Proses evaporasi telah dikenal sejak dahulu, yaitu untuk membuat garam dengan cara menguapkan air dengan bantuan energi matahari dan angin. Evaporasi merupakan satu unit operasi yang penting dan biasa dipakai dalam industri kimia dan mineral, misalnya industri aluminium dan gula. Evaporator juga digunakan untuk mengolah limbah radioaktif cair. Dalam sistem evaporasi, cairan dipekatkan dengan memberikan panas pada cairan tersebut dengan energi yang intensif berupa sejumlah uap sebagai sumber panas. Jumlah uap yang dihasilkan per unit uap yang dipakai, yang menunjukkan peningkatan kepekatan, dapat diefektifkan dengan penggunaan evaporator bertingkat. Keuntungan evaporator bertingkat ini adalah uap hasil satu tingkat dapat digunakan sebagai sumber energi tingkat selanjutnya. Dengan demikian, proses evaporasi dengan evaporator bertingkat ini dapat menghemat energi yang diperlukan, sehingga mengurangi biaya operasi.

Evaporasi adalah proses pemekatan bahan menjadi lebih kental dari keadaan semula, melalui proses penguapan air dengan cara pemanasan atau pemasakan. Alat yang menjalankan mekanisme kerja evaporasi dinamakan evaporator. Prinsip evaporasi digunakan pada industri pengolahan jam dan jelly, pembuatan sari buah, susu kental manis, saos sirup, dan lain-lain (Ratna, 2007).

Air dipindahkan ke atmosfer melalui evaporasi air (padatan dan cairan) dari permukaan tanah dan tanaman dan juga melalui transpirasi tanaman. Karena kedua proses tersebut, masing-masing tidak mudah dipisahkan, lalu keduanya digabung dan disebut sebagai evapotranspirasi (Syahrul, 2007).

Model sistem evaporator diperoleh dengan menggunakan kesetimbangan massa dan energi. Model sistem evaporator merupakan model yang non linier. Dalam pemodelan ini hanya keempat tingkat pertama dari sistem evaporator yang digunakan untuk menghindari kompleksitas. Model terdiri dari 12 persamaan diferensial dengan 5 variabel input dan 5 variabel output. Sebagai catatan, nilai aktual variabel-variabel ini dikalikan dengan suatu faktor dan nilai variabel keadaan hanya merupakan nilai perkiraan (Fetter, C. W, 1980).

Dalam proses kerjanya, sistem evaporator memerlukan tinggi cairan dalam tangki yang tepat untuk memperoleh densitas produk yang diinginkan. Untuk mempertahankan kondisi operasional evaporator tersebut, dibutuhkan suatu sistem kendali yang mampu mengatur sistem tersebut. Beberapa ilmuwan(2,3,4) telah merancang sistem kendali yang berbeda untuk sistem evaporator ini. Dalam penelitian ini akan dirancang sistem kendali dengan menggunakan logika fuzzy dan hasil yang diperoleh akan dibandingkan dengan hasil pengendali PI, baik dengan maupun tanpa gangguan pada feed (Health, 1983).