Barringtonia racemosa merupakan tanaman tropis yang berasal dari anggota keluarga Lecythidaceae. Barringtonia racemosa ditemukan di pantai barat India, Sundarbans, pulau Andaman dan Malaysia (Behbahani et al., 2007).

Taksonomi tumbuhan Barringtonia racemosa menurut Payens (1967) sebagai berikut :

Kingdom         : Plantae

Divisi               : Magnoliophyta

Kelas               : Magnoliopsida

Sub Kelas        : Dilleniidae

Ordo                : Lecythidales

Famili              : Lecythidaceae

Genus              : Barringtonia

Spesies            : Barringtonia racemosa (L.) Spreng.

B. racemosa memiliki daun yang sederhana dengan panjang daunnya sekitar 20 cm. Bunganya besar dengan banyak benang sari. Buah berwarna hijau, berbentuk elips 3 dimensi, dengan panjang buahnya sekitar 8 cm, dan berubah menjadi warna merah ketika sudah gugur (Ling et al., 2009). Tumbuhan B. racemosa berbunga sepanjang tahun. Pada umumnya, bunga ini mekar secara bersamaan. Penyerbukan bunga dilakukan oleh kelelawar atau serangga karena tertarik dengan aroma yang kuat serta nektar yang berlimpah. Buah B. racemosa memiliki lapisan tebal yang tersusun atas spon dan jaringan fibrosa membuat buah tersebut dapat terbawa oleh aliran air, sehingga sering terbawa jauh dan tersebar di tempat lainnya (Kaume, 2005).

B. racemosa tumbuh liar di sepanjang perairan tawar seperti: rawa, danau, sungai, dan tepi sawah (Deraniyagala et al., 2003). B. racemosa tumbuh baik pada kondisi sedikit bersalinitas dengan substrat tanah liat, lempung atau pada tanah yang kayavulkanik (Kaume, 2005).

Daun B. racemosa digunakan untuk gatal-gatal dan cacar air, serta untuk mengobati sakit tenggorokan (Burkill, 1935). Selain itu, buah B. racemosa sering digunakan untuk mengobati batuk, asma dan diare dan bijinya digunakan untuk pengobatan kolik, penyakit kuning dan gangguan mata (Behbahani et al., 2007).

Semua bagian dari tanaman B. racemosa telah banyak digunakan sebagai racun ikan dan ekstraknya telah terbukti efektif sebagai insektisida (Kaume, 2005). Di Malaysia, buah B. racemosa digunakan untuk meracuni babi liar. Racun tersebut tidak hanya terdapat pada buah dan biji, tetapi juga ditemukan di bagian lain dari tumbuhan B. racemosa (Burkill, 1935). Ekstrak air buah dan biji B. Racemosa menunjukkan adanya flavonoid, terpenoid, dan saponin (Ojewole et al., 2005). Kulit tumbuhan B. racemosa mengandung tanin dan juga saponin (Cheek, 2008).

Terpenoid dapat digunakan dalam pengobatan, yaitu sebagai obat malaria (artemisin) dan antikanker (taxol), dan juga memiliki aktivitas antibakteri (Harborne, 1996). Senyawa flavonoid merupakan senyawa fenolik yang berfungsi sebagai repelen dan larvasida (LIPI, 2006). Selain itu, flavonoid juga berfungsi sebagai antioksidan serta memiliki kemampuan untuk merubah atau mereduksi radikah bebas (Giorgio, 2000). Saponin merupakan racun yang selektif untuk memberantas ikan tanpa merusak lingkungan, karena saponin mengalami bio-degradasi dan hilang daya racunnya dalam jangka waktu singkat (Rohman, 1986). Hampir setiap jenis tanaman mengandung tanin dan terdapat di setiap bagian tanaman (Harborne, 1996). Dalam bidang farmasi, tanin digunakan untuk menghilangkan iritasi pada kulit dan juga untuk mengobati luka bakar (Agustiningrum, 2004).

Referensi

Payens, J.P.W. 1967. A monograph of the genus Barringtonia (Lecythidaceae). Blumea 157-263.

Behbahani, M., A. M. Ali, R. Muse, and N. B. Mohd. 2007. Antioxidant and anti-inflammatory activities of leaves of Barringtonia racemosa. Journal of Medicinal Plants Research:  95-102,ISSN 1996-0875.

Ling, K. H., C. T. Kian, and T. C. Hoon. 2009. A Guide To Medicinal Plants : An Illustrated, Scientific and Medicinal Approach. World Scientific Publishing Co. Pte. Ltd. Singapore.

Kaume, R. N. 2005. Barringtonia racemosa (L.) Spreng. In: Jansen, P. C. M., and Cardon, D. (ed.). Dyes and tannins/Colorants et tanins. [CD-Rom]. PROTA, Wageningen. Netherlands. Diakses pada tanggal 12 Desember 2012 melalui  http://database. prota.org/PROTAhtml/Barringtonia%20racemosa_En.htm.

Deraniyagala, S. A., W. D. Ratnasooriya, and C. L. Goonasekara. 2003. Antinociceptive effect and toxicological study of the aqueousbark extract of Barringtonia racemosa on rats. Journal of Ethnopharmacology: 21–26. 

Burkil, I. H. 1935. A dictionary of the economic products of the Malay Peninsula, volume 1 (A-H). Di akses pada tanggal 15 Mei 2013 pukul 03:06 WIB melalui www.wildsingapore.com/wildfacts/plants/coastal/barringtonia/racemosa/.htm.

Ojewole, J.A.O., N. Nundkumar, and C.O. Adewunmi. 2005. Molluscicidal, Cercariacidal, Larvacidal and Antiplasmodial Properties of Barringtonia racemosa Fruit and Seed Extracts. BLACPMA Vol. 3, No. 5: 88-92.

Cheek, M. 2008. Barringtonia racemosa (L.) Roxb. KwaZulu-Natal Herbarium, South African National Biodiversity Institute’s. Diakses pada tanggal 08 Januari 2013 melalui www.plantzafrica.com.

Harborne, J. B. 1996. Metode Fitokimia: cara modern menganalisa tumbuhan.Terjemahan dari: Phytochemical methods, oleh Padmawinata, K., dan Soediro, I. Cetakan ke-2. ITB. Bandung.

LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). 2006. Nyamuk pun Tak Tahan Pahitnya Pare. Diakses pada tanggal 30 Juni 2013 pukul 21:16 WIB melalui http://www.lipi.go.id/www.cg.

Giorgi. P., (2000), Flavonoid an Antioxidant. Journal National Product. 63. 1035-1045.

Agustiningrum. 2004. Isolasi dan Uji Aktivitas Antioksidan Senyawa Bioaktif dari Daun Ipomoea pes-caprae. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Rohman, M. 1986. Efektifitas Biji Teh (Saponin) Sebagai Ikan Liar di Tambak. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *