merupakan barotrauma yang paling serius diantara barotrauma yang lain (Riyadi, 2013).
Terapi oksigen hiperbarik adalah suatu terapi dimana pasien diberi oksigen murni 100% dan tekanan tinggi dalam suatu Ruang Udara Bertekanan Tinggi (RUBT). Dalam penanganan kasus barotrauma paru, pemberian oksigen murni merupakan pengobatan utama yang harus diberikan. Dalam referat ini, penulis berusaha mencari hubungan antara terapi oksigen hiperbarik dalam penyembuhan kasus barotrauma paru.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Paru
2.1.1 Anatomi Paru
Anatomi Paru-paru adalah struktur atau bagian-bagian dari paru-paru. Paru-paru itu sendiri sangat penting bagi tubuh manusia, sebab salah satu fungsi paru-paru adalah memasukkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida ketika tubuh menghirup udara.
Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung-gelembung (gelembung hawa = alveoli). Gelembung-gelebung alveoli ini terdiri dari sel-sel epitel dan dan endotel. Jika dibentangkan luas permukaannya lebih kurang 90 m2 pada lapisan inilah terjadi pertukaran udara, O2 masuk ke dalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah. Banyaknya gelembung paru-paru ini kurang lebih 700.000.000 buah yang terdapat pada paru-paru kiri dan kanan. Paru-paru sendiri dibagi menjadi dua, yakni :
Paru-paru kanan, terdiri dari 3 lobus (belah paru) yaitu:
Lobus pulmo dekstra superior
Lobus medial
Lobus inferior
Paru-paru kiri, terdiri dari 2 lobus yaitu
Lobus superior
Lobus inferior.
Tiap-tiap lobus terdiri atas belahan-belahan yang lebih kecil bernama segment.
Paru-paru kiri mempunyai 10 segment yaitu :
• 5 buah segment pada lobus superior dan,
• 5 buah segment pada inferior
Paru-paru kanan mempunyai 10 segmet yakni :
• 5 buah segment pada lobus inferior
• 2 buah segment pada lobus medialis
• 3 buah segment pada lobus inferior
Tiap-tiap segment ini masih terbagi lagi menjadi belahan-belahan yang bernama lobulus. Diantara lobulus yang satu dengan yang lainnya dibatasi oleh jaringan ikat yang berisi pembuluh-pembuluh darah getah bening dan saraf-saraf, dalam tiap-tiap lobulus terdapat sebuah bronkiolus. Di dalam lobulus, bronkiolus ini bercabang-cabang banyak sekali, cabang-cabang ini disebut duktus alveolus. Tiap-tiap duktus alveolus berakhir pada alveolus yang diameternya antara 0,2 – 0,3 mm.
2.1.2 Topografi Paru
Paru-paru terletak pada rongga dada, datarannya menghadap ke tengah rongga dada/kavum mediastinum. Pada bagian tengah itu terdapat tampuk paru-paru atau hilus. Pada mediastinum depan terletak jantung. Paru-paru dibungkus oeh selaput selaput yang bernama pleura. Pleura dibagi menjadi dua :
• Pleura viseral (selaput dada pembungkus), yaitu selaput paru yang langsung membungkus paru-paru.
• Pleura parietal, yaitu selaput paru yang melapisi bagian dalam dinding dada.
Antara kedua pleura ini terdapat rongga (kavum) yang disebut kavum pleura. Pada keadaan normal kavum pleura ini vakum/hampa udara sehingga paru-paru dapat berkembang kempis dan juga terdapat sedikit cairan (eksudat) yang berguna unuk meminyaki permukaannya (pleura), menghindarkan gesekan antara paru-paru dan dinding dada dimana sewaktu bernafas bergerak.
2.1.3 Fisiologi Paru
Pernapasan mencakup 2 proses, yaitu:
a. Pernapasan luar yaitu proses penyerapan oksigen (O2) dan pengeluaran karbondioksida (CO2) secara keseluruhan.
b. Pernapasan dalam yaitu proses pertukaran gas antar sel jaringan dengan cairan sekitarnya (penggunaan oksigen dalam sel). Proses fisiologi pernapasan dalam menjalankan fungsinya mencakup 3 proses, yaitu:
• Ventilasi yaitu proses keluar masuknya udara dari atmosfir ke alveoli paru.
• Difusi yaitu proses perpindahan/pertukaran gas dari alveoli ke dalam kapiler paru.
• Transfer yaitu proses perpindahan oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh.
Untuk menyalurkan oksigen ke tubuh, udara dihirup melalui hidung, mulut atau keduanya. Hidung adalah rute yang lebih disukai karena merupakan filter yang lebih baik daripada mulut. Hidung menurunkan jumlah iritasi yang dikirim ke paru-paru, sambil memberi pemanasan menambah kelembaban udara yang kita hirup. Ketika sejumlah besar udara diperlukan, hidung bukan cara yang paling efisien untuk mendapatkan udara ke paru-paru dan karena itu pernapasan mulut dapat digunakan. Pernapasan mulut umumnya diperlukan saat berolahraga. Setelah memasuki hidung atau mulut, udara turun ke batang tenggorok atau “pipa udara”. Trakea adalah tabung paling dekat dengan leher. Bagian belakang trakea adalah kerongkongan atau “tabung makanan”. Ketika kita bernafas, udara bergerak ke bawah trakea dan ketika kita makan, makanan bergerak ke bawah kerongkongan. Jalur udara dan jalur makanan dikendalikan oleh epiglotis, gerbang yang mencegah makanan memasuki trakea. Kadang-kadang, makanan atau cairan dapat masuk ke trakea mengakibatkan tersedak dan batuk kejang.
Trakea terbagi menjadi dua, satu tabung kiri dan satu tabung kanan, dan ini disebut bronkus. Bronkus kiri mengarah ke paru-paru kiri dan bronkus kanan mengarah ke paru-paru kanan. Tabung pernapasan ini terus membagi menjadi tabung lebih kecil dan lebih kecil yang disebut bronkiolus. Bronkiolus berakhir pada kantung-kantung udara kecil yang disebut alveoli.
Alveoli, yang berarti “buah anggur” dalam bahasa Italia, terlihat seperti gugusan anggur yang melekat pada tabung pernapasan kecil. Ada lebih dari 300 juta alveoli pada paru-paru normal. Jika alveoli dibuka dan ditata datar, mereka akan menutupi area seluas lapangan tenis . Tidak semua alveoli digunakan pada satu waktu, sehingga paru-paru memiliki banyak cadangan jika terjadi kerusakan karena penyakit, infeksi atau pembedahan.
2.2 Barotrauma
2.2.1 Definisi
Barotrauma adalah kerusakan jaringan dan sequelenya akibat ketidakseimbangan antara tekanan udara rongga fisiologis dalam tubuh dengan tekanan lingkungan di sekitarnya ( Riyadi, 2013).
2.2.2 Pembagian Barotrauma
Berdasarkan patogenesisnya, barotrauma dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: barotrauma waktu turun ( Descent barotrauma) dan barotrauma waktu naik ( ascent barotrauma) ( Riyadi, 2013).
Berdasarkan organ yang terkena, maka barotrauma dapat dibedakan menjadi: barotrauma telinga, barotrauma paru, barotrauma gigi, barotrauma wajah, kulit dan barotrauma intestinal ( Riyadi, 2013).
2.2.3 Barotrauma Paru
Barotrauma paru merupakan barotrauma yang paling serius diantara barotrauma yang lain ( Riyadi, 2013). Barotrauma paru dapat dibedakan menjadi:
1) Barotrauma Paru Waktu Turun ( Descent )
Barotrauma ini terjadi saat pengurangan volume paru-paru melampaui batas akibat dari tekanan di sekitarnya, akibatnya terjadi kompensasi berupa distensi pembuluh darah paru, dimana ketika sudah melebihi ambang batasnya, maka dapat terjadi ruptur pembuluh darah paru, dan menyebabkan perdarahan paru (CFUA, 2010).
Kerusakan jaringan paru pada barotrauma ini (squeeze), adalah kerusakan pada pembuluh-pembuluh vena kecil, perembesan cairan lewat membran alveoli dari kapiler-kapiler dan jaringan ke dalam alveoli dari kapiler-kapiler dan jaringan ke dalam alveoli dan saluran-saluran nafas. Lebih lanjut bisa terjadi perdarahan( Riyadi, 2013).
Klinis dari barotrauma paru ini berupa nyeri dada dan eksudasi ringan, pada barotrauma yang berat, bisa dijmpai batuk, sesak, dan hemoptisis setelah menyelam( Riyadi, 2013).
Terapi dari barotrauma jenis ini berupa pemberian O2 100% dan bronkodilator dan gravitational drainage bila ada perdarahan atau eksudasi yang berat (Riyadi, 2013).
2) Barotrauma Paru Waktu Naik ( Ascent )
Saat naik ke permukaan, terjadi penurunan tekanan sekeliling dan sesuai hukum Boyle udara dalam paru akan mengembang volumenya. Masalah akan timbul apabila ekshalasi terhambat waktu naik, maka udara yang mengembang dalam paru akan terperangkap dan bila batas elastisitas paru terlampaui, maka mengakibatkan ruptura paru (Burst lung) ( Riyadi, 2013). Ada 4 kemungkinan akibat dari barotrauma paru waktu ascent, yaitu:
Kerusakan jaringan paru
Manifestasi kliniknya berupa wheexing ekspirasi, gejala dispneu, batuk, dan hemoptisis( Riyadi, 2013). Pengobatannya ialah harus segera diberikan oksigen 100% tanpa tekanan karena dapat memperbesar kerusakan jaringan paru ( Mathieu, 2006).

2.) Emfisema surgikalis
Robekan dari alveolus menyebabkan gas lepas ke jaringan interstisial paru-paru. Udara akan memenuhi jaringan sekitar paru dan mediastinum. Dari sana udara akan bermigrasi ke leher ( Riyadi, 2013).
Manifestasi klinisnya berupa rasa nyeri di bawah sternum, pada kasus yang berat dapat terjadi gangguan kardiovaskuler seperti sesak nafas, takikardi, sianosis, hipotensisampai sinkop akibat syok sebagai akibat tekanan langsung pada jantung dan pembuluh pembuluh darah besar ( Riyadi, 2013).
Manajemennya adalah berupa pemberian inhalasi O2 100%. Pada kasus emfisema mediastinalis yang berat, dapat diberikan terapi rekompresi untuk mengurangi ekspansi gas ( Mathieu, 2006).

3.) Pneumothorak
Apabila terjadi perobekan pada pleura viceralis, udara akan masuk ke cavum pleura dan menimbulkan pneumothorak. Udara yang terperangkap akan erus mengembang dan menimbulkan kenaikan tekanan dalam cavum pleura selama ascent ( Riyadi, 2013).
Gejala-gejalanya berupa nyeri pleural yang mendadak di daerah yang terkena, takipnea, dispnea ( Riyadi, 2013).
Terapinya berupa pemberian inhalasi oksigen 100%, dan pada tension pneumothorak dilakukan thorakosintesis (CFUA, 2010).

4.) Emboli udara
Akibat yang paling serius dari barotrauma paru ascent adalah masuknya gas dari alveoli ke sistem vena paru. Emboli gas terbawa jantung dan kemudain masuk ke dalam sirkulasi arterial sehingga menimbulkan obstruksi emboli gas di pembuluh-pembuluh koroner, cerebral, dan lain-lain ( Riyadi, 2013).
Gejala-gejala klinik emboli udara muncul segera setelah penyelam mencapai ke permukaan. Udara yang berada di otak menyebabkan kehilangan kesadaran, gelisah, dan gejala-gejala yang mirip dengan “cerebral stroke”. Hal ini disebut dengan Cerebral Arterial Gas Embolism atau CAGE. Gejala-gejala neurologis lain seperti keram, paralisis atau kelemahan, ganggua pengelihatan, gangguan berbicaragangguan koordinasi (CFUA, 2010). Gejala-gejala lain dapat berupa nyeri dada, EKG abnormal ( Riyadi, 2013 ).
Terapi emboli udara harus segera dilaksanakan. Terapi yang efektif ialah rekompresi sampai 6 ATA (kedalaman 50 meter). Dengan tekanan 6 ATA maka gelembung-gelembung akan menjadi kecil dengan demikian dapat lewat pembuluh-pembuluh darah sehingga mengurangi emboli udara seminimal mungkin ( Riyadi, 2013 ).

2.3 Terapi Oksigen Hiperbarik
2.3.1 Definisi
Definisi kesehatan hiperbarik adalah ilmu yang mempelajari tentang masalah-masalah kesehatan yang timbul akibat pemberian tekanan lebih dari 1 Atm terhadap tubuh dan aplikasinya untuk pengobatan. Tekanan 1 Atmosfer adalah tekanan udara yang dialami oleh semua benda, termasuk manusia, di atas permukaan laut, bersifat tetap dari semua jurusan dan berada dalam keseimbangan (Riyadi, 2013).
Definisi terapi oksigen hiperbarik adalah pemberian oksigen tekanan tinggi untuk pengobatan yang dilaksanakan dalam Ruang Udara Bertekanan Tinggi (RUBT). Sedangkan menurut Undersea and Hyperbaric Medical Society (UHMS), terapi oksigen hiperbarik merupakan suatu perlakuan dimana pasien menghirup 100% oksigen murni di dalam suatu ruangan tertutup yang diberi tekanan lebih besar dari tekanan di atas permukaan laut (1 ATA). Peningkatan tekanan yang dilakukan harus sistemik and diberikan di dalam suatu monoplace atau multiplace chambers (Gill, 2004).

2.3.2 Sejarah Terapi Oksigen Hiperbarik
Terapi hiperbarik pertama kali dicatat pada tahun 1662, ketika Dr. Henshaw dari Inggris membuat RUBT untuk pertama kalinya. Sejak itu, penggunaan RUBT ini banyak menghasilkan manfaat dalam mengobati penyakit. Pada tahun 1879, penggunaan terapi hiperbarik dalam operasi mulai dilakukan. Pada tahun 1921 Dr. J. Cunningham mulai mengemukakan teori dasar tentang penggunaan oksigen hiperbarik untuk mengobati keadaan hipoksia. Tetapi usahanya mengalami kegagalan. Tahun 1930 penelitian tentang penggunaan oksigen hiperbarik mulai terarah dan mendalam. Sekitar tahun 1960an Dr. Borrema memaparkan hasil penelitiannya tentang penggunaan oksigen hiperbarik yang larut secara fisik di dalam cairan darah sehingga dapat memberi hidup pada keadaan tanpa Hb yang disebut life without blood. Hasil penelitiannya tentang pengobatan gas gangren dengan oksigen hiperbarik membuat Dr. Borrema dikenal sebagai Bapak RUBT. Sejak saat itu, terapi oksigen hiperbarik berkembang pesat dan terus berlanjut sampai sekarang (Riyadi, 2013).
2.3.3 Aspek Fisika (Gill, 2004)
Dasar dari terapi oksigen hiperbarik terletak pada hukum gas ideal yaitu :
Hukum Boyle menyatakan bahwa pada suhu konstan, tekanan dan volume gas berbanding terbalik.
P1 V1 = P2 V2
Ini adalah dasar untuk banyak aspek terapi hiperbarik, termasuk sedikit peningkatan suhu chamber selama pengobatan dan fenomena yang dikenal sebagai ‘squeeze’ (memeras), yang terjadi ketika tuba eustachius yang tersumbat menghambat equalisasi tekanan gas sehingga kompresi gas memberikan rasa nyeri di telinga tengah. Pada pasien yang tidak bisa secara independen melakukan ekualisasi tekanan, penempatan tabung tympanostomy harus dipertimbangkan untuk menyediakan saluran rongga udara antara telinga luar dan dalam. Demikian pula, gas yang terperangkap dapat membesar dan membahayakan selama dekompresi, seperti dalam contoh langka yaitu pneumotoraks yang terjadi selama pemberian tekanan.
Hukum Dalton menyatakan bahwa tekanan suatu campuran gas sama dengan jumlah tekanan parsial masing-masing gas.
P = P1 + P2 + P3 + …..
Hukum Henry menyatakan bahwa jumlah gas terlarut dalam cairan berbanding lurus dengan tekanan parsial gas tersebut pada temperatur tetap.
Hukum Charles menyatakan bahwa pada volume tetap, temperatur suatu gas berbanding lurus dengan tekanannya.
(P V)/T=K

2.3.4 Efek Fisiologis
Pada oksigen hiperbarik, tekanan yang diberikan lebih besar dari tekanan atmosfer di atas permukaan laut (1 atm = 14.7 psi, 1 kg/cm2 , 101.3 kPa, 760 torr atau 760 mmHg). Pada tekanan 1 atm, konsentrasi oksigen dalam plasma darah yaitu sebesar 0.3 mL/dL . Dalam keadaan istirahat, jaringan akan mengambil 5-6 mL oksigen per desiliter darah bila perfusi normal. Pemberian 100% oksigen dalam tekanan yang normobaric akan meningkatkan oksigen yang terlarut dalam darah hingga 1.5 mL/dL, dan bila diberikan pada tekanan 3 atm, maka oksigen terlarut akan menjadi kurang lebih 6 mL/dL, sehingga akan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sel tanpa memerlukan keterlibatan dari haemoglobin. Adanya oksigen yang terlarut ini, maka oksigen akan teralirkan ke daerah yang tidak dapat dijangkau oleh eritrosit, dan dapat menyebabkan terjadinya oksigenasi jaringan meskipun tanpa pengangkutan Hb dengan oksigen, seperti pada keadaan keracunan karbon monoksida dan anemia yang parah (Emi Latham, 2014).
HBO meningkatkan terbentuknya oksigen bebas radikal yang dapat mengoksidasi protein dan membran lipid, menghancurkan DNA dan menghambat fungsi metabolik bakteri. HBO efektif dalam melawan bakteri anaerob dan membantu system oksigen dependent peroxidase dimana terjadi peranan leukosit yang membunuh bakteri. HBO juga meningkatkan transport dari antibiotic yang oxygen dependent melewati dinding sel bakteri (Gill 2004).
HBO meningkatkan penyembuhan luka dengan cara meningkatkan gradient oksigen di sepanjang tepi luka yang iskemik, dan membantu peningkatan terbentuknya kolagen yang diperlukan dalam proses angiogenesis (Gill, 2004).
Beberapa efek terapi hiperbarik oksigen pada tubuh antara lain:
Angiogenesis. Terapi HBO dapat menstimulasi pertumbuhan dari kapiler-kapiler pada jaringan yang hipoksia sehingga dapat meningkatkan kecepatan penyembuhan luka.
Hiperoksigenasi. Terapi HBO dapat meningkatkan kadar oksigen karena oksigen dapat diangkut melalui plasma.
Osteogenesis. Terapi HBO dapat menstimulasi produksi dari sel-sel tulang baru.
Microbiological. Dengan kadar oksigen tinggi dapat membunuh bakteri, terutama yang bersifat anaerob.
Imunologi. Terapi HBO dapat meningkatkan kemampuan dari fungsi fagositosis dan sel-sel natural killer.
Menurunkan inflamasi. Terapi HBO dapat menurunkan mediator-mediator inflamasi.
Vasokonstriksi. Terapi HBO dapat meyebabkan penyempitan dari lumen pembuluh darah sehingga mengurangi oedema.
Reduksi gelembung udara. Terapi HBO dengan tekanan tinggi dapat menyebabkan penurunan volume dari gelembung udara termasuk gelembung nitrogen pada DCS.
Perbaikan jaringan. Terapi HBO dapat meningkatkan kecepatan perbaikan jaringan.

Indikasi Terapi Oksigen Hiperbarik
Indikasi mutlak terapi oksigen hiperbarik adalah (Riyadi, 2013):
Emboli gas
Decompression sickness
Keracunan gas karbon monoksida
Indikasi terapi HBO yang diterima secara universal:
Kondisi akut (terapi HBO harus diberikan sedini mungkin dikombinasi dengan terapi konvensional):
1. Ulkus yang tidak mengalami penyembuhan, luka bermasalah, cangkok kulit yang mengalami reaksi penolakan.
2. Crush injury, sindrom kompartemen dan penyakit iskemi traumatik akut yang lain.
3. Gas gangren/infeksi clostridium.
4. Infeksi jaringan lunak yang necrotizing (jaringan subkutan, otot, fascia)
5. Thermal burn
6. Anemia parah
7. Abses intrakranial
8. Post-anoxic encephalopathy
9. Luka bakar
10. Tuli mendadak
11. Iskemik okuler patologik
12. Emboli udara atau gas (terapi kuratif / lini utama pengobatan)
13. Penyakit dekompresi (terapi kuratif / lini utama pengobatan)
14. Keracunan karbon monoksida dan inhalasi asap (terapi kuratif / lini utama pengobatan)
Kondisi kronis
1. Ulkus yang tidak mengalami penyembuhan / luka bermasalah (diabetes / vena dll)
2. Kerusakan jaringan akibat radiasi
3. Cangkok kulit dan flap (yang mengalami reaksi penolakan/rejection)
4. Osteomyelitis kronis (refrakter).

2.3.6 Kontraindikasi Terapi Oksigen Hiperbarik
A. Kontraindikasi absolut (Medscape, 2014)
Absolute Contraindications Reason Contraindicated Necessary Conditions Prior to HBOT

Untreated pneumothorax
Tension pneumothorax

Pneumomediastinum
Thoracostomy
B. Kontraindikasi relatif (Medscape, 2014)
Relative Contraindications Reason Contraindicated Necessary Conditions Prior to HBOT
Asthma
Air trapping upon ascent leading to pneumothorax
Must be well controlled with medications
Claustrophobia Anxiety
Treatment with benzodiazepines
Congenital spherocytosis
Severe hemolysis None; HBOT for emergencies only
Chronic obstructive pulmonary disease(COPD)
Loss of hypoxic drive to breathe Observation in chamber
Eustachian tube dysfunction Barotrauma to tympanic membrane Training, PE tubes
High fever Higher risk of seizures Provide antipyretic
Pacemakers or epidural pain pump Malfunction or deformation of device under pressure Ensure company has pressure-tested device and learn to what depth
Pregnancy Unknown effect on fetus (Previous studies from Russia suggest HBOT is safe.) None, but HBOT may be used in emergencies
Seizures May have lower seizure threshold Should be stable on medications; may be treated with benzodiazepines
Upper respiratory infection (URI)

Barotrauma Resolution of symptoms or decongestants
Bleomycin Interstitial pneumonitis No treatment for extended time from use of medication
Cisplatin Impaired wound healing No treatment for extended time from use of medication
Disulfiram Blocks superoxide dismutase, which is protective against oxygen toxicity Discontinue medication
Doxorubicin Cardiotoxicity Discontinue medication
Sulfamylon Impaired wound healing Discontinue and remove medication

BAB 3
HUBUNGAN ANTARA TERAPI OKSIGEN HIPERBARIK DENGAN BAROTRAUMA PARU

Barotrauma adalah kerusakan jaringan dan sequelenya akibat ketidakseimbangan antara tekanan udara rongga fisiologis dalam tubuh dengan tekanan lingkungan di sekitarnya (Riyadi, 2014). Barotrauma paru merupakan barotrauma yang melibatkan organ paru dan yang paling serius dan membutuhkan penanganan segera. Terjadinya barotrauma paru ini dapat dibedakan menjadi barotrauma paru waktu descent dan barotrauma paru waktu ascent.
Barotrauma paru waktu descend dapat disebabkan oleh penyelaman tahan nafas maupun dengan alat selam. Hal tersebut terjadi saat pengurangan volume paru-paru melampaui batas akibat dari tekanan di sekitarnya, akibatnya terjadi kompensasi berupa distensi pembuluh darah paru, dimana ketika sudah melebihi ambang batasnya, dapat terjadi ruptur pembuluh darah paru, dan menyebabkan perdarahan paru (CFUA, 2010). Kerusakan jaringan paru pada barotrauma waktu descent ini (squeeze), adalah kerusakan pada pembuluh-pembuluh vena kecil, perembesan cairan lewat membran alveoli dari kapiler-kapiler dan jaringan ke dalam alveoli dari kapiler-kapiler dan jaringan ke dalam alveoli dan saluran-saluran nafas, yang lebih lanjut bisa terjadi perdarahan (Riyadi, 2013). Terapi utama barotrauma waktu descent adalah dengan memberikan oksigen 100% menggunakan intermittent positive pressure (ventilator) tanpa perlu diberikan tekanan yang hiperbarik.
Barotrauma paru tipe ascend terjadi karena pada saat naik ke permukaan, terjadi penurunan tekanan sekeliling dan sesuai hukum Boyle udara dalam paru akan mengembang volumenya. Masalah akan timbul apabila ekshalasi terhambat waktu naik, maka udara yang mengembang dalam paru akan terperangkap dan bila batas elastisitas paru terlampaui, maka mengakibatkan ruptura paru (Burst lung). Menurut Edmond cs, ada 4 kemungkinan akibat dari barotrauma paru waktu ascend yaitu kerusakan jaringan paru, emfisema surgikalis, pneumothorax, dan emboli udara.
Pada kerusakan jaringan paru, terapi utama yang digunakan adalah inhalasi oksigen 100% agar tercapai kadar gas yang memadai dalam sistem arteri. Penggunaan terapi oksigen hiperbarik sebaiknya dihindari apabila tidak mutlak diperlukan, karena dapat memperluas kerusakan jaringan paru (Riyadi, 2013).
Pada emfisema surgikalis dimana terjadi penyebaran gas ke pembuluh darah besar, jalan nafas dan bahkan bisa ke mediastinum, subkutan, maupun di pericardium, maka terapi yang diberikan merupakan terapi simtomatis dan dapat diberikan inhalasi gas oksigen 100% pada tekanan atmosfer (Unsworth, 1973). Terapi oksigen hiperbarik dapat diberikan apabila terjadi emfisema mediastinalis yang berat, juga pada emfisema surgikalis yang diikuti dengan adanya emboli udara (Riyadi, 2013).
Pada pneumothorax terjadi penurunan efisiensi pulmonal dan oksigenasi, juga penurunan aliran vena akibat dari peningkatan tekanan intra thoracal (Unsworth, 1973). Terapi untuk pasien dengan pneumothorax adalah dengan pemberian oksigen secara intermittent tanpa tekanan positif, analgesic, bed rest, dan fisioterapi. Pneumothorax tidak memerlukan terapi rekompresi / oksigen hiperbarik, karena dengan terapi rekompresi, pneumothorax akan cepat hilang gejalanya tetapi pada saat dekompresi, gejala tersebut akan muncul bahkan memburuk menjadi tension pneumothorax. Apabila indikasi terapi oksigen hiperbarik mutlak diperlukan, maka boleh dilakukan terapi HBO setelah pneumothorax nya diterapi terlebih dahulu dengan thoracocentesis (Riyadi, 2013).
Emboli udara merupakan keadaan yang emergency dan membutuhkan penanganan segera. Terapi rekompresi dengan oksigen hiperbarik mutlak diperlukan agar gelembung gas dapat larut dan tidak menimbulkan penyumbatan. Dengan tekanan 6 ATA, ukuran emboli dikurangi menjadi 1/6nya, sehingga dapat melewati pembuluh-pembuluh darah. Segera setelah gelembung udara tersebut mengecil, maka diberikan oksigen untuk mempermudah absorpsinya. Apabila keadaan gawat dan jauh dari tempat yang menyediakan terapi rekompresi, maka penyelam dapat direkompresi dengan melakukan penyelaman lagi pada kedalaman 9 meter menggunakan oksigen 100% lewat full face mask selama 30 sampai 120 menit, setelah itu kecepatan naik ke permukaan 1 meter/12 menit. Proses naik boleh dihentikan bila perbaikan klinis berkurang. Sesudah sampai di permukaan, oksigen tetap diberikan secara intermitten (Riyadi, 2013).

BAB 4
Kesimpulan

Pemberian terapi oksigen hiperbarik pada kasus barotrauma paru tidak selalu diperlukan, bergantung pada jenis barotrauma paru tersebut.
Pada barotrauma paru tipe descent, pemberian terapi oksigen hiperbarik tidak diperlukan.
Pada barotrauma paru saat ascend maka pemberian terapi oksigen hiperbarik bergantung pada jenisnya yaitu kerusakan jaringan paru, emfisema surgikalis, pneumothorax, atau emboli udara. Pada kasus kerusakan jaringan paru dan pneumothorax murni, terapi oksigen hiperbarik tidak perlu bahkan tidak boleh diberikan sebelum kasus tersebut diobati. Sedangkan pada kasus emfisema surgikalis dan emboli paru, terapi oksigen hiperbarik dapat diberikan karena bermanfaat mengobati kasus tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Ajunk, 2012, Anatomi Paru dan Penyakit Paru, viewed 6 Agustus 2015, <http://paru- paru.com/anatomi-paru-paru/>
Gill, A.L. 2004, Hyperbaric oxygen: its uses, mechanisms of action and outcome. Oxford University Press Journal, Vol 97, Hal 385-395
Jain, K.K 1999, Hyperbaric Medicine 3rd Ed, Germany, Canadian Cataloguing in Publication Data
Kartono, Sad Ari 2007, Prevalensi dan faktor risiko kejadian penyakit dekomprasi dan barotrauma pada nelayan penyelam di Kecamatan Karimunjawa Kabupaten Jepara tahun 2007, Tesis, Universitas Gajah Mada

Latham, Emi 2014, Hyperbaric Oxygen Therapy, Medscape, viewed 6 Agustus 2015, < http://emedicine.medscape.com/article/1464149-overview#a2>
Ling Yan, Ting Liang, and Oumei Cheng 2015, Hyperbaric Oxygen Therapy in China, Medical Gas Research, Vol 5
Mathieu D. 2006, Handbook of Hyperbaric Oxygen. Springer
Novi, 2015, Struktur dan Fungsi Paru Paru Manusia, Edukasi Teknologi dan Informasi, viewed 7 Agustus 2015, < http://www.sridianti.com/struktur-fungsi-paru-paru-manusia.html >
R. M. Leach, P.J. Rees, and P. Wilmshurst 1998, Hyperbaric Oxygen Therapy, British Medical Journal, Vol 317, No 7166, Hal 1140-1143
Riyadi 2013, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Penyelaman dan Hiperbarik, Lakesla
Tibbles, Patrick M dan John S. Edelsberg 1996, Hyperbaric Oxygen Therapy, The New England Journal of Medicine, Vol 334, No 25, Hal 1642-1648
S, Susan dan Erick Supondha 2012, Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Karena Pajanan Hiperbarik dan Penyakit Lain Akibat Penyelaman, viewed 6 Agustus 2015, <http://hyperbaricmedicineconsultant.blogspot.com/2012_06_24_archive.html>

Unknown 2010, Pulmonary Barotrauma, viewed 6 Agustus 2015, <http://www.cfua.org/Pulmonary-Barotrauma.html>

U.S Navy Diving Manual 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *