REAGEN




Desie Suci Permata Sari

Belajar dari sebuah reagen. Banyak sekali reagen didunia ini, semakin meningkatnnya ilmu pengetahuan dan teknologi semakin bervariasi reagen ditemukan. Seperti halnya IKI yang mampu mendeteksi amilum, sudan III lemak, HCl antosianin, Mayer alkaloida, benedict karbohidrat dan masih banyak lagi reagen dengan cirikhasnya masing-masing. Mengapa reagen dapat menunjukkan suatu kandungan zat dalam suatu bukti nyata? Karena mereka bekerja secara spesifik dan konkrit, sadar akan zat yang mampu mereka deteksi sehingga timbul suatu bukti nyata yang memberikan manfaat bagi banyak orang.

Perjalanan sebuah reagen tidak berhenti pada fungsinya menunjukkan suatu zat saja. Perjalanan reagen adalah perjalanan mulia yang tidak disadari banyak orang karena sebenarnya reagen adalah sebuah tembakan pertama dari berkembangnya ilmu pengetahuan. Ketika FeCl3 mampu mendeteksi adanya tanin, berapa ratus bahkan ribu tanaman yang dipatenkan mengandung tannin setelahnya? Apakah ilmuwan berhenti pada kesimpulan bahwa tanaman tersebut mengandung tanin? Tidak. Ilmuwan akan mengembangkan dasar dari fungsi tanin kedalam pengaplikasian keanekaragaman tanaman dalam mengobati suatu penyakit dan sebagainya. Mungkin di Batu sangat banyak kunyit untuk mengobati penyakit x, lain halnya dengan Bogor yang mungkin kaya akan pepaya sebagai obat penyakit x. Kedua tanaman ini berbeda namun sama-sama dapat mengobati penyakit x, karena mengandung suatu zat yang sama bernama tanin, dari mana dapat diketahui adanya tanin? Reagenlah jawabnya.

Pelajaran pertama, dari sini kita belajar bahwa secuil optimalisasi sebuah reagen berbuah manfaat besar bagi setiap tujuan. Begitu halnya dengan kita dalam membangun Millenium Development Goal’s (MDG’s), ketika kita mengoptimalkan dimana kita berada maka akan ada sederet manfaat bermunculan. Tenaga kesehatan tak jauh halnya dengan sebuah reagen. Saat tenaga kesehatan menunjuk kita sebagai seorang dokter, apoteker, ahli gizi, perawat, bidan ataupun dokter gigi. Hal ini tidak berhenti pada kesimpulan aku seorang dokter, aku seorang farmasis, aku seorang ahli gizi, aku seorang perawat, aku seorang bidan, ataupun aku seorang dokter gigi. Tapi pada apa yang akan kita lakukan setelahnya. Dimana telinga kita ketika mendengar WHO berkata, setiap hari di seluruh dunia 1.450 ibu meninggal saat melahirkan, 10.800 bayi baru lahir meninggal dalam 4 minggu pertamanya setelah lahir, 29.000 balita meninggal dan lebih parahnya sebagian besar kematian tersebut terjadi di negara berkembang serta dapat dicegah jika ada akses terhadap pelayanan dasar berbiaya rendah. Para tenaga kesehatan dimana kalian berada saat ini? Indonesia negeriku negeri berkembang negeri yang kusayang. Masalah terpampang jelas didepan mata, tinggal meneteskan reagen yang sesuai.

Pelajaran kedua, ketika benedict diteteskan pada sebuah sampel, untuk mengetahui adanya kandungan karbohidrat dalam sampel tersebut, tidak hanya diteteskan begitu saja tetapi perlu diberi energi panas, perlu ilmu untuk membaca arti warna yang ditimbulkan setelah pemanasan, baru dapat disimpulkan apakah sampel tersebut mengandung karbohidrat atau tidak. Bukan hanya itu, selain langkah-langkah yang perlu diperhatikan, komposisi juga tidak boleh disepelekan. Jika persentase benedict dan sampel tidak seimbang, seberapa lamapun pemanasannya, sepintar apapun praktikannya, tidak akan muncul kesimpulan yang benar dan semuannya sia-sia. Begitu pula tenaga kesehatan, ini bukan hanya masalah dokter, bukan hanya masalah farmasis, ahli gizi, perawat, bidan ataupun dokter gigi. Ini masalah semua tenaga kesehatan, tetapi semuanya akan menjadi mudah ketika masing-masing dari kita bekerja secara spesifik dan saling berkolaborasi satu sama lain.

Mari belajar sekali lagi pada sebuah reagen. Ketika reagen memilih FeCl3 sebagai pendeteksi adanya tanin, maka hanya dengan bermodal FeCl3 dapat ditemukan adanya tanin di berbagai tanaman yang sangat berguna bagi kehidupan serta ilmu pengetahuan. Sama halnya dengan kesehatan, kesehatan laksana reagen, tidak sempit namun merupakan sebuah modal. Kalau dengan adanya reagen akan ditemukan zat-zat yang luar biasa, maka dengan adanya kesehatan akan ditemukan ekonomi yang luar biasa pula.Menurut Badan Pusat statistika ketika 40% warga Indonesia berada pada kondisi miskin maka begitu pula status kesehatannya. Status antara kesehatan dan kemiskinan selalu sebanding, mengapa? Jelas, bagaimana ekonomi bangsa ini bisa meningkat jika warganya sakit, tidak bisa bekerja, dan menghabiskan banyak uang untuk berobat. Jika ada kalimat “Investasi reagen untuk membangun ilmu pengatahuan” maka akan ada kalimat “Investasi kesehatan untuk membangun ekonomi bangsa”.

Tidak semua reagen mampu menunjukkan adanya karbohidrat dalam sebuah sampel. Apakah reagen-reagen lainnya lemah? Tidak, mereka mempunyai kelebihan dibidangnya sendiri-sendiri. HCl mungkin tidak bisa mendeteksi adanya karbohidrat tetapi mampu mendeteksi adanya antosianin, sebaliknya benedict mampu mendeteksi adanya karbohidrat tetapi tidak mampu mendeteksi adanya antosianin. Hal ini mengajarkan kita bahwa kita saling melengkapi untuk mencapai 8 tujuan, ada 8 tabung reaksi berisi sampel pada MDG’s. Sebagai calon tenaga kesehatan, sampel manakah yang pantas kita masuki diantara 8 tabung? Mulailah berfikir, reagen apakah kita? Apa yang bisa kita tunjukan? Apakah kita akan mundur atau memasuki tabung yang salah? Tidak mampukah kita membuka mata dan bertindak setelah kita belajar dari sebuah reagen? Tidak, we are’nt wrong’s reagent! MDG’s 2015 take me!

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *