BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Dengan berkembangnya bidang elektronika yang demikian cepatnya, maka makin berkembang pula aplikasi – aplikasi elektronika yang ada. Peralatan elektronika yang menggunakan banyak transistor pun semakin ditinggalkan. Oleh karena itu pabrik-pabrik semikonduktor mulai berpikir untuk membuat suatu komponen dengan kemasan yang kompak dan kecil disertai dengan fungsi-fungsi tertentu. Kemasan demikian disebut Integrated Circuit (IC).
IC mengkombinasikan tiga komponen elektronik dalam sebuah piringan silikon kecil yang terbuat dari pasir kuarsa. Para ilmuwan kemudian berhasil memasukkan lebih banyak komponen-komponen ke dalam suatu chip tunggal yang disebut semikonduktor. Integrated Circuit (IC) merupakan komponen semikonduktor yang di dalamnya dapat memuat puluhan, ratusan atau ribuan atau bahkan lebih komponen dasar elektronik yang terdiri dari sejumlah komponen resistor, transistor, dioda dan komponen semikonduktor yang lain. Komponen-komponen yang ada di dalam IC membentuk suatu subsistem terintegrasi (rangkaian terpadu) yang bekerja untuk suatu keperluan tertentu, namun tidak tertutup kemungkinan dipergunakan untuk tujuan yang lain.
Setiap jenis IC didesain untuk keperluan khusus sehingga setiap IC akan memiliki rangkaian internal yang beragam.
Untuk mempermudah pemakaian IC tersebut maka dibentuklah suatu bentuk yang standard. Salah satu standard IC tersebut adalah DIP (Dua Inline Package), dimana kaki-kaki IC tersebut susunannya terdiri dari dua jalur yang simetris dari 8, 14, 16 kaki dan seterusnya.
Untuk mengetahui urutan kaki-kaki tersebut adalah sebagai berikut : urutan kaki 1 s/d 8 atau s/d 14 atau s/d 16, apabila dilihat dari atas IC tersebut adalah berlawanan dengan arah putaran jam, dimana hitungan tersebut dimulai dari ujung yang ada tanda atau titik.
Pemakaian IC pun tidak luput dari rangkaian sistem digital. Dalam hal ini, perkembangan elektronika sistem digital tersebut khususnya telah banyak diterapkan pada peralatan yang menggunakan rangkaian Pulse Width Modulation (PWM).
Pulse Width Modulation (PWM) adalah sebuah cara memanipulasi lebar sinyal atau tegangan yang dinyatakan dengan pulsa dalam suatu perioda, yang akan digunakan untuk mentransfer data pada telekomunikasi ataupun mengatur tegangan sumber yang konstan untuk mendapatkan tegangan rata-rata yang berbeda. Penggunaan PWM sangat banyak, mulai dari pemodulasian data untuk telekomunikasi, pengontrolan daya atau tegangan yang masuk ke beban, regulator tegangan, audio effect dan penguatan, serta aplikasi-aplikasi lainnya. PWM saat ini juga telah menjadi dasar dari pembuatan jam digital.
Secara garis besar, PWM merupakan penerapan dari konsep rangkaian sekuensial flip – flop dan timer sebagai clock. Rangkaian flip-flop mempunyai sifat sekuensial karena sistem kerjanya diatur dengan jam atau pulsa, yaitu sistem-sistem tersebut bekerja secara sinkron dengan deretan pulsa berperiode T yang disebut jam sistem (System Clock). Timer yang digunakan dalam rangkaian ini adalah IC timer LM555. Isi utama komponen ini terdiri dari komparator dan flip-flop yang direalisasikan dengan banyak transistor.
Dari latar belakang yang telah dikemukakan diatas, dapat dilihat bahwa peralatan elektronika telah berkembang begitu pesat yakni ditandai dengan diterapkannya teknologi sistem digital pada berbagai rangkaian, diantaranya pada rangkaian Pulse Width Modulation (PWM).

1.2. Batasan Masalah
Dengan melihat latar belakang permasalahan diatas, maka pokok permasalahan yang ingin diketahui oleh penulis adalah :
1. Bagaimana kerja keseluruhan dari rangkaian Pulse Width Modulation (PWM) dan output yang dihasilkan
2. Bagaimana peranan dari masing – masing komponen untuk menghasilkan output dari alat tersebut
1.3 . Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain adalah :
1. Melengkapi pengerjaan tugas dari proyek Elektronika Dasar
2. Untuk menjelaskan alat yang telah dibuat beserta cara kerjanya yang disajikan dalam bentuk makalah
3. Menuliskan proses pembuatan alat

1.4 . Metode Penulisan
Penyusunan makalah ini dilakukan dalam beberapa metode penulisan diantaranya adalah :
a. Metode Pustaka
Teori-teori yang berhubungan dengan proyek didapat melalui pencarian dibuku-buku dan media elektronik, khususnya dari internet.
b. Metode Penganalisaan
Analisa rangkaian dibuat dengan dibantu saran-saran yang didapat dari konsultasi yang telah kami lakukan sebelum penyusunan makalah. Hal ini bertujuan agar prinsip cara kerja alat dan komponen dapat dipahami.
c. Metode Lapangan
Setelah penganalisaan dilakukan kemudian dibuatlah berupa alat peraga dengan beberapa kali dilakukan percobaan pada alat yang telah dibuat untuk mengetahui apakah alat tersebut telah berjalan sesuai dengan yang diinginkan
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini diantaranya adalah :

BAB I : PENDAHULUAN
Berisi tentang penyusunan makalah mulai dari latar belakang masalah, batasan makalah, tujuan penulisan makalah, metode penulisan dan sistematika penulisan makalah.

BAB II : LANDASAN TEORI
Menjelaskan mengenai landasan teori yang digunakan dalam analisa alat.

BAB III : ANALISA RANGKAIAN
Berisi tentang hasil penganalisaan alat meliputi cara kerja alat dan cara kerja masing – masing komponen dalam rangkaian. Penganalisaan dilakukan melalui blok diagram dan kemudian dijelaskan secara detail.

BAB IV : CARA PENGOPERASIAN ALAT
Berisi tentang cara bagaimana mengoperasikan alat yang telah dibuat berdasarkan analisa yang telah dilakukan.

BAB V : PENUTUP
Berisi kesimpulan beserta saran mengenai pembuatan alat “Pulsa Width Modulation”.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. KOMPONEN YANG DIGUNAKAN

2.1.1. Resistor
Pada dasarnya semua bahan memiliki sifat resistif namun beberapa bahan seperti tembaga, perak,emas dan bahan metal umumnya memiliki resistansi yang sangat kecil. Bahan – bahan tersebut menghantar arus listrik dengan baik, sehingga dinamakan konduktor. Kebalikan dari bahan yang konduktif, bahan material seperti karet, gelas, karbon memiliki resistansi yang lebih besar menahan aliran elektron dan disebut sebagai insulator.
Resistor adalah komponen dasar elektronika yang digunakan untuk membatasi jumlah arus yang mengalir dalam satu rangkaian. Sesuai dengan namanya resistor bersifat resistif dan umumnya terbuat dari bahan karbon. Dari hukum Ohm yang diketahui bahwa resistansi berbanding terbalik dengan jumlah arus yang mengalir melaluinya. Satuan resistansi dari suatu resistor disebut Ohm atau dilambangkan dengan simbol Ω ( Omega ).
Jika Resistor tidak dialiri arus, maka tegangan kedua ujungnya sama.
Jika Resistor dialiri arus, maka beda tegangan antara kedua ujungnya adalah I.R, dimana I adalah besarnya arus dan R adalah nilai hambatan.
Tipe resistor dibagi menjadi dua yaitu resistor tetap dan resistor tidak tetap. Resistor tetap adalah resistor dengan nilai hambatan tetap. Resistor tetap (umum) ini berbentuk tabung dengan dua kaki tembaga di kiri dan kanan. Pada badannya terdapat lingkaran membentuk gelang kode warna untuk memudahkan pemakai mengenali besar resistansi tanpa mengukur besarnya dengan Ohmmeter. Berikut ini gambar resistor dan simbolnya.

Tabel di atas ini memberikan nilai – nilai warna gelang secara jelas. Resistansi dibaca dari warna gelang yang paling depan ke arah gelang toleransi berwarna coklat, merah, emas atau perak. Biasanya warna gelang toleransi ini berada pada badan resistor yang paling pojok atau juga dengan lebar yang lebih menonjol, sedangkan warna gelang yang pertama agak sedikit ke dalam. Dengan demikian pemakai sudah langsung mengetahui berapa toleransi dari resistor tersebut.

Jumlah gelang yang melingkar pada resistor umumnya sesuai dengan besar toleransinya. Biasanya resistor dengan toleransi 5%, 10% atau 20% memiliki 3 gelang ( tidak termasuk gelang toleransi ). Tetapi resistor dengan toleransi 1% atau 2% ( toleransi kecil ) memiliki 4 gelang ( tidak termasuk gelang toleransi ). Gelang pertama dan seterusnya berturut – turut menunjukkan besar nilai satuan dan gelang terakhir adalah faktor pengalinya. Misalnya resistor dengan gelang kuning, violet, merah dan emas. Gelang berwarna emas merupakan gelang toleransi. Dengan demikian urutan warna gelang resistor ini adalah gelang pertama berwarna kuning, gelang ke – dua berwana violet dan gelang ke – tiga berwarna merah. Gelang ke – empat tentu saja yang berwarna emas dan ini adalah gelang toleransi.

Dari tabel di atas diketahui jika gelang toleransi berwarna emas, berarti resistor ini memiliki toleransi 5%. Nilai resistansinya dihitung sesuai dengan urutan warnanya. Pertama yang dilakukan adalah menentukan nilai satuan dari resistor ini. Karena resistor ini resistor 5% ( yang biasanya memiliki tiga gelang selain gelang toleransi ), maka nilai satuannya ditentukan oleh gelang pertama dan gelang kedua. Masih dari tabel di atas diketahui gelang kuning nilainya adalah 4 dan gelang violet nilainya adalah 7. Jadi gelang pertama dan kedua atau kuning dan violet berurutan, nilai satuannya adalah 47. Gelang ketiga adalah faktor pengali, dan jika warna gelangnya merah berarti faktor pengalinya adalah 100. Sehingga dengan ini diketahui nilai resistansi resistor tersebut adalah nilai satuan dikalikan dengan faktor pengali atau 47 x 100 = 4.7K Ohm dan toleransinya adalah 5%. Spesifikasi lain yang perlu diperhatikan dalam memilih resistor pada suatu rancangan selain besar resistansi adalah besar watt – nya. Karena resistor bekerja dengan dialiri arus listrik, maka akan terjadi disipasi daya berupa panas sebesar W=I2R watt. Semakin besar ukuran fisik suatu resistor bisa menunjukkan semakin besar kemampuan disipasi daya resistor tersebut.
Umumnya tersedia ukuran 1/8, 1/4, 1, 2, 5, 10 dan 20 watt. Resistor yang memiliki disipasi daya 5, 10 dan 20 watt umumnya berbentuk kubik memanjang persegi empat berwarna putih atau sering disebut resistor batu, namun ada juga yang berbentuk silinder. Tetapi biasanya untuk resistor ukuran jumbo ini nilai resistansi dicetak langsung dibadannya, misalnya 100Ω5W.
Sedangkan resistor tidak tetap adalah resistor yang nilai hambatannya berubah- ubah yaitu potensiometer dan trimpot (resistansi dapat diubah dengan cara diputar dengan obeng).

2.1.2. Kapasitor (kondensator)

Kapasitor (Kondensator) yang dalam rangkaian elektronika dilambangkan dengan huruf “C” adalah suatu alat yang dapat menyimpan energi / muatan listrik di dalam medan listrik, dengan cara mengumpulkan ketidakseimbangan internal dari muatan listrik. Kapasitor ditemukan oleh Michael Faraday (1791-1867). Satuan kapasitor disebut Farad (F). Satu Farad = 9 x 1011 cm2 yang artinya luas permukaan kepingan tersebut.
Struktur sebuah kapasitor terbuat dari 2 buah plat metal yang dipisahkan oleh suatu bahan dielektrik. Bahan-bahan dielektrik yang umum dikenal misalnya udara vakum, keramik, gelas dan lain-lain. Jika kedua ujung plat metal diberi tegangan listrik, maka muatan-muatan positif akan mengumpul pada salah satu kaki (elektroda) metalnya dan pada saat yang sama muatan-muatan negatif terkumpul pada ujung metal yang satu lagi. Muatan positif tidak dapat mengalir menuju ujung kutub negatif dan sebaliknya muatan negatif tidak bisa menuju ke ujung kutub positif, karena terpisah oleh bahan dielektrik yang non-konduktif. Muatan elektrik ini tersimpan selama tidak ada konduksi pada ujung-ujung kakinya. Bila kapasitor dihubungkan ke baterai, kapasitor terisi hingga beda potensial antara kedua terminalnya sama dengan tegangan baterai. Jika baterai dicabut, muatan-muatan listrik akan habis dalam waktu yang sangat lama, terkecuali bila sebuah konduktor dihubungkan pada kedua terminal kapasitor. Proses yang terjadi pada kapasitor ini dapat disebut sebagai proses charging – discharging.. Di alam bebas, phenomena kapasitor terjadi pada saat terkumpulnya muatan-muatan positif dan negatif di awan.
Kapasitansi didefinisikan sebagai kemampuan dari suatu kapasitor untuk dapat menampung muatan elektron. Coulombs pada abad 18 menghitung bahwa 1 coulomb = 6.25 x 1018 elektron. Kemudian Michael Faraday membuat postulat bahwa sebuah kapasitor akan memiliki kapasitansi sebesar 1 farad jika dengan tegangan 1 volt dapat memuat muatan elektron sebanyak 1 coulombs.
Dalam praktek pembuatan kapasitor, kapasitansi dihitung dengan mengetahui luas area plat metal (A), jarak (t) antara kedua plat metal (tebal dielektrik) dan konstanta (k) bahan dielektrik. Dengan rumus dapat di tulis sebagai berikut :
C = (8.85 x 10-12) (k A/t)
Berikut adalah tabel contoh konstanta (k) dari beberapa bahan dielektrik yang disederhanakan :

Untuk rangkaian elektronik praktis, satuan farad adalah sangat besar sekali. Umumnya kapasitor yang ada di pasaran memiliki satuan : µF, nF dan pF.
1 Farad = 1.000.000 µF (mikro Farad)
1 µF = 1.000.000 pF (piko Farad)
1 µF = 1.000 nF (nano Farad)
1 nF = 1.000 pF (piko Farad)
1 pF = 1.000 µµF (mikro-mikro Farad)
1 µF = 10-6 F
1 nF = 10-9 F
1 pF = 10-12 F

Konversi satuan penting diketahui untuk memudahkan membaca besaran sebuah kapasitor. Misalnya 0.047µF dapat juga dibaca sebagai 47nF, atau contoh lain 0.1nF sama dengan 100pF.
Kapasitor / kondensator diidentikkan mempunyai dua kaki dan dua kutub yaitu positif dan negatif serta memiliki cairan elektrolit dan biasanya berbentuk tabung.

Sedangkan jenis yang satunya lagi kebanyakan nilai kapasitasnya lebih rendah, tidak mempunyai kutub positif atau negatif pada kakinya, kebanyakan berbentuk bulat pipih berwarna coklat, merah, hijau dan lainnya seperti tablet atau kancing baju.

Wujud dan Macam Kondensator
Berdasarkan kegunaannya kondensator di bagi menjadi :
a. Kondensator tetap (nilai kapasitasnya tetap / tidak dapat diubah)
Kapasitor tetap dibagi menjadi kapasitor berkutub atau polar dan kapasitor non – polar. Contoh kapasitor polar adalah Electrolit Condenser (Elco). Kapasitor non – polar tidak mempunyai kutub sehingga tidak menjadi masalah apabila dipasang terbalik.
b. Kondensator variabel (nilai kapasitasnya dapat diubah – ubah)
Yang termasuk kapasitor tidak tetap adalah varco (kapasitansi dapat diubah dengan menggunakan obeng) dan trimmer (kapasitansi diubah dengan memutar pada porosnya).
Pada kapasitor yang berukuran besar, nilai kapasitansi umumnya ditulis dengan angka yang jelas. Lengkap dengan nilai tegangan maksimum dan polaritasnya. Misalnya pada kapasitor elco dengan jelas tertulis kapasitansinya sebesar 100µF25v yang artinya kapasitor/ kondensator tersebut memiliki nilai kapasitansi 100 µF dengan tegangan kerja maksimal yang diperbolehkan sebesar 25 volt.
Kapasitor yang ukuran fisiknya kecil biasanya hanya bertuliskan 2 (dua) atau 3 (tiga) angka saja. Jika hanya ada dua angka, satuannya adalah pF (pico farads). Sebagai contoh, kapasitor yang bertuliskan dua angka 47, maka kapasitansi kapasitor tersebut adalah 47 pF. Jika ada 3 digit, angka pertama dan kedua menunjukkan nilai nominal, sedangkan angka ke-3 adalah faktor pengali. Faktor pengali sesuai dengan angka nominalnya, berturut-turut 1 = 10, 2 = 100, 3 = 1.000, 4 = 10.000, 5 = 100.000 dan seterusnya.
Untuk kapasitor polyester nilai kapasitansinya bisa diketahui berdasarkan warna seperti pada resistor.

Seperti komponen lainnya, besar kapasitansi nominal ada toleransinya. Pada tabel 2.3 diperlihatkan nilai toleransi dengan kode-kode angka atau huruf tertentu. Dengan tabel tersebut pemakai dapat dengan mudah mengetahui toleransi kapasitor yang biasanya tertera menyertai nilai nominal kapasitor. Misalnya jika tertulis 104 X7R, maka kapasitansinya adalah 100nF dengan toleransi +/-15%. Sekaligus diketahui juga bahwa suhu kerja yang direkomendasikan adalah antara -55Co sampai +125Co .
Dari penjelasan di atas bisa diketahui bahwa karakteristik kapasitor selain kapasitansi juga tak kalah pentingnya yaitu tegangan kerja dan temperatur kerja. Tegangan kerja adalah tegangan maksimum yang diijinkan sehingga kapasitor masih dapat bekerja dengan baik. Misalnya kapasitor 10uF25V, maka tegangan yang bisa diberikan tidak boleh melebihi 25 volt dc. Umumnya kapasitor-kapasitor polar bekerja pada tegangan DC dan kapasitor non-polar bekerja pada tegangan AC. Sedangkan temperatur kerja yaitu batasan temperatur dimana kapasitor masih bisa bekerja dengan optimal. Misalnya jika pada kapasitor tertulis X7R, maka kapasitor tersebut mempunyai suhu kerja yang direkomendasikan antara -55Co sampai +125Co. Biasanya spesifikasi karakteristik ini disajikan oleh pabrik pembuat di dalam datasheet.
Rangkaian kapasitor secara seri akan mengakibatkan nilai kapasitansi total semakin kecil. Rangkaian kapasitor secara paralel akan mengakibatkan nilai kapasitansi pengganti semakin besar.
Fungsi Kapasitor
Fungsi penggunaan kapasitor dalam suatu rangkaian :
a. Sebagai kopling antara rangkaian yang satu dengan rangkaian yang lain (pada PS = Power Supply)
b. Sebagai filter dalam rangkaian PS
c. Sebagai pembangkit frekuensi dalam rangkaian antenna
d. Untuk menghemat daya listrik pada lampu neon
e. Menghilangkan bouncing (loncatan api) bila dipasang pada saklar
Tipe Kapasitor
Kapasitor terdiri dari beberapa tipe, tergantung dari bahan dielektriknya. Untuk lebih sederhana dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu kapasitor electrostatic, electrolytic dan electrochemical.
a. Kapasitor Electrostatic
Kapasitor electrostatic adalah kelompok kapasitor yang dibuat dengan bahan dielektrik dari keramik, film dan mika. Keramik dan mika adalah bahan yang populer serta murah untuk membuat kapasitor yang kapasitansinya kecil. Tersedia dari besaran pF sampai beberapa µF, yang biasanya untuk aplikasi rangkaian yang berkenaan dengan frekuensi tinggi. Termasuk kelompok bahan dielektrik film adalah bahan-bahan material seperti polyester (polyethylene terephthalate atau dikenal dengan sebutan mylar), polystyrene, polyprophylene, polycarbonate, metalized paper dan lainnya.
Mylar, MKM, MKT adalah beberapa contoh sebutan merek dagang untuk kapasitor dengan bahan-bahan dielektrik film. Umumnya kapasitor kelompok ini adalah non-polar.
b. Kapasitor Electrolytic
Kelompok kapasitor electrolytic terdiri dari kapasitor-kapasitor yang bahan dielektriknya adalah lapisan metal-oksida. Umumnya kapasitor yang termasuk kelompok ini adalah kapasitor polar dengan tanda + dan – di badannya. Kapasitor ini memiliki polaritas karena proses pembuatannya menggunakan elektrolisa sehingga terbentuk kutub positif anoda dan kutub negatif katoda.
Telah lama diketahui beberapa metal seperti tantalum, alumunium, magnesium, titanium, niobium, zirconium dan seng (zinc) permukaannya dapat dioksidasi sehingga membentuk lapisan metal-oksida (oxide film). Lapisan oksidasi ini terbentuk melalui proses elektrolisa, seperti pada proses penyepuhan emas. Elektroda metal yang dicelup ke dalam larutan elektrolit (sodium borate) lalu diberi tegangan positif (anoda) dan larutan electrolit diberi tegangan negatif (katoda). Oksigen pada larutan electrolyte terlepas dan mengoksidasi permukaan plat metal. Contohnya, jika digunakan alumunium, maka akan terbentuk lapisan Alumunium-oksida (Al2O3) pada permukaannya.

Dengan demikian berturut-turut plat metal (anoda), lapisan-metal-oksida dan electrolyte (katoda) membentuk kapasitor. Dalam hal ini lapisan-metal-oksida sebagai dielektrik. Dari rumus umum diketahui besar kapasitansi berbanding terbalik dengan tebal dielektrik. Lapisan metal-oksida ini sangat tipis, sehingga dengan demikian dapat dibuat kapasitor yang kapasitansinya cukup besar.
Karena alasan ekonomis dan praktis, umumnya bahan metal yang banyak digunakan adalah alumunium dan tantalum. Bahan yang paling banyak dan murah adalah aluminium. Untuk mendapatkan permukaan yang luas, bahan plat Aluminium ini biasanya digulung radial. Sehingga dengan cara itu dapat diperoleh kapasitor yang kapasitansinya besar. Sebagai contoh 100uF, 470uF, 4700uF dan lain-lain, yang sering juga disebut kapasitor elco.
Bahan electrolyte pada kapasitor tantalum ada yang cair tetapi ada juga yang padat. Disebut electrolyte padat, tetapi sebenarnya bukan larutan electrolit yang menjadi elektroda negatif-nya, melainkan bahan lain yaitu manganese-dioksida. Dengan demikian kapasitor jenis ini bisa memiliki kapasitansi yang besar namun menjadi lebih ramping dan mungil. Selain itu karena seluruhnya padat, maka waktu kerjanya (lifetime) menjadi lebih tahan lama. Kapasitor tipe ini juga memiliki arus bocor yang sangat kecil Jadi dapat dipahami mengapa kapasitor Tantalum menjadi relatif mahal.

c. Kapasitor Electrochemical
Satu jenis kapasitor lain adalah kapasitor electrochemical. Termasuk kapasitor jenis ini adalah battery dan accu. Pada kenyataannya battery dan accu adalah kapasitor yang sangat baik, karena memiliki kapasitansi yang besar dan arus bocor (leakage current) yang sangat kecil. Tipe kapasitor jenis ini juga masih dalam pengembangan untuk mendapatkan kapasitansi yang besar namun kecil dan ringan, misalnya untuk aplikasi mobil elektrik dan telepon selular.

2.1.3. Dioda
Dioda adalah piranti elektronik yang hanya dapat melewatkan arus dalam satu arah saja. Karena itu, dioda dapat dimanfaatkan sebagai penyearah arus listrik, yaitu piranti elektronik yang mengubah arus atau tegangan bolak-balik (AC) menjadi arus tegangan searah (DC).

Prinsip Kerja Dioda

Dioda terbentuk dari bahan semikonduktor tipe P dan N yang digabungkan. Dengan demikian dioda sering disebut PN junction. Dioda adalah gabungan bahan semikonduktor tipe N yang merupakan bahan dengan kelebihan elektron dan tipe P adalah kekurangan satu elektron sehingga membentuk Hole. Hole dalam hal ini berfungsi sebagai pembawa muatan. Apabila kutub P pada dioda (biasa disebut anode) dihubungkan dengan kutub positif sumber maka akan terjadi pengaliran arus listrik dimana elektron bebas pada sisi N (katode) akan berpindah mengisi hole sehingga terjadi pengaliran arus.
Sebaliknya apabila sisi P dihubungkan dengan negatif baterai / sumber, maka elektron akan berpindah ke arah terminal positif sumber. Didalam dioda tidak akan terjadi perpindahan elektron.

Jenis –Jenis Dioda
Pada dasarnya setiap dioda memiliki karakteristik yang sama tetapi ada beberapa dioda yang memiliki keistimewaan khusus, diantaranya :
a. Dioda hubungan
Dioda yang dapat menghantarkan arus dan tegangan yang besar pada satu arah saja. Contoh : IN4001, IN4002
b. Dioda kontak titik
Dioda ini berfungsi untuk mengubah frekuensi tinggi ke frekuensi rendah. Contoh : IN60, OA70
c. Dioda Zener
Dioda zener adalah tipe dioda yang spesial, dimana arus dapat mengalir pada arah kebalikan. Dioda zener sebenarnya sama seperti dioda biasa dapat mengalirkan arus pada arah bias maju. Jika di bias terbalik juga bekerja seperti biasa, kecuali bila mencapai tegangan yang bekerja pada zener / breakdown voltage, dioda zener akan mengalirkan arus listrik dalam arah bias terbalik atau mundur. Dioda menolak aliran arus pada arah kebalikan selama tegangan balik (reversing voltage) tetap rendah. Tetapi jika tegangan mendekati batas breakdown, dioda zener akan dialiri arus pada arah kebalikan. Dengan kata lain tahanan dioda zener breakdown mendekati nol dan arus balik (reverse current) dapat mengalir.
Apabila arah arus ke depan, dioda zener memiliki karakteristik yang sama dengan dioda-dioda secara umum, tetapi karakteristik lainnya adalah arus akan mengalir ke dioda zener secara tiba-tiba dari satu tegangan balik tertentu apabila tegangan digunakan pada arah berlawanan. Tegangan kerja pada saat itu disebut dengan tegangan breakdown yang besarnya antara beberapa volt sampai beberapa ratus volt. Aplikasi dioda zener pada otomotif adalah pada sistem pengisian elektronika dan beberapa komponen-komponen elektronik lainnya. Ukuran dioda zener yang banyak dijumpai di pasaran adalah :
• Tegangan Zener : dibuat dalam berbagai ukuran tegangan, misal 3.3, 4.7, 5.1, 6.2, 6.8, 9.1, 10, 11, 12, 13, 15 sampai 200 volt.
• Untuk ukuran daya lebih banyak dibutuhkan dalam arah/bias mundur contoh : P= 1.0,7=0,7 W, bias maju arus 1 A. P= 1.10=10 watt, bias mundur 1 A
d. Light Emiting Dioda (LED)
Yaitu jenis dioda yang mampu menghasilkan cahaya apabila pada dioda tersebut bekerja tegangan 1.8V dan arus listrik 1.5mA dengan arah forward bias / bias arus maju. Arus listrik juga akan bekerja hanya pada arus bias maju. LED didesign dengan rumah atau case dari bahan epoxy trasnparan. Warna cahaya yang dihasilkan dapat dibuat sesuai dengan dopping bahan pada LED.
e. Dioda Foto
Jika semi konduktor menyerap cahaya, maka dapat tercipta pasangan elektron bebas-lubang yang melebihi jumlah yang telah ada dalam semi konduktor itu akibat kegiatan termal. Gejala ini disebut penyerapan foto (foto absorption). Meningkatnya konduktifitas listrik akibat kelebihan muatan pembawa oleh penyerapan foto disebut konduktifitas foto (foto konduktivitas). Jika bungkus semi konduktor diberi “jendela” transparan (tembus cahaya) maka konduktifitas listrik semi konduktor tergantung pada intensitas cahaya yang jatuh padanya. Inilah prinsip kerja sebuah dioda foto.

Aplikasi dioda
Aplikasi dioda pada kendaraan banyak digunakan untuk penyearahan arus seperti pada sistem pengisaian. Fungsi dioda adalah sebagai penyearah arus dari arus bolak-balik menjadi arus searah agar dapat dimanfaatkan untuk mengisi baterai dan menyuplai kebutuhan arus pada kendaraan.
Fungsi lain dioda ini pada kendaraan adalah sebagai anti shock tegangan. Contoh aplikasinya adalah pada jenis relay diberikan dioda dengan tujuan untuk mencegah terjadinya arus balik pada rangkaian. Arus balik listrik ini dapat berasal dari induksi medan magnet yang dihasilkan oleh kumparan relay. Induksi listrik ini biasanya lebih tinggi tegangannya dibandingkan dengan tegangan sumber. Untuk mencegah terjadinya kerusakan akibat terjadinya tegangan induksi ini maka pada rangkaian relay dipasangkan rangkaian dioda.

Penerapan Dioda Dalam Rangkaian Penyearah
Karena sebuah dioda sambungan P-N hanya dapat mengalirkan arus listrik dalam satu arah, maka diode dapat dimanfaatkan sebagai penyearah (rectifier) untuk mengubah arus bolak-balik (AC) menjadi arus searah (DC). Ada dua jenis penyearah, yaitu penyearah setengah-gelombang (half-wave rectifier) dan penyearah gelombang–penuh (full-wave rectifier) .

Macam – macam pembiasan pada dioda :
a. Forward Bias
Apabila tegangan dikaki anoda lebih positif dari kaki katoda sehingga arus mengalir dari anoda ke katoda
b. Reverse Bias
Apabila tegangan dikaki katoda lebih positif dari kaki anoda sehingga arus tidak mengalir dari anoda ke katoda

2.1.4. Transistor
Transistor adalah komponen terpenting yang ada dalam dunia elektronika. Secara garis besar ada 2 macam transistor yaitu : BJT (Bipolar Junction Transistor) dan FET (Field Effect Transistor). Transistor BJT mempunyai tiga kaki utama yaitu : Emiter (E), colector (C) dan base (B).
Dari transistor dapat dibuat rangkaian penguat atau amplifier. Penguatan dapat diambil dengan berbagai cara dengan menggunakan transistor. Transistor bipolar biasanya digunakan sebagai saklar elektronik dan penguat pada rangkaian elektronika digital. Transistor memiliki 3 terminal dan biasanya dibuat dari bahan silikon atau germanium. Kaki transistor ini dapat dikombinasikan menjadi jenis N-P-N atau P-N-P. Transistor memiliki dua sambungan, yaitu antara emitter dan basis dan antara kolektor dan basis. Karena itu, sebuah transistor seperti dua buah dioda yang saling bertolak belakang yaitu dioda emitter – basis, atau disingkat dengan emitter dioda dan
dioda kolektor – basis, atau disingkat dengan dioda kolektor. Berikut ini merupakan gambar dan simbol dari transistor, baik NPN maupun PNP.

Pada rangkaian elektronik, sinyal inputnya adalah 1 atau 0 ini selalu dipakai pada basis transistor, yang mana collector dan emittor sebagai penghubung untuk pemutus ( short ) atau sebagai pembuka rangkaian. Aturan / prosedur transistor sebagai berikut:
• Pada transistor NPN, pemberian tegangan positif dari basis ke emittor, menyebabkan hubungan collector ke emittor terhubung singkat, yang menyebabkan transistor aktif ( ON ). Pemberian tegangan negatif atau 0 V dari basis ke emittor menyebabkan hubungan collector dan emittor terbuka, yang disebut transistor mati ( OFF ).
• Pada transistor PNP, pemberian tegangan negatif dari basis ke emittor ini akan menyalakan transistor ( ON ). Dan pemberian tegangan positif dari basis ke emittor ini akan membuat transistor mati ( OFF ).

Karakteristik input daripada transistor adalah sebagai berikut :
Bagian emittor-basis dari transistor merupakan dioda, maka apabila dioda emittor-basis dibias maju maka kita mengharapkan akan melihat grafik arus terhadap tegangan dioda biasa. Saat tegangan dioda emittor-basis lebih kecil dari potensial barriernya, maka arus basis (Ib) akan kecil. Ketika tegangan dioda melebihi potensial barriernya, arus basis (Ib) akan naik secara cepat.

Karakteristik output daripada transistor adalah :
Sebuah transistor memiliki empat daerah operasi yang berbeda yaitu daerah aktif, daerah saturasi, daerah cutoff, dan daerah breakdown. Jika transistor digunakan sebagai penguat, transistor bekerja pada daerah aktif. Jika transistor digunakan pada rangkaian digital, transistor biasanya beroperasi pada daerah saturasi dan cutoff. Daerah breakdown biasanya dihindari karena resiko transistor menjadi hancur terlalu besar.

2.1.5. Relay
Transistor tidak dapat berfungsi sebagai switch ( saklar ) tegangan AC atau tegangan tinggi. Selain itu, umumnya tidak digunakan sebagai switching untuk arus besar ( >5 A ). Dalam hal ini, penggunaan relay sangatlah tepat. Relay berfungsi sebagai saklar yang bekerja berdasarkan input yang dimilikinya.
Dengan bantuan relay, pada alat ini kita dapat menggunakan supply back – up, dimana dalam apabila satu supply putus atau down, relay dapat secara otomatis men – switch ke supply yang satunya.

Keuntungan relay :
• Dapat switch AC dan DC, transistor hanya switch DC
• Relay dapat men – switch tegangan tinggi, transistor tidak dapat
• Relay pilihan yang tepat untuk switching arus yang besar
• Relay dapat switch banyak kontak dalam 1 waktu

Kekurangan relay :
• Relay ukurannya jauh lebih besar daripada transistor
• Relay tidak dapat switch dengan cepat
• Relay butuh daya lebih besar dibanding transistor
• Relay membutuhkan arus input yang besar

2.1.6. Switch
Sakelar atau switch digunakan untuk membuat rangkaian listrik menjadi tertutup atau terbuka. Ada dua jenis sakelar, yaitu
sakelar manual dan otomatis. Sakelar manual menutup atau membuka rangkaian listrik dengan bantuan tangan. Sakelar untuk menyalakan lampu merupakan contoh sakelar manual. Sedangkan sakelar otomatis bekerja dengan bantuan peralatan elektronik. Contoh sakelar otomatis adalah sakelar untuk menyalakan lampu pengatur lalu lintas dan sakelar untuk menyalakan lampu jalan.
Switch merupakan suatu piranti yang digunakan untuk melakukan pergantian dari satu kondisi ke kondisi lainnya atau melakukan switching ( pertukaran ). Switch ini sendiri sangat luas makna dan pemakaiannya, termasuk relay dan transistor yang dapat digunakan untuk melakukan switch, begitu juga dengan menggunakan dioda. Akan tetapi hal tersebut merupakan konfigurasi pada rangkaian. Secara fisik, switch dapat digolongkan menjadi SPST, SPDT, DPDT dan Multi-thru.
Disamping itu, switch yang akan digunakan pada alat ini terdapat 3 jenis yaitu switch on – off atau switch dengan dua kondisi ( terhubung atau putus ), switch toggle dan push button.
Berikut adalah gambar switch – switch tersebut.

2.1.7. Motor
Motor adalah suatu device yang dapat menggerakkan sesuatu atau sebagai penggerak yang memanfaatkan elektromagnetik. Atau dapat dikatakan sebagai pengubah elektrik menjadi mekanik. Motor Secara umum terbagi atas :
– Motor AC, motor yang sumber tegangannya merupakan sumber AC
– Motor DC, motor yang sumber tegangannya merupakan sumber DC
Selain itu, terdapat motor universal yang dapat bekerja baik dengan sumber AC maupun sumber DC. Akan tetapi dalam praktiknya banyak yang menggunakannya dengan sumber AC. Motor AC merupakan motor dengan sumber AC ( Alternate Current ). Pengelompokkan motor AC ini biasanya berdasarkan phase-nya. Yang diperhatikan pada motor AC ini pada umumnya adalah Horsepower, speed dalam RPM dan startup torque. Berikut ini akan diberikan gambar motor AC :

Motor dengan sumber DC dapat dibagi menjadi :
– Motor DC atau dinamo
– Motor servo
– Motor stepper

Motor yang akan kita gunakan dan akan dibahas lebih lanjut dan digunakan pada alat ini adalah motor DC atau dinamo. Motor DC ini tidak berisik dan dapat memberikan daya yang memadai untuk tugas – tugas berat. Motor DC standar berputar secara bebas, berbeda halnya dengan motor stepper. Motor DC ini biasanya terdiri dari 2 kutub atau 2 inputan pin, harus terjadinya perbedaan tegangan misalnya tegangan baterry dengan ground. Berikut ini diberikan cara menggerakkan motor DC.

Motor DC digunakan untuk membuka dan menutup pintu pada aplikasi alat yang dikerjakan ini.

Konfigurasi H-Bridge
Konfigurasi H-bridge ini merupakan konfigurasi penguat yang digunakan untuk mengatur motor agar dapat berputar dalam dua arah, yaitu counter clock-wise dan clock-wise. Konfigurasi ini menggunakan 4 buah transistor yang terdiri dari NPN dan PNP yang dirangkai sedemikian rupa sehingga membentuk rangkaian seperti berikut ini.

Atau dapat digambarkan sebagai berikut :

Untuk menggerakkan motor, tinggal diatur ke empat switch yang ada, dimana pada kasus ini dibedakan menjadi hanya dua switch, yaitu sebelah kanan dan sebelah kiri.

2.1.8. Komparator
Komparator merupakan salah satu daripada penggunaan op – amp. Komparator ini dioperasikan dengan konfigurasi open loop yang mempunyai masukan pada kedua inputannya, yaitu V- dan V+. Masukan ini akan dibandingkan yang kemudian menghasilkan output. Inputan pada komparator adalah dua, yaitu V- dan V+. Apabila inputan pada kaki V- lebih besar daripada V+ maka output yang diperoleh maksimal atau sama dengan besarnya Vee. Sedangkan apabila kebalikannya, dimana V+ lebih besar daripada V- maka output yang diperoleh maksimal atau sama dengan Vcc.
Pada rangkaian ini yang digunakan adalah rangkaian schmitt trigger, dimana merupakan bentuk pengembangan daripada komparator. Schmitt trigger atau bistable multivibrator menggunakan feedback positip dengan loop gain lebih besar 1 untuk mendapatkan karakteristik bistable. Komparator hanya mempunyai satu batas referensi, sedangkan pada schmitt trigger terdapat dua batas referensi yaitu UTP ( Upper Trip Point ) dan LTP ( Lower Trip Point ).
Op-amp dinamakan juga dengan penguat diferensial (differential amplifier). Sesuai dengan istilah ini, op-amp adalah komponen IC yang memiliki 2 input tegangan dan 1 output tegangan, dimana tegangan output-nya adalah proporsional terhadap perbedaan tegangan antara kedua inputnya itu. Penguat diferensial seperti yang ditunjukkan pada gambar-1 merupakan rangkaian dasar dari sebuah op-amp.

gambar-1 : penguat diferensial

Pada rangkaian yang demikian, persamaan pada titik Vout adalah Vout = A(V1-V2) dengan A adalah nilai penguatan dari penguat differensial ini. Titik input V1 dikatakan sebagai input non-inverting, sebab tegangan Vout satu phase dengan V1. Sedangkan sebaliknya titik V2 dikatakan input inverting sebab berlawanan phasa dengan tengangan vout.

Diagram Op-amp
Op-amp di dalamnya terdiri dari beberapa bagian, yang pertama adalah penguat diferensial, lalu ada tahap penguatan (gain), selanjutnya ada rangkaian penggeser level (level shifter) dan kemudian penguat akhir yang biasanya dibuat dengan penguat push-pull kelas B. Gambar berikut menunjukkan diagram dari op-amp yang terdiri dari beberapa bagian tersebut.

gambar-2 : Diagram schematic simbol Op-Amp

Simbol op-amp adalah seperti pada gambar-2 dengan 2 input, non-inverting (+) dan input inverting (-). Umumnya op-amp bekerja dengan dual supply (+Vcc dan –Vee) namun banyak juga op-amp dibuat dengan single supply (Vcc – ground). Simbol rangkaian di dalam op-amp pada gambar-2 adalah parameter umum dari sebuah op-amp. Rin adalah resitansi input yang nilai idealnya infinit (tak terhingga). Rout adalah resistansi output dan besar resistansi idealnya 0 (nol). Sedangkan Aol adalah nilai penguatan open loop dan nilai idealnya tak terhingga.
Saat ini banyak terdapat tipe-tipe op-amp dengan karakterisktik yang spesifik. Op-amp standard type 741 dalam kemasan IC DIP 8 pin sudah dibuat sejak tahun 1960-an. Tergantung dari teknologi pembuatan dan desain IC nya, karakteristik satu op-amp dapat berbeda dengan op-amp lain. Tabel-1 menunjukkan beberapa parameter op-amp yang penting beserta nilai idealnya dan juga contoh real dari parameter LM714.

Tabel 1 : Parameter OP-AMP LM741

Penguatan Open-loop
Op-amp idealnya memiliki penguatan open-loop (AOL) yang tak terhingga. Namun pada prakteknya op-amp semisal LM741 memiliki penguatan yang terhingga kira-kira 100.000 kali. Sebenarnya dengan penguatan yang sebesar ini, sistem penguatan op-amp menjadi tidak stabil. Input diferensial yang amat kecil saja sudah dapat membuat outputnya menjadi saturasi. Pada bab berikutnya akan dibahas bagaimana umpan balik bisa membuat sistem penguatan op-amp menjadi stabil.

Unity-gain frequency
Op-amp ideal mestinya bisa bekerja pada frekuensi berapa saja mulai dari sinyal DC sampai frekuensi Giga Hertz. Parameter unity-gain frequency menjadi penting jika op-amp digunakan untuk aplikasi dengan frekuensi tertentu. Parameter Aol biasanya adalah penguatan op-amp pada sinyal DC. Response penguatan op-amp menurun seiring dengan menaiknya frekuenci sinyal input. Op-amp LM741 misalnya memiliki unity-gain frequency sebesar 1 MHz. Ini berarti penguatan op-amp akan menjadi 1 kali pada frekuensi 1 MHz. Jika perlu merancang aplikasi pada frekeunsi tinggi, maka pilihlah op-amp yang memiliki unity-gain frequency lebih tinggi.

Slew rate
Di dalam op-amp kadang ditambahkan beberapa kapasitor untuk kompensasi dan mereduksi noise. Namun kapasitor ini menimbulkan kerugian yang menyebabkan response op-amp terhadap sinyal input menjadi lambat. Op-amp ideal memiliki parameter slew-rate yang tak terhingga. Sehingga jika input berupa sinyal kotak, maka outputnya juga kotak. Tetapi karena ketidak idealan op-amp, maka sinyal output dapat berbentuk ekponensial. Sebagai contoh praktis, op-amp LM741 memiliki slew-rate sebesar 0.5V/us. Ini berarti perubahan output op-amp LM741 tidak bisa lebih cepat dari 0.5 volt dalam waktu 1 Mikro sekon.

Parameter CMRR
Ada satu parameter yang dinamakan CMRR (Commom Mode Rejection Ratio). Parameter ini cukup penting untuk menunjukkan kinerja op-amp tersebut. Op-amp dasarnya adalah penguat diferensial dan mestinya tegangan input yang dikuatkan hanyalah selisih tegangan antara input V1 (non-inverting) dengan input V2 (inverting). Karena ketidak-idealan op-amp, maka tegangan persamaan dari kedua input ini ikut juga dikuatkan. Parameter CMRR diartikan sebagai kemampuan op-amp untuk menekan penguatan tegangan ini (common mode) sekecil-kecilnya. CMRR didefenisikan dengan rumus CMRR = ADM / ACM yang dinyatakan dengan satuan dB. Contohnya op-amp dengan CMRR = 90 dB, ini artinya penguatan ADM (differential mode) adalah kira-kira 30.000 kali dibandingkan penguatan ACM (commom mode). Kalau CMRR-nya 30 dB, maka artinya perbandingannya kira-kira hanya 30 kali. Kalau diaplikasikan secara real, misalkan tegangan input v1 = 5.05 volt dan tegangan v2 = 5 volt, maka dalam hal ini tegangan diferensialnya (differential mode) = 0.05 volt dan tegangan persamaan-nya (common mode) adalah 5 volt. Pembaca dapat mengerti dengan CMRR yang makin besar maka op-amp diharapkan akan dapat menekan penguatan sinyal yang tidak diinginkan (common mode) sekecil-kecilnya. Jika kedua pin input dihubung singkat dan diberi tegangan, maka output op-amp mestinya nol. Dengan kata lain, op-amp dengan CMRR yang semakin besar akan semakin baik.
2.1.9. IC Timer 555.
Multivibrator ini menggunakan IC timer 555. 555 itu merupakan nilai resistor yang digunakan dalam rangkaian IC 555 tersebut. Nilai resistor tersebut adalah 5KΩ. Di dalam IC 555 tersebut terdapat tiga buah resistor 5K untuk input tegangan referensi daripada komparator yang digunakan.
Konfigurasi timer yang digunakan pada rangkaian ini merupakan konfigurasi monostable yang menggunakan dua batas referensi atau bisa dikatakan pembentukan schmitt trigger menggunakan IC timer 555. Hal ini dilakukan untuk memberikan clock kepada 16v8 yang diperoleh dari pada sensor photodiode.

Gambar rangkaian IC 555 ini adalah sebagai berikut :

Ketiga R yang terdapat pada bagian atas itulah yang menggunakan nilai 5KΩ. Oleh karena itu dapat diperoleh nilai 2 / 3 Vcc dan 1 / 3 Vcc sebagai tegangan referensi atau Vref daripada comparator yang digunakan tersebut. Sedangkan untuk gambar rangkaian schmitt trigger menggunakan timer ini akan diberikan berikut ini. Dimana pin 7 atau pin discharging tidak digunakan, dimana prinsipnya menggunakan tegangan referensi comparator dengan tegangan referensi dari konfigurasi ini.

Keadaan awal pewaktu

Ketika sakelar (SW) mulai ditekan, COMP1 terminal (-) berada pada keadaan L .
Sebab tegangan dari COMP1 terminal (-) berada sama atau kurang dari V1 dari terminal (+), keluaran COMP1 berada pada keadaan H .
Dengan itu, FF menjadi keadaan set, Q berubah pada H sementara Q’ terisi pada keadaan L dan Keluaran dalam keadaan H .
Karena keadaan Q’ menjadi L , TR berada pada keadaan OFF. Ketika TR berada pada keadaan OFF , pengisian energi listrik masuk ke kapacitor (C) melalui resistor (R). Seperti pengisian kapacitor (C), tegangan dari kedua sisi kapacitor (C) mulai naik. Sakelar pemulai (SW) mengunakan jenis tidak terkunci akan kembali saat tekanan dilepaskan. pada keadaan tertekan, OUT tidak menjadi keadaan L kecuali pewaktu tidak dalam keadaan lewat waktu. ketika sakelar mulai (SW) kembali lagi, Terminal COMP1 (-) tberada pada keadaan H dan berada sama atau lebih dari V1 terminal (+) , keluaran dari COMP1 berada pada keadaan L . Keluaran dari COMP1 berada pada keadaan L dan terminal S dari FF berada pada keadaan L, keadaan dari Q dan dari FF tidak berubah. Sementara tegangan capacitor(C) tidak melampaui tegangan V2 (tegangan dari COMP2 terminal (-) ), FF memperbaiki keadaan ini.

Keadaan lewat waktu

Keluaran dari COMP2 berada pada keadaan H ketika pengisian listrik tersimpan pada capacitor(C) dan tegangan dari COMP2 terminal (+) melintasi V2 dari terminal (-) . Reset terminal (R) dari FF berada pada keadaan H dengan begitu, Q menjadi L dan berada pada keadaan H . Keluaran (OUT) berada pada keadaan L .
Sebab berada pada keadaan H , TR pada keadaan ON . Sebab TR berada pada keadaan ON , COMP2 terminal (+) berada pada keadaan L dan keluaran dari COMP2 kembali kekeadaan L . Juga, keadaan dari Q dan tidak berubah, OUT / keluaran pada keadaan L . Juga, sebab TR bberada pada keadaan ON , terbuang melalui TR oleh pengisian pada capacitor (C) dan pengisian listrik capacitor (C) mati.

Fungsi masing-masing pin IC 555 :

Pin 1 (Ground). Pin ini merupakan titik referensi untuk seluruh sinyal dan tegangan pada rangkaian 555, baik rangkaian internal maupun rangkaian eksternalnya.
Pin 2 (Trigger). Berfungsi untuk membuat output high, ini terjadi pada saat level tegangan pin trigger dari High menuju < 1/3 Vcc Pin 3 (Output). Output mempunyai 2 keadaan, High dan Low Pin 4 (Reset). Pada saat low, pin 4 akan reset. Pada saat reset, output akan Low. Supaya bisa bekerja, pin 4 harus diberi High. Pin 5 (Voltage Control). Jika pin 5 diberi tegangan, maka level tegangan threshold akan berubah dari 2/3 Vcc menjadi V5. Level tegangan trigger akan berubah dari 2/3 Vcc menjadi V5 Pin 6 (Threshold). Untuk membuat output Low, terjadi pada saat tegangan pin 6 dari Low menuju > 1/3 Vcc
Pin 7 (Discharge). Output Low, pin 7 akan Low Impedance. Output High, pin 8 akan High Impedance.
Pin 8 (Vcc). Pin ini untuk menerima supply DC voltage yang diberikan. Biasanya akan bekerja jika diberi tegangan 5 –12V(maksimum 18 V).
Cara Kerja IC Timer 555

Apabila supply diberikan, Vcc=0 Volt. Kaki 2 memberi trigger dari tegangan yang tinggi (Vcc) menuju 1/3 Vcc(<1/3 Vcc), kaki 3(output) akan high dan pada saat tersebut kaki 7 mempunyai nilai hambatan yang besar terhadap Ground atau kaki 7 akan High Impedance. C1 diisi melalui Vcc  R1  R2  C1, Setelah 0,7 (R1+R2) C1 detik, maka tegangan C1=2/3 Vcc. Sehingga kaki 3(ouput) akan Low, pada saat tersebut, kaki 7 akan mempunyai nilai hambatan yang rendah sekali terhadap Ground atau pin 7 akan Low Impedance. C1 membuang muatan, setelah 0,7(R2) C1 detik, maka Teg C1=1/3 Vcc. Trigger terjadi lagi sehingga output akan High. Pin 7 akan high Impedance dan C1 diisi kembali. Gambar pulsa output : 2.1.10. Potensiometer Potensiometer adalah salah satu jenis dari resistor yang variabel hambatannya dapat diubah ubah. Pengubahan variabel hambatan pada potensiometer dapat dilakukan dengan cara mengubah frekuensi dengan memutar potensiometer tersebut. Dengan cara ini frekuensi output rangkaian atau alat elektronika dapat diubah-ubah. Potensio banyak terdapat pada alat-alat elektronika seperti radio untuk mengatur volume radio tersebut. 2.2. MEMBUAT JALUR DI PCB Metode yang kami lakukan untuk membuat jalur pada PCB yaitu metode penjiplakan, metode tersebut menurut kami sangat mudah diterapkan, membutuhkan waktu yang relatif singkat, dan biaya yang sedikit. Mula-mula persiapkan dulu alat-alat dan beberapa peralatan selengkap-lengkapnya, agar pembuatan jalur ini dapat berjalan lancar. Bahan-bahan yang harus dipersiapkan yaitu: 1) Printer 2) Spidol permanen untuk OHP dengan ujung runcing 3) Papan PCB polos 4) Ferricloride 5) Setrika Listrik 6) Air Panas 7) Ampelas 8) Komputer beserta software PCB (Software DipTrace) Langkah-langkahnya sebagai berikut: • Pada metode penjiplakan mula-mula jalur di buat sketsanya terlebih dulu dengan menggunakan software yang anda kenal, kami menggunakan software Dip Trace dalam pembuatan alat kami yang menurut kami mudah digunakan • Pada sofware Dip Trace mula-mula kita menyiapkan icon – icon yang melambangkan komponen-komponen yang dibutuhkan untuk kemudian dituangkan kedalam lembar kerja pada software tersebut • Ukuran icon-icon komponen tersebut ketika diprint hasilnya akan sesuai dengan ukuran komponen yang sebenarnya dan tentunya jarak antar kaki komponen tersebut pun sama • Susun icon komponen tersebut sesuai yang diinginkan pada lembar kerja, ada baiknya lebih memperhatikan susunan penyimpanan icon komponen. Penyusunan komponen yang rapih dan berurut sesuai dengan jenis nya tentunya membuat tampilan jalur menjadi lebih rapih • Kemudian mulai dengan membuat jalur PCB caranya yaitu dengan menghubungkan titik-titik pada setiap komponen yang harus terhubung sesuai dengan rangkaian yang ingin dibuat • Dalam menghubungkan titik komponen ke titik komponen lain tempuh jalur yang lebih dekat dan sebaiknya jaga jarak dengan jalur yang lain. Sebaiknya jalur dibuat tebal agar proses penyaluran tegangan berjalan lancar dan ketika proses pelarutan dengan menggunakan ferricloride tidak mudah terkikis • Dalam pembutan jalur terkadang menemui jalan buntu dimana disekitarnya terdapat jalur dari titik komponen ke komponen yang lain, dan jalur yang akan dibuat tersebut tidak boleh terhubung. Ada baiknya gunakan jumper, namun penggunakan jumper tidak selalu dianjurkan apabila ada jalan lain yang dapat ditempuh • Jika jalur keseluruhan rangkaian alat tersebut sudah selesai, simpan dan lakukan pengoreksian berulang-ulang. Hal itu diperlukan untuk menghindari berbagai kesalahan yang nantinya mengharuskan kita memulainya dari awal lagi • Setelah yakin jalur yang kita buat tersebut benar, kemudian print. Seperti yang sudah disebutkan pada point sebelumnya, bahwa ketika diprint, icon komponen tersebut sesuai dengan ukuran komponen aslinya. Jadi kita tidak usah khawatir akan terjadi kesalahan ukuran • Hasil printan tadi kemudian bawa ke tempat fotocopy, mintalah fotocopyan transparan untuk OHP dari hasil print-an tadi • Periksalah hasil fotopyan untuk memastikan hasil fotopyan nya timbul dari nampak bawah rangkaian anda. Untuk memastikannya yaitu dengan cara meraba bagian yang kasar. Ada baiknya memilih tempat fotocopyan yang tintanya bagus, hal tersebut menentukan jelas atau tidaknya hasil jiplakan nantinya • Segera setelah difotocopy transparan, langsung lakukan proses penjiplakan. Tahap ini merupakan tahap setengah jalan untuk mendapatkan hasilnya • Siapkan setrika listrik kemudian setting untuk mendapatkan panas yang hampir penuh. Simpan hasil fotocopyn tadi diatas papan PCB polos dengan posisi nampak kasar tadi bersentuhan dengan PCB. Kemudian timpa dengan selembar kertas, jangan terlalu tebal agar penyaluran panas dari setrika ke papan PCB sesuai yang diinginkan • Letakan setrika diatas papan PCB yang sudah ditimpa dengan hasil fotopyn transparan dan selembar kertas tadi. Gosok dan sedikit tekankan ke papan PCB dengan posisi searah • Kira-kira 10 menit lamanya proses penggosokan, tarik ujung kertas transparan perlahan-lahan. Pastikan tintanya menempel ke papan PCB dengan sempurna. Dalam proses ini terkadang tinta tidak menempel dengan sempurna tapi sekali lagi jangan putus asa, lakukan berulang-ulang untuk mendapatkan hasil yang sempurna bila perlu Cara lain yang bisa dilakukan : Gambar bisa dibuat dengan software PCBExpress, lalu convert ke MODIF / TIF. Atau bisa juga dengan menggunakan Software Trax Maker atau yang lain hasilnya pun akan sesuai dengan skala. Bagi yang menggunakan Software PCBExpress, agar hasil gambar PCB sesuai dengan skala ukuran komponen terutama IC, maka ikutilah setting dibawah ini : • Gambar dari Program PCBExpress disimpan / diprint dengan format MODIF (Microsoft Office Document Image Writer) sehingga menghasilkan xxx.TIF (Tagged Image File) • Kemudian File.TIF tersebut dibuka dengan program ACDSee • Jalankan perintah Print-􀃆 Pilih Jenis Printer yg dipakai 􀃆 dan masuk ke Preferences 􀃆 Print Quality : High / Best Quality 􀃆 Grayscale Printing 􀃆 Page size : A4 ; Orientasi : Portrait / Landscape ; Printing Type ; Scaled printing, Scaling : 105% ; OK ; Print Setup ; Margin dibuat 0.00 (semua) ; atur Size : Width : 8.27, High : 11.69 (A4) ; press OK • Jangan lupa kertas bekas kalender yang akan digunakan untuk print tentunya disisi yang masih kosong, usahakan kertas kalender dipilih yang masih bersih termasuk tangan kita juga harus bersih • Jika ragu ngeprint langsung ke kertas kalender, bisa dicoba dulu ke kertas biasa. • Jika printer toner tidak ada, maka hasil print diatas kertas biasa yang tadi lalu di fotocopy, tapi hasil fotocopynya harus diatas kertas kalender Setelah ter-print ke kertas kalender dan memastikan tidak ada trace yang putus, guntinglah gambar PCB tersebut kira-kira 2-3mm diluar garis gambar • Potong PCB dengan pisau cutter seukuran gambar PCB yang baru saja di-print, lalu kikir bagian tepi PCB agar tidak menonjol..sampai permukaanya rata dan tidak tajam • Ampelas seluruh permukaan PCB sambil dibasahi dengan air, lakukan proses pengampelasan dengan cara memutar searah jarum jam sampai bersih, lalu keringkan. Panaskan setrika, jangan putar sampai penuh • Posisikan gambar PCB diatas papan PCB, trace PCB (tinta toner) menghadap ke papan PCB (tembaga). Diatas kertas kalender lapisi dengan kertas biasa, agar text yg ada di kalender tidak menempel ke permukaan setrika • Tekan setrika agak kuat diatas kerta kalender yang sudah dilapisi dgn kertas biasa tadi sampai kira-kira 30 detik sampai gambar menempel ke papan PCB dan lakukan penggosokan secara merata ke permukaan yg lain • Waktu yang diperlukan selama proses setrika +/- 3 menit, jangan sampai lebih dari 4 menit karena jika terlalu lama biasanya gambar akan melebar / pudar Setelah kertas kalender menempel ke PCB lalu dinginkan papan PCB dengan cara di-angin-anginkan, jangan sekali-kali langsung direndam ke air atau diblow dengan udara dingin / AC, gambar (toner) bisa terkelupas sewaktu masuk pada proses selanjutnya • Jika sudah benar-benar dingin, rendam papan PCB ke dalam air selama +/- 15 s/d 30 menit, tergantung dari tebal / tipisnya kertas kalender, hingga kertas kalender nampak basah pada permukaan bagian dalam, biasanya jika menggunakan kertas kalender yang tipis, kertas akan terkelupas dengan sendirinya (terapung). Setelah PCB dingin, masukan kedalam air • Kupas kertas kalender pelan-pelan dengan tangan sampai gambar / trace nampak, lalu sedikit-demi sedikit bersihkan sisa-sisa kertas yang masih nempel dengan bantuan sikat gigi bekas, terutama kertas yang menempel pada bagian lubang komponen dan diantara traces sampai bersih. Jika terdapat trace yang terkelupas / putus, gunakan spidol permanen untuk membantu menyambungnya. Trace yang terkelupas, digambar ulang dgn spidol • Masukkan Ferricloride secukupnya ke dalam “nampan plastic” , Ferricloride paling tidak 1 bungkus dan masukkan air panas / hangat secukupnya +/- 100ml (1/2 gelas), sampai seluruhnya lebur dengan air, jangan lupa penutup hidung (masker) dan sarung tangan plastic / karet • Masukkan papan PCB kedalam larutan Ferric loride tadi, dan agar prosesnya lebih cepat, bantu dengan cara menggoyang-goyang nampan, awas tumpah • Sambil diamati jika papan PCB sudah seluruhnya lebur, maksudnya tembaga yang tidak tertutup oleh gambar/ toner, maka angkat papan PCB dan bersihkan dengan air yang mengalir (air kran) Untuk membersihkan gambar/toner, gosokan ampelas pelan-pelan sambil disiram air kran sampai benar-benar bersih • Periksa kembali apakah terdapat trace yang putus. Bor papan PCB dengan mata Bor ukuran 0,8mm s/d 1mm • Bersihkan papan PCB, lalu mulailah menyolder • Setelah komponen tersolder seluruhnya, lakukan pengetesan, jika semuanya sudah berfungsi dengan baik, segera lakukan penyemprotan papan PCB dengan Lacquer produk PYLOX Clear128 atau produk “rj” (Acrylic Epoxy Spray Paint). Tujuannya agar papan PCB tidak mudah Oxidasi dan tampak mengkilap terus, lebih bagus kalau ada PCB Varnis sebelum di Lacquer, hasilnya akan lebih menarik. Proses pengeringan selama +/- 10menit, mulailah merakit dan selesai sudah • Waktu yang dibutuhkan mulai dari proses print sampai selesai pelarutan (Etching) +/- 30 menit. BAB III ANALISA RANGKAIAN 3.1 ANALISA RANGKAIAN SECARA BLOK DIAGRAM a. Input Input pada rangkaian ini adalah power atau catu daya +12V, -12V, +5V dan Ground. Power memberikan tegangan pada seluruh blok. Selain itu sakelar (S1) dan potensiometer (R3) juga berperan karena ikut mempengaruhi output yang dihasilkan. Sakelar dalam rangkaian ini berfungsi untuk menentukan arah gerakan motor yang menjadi output sedangkan potensiometer berfungsi untuk mengatur kecepatan gerakan motor. b. Proses Proses dalam pembuatan alat ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu : 1. Blok Comparator Blok comparator berfungsi untuk membandingkan tegangan pada input inverting dan input non inverting sehingga tegangan akan diteruskan ke transistor. Blok comparator tersebut adalah Op-amp LM741. Op-amp berfungsi untuk memperkuat dan mengindrai sinyal masukan AC maupun DC. 2. Blok Switching Blok switching berfungsi untuk memilih arah putaran jarum jam (searah atau berlawanan arah jarum jam) yang tegangannya berasal dari blok comparator dan diteruskan oleh transistor yang dapat cut off atau saturasi sesuai dengan tegangan yang diberikan oleh blok comparator. Blok switching terdiri dari transistor, dioda, dan relay. 3. Blok Timer Blok timer berfungsi untuk mempengaruhi kecepatan gerakan motor dengan adanya IC timer 555 dan potensiometer. c. Output Output dalam alat ini adalah gerakan motor DC yang dapat searah atau berlawanan arah jarum jam. Jadi dapat dikatakan motor DC adalah output. 3.2 ANALISA RANGKAIAN SECARA DETAIL Catu daya +12 V, -12 V, +5 V dan ground sebagai power mensuplai tegangan kesetiap komponen yang ada, diantaranya diberikan kesaklar. Saklar dalam rangkaian ini berfungsi sebagai switch dengan 3 posisi dengan posisi 2 sebagai keadaan normal, switch posisi 1 yang menyebabkan gerakan motor searah jarum jam dan switch posisi 3 yang mengakibatkan gerakan motor berlawanan arah jarum jam. Ketika alat akan dioperasikan, kondisi saklar masih dalam posisi normal. Kemudian pengguna yang memilih penempatan posisi switch. Jika pengguna memilih switch posisi 1 maka : a) Tegangan 12 volt akan diberikan pada switch dan diteruskan kekaki non inverting IC2 (pin 3) sebagai inputan sedangkan tegangan pada kaki 2 IC2 sebesar 6 volt (pin 2) sehingga dihasilkan output pada pin 6 sebesar 10 – 10,8 volt yang bisa didapat dari perhitungan : (Vnoninverting – Vinverting) 90% Vcc = (12 -6) 90% x 12 V Kemudian tegangan output diteruskan kebasis transistor 1. Transistor aktif (transistor jenis NPN, Ic mengalir ke IE jika VB > VE) karena tegangan dikaki basis lebih besar daripada tegangan dikaki emittor sehingga arus mengalir dari kaki collector ke kaki emittor. Dioda pada kaki 1 dan 3 relay dipasang untuk menyearahkan tegangan dan arus. Arus yang mengalir dikaki emittor dipakai untuk “menggerakkan” kaki relay dimana kaki relay yang pada awalnya berada pada posisi Normally Close (akan membuka jika dialiri arus listrik) akan berpindah ke kaki Normally Open (akan menutup jika dialiri arus listrik) sehingga menghasilkan output gerakan motor DC searah jarum jam. Sedangkan IC3 tidak aktif karena switch berada pada posisi 1 sehingga tegangan dipin 6 IC3 lebih negatif atau lebih kecil daripada tegangan dikaki emittor yang bernilai 0 (terhubung dengan ground) sehingga relay 2 pun tidak aktif.

Fungsi IC timer 555 N pada rangkaian ini adalah untuk menghasilkan gelombang pulsa atau clock dimana kecepatan clock dapat diatur besar kecilnya melalui potensiometer. Tegangan output yang dihasilkan oleh IC timer 555 N diteruskan ke kaki basis transistor 3. Tegangan output tersebut akan membuat keadaan transistor menjadi berubah-ubah dari cut off menjadi saturasi dan kembali cut off. Keadaan ini akan terus berlangsung sampai alat dimatikan. Tegangan yang dihasilkan oleh kaki emitor ini ikut mempengaruhi output gerakan motor karena kaki collector dengan kaki NO pada kedua relay saling terhubung.
Jika pengguna memilih switch posisi 3 maka :

b) Tegangan 12 volt akan diberikan pada switch dan diteruskan kekaki non inverting IC3 (pin 3) sebagai inputan sedangkan tegangan pada kaki 2 IC3 sebesar 6 volt (pin 2) sehingga dihasilkan output pada pin 6 sebesar 10 – 10,8 volt yang bisa didapat dari perhitungan :
(Vnoninverting – Vinverting) 90% Vcc = (12 -6) 90% x 12 V
Kemudian tegangan output diteruskan kebasis transistor 2. Transistor aktif (transistor jenis NPN, Ic mengalir ke IE jika VB > VE) karena tegangan dikaki basis lebih besar daripada tegangan dikaki emittor sehingga arus mengalir dari kaki collector kekaki emittor. Dioda pada kaki 1 dan 3 relay dipasang untuk menyearahkan tegangan dan arus. Arus yang mengalir dikaki emittor dipakai untuk “menggerakkan” kaki relay dimana kaki relay yang pada awalnya berada pada posisi Normally Close (akan membuka jika dialiri arus listrik) akan berpindah kekaki Normally Open (akan menutup jika dialiri arus listrik) sehingga menghasilkan output gerakan motor DC searah jarum jam. Sementara itu. kaki NO relay saling terhubung satu sama lain dengan kaki collector transistor 3 sehingga output gerakan motor akan dipengaruhi juga oleh tegangan yang dihasilkan IC timer 555 N yang kecepatan pulsanya bisa diatur melalui potensiometer.
Sedangkan IC2 tidak aktif karena switch berada pada posisi 3 sehingga tegangan dipin 6 IC2 lebih negatif atau lebih kecil daripada tegangan dikaki emittor yang bernilai 0 (terhubung dengan ground) sehingga relay 1 pun tidak aktif.

IC TIMER 555

NE555 disusun dari pembanding tegangan, flip-flop dan transistor untuk pengosongan. Susunan ini sangat sederhana, tetapi sangat bagus.
Tiga buah resistor berada didalam dengan hubungan seri dan tegangan catu daya(Vcc) dibagi menjadi 3. Susunan ini merupakan titik sangat menyenangkan. Dengan 1/3 tegangan catu daya dikenakan pada terminal masukan dari pembanding / comparator (COMP1) dan 2/3 tegangan dikenakan pada terminal negative dari comparator (COMP2). Ketika tegangan pada terminal trigger (TRIGGER) kurang dari 1/3 dari tegangan catu daya, terminal S dari the flip-flop(FF) menjadi level tinggi ( H )dan FF adalah set (berada pada nilai yg diharapkan). Ketika tegangan tertinggi-sentuh (threshold) terminal (THRESHOLD) lebih 2/3 dari tegangan catu daya, terminal R dari sebuah FF menjadi level H dan si FF berada reset.

BAB IV
CARA PENGOPERASIAN ALAT

Rangkaian pulsa width modulation menggunakan sumber tegangan +12 V, -12 V, +5 V dan ground. Output berupa motor DC yang dihasilkan dari alat ini yang pergerakannya searah jarum jam maupun berlawanan arah jarum jam ditentukan oleh relay 1 maupun relay 2 yang terhubung pada motor DC. Cara mengoperasikannya adalah :
1. Hubungkan alat dengan sumber tegangan +12 V, -12 V, +5 V, dan ground sesuai dengan tempatnya. Perhatikan kabel-kabel yang dihubungkan untuk menghindari terjadinya short circuit yang dapat mengakibatkan kerusakan komponen.
2. Kemudian hubungkan saklar S1 sesuai dengan yang diinginkan maka alat akan menghasilkan output berupa gerakan motor DC.
3. Setelah itu atur kecepatan gerakan motor DC dengan memutar potensiometer.

BAB V
PENUTUP

5.1. KESIMPULAN
Dalam pengertiannya Pulse Width Modulation (PWM) merupakan suatu rangkaian elektronik yang berfungsi mengatur arus listrik yang akan digunakan. Dalam rangkaian ini, PWM terdiri dari beberapa komponen elektronik baik pasif dan aktif. Komponen yang digunakan antara lain adalah resistor, kapasitor, relay, transistor, dioda, IC, switch, potensiometer, dan motor sebagai output.
Rangkaian PWM disini mempunyai input, pengatur gerak searah jarum jam, pengatur gerak berlawanan arah jarum jam, timer, dan output.
Komponen IC sangat vital fungsinya di rangkaian Pulse Width Modulation ini karena komponen IC inilah yang mengendalikan cara kerja rangkaian secara keseluruhan.
IC dapat mengendalikan gerak motor searah jarum jam ataupun sebaliknya. Kecepatan gerak motor dapat diatur dengan menggunakan potensiometer. Adapun IC yang digunakan sebagai timer berfungsi mengatur waktu di pergerakan motor pada saat motor berputar.
Sedangkan relay DAN transistor digunakan sebagai saklar yang menentukan arah perputaran motor DC. Pada relay dipasang dioda dengan tujuan untuk mencegah terjadinya arus balik pada rangkaian. Arus balik listrik ini dapat berasal dari induksi medan magnet yang dihasilkan oleh kumparan relay. Induksi listrik ini biasanya lebih tinggi tegangannya dibandingkan dengan tegangan sumber. Untuk mencegah terjadinya kerusakan akibat terjadinya tegangan induksi ini maka pada rangkaian relay dipasang dioda.
PWM banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari kita. Misalnya pada fan, PWM digunakan sebagai pemicu (trigger) untuk setting fan speed sesuai kebutuhan dan load penggunaan. Biasanya dengan fan voltage yang berubah-ubah.
5.2. SARAN
Setelah menyelesaikan proyek Pulse Width Modulation ini, kami sadar bahwa pembuatan proyek rangkaian elektronik seperti ini sangat bermanfaat sekali bagi kami para mahasiswa, khususnya mahasiswa jurusan sistem komputer. Dalam proyek ini mahasiswa dituntut agar dapat lebih kreatif dan lebih kerja keras dalam proses pembuatannya.
Rangkaian Pulse Width Modulation ini masih jauh dari kesempurnaan karena masih ada keterbatasan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh penulis, oleh karena itu masih banyak kemungkinan pengembangan yang dapat dilakukan pada rangkain Pulse Width Modulation ini.

Berdasarkan keseluruhan kerja yang telah dilakukan dan beberapa kendala yang dihadapi selama pembuatan PWM ini, mulai dari perancangan jalur, pencetakan jalur ke PCB, hingga pemasangan pada box/akrilik yang sudah jadi, penulis menyarankan beberapa hal antara lain:

 Dalam pembuatan jalur perlu diperhatikan di dalam gambar rangkaian yang diberikan laboratorium elektronika dasar ada jalur ground yang letaknya dekat dengan switch, tidak tercetak pada gambar rangkaian. Selain itu, dalam pembuatan jalur perlu direncanakan baik-baik, hal ini perlu dilakukan agar meminimalisasi penggunaan jumper pada rangkaian yang nantinya akan berpengaruh pada penilaian.
 Dalam pencetakan ke PCB, lihat apakah tinta sudah tercetak secara sempurna (tidak berpori) ke PCB, ini perlu diperhatikan agar arus listrik dapat mengalir secara sempurna.
 Dalam pemasangan komponen ke PCB, pastikan bahwa kaki-kaki komponen tidak tertukar pada saat pemasangan ke PCB. Jika terjadi salah pemasangan kaki dapat mengakibatkan arus listrik tidak mengalir.
 Pada saat penyolderan, gunakan timah yang bagus (dapat dilihat dari kilapnya) dan coba hindari penyolderan yang terlalu lama pada kaki komponen agar komponen tidak rusak karena kepanasan, serta usahakan agar solderan timah dibuat menguncup.
 Periksalah rangkaian dua – tiga kali sebelum mencoba rangkaian untuk menghindari short pada rangkaian.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.google.com/MAKALAH%20LISTRIK%20DAN%20ELEKTRONIKA%20DASAR%20_%20INDOSKRIPSI.htm

http://www.google.com/Penguat%20operasional%20-%20Wikipedia%20bahasa%20Indonesia

http://www.google.com/New%20Folder%20(2)/Kapasitor%20«%20TUTORIAL.htm

http://www.google.com/New%20Folder%20(2)/MAKALAH%20LISTRIK%20DAN%20ELEKTRONIKA%20DASAR%20_%20INDOSKRIPSI.htm

http://www.google.com/New%20Folder%20(2)/www.electroniclab.com%20-%20main%20page.htm

http://www.google.com/New%20Folder%20(2)/Transistor%20-%20Wikipedia%20bahasa%20Indonesia,%20ensiklopedia%20bebas.htm

RANGKAIAN
PULSA WITH MODULATION

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *