PENDAHULUAN

            “Saat yang paling indah namun juga paling penuh dengan masalah dan ancaman bencana….”, demikian kutipan yang tertulis dalam Kolom Komunitas Tentang Masa Remaja (Ifan, 2011). Menurut penulis masa remaja disebut sebagai masa yang paling indah karena pada masa ini remaja banyak mengalami hal-hal yang menyenangkan, tetapi juga merupakan masa mencari jati diri yang mana dalam proses pencarian tersebut akan diwarnai dengan permasalahan yang dihadapi remaja. Hurlock (1980) mengemukakan bahwa perkembangan ini terjadi karena remaja masih dalam proses mencari identitas dan melalui pergaulan dengan kelompok sebaya remaja memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sosial yang penting bagi remaja untuk melakukan penyesuaian diri dengan baik.

Berdasarkan pengamatan penulis, seseorang yang memasuki masa remaja memang perkembangan sosialnya ditandai adanya kecenderungan memasuki kelompok teman sebaya dan makin longgarnya ikatan keluarga. Peer group dapat menjadi tempat untuk memperluas wawasan di luar keluarga, tempat “curhat”, dan kesempatan mandiri tanpa diawasi orangtua ataupun orang dewasa lain. Pengaruh kelompok inilah yang akan memengaruhi sebagian besar tingkah laku remaja. Menurut Stanley Hall (dalam Sumanto, 2014), masa remaja merupakan masa dimana dianggap sebagai masa topan/badai dan stress, karena remaja memiliki keinginan bebas untuk menentukan nasib sendiri. Apabila terarah dengan baik maka remaja dapat menjadi seorang individu yang memiliki rasa tanggungjawab, tetapi kalau tidak terbimbing maka bisa menjadi seorang yang tak memiliki masa depan dengan baik. Oleh karena itu remaja diharapkan dapat melakukan penyesuaian terhadap lingkungannya dan dirinya sendiri sehingga siap menghadapi masa dewasa dengan baik.

Pada masa remaja, seperti halnya pada tahapan lain, remaja mempunyai tugas-tugas perkembangan. Tugas-tugas perkembangan remaja diungkapkan oleh Havighurst (dalam Sumanto, 2014) antara lain menerima keadaan jasmaniah dan menggunakannya secara efektif, menerima peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin masing-masing, mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial, mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya, mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara, belajar bergaul dengan kelompok sesuai dengan jenis kelamin masing-masing, secara sadar mengembangkan gambaran dunia yang lebih memadai, memilih dan mempersiapkan karier, belajar menggunakan jaminan ekonomi secara mandiri, mempersiapkan perkawinan dan keluarga, dan mengembangkan sistem nilai dan etika sebagai petunjuk dalam berperilaku. Selanjutnya oleh Havighurst (dalam Soetjiningsih, 2012) menyatakan tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar satu periode tertentu dari kehidupan individu dan jika berhasil akan menimbulkan fase bahagia dan membawa keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Akan tetapi kalau gagal akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya. Berdasarkan pernyataan Havighurst tersebut dapat dikatakan bahwa dalam proses perkembangannya remaja harus dikawal dengan baik supaya tidak banyak yang mengalami kegagalan dalam mencapai tugas perkembangan. Pada berita-berita di berbagai media, masih banyak berita miring mengenai dunia remaja. Pada portal berita liputan6.com masih bisa dilihat bahwa banyak berita yang menyangkut soal kenakalan remaja, kriminalitas, dll. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan bahwa permasalahan remaja sangatlah kompleks, mulai dari seksualitas, nafza, HIV dan AIDS serta lain sebagainya sehingga membutuhkan pendekatan khusus (“BKKBN: Permasalahan Remaja Sangat Kompleks”, 2013). Permasalah-permasalahan remaja yang timbul ini dapat menggagalkan pencapaian tugas perkembangan remaja, di mana jika mereka gagal dalam tugas perkembangan ini dapat menyebabkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas perkembangan berikutnya (Havighurst, dalam Soetjiningsih 2012).

Bradburn (Ryff, 1989) didasari konsep Aristoteles menyatakan bahwa capaian tertinggi dari tindakan manusia adalah kebahagiaan. Steger, Kashdan, dan Oishi (2007) membuktikan perkataan Aristoteles tersebut, mereka menemukan bahwa dalam hidup, orang akan menemukan kebahagiaan hedonis atau kebahagiaan eudaimonic. Kebahagiaan eudaimonic yang berhubungan dengan kesejahteraan psikologis (psychological well-being), eudaimonic terdiri dari 6 dimensi yang sama. Mereka menemukan bahwa setelah menjalani kebahagiaan eudaimonic, orang merasa hidupnya lebih memuaskan, merasa bahwa hidupnya lebih memiliki arti, dan merasakan emosi yang lebih positif. Menurut penulis, dinamika perkembangan ini sangat rentan ketika manusia memasuki tahap perguruan tinggi, karena pada masa tersebut banyak dari mereka sedang dalam rentang umur remaja akhir, di mana proses tersebut merupakan titik tolak menuju kedewasaan. Remaja yang dapat mencapai tugas perkembangan yang baik berefek pada diperolehnya kebahagiaan dan perlu diupayakan oleh setiap remaja, termasuk oleh setiap mahasiswa (yang umumnya masuk dalam kelompok remaja akhir). Demikian pula oleh mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW terutama mahasiswa tahun pertama. Bagi mahasiswa tahun pertama upaya ini tidak mudah karena mereka berada pada kondisi penuh tekanan yaitu harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan tugas-tugas akademik yang banyak.

Seperti dirangkum oleh Huppert (2009): “Psychological well-being adalah tentang kehidupan yang berjalan dengan baik. Ini merupakan perpaduan antara perasaan yang baik dan berfungsi secara efektif. Orang dengan kesejahteraan psikologis tinggi dilaporkan memiliki perasaan senang, mampu, didukung dengan baik, puas dengan kehidupan, dan sebagainya. Menurut Ryff (1989), psychological well-being adalah suatu kondisi seseorang yang bukan hanya bebas dari tekanan atau masalah-masalah mental saja, tetapi lebih dari itu yaitu kondisi seseorang yang mempunyai kemampuan menerima diri sendiri maupun kehidupannya di masa lalu (self-acceptance), pengembangan atau pertumbuhan diri (personal growth), keyakinan bahwa hidupnya bermakna dan memiliki tujuan (purpose in life), memiliki kualitas hubungan positif dengan orang lain (positive relationship with others), kapasitas untuk mengatur kehidupannya dan lingkungannya secara efektif (environmental mastery), dan kemampuan untuk menentukan tindakan sendiri (autonomy).

Berdasarkan konsep psychological well-being dari Ryff (1989) yang memaparkan berbagai dimensi dan indikatornya, penulis mencoba menanyakan tentang psychological well-being pada beberapa mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2013. Beberapa hal yang ditanyakan terkait dengan proses perkembangan kehidupannya di masa sekarang yang berhubungan tentang penerimaan dirinya, pertumbuhan diri, tujuan hidup,  hubungan dengan orang lain, penguasaan lingkungan, dan kemandiriannya. Penulis menyimpulkan mereka menunjukkan pencapaian yang beragam pada beberapa aspek tersebut. Beberapa sudah menunjukkan pencapaian yang positif, namun beberapa yang lain belum. Dari perbedaan jenis kelamin baik perempuan atau laki-laki juga menunjukkan variasi jawaban. Variasi tersebut menurut penulis disebabkan adanya berbagai faktor yang mempengaruhi psychological well-being.

Ada beberapa faktor yang memengaruhi psychological well-being seorang individu, Grosi dkk (2012) menyatakan kesehatan fisik dan tingkat pendidikan berpengaruh pada psychological well-being. Kesehatan fisik memainkan peranan penting dalam mendterminasi distress maupun psychological well-being. Tingkat pendidikan turut mempengaruhi karena ketika individu menempuh pendidikan pada level atau tingkatan yang lebih tinggi, individu akan mempunyai informasi yang lebih baik. Kemudian, individu akan memiliki kesadaran yang lebih baik dalam membuat suatu pilihan, sehingga berdampak pada munculnya psychological well-being. Oleh Ryff (1989) disimpulkan faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis antara lain demografi dan makna hidup. Faktor-faktor demografis antara lain terkait dengan perbedaan usia, jenis kelamin dan budaya. Menurut penulis, jenis kelamin menjadi salah satu faktor yang penting yang mempengaruhi psycholocial well-being, karena dalam tahapan perkembangan remaja baik laki-laki dan perempuan berada dalam kelompok teman sebaya.

Beberapa penelitian tentang psychological well-being yang ditinjau dari jenis kelamin yang pernah dilakukan menunjukkan hasil-hasil yang belum konklusif. Penelitian Wood, Rhodes, dan Whelan (1989) menunjukkan bahwa wanita memiliki ­­kesejahteraan dan kepuasan hidup yang lebih baik daripada pria. Oleh Roothman, Kirsten, dan Wissing (2013) melalui penelitiannya menemukan ada perbedaan psychological well-being yang dilihat berbagai aspek-aspek pada laki-laki dan perempuan dari usia 18-65 tahun. Penelitian lain yang dilakukan oleh Hori (2010) mengenai Gender Differences And Cultural Contexts: Psychological Well-Being In Cross-National Perspective menunjukkan peran sebagai wanita memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih rendah daripada pria, terutama berhubungan dengan lingkup tanggung jawab keluarga. Selanjutnya Creed dan Watson (2003) tidak menemukan adanya perbedaan psychological well-being ditinjau dari gender pada pekerja perempuan dan laki-laki. Penelitian di kalangan mahasiwa Middle East Technical University oleh Gürel, menunjukkan psychological well-being perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Selanjutnya oleh Perez (2012) yang meneliti di kalangan berbagai mahasiswa dari Filipina menunju`kkan hasil yang kontradiktif, dari hasil risetnya menyatakan ada perbedaan psychological well-being laki-laki dan perempuan di beberapa aspek, namun juga ada yang menunjukkan tidak ada perbedaan psychological well-being di aspek-aspek yang lain.

Berdasarakan beberapa hasil temuan tersebut, maka peneliti ingin menguji kembali perbedaan psychological well-being yang ditinjau dari jenis kelamin dan penelitian ini dilakukan pada mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2013, yang sedang dalam proses tugas perkembangannya menuju dewasa awal. Masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: “Apakah terdapat perbedaan psychological well-being mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW angkatan 2013 ditinjau dari jenis kelamin?

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam bidang ilmu psikologi perkembangan yang terkait dengan kesejahteraan psikologis remaja ditinjau dari jenis kelamin. Selain itu manfaat praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagi lembaga pendidikan, orang tua, komunitas-komunitas yang di dominasi oleh remaja mengenai kesejahteraan psikologis pada remaja, supaya pada perkembangannya para remaja dapat mengerjakan tugas perkembangannya dengan baik.

Psychological Well-being

            Menurut Ryff (1989) psychological well-being adalah suatu kondisi seseorang yang bukan hanya bebas dari tekanan atau masalah-masalah mental saja, tetapi lebih dari itu yaitu kondisi seseorang yang mempunyai kemampuan menerima diri sendiri maupun kehidupannya di masa lalu (self-acceptance), pengembangan atau pertumbuhan diri (personal growth), keyakinan bahwa hidupnya bermakna dan memiliki tujuan (purpose in life), memiliki kualitas hubungan positif dengan orang lain (positive relationship with others), kapasitas untuk mengatur kehidupannya dan lingkungannya secara efektif (environmental mastery), dan kemampuan untuk menentukan tindakan sendiri (autonomy).

Konsep Ryff tentang psychological well-being merujuk pada pandangan Rogers tentang orang yang berfungsi penuh (fully-functioning person), pandangan Maslow tentang aktualisasi diri (self actualization), pandangan Jung tentang individuasi (individuation), konsep Allport tentang kematangan, konsep Erikson dalam menggambarkan individu yang mencapai integrasi dibanding putus asa, konsep Neugarten tentang kepuasan hidup, serta kriteria positif individu yang bermental sehat yang dikemukakan Johada (dalam Ryff, 1989).

Dimensi  Psychological Well-being

            Menurut Ryff (1989), kesejahteraan psikologis meliputi dimensi sebagai berikut:

  1. Penerimaan diri(Self-acceptance)

Aspek ini didefinisikan sebagai  karakteristik utama dari kesehatan mental dan juga merupakan karakteristik utama dari individu yang mencapai aktualisasi diri yang berfungsi secara optimal dan dewasa. Aspek ini juga menekankan penerimaan diri  seseorang terhadap masa lalu. Sehingga Orang yang memiliki penerimaan diri yang baik akan dapat memiliki sifat positif terhadap diri sendiri dan menerima berbagai aspek diri termasuk sifat baik dan buruk.

  1. Hubunganpositifdengan orang lain (Positive relations with others)

Hubungan positif dengan orang lain diartikan sebagai kemampuan untuk mencintai dilihat juga sebagai karakteristik utama dari kesehatan mental. Individu yang mempunyai tingkatan yang baik pada dimensi hubungan positif dengan orang lain ditandai dengan memiliki hubungan yang hangat, memuaskan dan saling percaya dengan orang lain, memiliki perhatian terhadap kesejahteraan orang lain, dapat menunjukkan rasa empati, rasa sayang dan keintiman, serta memahami konsep memberi dan menerima dalam hubungan sesama manusia.

  1. Otonomi(Autonomy)

Individu yang sudah mencapai aktualisasi diri dideskripsikan sebagai orangyang menampilkan sikap otonomi (autonomy). Individu yang berfungsi secara lengkap ini juga dideskripsikan memiliki internal locus of control dalam mengevaluasi dirinya, maksudnya individu tersebut tidak meminta persetujuan dari orang lain namun mengevaluasi dirinya sendiri dengan standar-standar pribadinya. Individu yang memiliki tingkat otonomi yang baik maka individu tersebut akan mandiri, mampu menolak tekanan sosial untuk berfikir dan berperilaku dengan cara tertentu, mampu mengatur perilaku diri sendiri dan mengevaluasi diri sendiri dengan standar pribadi.

  1. Penguasaan Lingkungan (Environmental Mastery)

Merupakan kemampuan individu untuk memilih atau menciptakan suatu lingkungan yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya, dapat didefinisikan sebagai salah satu karakteristik kesehatan mental. Penguasaan lingkungan yang baik dapat dilihat dari sejauh mana individu dapat mengambil keuntungan dari peluang-peluang yang ada di lingkungan. Individu juga mampu mengembangkan dirinya secara kreatif melalui aktivitas fisik maupun mental.

  1. Tujuan Hidup (Purpose of Life)

Menekankan pentingnya keyakinan yang memberikan satu perasaan dan pemahaman yang jelas tentang tujuan dan arti kehidupan. Individu yang memiliki tujuan hidup yang baik akan memiliki target dan cita-cita dalam hidupnya serta merasa bahwa kehidupan di saat ini dan masa lalu adalah bermakna, individu tersebut juga memegang teguh pada suatu kepercayaan tertentuyang dapat membuat hidupnya lebih berarti.

  1. Pertumbuhan Pribadi (Personal Growth)

Individu dalam berfungsi secara optimal secara psikologis harus berkembang, mengembangkan potensi-potensinya, untuk tumbuh dan maju. Pemanfaatkan secara optimal seluruh bakat dan kapasitas yang dimiliki oleh individu merupakan hal yang penting dalam psychological well-being. Individu yang terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru berarti individu tersebut akan terus berkembang bukan hanya mencari suatu titik yang diam di mana semua masalah terselesaikan. Individu yang mempunyai pertumbuhan diri yang baik (individu memiliki pertumbuhan diri yang baik dan memiliki perasaan yang terus berkembang) akan memiliki perasaan yang terus berkembang, melihat diri sendiri sebagi sesuatu yang terus berkembang, menyadari potensi-potensi yang dimiliki dan mampu melihat peningkatan dalam diri dan perilakunya dalam waktu ke waktu.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Psychological Well-Being

Faktor-faktor yang memegaruhi psychological well-being dari beberapa kepustakaan:

  1. Makna Hidup

Menurut Ryff (1989), pemberian arti terhadap pengalaman hidup member kontribusi yang sangat besar terhadap tercapainya psychological well-being. Salah satu pengalaman hidup yang dapat memberikan kontribusi tersebut adalah pengalaman memaafkan orang lain dalam kehidupan sosialnya, dimana terdapat pemulihan hubungan interpersonal.

  1. Faktor Demografis

Faktor demografis mencakup beberapa area seperti usia, jenis kelamin, budaya dan status ekonomi. Ryff (1989) menyatakan bahwa faktor-faktor demografis seperti perbedaan usia, jenis kelamin dan budaya memiliki kontribusi yang bervariasi terhadap psychological well-being.

  1. Kesehatan Fisik

Grossi dkk (2012) menyatakan bahwa kesehatan fisik turut berpengaruh pada psychological well-being. Kesehatan fisik memainkan peranan penting dalam mendeterminasi distress maupun psychological well-being. Di samping itu, dinyatakan bahwa psychological well-being memiliki koneksi dengan ketiadaan penyakit.

  1. Pendidikan

Tingkat pendidikan turut memengaruhi psychological well-being. Ketika individu menempuh pendidikan pada level atau tingkatan yang lebih tinggi, individu mempunyai informasi yang lebih baik. Kemudian individu akan memiliki kesadaran yang lebih baik dalam membuat suatu pilihan. Hal ini berdampak pada determinasi diri dan perilaku memelihara kesehatan. Sehingga berdampak pada munculnya psychological well-being (Grossi dkk, 2012)

  1. Agama dan Spiritualitas

Ivtzan, Chan, Gardner, dan Prashar (2013) menyatakan bahwa agama dan spiritualitas memiliki pengaruh pada psychological well-being. Terdapat hubungan positif yang kuat diantaranya karena psychological well-being dapat tercipta ketika ada pengembangan spiritualitas (Hafeez dan Rafique, 2013)

  1. Kepribadian

Ciri-ciri kepribadian menggambarkan kecenderungan individu pada sebuah pola perilaku dan pemikiran yang stabil, bukan berdasarkan baik atau buruknya (Schmutte dan Ryff dalam Salami, 2011). Penelitian yang dilakukan Salami (2011) menunjukkan bahwa faktor kepribadian memiliki hubungan yang signifikan dengan psychological well-being.

Pengertian Jenis Kelamin

Jenis kelamin menurut Hungu (dalam Cahya, 2012) adalah perbedaan antara perempuan dengan laki-laki secara biologis sejak seseorang lahir. Menurut Hurlock (dalam Soetjiningsih, 2012) jenis kelamin anak laki-laki atau perempuan sudah ditentukan pada saat konsepsi; dan sesudahnya tidak ada yang dapat mengubah jenis kelamin anak. Efeknya pada perkembangan selanjutnya/pra lahir yaitu jenis kelamin akan memengaruhi perbedaan dalam perkembangan fisik dan psikis anak laki-laki dan perempuan. Selain itu “apa jenis kelamin seseorang” akan memengaruhi bagaimana perlakuan lingkungan terhadap anak sesuai jenis kelaminnya.

Pengertian Remaja Akhir

Masa remaja akhir kurang lebih terjadi pada pertengahan dasawarsa yang kedua dari kehidupan. Minat karir, pacaran, dan eksplorasi identitas sering kali lebih menonjol di masa remaja akhir dibandingkan di masa remaja awal (Santrock, 2007)

Meskipun rentang usia dari remaja dapat bervariasi terkait dengan lingkungan dan budaya dan historisnya, kini di Amerika Serikat dan sebagian besar budaya lainnya, masa remaja dimulai sekitar usia 10 tahun hingga 13 tahun dan berakhir pada sekitar usia 18 hingga 22 tahun (Santrock, 2007). Masa remaja akhir (Sumanto, 2014) adalah masa setelah remaja dapat menentukan pendirian hidupnya, pada dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas perkembangan pada masa remaja, yang akan memberikan dasar dalam memasuki masa dewasa. Masa usia mahasiswa (18-25 tahun) dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal atau dewasa madya, yang intinya merupakan masa pemantapan pendirian hidup.

Perbedaan Kesejahteraan Psikologis Remaja Akhir Ditinjau dari Jenis Kelamin

Remaja merupakan periode peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Dalam masa perkembangan remaja tersebut, remaja mengalami tugas-tugas perkembangan antara lain mampu menerima keadaan fisiknya; mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa; mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlainan jenis; mencapai kemandirian emosional; mencapai kemandirian ekonomi; mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat; memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang tua; mengembangkan perilaku tanggung jawab social yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa; mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan; memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga (Hurlock, 1980). Havighurst (dalam Sumanto, 2014) menilai tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar satu periode tertentu dari kehidupan individu dan jika berhasil akan menimbulkan fase bahagia dan membawa keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Akan tetapi kalau gagal akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya.

Fase bahagia ini terkait dengan tingkat kesejahteraan psikologis individu, karena kebahagiaan merupakan pencapaian tertinggi dalah kehidupan manusia (Bradburn, dalam Ryff 1989)). Kebahagiaan yang terkait dengan psychological well-being adalah kebahagiaan eudaimonic. Steger dkk (2007) menyatakan bahwa kebahagiaan eudaimonic yang berhubungan dengan psychological well-being. Mereka menemukan individu yang memiliki psychological well-being  merasa hidupnya lebih memuaskan, merasa bahwa hidupnya lebih memiliki arti, dan merasakan emosi yang lebih positif. Oleh karena itu, proses perkembangan remaja ini sangat penting mengingat jika gagal akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya.

Perbedaan jenis kelamin menjadi salah satu faktor yang memengaruhi psychological well-being seseorang, dan diteliti sebelumnya oleh Wood dkk (1989) bahwa kesejahteraan dan kepuasan hidup wanita lebih tinggi daripada pria. Sedangkan Hori (2010) di Louisiana State University menemukan hal yang berbeda, kesejahteraan psikologis wanita lebih rendah daripada pria terutama hubungannya dengan tanggung jawab keluarga. Creed dan Watson (2003) tidak menemukan adanya perbedaan psychological well-being ditinjau dari gender pada pekerja perempuan dan laki-laki. Penelitian di kalangan mahasiwa Middle East Technical University oleh Gürel, menunjukkan psychological well-being perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Berdasarkan uraian yang telah diapaparkan di atas penulis belum dapat menyimpulkan apakah mahasiswa laki-laki atau perempuan yang mempunyai psychological well-being yang lebih tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, S. (2012). Penyusunan skala psikolgi (2nd ed). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Bakare, A. O. (2013). Socio-demografic variables as predictors of psychological well-being amongst the adolescents with hearing impairment in Southwest Nigeria. Ife PsychologIA, 21(1), 245-258

BKKBN: Permasalahan Remaja Sangat Kompleks. (2013, September). Antara News. Diakses tanggal 3 Februari 2014 dari http://www.antarasumbar.com/berita/nasional/d/0/312826/bkkbn-permasalahan-remaja-sangat-kompleks.html

Cahya, Susi Susilawati. (2012). Gambaran Higiene Personal Pekerja Kantin di Kampus IPB Dramaga melalui Pengujian Staphylococcus Aureus. (Skripsi tidak diterbitkan). Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Creed, P.A., Watson, T. (2003). Age, gender, psychological well-being and the impact of losing the latent and manifest benefits of employment in unemployed people. Diunduh pada 12 Agustus 2014 dari: http://www98.griffith.edu.au/dspace/bitstream/handle/10072/6500/22037.pdf

Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2008). Hedonia, eudaimonia, and well-being: An introduction. Journal of Happiness Studies, 9, 1–11.

Grossi, E., Blessi, G.T., Sacco, P.L., & Buscema, M. (2012). The interaction between culture, health, and psychological well-being: Data mining ftom the Italian culture and well-being project. J Happines Study, 13, 129-148.

Gürel, N.A. (2009). Effects of thinking styles and gender on psychological well-being. Diunduh pada 12 Agustus 2014 dari http://etd.lib.metu.edu.tr/upload/12611092/index.pdf

Hafeez, A., & Rafique, R. (2013). Spirituality and religiosity as predictors of psychological in Residents of Old Homes. Dialogue, 8(3), 285-301

Haryanto. (2009). Tugas perkembangan remaja. Retrieved from http://belajarpsikologi.com/tugas-perkembangan-remaja/

Hori, M. (2010). Gender differences and cultural contexts: Psychological well-being in cross-national perspective. (Doctoral dissertation, Lousiana State University). Retrieved from http://etd.lsu.edu/docs/available/etd-04202010-122318/

Huppert, F. A. (2009). Psychological well-being: Evidence regarding its causes and consequences. Applied Psychology: Health and Well-Being, 1, 137–164.

Hurlock, E.B. (1980). Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Ifan. (2011). Tentang masa remaja. Retrieved from http://www.tnol.co.id/kolom-komunitas/10185-tentang-masa-remaja.html

Ivtzan, I., Chan, C., Gardner, H., & Prashar, K. (2013). Psychological well-being and social support for parents with intellectual disabilities: Risk factors and intervension. Journal with Religion & Health 52(3), 915-929

Perez, J. A. (2012). Gender difference in psychological well-being among Filipino college student samples. International Journal of Humanities and Social Science, 2(13), 84-93

Roothman, B., Kirsten, D. K., & Wissing M. P. (2003). Gender differences in aspects of psychological well-being. South African Journal of Psychology, 33(4), 212-218

Ryff, C.D. (1989). Happines is everything, or is it? Explorations on the meaning of psychological well-being. Journal of Personality and Social Psychology, 57(6), 1069-1081.

Salami, S. O. (2011). Personality and psychological well-being of adolescents: The moderating role of emotional intelligence. Social Behavior and Personality, 39(6), 785-794

Santrock, J.W. (2007). Remaja, edisi kesebelas : Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Soetjiningsih, C.H. (2012). Perkembangan anak: Sejak pembuahan sampai dengan kanak-kanak akhir. Jakarta: Prenada

Steger, M.F., Kashdan, T.B., & Oishi, S. (2007). Being good by doing good: Daily eudaimonic activity and well-being. Journal of Research in Personality 42 (2008) 22 – 42

Syam, Ramadlon. (2009). Eudaimonia: Kebahagiaan Sejati. Ruang Psikologi. Retrieved from http://ruangpsikologi.com/kesehatan/eudaimonia-sejahtera-secara-psikologis-dengan-menjadi-diri-sendiri/

Sumanto. (2014). Psikologi umum. Yogyakarta: Penerbit CAPS (Center of Academic Publishing Service)

Wood, W., Rhodes, N., Whelan, M. (1989). Sex difference in postive well-being: A consideration of emotional style and marita status. Psychology Bulettin 106(2), 249-264

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *