Problem posing istilah dalam bahasa Inggris yaitu dari kata problem artinya masalah, soal/persoalan dan kata pose yang artinya mengajukan (Echols dan Shadily, 1995 : 439 dan 448). Jadi,  problem posing bisa diartikan sebagai pengajuan soal atau pengajuan masalah.

Setiawan (2004:17) mengatakan pembentukan masalah atau pembentukan soal mencakup dua kegiatan yaitu :

  1. Pembentukan soal baru atau pembentukan soal dari situasi atau dari pengalaman siswa.
  2. Pembentukan soal dari soal yang sudah ada

Dari sini bisa dikatakan bahwa problem posing merupakan suatu pembentukan soal atau pengajuan soal yang dilakukan oleh siswa dengan cara membuat soal tidak jauh beda dengan soal yang diberikan oleh guru ataupun dari situasi dan pengalaman siswa itu sendiri.

Pembelajaran dengan pendekatan problem posing biasa diawali dengan penyampaian teori atau konsep. Penyampaian materi biasanya menggunakan metode ekspositori. Setelah itu, pemberian contoh soal dan pembahasannya. Selanjutnya, pemberian contoh bagaimana membuat masalah dari masalah yang ada dan menjawabnya. Kemudian siswa diminta dengan problem posing. Mereka diberi kesempatan belajar individu atau berkelompok. Setelah pemberian contoh cara membuat masalah dari situasi yang tersedia, siswa tidak perlu lagi diberikan contoh. Penjelasan kembali contoh, bagaimana cara mengajukan soal dan menjawabnya bisa dilakukan, jika sangat diperlukan.

Penerapan dan penilaian yang cukup sederhana dari pendekatan ini, yaitu dengan cara siswa diminta mengajukan soal yang sejenis atau setara dari soal yang telah dibahas. Dengan cara ini kita bisa melihat sejauhmana daya serap siswa terhadap materi yang baru saja disampaikan. Cara yang seperti ini sangat cocok digunakan dalam pembelajaran untuk rumpun mata pelajaran MIPA. Melalui tugas membuat soal yang setara dengan soal yang telah ada, kita bisa mencermati bagaimana siswa mengganti variabel-variabel yang diketahui lalu mencari variabel yang ditanyakan.

Bagi siswa yang memiliki daya nalar di atas rata-rata, pendekatan seperti ini memberikan peluang untuk melakukan eksplorasi intelektualnya. Mereka akan tertantang untuk membuat tambahan informasi dari informasi yang tersediakan. Sehingga pertanyaan yang diajukan memiliki jawab yang lebih kompleks. Sedangkan bagi anak yang berkemampuan biasa cara ini akan memberikan kemudahan untuk membuat soal dengan tingkat kesukaran sesuai dengan kemampuannya.

Pembelajaran dengan pendekatan problem posing dapat juga dimulai dari membaca daftar pertanyaan pada halaman soal latihan yang terdapat dalam buku ajar. Setelah itu baru membaca materinya. Cara ini berkebalikan dengan cara belajar selama ini. Tugas membaca yang diperintahkan pada siswa biasanya bermula dari materi, lalu menjawab soal pada halaman latihan. Kelebihan membaca soal terlebih dahulu baru membaca materi, terletak pada fokus belajar siswa. Ketika siswa membaca pertanyaan terlebih dahulu, maka mereka akan berusaha untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang telah mereka baca. Tapi lain masalahnya ketika dibalik. Bila membaca materi terlebih dahulu, maka ketika sampai pada bagian soal latihan, ada kemungkinan siswa akan membacanya kembali atau membuka-buka bagian yang telah dibaca untuk menjawab soal yang ada. Sehingga waktu yang dibutuhkan untuk cara belajar membaca materi terlebih dahulu, lebih banyak dibandingkan dengan cara belajar membaca soalnya setelah itu baru membaca materinya.

Pada pembelajaran Bahasa Indonesia, pembelajaran dengan pendekatan problem posing akan melatih sikap kritis dan cara berfikir divergen. Misalnya, seorang guru cukup membagi-bagikan foto kopian sebuah artikel yang diambil dari majalah atau koran. Berdasarkan artikel tersebut, siswa diminta membuat pertanyaan dan jawabannya. Maka akan muncul ratusan pertanyaan dan jawaban hanya berdasarkan sebuah artikel. Mungkin akan lebih dari itu. Sebab aspek kebahasaan yang dimuat dalam sebuah artikel banyak sekali.

Menggunakan model pembelajaran problem posing dalam pembelajaran dibutuhkan keterampilan sebagai berikut :

  1. Menggunakan srategi pengajuan soal untuk menginvestigasi dan memecahkan masalah yang diajukan.
  2. Memecahkan masalah dari situasi dan kehidupan sehari-hari
  3. Menggunakan sebuah pendekatan yang tepat untuk mengemukakan masalah pada situasi.
  4. Mengenali hubungan antara materi-materi yang berbeda
  5. Mempersiapkan solusi dan strategi terhadap masalah baru
  6. Mengajukan masalah yang kompleks sebaik mungkin, begitu juga masalah yang sederhana.
  7. Menggunakan penerapan subjek yang berbeda dalam mengajukan masalah.
  8. Kemampuan untuk menghasilkan pertanyaan untuk mengembangkan strategi mengajukan masalah.

Adapun sintesis pembentukan model problem posing yaitu :

No Fase Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
       
1. Fase 1

Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa.

Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar.

 

Siswa termotivasi untuk belajar.
2. Fase 2

Menyajikan informasi

Guru menyajikan infomasi tentang materi pembelajaran. Siswa mendengarkan/ menyimak informasi yang disampaikan oleh guru.

 

3. Fase 3

Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok.

Guru membuat kartu-kartu yang berisikan soal dan jawaban yang terbuat dari potongan-potongan kertas, kemudian mengkocok semua kartu sehingga bercampur menjadi satu.

 

Siswa membentuk dua kelompok besar yang setiap kelompok berisikan 15 orang
4. Fase 4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar.

Guru memberikan setiap siswa satu kertas. Kemudian menjelaskan bahwa aktivitas ini dilakukan secara berpasangan, guru meminta siswa menemukan pasangan masing-masing. Setelah ditemukan siswa diminta duduk berdekatan dengan pasangan masing-masing. Siswa memegang kartu masing-masing yang sudah dibagikan oleh guru, kemudian mencari pasangan masing-masing sesuai dengan perintah dari kartu tersebut. Setelah menemukan pasangannya, siswa duduk berdampingan.

 

5. Fase 5

Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing-masing pasangan mempersentasekan atau membacakan soal yang didapatkan kepada teman-temannya, selanjutnya soal tersebut dijawab oleh pasangannya.

 

Siswa bersama pasangannya secara bergantian membacakan soal dan jawaban yang diperoleh dengan keras kepada teman-temannya yang lain.
6. Fase 6

Klarifikasi dan kesimpulan.

Guru mengakhiri proses pembelajaran dengan membuat klarifikasi dan kesimpulan dari proses pembelajaran yang dilakukan. Siswa mendengarkan sekaligus memahami materi yang didapatkan dari proses pembelajaran tersebut.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *