Psikologi: Reaksi Terhadap Konflik

Dalam kehidupan keseharian kita tidak pernah luput dari konflik, baik yang bersifat internal maupun interpersonal. Bagaimana kita menyiasati konflik yang kita hadapi sangat bergantung pada tipe kepribadian dan kadar motivasi kita mencari solusi sehat sehingga penyelesaian konflik pun akan membuat perasaan nyaman dan bahagia.

Konflik internal terjadi dalam diri pribadi. Adakalanya kita ingin meraih dua kebutuhan pribadi dalam satu waktu. Misalnya, suatu saat kita dihadapkan pada keinginan mendampingi anak yang sedang sakit keras yang dirawat di rumah sakit, sementara pada saat yang sama kita harus tetap masuk kerja demi penyelesaian tugas kantor yang mendesak karena bila kita dinilai kurang loyal ada ancaman dipecat. Padahal, kita membutuhkan pekerjaan tersebut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Lagi pula, mencari kerja saat ini sulit.

Konflik interpersonal terjadi karena kepentingan yang berlawanan antara kita dan pasangan kita, misalnya. Dengan kondisi keuangan terbatas, suami ingin mengganti mobilnya dengan yang baru, sementara sebagai ibu rumah tangga, atap dapur yang bocor membutuhkan perbaikan segera sebelum musim hujan tiba.

Perbedaan kebutuhan ini menyebabkan pertengkaran hebat dengan pasangan. Tentu saja harmoni relasi dengan pasangan pun terganggu karena pertengkaran yang hebat akan selalu diiringi sikap diam seribu basa antarpasangan dalam waktu beberapa minggu kemudian.

Frustrasi

Sebelum kita mendapatkan solusi terbaik dari kedua jenis konflik di atas, kita merasa tidak nyaman. Seolah ada perasaan menekan dalam dada dan mendorong kita menunjukkan reaksi frustrasi.

Ada empat jenis kelompok reaksi frustrasi, yaitu:

  1. Depresi. Reaksi emosi terhadap situasi frustrasi yang membuat kita murung berlanjut, sedih, hilang gairah hidup, dan tidak berdaya berhadapan dengan dominasi suami dalam mengelola penghasilan keluarga karena pasangan kita tidak bisa menentukan prioritas kebutuhan keluarga. Atap rumah yang bocor dan mengganggu kegiatan masak bagi kebutuhan primer keluarga tidak dianggap penting oleh suami. Suami lebih mengutamakan gengsi sosialnya sebagai pria berhasil karena dalam situasi ekonomi yang kurang positif saat ini tetap bisa mengganti mobil dengan mobil baru.
  2. Reaksi agresi. Kita segera memberi perlawanan gigih, dan kalau perlu secara agresif memaksakan kehendak dengan memutuskan mendampingi anak di rumah sakit. Konsekuensinya, merancang argumentasi rinci bila ditegur atasan, sambil merancang tindakan provokatif bahkan konfrontatif saat mendapat kenyataan memang benar-benar terancam PHK. Perilaku agresi bisa berbentuk ungkapan verbal yang tajam, keras, atau bahkan nonverbal, dengan merusak bangunan dan peralatan kantor, misalnya.
  3. Reaksi regresi biasanya ditunjukkan dengan menunjukkan perilaku ngambek, pundung, seperti halnya anak kecil yang tidak dituruti kemauannya. Jadi, reaksi emosi kita seolah kembali ke tingkat perkembangan jiwa terdahulu.
  4. Reaksi apati. Kekesalan yang ditunjukkan dengan bersikap masa bodoh, acuh tak acuh, tidak peduli lagi akan kehidupan keluarga, seolah kehilangan kepekaan perasaan.

Solusi sehat

Keempat jenis reaksi terhadap situasi frustrasi tersebut kecuali merupakan kelompok reaksi emosi yang tidak dewasa terhadap hambatan pemuasan kebutuhan diri, tentu saja tidak terlepas dari tipe kepribadian yang sifatnya sangat individual.

Andai kita pada dasarnya pribadi depresi, maka kita akan cenderung memberi reaksi depresif, begitu pula halnya dengan pribadi agresif, regresif, dan apatis.

Tentu saja kita tidak akan membiarkan diri berlarut menyikapi konflik dengan cara tidak dewasa. Reaksi frustrasi yang tidak dewasa justru membuat kita terjerembap dalam situasi emosi yang tidak nyaman secara berlanjut.

Untuk itu, hanya terdapat satu kalimat kunci yang singkat, ”integrasikanlah fungsi rasio dan emosi kita secara proporsional”.

Caranya :

  1. Mendasari penghayatan emosi dengan niat kuat menjadi lebih dewasa dari hari ke hari.
  2. Berlatih mengungkapkan pendapat secara asertif. Misalnya, mengungkapkan kekhawatiran yang amat sangat akan kesehatan anak kepada atasan. Cara mengungkapkan kekhawatiran secara jelas dan sopan akan membuat atasan mempertimbangkan untuk menerima alasan ketidakhadiran kita di kantor pada saat genting tersebut.
  3. Mempelajari cara mengelola frustrasi dengan memilih yang terbaik dari tiga alternatif teknik pengelolaan berikut.
  4. Akomodatif, antara lain mencoba mengakomodasi keinginan pasangan mengganti mobil dengan mobil baru seraya menyisakan sedikit uang untuk perbaikan bagian atap dapur yang paling rusak.
  5. Kompromistis. Bolehlah pasangan kita membeli mobil baru saat ini, tetapi penghasilan keluarga dalam waktu terdekat benar-benar digunakan untuk perbaikan atap dapur.
  6. Kolaboratif. ”Tolong sisihkan sedikit uang dari sisa pembelian mobil, nanti akan saya gabung dengan simpanan saya untuk memperbaiki atap dapur.”

Nah, dengan uraian di atas, muncul pertanyaan dalam diri, sejauh mana kita berniat untuk secara perlahan tetapi pasti meningkatkan reaksi frustrasi yang kekanakan menjadi semakin mendewasa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *