Istilah produktivitas pertama  kali dipergunakan tahun 1776 dalam suatu makalah dengan judul “ The School of Phsyiocrat ” dan pada pertengahan abad 18 dalam artikel yang berjudul historical “ View Point of Economic Theories ” yang menjelaskan teori produktivitas tanah sebagai sumber kekayaan, kedua karya tersebut ditulis F.Quesnay yang merupakan pendiri aliran physiocrat. Namun menurut pandapat Walter aigner dalam karya “ motivation and awareness ” filosofi dan spirit mengenai produktivitas sudah ada sejak awal peradaban manusia, karena sebenarnya makna produktivitas adalah keinginan dan upaya manusia untuk selalu meningkatkan kualitas kehidupan dan penghidupan yang lebih baik  di segala bidang,    di Indonesia produktivitas mendapat perhatian khusus bahkan telah menjadi isu nasional, hal ini ditandai dengan :

  1. Adanya pernyataan presiden RI pada kongres produktivitas dunia keV di Jakarta tanggal 14 April 1986, yang berisi bahwa pada usaha peningkatan produktivitas sangat penting untuk dilaksanakan dan diwujudkan melalui gerakan efiisiensi, efektifitas dan kualitas.
  2. Ditetapkannya bulan April sebagai bulan kampanye produktivitas.

            Dewasa ini produktivitas mendapat banyak perhatian apakah itu dari para pengusaha dan pemerintah, karena peranan peningkatan produktivitas dalam rangka pembangunan suatu negara sangatlah penting, sebab banyak negara mengakui bahwa produktivitas adalah kunci menuju kemakmuran, karena makin tinggi produksi maka makin banyak barang dan jasa yang dapat dihasilkan. Mendukung pernyataan ini Stoner (1986;30)[1] mengatakan bahwa sarana utama yang dapat dipergunakan oleh manusia untuk keluar dari kemiskinan pada suatu tingkat kehidupan yang lebih baik adalah dengan meningkatkan produktivitas yang pada akhirnya akan mendorong pada peningkatan pertumbuhan ekonomi.

            Peningkatan produksi dapat terwujud pada berbagai kombinasi sebagai berikut :

  1. Dengan penggunaan input yang tetap, maka output yang dihasilkan akan bertambah
  2. Dengan penggunaan input yang sedikit, maka output yang dihasilkan akan tetap
  3. Dengan penggunaan input yang sedikit, maka output yang dihasilkan akan bertambah
  4. Dengan penggunaan input yang sedikit, maka output yang dihasilkan akan bertambah dengan rasio pertambahan lebih besar daripada rasio pertambahan input.

            Jadi dengan kata lain bahwa adanya peningkatan produksi akan menurunkan tingkat biaya melalui pemamfaatan SDM, Mesin, Manajemen, dan Modal. Secara umum produktivitas diartikan sebagai hubungan antara output dengan berbagai input yang digunakan , dalam doktrin yang dihasilkan pada konferensi produktivitas sedunia yang digelar di Oslo, Norwegia pada bulan Mei 1984 mendefinisikan produktivitas sebagai suatu konsep universal yang bertujuan untuk menciptakan lebih banyak barang dan jasa bagi banyak manusia, dengan menggunakan SDM yang terbatas.

            Stevenson (1985;87)[2] mendefinisikan produktivitas sebagai berikut : Productivity is measure of the ralative amount of input needed to secure a given amount of output. Sedangkan menurut Siagian(1982;52)[3] produktivitas adalah kemampuan memperoleh mamfaat lebih besar dari saran dan prasarana yang tersedia dengan menghasilkan ouput yang optimal.

            Menurut Manulang (1990;46)[4] bahwa produktivitas adalah pengukuran seberapa baik sumber-sumber daya dapat digunakan bersama dalam suatu organisasi untuk menyelesaikan suatu kumpulan hasil.

            Dengan demikian maka maka produktivitas adalah kunci bagi pertumbuhan ekonomi dan kemajuan tingkat kesejahteraan sosial, yang dapat berhasil apabila persyaratan-persyaratan objektif yang diperlukan dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif, yang disertai dengan adanya koordinasi secara terpadu unsur-unsur dari produktivitas itu sendiri, unsur tersebut diatas :

  1. Mesin dan peralatannya
  2. Tenaga kerja
  3. Bahan mentah dan bahan setengah jadi
  4. Modal

            Dengan dilaksanakannya efisiensi dan koordinasi antar unsur-unsur produktivitas tersebut , akan memperbaiki mutu barang, mempercepat produksi, menurunkan biaya produksi perunit sehingga produk tesebut mampu bersaing dipasar dalam negeri dan luar negeri. Produkitivitas pada umumnya diartikan sebagai rasio antar input dan ouput yang digunakan oleh dalam suatu proses produksi usaha.

            Menurut (Manulang 1990;40)[5] produktivitas juga dapat dibedakan berdasarkan tingkatan atau strata dan faktoral. Jelasnya secara strata pembagian produktivitas tersebut terdiri atas:

 a. Secara Strata

  • Produktivitas Makro ( Nasional )

     Merujuk produktivitas nasional sebagai ukuran ouput yang dipakai PDB dan yang jadi input adalah tenaga kerja.

  • Produktivitas Sektoral

     Produktivitas  untuk tiap sektor dalam perekonomian, ukuran yang digunakan adalah PDB sektoral sebagai output dan sebagai input adalah jumlah tenaga kerja yang digunakan tiap sektor tersebut.

  • Produktivitas Mikro

     Produktivitas ini menuju  produktivitas pada tingkat perusahaan, ukuran yang  digunakan adalah melalui nilai tambah (value added) sebagai ouput dan jumlah tenaga kerja sebagai input.

  • Produktivitas Individu

     Produktivitas ini merujuk besarnya produktivitas tiap individu antara lain adalah tenga kerja, ukuran yang digunakan adalah jumlah barang yang dihasilkan sebagai ouput dan inputnya adalah jumlah tenaga kerja untuk menghasilkan barang tersebut.

b.   Secara Faktoral

  1. Produktivitas Total

  Produktivitas ini menunjukkan besarnya produktivitas dari seluruh faktor yang digunakan untuk menghasilkan output. Faktor – faktor tesebut antara lain : tenaga kerja , bahan mentah, peralatan produksi dan energi.

  1. Produktivitas Multifaktor

   Produktivitas dari beberpa faktor yang digunakan untuk menghasilkan ouput antara            lain adalah modal dan tenaga kerja.

  1. Produktivitas parsial

   Produktivitas ini merujuk pada produktivitas faktor tertentu yang digunakan untuk menghasilkan ouput, faktor tersebut hanya berupa : Tenaga kerja atau bahan baku.

            Berdasarkan pembagian produktivitas ini maka produktivitas tenaga kerja  merupakan sasaran yang strategis dan menjadi pokok yang menetukan karakter dan kecepatan pembangunan sosial dan ekonomi bangsa.

            Fredrerick H.Harbison yang dikutip oleh Todaro (1994;327)[6] mengatakan bahwa SDM merupakan modal dasar bagi kekayaan suatu bangsa . Modal fisik dan SDA hanya faktor produksi yang negatif dan manusia adalah agen-agen aktif yang berusaha mengumpulkan modal , mengekspolitasi SDA, membangun organisasi sosial, ekonomi dan pembangunan nasional.

            Jadi suatu negara yang tidak mengembangkan keahlian dan pengetahuan rakyatnya tidak akan dapat memamfaatkan mereka secara efektif. Demikian pentingnya SDA ini akan mendorong usaha kearah peningktan produktivitas sebab tanpa peningkatan ini maka perekonomian akan sulit berkembang (Drucker 1980;105)[7].

            Untuk meningkatkan produktivitas dapat dilakukan dengan cara peningkatan efisiensi dan efektifitas. Efisiensi merupakan suatu konsep yang digunakan untuk membandingkan penggunaan input dengan realisasi, semakin besar input yang dapat dihemat, maka makin tinggi tingkat effisiensi. Jadi konsep effisiensi ini orientasinya tertuju pada masukan input, sedangkan efektifitas adalah konsep yang menyatakan seberapa besar target ( kualitas, kuantitas, waktu dsb) yang tercapai, semakin tinggi tingkat efektifitasnya. Jadi konsep efektifitas tertuju pada berapa output yang dihasilkan( Hidayat 1987;4 )[8]

            Berdasar pendapat diatas, maka produktivitas sangat erat kaitannya dengan efiesiensi dan efektifitas  yang sebenarnya menunjukkan tindakan yang ekonomis, kesemuanya ini akan dapat dicapai apabila tenaga kerja mempunyai sikap dan mental yang positif.

            Hidayat(1987;9)[9] mengemukakan cara pandang dan sikap mental yang tidak produktif yang sering dilakuakan oleh tenaga kerja adalah:

  1. Menganggap bahwa tanpa bekerja keras kita dapat memperoleh sesuatu yang berharga
  2. Adanya ketakutan mengambil keputusan karena ada unsur resiko
  3. Memperpanjang tindakan konsumtif.

            Selanjutnya Moedjiman(1987;17)[10] menguraikan ciri-ciri tenaga kerja yang memeliki sikap produktif yaitu yang kreatif, inovatif, dinamis, efiesien, berani mengambil resiko dan tidak cepat puas. Tenaga kerja dinilai produktif apabila ia mampu menghasilkan output yang lebih besar dari tenaga kerja yang lain untuk satuan waktu yang sama, atau bila dalam  waktu yang lebih singkat. Selain itu  untuk menghasilkan tenaga kerja produktif perlu diperhatikan tingkat kesejahteraannya

[1] Stoner and Freeman, 1989, Managemen, Fourth Edition, Prentice Hall, Engle Woods, Newyork, hlm 30

[2] Stevenson William,1985, Production Operation Management Concept Model Behavior,Prentice Hall, International Edition, Columbia

[3] Siagian 1982, Adminintrasi Pembangunan, Cetakan Ke5, Gunung Agung, Jakarta

[4] Manulang ,1990, Peranan Perhitungan  Produktivitas Dan Kebijakan Dalam Berita Pasar Tenaga Kerja, DEPNAKER, hlm 46

[5] Manulang ,1990, Op.Cit, hlm 40

[6] Michael P. Todaro, 2000. Pembangunan Ekonomi Di Dunia Ketiga, Edisi Ketujuh, Jilid 1, Jakarta: Penerbit Erlangga., hlm. 327

[7] Drucker Peter F, 1980, Age of Produktivity , London, 105

[8] Hidayat 1987, Peningktan Produktivitas Total dalam Pasar kerja , DEPNAKER RI. Hlm 4

[9] Hidayat 1987, op.Cit , hlm 9

[10] Moedjiman, 1987, Konsep Manajemen Mentalitas Karyawan Menuju Produksi Yang Tinggi Dalam DEPNAKER, hlm 17

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *